Nada bicara agak sedih terdengar dalam ucapannya.Rhea tertegun sejenak, lalu menatap pria itu dan berkata, "Aku berencana untuk naik ke atas selesai beres-beres.""Karena aku sudah turun, kamu bantu aku ganti obat di sini saja. Nanti aku masih ada rapat.""Oke, kamu buka dulu pakaianmu."Rhea menundukkan kepalanya untuk menyiapkan kain kasa dan obat. Begitu dia mendongak, dia melihat setengah badan telanjang Arieson. Tanpa dia sadari, cengkeramannya pada kain kasa menjadi makin erat.Tubuh dengan otot-otot yang terpahat dengan sempurna itu, membuat pria itu terlihat penuh dengan kekuatan liar.Melihat Rhea menatap oto-ototnya dengan agak linglung, Arieson berdeham pelan dan berkata, "Kalau kamu ingin lihat, sepulang ke rumah nanti malam, aku akan melepaskan pakaianku, agar kamu bisa melihat sepuasmu."Mendengar nada bicara main-main dalam ucapan Arieson, wajah Rhea langsung memerah.'Ah! Benar-benar memalukan!''Bisa-bisanya aku melamun melihat otot-ototnya!'Namun, dia tidak ingin me
Rhea mengatupkan bibirnya, berjalan memasuki bangsal, lalu menatap Bagas dan berkata, "Ayah, aku berencana mengirim Ayah ke luar negeri untuk menerima perawatan di sana. Dokter yang bertanggung jawab menangani Ayah sudah setuju. Setelah kondisi tubuh Ayah sedikit baikan dan pengaturan di luar negeri juga sudah beres, aku akan membelikan tiket pesawat untuk Bibi Vani dan Ayah, agar kalian bisa keluar negeri."Begitu dia selesai berbicara, Bagas langsung menolak tanpa berpikir sama sekali. "Aku nggak mau pergi, aku ingin tetap berada di sini."Rhea mengerutkan keningnya dan berkata, "Ayah, peralatan dan pengobatan luar negeri lebih bagus dibandingkan di dalam negeri. Selain itu, penyakit ini mengharuskan Ayah untuk banyak istirahat ...."Bagas langsung menyela putrinya, "Setelah kamu mengirimku dan Vani ke luar negeri, apa rencanamu selanjutnya? Kamu ingin melawan Keluarga Thamnin seorang diri?"Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Nggak, b
Selesai berbicara, dia langsung berbalik dan melangkah pergi dengan cepat.Bagas membuka mulutnya, ingin menghentikan putrinya. Akan tetapi, pada akhirnya tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya sama sekali.Dengan ekspresi sedih, dia menutupi wajahnya. Dalam lubuk hatinya, dia sangat menyesal. Sebenarnya apa yang telah dilakukannya? Apa yang telah dikatakannya?!Jelas-jelas dia sangat menyayangi putrinya, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya malah seperti bilah pisau yang menyayat hati putrinya.Menyaksikan pemandangan itu, Vani menghela napas, lalu berkata dengan suara rendah, "Bagas, jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu ... ini salahku. Aku yang nggak bisa menahan diri dan mengucapkan kata-kata seperti itu, hingga hubungan ayah dan anak kalian menjadi seperti ini ...."Bagas hanya menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia juga tidak tahu harus berkata apa lagi.Setelah keluar dari rumah sakit, Rhea menyeka air matanya. Untuk pertama
