Kadita tampak frustrasi di area belakang rumah. Ember penuh pakaian basah berserakan, sementara dirinya berdiri dengan muka masam, menginjak-injak pakaian dengan penuh emosi. Ia meremas sebuah baju, lalu melemparnya kembali ke ember dengan kasar. “Kenapa hidupku jadi kayak gini, sih?! Bastian, dasar laki-laki nggak berguna! Semua ini gara-gara kamu!” seru Kadita dengan nada tinggi, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mencengkram rambutnya sendiri, kemudian duduk di bangku kayu dengan napas tersengal, seolah kelelahan oleh amarah dan rasa frustrasi. Di saat yang sama, suara langkah Kartini terdengar mendekat. Ia baru saja kembali ke rumah karena menyadari ada berkas penting yang tertinggal. Namun, suara gaduh di area belakang menarik perhatiannya. Kartini berjalan pelan ke arah sumber suara, dan pemandangan di depannya membuatnya terkejut sekaligus geli. Kadita tampak seperti orang yang kehilangan akal, duduk di antara pakaian ba
Kadita duduk di ruang tamu rumah mereka, jari-jarinya sibuk menggulir layar ponsel, mencari pembeli untuk tas-tas mewahnya. Sesekali ia mendesah panjang. "Ah, siapa peduli jadi ibu rumah tangga. Hidup di rumah ini bener-bener bikin gila," gumamnya sambil mengetik pesan ke teman-teman sosialitanya. Setelah mendapatkan pembeli, Kadita segera mengemas tas-tas itu dan mulai merancang rencana jalan-jalan ke Bali. Hidup sederhana bukan dunianya. Beberapa hari kemudian, ia sudah berada di bandara, tersenyum lebar bersama teman-temannya. Pakaian mereka mencolok, riasan wajah sempurna, seolah semua masalah hilang dalam sekejap. ____ Di rumah, Ibu Sulastri hanya bisa mengelus dada. Bayi Kadita menangis tak henti-henti sejak pagi, sementara Bastian terlihat lelah menghadapi kekacauan di rumah. “Ini istri kamu, ya? Enak banget hidupnya liburan ke Bali, ninggalin anaknya sama kita semua di sini! Dasar nggak punya tanggung jawab!” omel I
Keesokan harinya saat Kadita masih belum pulang. Suasana ruang tamu terasa tegang malam itu. Bastian duduk di sofa dengan wajah penuh penyesalan, sementara Kartini berdiri di depannya, tangan terlipat di dada. Tatapan matanya dingin, penuh kebencian yang telah terpendam sekian lama. “Kartini, aku minta maaf...” Bastian memulai, suaranya serak. “Aku tahu aku salah. Aku bodoh karena memilih Kadita. Aku sadar sekarang, dia nggak lebih baik darimu. Aku... aku benar-benar menyesal.” Kartini mendengus, memiringkan kepala sambil menatap Bastian dengan tatapan penuh sindiran. “Baru sadar sekarang? Setelah semua yang aku lalui? Setelah aku dihancurkan, dihina, ditinggalkan? Baru sekarang kamu merasa menyesal?” “Kartini, aku tahu aku keterlaluan. Tapi aku mohon... beri aku kesempatan kedua. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kembali ke kamu dan anak-anak,” Bastian meraih tangan Kartini, namun wanita itu segera menarik tangannya dengan kasar.
