Kalau sampai hal seperti ini tersebar keluar, bagi yang tidak tahu mungkin akan mengatakan dia sudah mengalami penderitaan di Keluarga Thamnin.Senyuman di wajah Jerico kian melebar, dia berkata pada Arieson dengan penuh penekanan, "Paman mungkin masih belum tahu, hari ini Rhea sudah pindah kembali."Pupil mata Arieson langsung menyipit, dia melemparkan sorot mata sedingin es ke arah Rhea yang sedari tadi tidak berbicara.Dia ingin mempertanyakan apakah wanita itu benar-benar berencana untuk memaafkan Jerico begitu saja. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Dia hanyalah paman suami Rhea. Selain hubungan ini, tidak ada hubungan apa pun lagi di antara mereka. Apa haknya mempertanyakan wanita itu?Walaupun Rhea menundukkan kepalanya, tetapi dia tetap bisa merasakan pandangan Arieson tertuju padanya.Hawa dingin menjalar dari telapak kakinya, tanpa dia sadari tubuhnya sedikit gemetaran.Belasan detik kemudian, Arieson baru tertawa pelan."Oh, begitu, ya? Baguslah kalau begitu."Arieson meng
Rhea tetap berdiri mematung di tempat. Sosok Arieson saat ini sangat berbahaya baginya. Inilah yang membuatnya secara naluriah ingin menjauh."Paman, pencahayaan di sini redup, nggak pantas kita berduaan saja di sini. Aku kembali dulu."Selesai berbicara, dia berbalik untuk pergi. Baru saja melangkah beberapa langkah, dia sudah mendengar suara langkah kaki dari arah belakang.Rhea merasa sedikit panik. Secara naluriah, dia ingin mempercepat langkah kakinya, tetapi dia malah tersandung sendiri.Saat tubuhnya kehilangan keseimbangan, sebuah tangan besar menarik pinggangnya dari belakang. Saat itu pula, Rhea terjatuh dalam pelukan Arieson.Setelah berdiri dengan seimbang, dia buru-buru mendorong Arieson, lalu melangkah mundur dua langkah.Arieson menyipitkan matanya, sorot matanya terlihat makin berbahaya."Habis manis sepah dibuang, kamu sangat ahli dalam memainkan trik ini, ya."Rhea menggigit bibir bawahnya, ekspresinya tampak sedikit malu."Paman, aku sangat berterima kasih kamu sudah
"Siapa di sana?"Hanya dalam sekejap mata saja, Arieson langsung membuka pintu ruang bunga, lalu menggendong Rhea masuk ke dalam dan menutup pintu.Ruang bunga itu gelap gulita. Rhea ditekan oleh Arieson di balik pintu, tubuh keduanya menempel sangat dekat. Pria itu memeluk pinggangnya dengan satu tangan dan menggenggam gagang pintu dengan erat dengan tangan lainnya. Nyaris tidak ada jarak antara mereka berdua.Suara detak jantung stabil Arieson terdengar di telinganya, Rhea pun berkata dengan suara rendah, "Bisakah kamu melepaskan ...."Tiba-tiba saja, Arieson mendekatkan bibirnya di samping telinga Rhea, lalu berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua."Ada orang yang datang. Kalau nggak ingin ketahuan, jangan berbicara."Begitu dia selesai berbicara, terdengar suara langkah kaki di depan pintu ruang bunga.Detik berikutnya, gagang pintu mulai bergerak, jantung Rhea juga berdebar dengan kencang.Setelah mencoba untuk membuka pintu, tetapi pintu tak kunj
Rhea tertegun sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah dan berkata dengan tenang, "Nona Jeni, mungkin aku nggak bisa membantumu. Aku sama sekali nggak dekat dengan Pak Arieson.""Kalian adalah satu keluarga, bagaimana mungkin nggak dekat? Nona Rhea, kamu nggak ingin membantuku, 'kan?"Sorot mata menyelidik terlihat di mata Jeni. Sebelumnya, saat makan malam di Kediaman Keluarga Thamnin, dia merasa sorot mata Arieson terhadap Rhea agak aneh.Setelah pulang ke rumah dan berpikir cukup lama, dia tetap merasa ada yang aneh. Usai menyelidiki Rhea sejenak, dia mendapati sekarang Rhea bekerja di Perusahaan Teknologi Hongdam. Karena itulah, dia berencana datang untuk menguji sikap Rhea terhadap Arieson.Rhea mengalihkan pandangannya ke arah Jeni dan berkata, "Nona Jeni, bukannya aku nggak mau membantumu, tapi aku benar-benar nggak dekat dengan Pak Arieson. Masih ada pekerjaan di laboratorium yang belum kuselesaikan, aku pergi dulu."Selesai berbicara, Rhea langsung bangkit, lalu berbali
