Magdalena berusaha merangkak mendekati Peter, tetapi Rico mencengkeram lengannya dan menariknya mundur. Wanita itu menjerit, matanya penuh ketakutan."Tolong! Jangan lakukan ini!" ucap Magdalena, suaranya bergetar, penuh kepanikan. "aku bersumpah, kami tidak akan mengganggu Lucas lagi! Aku tidak akan pernah menyinggungnya lagi!"Troy menatapnya tanpa ekspresi. Pisau lipatnya berkilat di bawah cahaya lampu. "Sayangnya, permintaan maaf tidak mengubah apa pun.""Tolong! Aku mohon!" Magdalena berusaha melepaskan diri, tetapi Rico menahannya dengan mudah.“Seharusnya kalian berpikir sebelum bertindak!” ucap Troy.“Aku akan melakukan apapun, tolong ampuni kami!” mohon Magdalena.Troy menghela napas panjang, lalu menoleh ke Peter yang masih terkapar di lantai, darah mengalir dari hidung dan bibirnya. Pria itu menatapnya dengan mata yang penuh amarah, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan."Aku akan membuat ini cepat," kata Troy pelan.Lalu, tanpa ragu, dia mengangkat pisaunya dan menus
Albin menatap Magdalena yang tergeletak di depan pintu rumahnya dengan mata penuh ketidakpercayaan.Tubuhnya terikat, wajahnya babak belur, dan air mata masih mengalir di pipinya.Sesaat, Albin hanya bisa berdiri diam.Jantungnya berdetak cepat.Dia sudah melihat banyak kekerasan dalam hidupnya, tetapi melihat adiknya sendiri dalam keadaan seperti ini … sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Dengan cepat, dia berlutut dan menarik lakban dari mulut Magdalena.“Argh …!” Magdalena meringis, bibirnya pecah dan berdarah.Albin kemudian membuka ikatan di pergelangan tangan dan kakinya. Setelah semua lepas, Magdalena langsung memeluk kakaknya dan menangis tersedu-sedu.Albin tetap diam, membiarkannya menangis selama beberapa saat.Setelah tangisnya mulai mereda, Albin mendorong tubuh Magdalena sedikit ke belakang dan menatapnya tajam."Siapa yang melakukan ini?" tanya Albin.Magdalena menunduk, terisak.Albin mencengkram bahunya lebih kuat. Lalu, dia berkata, "Jawab aku, Magdale
Lucas menatap Albin dengan ekspresi datar, tetapi matanya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, ketegasan yang tidak bisa digoyahkan."Kamu ingin tahu kenapa adikmu dihukum?" kata Lucas, suaranya tenang tetapi penuh tekanan.Albin mengangguk, rahangnya mengeras. “Ya, tentu saja. Sebab, Magdalena tidak mau menjelaskannya kepadaku.”Lucas mengambil napas panjang, lalu berkata, "Magdalena meminta 500 juta dari Angeline sebagai tebusan untuk video yang bisa membersihkan namanya. Sebuah video yang seharusnya langsung dia berikan jika dia benar-benar ingin menegakkan kebenaran."Albin terkejut, namun dia diam, memberikan kesempatan bagi Lucas untuk menjelaskannya lebih detail.Lucas melanjutkan, suaranya semakin dingin. "Tapi dia tidak hanya berhenti di situ. Cara dia dan Peter bermain kotor sudah berulang kali terjadi. Mereka menjadikan ini sebagai permainan, bukan sekadar transaksi. Mereka menikmati melihat orang lain tersiksa."Albin mengepalkan tangannya di atas lututnya.Lucas menyipit
Angeline bingung. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja penawaran super besar ini terjadi padanya. Mata Angeline menatap tak percaya ke arah Jack Will yang baru saja memberikan tawaran menggiurkan itu. Posisi presiden direktur bukanlah jabatan main-main. Tangannya mencengkeram bantalan sofa, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mendadak berpacu lebih cepat.Dia mengusap wajahnya. Kemudian menarik napas. Posisi ini memang lebih tinggi dari posisinya sebelumnya di perusahan, tapi ... bagaimana tanggapan orang-orang kepadanya nanti."Apa Anda serius dengan tawaran ini?" tanya Angeline sekali lagi, mencondongkan tubuhnya ke depan. "maksud saya, ini terlalu ... tiba-tiba.""Aku tidak pernah main-main dengan apa yang keluar dari mulutku." Jack Will menatap Angeline tegas."Tapi ... Anda bahkan belum tahu sepak terjang saya.""Tidak perlu. Aku sudah mendengar banyak hal tentang Anda, termasuk kesuksesan Anda membawa perusahaan sebelumnya naik tingkat demi tingkat."Angeline tidak t
