Winola memungut sebuah ponsel dari tanah. Tak salah lagi, itu milik Yoga. Ponsel itu pasti terjatuh ketika mereka berguling-guling tadi.Saat ini, hati Winola dipenuhi rasa malu dan penghinaan. Barulah dia menyadari bahwa pria tadi sebenarnya bukanlah seseorang dari dunia ilusi. Yang lebih parah lagi, dirinya juga tidak berada dalam dunia ilusi. Semua yang terjadi tadi nyata.Winola mengepalkan tangannya erat-erat. Tubuhnya bergetar hebat karena marah. Pandangannya lagi-lagi tertuju pada noda merah yang tertinggal di lantai.Saat ini, pikirannya seolah-olah dihantam. Semua menjadi jelas dalam sekejap dan membuatnya merasa hancur.Winola sontak memaki, "Yoga, dasar bajingan! Kamu membohongiku!"Winola menarik napas dalam-dalam dan berusaha keras untuk mengendalikan amarahnya. Pada akhirnya, dia hanya bisa pergi dari tempat itu.Setelah beberapa waktu berjalan, Winola akhirnya menemukan jalan raya. Dia menghentikan sebuah mobil dan kembali ke rumah Keluarga Bramasta.Sesampainya di rumah
Ini benar-benar luar biasa dan mengejutkan. Yoga bertanya, "Tuan Bimo, kalian sama-sama hidup di masa 1.000 tahun yang lalu. Bisakah kamu memberiku petunjuk tentang mereka?"Namun, Bimo terlihat sedikit tidak senang. Dia membalas, "Apa hubungannya denganku?"Yoga mendesaknya, "Dasar licik, kamu pasti tahu sesuatu. Cepat beri tahu aku!""Aku nggak tahu apa-apa," balas Bimo.Yoga mengejek, "Jangan-jangan mereka pernah mengalahkanmu dan bikin kamu malu, jadi kamu nggak mau membicarakannya?"Bimo langsung berseru, "Omong kosong. Aku ini tak tertandingi di dunia ini. Nggak ada yang bisa mengalahkanku!"Yoga bertanya lagi, "Yakin? Kamu pikir aku nggak bisa merasakan kalau kamu lagi bohong?"Bimo terdiam beberapa saat. Akhirnya, dia menghela napas panjang sebelum menjawab, "Ya sudah. Dua orang itu memang agak misterius. Mereka datang menemuiku di masa lalu cuma untuk satu hal.""Mereka memberiku sebuah kitab dan bilang bahwa di masa depan, itu akan menyelamatkan nyawaku. Benar saja saat aku t
Dalam sekejap, semua orang di ruangan itu mulai berbicara. Wajah mereka dipenuhi dengan senyum menjilat. Dalam waktu singkat, sikap mereka terhadap Yoga langsung berubah total.Seperti itulah rencana mereka, memanfaatkan situasi untuk memegang kendali atas Yoga agar dia bekerja untuk Keluarga Bramasta.Yoga mencemooh dengan dingin, "Hmph! Kalian pikir kalian siapa? Masalahku dengan Winola, apa hubungannya sama kalian? Konyol banget!"Yoga sama sekali tidak peduli dan segera berbalik untuk pergi. Mau mengancam dirinya dengan cara ini? Lucu sekali!Tepat saat itu, suara seseorang terdengar dari pintu. "Kalau masalah itu ada hubungannya denganku, berarti itu bisa diselesaikan sesuai keinginanku, 'kan?"Winola melangkah masuk ke ruang tamu dengan langkah tenang. Wajahnya masih membawa jejak amarah, meskipun belum meledak sepenuhnya. Kali ini, dia datang untuk berbicara dengan Yoga dan menyelesaikan semuanya."Eh ... kenapa kamu datang?" tanya Yoga. Matanya membelalak karena terkejut.Winol
"Aku juga kira semua itu cuma ilusi belaka," tambah Yoga dengan santai.Winola mendengus sinis sebelum bertanya, "Ilusi? Bahkan jika itu ilusi, apa kamu sama sekali nggak curiga?"Yoga membalas, "Kalau begitu, memangnya kamu curiga?"Winola sontak memaki, "Dasar bajingan! Kamu sudah menghancurkan kehormatanku dan sekarang malah bertanya balik padaku?""Memangnya kehormatanku nggak dihancurkan olehmu? Ini jelas salah dua-duanya!" ucap Yoga.Mata Winola membelalak karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kini, dia memandang Yoga dengan penuh amarah. Salah dua-duanya? Apa itu bisa dijadikan alasan? Yoga benar-benar pria berengsek.Saat itu, Ayu datang dengan nampan berisi camilan. Dia berbicara sambil tersenyum lembut, "Aduh, aku nggak tahu apakah camilan ini sesuai dengan seleramu. Cobalah dulu!""Makasih, Bibi," balas Winola yang mencoba menahan amarahnya. Dia tidak ingin melibatkan Ayu dalam situasi ini.Namun, Ayu langsung bertanya dengan antusias, "Jangan salahkan