Sambil menyalakan mesin mobil, Jerico berkata, "Baguslah kalau kamu menyukainya. Ke depannya, aku menjemputmu pulang kerja setiap hari, ya?""Nggak perlu repot-repot, aku juga sudah membeli sebuah skuter. Lagi pula, kamu juga sangat sibuk bekerja."Melihat ekspresi acuh tak acuh Rhea, Jerico hanya bisa mengikuti keinginan wanita itu.Walaupun sekarang Rhea sudah pindah kembali, tetapi dia selalu merasa sepertinya wanita itu sudah makin menjauh darinya.Dia sangat tidak menyukai sensasi seperti ini, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar hubungan mereka bisa seperti dulu lagi.Suasana di dalam mobil hening. Rhea mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tidak tahu sedang memikirkan apa.Dulu, saat mereka sedang berduaan saja, Rhea selalu memiliki topik pembicaraan yang tiada habisnya, tetapi kini wanita itu bahkan tidak berinisiatif untuk mencari topik pembicaraan lagi.Jerico menghela napas dalam hati. 'Hanya bisa pelan-pelan saja,' pikirnya.Saat mendekati vila, ponsel
Rhea terkekeh pelan, menatap lawan bicaranya dengan sorot mata sedikit acuh tak acuh."Kamu sendiri belum tentu memercayai kata-katamu ini, 'kan? Kalau kamu benar-benar bisa nggak pergi menemuinya lagi, kamu nggak akan membiarkannya mempertahankan anak itu, juga nggak akan membiarkannya tetap berada di Kota Batur. Dengan kemampuanmu, hal-hal seperti ini sangatlah mudah.""Anak dalam kandungannya ... dipertahankan karena terpaksa ...."Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu berkata dengan perlahan, "Kamu nggak perlu memberitahuku kesulitanmu, aku juga nggak ingin bertengkar denganmu karena hal ini lagi. Kalau kamu ingin pergi menemuinya, aku bisa pulang naik taksi."Begitu dia selesai berbicara, mobil Cayenne berwarna hitam itu langsung melaju dengan cepat.Dalam waktu kurang dari setengah jam, mobil sudah berhenti di depan pintu vila.Saat Rhea hendak turun dari mobil, Jerico berkata dengan ekspresi sedingin es, "Rhea, aku harap kamu ingat, kamu yang mendorongku padanya.""Kalau
Rhea tetap memasang ekspresi acuh tak acuh, sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapannya.Kalau bukan karena dia menjadi seorang ibu rumah tangga setelah menikah dengan Jerico, dia juga bisa menjalani kehidupan seperti sekarang ini dengan mengandalkan kemampuannya sendiri."Nyonya Siska, kamu nggak tahu, 'kan? Awalnya aku memang nggak ingin kembali lagi, putramu yang memaksaku untuk kembali. Bagaimana kalau kamu bilang padanya untuk mengusirku?"Ekspresi Siska langsung berubah menjadi merah padam, dia menunjuk Rhea dan berkata dengan marah, "Kamu!"Wanita itu benar-benar payah, tidak ada daya tempur. Rhea bahkan malas untuk berbicara omong kosong dengan wanita gila itu. Dia langsung bangkit dan berkata, "Bibi Ijan, aku sudah lapar, mulai saja makannya."Melihatnya bertingkah begitu arogan, Siska benar-benar kesal setengah mati. Dia langsung menghubungi Jerico untuk mengadu.Siapa sangka, begitu Jerico tahu dia pergi ke vila, putranya langsung memintanya untuk segera pergi dengan nada b
