Mayang
Siang ini aku ijin kerja setengah hari karena aku harus pulang ke Solo. Sejak tadi pagi Mama sudah meneror ku dengan puluhan pesan dan telepon. Aku tau kalau keluargaku sangat rindu denganku. Mana ada yang tidak rindu dengan anak gadis satu-satunya.
Sebelumnya aku belum cerita tentang keluargaku. Aku tiga bersaudara. Kakakku yang nomor satu sudah menikah dan tinggal dengan istrinya di Karanganyar dekat dengan tempat kerja kakakku. Aku nomor dua dan yang nomor tiga adikku laki-laki saat ini baru kuliah semester empat di Universitas Malang. Awalnya aku meminta adikku mendaftar di Jogja biar bisa tinggal denganku, tapi dia tidak tertarik lebih tertarik kuliah di Malang.
Mama dan Papa ku yang saat ini hanya tinggal berdua. Dulu keinginan Mama ketika aku lulus kuliah aku bisa kembali dan bekerja di Solo, tapi aku lebih betah tinggal di kota ini. Mama kesehariannya jualan di Pasar Klewer sedangkan Papa seorang sekretaris desa tempat kami tinggal.
Aku mematikan laptop saat panggilan Mama lagi dan lagi mengagetkanku. Aku segera menjawab telepon Mama, dan masih sama yang ditanyakan “Berangkat dari Jogja jam berapa?” Aku bilang kalau selesai sholat Jumat, karena aku harus ijin ke pak Rendra dulu untuk pulang duluan. Walau surat ijinku sudah ditanda tangani Pak Rendra kemarin siang, tapi tidak etis jika aku tidak pamit dengan atasanku. Bagaimana pun beliau atasan yang dihormati bawahannya termasuk aku.
Pukul setengah satu aku melihat Danu dan Pak Rendra memasuki ruang editor. Bearti mereka sudah selesai sholat Jumat. Aku segera berdiri untuk menyambut kedatangan Pak Rendra.
“Widihhhh udah siap aja May.”
“Dari tadi di terror terus sama Mama.” Aku berkata kesal biar Danu tau penderitaanku.
“Masih sebatas terror kapan pulang kan? Belum kapan nikah kan?” Aku membelakkan mata mendengar jawaban Danu.
“Itu juga nanti kalau sampai rumah.” Aku membalas dengan ceringan berharap Pak Rendra tidak mendengar permasalahnku, yaitu dipepet untuk nikah. Ehh buat apa juga aku memedulikan pak Rendra dia kan buka siapa-siapaku.
“Bilang aja sama Tante, kalau Danu calon menantu masih menanti.” Danu menaik-naikkan alis. Padahal jelas-jelas dia sudah punya pacar.
“Kampret ya lo Dan, mana mau Mama punya menantu kayak kamu.” Aku masih membantah omongan Danu.
Tiba-tiba Gadis datang membawa lima cup esque. “Loh May udah mau balik, kirain masih nanti sore. Aku beliin esque ini.” Gadis menyodorkan esque rasa red velvet. Dia sudah hafal dengan menu kesukaanku. “Sampaikan salam buat tante ya May, oleh-olehnya bawain dasternya.”
“Ehh ehh pamrih ya yang beliin esque. Tapi gak papa, nanti aku bilang Mama kalau Gadis mau jadi reseller dan borong daster.”
“Heh ngaco kamu.”
Aku langsung menoleh ke Pak Rendra, “Pak maaf ya bikin gaduh. Saya ijin setengah hari ya Pak mau mudik ke Solo.”
“Hati-hati di jalan ya, kalau sudah sampai kabari.”
Aku kaget mendengar permintaan Pak Rendra. Buat apa aku harus mengabari beliau kalau sudah sampai Solo. Pacar aja bukan. Hanya atasan merangkap tetangga lo.