"Nggak perlu, aku bisa masak sendiri."Begitu dia berdiri, dia sudah merasakan sepasang tangan menekan bahunya."Jangan bergerak, tunggu saja di sini."Melihat sorot mata tegas pria itu, Rhea mengatupkan bibirnya, mengangguk dengan refleks.Arieson mengusap-usap kepalanya, lalu berkata sambil tersenyum, "Anak baik."Rhea terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu.Pergerakan Arieson sangat cepat. Tak lama kemudian, sudah ada aroma harum makanan dari arah dapur. Rhea tidak bisa menahan diri dan menelan air liurnya. Dia beranjak dari sofa, berjalan menuju ke dapur.Dia belum makan malam, sekarang perutnya sudah keroncongan.Begitu dia berjalan ke arah pintu dapur, Arieson sudah berjalan keluar dengan membawa mi."Kenapa kamu datang kemari?"Pandangan Rhea tertuju pada mi dalam genggaman Arieson. Arieson membuat semangkuk mi telur sayur sederhana, dilengkapi dengan daun bawang di atasnya. Di bawah pencahayaan, mi yang dilengkapi dengan sayuran hijau yang segar dan telur yang digoreng hingg
Vani menghela napas, lalu berkata, "Jangan diungkit lagi. Dia sudah bercerai dengan Jerico, bahkan ...."Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Gerald sudah menyelanya, "Dia sudah bercerai?"Vani tidak memperhatikan gejolak emosi dalam suara putranya. Dia mengerutkan keningnya dan berkata, "Ya, benar. Hal ini cukup rumit. Setelah aku sampai di Negara Modanta, aku akan menceritakannya padamu perlahan-lahan.""Oke."Kedua orang ini mengobrol beberapa patah kata lagi sebelum Vani mengakhiri panggilan telepon.Mengingat tidak lama lagi dia akan pergi ke Negara Modanta dan berkumpul kembali dengan putra kandungnya, sudut bibir Vani terangkat ke atas.Setelah dia dan Bagas pergi ke Negara Modanta, apa yang Rhea lakukan di sini tidak akan memengaruhi mereka lagi. Dia hanya ingin menjalani hari-hari yang tenang bersama Bagas dan Gerald.Adapun mengenai Rhea, dia tidak pernah menganggap wanita itu sebagai keluarganya.Dulu dia bersikap sopan pada Rhea hanya karena mempertimbangkan Bagas.Se
Melihat Tuan Besar Thamnin tidak menyerahkan tugas itu padanya lagi, pengacara tersebut segera bangkit dan berkata, "Tuan Besar, aku masih harus pergi mencari referensi untuk lihat apakah ada cara untuk mengeluarkan Tuan Sizur dengan jaminan. Aku pergi dulu."Tuan Besar Thamnin mengangguk dan berkata, "Pergilah."Setelah pengacara itu pergi, Tuan Besar Thamnin mengalihkan pandangannya ke arah Siska dan berkata, "Kamu juga pergilah, Sizur bisa keluar atau nggak, tergantung pada apakah kamu bisa membujuk Rhea atau nggak."Selesai berbicara, Tuan Besar Thamnin langsung bangkit dan pergi.Melihat pria itu berjalan kian menjauh, Siska tidak bisa menahan diri dan menggertakkan giginya. Amarah dan kebencian memenuhi wajahnya.Sepertinya Tuan Besar Thamnin juga tidak bisa diandalkan lagi, hanya dia yang memedulikan hidup dan mati Sizur.Setelah meninggalkan Kediaman Keluarga Thamnin, dengan api amarah menyelimuti hatinya, Siska menghubungi Jerico, memberi tahu putranya apa yang terjadi malam i
Mendengar ucapan ini, saking kesalnya raut wajah Siska sampai berubah menjadi pucat. Dia mendongak, ingin melayangkan tamparan ke wajah Rhea.Namun, sebelum tangannya bisa menyentuh wajah Rhea, pergelangan tangannya sudah digenggam dengan erat."Lepaskan!"Rhea menyunggingkan seulas senyum dan berkata, "Nyonya Siska, sebaiknya lain kali sebelum kamu memohon pada orang lain, atur dulu sikapmu dengan baik sebelum datang, kalau nggak, hanya akan menjadi bahan tertawaan."Selesai berbicara, dia langsung melepaskan tangan wanita itu.Siska masih sedang meronta, tidak menyangka Rhea akan tiba-tiba melepaskannya. Tubuhnya langsung terhuyung ke belakang, terjatuh ke lantai dengan menyedihkan.Kebetulan, saat ini pintu lift sudah terbuka. Rhea langsung berjalan masuk ke dalam lift tanpa menoleh ke belakang.Siska ingin menghentikan Rhea. Namun, tadi saat dia terjatuh, kakinya keseleo. Sekarang, rasa sakit yang luar biasa menjalar di kakinya. Dia sama sekali tidak bisa bangkit untuk mengejar Rhe
