Saat Hiji dan pasukannya tiba di kedai ramen, sejumlah besar pasukan pemberontak yang akan mengawal jalannya transaksi pembelian senjata ilegal berdatangan dari arah ibu kota.
“Saito, masuklah ke dalam dan bantu mereka! Aku akan menahan pasukan yang baru datang di sini!”
“Aku mengerti,” jawab Saito dengan tenang. “Kita langsung masuk!” perintahnya pada anggota shinsengumi yang lain.
Separuh pasukan yang ada akan mengikuti Saito masuk ke kedai ramen. Separuh sisanya akan membantu Hiji mengadang pasukan pemberontak dari ibu kota. Mereka semua serempak mengeluarkan pedangnya.
Rion merasakan degup jantungnya berpacu cepat dan keras. Jedug! Jedug! Dia merasa sesak dan kesakitan.
“Silver,” gumamnya sambil memegangi dada yang nyeri. “Tidak! Ini energi kegelapan milik orang lain, bukan milik Panglima Kalamantra.”
Anggota inti shinsengumi—ketujuh gadis penuh kejutan itu tengah berkumpul di ruang makan. Rion dan Silver ikut mengamati mereka dengan duduk di belakang.“Mereka sungguh tangguh,” puji Silver diam-diam.“Ya, luka separah itu bisa mereka lalui dengan cepat dan seolah-olah bukan hal yang perlu diseriusi. Padahal, mereka semua hanyalah gadis normal yang bisa mati sewaktu-waktu.”“Kalian... Membicarakan kami?” seringai Heisu yang tiba-tiba berbalik dan menghadap ke Rion dan Silver. “Kunci agar kami bisa bertahan, baik sebagai gadis manis maupun sebagai pasukan shinsengumi adalah....”“Jangan biarkan wajahmu terluka! Haha...,” sahut yang lain.Mereka semua tertawa. Okita sampai terbatuk dan kesakitan karena dadanya masih lebam akibat pukulan gagang pedang beberapa hari yang lalu.“Tapi, aku ta
Di gerbang timur, Sano dan pasukannya berhasil mengejar kelompok pemberontak dari klan Ozu. Para pemberontak itu mencoba menyerang ke istana melalui gerbang di benteng timur. Sano mengayunkan pedang kembarnya. “Kalian harus mengalahkan kami dulu jika ingin menyerang istana.” Sano memutar pedang kembarnya dengan cepat yang saling terkait dengan rantai.“Bajingan!” umpat pimpinan pasukan pemberontak di gerbang timur.“Jika ada yang ingin mati, maju sini!” tantang Sano dengan seringai nakalnya.Pemimpin pasukan Ozu ketakutan begitu menyadari haori yang Sano kenakan. “Sebaiknya kita mundur!”“Jangan biarkan mereka lari!” teriak salah satu anggota pasukan Sano. Shinsengumi mulai memburu para pemberontak Ozu yang kabur.Dor! Dor!Langkah pasukan shinsengumi terhenti. Dua orang anggotanya tumbang akibat tem
Sraak!Rion menggeser pintu hingga terbuka. Cahaya senja menyilaukan mata Silver yang tengah berbaring malas di kamar. Rion mendekat. Bayangan tubuhnya memanjang menutupi Silver. Dia berdiri menjulang di depan pemuda berambut perak itu.“Ada apa?”Rion merogoh yukatanya dan menyerahkan selmbar kertas yang digulung pada Silver.Silver menerima dan membukanya dengan cepat. “Sudah kuduga mereka memang ada di sini!” Dia mengepalkan tinju. “Apa kau menyadari kekuatan gelap dari dua orang yang kita temui di kedai ramen Distrik B?”“Ya, aku juga bertemu lagi dengannya saat membantu shinsengumi memburu pasukan pemberontak di benteng istana kekaisaran.”“Jadi, mereka memang orang-orang kiriman Raja Ragnart? Untuk apa mereka jauh-jauh pergi ke sini?” heran Silver.“Apa kau lupa bagai
“Ke-Keiko?” bibir Rion bergetar saat mengucapkan nama itu dengan sangat lirih.“Jadi kau memang mengenalnya....” Shana berdiri di belakang Rion tanpa ekspresi apa pun.Dia berjalan mendekat ke lemari pendingin yang terbuka itu dan menutupnya lagi. Shana berbalik menghadap Rion dan berjongkok di depannya.“Dia... Menawarkan sesuatu padaku sebelum mati!” Shana menutup mata.Rion membeliak dengan mulut sedikit menganga. “Situasi sialan apa ini? Kenapa aku terjebak dengan jalinan takdir yang kejam begini?” batinnya.Mulut Rion membuka menutup. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan tapi terlalu takut sampai tak bisa bersuara. Shana berdiri dan mengulurkan tangan kirinya yang sehat pada Rion. Pemuda itu menerimanya. Dia berdiri dengan bantuan Shana.Shana mengulang kembali ingatannya. Saat melakukan patroli pembersih