Lucas mengamati Angeline yang kini duduk bersila di hadapannya, kedua lengannya terlipat di dada. Wajahnya penuh rasa ingin tahu yang hampir berubah menjadi frustrasi."Apa maksudmu, Jack Will adalah...?" Angeline mengulang pertanyaannya dengan nada lebih menekan.Rasa penasaran di dalam diri, tidak bisa dibendung lagi olehnya.Lucas tersenyum tipis. Dia sengaja membiarkan jeda, menikmati bagaimana istrinya semakin gelisah. "Dia CEO dari Golden Star," jawabnya akhirnya.Angeline mengerjap. Dahinya berkerut. "Hahaha … lucu sekali!"Meskipun tertawa tapi ekspresi wajahnya datar dan tajam."Lucas!" Angeline memukul lengan suaminya. "aku serius! Kau benar-benar ingin membuatku kesal, ya?"Lucas hanya tertawa kecil, menikmati momen ini."Kamu yang bertanya, aku hanya menjawab,” kata Lucas dengan ringan."Jangan main-main denganku, Lucas!" Angeline mendesah frustrasi. "aku ingin tahu yang sebenarnya. Siapa sebenarnya Jack Will dan kenapa dia begitu hormat padamu?”Lucas menatapnya dalam-dal
Gigio berdiri sambil menatap pemandangan depan rumah yang asri. Dia menyerap apa yang dikatakan oleh Albin dan mempertimbangkannya."Jadi, kamu ingin aku menyembunyikan Dario?" tanya Gigio akhirnya.Albin menatapnya tanpa berkedip. "Aku hanya memberi saran, Ketua."Gigio menghela napas panjang. "Saran yang sangat berbahaya."Albin tetap diam.Gigio akhirnya duduk. Dia pun menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya mengamati langit-langit sejenak sebelum akhirnya berbicara lagi, "Lucas tidak akan membunuh Dario tanpa alasan. Aku tahu dia lebih kejam daripada kebanyakan orang, tetapi dia bukan algojo tanpa logika. Dan pada dasarnya dia adalah orang yang baik.”"Jadi Ketua akan membiarkan Lucas menghukum Dario?" tanya Albin dengan suara sedikit gemetar.“Aku adalah seorang ayah, Albin. Aku ingin melindungi Dario. Tapi aku juga tahu, jika aku campur tangan dalam hal ini, aku hanya akan membuatnya semakin buruk,” kata Gigio, mencoba mengatakannya kembali.Albin mengangguk-anggukkan kepalanya.
Angeline membuka pintu kamar dan melangkah keluar dengan perasaan yang tidak nyaman. Sejak tadi malam, pikirannya dipenuhi oleh banyak hal.Ketika dia menuruni tangga, dia berpapasan dengan Sabrina yang baru saja pulang.Sabrina melepas jaketnya dan menatap Angeline dengan alis sedikit terangkat. "Kamu belum tidur?"Angeline menghela napas pendek. "Aku tidur, tapi pikiranku masih kacau."Sabrina berjalan ke sofa dan menaruh tasnya. "Lucas ada di mana?" tanyanya santai.Angeline mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Mungkin ada di halaman belakang."Sabrina mengernyit. "Kalian bertengkar lagi?"Angeline menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bukan bertengkar, hanya saja aku kesal."Sabrina duduk di sofa dan menatapnya dengan lebih serius. "Kesal kenapa?"Angeline berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan ekspresi berpikir."Lucas selalu menyembunyikan sesuatu dariku,” kata Angeline dengan suara lelah.Sabrina menegang seketika. Dia tahu Lucas adalah salah satu pemimpin mafia Velen
Lisa meremas ponselnya erat, matanya membelalak tak percaya. Di sampingnya, Jeremy tampak sama terguncangnya. Berita yang baru saja mereka dengar begitu absurd hingga otak mereka menolak untuk mencerna. Ruang kerja yang biasanya terasa nyaman kini seolah menyempit, mencekik mereka dengan kenyataan yang tak terduga.Angeline. Presiden Direktur PT BQuality."Ini ... tidak mungkin," bisik Jeremy, suaranya bergetar. Tangannya yang gemetar mengacak rambutnya yang sudah berantakan. "Angeline tidak mungkin ...."Lisa menggeleng cepat, bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar hingga kursi itu berderit keras. "Pasti ada kesalahan. Tidak mungkin Jack Will menyerahkan perusahaan kepada Angeline sedangkan perusahaan itu baru diakuisisi olehnya. Ini pasti lelucon!"Bella, yang sejak tadi berdiri di hadapan mereka mengendikkan bahu. Blazer merah marunnya yang elegan kontras dengan suasana tegang di ruangan itu. Tanpa berkata apa-apa, ia menggeser layar ponselnya, menampilkan sebuah video konfere