Aku langsung meninggalkan kantor. Jalanan siang ini tidak begitu ramai karena masih jam kerja. Coba saja kalau aku berangkat nanti selepas jam kerja pasti jalanan macet. Banyak keluarga yang ini weekend nya di luar kota dengan keluarga tercinta. Aku boro-boro punya keluarga tercinta yang ada malah aku yang mau ditinggal nikah. Sungguh ngenes sekali nasibku.
Pukul setengah empat aku sudah sampai di rumah tercinta. Tetapi masih sepi. Jam segini biasanya Mama baru tutup kios pasar, sedangkan Papa masih kerja pulang nanti jam empat. Untung aku masih menyimpan kunci cadangan di mobil jadi aku langsung masuk dan masuk kamar untuk istirahat. Nyetir dari Jogja lumayan capek juga. Biasanya aku kalau mudik lebih sering naik kereta daripada naik mobil. Tapi hari ini aku ingin naik mobil karena aku ingin mengangkut sepeda lipatku yang tidak terawat di sini. Dulu seminggu sekali aku selalu pulang ke Solo dan hari Minggu pagi selalu gowes dengan Rifki, tapi semenjak aku mengetahui perselingkuhannya aku mulai jarang pulang ke Solo. Bahkan juga mulai jarang untuk naik sepeda. Makanya nanti aku ingin membawa sepedaku ke Jogja biar setiap Minggu pagi aku bisa gowes sampai alun-alun.
Tempat pukul empat lebih lima belas menit Mama dan Papa pulang. Mereka selalu pulang di jam yang sama. Aku langsung keluar kamar dan menyambut mereka. Aku langsung mencium tangan mereka dan memeluk mereka satu persatu. Menumpahkan rasa rindu yang selama ini aku pendam.
“Kamu baik-baik saja kan nduk?”
Suara Papa yang pertama kali aku dengar. Aku tau kalau Papa selalu mengkhawatirkanku. Apalagi setelah mengetahui kalau aku putus dengan Rifki dengan permasalahan perselingkuhan. Papa bisa memahami pengkhianatan yang dialami anak gadisnya.
“Alhamdulillah baik Pa, Ma. Yuk sambil duduk. Atau Mama dan Papa mau bersih-bersih dulu.” Aku mengajak mereka untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Ruangan ini yang selalu aku rindukan. Dulu. Kenapa aku selalu berbicara dulu, karena pengalaman dulu itu sangat indah sebelum akhirnya aku memilih untuk pergi. Dulu setiap hari Minggu pagi Rifki selalu mebfajak aku naik sepeda sampai Pasar Klewer. Kemudian sampai siang dia akan nonton TV dan bercerita denganku di ruang keluarga ini. Di sofa yang saat ini aku duduki. Papa dan Mama dari dulu memang sudah menganggap Rifki anaknya sendiri dan percaya bahwa Rifki tidak akan mengkhianataku. Tapi ternyata salah. Kepercayaan yang Mama dan Papa berikan sudah Rifki hancurkan. Semua keluargaku yang dulu berharap kalau Rifki akan menjadi menantu idaman di keluarga ini. Tapi ternyata salah. Setelah semuanya terbongkar hati keluargaku menjadi beku. Bahkan sampai saat ini perasaanku masih beku.
“Mama mau mandi dulu aja, Papa temanin Mayang dulu ya.” Mama meninggalkan kami.
“Kerjaan kamu lancar kan nduk?” Papa itu orangnya tidak bisa diam. Beliau selalu membuat topik pembicaraan agar tidak sepi dalam ruangan.
“Lancar Pa. Papa gak perlu khawatir semua sudah berjalan sesuai dengan jalannya masing-masing.” Aku tidak berani menatap bola mata Papa, karena pasti ada rasa kecewa di sana. Dan aku belum bisa mengobati rasa kecewa tersebut. “Tunggu Mayang menemukan menantu idaman yang lebih sempura dari Rifki ya Pa” batinku.
Selanjutnya tidak ada lagi percakapan antara aku dengan Papa karena Papa lebih menikmati singkong goreng dan teh anget yang aku buatkan.