Merasakan sikap wanita itu terhadap dirinya agak acuh tak acuh, Arieson mengerutkan keningnya. Suaranya terdengar lebih rendah dan dalam. "Apa terjadi sesuatu?"Rhea mendongak dengan kebingungan. "Nggak, ada apa?""Aku merasa sepertinya hari ini suasana hatimu kurang baik."Rhea menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak. Kamu duduk dulu, aku bantu kamu ganti obat."Sorot mata yang Arieson tujukan pada Rhea makin dalam. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh lagi."Oke."Saat membantu Arieson ganti obat, Rhea hanya diam saja. Setelah membereskan kain kasa yang kotor, dia mengalihkan pandangannya ke arah pria itu dan berkata, "Kamu kembali saja, aku juga sudah mau bekerja."Arieson menatap wanita di hadapannya itu dengan lekat. Beberapa detik kemudian, dia baru berkata, "Kamu marah karena tadi malam aku nggak pulang?"Rhea tertegun sejenak, lalu berkata, "Nggak, mengapa kamu berpikir seperti itu?""Karena sikapmu padaku sangat acuh tak acuh, seharusnya aku sudah melakukan kesalahan, maka
Yah, sesungguhnya, perasaan wanita itu terhadap dirinya masih tidak terlalu dalam.Namun, mereka masih punya banyak waktu, dia juga cukup sabar. Dia akan menunggu hari di mana Rhea bergantung padanya seperti saat bergantung pada Jerico dulu."Hmm, tapi aku tetap berharap, kalau kelak ada orang yang mencari masalah denganmu lagi, kamu bisa meminta bantuanku, bukannya menanggungnya sendirian."Ekspresi sungguh-sungguh pria di hadapannya, membuat hati Rhea melunak."Oke."Sekembalinya ke kamar tidur, Rhea hendak menghapus riasan wajahnya ketika ponselnya berdering. Itu adalah panggilan telepon dari Weni."Rhea, mantan ibu mertuamu menyebarkan rumor kamu main tangan padanya. Hal ini sudah tersebar luas di kalangan kelas atas Kota Batur."Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah dan berkata, "Nggak perlu dipedulikan, nggak lama lagi dia akan kena batunya sendiri."Weni berkata dengan nada bicara diliputi emosi, "Kamu nggak tahu seberapa nggak enak didengar kata-katanya itu. Aku benar-benar ke
Hingga mereka berdua menyelesaikan penelitian hari ini dan bersiap untuk pulang, sudah lewat jam delapan malam.Mengetahui tempat tinggal Ivory lumayan jauh, saat membereskan peralatan penelitian, Rhea menyarankan untuk mengantar rekannya itu pulang malam ini.Sorot mata Ivory langsung berbinar. "Benarkah? Kak Rhea, terima kasih!""Nggak apa-apa. Nggak aman kalau kamu pulang malam sendirian."Sambil mengobrol, mereka berdua meletakkan peralatan-peralatan penelitian ke tempat semula. Setelah memastikan tidak ada masalah, mereka baru turun bersama.Rhea mengirimkan pesan untuk Arieson. Mengetahui Rhea akan mengantar Ivory pulang, Arieson juga tidak banyak berkomentar.Namun, saat melihat Arieson, Ivory malah agak canggung.Setelah duduk di kursi belakang mobil dan melihat Arieson duduk di kursi pengemudi, dia makin terkejut.Seorang presdir perusahaan berperan sebagai sopir untuk mengantarnya pulang? Dia bahkan tidak berani memimpikan hal seperti ini."Pak Arieson, maaf merepotkan."Arie
