Share

Bab 62

Author: Emilia Sebastian
“Apa yang dilakukannya di sana?”

Pada saat ini, Abista masih belum menyadari keseriusan masalahnya.

Ayu berpura-pura merasa ragu sejenak, lalu berlagak seperti ingin membantu Syakia menutupi masalahnya. Dia menjawab dengan berlinang air mata, “Dia lagi ketemu sama ... seorang pria di sana.”

“Brak!” Damar tiba-tiba menggebrak meja.

Abista membelalak dengan tidak percaya. “Ayu, kamu tahu apa yang lagi kamu katakan?”

Syakia bertemu dengan seorang pria? Mana mungkin! Syakia tidak mungkin memiliki nyali seperti itu!

Ayu pun menangis sambil menjawab, “Aku tahu Ayah dan Kakak sulit untuk percaya. Aku juga nggak berharap ini adalah kenyataan. Tapi, aku memang melihatnya sendiri.”

“Setelah ketahuan Kak Syakia, aku awalnya mau nasihati dia untuk nggak berbuat begitu. Tapi, dia malah menekanku ke sungai dan mengancamku untuk nggak boleh kasih tahu siapa pun. Kalau nggak ... dia akan menenggelamkan aku.”

Seusai mendengar ucapan Ayu, Damar dan Abista tidak dapat berkata-kata untuk sesaat. Ekspresi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 63

    “Apa? Dia sudah pergi?”Damar dan Abista lagi-lagi tidak dapat bertemu dengan Syakia. Mereka mengira telah mengetahui jelas apa yang terjadi dan segera pergi ke istana untuk mencari Syakia. Tak disangka, Syakia telah kembali ke Kuil Bulani.Seorang kasim menjawab sambil tersenyum, “Benar, Putri Suci mengkhawatirkan upacara doa yang akan segera berlangsung. Begitu sadar, dia langsung minta pulang ke Kuil Bulani untuk mempersiapkan semuanya.”Damar terlihat agak marah. Dia awalnya ingin menanyakan semuanya dengan jelas. Namun, Syakia malah langsung kembali ke Kuil Bulani. Dia bahkan dilarang masuk ke sana, mana mungkin dia bisa bertemu Syakia? Damar merasa curiga apa ini semua rencana Adika? Namun, Damar tidak tahu bahwa ini bukanlah rencana Adika. Syakia sendiri yang menebak bahwa Damar pasti akan datang mencarinya secara pribadi. Jadi, begitu penglihatannya pulih, dia segera kembali ke Kuil Bulani bersama Shanti.Syakia melakukan hal ini juga bukan karena takut pada Damar, melainkan h

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 64

    Begitu mendengar suara Tujuh, Syakia sontak terkejut. Tujuh berperawakan tinggi dan langsing. Ditambah dengan seluruh tubuhnya tertutup sehingga tidak menunjukkan ciri-ciri khas apa pun, Syakia sama sekali tidak dapat membedakan apakah dia itu pria atau wanita.Namun, begitu mendengar suara Tujuh, Syakia langsung tahu bahwa Tujuh adalah seorang wanita.“Pangeran, ada apa ini sebenarnya?”Syakia dulunya juga merupakan putri keluarga bangsawan. Dia tentu saja tahu bahwa beberapa keluarga bangsawan, termasuk keluarga kerajaan memiliki beberapa pengawal rahasia. Damar juga memiliki pengawal rahasia. Ketika masih kecil, Syakia pernah bertemu dengan orang seperti ini. Tujuh memberikan kesan yang sama seperti pengawal rahasia di sisi ayahnya.“Ini pengawal rahasia yang diberikan Yang Mulia Kaisar. Mereka itu pengawal rahasia khusus keluarga kerajaan. Tapi, kamu itu satu-satunya Putri Suci kerajaan, juga akan segera mendoakan kerjaan ini. Setelah aku berdiskusi dengan Yang Mulia Kaisar, Yang

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 65

    “Ini hadiah untuk Pangeran, yang satunya lagi untuk Yang Mulia Kaisar. Pangeran tolong bantu aku berikan kepada Yang Mulia Kaisar, ya.”Adika menerima 2 kotak kayu itu, tetapi tidak langsung membukanya di depan Syakia. Dia hanya mengangguk dan menjawab, “Baik.”Setelah Adika pergi, Syakia lanjut menulis sutra. Namun, tidak lama setelahnya, ada lagi orang yang datang mencarinya. Orang itu adalah Shanti.“Sahana.” Melihat Syakia yang sedang menulis sutra dengan serius di dalam kamar, ekspresi Shanti yang biasanya sangat serius pun melembut sedikit.“Guru?” Syakia meletakkan kembali kuasnya.“Aku dengar, Pangeran Adika memberimu seorang pengawal rahasia?”“Iya. Aku sudah menerimanya. Namanya Hala. Apa Guru mau menemuinya?”Adika tentu saja sudah meminta persetujuan Shanti sebelum mengirim seseorang datang ke Kuil Bulani. Jadi, Syakia tidak merasa terkejut ketika Shanti menanyakan tentang hal ini.“Nggak usah. Yang penting kamu sudah bertemu dengannya.” Shanti melambaikan tangannya sambil