Jika dalam keadaan seperti ini rasa bersalahku kembali lagi muncul. Walaupun Papa dan Mama tidak pernah menyalahkanku, tapi aku yang merasa bersalah. Bersalah karena sudah menyia-nyiakan calon menantu idaman Papa. Dari dulu Papa memang menginginkan menantu seorang Sekretaris Desa sesuai dengan pekerjaan Papa. Tapi semua sudah sirna karena Rifki selingkuh dengan salah satu stafnya. mulai saat itu Papa tidak membatasi aku untuk mencari siapa pendampingku kelak. Aku juga gak tau apakah aku akan terus dengan kesendirian ini atau akan ada pangeran yang datang mewujudkan semua mimpiku. Saat ini yang aku lakukan adalah ikuti alur yang sudah Allah gariskan untuk setiap umatnya. Sudah tidak ada lagi Rifki dalam ingatanku yang ada masa depan yang menantiku untuk terus berjuang dan semangat dalam mewujudkan mimpi.
Masih di Solo dan masih mengingat semua kenangan yang sampai saat ini masih terikat jelas. Sabtu pagi ini aku ingi gowes sampai Pasar Klewer. Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Kota Surakarta. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini juga merupakan pusat perbelanjaan kain batik yang menjadi rujukan para pedagang dari Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Pasarini juga pusat batik yang menjadi tempat kulakan para pedagang di wilayah Solo dan sekitarnya bahkan di Jawa Tengah. Berdiri sejak tahun 1970,Pasar Klewertetap menarik untuk dikunjungi.Berangkat dari rumah pukul enam dan sampai di Pasar Klewer pukul tujuh, seharusnya tidak selama ini karena aku snegaja mengayuh sangat pelan. Gowes sendiri itu rasanya gabut banget. Tidak ada yang diajak ngobrol. Sampai di Pasar Klewer aku istrirahat sejenak sebelum nanti sarapan. Tak pernah ketinggalan ketika aku pulang ke
Rendra Pagi ini aku keluar rumah mendapati rumah Mayang sudah sepi, bahkan mobilnya pun juga sudah tidak ada. Aku yakin kalau dia berangkat sengaja pagi untuk hari ini. Sebenarnya secara terang-terangan aku belum menunjukkan kalau aku suka dengan dia. Aku masih menyimpannya sendiri. Terlalu cepat jika aku mengatakan. Aku akan mengikuti alur yang Mayang pilih, jalur apa yang akan dia tempuh. Apakah dia akan menyadari kalau aku sayang dengan dia cepat atau lambat? Aku hanya ingin membuktikan itu. Pagi ini aku ingin sarapan tongseng ayam jawa yang deket dengan pasar Bantul, walau jaraknya lumayan jauh dari rumah dan tidak searah denganku ke kantor tapi aku tetap sarapan di sana. Toh saat ini masih pukul tujuh kurang lima belas, masih banyak waktu untuk aku bisa sarapan di sana. Tongseng ini sangat legendaris yang terletak di pojok selatan pasar Bantul. Menu tongseng ayam dan tempe koro nya yang membuat aku ketagihan makan di sini. A
“Ma, Pa, Mayang balik ke Jogja dulu ya.” Aku pamitan dengan kedua orang tuaku, gak tega sebenarnya meninggalkan mereka.“Hati-hati ya Nduk, kalau tidak ada teman gak usah datang ke nikahan Rifki.” Papa mengingatkanku.Aku hanya mengangguk dan segera menyalami mereka. Aku memeluk mereka. Harus kuat dan ga boleh nangis. Aku meninggalkan mereka yang masih menatapku sampai mobil yang aku kendarai menghilang.Suasana dalam mobil sangat sepi. Aku menyalakan musik dari flasdisk. Tak pernah kudugaSemuanya berubahSaat kau memandangkuBergetar hati iniKau berikan harapan tentang oh..Warna warni harikuSemenjak ada dirimuDunia terasa indahnyaSemenjak kau ada disiniKu mampu melupakannyaKini aku tak sabarIngin hati kau untukkuKat