Pupil mata Rhea langsung mengecil. Dia buru-buru berkata, "Kamu berada di bar mana?""Di bar yang dekat dengan Jalan Kenanga itu. Sebelumnya, kita pernah datang kemari bersama. Kamu mau datang ke sini?""Hmm."Setelah memutus panggilan telepon, Rhea buru-buru berganti pakaian dan bersiap untuk keluar.Saat dia menyalakan mesin mobil, dia malah merasa ragu.Kalau dia pergi ke sana sekarang, hanya akan membuat konflik kian memanas. Selain itu, dia juga tidak yakin apakah Arieson menyerang Jerico karena dirinya atau bukan. Karena kalau karena hal lain, dia pergi ke sana hanya akan mempermalukan diri sendiri.Dia tidak merasa setelah perpisahan tidak menyenangkan di kediaman lama hari itu, Arieson masih akan melakukan sesuatu untuk dirinya.Setelah berpikir demikian, Rhea sudah tenang kembali. Dia memutuskan untuk tidak pergi ke sana.Begitu dia kembali ke kamar tidurnya, Weni sudah meneleponnya."Rhea, tadi aku salah tebak. Arieson bukan berencana untuk melakukan pembersihan, melainkan me
Ekspresi Arieson langsung membeku. "Kapan kamu mengetahuinya?"Rhea berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Saat kamu pergi ke restoran pasangan dengannya."Keduanya terdiam. Saking heningnya, mereka bisa mendengar napas satu sama lain.Belasan detik kemudian, melihat pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bicara, Rhea langsung berbalik, membuka pintu mobilnya, berencana untuk masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.Tiba-tiba, Arieson menggenggam pergelangan tangannya."Rhea, salahku karena nggak memberitahumu hal ini. Maaf."Rhea menoleh menatapnya. Di bawah kegelapan malam, dia tidak bisa melihat ekspresi pria itu dengan jelas.Dia langsung menarik tangannya dan berkata, "Kalau kamu ingin balikan dengannya, aku bisa pindah malam ini juga."Arieson mengerutkan keningnya. "Aku nggak berencana untuk balikan dengannya. Aku nggak memberitahumu hal ini karena takut kamu salah paham. Aku tahu jelas orang yang kusukai sekarang adalah kamu."Rhea merasa ucapan Arieson agak konyol, di
Saat ini, Arieson sedang berjalan menghampirinya dengan perlahan sambil tersenyum.Namun, indranya yang tajam bisa merasakan saat ini suasana hati Arieson sangat buruk.Gerald menoleh, mengikuti arah pandang Rhea. Saat tatapannya bertemu dengan tatapan Arieson, secara naluriah dia menyipitkan matanya.Sepertinya pria ini memancarkan aura permusuhan yang sangat besar terhadap dirinya.Arieson langsung duduk di samping Rhea, lalu berkata sambil tersenyum, "Rhea, kamu makan bersama kakakmu, mengapa kamu nggak memberitahuku? Aku bisa datang bersamamu."Gerald juga mengalihkan pandangannya ke arah Rhea, lalu berkata dengan sorot mata kebingungan, "Ini adalah?"Ditatap oleh dua orang pria pada saat bersamaan, Rhea mengerutkan keningnya. Saat dia hendak memperkenalkan mereka pada satu sama lain, Arieson sudah mengalihkan pandangannya ke arah Gerald sambil tersenyum."Halo, Tuan Gerald, aku adalah Arieson, pacar Rhea, juga presdir Perusahaan Teknologi Hongdam."Sorot mata Gerald berkedip, dia
"Lama nggak bertemu."Gerald berjalan menghampiri Rhea, menundukkan kepalanya untuk menatap wanita itu. Dengan seulas senyum menghiasi wajahnya, dia berkata, "Hmm, lama nggak bertemu."Kalau dihitung-hitung, mereka berdua sudah tidak bertemu sekitar lima atau enam tahun, juga sangat jarang menghubungi satu sama lain, jadi Rhea merasa agak canggung."Ayo masuk dulu."Setelah duduk di dalam restoran dan memesan makanan, Rhea baru menatap pria itu dan berkata, "Mengapa kamu tiba-tiba berencana untuk mengembangkan kariermu di dalam negeri. Aku dengar dari Bibi Vani, gajimu di luar negeri cukup tinggi. Kalau kamu bekerja di sana beberapa tahun lagi, seharusnya kamu sudah bisa menetap di luar negeri, bukan?"Melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya kini berada tepat di hadapannya, Gerald hampir melamun.Dia mengalihkan pandangannya dengan tenang, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku nggak terbiasa dengan makanan di luar negeri."Rhea agak terkejut, sangat jelas tidak terlalu percaya.