Kabar ini menyebar hampir ke seluruh dunia bela diri kuno, bahkan melibatkan Bimo. Yoga yang awalnya ingin menjelaskan, akhirnya hanya bisa tersenyum getir.Yoga yang tak berdaya pun bertanya, "Kalian datang ke sini cuma untuk membahas ini?""Apa itu masih kurang?" balas Wenny dengan kesal. Raut wajahnya penuh amarah. Kejadian ini sudah hampir mengguncang seluruh lapisan atas dunia.Wenny menambahkan, "Ini menyangkut nadi naga Daruna. Mana boleh dianggap main-main?""Kenapa kamu marah-marah? Apa nggak bisa dibicarakan baik-baik?" tanya Hilda. Dia mendekati Yoga dan menggandeng lengannya dengan penuh perhatian, lalu berujar, "Jangan dimasukkan ke hati, dia cuma lagi nggak enak badan. Kamu pasti paham."Di sisi lain, Yoga kehabisan kata-kata. Apa yang dia pahami? Apakah maksudnya Wenny sedang datang bulan?Wenny yang mendengar perkataan Hilda langsung memandangnya dengan kesal. Dia memarahi, "Waktu datang ke sini, sikapmu nggak begini lho!"Hilda malah membalas, "Apa urusannya denganmu?"
Yoga berujar dengan kesal, "Mereka nggak akan bisa menemukan nadi naga, apalagi harta rahasia itu. Kenapa kamu nggak mengerti sih?"Yoga merasa percakapan ini benar-benar melelahkan. Sejak tadi, Wenny tak kunjung memahami maksudnya.Wenny membalas, "Kamu ini terlalu sombong. Kamu selalu merasa bisa mengendalikan segalanya. Tapi kali ini, lawanmu adalah empat keluarga besar dunia kultivator kuno dan juga Tuan Bimo. Gimana kamu bisa menghentikan mereka?"Yoga menjawab santai, "Aku nggak pernah bilang mau menghentikan mereka.""Tapi, kamu bicara seolah-olah segalanya ada di bawah kendalimu!" balas Wenny."Karena aku memang nggak bohong," ucap Yoga."Kamu ...." Wenny begitu kesal sampai dadanya naik turun. Dia sudah hampir kehilangan kontrol. Jelas-jelas Yoga yang tidak masuk akal, tetapi kenapa sekarang rasanya justru dirinya yang salah?Hilda yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba menatap Yoga, lalu bertanya dengan penasaran, "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat sangat pe
Dirga dan Kamal saling menatap karena terkejut dengan cara Yoga bertindak. Ini sudah bukan lelucon biasa lagi. Jika empat keluarga besar mengetahui hal ini, yang menunggunya hanya serangan memusnahkan. Konsekuensinya tidak terbayangkan."Hal ini ... lebih baik nggak tahu saja," keluh Kamal dengan sudut bibir yang berkedut."Kalau tahu begini, harusnya dulu nggak bersikeras mengirim mereka," kata Dirga sambil terus menggelengkan kepala dan menghela napas.Wenny dan Hilda terlihat agak canggung dan saling memandang dengan mata membelalak. Mereka juga sadar interogasi ini terlalu tergesa-gesa. Jika mereka bisa merenungkannya lebih teliti, mungkin mereka akan memahami maksud yang tersirat dalam perkataan Yoga."Kakek, apa yang harus kita lakukan? Apa kita mengacaukannya saja?" tanya Wenny dengan volume suara pelan."Sekarang kalian sudah kembali, kita nggak mungkin nggak ada pergerakan sedikit pun. Tapi, ini hanya tipu muslihat saja, jadi nggak perlu terlalu serius. Begini saja. Kalian pim