Dengan diselimuti perasaan penuh harap, Jeni berjalan memasuki ruangan Arieson. Dia menatap Arieson sambil tersenyum.Pria itu tengah sibuk menangani dokumennya. Cahaya matahari yang terpancar dari jendela, membuat tubuh pria itu seakan-akan bersinar. Wajah tampannya itu makin terlihat memesona."Pak Arieson, aku sudah menyiapkan kontraknya. Menurutmu, sebaiknya kapan kita tanda tangani?"Arieson meletakkan dokumen dalam genggamannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu. Sama sekali tidak ada kehangatan yang terlihat di matanya."Nona Jeni, mungkin kamu sudah salah paham. Hari ini aku bertemu denganmu karena ingin memberitahumu, Perusahaan Teknologi Hongdam sudah menentukan mitra lain. Ke depannya Nona Jeni nggak perlu datang lagi."Senyuman di wajah Jeni membeku seketika. Dia menatap Arieson dengan tatapan tidak percaya."Apa katamu?"Mereka sudah membicarakan kerja sama ini berkali-kali. Hanya satu langkah lagi, kontak sudah akan ditandatangani, tetapi pria itu malah ber
"Kelak aku akan berusaha mengendalikan diriku, tapi kalau sampai lepas kendali, kamu juga nggak bisa menyalahkanku."Rhea tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar ucapan pria itu.'Eh? Apa bedanya dia mengucapkan kalimat ini dengan nggak?'Melihat ekspresi Rhea sudah agak muram, Arieson tahu kalau dia berlama-lama di sini lagi, emosi wanita itu pasti akan meledak. Dia buru-buru berkata, "Nanti aku masih ada rapat. Malam hari selesai bekerja, kirimkan aku pesan, kita pulang bersama."Setelah Arieson pergi, Rhea langsung pergi ke laboratorium.Begitu melihat Rhea, kilatan nakal melintasi mata Ivory. "Kak Rhea, tadi saat aku pergi ke kantor untuk mencarimu, coba kamu tebak apa yang aku lihat?""Apa?"Rhea merasakan firasat buruk. 'Jangan-jangan dia melihat Arieson menciumku?'Benar saja, ucapan Ivory detik berikutnya sudah membuktikan dugaannya benar.Dia benar-benar ingin menghilang ditelan bumi saja.Dia berdeham pelan untuk menyembunyikan kecanggungannya. "Sudah, sudah, ayo kita
Merasakan sikap wanita itu terhadap dirinya agak acuh tak acuh, Arieson mengerutkan keningnya. Suaranya terdengar lebih rendah dan dalam. "Apa terjadi sesuatu?"Rhea mendongak dengan kebingungan. "Nggak, ada apa?""Aku merasa sepertinya hari ini suasana hatimu kurang baik."Rhea menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak. Kamu duduk dulu, aku bantu kamu ganti obat."Sorot mata yang Arieson tujukan pada Rhea makin dalam. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh lagi."Oke."Saat membantu Arieson ganti obat, Rhea hanya diam saja. Setelah membereskan kain kasa yang kotor, dia mengalihkan pandangannya ke arah pria itu dan berkata, "Kamu kembali saja, aku juga sudah mau bekerja."Arieson menatap wanita di hadapannya itu dengan lekat. Beberapa detik kemudian, dia baru berkata, "Kamu marah karena tadi malam aku nggak pulang?"Rhea tertegun sejenak, lalu berkata, "Nggak, mengapa kamu berpikir seperti itu?""Karena sikapmu padaku sangat acuh tak acuh, seharusnya aku sudah melakukan kesalahan, maka
Mendengar ucapan ini, saking kesalnya raut wajah Siska sampai berubah menjadi pucat. Dia mendongak, ingin melayangkan tamparan ke wajah Rhea.Namun, sebelum tangannya bisa menyentuh wajah Rhea, pergelangan tangannya sudah digenggam dengan erat."Lepaskan!"Rhea menyunggingkan seulas senyum dan berkata, "Nyonya Siska, sebaiknya lain kali sebelum kamu memohon pada orang lain, atur dulu sikapmu dengan baik sebelum datang, kalau nggak, hanya akan menjadi bahan tertawaan."Selesai berbicara, dia langsung melepaskan tangan wanita itu.Siska masih sedang meronta, tidak menyangka Rhea akan tiba-tiba melepaskannya. Tubuhnya langsung terhuyung ke belakang, terjatuh ke lantai dengan menyedihkan.Kebetulan, saat ini pintu lift sudah terbuka. Rhea langsung berjalan masuk ke dalam lift tanpa menoleh ke belakang.Siska ingin menghentikan Rhea. Namun, tadi saat dia terjatuh, kakinya keseleo. Sekarang, rasa sakit yang luar biasa menjalar di kakinya. Dia sama sekali tidak bisa bangkit untuk mengejar Rhe