Silver berdiri di halaman depan kamarnya di markas shinsengumi. Dia mendongak memperhatikan bulan purnama yang benderang. Burung-burung malam berterbangan dari satu arah. Dadanya berdegup cepat dengan perasaan tak nyaman luar biasa.“Rion dalam masalah.”Pemuda itu berlari mengikuti nalurinya yang selalu membawa dia kembali pada Rion. Yukata yang dia kenakan terkelepai seiring laju larinya yang cepat. Kaki sampai pahanya tersingkap karena Silver melangkah selebar mungkin untuk memangkas jarak.Silver berdiri di depan gedung bekas klinik gigi yang gelap dan sepi. Kabut menyelimuti tempat itu dan bangunan lain di sekitarnya. Dia mendengar suara-suara debuman dari dalam gedung. Silver mengepalkan tangan di samping tubuh. Dia buka telapanya dan menarik napas dalam.“Tanah, udara, dan air, berikan kekuatanmu padaku.” Embun tersedot ke dalam paru-paru Silver. Matanya memejam d
“Efek obat akan terjadi selama 24 jam pertama. Kita hanya perlu menjaga dan mengawasi agar bisa tahu, dia akan berhasil melewatinya, dikalahkan oleh obat itu, atau mati mengenaskan,” ujar Okita.Hiji dan Saito mengayunkan pedang ke depan mata Silver dan Rion. “Kalian sudah melihat semua ini! Kalian pikir masih bisa bebas?”“Tentu saja tidak!” ujar Rion. “Aku bahkan sudah bersiap akan membunuh Shana. Sayangnya, dia masih mempunyai darah merah (manusia) di tubuhnya.”Klik. Hiji memutar pedangnya pada bagian tajam ke arah leher Rion. “Jadi, kau tahu sesuatu tentang obat ini?”Rion bersikap setenang mungkin. Satu gerakan kecil saja, Hiji mungkin akan menebas lehernya. Pemuda itu bertatapan dengan Hiji.“Matanya... Sama seperti saat pertama kami bertemu. Dia gadis yang sangat dingin dengan wajah datar tanpa ekspresi. Se
Silver ditarik oleh dua orang gadis cantik dalam kimono merah terang. Kerah kimononya dipasang sangat rendah sampai menampakkan belahan dadanya yang penuh. Silver dijepit oleh kedua gadis itu dengan posesif. Dia sangat gemetar.“Ja-ngan,” gumamnya tanpa suara. “Aku sangat takut pada perempuan.” Silver memejamkan mata. Tubuhnya diseret dengan paksa oleh kedua gadis itu sampai masuk ke salah satu rumah bordil.Salah satu gadis meraba dada dan tubuh Silver dengan lembut. Sampai di salah satu bagian, dia merasakan sesuatu yang menonjol. Gadis itu menyeringai penuh kemenangan. Tanpa sepengetahuan Silver, dia cengkeram dan menariknya.Silver memekik karena tangannya diseret oleh gadis kedua agar masuk lebih dalam ke rumah bordil.Gadis pertama menyeringai. Dia buka genggaman tangannya. Sekantung uang yang terasa menonjol di bagian kimono Silver berhasil dia ambil. Dia lempar ke atas
Tanpa Silver duga, para gadis penghibur itu melepas kimononya masing-masing. Di balik kimono itu, mereka memakai pakaian serba hitam yang ketat. Sebagian mengenakan tanktop dengan bagian dada dan lengan yang terbuka, celana ketat hitam, dan sepatu bot selutut. Lengan mereka terdapat rajah ular yang melilit. Di pinggang mereka ada banyak kantung berisi senjata, mulai dari kantung belati, kunai, sampai sumpitan.“Ninja?” desis Silver.Para gadis itu menyeringai. Salah satu gadis yang duduk di pangkuan Silver bahkan mengeluarkan belati yang sudah dilumuri racun katak berbisa.“Jantungmu sangat mahal dan berharga. Dengan memakan jantungmu, kami bisa terus awet muda dan hidup abadi. Haha....”Silver tak bisa bergerak. Dua gadis lain menodongkan pisau ke lehernya di kanan dan kiri. Jakun Silver melonjak menelan ludah dengan susah payah. “Aku benci berurusan dengan perempuan.&r