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 66

    Perubahan mendadak ini membuat Syakia tercengang. Dia bertanya dengan kurang percaya, “Guru, ka ... kamu itu Raja Racun? Kamu juga yang disebut Raja Racun Tabib Hantu?”Shanti menjawab dengan alis sedikit terangkat, “Seorang biksuni nggak akan membual.”Di Dinasti Minggana, terdapat 2 tabib ajaib yang sangat terkenal. Menurut rumor, yang satu dapat membangkitkan orang mati dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dia tidak lain adalah tabib suci bernama Deska. Orang yang satu lagi adalah Raja Racun Tabib Hantu yang menguasai ilmu pengobatan dan racun. Bahkan Syakia yang hidup terisolasi juga pernah mendengar tentang reputasi kedua tabib itu. Di antara kedua orang itu, yang paling misterius adalah Raja Racun Tabib Hantu. Menurut rumor, tidak ada orang yang mengetahui identitas aslinya sampai sekarang.Namun, Syakia sudah mengetahuinya sekarang. Siapa sangka Raja Racun Tabib Hantu yang begitu misterius sebenarnya adalah seorang kepala biksuni di sebuah kuil kecil yang terlihat biasa-bi

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 67

    Orang-orang itu memiliki pemikiran yang sama. Pantas saja Kaisar memilih Syakia sebagai Putri Suci. Sebelumnya, mereka tidak menyadari hal ini. Setelah mengamati Syakia dengan saksama hari ini, mereka merasa Syakia benar-benar memiliki wajah yang memang terlahir untuk menjadi Putri Suci.Selama Syakia lanjut menjalankan tugasnya dengan baik dan mendoakan kerajaan ini, para rakyat bisa menerimanya menjadi Putri Suci. Sementara itu, Syakia masih belum tahu bahwa dirinya telah berhasil meyakinkan semua orang yang hadir dengan mengandalkan wajahnya sehingga posisinya sebagai Putri Suci sudah kokoh.“Paman, coba lihat. Putri Suci yang kupilih lumayan, ‘kan?”Kaisar tentu saja tidak melewatkan ekspresi takjub para menteri dan rakyat. Dia juga merasa makin puas pada Syakia. Bagaimanapun juga, dia hanya memberi Syakia sebuah kesempatan. Bisa atau tidak Syakia memanfaatkan kesempatan ini tergantung pada Syakia sendiri. Kenyataan sudah membuktikan bahwa Syakia tidak mengecewakannya.“Selera Yang

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 68

    “Gadis yang diam-diam mendekat kemari?” Syakia tertegun sejenak, lalu bertanya, “Apa ada orang lain yang ikut bersamanya?”“Nggak, cuma dia sendiri.”Syakia mengangguk. “Oke. Kamu sembunyi saja dulu. Jangan sampai ketahuan orang lain.”“Baik.” Hala segera menghilang.Syakia lanjut mengemas pakaiannya. Setelah itu, dia berjalan keluar seolah-olah tidak mengetahui apa pun. Tepat ketika dia hendak melangkah keluar dari pintu, ada sebuah tangan yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan hendak menamparnya.Untungnya, Syakia sudah mempersiapkan diri. Dia segera menghindar, lalu balik menampar wajah orang itu.Ayu yang rencananya gagal berseru marah sambil menutupi wajahnya, “Syakia, kamu berani memukulku!”“Apa yang perlu ditakutkan? Lagian, memangnya apa yang bisa kamu lakukan?” Syakia mengejek, “Sepertinya kamu sudah pikun. Apa aku perlu mengingatkanmu lagi? Aku bukan cuma pernah menamparmu.”“Kamu!” Ayu sontak merasa marah karena malu dan hendak menampar Syakia lagi.Namun, Syakia bereaksi

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 69

    Ayu sontak membeku. Sebab, Syakia berhasil mengungkapkan perasaan yang bahkan tidak disadarinya. Kemudian, ekspresinya pun menjadi suram. Dia menatap Syakia dan bertanya, “Jadi, kamu sudah yakin nggak mau pulang ke Kediaman Keluarga Angkola lagi?”Benar, tetapi Syakia tidak ingin Ayu hidup dengan tenang. Dia pun tersenyum tipis dan menjawab, “Tergantung situasinya. Gimana kalau Ayah dan yang lain berubah? Kalau begitu, aku tetap bisa kembali dan jadi putri sah Adipati Pelindung Kerajaan.”Kata “putri sah” sangat menusuk hati Ayu. Bagi orang luar, dia hanyalah putri dari penyelamat Damar. Namun, dia sebenarnya juga merupakan putri kandung Damar. Namun, dia bukanlah putri dari istri sah Damar, melainkan seorang putri haram.Selain menghapus nama Anggreni dari daftar silsilah Keluarga Angkola, lalu menambahkan nama ibunya, Ayu tidak akan pernah bisa melampaui status Syakia dan menjadi putri sah Adipati Pelindung Kerajaan. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa Ayu tidak bersedia meng