Yang lainnya melihat Yoga dengan bengong, lalu saling memandang karena harus langsung berangkat begitu saja. Mereka bahkan tidak sempat untuk ragu dan langsung masuk ke mobil untuk mengikuti Yoga.Konvoi panjang yang melaju dengan kecepatan tinggi menjadi pemandangan yang mencolok di Kota Pawana. Hal ini menarik perhatian banyak orang karena sudah lama tidak ada pergerakan sebesar ini.Yoga akhirnya tiba di alamat yang dikirimkan Sutrisno."Berhenti! Siapa kalian?" teriak penjaga lokasi itu yang segera maju untuk menghentikan mereka. Namun, saat melihat konvoi mobil yang berhenti dan ribuan orang yang keluar dari mobil-mobil itu, dia langsung tertegun dan tidak tahu harus menatap ke arah mana. Dia bertanya-tanya mengapa ada begitu banyak orang yang datang ke sana dan kebanyakannya adalah kultivator kuno pula."Beri tahu pemimpin kalian kalau Tuan Bimo beserta Keluarga Kusuma, Keluarga Husin, dan Keluarga Bramasta sudah datang," teriak Yoga."Baik ...," kata penjaga itu, lalu langsung b
Semua orang segera membujuk Yoga karena merasa sangat cemas. Merasa sangat ketakutan, khawatir Hardi benar-benar akan kembali dan menyampaikan pesan itu pada Keluarga Husin. Melihat bayangan Hardi yang makin menjauh dan hampir menghilang dari pandangan mereka, mereka pun gelisah sampai tidak bisa berdiri dengan tenang."Aku memang sengaja membiarkan dia pulang. Cepat atau lambat aku akan mengendalikan Keluarga Husin dan membuat mereka tunduk padaku. Kalian takut? Meskipun takut, kalian tetap harus berdiri dengan tegak," kata Yoga dengan nada datar sambil menatap semua orang dengan tenang. Aura yang menekan pun perlahan-lahan menyebar ke sekitar dan ekspresinya dingin serta penuh tekad.Prajna dan yang lainnya langsung tertegun sejenak dan tidak bisa berkata apa-apa. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka sikap Yoga akan begitu tegas seperti ini. Melihat sikapnya yang begitu, mereka hanya bisa menutup mulut dan tidak mencoba untuk membujuknya lagi.Namun, dalam hati Prajna dan ya
"Dari mana datangnya keberanianmu ini sampai berani begitu angkuh?" kata Hardi dengan sudut bibir yang berkedut dan ekspresi yang sangat jijik. Dia menatap Yoga dengan tajam dan penuh dengan niat membunuh.Orang-orang di sekitar Hardi semuanya menyerbu dan bersiap untuk membunuh Yoga.Prajna dan yang lainnya juga tidak mungkin hanya diam dan melihat Yoga dihina.Namun, saat Prajna dan yang lainnya hendak bergerak, Yoga berkata dengan tenang dan tersenyum dingin, "Biar aku saja."Setelah datang ke dunia kultivator kuno, Yoga belum pernah melawan orang-orang di tempat ini. Dia masih tidak tahu apakah kekuatan mereka yang ada di sini berbeda dengan dirinya.Melihat situasinya, Prajna dan yang lainnya juga berhenti bergerak lagi dan segera mundur. Mereka menunggu untuk menonton pertunjukan karena orang yang sudah berani menyinggung Yoga sama saja mencari mati.Tepat pada saat itu, orang-orang dari Keluarga Teungku di sekitar sudah berdiri di depan Yoga dan langsung melayangkan serangan-ser