Kesunyian yang melingkupi ruangan itu begitu mencekam. Aura kekuasaan Raja Verdansk terasa semakin menekan setiap detik yang berlalu.Dari singgasananya yang megah, sang raja menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tidak menunjukkan emosi, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat John dan Matteo merasa seakan mereka sedang dihakimi.Bagi Raja Verdansk, pertemuan seperti ini adalah sesuatu yang membuang waktu. Dia tidak suka berbasa-basi, tidak tertarik mendengarkan keluhan orang lain. Tetapi, setelah mendengar laporan bahwa Matteo telah berusaha tujuh kali untuk menemuinya, rasa penasarannya sedikit terusik.Lagi pula, yang diketahui olehnya, Matteo bukan orang sembarangan. Dia adalah ketua Serikat Dagang, organisasi paling berpengaruh di Kota Verdansk dan menjadi salah satu lumbung pendapatannya.Namun, yang membuat Raja Verdansk akhirnya memutuskan untuk menerima pertemuan ini bukanlah karena kesetiaan Matteo, melainkan untuk memahami kenapa
Luki duduk dengan santai di ruang tamu, senyum tipis terukir di wajahnya. Dia baru saja mendapat kabar dari Matteo yang membuatnya senang dan penuh semangat.Di tangannya masih ada gelas berisi anggur merah. Dia menggoyangkannya perlahan, matanya menatap cairan itu dengan penuh antisipasi.Langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk.Ashton baru saja pulang kerja, jasnya masih rapi, tetapi ekspresinya terlihat lelah. Begitu dia melihat Luki duduk dengan ekspresi mencurigakan, alisnya langsung terangkat.“Ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ashton sambil melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran sofa.Luki meneguk sedikit anggurnya sebelum menjawab, “Kak, sesuatu yang hebat akan segera terjadi.”Ashton mengernyit. Dia tidak menyukai cara bicara Luki yang penuh misteri.“Apa maksudmu?” tanya Ashton.Luki tersenyum lebih lebar. “Balas dendam akan segera terlaksana.”Ashton langsung menegang. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama.“Balas dendam kepada Lucas?” tanya
Lucas tetap berjongkok di balik semak-semak, matanya tidak pernah lepas dari istana mewah itu. Lampu-lampu temaram di sekeliling gedung menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan mengikuti tiupan angin malam.Di sebelahnya, Sam mulai gelisah. “Jadi … kita cuma akan diam di sini?” bisiknya.Lucas tidak menjawab. Pertanyaan itu telah ditanyakan oleh Sam sebelumya, jadi Lucas tidak perlu lagi untuk menjawab karena membuang-buang energi saja.Lucas masih mengamati setiap detail pergerakan di depan vila. Dia terpikir untuk mengambil beberapa foto dan video sebagai bukti.Namun saat ponselnya dikeluarkan, ada panggilan suara masuk. Tidak ada suara dan tidak ada getaran karena memang Lucas mengatur ponselnya agar sunyi. Dia tidak ingin ada gangguan saat sedang mengawasi Matteo dan John.Di layar ponselnya nama Troy terpampang di sana. Lucas mendesah pelan. Troy sudah meneleponnya sepuluh kali. Tanpa ragu, Lucas akhirnya menerima panggilan itu.‘Apa yang terjadi, The Obsidian Blade? Ke