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 70

    “Duh, ngapain kamu panggil aku kemari pagi-pagi buta begini?”“Dasar kamu ini! Jangan ngantuk lagi! Cepat kemari! Coba lihat apa ini!”Saat ini, langit masih belum terang. Deska yang tiba-tiba dipanggil datang ke Kediaman Pangeran Pemangku Kaisar awalnya masih mengantuk. Namun, begitu melihat isi kotak kayu di atas meja, seluruh rasa kantuknya langsung hilang.“Ya ampun! Bukannya ini ganoderma ungu!” Deska segera berlari ke sisi meja, lalu dengan hati-hati mengeluarkan ganoderma ungu dari kotak kayu.“Hahaha! Kualitasnya bagus sekali! Dari mana kalian dapatkan harta karun ini?” tanya Deska dengan mata berbinar. Dia menatap lekat-lekat ganoderma ungu itu dan hampir menciumnya.“Kamu jangan senang dulu! Coba periksa apa ini benar-benar ganoderma ungu 100 tahun yang kamu sebutkan sebelumnya?”Gading dan yang lain sudah tidak sabar lagi dan tidak berhenti mendesak Deska. Hanya Adika yang masih duduk engan tenang di samping.Deska menjawab tanpa ragu, “Tentu saja! Kalian nggak lihat ganoder

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 248

    Ayu memiliki resep obat, tetapi tidak memiliki bahannya. Meskipun ingin meracik obat penawar itu, dia juga tidak akan berhasil.Namun, Syakia berbeda. Setelah menemukan resep obat penawar itu, dia mungkin bisa meracik obat penawarnya. Sebab, dia memiliki safron yang merupakan bahan terpenting. Jika kelompok Kingston lanjut menunggu Ayu menghasilkan obat penawar ini, mereka mungkin tidak akan pernah mendapatkannya sampai mati. Hanya saja, meskipun Syakia dapat meraciknya, dia juga tidak akan memberikannya kepada kelompok Kingston dengan semudah itu. Bagaimanapun juga, orang yang membutuhkan obat herbal ini bukan hanya mereka.Syakia pun menghela napas. Sepertinya, dia harus memindahkan obat herbal dalam ruang giok ini ke luar secepat mungkin. Terutama safron. Setelah mempelajari resep obat penawar secara garis besar, dia pun menyimpan kertas itu.Keesokan harinya, Syakia berencana untuk turun gunung. Setelah membereskan barang-barangnya dan menutup pintu kamar, Syakia menyadari bahwa

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 247

    Setelah mendengar Syakia menginginkan serangga takdirnya, Kingston pun memaksakan seulas senyum dan berujar, “Ka ... kamu kan nggak butuh Pojun. Buat apa kamu menyimpannya?”“Siapa bilang aku nggak butuh?” Syakia tersenyum tipis dan menjawab, “Aku mau pelajari racun di tubuhnya.”“Baiklah,” jawab Kingston dengan tidak berdaya. Pada saat ini, dia mau tak mau harus menunduk. Dia lanjut bertanya, “Sekarang, kamu sudah bisa lepaskan aku, ‘kan?”Syakia mengangkat alisnya, lalu berbalik membelakangi Kingston dan menaruh kelabang beracun kembali ke ruang gioknya. Setelah itu, dia baru mengangguk pada Hala.Hala pun melangkah maju dan menghunuskan pedangnya untuk menebas tali yang mengikat Kingston. Kingston yang akhirnya mendapatkan kembali kebebasannya meregangkan tangan dan kakinya sambil bertanya pada Syakia, “Kamu mau serangga beracun apa? Aku memang punya beberapa jenis. Ada laba-laba, kalajengking, semut api, dan sebagainya. Kalau ada yang kamu mau, aku akan bawakan saat aku datang kem

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 246

    Jawaban itu membuat Syakia tertegun sejenak. Kemudian, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya dengan mata membelalak, “Jangan-jangan, kalian sudah lama nggak minum obat penawarnya?”Kingston sontak menggertakkan gigi. “Benar, sudah sangat lama.”Kelompok Kingston sudah tidak minum obat penawar selama 3 tahun. Jadi, mereka harus merasakan penderitaan yang ditimbulkan racun itu tanpa obat penawar sebanyak 3 kali. Dalam 3 tahun terakhir, mereka yang awalnya berjumlah lebih dari 300 orang hanya tersisa tidak sampai 200 orang.Setelahnya, demi membunuh Syakia dalam perjalanan ke Kalika, sejumlah besar anggota mereka gugur lagi. Sekarang, jumlah kelompok Kingston yang tersisa hanya puluhan orang. Jika situasinya berlanjut seperti ini, mereka semua mungkin akan tewas tidak lama lagi.“Jadi, kenapa kalian nggak langsung bunuh dia?” tanya Syakia dengan penasaran.Kingston melirik Syakia dan menjawab, “Kamu itu putri suci, juga seorang biksuni. Kenapa kata-kata yang keluar dari mulutmu itu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 245

    Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 244

    “Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 243

    Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 242

    “Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 241

    Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 240

    “Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status