Sabrina menatap Randy dengan penuh kecurigaan. Jelas baginya jika yang dikatakan oleh Randy itu adalah sebuah ancaman.Randy tersenyum tipis, lalu tertawa kecil seolah ucapan Sabrina adalah sesuatu yang lucu."Ancaman?" kata Randy, pura-pura terkejut. "Sabrina, kamu terlalu sensitif. Aku hanya memberitahumu bagaimana perusahaan ini bekerja. Ini bukan tempat untuk sebuah idealisme berlebihan. Kalau kamu ingin bertahan lama di sini, sebaiknya kamu belajar bagaimana sistem berjalan."Sabrina mengerutkan kening. Lalu dia bertanya, "Sistem macam apa yang membuat karyawan bekerja tanpa henti seperti ini?""Yang menghasilkan uang," jawab Randy singkat. “ini perusahaan besar, Sabrina. Kita dituntut untuk memberikan yang terbaik. Setelah kita bisa berikan, perusahaan juga akan memberikan yang terbaik untuk kita.”Sabrina tidak suka dengan jawaban itu. Namun, dia juga sadar jika berdebat dengan Randy saat ini hanya akan membuang-buang waktu. Dan terlebih, memang yang dikatakannya adalah sebuah
Dario menatap layar ponselnya. Nama Ayah masih terpampang jelas di sana, dengan suara dering yang terus menggema di dalam mobil yang melaju di tengah malam.Tangannya sedikit gemetar. Dia tahu jika dia mengangkat telepon itu, Gigio pasti akan mencoba membujuknya untuk pulang.Tapi dia tidak bisa kembali.Dario menarik napas dalam, lalu mematikan ponselnya. Seketika, mobil terasa lebih sunyi.Ruben, yang sedang fokus menyetir, melirik sekilas ke arah Dario. “Itu dari ayahmu?”“Ya, dari ayahku,” jawab Dario sambil menganggukkan kepalanya pelan.“Ayahmu pasti panik sekali saat ini, Dario,” kata Ruben. “tanganmu belum pulih dan sekarang kamu kabur. Perasaannya pasti kacau. Apakah kamu tidak mau pulang saja?”Dario mendengus, lalu menatap jendela dengan ekspresi keras. “Aku tidak akan pulang, Ruben. Ini bukan sekadar tentang kehilangan tangan. Lucas menghancurkan harga diriku. Aku tidak bisa hidup sebagai orang yang lemah.”Ruben terdiam sebentar, lalu dia mengangguk pelan sambil berkata,
Lucas menatap Gigio dengan ekspresi santai, tetapi matanya menyiratkan sesuatu yang tajam dan dingin.Gigio menelan ludah. Dia sadar, pertanyaannya tadi bisa dianggap sebagai tuduhan. Jika ada satu hal yang dia pelajari dari Lucas, itu adalah bahwa pria ini tidak suka dicurigai tanpa alasan yang jelas.Gigio buru-buru melambaikan tangannya. “Bukan begitu, Lucas. Aku hanya khawatir. Dario baru saja kehilangan tangannya, dan sekarang dia menghilang dari rumah sakit tanpa jejak. Aku hanya ingin memastikan…”Lucas menyilangkan tangannya di dada. “Gigio, kalau aku ingin Dario mati, aku sudah membunuhnya saat di rumah Marco. Tidak ada gunanya bagiku menculiknya sekarang.”Gigio terdiam. Kata-kata Lucas memang masuk akal.Lucas mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Gigio dengan lebih tajam. “Aku menyuruh Gigio bersujud dan memotong tangan anaknya di depanku. Bukankah itu sudah cukup sebagai hukuman?”Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Gigio. Dia tahu Lucas tidak asal bicara
Dario berdiri diam di depan gerbang besi yang tinggi, napasnya terasa berat. Udara malam yang dingin menyelimuti mereka, tetapi bukan itu yang membuat Dario tegang.Gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya seperti monumen yang menandai awal perjalanan baru atau akhir dari semuanya.Di sebelahnya, Ruben tampak lebih santai. Dia menyelipkan tangannya ke dalam saku jaket, menatap gerbang dengan ekspresi bosan.“Kenapa kamu tegang begitu?” Ruben melirik ke arah Dario. “bukannya ini yang kamu inginkan?”Dario menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Bukan itu masalahnya. Hanya saja ... tempat ini terasa berbeda.”Mata Dario menyapu bangunan di balik gerbang, rumah batu besar dengan desain klasik, pilar-pilar tinggi, dan jendela-jendela gelap yang seolah mengawasi mereka. Rumah ini tidak seperti rumah pelatih bela diri pada umumnya.Ruben tertawa kecil. Lalu dia berkata, “Ya, tempat ini memang misterius. Tapi tenang saja. Dua tahun lalu, aku pernah ke sini saat mengantar Marco.”D