Memandang hotel yang saat ini menjadi tempat resepsi Rifki dan istrinya membuat hatiku pilu. Seharusnya aku yang mengadakan pesta tapi kenyataan berkata lain. Saat ini aku dan Danu masih di antri salaman dengan pengantin. Aku diam sejak berangkat tadi. Danu pun tidak berani menggangguku, biasanya dia akan membully ku habis-habisan jika menyangkut Rifki. Padahal hanya beberapa kali Danu dan Gadis bertemu dengan Rifki. Itu dulu waktu Rifki masih jadi pengangguran dan sering menjemputku di Jogja. Ahh sudah lupakan. Saatnya melupakan dia dan mencari yang serius.Danu menepuk bahuku saat antrian semakin menipis. “Yakin siap? Kalau gak siap kita bisa langsung pulang?”Aku hanya mengangguk. Beberapa among tamu juga masih saudara Rifki yang masih mengingatku. Bahkan ketika mereka menatapku pun seperti ada tatapan kekecewaan. Aku belum bertemu dengan Mbak Sinta, kakak Rifki yang nomor satu. Mbak Sinta lah yang tidak bisa terima saat Rifki memutuskan hubunga
Aku terbangun saat mendengar ketukan pintu berkali-kali. Mataku enggan untuk membuka, badanku rasanya berat, bahkan mataku terasa panas. Aku mengucek-ucek mata sebelum membuka pintu siapa yang berani membangunkan tidurku pagi ini. Jelas-jelas ini masih sangat pagi. Mungkin bisa dibilang habis subuh. Aku kaget ketika melihat jam ternyata sudah pukul setengah delapan. Aku sangat bersyukur ada orang yang mengetuk pintu pagi ini. Tapi ketika aku menginjakkan kaki di lantai badanku terasa mau jatuh. Mataku semakin panas dan mengeluarkan air mata. Aku menempelkan tangan ke dahi, ternyata aku demam. Pantas saja badanku terasa berat. Aku jalan pelan-pelan untuk membuka pintu. Tanpa cuci buka dan mengucir rambutku biar terlihat rapi aku langsung jalan ke depan. Begitu membuka pintu aku kaget ternyata yang datang Pak Rendra. Penampilan Pak Rendra sangat rapi. Ya jelaslah karena ma uke kantor. Pak REndra menatapku dari atas sampai bawah. Dia heran melihat penampilanku pagi ini.
Malam ini ketika aku nontn drama korea yang aku sambungkan ke televisi. Suara ketukan pintu membuat aku penasaran karena malam ini aku tidak ada janji dengan siapa-siapa. Ternyata Pak Rendra yang datang. Tidak heran lagi ketika Pak Rendra sering datang ke sini malam-malam atau saat libur kerja. Dia seperti tidak punya kerjaan.Pak Rendra langsung duduk di sampingku “Nonton apa Yang?”“Suspecious partner, pak.” Pak Rendra mengerutkan kening. Aku tau kalau dia tidak bakal suka dengan drama korea. Malam ini aku mengulang drama tersebut, karena aku belum bosan dengan dramanya dan bingung mau nonton drama apa.“Drama korea, Pak.”“Ohh..” Hanya jawaban ohh yang Pak Rendra keluarkan. Dia langsung membuka toples iki kacang mete. Dia memang sudah tidak sungkan lagi bahkan rumah ini sudah seperti rumah ke dua bagi dia. Dia langsung jalan ke dapur dan mengambil air kemasan yang ada di kulkas.