Di balik bayangan pepohonan, Lucas tetap berjongkok dengan tenang. Matanya fokus pada vila besar di depan mereka, sementara di sampingnya, seorang pemuda bernama Samuel tampak gelisah.Samuel, atau yang biasa dipanggil Sam, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya seorang pengendara motor biasa yang tiba-tiba diseret ke dalam situasi ini.Sam menelan ludah, lalu berbisik, “Hei, kita sudah sampai di sini. Sekarang bisa jelaskan, kenapa kita mengikuti orang itu?”Lucas tetap diam, matanya tidak berkedip sedikit pun.Sam melirik Lucas dengan ragu. “Dengar, aku memang butuh uang, tapi aku tidak mau terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. Kamu bahkan belum memberitahuku siapa pria yang kita ikuti.”Lucas akhirnya menoleh ke arah Sam, sorot matanya tajam dan dingin. Aura berbahaya keluar dari tubuhnya begitu saja, membuat Sam langsung merasa tidak nyaman.Jantung pemuda itu berdetak lebih cepat. Seolah-olah dia baru saja menantang seekor harimau di tengah hutan.“Ad
Pada awalnya Lucas ingin membiarkan Matteo pergi. Namun dia juga mengingat lagi tentang keresahan hatinya tentang Lucas bebepaa hati yang lalu.Lucas menatap jalanan yang macet dengan rahang mengeras. Matteo sudah menghilang dari pandangan mereka, dan itu membuat nalurinya berteriak.“Baiklah Troy. Kejar dia!” perintah Lucas dengan suara tegas.Troy tersenyum. Inilah yang diinginkan olehnya. Yaitu menghukum Matteo dengan keras.Tanpa membuang waktu, Troy pun langsung menginjak pedal gas, mencoba menyalip kendaraan di depannya.Awalnya dia cukup mulus untuk melewati mobil-mobil di depannya meski sedang padat. Namun pada akhirnya, kondisi jalanan tidak berpihak kepada mereka. Lalu lintas menjadi semakin pada sehingga tidak ada ruang untuk menyalip lagi.Terdengar klakson kendaraan bersahutan, menciptakan kekacauan di jalan utama kota Verdansk.Troy mengumpat pelan. “Sial. Mobilnya tidak terlihat lagi.”Lucas menyipitkan matanya, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Matteo. Dia tahu b
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Suasana di ruang rapat BQuality Group begitu tegang. Mata-mata penuh kecurigaan tertuju pada pria yang berdiri di depan ruangan, Nero. Dengan jas hitam rapi dan postur tegap, dia memancarkan aura otoritas yang sulit diabaikan.Jack Will melangkah maju, mengedarkan pandangan tajam ke setiap orang di ruangan. Dia tahu kehadiran Nero akan menimbulkan reaksi, terutama dari orang-orang yang selama ini merasa aman dalam permainan mereka sendiri."Posisi ini," kata Jack Will dengan suara tenang namun tegas, "dibentuk untuk menjamin transparansi dan integritas dalam perusahaan kita. Kita tidak bisa membiarkan ada celah bagi siapa pun untuk memperkaya diri dengan cara yang kotor."Ucapan itu seperti tamparan bagi beberapa orang di ruangan, terutama Randy dan Matias. Mereka tidak bereaksi secara langsung, tetapi rahang mereka mengeras.Jelas bagi mereka, keputusan ini adalah langkah untuk menjegal mereka. Sesuatu yang sangat tidak membuat mereka nyaman.Jack Will melanjutkan, "Sebagai Head of B
Angeline cemas jika Lucas melakukan sesuatu yang jauh. Semenjak Lucas memiliki sasana Brotherhood, Angeline cemas jika Lucas akan melakukan kekerasan fisik kepada orang yang tidak disukai.Lucas menatap Angeline, matanya berkilat tajam. “Aku ingin Randy dan Matias kapok dan tidak bermain-main lagi.”Angeline menghela napas panjang. Dia tahu Lucas tidak akan tinggal diam setelah mendengar ancaman itu. Tetapi dia juga tidak ingin segalanya menjadi semakin runyam.“Kumohon, Lucas.” Angeline menatapnya serius. “jangan main kekerasan. Aku tidak mau membuat masalah ini semakin besar. Aku juga tidak mau berurusan dengan polisi.”Lucas mendengus kecil, menatap Angeline dengan ekspresi tenang namun berbahaya. “Aku tahu bagaimana cara menangani mereka. Percayalah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam masalah.”Angeline tetap menatapnya, berusaha mencari kebenaran dalam kata-katanya. Lucas memang licin. Dia tidak akan bertindak tanpa perhitungan. Namun tetap saja, ini t