Ruangan menjadi sunyi.Api di perapian berderak, memberikan cahaya temaram di wajah Xena yang kini berubah semakin menyeramkan.Xena menutup matanya sejenak, menarik napas panjang.Tidak lama kemudian, dia pun berdiri.Dengan gerakan pelan tetapi pasti, dia melangkah mendekati Dario.Saat dia berbicara, suaranya terdengar seperti petir di malam yang gelap.“Kalau begitu, kita punya tujuan yang sama,” ucap Xena.Dario menoleh ke arah Ruben, matanya penuh semangat."Apakah itu berarti aku diterima menjadi muridmu?" tanya Dario dengan nada penuh harapan.Xena tersenyum tipis, tetapi tatapannya tetap tajam."Belum tentu," jawab Xena. "aku akan melihat potensimu setelah dua kali latihan. Jika kamu tidak cukup baik, kamu akan pergi dari sini."Dario mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan mengecewakanmu."Xena tidak menanggapi, tetapi bibirnya melengkung dalam senyum samar. Seolah dia tahu bahwa semangat Dario bukanlah segalanya.Xena bertepuk tangan pelan. Seorang pria bertubuh besar dengan
Sabrina menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum yang nyaris tidak bisa dia sembunyikan. Di hadapannya, tim audit masih berkutat dengan dokumen-dokumen laporan keuangan yang menumpuk di meja. Tangan mereka sibuk mengetik, mencatat, dan sesekali berbisik satu sama lain, mendiskusikan sesuatu yang tampak serius."Kalian harus teliti, jangan sampai ada dokumen yang terlewat." Sabrina memberi perintah."Baik, Bu Presdir!" jawab salah satu dari tim audit. "Aku mau hari ini selesai semua." Sabrina melipat tangan di depan dada. Ruangan rapat dipenuhi suasana tegang. Beberapa eksekutif perusahaan yang hadir duduk dengan ekspresi penuh waspada, menunggu hasil audit yang bisa saja mengguncang perusahaan.Matias dan Randy, dua orang yang dicurigai Sabrina tidak terlihat sepanjang hari. Tentu saja, itu semakin memperkuat keyakinan Sabrina bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Pasti ada hal yang mereka lakukan, yang tidak orang lain tahu. "Ini akan menjadi hari yang panjang," gumam
Ruangan itu mendadak sunyi. Semua orang menahan napas, menunggu kata-kata selanjutnya dari ketua tim audit.Sabrina menatap Randy dan Matias dengan penuh kemenangan. Dia yakin sesuatu akan terungkap.Randy mengetukkan jarinya di meja, Matias menyilangkan tangan di dada. Mereka berdua memang tampak tegang, tetapi ada sesuatu dalam ekspresi mereka yang tidak sepenuhnya takut.“Setelah pemeriksaan menyeluruh,” kata ketua tim audit akhirnya, suaranya tegas dan penuh otoritas. “kami tidak menemukan adanya indikasi korupsi atau mark up yang signifikan.”Keheningan menggantung di udara.Sabrina mengerutkan kening. "Apa?"Angeline menatap ketua tim audit dengan tajam. “Itu tidak mungkin.”Ketua tim audit mengangguk. “Ada beberapa permasalahan dalam pencatatan dan kesalahan kecil dalam pengelolaan anggaran, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan kecurangan skala besar.”Sabrina mendesis pelan. Tangannya mengepal di atas meja. “Tidak mungkin. Pasti ada yang kalian lewatkan.”Randy dan Matias s
Ruangan di markas Veleno berbau tembakau dan alkohol, bercampur dengan udara yang dipenuhi aroma kayu tua. Cahaya remang-remang dari lampu gantung kuno menciptakan bayangan yang menari di dinding batu.Lucas duduk di sofa utama dengan kaki disilangkan, matanya tajam menatap pria di depannya.Pria itu tidak lebih tua darinya, mungkin hanya terpaut beberapa tahun. Rambut hitamnya tertata rapi, tetapi tatapan matanya menunjukkan kecerdasan yang tajam dan naluri yang berbahaya. Dia bernama Nero. Salah satu anggota Veleno yang dikenal tidak hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena otaknya yang brilian.Lucas menatap Nero dengan tajam, lalu berkata dengan suara rendah namun penuh otoritas, "Aku ingin kamu bergabung di BQuality."Nero menautkan kedua alisnya, tidak percaya."BQuality, The Obsidian Blade?" ulangnya, seolah memastikan bahwa dia tidak salah dengar.Lucas mengangguk. Lalu dia berkata, “Aku butuh seseorang di dalam perusahaan itu. Seseorang yang bisa mengawasi segala perger