Minggu pagi ini aku ingin olaraga, sehingga sejak sholat subuh tadi aku tidak tidur lagi. Pukul setengah enam aku mengeluarkan sepeda dan gowes keliling Jogja sekalian mampir beli sarapan. Aku melihat rumah depanku lampunya masih menyala, tandanya Rendra masih tidur. Aku cuek saja. Aku langsung mengayuh sepedaku hingga keluar kompleks. Aku menyesuri jalan Parangtritis. Niatku pagi ini akan gowes sampai alun-alun kidul nanti pulangnya mampir sarapan sop ayam Klaten Pak Min.Aku mengayuh sepeda santai, karena tujuanku juga untuk mengurangi pikiran yang dari kemarin kepikiran Rendra. Sampai Alun-Alun Kidul suasana ramai sekali. Banyak yang jogging. Bahkan ada juga yang hanya sekedar sarapan soto. Memang hari Minggu ini kota Jogja akan terlihat ramai tidak seperti hari biasanya. Aku duduk di bawah pohon untuk istirahat sejenak, minum air mineral tadi tadi aku bawa dari rumah. Udara pagi seperti ini yang aku suka sejak dulu, tapi sekarang sudah bany
“Tante, tadi Mayang bikin bolu kukus. Mungkin mau nyobain. Kalau rasanya gak enak bilang ya tan, baru pertama bikin.”“Eh boleh.” Ibu Rendra tampak antusias mencicipi.“Mbak Mayang salah kalau nawarin tante, tante itu jago bikin kue mbak. Katanya syarat utama jadi mantunya harus bisa bikin kue.”Aku kaget mendengar perkataan Clara.“Eh, duhh nanti kalau kurang pas rasanya gak papa ya tante, baru belajar bikin kue ini.”Tante hanya tersenyum. Senyumannya itu teduh banget. Aku menawari tante dan Clara untuk makan di belakang saja sambil ngobrol yang lebih santai. Saat jalan ke belakang melewati dapur Clara langsung memuji isi perabotan dapur yang lengkap. Bahkan dia juga memuji taman minimalis belakang yang aku dekor sendiri.“Mbak Mayang dapat ide dekor seperti ini dari mana? Bayar berapa mbak?” Clara Sudah mulai penasaran. Sedangkan Ibu Rendra hanya menjadi pendengar setia.
Kehadiran dan kedatangan Rendra kali ini memang membuatku bingung dengan sikapnya. Walau aku sudah tau semua kisahnya selama ini, tapi aku belum yakin dengan perasaanku dengan menerima dia kembali. Seperti halnya aku yang masih ragu dengan perasaanku, apakah hanya sebatas suka atau kasihan dengan kisahnya. Walau waktu di puncak aku sempat menerima cincin darinya, tapi bukan bearti hati ini sudah menetap untuk memilihnya kembali. Aku hanya perlu memikirkan dan membuat keputusan secepat itu, karena aku tidak ingin Rendra menunggu. walau kenyataannya dia yang selama ini membuatku terus menunggu.Aku pernah berada di posisi menunggu, dan itu sungguh tidak adil bagiku. Ketika Rendra memintaku bagaimana caranya aku tidak akan membiarkan dia menunggu, walau kenyataannya hatikulah yang lagi-lagi dibuat sakit. Kali ini bukan sakit karena menunggu, tapi sakit atas keputusanku, apakah sudah benar atau tidak? Apakah Rendra juga menginginkan hal yang sama? Atau dia hanya ingin membalas kebaikanku?