Siapa yang tidak menyukai dunia yang normal?Namun, pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang."Berani-beraninya manusia hantu ini muncul di siang bolong seperti ini. Kalian semua ingin mati ya?"Terlihat sekelompok orang yang perlahan-lahan keluar dan mendekati Yoga dan yang lainnya. Mereka mengenakan serangan yang sama yang terlihat mewah dan indah. Satu per satu mengamati Yoga dan yang lainnya dengan ekspresi yang sangat angkuh."Eh? Ada satu di sini yang masih belum bermutasi jadi manusia hantu. Sungguh langka!""Bagus sekali. Tangkap dia dan lempar ke area terlarang. Kita lihat bagaimana dia berubah menjadi manusia hantu.""Aku dengar prosesnya agak lambat. Bagaimana kalau kita langsung mengirimnya ke area yang lebih dalam?"Semua orang tertawa terbahak-bahak dan terus menyindir. Mereka semua menatap Yoga dengan penuh semangat dan membuat ekspresi Yoga langsung menjadi muram."Bos, apa yang aku katakan nggak salah, 'kan? Kemunculan kita pasti akan membuat mereka merasa ng
Yoga melihat ke sekeliling, lalu menyipitkan matanya. Dia bisa merasakan ada sebuah kutukan yang sangat kuat muncul di wilayah di depannya. Ada kekuatan yang sulit untuk dijelaskan di dalam kutukan itu yang bisa memengaruhi tubuh manusia.Yoga berkata, "Ternyata ini adalah kekuatan yang kalian terima selama ini."Saat mengatakan itu, tatapan Yoga terlihat penuh dengan belas kasihan. Para manusia hantu itu semuanya tadinya adalah manusia, tetapi mereka didesak dan dikucilkan sampai terpaksa datang ke area terlarang ini. Pada akhirnya, mereka malah menjadi orang yang terkutuk.Prajna membalas, "Bos, apa kutukan ini bisa dihilangkan?"Semua orang menatap Yoga dengan penuh harapan karena mereka semua berharap bisa kembali seperti semula.Namun, Yoga tetap menggelengkan kepala, lalu berkata dengan nada yang muram, "Kekuatan dari kutukan ini terlalu hebat, bahkan aku pun hanya bisa menahannya dengan susah payah."Ekspresi Prajna dan yang lainnya langsung menjadi muram dan perlahan-lahan menu
Sangat jelas, perbedaannya hanya pada lokasi. Yoga menyeringai dingin dan menunjukkan ekspresi penuh kejutan.Yoga menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Setelah membukanya, terlihat seekor serangga kecil berwarna putih di dalamnya.Yoga meletakkan serangga itu di tanah. Serangga kecil itu perlahan merangkak keluar, lalu mengangkat kepalanya sedikit, seolah-olah sedang memanggil sesuatu.Tak lama kemudian, terdengar suara langkah-langkah yang mendekat. Siluet-siluet mulai bermunculan satu per satu, lalu berkumpul di tempat itu.Di antara kerumunan itu, pemimpinnya adalah Prajna. Begitu melihat Yoga, ekspresinya berubah drastis. Dia bertanya dengan kaget, "Bos, kamu benar-benar datang?" Tatapan terkejut mereka terus mengamati Yoga, seakan-akan tidak percaya apa yang mereka lihat."Ya," jawab Yoga dengan tenang. Suaranya datar tanpa emosi.Yoga telah menanamkan serangga anak di tubuh mereka sebelumnya. Dengan serangga induk putih di tangannya, dia d
Setelah selesai membaca sebuah buku, Yoga perlahan menutupnya. Matanya berkilat dengan ekspresi penuh tanda tanya. Dia terdiam, sementara pandangannya tertuju pada halaman pertama buku itu.Tiba-tiba, suara Bimo terdengar kembali di pikirannya. Dia bertanya, "Gimana perasaanmu setelah membaca?""Sulit diungkapkan ... tapi aku merasa ada sesuatu yang nggak beres!" ucap Yoga.Itulah yang dirasakan Yoga. Sejarah dunia kultivator kuno yang diklaim sudah berlangsung ribuan tahun hanya diceritakan secara sepintas. Banyak peristiwa penting bahkan sama sekali tidak disebutkan. Semua yang tercatat terkesan terlalu biasa, seperti tidak ada apa-apa.Hal ini membuat Yoga merasa, ada banyak hal yang sengaja disembunyikan dari sejarah tersebut. Dia pun merenungkan kata-kata Bimo yang terus terngiang di pikirannya. Apa yang Yoga lihat hanyalah apa yang mereka izinkan untuk dia lihat!"Sudahlah, nggak usah baca lagi!" Yoga akhirnya membuat keputusan itu sambil menghela napas kecil. Dia merasa kecewa.