Kesunyian yang melingkupi ruangan itu begitu mencekam. Aura kekuasaan Raja Verdansk terasa semakin menekan setiap detik yang berlalu.Dari singgasananya yang megah, sang raja menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tidak menunjukkan emosi, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat John dan Matteo merasa seakan mereka sedang dihakimi.Bagi Raja Verdansk, pertemuan seperti ini adalah sesuatu yang membuang waktu. Dia tidak suka berbasa-basi, tidak tertarik mendengarkan keluhan orang lain. Tetapi, setelah mendengar laporan bahwa Matteo telah berusaha tujuh kali untuk menemuinya, rasa penasarannya sedikit terusik.Lagi pula, yang diketahui olehnya, Matteo bukan orang sembarangan. Dia adalah ketua Serikat Dagang, organisasi paling berpengaruh di Kota Verdansk dan menjadi salah satu lumbung pendapatannya.Namun, yang membuat Raja Verdansk akhirnya memutuskan untuk menerima pertemuan ini bukanlah karena kesetiaan Matteo, melainkan untuk memahami kenapa
Luki duduk dengan santai di ruang tamu, senyum tipis terukir di wajahnya. Dia baru saja mendapat kabar dari Matteo yang membuatnya senang dan penuh semangat.Di tangannya masih ada gelas berisi anggur merah. Dia menggoyangkannya perlahan, matanya menatap cairan itu dengan penuh antisipasi.Langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk.Ashton baru saja pulang kerja, jasnya masih rapi, tetapi ekspresinya terlihat lelah. Begitu dia melihat Luki duduk dengan ekspresi mencurigakan, alisnya langsung terangkat.“Ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ashton sambil melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran sofa.Luki meneguk sedikit anggurnya sebelum menjawab, “Kak, sesuatu yang hebat akan segera terjadi.”Ashton mengernyit. Dia tidak menyukai cara bicara Luki yang penuh misteri.“Apa maksudmu?” tanya Ashton.Luki tersenyum lebih lebar. “Balas dendam akan segera terlaksana.”Ashton langsung menegang. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama.“Balas dendam kepada Lucas?” tanya
Lucas tetap berjongkok di balik semak-semak, matanya tidak pernah lepas dari istana mewah itu. Lampu-lampu temaram di sekeliling gedung menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan mengikuti tiupan angin malam.Di sebelahnya, Sam mulai gelisah. “Jadi … kita cuma akan diam di sini?” bisiknya.Lucas tidak menjawab. Pertanyaan itu telah ditanyakan oleh Sam sebelumya, jadi Lucas tidak perlu lagi untuk menjawab karena membuang-buang energi saja.Lucas masih mengamati setiap detail pergerakan di depan vila. Dia terpikir untuk mengambil beberapa foto dan video sebagai bukti.Namun saat ponselnya dikeluarkan, ada panggilan suara masuk. Tidak ada suara dan tidak ada getaran karena memang Lucas mengatur ponselnya agar sunyi. Dia tidak ingin ada gangguan saat sedang mengawasi Matteo dan John.Di layar ponselnya nama Troy terpampang di sana. Lucas mendesah pelan. Troy sudah meneleponnya sepuluh kali. Tanpa ragu, Lucas akhirnya menerima panggilan itu.‘Apa yang terjadi, The Obsidian Blade? Ke