Hari itu Kartini sedang memeriksa laporan check-out tamu di komputer bagian housekeeping. Matanya sibuk mengamati setiap detail laporan, memastikan tidak ada yang terlewat. Pikiran tentang perceraian yang semakin dekat dengan Bastian terus menghantui, tetapi ia berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak terlarut dalam emosi. “Kartini,” suara dalam bariton khas Antonio terdengar di belakangnya. Kartini langsung menoleh, agak terkejut melihat sang General Manager berdiri dengan raut serius tapi santai. “Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” “Ayo ikut saya sebentar,” ucap Antonio singkat, lalu melangkah ke arah lorong yang lebih sepi tanpa menunggu jawaban. Kartini buru-buru mengikuti langkahnya, merasa sedikit gugup. Mereka akhirnya berhenti di sebuah balkon kecil di lantai atas, tempat yang jarang dikunjungi staf lain. Angin sore yang sejuk bertiup lembut, membuat suasana sedikit lebih santai. “Saya
Malam itu, Antonio duduk di balkon apartemennya, ditemani segelas anggur merah dan semilir angin malam. Seharusnya ia merasa santai setelah menjalani hari yang panjang sebagai General Manager hotel, tetapi pikirannya tak kunjung tenang. Satu nama terus mengganggu pikirannya: Kartini. Antonio menghela napas panjang, menatap kosong ke langit malam yang bertabur bintang. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka galeri di ponselnya. Ada banyak foto dari berbagai acara hotel bersama staf. Namun, seperti gravitasi, matanya selalu tertuju pada sosok Kartini di setiap foto. “Kenapa dia begitu menarik?” gumamnya pelan. Kartini bukanlah tipe wanita glamor yang biasa Antonio temui dalam lingkaran sosialnya. Namun ada sesuatu dalam dirinya—kombinasi kecerdasan, keanggunan, dan sisi feminin yang kuat—yang berhasil menarik perhatian Antonio. Ia membenci fakta bahwa dirinya, pria yang dikenal dingin dan profesional, mulai memikirka
Di ruang kerjanya yang elegan, Antonio tampak gelisah. Tumpukan dokumen di mejanya tidak mampu menarik perhatiannya. Sesekali ia melirik ponselnya, seolah menunggu sesuatu. Namun, tidak ada kabar yang ia tunggu. Matanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, pikirannya dipenuhi oleh satu nama: Anjani—putri kecilnya yang sedang sakit. Sudah seminggu lebih Anjani demam tinggi dan tak kunjung sembuh. Dokter pribadi keluarga sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kondisi Anjani tidak menunjukkan perubahan berarti. Satu hal yang membuat Antonio semakin khawatir adalah gumaman Anjani yang terus memanggil, "Mami... mami..." Antonio merasa buntu. Ia harus melakukan sesuatu. Dengan tekad kuat, ia menekan tombol interkom di mejanya. “Kartini, tolong ke ruangan saya sekarang,” suaranya tegas, namun ada nada lembut yang jarang terdengar. *** Bab 52 Hari sudah menjelang senja ketika Antonio dan Kartini keluar dari hotel bersama. Di lobi, beberapa staf sempat melirik penuh ras
Antonio berdiri di depan pintu kamar Anjani, menarik napas dalam-dalam. Kamar itu terlihat sunyi, hanya ada cahaya temaram dari lampu tidur yang memancarkan warna lembut. Ia menatap Kartini, mencoba menjelaskan hal yang harus dilakukan. “Kartini,” ucap Antonio pelan, suaranya penuh ketenangan tetapi juga tekanan emosional. “Kadita biasanya punya cara tertentu saat berbicara dengan Anjani. Dia memanggilnya ‘sayang kecilku’ dengan nada lembut. Tapi belakangan, kadang dia hanya singkat memanggil ‘Anjani’. Kalau Anjani bicara, Kadita... lebih sering tidak mendengarkan.” Kartini mengerutkan alis. “Tidak mendengarkan? Tapi bagaimana bisa seorang ibu... tidak memberikan perhatian sepenuhnya?” Antonio menghela napas, menatap pintu kamar dengan tatapan kosong. “Itulah Kadita. Anjani terlalu kecil untuk memahami kekurangan ibunya. Dia hanya tahu bahwa dia rindu. Dan malam ini, kamu harus menjadi seseorang yang bisa menghapus kerin
Di ruang tamu yang megah dengan cahaya lampu gantung kristal yang memantulkan sinar lembut, Antonio berdiri di dekat jendela besar, memandangi gelapnya malam. Kartini duduk di sofa panjang, merasa canggung dengan situasi yang tidak biasa ini. Jam dinding menunjukkan pukul 1 malam, dan ia ingin segera pulang. “Pak, terima kasih atas semuanya. Tapi saya rasa saya harus pulang sekarang,” ucap Kartini pelan, suaranya terdengar gugup. Antonio berbalik, menatap Kartini dengan pandangan tajam tapi tenang. “Kartini, ini sudah terlalu larut. Apa yang akan orang pikirkan jika mereka melihatmu pulang tengah malam? Tetangga, keluargamu—apa mereka tidak akan menghakimi?” Kartini terdiam, merasa kata-kata Antonio masuk akal. “Tapi, Pak, saya tidak nyaman berada di rumah orang lain terlalu lama. Lagipula, saya sudah selesai membantu.” Antonio berjalan perlahan ke arah meja kecil, menuangkan segelas anggur untuk dir