Yoga memberi tahu, "Aku lagi berada di vila Sutrisno. Untuk sementara, seharusnya nggak akan ada bahaya."Winola mengingatkannya, "Tapi kamu tetap harus berhati-hati. Ingat baik-baik, jangan biarkan besi hitam itu terlihat lagi. Kalau nggak, kamu akan menghadapi lebih banyak bahaya."Yoga bertanya dengan serius, "Menurutmu, apa tiga barang itu bisa ditemukan dengan mudah?""Di mana ada hadiah besar, pasti ada orang yang berani mengambil risiko. Harusnya bisa ditemukan! Jangan terlalu khawatir, aku juga akan membantumu mencarinya secepat mungkin!" ucap Winola."Makasih," jawab Yoga dengan tulus.Kemudian, Winola bertanya, "Apa Tuan Bimo datang?"Yoga menjawab dengan samar, "Dia bisa datang." Jawaban ini penuh arti, tidak langsung mengiakan tetapi juga tidak membantah.Winola bertanya dengan penuh harap, "Kalau begitu ... bisakah kamu memintanya untuk datang?"Bagaimanapun, Winola pernah meminta hal ini kepada Yoga sebelumnya saat masih di dunia bela diri kuno. Jika Bimo bisa datang, dia
Yoga sangat percaya diri dengan penyamarannya. Dengan pakaian serba tertutup seperti itu, mana mungkin ada yang bisa mengenalinya? Begitu pakaian tersebut dilepas, semua urusan akan seolah tak ada hubungannya dengan dirinya."Aduh!" Sutrisno kembali menghela napas panjang. Wajahnya dipenuhi ekspresi tak berdaya dan kesedihan yang mendalam. Tidak disangka, orang yang berada di satu perahu dengannya ini malah menjadi orang pertama yang memunculkan bahaya.Yoga berucap dengan santai, "Sudahlah, berhenti mengeluh. Kamu nggak percaya padaku?"Sutrisno membalas, "Aku terlalu mengenalmu. Setiap kali muncul, kamu nggak pernah bisa duduk diam!"Benarkah? Yoga merenung sejenak dan merasa bahwa itu tidak benar. Menurutnya, dia selalu bersikap sangat tenang dan patuh.Sutrisno akhirnya menutup telepon dengan hati yang gelisah. Dia berharap semuanya tidak akan bertambah buruk. Tepat saat itu, sebuah panggilan telepon masuk lagi ke ponsel Yoga. Kali ini dari Winola. Nada suara Winola terdengar sanga
Burhan tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan sedikit untuk memberi isyarat kepada pria muda itu. Orang itu segera membawa besi hitam dengan hati-hati. Dia memegangnya seperti benda paling berharga, lalu beranjak pergi.Pandangan semua orang masih terpaku pada pria muda tersebut. Mereka mengikuti setiap gerakannya dengan penuh perhatian."Semuanya!" Burhan tiba-tiba bertepuk tangan perlahan dan tersenyum. Dalam sekejap, semua orang tak punya pilihan selain mengalihkan pandangan kembali ke arah Burhan. Ekspresi mereka sedikit berubah, sementara raut wajah mereka penuh keterkejutan.Dengan mata terbelalak, mereka menatap Burhan tanpa berkedip, seolah tatapan mereka seperti kail yang mencengkeram sosoknya dengan erat."Pak Burhan, kenapa cepat sekali dibawa pergi? Kami bahkan belum puas melihatnya!""Benar banget! Dari mana kalian mendapatkan besi hitam itu? Kalau kalian ingin menukarnya, apa yang kalian inginkan sebagai gantinya?""Apa pun yang kalian inginkan, katakan saja! Aku akan pa