Curahan Hati MayangBagaimana perasaan kalian saat ditinggal dan diberi harapan palsu dengan orang yang dicintai? Pasti sakit hati bukan.Itulah yang ku rasakan hampir satu tahun ini. Orang tersayang bukan hanya Rendra yang menghilang, tetapi Gadis dan Danu juga menghilang.Aku sampai bingung harus menghubungi mereka lewat apa? Karena setiap kali aku kirim pesan baik di whatsapp atau sosial media yang lain pasti tidak pernah dibalas.Aku bingung apa yang membuat mereka seperti ini? Kalau hanya Rendra aku tidak ada mempermasalahkan karena memang dia masih punya istri. Tapi dengan Danu dan Gadis membuatku jadi bertanya-tanya, ada apa dengan mereka?Di saat aku membutuhkan dukungan untuk menjalani hidup yang jauh dari orang-orang tersayang, mereka semua menghilang, tapi aku bersyukur ada Galang yang selalu menemaniku saat itu. Dia menjadi orang pertama dan di garda terdepan saat aku terjadi suatu hal. Dia juga y
Sore ini kami semua langsung berangkat ke Puncak. Liburan yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Semua ini kejutan dari Rendra. Aku gak nyangka kalau dia punya ide seperti ini.Sampai puncak sudah malam hari, kami langsung masuk ke kamar masing-masing. Rendra yang memesan villa ini. Villa ini terdapat empat kamar tidur. Ayah dan Ibu satu kamar, Clara dan Mama, Rendra dan Danu, sedangkan aku dan Gadis.Kami semua tidak ngobrol santai dulu karena sudah terlalu capek. Aku bahkan di perjalanan tadi pun sempat tidur.Pukul sebelas malam aku kebangun karena haus, aku lupa membawa botol minum di kamar. Padahal biasanya aku selalu menyiapkan minum di kamar agar tidak keluar kamar malam-malam.Aku melihat televisi ruang tengah masih nyala, padahal tadi kami semua sudah masuk ke kamar masing-masing. Aku perlahan berjalan mendekati cahaya lampu televisi, ingin memastikan siapa yang menonton televisi malam-malam.“Loh Mas, bukan
Sebelum pulang ke kost, kami melakukan foto studio dulu. Aku padahal tida booking untuk foto studio, ternyata Rendra yang sudah melakukan dan merencanakan semua ini.Foto pertama, fotoku dengan Ayah dan Ibu, ke dua fotoku sendiri, ketiga Ayah, Ibu, dan Rendra. Dan yang terakhir fotoku dengan Rendra. Beberapa kali pose kami lakukan. Aku kikuk jika foto berdua dengan Rendra, karena belum pernah kami melakukannya. Dia juga beberapa kali pose memeluk pinggangku erat. Malu di lihat Ayah dan Ibu.Dirasa sesi foto cukup, kami segera pulang. Tapi aku mengajak untuk makan siang terlebih dahulu, tapi di tolak oleh Rendra. Padahal aku sudah sangat lapar.“Kenapa gak boleh mampir makan sih, aku laper.”“Nanti di kost aja ya.” Katanya lembut.“Aku gak masak tadi Mas.” Kataku dengan nada geli. Masih risih saat menyebut dengan sebutan “Mas”.Rendra langsung senyum senyum dan melaj
Hari ini, hari yang ku tunggu-tunggu. Iya. Aku wisuda pagi ini. Ibu dan Ayah sudah datang dari Solo sejak kemarin siang. Aku menggunakan kebaya modern warna merah maroon senada dengan kebaya ibu. Dan rok batik yang sama dengan Ibu dan Kemeja Ayah. Ibu tampak bahagia melihatku pagi ini.“Duh, ayune anak ibu.” Ibu senyum-senyum melihatku.Aku hanya membalas senyuman ibu.Ketika kemarin siang ibu sampai di sini, ibu dan Ayah langsung membahas lamaran Rendra, awalnya aku tidak terima dnegan Ayah yang begitu saja menerima tanpa menanyaiku terlebih dahulu. Tapi alasan Ayah menerima Rendra membuatku yakin kalau pilihan Ayah tidak pernah salah.Tapi, sampai saat ini aku belum memberikan jawaban ke Rendra. Dia juga rutin mengirimkan pesan untukku karena dia sudah ku usir dari sini beberapa hari yang lalu. dia hanya akan ngrecokin ketika aku mengerjakan revisi tesis bareng Galang. Ada saja alasannya agar dia bisa menganggu k