"Tuan Besar Thamnin, ada urusan apa kamu datang mencariku?"Melihat sikap Rhea yang tidak merendah, juga tidak arogan itu, Tuan Besar Thamnin mengerutkan keningnya, berkata dengan nada bicara arogan, "Sebut saja harganya, selama kamu bersedia melepaskan Sizur."Rhea menatap pria itu dengan ekspresi acuh tak acuh. "Kamu berencana memberi berapa?""Itu tergantung berapa yang ingin kamu minta. Kejadian itu sudah berlalu selama bertahun-tahun. Biarpun kamu benar-benar memasukkan Sizur ke penjara, aku juga punya cara untuk mengeluarkannya. Keras kepala nggak ada untungnya untukmu."Rhea bangkit, lalu berkata dengan nada bicara tanpa gejolak emosi, "Karena kamu sudah berbicara demikian, kita juga nggak perlu membicarakan hal ini lagi."Raut wajah Tuan Besar Thamnin langsung berubah menjadi sedingin es. "Apa maksudmu?""Nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa kita nggak akan bisa mencapai kesepakatan. Aku masih ada kerjaan, pergi dulu."Selesai berbicara, Rhea langsung berbalik dan pergi.M
Arieson menatap wanita itu tanpa ekspresi dan berkata, "Erika, kamu bukanlah tipe orang yang akan memainkan trik-trik seperti ini."Tangan Erika yang terulur terhenti sejenak. Kemudian, dia menarik kembali tangannya, lalu berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Dulu kamu juga nggak akan menolakku.""Sudah kubilang, aku sudah punya pacar."Erika menatap pria itu, berkata dengan penuh penekanan, "Apa kamu mencintainya?"Melihat Arieson terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Erika merasakan sedikit kepercayaan diri."Lihatlah, kalau kamu mencintainya, kamu pasti akan mengakuinya tanpa ragu."Arieson mengerutkan keningnya dan berkata, "Erika, aku nggak mengakuinya hanya karena nggak ingin menyakitimu."Senyuman di wajah Erika langsung membeku. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan suara rendah, "Walau kamu mencintainya, juga nggak masalah. Kamu pasti akan jatuh cinta kembali padaku."Awalnya Arieson ingin mengatakan dia tidak akan jatuh cinta kembali pada wanita itu, ka
Ucapan ini adalah bentuk isyarat yang sudah sangat jelas antara pria dan wanita dewasa.Arieson berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Sudah larut, nggak perlu lagi. Kamu istirahatlah lebih awal."Erika agak kecewa, tetapi dia tetap memaksakan seulas senyum, mengangguk dan berkata, "Oke, kalau begitu, hati-hati di jalan, ya."Saat Arieson kembali ke vila, sudah jam sepuluh lewat malam.Dia baru saja berganti sepatu dan berjalan memasuki ruang tamu, pelayan sudah menghampirinya dan berkata, "Tuan Muda, malam ini Nona Rhea menunggumu pulang makan malam sangat lama. Pada akhirnya, dia langsung naik ke atas tanpa makan malam.""Oke, aku mengerti, kamu istirahat saja dulu.""Baiklah."Arieson menggulung lengan jasnya, lalu pergi ke dapur untuk membuat semangkuk mi dan membawakannya ke lantai atas.Mendengar suara ketukan pintu, Rhea mengira itu adalah pelayan vila. Dia segera bangkit untuk membuka pintu.Begitu melihat sosok bayangan yang tinggi di hadapannya itu, dia tertegun sejenak. Kem