Melihat Tuan Besar Thamnin tidak menyerahkan tugas itu padanya lagi, pengacara tersebut segera bangkit dan berkata, "Tuan Besar, aku masih harus pergi mencari referensi untuk lihat apakah ada cara untuk mengeluarkan Tuan Sizur dengan jaminan. Aku pergi dulu."Tuan Besar Thamnin mengangguk dan berkata, "Pergilah."Setelah pengacara itu pergi, Tuan Besar Thamnin mengalihkan pandangannya ke arah Siska dan berkata, "Kamu juga pergilah, Sizur bisa keluar atau nggak, tergantung pada apakah kamu bisa membujuk Rhea atau nggak."Selesai berbicara, Tuan Besar Thamnin langsung bangkit dan pergi.Melihat pria itu berjalan kian menjauh, Siska tidak bisa menahan diri dan menggertakkan giginya. Amarah dan kebencian memenuhi wajahnya.Sepertinya Tuan Besar Thamnin juga tidak bisa diandalkan lagi, hanya dia yang memedulikan hidup dan mati Sizur.Setelah meninggalkan Kediaman Keluarga Thamnin, dengan api amarah menyelimuti hatinya, Siska menghubungi Jerico, memberi tahu putranya apa yang terjadi malam i
Vani menghela napas, lalu berkata, "Jangan diungkit lagi. Dia sudah bercerai dengan Jerico, bahkan ...."Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Gerald sudah menyelanya, "Dia sudah bercerai?"Vani tidak memperhatikan gejolak emosi dalam suara putranya. Dia mengerutkan keningnya dan berkata, "Ya, benar. Hal ini cukup rumit. Setelah aku sampai di Negara Modanta, aku akan menceritakannya padamu perlahan-lahan.""Oke."Kedua orang ini mengobrol beberapa patah kata lagi sebelum Vani mengakhiri panggilan telepon.Mengingat tidak lama lagi dia akan pergi ke Negara Modanta dan berkumpul kembali dengan putra kandungnya, sudut bibir Vani terangkat ke atas.Setelah dia dan Bagas pergi ke Negara Modanta, apa yang Rhea lakukan di sini tidak akan memengaruhi mereka lagi. Dia hanya ingin menjalani hari-hari yang tenang bersama Bagas dan Gerald.Adapun mengenai Rhea, dia tidak pernah menganggap wanita itu sebagai keluarganya.Dulu dia bersikap sopan pada Rhea hanya karena mempertimbangkan Bagas.Se
"Nggak perlu, aku bisa masak sendiri."Begitu dia berdiri, dia sudah merasakan sepasang tangan menekan bahunya."Jangan bergerak, tunggu saja di sini."Melihat sorot mata tegas pria itu, Rhea mengatupkan bibirnya, mengangguk dengan refleks.Arieson mengusap-usap kepalanya, lalu berkata sambil tersenyum, "Anak baik."Rhea terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu.Pergerakan Arieson sangat cepat. Tak lama kemudian, sudah ada aroma harum makanan dari arah dapur. Rhea tidak bisa menahan diri dan menelan air liurnya. Dia beranjak dari sofa, berjalan menuju ke dapur.Dia belum makan malam, sekarang perutnya sudah keroncongan.Begitu dia berjalan ke arah pintu dapur, Arieson sudah berjalan keluar dengan membawa mi."Kenapa kamu datang kemari?"Pandangan Rhea tertuju pada mi dalam genggaman Arieson. Arieson membuat semangkuk mi telur sayur sederhana, dilengkapi dengan daun bawang di atasnya. Di bawah pencahayaan, mi yang dilengkapi dengan sayuran hijau yang segar dan telur yang digoreng hingg