“Ayaah!” teriak Lilian. “Di mana kauu...?”Di tengah-tengah lautan pertempuan antara klan kultivasi dengan pasukan mayat hidup itu, seorang pria tua dengan jenggot putih panjang tertatih mencari keberadaan putrinya.“Ayah!” teriak Lilian sekali lagi.Tuan Besar Zang mengikuti sumber suara sang putri. Dia berjalan mendekati arah Lilian berada meski di sekitarnya ada banyak sekali hujan anak panah, tebasan pedang, dan hunusan tombak. Dia berusaha mengindari mereka semua sebisa mungkin.“Ayah! Pergi dari sana!” Lilian panik seketika mendapati sang ayah mendekat dengan tubuh yang tak terlihat baik-baik saja.“Pandai sekali dia memainkan peran,” sengih Eknath begitu melihat Tuan Besar Zang muncul di sana meski sudah sangat terlambat.Sejumlah pasukan mayat hidup menyerang siapa saja yang masih menjadi manusia. Mereka semakin brutal. Tuan
Melihat kemunculan Lilian bersama pusaka mata naga membuat seluruh anggota klan kultivasi yang lain tertarik. Mereka tak lagi berpura-pura bergabung dalam pemberontakan untuk melawan klan Wan. Tujuan mereka sebenarnya adalah ingin merebut pusaka mata naga.“Aku... tak bisa bergerak.” Eknath terjatuh ke tanah.“Brengsek! Segel itu memakan energinya,” gumam Karuna yang berdiri di luar segel ciptaan Lilian.Traaang!Lilian mengayunkan lagi dawai kecapinya ke arah Eknath yang terjebak. Pria itu muntah darah akibat cambukan dawai iblis Lilian tepat ke pusat inti energinya.“Jangan sakiti dia!” teriak Karuna marah.Lilian berhenti memainkan kecapinya dan berdiri menatap mereka berdua. Dia ulurkan tangan ke depan dan menyerap seluruh energi yang terjerat di dalam segel. Warna merah segel memudar seiring dengan keluarnya energi gelap di dalam tubuh Eknath.
“Siapa pun tolong aku!”Para mayat hidup yang terdiri dari pasukan Wan berlarian memburu Tuan Muda Wan. Jumlah mereka semakin banyak. Tuan Muda Wan terus berlari tapi tak ada tempat perlindungan untuknya.“Akan aku bayar kalian dengan apa saja kalau bisa menyelamatkanku!” Pria itu sangat ketakutan sampai tak bisa lagi berlari.Napas Tuan Muda Wan terengah- engah. Ketakutannya tiba-tiba berbalik menjadi keberanian saat dia teringat pada sesuatu yang dia miliki. Pria itu merogoh baju dan mengeluarkan sebuah kantung khusus penyimpan pusaka.Para mayat hidup itu seketika terhenti begitu kantung di tangan Tuan Muda Wan terbuka segelnya. Tuan Muda Wan mengeluarkan sesuatu yang bercahaya dengan warna hitam pekat di dalamnya. Masing-masing benda yang keluar dari kantung melayang di permukaan tangannya dan bersatu membentuk sebuah bongkahan bola yang kehilangan satu bagian.“Pusaka
Perempuan itu berlari ketakutan. Dia mencari pertolongan pada siapa saja yang masih hidup di sana. Tapi, rumah mewah itu sangat lengang dan gelap. Di sepanjang dia berlari hanya menemukan mayat para penjaga yang ditempatkan Tuan Muda Wan di sana.Di kejauhan terdengar suara kecapi mengalun rendah dan merdu. Perempuan itu berhenti dan menegang seketika. Dia raba tengkuknya yang meremang.“Suara apa ini?” Matanya melotot lebar dan berputar-putar di lorong antara taman dan rumah utama.Suara kecapi itu semakin keras dan mendekat. Dia menatap ke langit yang mendung dan bulan purnama yang tertutup awan.Traaang!Gema kecapi tiba-tiba meninggi dengan kasar. Perempuan itu panik. Seiring dengan alunan kecapi yang menggila, di sekitarnya para mayat pasukan Wan yang bergelimpangan mulai bergerak-gerak. Mayat-mayat itu seperti boneka marionate yang digerakkan oleh benang tak kasatmata.Perem