Langit sore mulai meredup ketika Antonio melangkah masuk ke rumahnya setelah selesai dengan sesi latihan tembaknya. Kaus polo hitam yang ia kenakan melekat sempurna pada tubuh atletisnya, menyiratkan kelelahan sekaligus kesan menawan yang tak terbantahkan. Langkahnya tenang, tetapi tatapannya tajam menyusuri ruangan, mencari seseorang—Kartini. Namun, Kartini tidak terlihat di mana-mana. Antonio mengerutkan dahi. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung melangkah menuju kamarnya. Begitu membuka pintu, ia berhenti sejenak. Kartini ada di sana. Wanita itu berdiri diam di depan dinding besar yang dihiasi sebuah lukisan wanita mengenakan gaun marun. Kartini tampak terpaku, matanya menatap lekat pada detail lukisan itu. Antonio bersandar di ambang pintu, kedua lengannya menyilang di dada. Matanya mengamati Kartini yang tampak begitu terpesona, tetapi ekspresinya tetap dingin. “Kartini,” suara baritonnya memecah
Antonio berdiri di area latihan tembak dengan postur tegap, mengenakan pakaian olahraga hitam yang membuat auranya semakin mencolok. Sebuah pistol semi-otomatis berada di genggamannya, siap untuk digunakan. Ia menarik napas panjang, menatap target yang berada beberapa meter di depannya—sebuah lingkaran dengan titik merah di tengah. DOR! Tembakan pertama melesat, tepat mengenai tepi lingkaran tengah. Antonio sedikit menghela napas, tampak tak puas. Ia mengangkat pistolnya lagi, tetapi kali ini wajahnya tampak lebih serius. Dalam pikirannya, ia membayangkan wajah seseorang. “Bastian,” gumamnya sambil mengarahkan pistol. “Kalau saja kamu tahu betapa menyebalkannya dirimu…” DOR! Kali ini tembakannya tepat di tengah. Antonio menyeringai kecil, senang membayangkan dirinya sedang "mengalahkan" Bastian, meski hanya di pikirannya. “Pak Antonio, Anda tampaknya sangat f
Antonio berjalan dengan tenang di lorong hotel, memeriksa setiap detail dari pelayanan hingga suasana hotel. Mata tajamnya memperhatikan kerapian meja, keramahan staf, hingga suasana yang dihadirkan. Hari itu seharusnya menjadi hari biasa. Tapi, tentu saja, tidak bagi Bastian. “Antonio!” suara khas itu memecah keheningan. Antonio berhenti sejenak, menoleh, lalu kembali berjalan. Namun, seperti biasa, Bastian tak menyerah. Ia mengejar dengan langkah cepat, membawa senyum yang seolah penuh kemenangan. “Kenapa selalu buru-buru kalau ketemu aku? Takut kalah debat, ya?” goda Bastian sambil menyamakan langkah dengan Antonio. Antonio menghela napas pelan, menoleh tanpa banyak ekspresi. “Kalau tidak ada yang penting, lebih baik kembali ke pekerjaanmu.” “Tenang dulu, bos. Aku cuma mau ngobrol ringan. Kamu tahu Kartini pindah kerja ke mana?” tanyanya tiba-tiba, mencoba terdengar santai, tapi matanya penuh selidik.
Di sebuah sore yang sibuk, Bastian berjalan menuju ruang kerja Antonio dengan setumpuk dokumen di tangannya. Laporan ini adalah hasil kerja keras timnya, dan walau hubungan mereka sering penuh tensi, ia tahu bahwa tugas adalah tugas. Antonio, sebagai atasan langsungnya, tetap harus menerima laporan tersebut. Setibanya di ruangan Antonio, pria itu duduk dengan sikap serius seperti biasa, membaca laporan yang baru saja diberikan oleh Bastian. Ia mengernyit sedikit, menunjuk beberapa bagian. “Ini tidak sinkron dengan data sebelumnya. Revisi, dan perbaiki sebelum sore ini,” kata Antonio, nada suaranya dingin namun profesional. Bastian mengangguk kecil, lalu menjawab, “Baik, saya akan perbaiki. Tapi bagian mana yang lebih detil harus dirapikan?” Sebelum Antonio sempat menjawab, tiba-tiba ponsel di mejanya berdering. Antonio dengan refleks melirik layar ponselnya dan terlihat agak tegang. Di layar ponsel itu, hanya ada