Kalau mereka bukan mengunjungi restoran pasangan, kalau mereka bukan duduk di sisi yang sama di meja makan, kalau Arieson tidak mengambilkan sayuran untuk wanita itu, mungkin ... dia masih bisa membohongi dirinya sendiri bahwa wanita itu adalah mitra Perusahaan Teknologi Hongdam.Dia mematikan layar ponselnya, menundukkan kepalanya, ekspresinya tampak muram.Saat dia melihat foto tersebut, dia sempat terdorong untuk menelepon Arieson, mempertanyakan pria itu. Namun, pada akhirnya dia tetap tenang kembali.Dia juga hanya memanfaatkan Arieson. Biarpun pria itu benar-benar menjalin hubungan tidak jelas dengan wanita lain, apa haknya untuk mempertanyakan pria itu?Lagi pula, bukankah dia juga tidak berencana untuk bersama pria itu selamanya?Ponselnya kembali berbunyi, Weni mengirimkan beberapa pesan untuknya.[Aku sudah meminta orang untuk menyelidiki wanita itu. Nama wanita itu adalah Erika Kilbis, cinta pertama Arieson. Setelah dia mendapatkan beasiswa penuh, dia pergi ke luar negeri un
Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu berkata dengan perlahan, "Nggak apa-apa. Kamu semalaman nggak pulang ke vila, aku hanya ingin menanyakan apa urusanmu sudah selesai ditangani."Orang di ujung telepon hening sejenak sebelum terdengar suara rendah Arieson. "Sudah hampir selesai ditangani, malam ini aku akan pulang."Tanpa Rhea sadari, cengkeramannya pada ponselnya makin erat. "Oke, kalau begitu nanti malam kita makan malam bersama.""Hmm, tunggu aku pulang."Setelah mengakhiri panggilan telepon, Arieson mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang tengah duduk di seberangnya sambil menangis. Dia berkata dengan dingin, "Erika, hubungan kita sudah berakhir, nanti aku akan memesan tiket pesawat untukmu."Pergerakan menyeka air mata Erika terhenti. Dengan berlinang air mata, dia menatap Arieson dan berkata, "Aku nggak mau! Kali ini aku sudah pulang, aku nggak berencana untuk pergi lagi."Arieson mengerutkan keningnya, hawa di sekelilingnya berubah menjadi sedingin es."Terserah k
Arieson mengusap-usap kepalanya, berkata dengan suara rendah, "Nggak bisa membuatmu memercayaiku sepenuhnya, itu artinya aku masih kurang baik."Rhea mendongak, menatap pria itu. Saat dia hendak berbicara, tiba-tiba ponsel Arieson berdering."Kamu sudah mengubah nada deringmu?"Dulu Rhea sudah pernah mendengar nada dering ponsel Arieson, sepertinya berbeda dengan nada dering hari ini.Arieson tidak berbicara, dia mengambil ponselnya dan berjalan ke samping sebelum menjawab panggilan telepon tersebut.Tidak tahu mengapa, hati Rhea diliputi oleh kegelisahan, keningnya juga berkerut.Tak lama kemudian, Arieson sudah mengakhiri panggilan telepon itu, lalu berbalik dan berjalan menghampirinya."Aku ada sedikit urusan, perlu keluar sebentar, kamu tidur saja dulu."Selesai berbicara, dia berbalik, hendak pergi. Secara naluriah, Rhea menarik tangannya."Apa urusan itu sangat penting? Bisakah kamu tetap di sini untuk menemaniku ... aku ...."Rhea juga tidak tahu harus menggunakan alasan seperti