Saat pengintai itu akan berbalik pergi, sebuah tombak meluncur di depan kakinya. Dia terduduk dan mundur dengan wajah pucat. Dari belakang, seorang pria menghunuskan pedang dari punggung menembus dada sang mata-mata.“Hah, kau mau memata-matai kami?” seringai pria yang berdiri di depannya sambil mencabut tombak yang sebelumnya dia lemparkan.Mata-mata dari klan Wan itu muntah darah dan mati seketika.Mereka terlambat, rekan sang mata-mata sudah melemparkan mantra ke langit untuk memberi tahu pasukan yang lain keberadaan para pemberontak di sana. Pria bertombak menghunus jantung sang pengirim pesan.Seluruh anggota pasukan pemberontak menyadari mantra yang terbang itu akan datang membawa pasukan klan Wan untuk menyerang markas mereka. Seluruh anggota pasukan pemberontak bersiap untuk menghadapi serangan.Di markas pusat klan Wan, Tuan Muda Wan terlihat gelisah dan ketakutan. Selama tiga malam
Karuna dan Eknath mendatangi permukiman terdekat. Mereka mengikuti sumber cahaya yang terlihat masih menyala di perbatasan kota.“Sepertinya di sini baik-baik saja....”“Ya, tampaknya mereka hanya menyasar markas pengawas klan Wan.”Saat melintas di salah satu gang permukiman warga, mereka mendengar sebuah keluarga tengah berbincang-bincang.“Sesuatu tengah terjadi di markas pengawas utara juga. Mereka semua menyelamatkan diri ke sini. Begitu yang aku dengar.”“Tak hanya di sana. Aku baru kembali dari timur. Aku lihat di sana juga kacau. Aku segera kembali dan urung melakukan perjalanan. Kata orang-orang semua markas klan Wan dikutuk oleh iblis jahat!”“Aku dengar yang melakukan adalah iblis dari Gunung Iblis! Mereka memburu pemilik pusaka mata naga. Siapa lagi kalau bukan klan Wan yang punya?”“Entahlah. Jika kau me
“Aku menerimanya!” teriak Eknath setuju dengan penawaran sosok misterius dalam bayangan gelap itu. “Bebaskan aku sekarang! Aku setuju dengan kesepakatan yang kau berikan!”Sosok yang tersembunyi dalam gelap itu menyeringai.“Hei! Lepaskan aku!”“Berikan padaku sumpah jiwa dengan tombak acala ini sebagai jaminannya!” tuntut sang sosok misterius.“Keparat!” umpat Eknath.Dia tak punya pilihan lain. Eknath pun merapal mantra pelepasan jiwa atau merogoh sukma. Kini, separuh jiwanya berada dalam genggaman sosok misterius itu. Jiwa tombak acala adalah separuh kehidupan Eknath. Dia serahkan jiwa tombak itu sebagai jaminan dan akan kembali padanya jika Eknath sudah menyelesaikan kesepakatannya.Jerat-jerat sihir di tubuh Eknath memudar. Dia bisa bangkit dan memijit pergelangan tangannya yang sebelumnya terikat jerat.“ACALA!
Di sebuah taman pribadi yang mewah dan megah dengan banyak tanaman menghiasai, seorang perempuan dalam gaun sutra tipis berjalan dengan talam di tangan. Dia membawa seperangkat alat untuk jamuan teh.Di gazebo ada seorang remaja yang tengah membersihkan pedangnya. Perempuan pembawa baki teh itu mendekat. Dari arah yang berbeda, seorang pria berlari-lari dengan tergesa.“Tuan Muda... Tuan Muda....”Remaja yang duduk di gazebo itu menengok pada sang pria. “Kenapa panik sekali?”“Hosh... Hosh... Anu... Itu... Di depan ada perwakilan dari klan Wan!”Prang!Baki teh yang dibawa perempuan bergaun sutra terjatuh. Remaja yang duduk di gazebo semakin gusar.“Apa lagi sekarang, Kak?” tanyanya pada sang perempuan.“Ini pertanda buruk, Chyou! Apa kau lupa bagaimana klan Zang dibumihanguskan oleh mereka?”“L
“Ke mana kalian akan membawaku?” tutur Lilian lirih saat tubuhnya diseret oleh lima pria anak buah si perempuan bergaun ungu.Perempuan bergaun ungu itu terhenti. Dia tiba-tiba menyeringai karena mempunyai sebuah ide.“Bawa dia ke kawah iblis!”“Tapi, Nona... tempat itu....”“Ini perintah! Apa yang aku ucapkan juga mewakili perintah Tuan Muda Wan!”Kelima pria yang menyeret tubuh Lilian ragu-ragu.“Ka-kami tidak berani!”“Kalian akan mati di sini jika menolak! Bawa dia ke kawah iblis, sekarang!”Kelima pria itu mulai membawa Lilian menuju ke jalan kawah iblis tak jauh dari hutan bambu hitam. Mata Lilian yang bengkak tak bisa melihat dengan jelas. Tapi, hidungnya bisa mencium aroma daun bambu yang basah dan terbakar.Seluruh tanaman di Gunung Iblis didominasi warna hitam dan kelabu. Semuany