Malam sudah semakin larut, tetapi suasana di lapangan golf masih terasa hangat dan penuh semangat. Pertandingan final dimulai kembali setelah jeda istirahat 20 menit. Antonio kembali ke lapangan dengan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya. Keringat yang mengucur deras membasahi kemejanya, membuatnya semakin tidak nyaman. Tanpa banyak basa-basi, ia meraih kerah bajunya, menariknya ke atas, dan melepaskannya begitu saja. Kartini, yang berdiri tak jauh, menahan napas. Di bawah sinar lampu lapangan yang terang, tubuh Antonio terlihat begitu memukau. Dadanya yang bidang dengan lebar sekitar 80 cm terlihat jelas, kulitnya kecokelatan sempurna, dengan garis otot yang terpahat rapi. Lengan yang kokoh, punggung lebar, dan perutnya yang berotot menciptakan perpaduan sempurna antara kekuatan dan estetika. Keringat yang masih menetes di kulitnya seperti menambah kilauan, membuatnya terlihat seperti sosok dari lukisan dewa-dewa Yunani. Terlebih tinggi badannya
Setelah hampir dua jam bertanding, Antonio terlihat sangat santai, bahkan senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya. Pukulan demi pukulan dilontarkan dengan presisi tinggi, sementara rekan-rekannya sudah tampak kelelahan. Tatiana dan Kartini berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan dengan takjub. "Wow, Kak Antonio ini nggak ada capeknya, ya?" Tatiana tertawa, menonton kakaknya yang tampaknya begitu menikmati permainannya. Kartini, yang agak khawatir, menatap Antonio dengan tatapan bingung. "Apa selama ini Pak Antonio memang main golf terus tanpa henti seperti ini?" tanyanya, sedikit khawatir. Tatiana mengangguk, terlihat sudah terbiasa dengan kebiasaan kakaknya. "Kakakku itu bisa main sampai sore, bahkan malam. Golf itu hobinya. Makanya dia punya koleksi tongkat golf yang harganya nggak main-main," jawabnya sambil tersenyum lebar. Kartini mengangguk pelan, sedikit mengerti, meskipu
Langit cerah membentang luas di atas lapangan golf yang hijau dan rapi. Angin sepoi-sepoi menambah kesejukan udara, menciptakan suasana yang seharusnya tenang dan damai. Namun, suasana hati Antonio sepertinya sedang bergolak. Ia berdiri di atas rumput, tongkat golf di tangannya, dan tatapannya penuh amarah, seolah setiap pukulan adalah pelampiasan untuk perasaan yang tak terungkapkan. Tatiana, yang duduk di dekat buggy golf, hanya menggelengkan kepala. "Kak, ini main golf, bukan mau tanding tinju atau perang , lho," ujarnya setengah bercanda sambil memandang kakaknya yang terus-menerus memukul bola dengan agresif. Antonio hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Pukulannya terdengar keras, dan bola itu terlempar jauh, hampir menabrak pembatas lapangan. Kartini yang berdiri tidak jauh dari situ mengerutkan keningnya, menyaksikan dengan cemas. Ia mendekat, memegang bola golf baru, dan dengan hati-hati meletakkann
Ruang lobi hotel dipenuhi suasana formal saat rombongan investor asing tiba. Antonio dengan setelan jas rapi, berdiri dengan penuh wibawa di samping Pak Hendro. Di sebelahnya, Bastian juga terlihat santai tetapi dengan senyum penuh percaya diri. Para investor ini adalah kunci untuk meningkatkan modal hotel, dan setiap ide yang mereka presentasikan hari ini akan menentukan keputusan besar. Ketika Antonio mulai memaparkan idenya, suaranya terdengar tegas dan meyakinkan. "Strategi kita ke depan adalah mengintegrasikan layanan berbasis teknologi untuk tamu bisnis. Dengan aplikasi custom, tamu dapat memesan fasilitas meeting, catering, hingga transportasi langsung dari ponsel mereka. Ini akan memberikan kemudahan yang menjadi nilai tambah." Para investor tampak tertarik. Salah satu dari mereka mengangguk, mencatat poin yang disampaikan Antonio. Namun, sebelum Antonio bisa melanjutkan, Bastian menyela dengan senyum halus. "Itu id
Rapat pagi itu di ruang konferensi besar terasa tegang sejak awal. Antonio duduk di kursinya dengan postur tegak dan wajah dingin, tangannya yang baru sembuh sebagian dari gips bertumpu di meja. Di seberangnya, Bastian tampak lebih santai, tetapi sorot matanya jelas penuh tantangan. Topik diskusi adalah strategi pemasaran untuk meningkatkan okupansi hotel, terutama di segmen tamu bisnis. "Rencana itu terlalu berisiko," Antonio memulai, suaranya tegas. "Mengalihkan sebagian besar anggaran ke pemasaran digital tanpa memastikan ROI yang jelas akan membuat kita rentan terhadap kerugian." Bastian langsung menyela. "Antonio, kalau kita terus berpikir konservatif seperti itu, kita akan tertinggal. Kompetitor kita sudah berinvestasi besar di media digital, dan mereka mulai melihat hasilnya. Kita harus berani mengambil langkah besar." Antonio mendengus pelan, lalu menatap Bastian dengan dingin. "Langkah besar tanpa perhit