Di balik bayangan pepohonan, Lucas tetap berjongkok dengan tenang. Matanya fokus pada vila besar di depan mereka, sementara di sampingnya, seorang pemuda bernama Samuel tampak gelisah.Samuel, atau yang biasa dipanggil Sam, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya seorang pengendara motor biasa yang tiba-tiba diseret ke dalam situasi ini.Sam menelan ludah, lalu berbisik, “Hei, kita sudah sampai di sini. Sekarang bisa jelaskan, kenapa kita mengikuti orang itu?”Lucas tetap diam, matanya tidak berkedip sedikit pun.Sam melirik Lucas dengan ragu. “Dengar, aku memang butuh uang, tapi aku tidak mau terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. Kamu bahkan belum memberitahuku siapa pria yang kita ikuti.”Lucas akhirnya menoleh ke arah Sam, sorot matanya tajam dan dingin. Aura berbahaya keluar dari tubuhnya begitu saja, membuat Sam langsung merasa tidak nyaman.Jantung pemuda itu berdetak lebih cepat. Seolah-olah dia baru saja menantang seekor harimau di tengah hutan.“Ad
Pada awalnya Lucas ingin membiarkan Matteo pergi. Namun dia juga mengingat lagi tentang keresahan hatinya tentang Lucas bebepaa hati yang lalu.Lucas menatap jalanan yang macet dengan rahang mengeras. Matteo sudah menghilang dari pandangan mereka, dan itu membuat nalurinya berteriak.“Baiklah Troy. Kejar dia!” perintah Lucas dengan suara tegas.Troy tersenyum. Inilah yang diinginkan olehnya. Yaitu menghukum Matteo dengan keras.Tanpa membuang waktu, Troy pun langsung menginjak pedal gas, mencoba menyalip kendaraan di depannya.Awalnya dia cukup mulus untuk melewati mobil-mobil di depannya meski sedang padat. Namun pada akhirnya, kondisi jalanan tidak berpihak kepada mereka. Lalu lintas menjadi semakin pada sehingga tidak ada ruang untuk menyalip lagi.Terdengar klakson kendaraan bersahutan, menciptakan kekacauan di jalan utama kota Verdansk.Troy mengumpat pelan. “Sial. Mobilnya tidak terlihat lagi.”Lucas menyipitkan matanya, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Matteo. Dia tahu b
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Suasana di ruang rapat BQuality Group begitu tegang. Mata-mata penuh kecurigaan tertuju pada pria yang berdiri di depan ruangan, Nero. Dengan jas hitam rapi dan postur tegap, dia memancarkan aura otoritas yang sulit diabaikan.Jack Will melangkah maju, mengedarkan pandangan tajam ke setiap orang di ruangan. Dia tahu kehadiran Nero akan menimbulkan reaksi, terutama dari orang-orang yang selama ini merasa aman dalam permainan mereka sendiri."Posisi ini," kata Jack Will dengan suara tenang namun tegas, "dibentuk untuk menjamin transparansi dan integritas dalam perusahaan kita. Kita tidak bisa membiarkan ada celah bagi siapa pun untuk memperkaya diri dengan cara yang kotor."Ucapan itu seperti tamparan bagi beberapa orang di ruangan, terutama Randy dan Matias. Mereka tidak bereaksi secara langsung, tetapi rahang mereka mengeras.Jelas bagi mereka, keputusan ini adalah langkah untuk menjegal mereka. Sesuatu yang sangat tidak membuat mereka nyaman.Jack Will melanjutkan, "Sebagai Head of B
Angeline cemas jika Lucas melakukan sesuatu yang jauh. Semenjak Lucas memiliki sasana Brotherhood, Angeline cemas jika Lucas akan melakukan kekerasan fisik kepada orang yang tidak disukai.Lucas menatap Angeline, matanya berkilat tajam. “Aku ingin Randy dan Matias kapok dan tidak bermain-main lagi.”Angeline menghela napas panjang. Dia tahu Lucas tidak akan tinggal diam setelah mendengar ancaman itu. Tetapi dia juga tidak ingin segalanya menjadi semakin runyam.“Kumohon, Lucas.” Angeline menatapnya serius. “jangan main kekerasan. Aku tidak mau membuat masalah ini semakin besar. Aku juga tidak mau berurusan dengan polisi.”Lucas mendengus kecil, menatap Angeline dengan ekspresi tenang namun berbahaya. “Aku tahu bagaimana cara menangani mereka. Percayalah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam masalah.”Angeline tetap menatapnya, berusaha mencari kebenaran dalam kata-katanya. Lucas memang licin. Dia tidak akan bertindak tanpa perhitungan. Namun tetap saja, ini t