Harusnya hari ini Rendra dan yang lainnya pulang ke Jogja karena mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama, apalagi penerbitan yang di rintis Rendra baru seumur jagung. Tapi yang pulang hanya Ratu, Gadis, dan Danu. Sedangkan Rendra masih di Bandung katanya ingin menemaniku. Halah padahal dulu dia seperti apa. Aku Sudah mencoba mengusirnya karena kalau dia di sini, nanti hanya akan mengangguku menyelesaikan revisi tesis, padahal aku aku hanya diberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan.“May, kami pulang dulu ya. Hati-hati, ada buaya di sini.” Kata Gadis sambil terkikik.Aku tau yang di maksud buaya adalah Rendra.“Santai, paling bentar lagi juga Gue usir.” Kataku.Setelah mereka pergi, mereka pulang ke Jogja menggunakan mobil Rendra. Rendra sengaja menyuruh mereka membawa mobilnya biar nanti REndra ke Jogja menggunakan mobilku. Aku paham maksudnya. Memang dari dulu Rendra selalu tidak mengijinkanku untuk
Aku tidak menjawab pertanyaan Rendra, buat apa aku menjawab kalau akhirnya dia tidak menjelaskan apapun yang sudah terjadi selama ini. Di juga menghilang. Dia pikir aku perempuan seperti apa yang bisa seenaknya dia singgahi begitu saja.Hingga dia menghentikan mobilnya di daerah braga. Kawasan ini sangat ramai jika malam hari, aku sudah sering ke sini dengan Galang. Bahkan kami sering menghabiskan malam minggu di tempat ini, selain untuk menghilangkan penat karena tesis yang menyita pikiran dan waktu, tempat ini juga nyaman untuk ngobrol.Rendra turun dari mobil, rasanya aku malas turun tapi mau bagaimana lagi aku gak mau jika dikunci dalam mobil. Rendra jalan ke arah Kopi Magma, tempat ini yang biasa aku datangi dengan Galang, selain tempatnya nyaman menunya juga enak dan ramah untuk mahasiswa seperti aku apalagi anak kostan.“Selamat Malam Neng Mayang.” Sapa seorang karyawan yang datang membawa buku menu.“Malam A’, saya pesan se
Malam ini kami makan penyetan yang dipesan Gadis, kami makan di ruang depan. Ruang ini tadi Danu sulap menjadi tempat istirahat Gadis, Danu, dan Ratu sedangkan Rendra malah menyusulku istirahat di kamar dan menyebabkan kejadian yang luar biasa. Dia belum bilang apa-apa, tapi dari yang dia lakukan ke aku itu menandakan kalau dia memang saat ini sudah resmi cerai dari Ratu.Kami makan dalam diam, tidak ada percakapan atau guyonan seperti biasa. Bahkan Danu dan Gadis yang biasanya selalu becanda, kesempatan makan malam ini mereka diam seribu bahasa.Selesai makan, aku selaku tuan rumah membereskan sampah bekas makanan. Aku membuangnya di tempat sampah depan kost biar tidak menumpuk di dapur. Aku sengaja berlama-lama di luar karena aku merasa canggung dan seperti orang asing di antara mereka.Takut mereka pada curiga aku langsung melangkahkan kaki masuk ke kost. Mereka baru fokus dengan ponselnya masing-masing. Aku segera ke dapur untuk cuci tangan.
“Sayang, maafin aku ya.” Berulang kali Rendra mengucapkan kalimat itu, aku memiliki rasa bersalah saat ini karena di luar ada istrinya. Dia malah menyusulku ke kamar. Di mana letak rasa pengertiannya dengan istrinya. Aku mulai melepas tangannya yang ada di perutku. Risih sekali sudah lama kami tidak komunikasi tiba-tiba dia datang-datang langsung meluk. “saya sudah maafin bapak. Bapak tunggu di luar ya. Saya mau ganti baju dulu.” Aku tak menoleh ke arahnya. Rasanya ingin melihat reaksi wajahnya, tapi aku urungkan. “Belum, kamu belum bisa memaafkan ku.” Katanya lagi. Dia memang orang yang keras kepala. “Sudah Pak, semua sudah berakhir. Saya sudah memaafkan bapak sejak dulu. Jadi jangan berfikir kalau saya belum bisa memaafkan bapak.” Kataku. Aku sengaja memanggilnya “bapak” karena itu lebih sopan daripada aku memanggil nama. Tiba-tiba dengan paksa Rendra membalikkan badanku. Dia langsung memegang kedua pip