Share

Bab 26

Penulis: Lara Aksara
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-17 09:55:44

Ternyata malam di Desa Loi Chyaram sangat indah. Karena penerangan yang terbatas dan belum merata. Sebagian rumah masih memakai lampu minyak, sedangkan rumah yang ditinggali katon dan Morgan sudah lebih baik karena menggunakan lampu petromax. Dan di luar yang seluruhnya gelap gulita, jadi menampakkan kunang-kunang di atas ilalang. Seolah ingin menyaingi, di langit terang dengan milyaran bintang. Bahkan Morgan yang sedang kesal pun, tidak bisa mengabaikan kesederhanaan yang terasa indah ini.

“Jadi, tidak bete lagi?” tanya Katon ketika mereka makan malam bersama.

“Hm. Di luar sangat indah, Ton. Tapi di dalam kok mengerikan ya?” bisik Morgan. Katon mengedarkan pandangan ke sekitarnya.

Mereka sedang makan malam bersama penduduk lokal yang merupakan petani Rosalind dan keluarganya. Sebagian lagi adalah Jeremy dan anak buahnya yang kebanyakan bule seperti Morgan. Yang sahabat Katon katakan sebagai mengerikan adalah keberadaan tentara bayaran Rosalind yang ternyata orang-orang Gurkha. Mer
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 27

    Rabu masih dua hari lagi. Mau tidak mau Katon dan Morgan harus menunggu. Katon sepertinya tidak bermasalah dengan aktifitas yang melibatkan air dan kamar mandi. Morgan yang sebal. Pria besar itu mengerang ketika bangun di pagi hari dan tubuhnya memberi alarm untuk buang hajat. “Sial!” umpatnya kesal. Ia bergerak keluar dari kantung tidurnya. Ya, Morgan mengikuti jejak Katon dan memilih bergelung di dalam kantung tidur ketimbang tidur bersisian dengan sesama pria di atas tempat tidur kayu. “Ton. Ton. Aku mau ke kamar mandi,” bisiknya sambil mengguncang tubuh Katon pelan. “Mana ada. Ke sungai sana.” Suara Katon teredam dan terdengar serak. “Ya itu maksudku!” desis Morgan jengkel Katon mendengus tertawa tetapi ia bangun juga untuk menemani sahabatnya. “Kau ini aneh. Kau tidak masalah ketika harus buang air besar di gunung. Apa bedanya, sih?” omel Katon dalam bisikan. “Hei, kunyuk. Di gunung alam liar. Beda! Di sini, sungai dikelilingi lingkungan penduduk! Dengar? Lingkungan pendudu

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-18
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 28

    “Kampret!! Kalau bercukur aku juga ganteng, dasar Myint tidak tahu diuntung!” Morgan mengejar Myint yang sudah melesat duluan dengan ditatap heran oleh Katon. Selepas makan pagi, Katon dan Morgan menyempatkan diri untuk memerika senapan dan teropong mereka. Jeremy hanya muncul sesaat dan meletakkan dua SIG Sauer P226 beserta amunisinya. “Kalau kalian kehilangan senapan,” katanya sebelum meninggalkan Katon dan Morgan lagi. “Wah!” Myint melompat ke arah mereka, mendekati meja dan berusaha meraih senjata api yang ditinggalkan Jeremy. “Woohoo! Pemuda, jaga tanganmu!” Katon memperingatkan Myint. Ia baru saja menepis tangan Myint yang akan meraih pistol. “Kenapa, Pak. Kan tidak ada pelurunya?” tanya Myint heran. Katon yang merenggut SIG Sauer P226 yang nyaris diraih Myint, menatap curiga ke remaja itu. “Dari mana kamu tahu tidak ada pelurunya?” tanya penuh selidik. Myint tertawa. “Pak! Itu kan masih baru. Pelurunya di sana.” Myint menjawab sambil menunjuk kotak peluru yang juga diting

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-18
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 29

    “Seshtun sava?” Seorang pria berbadan tinggi besar yang muncul di belakang pria pertama, bertanya dengan nada dingin. Sepertinya ia heran, temannya mendadak berhenti dan mendongak ke atas. Katon, Morgan dan Myint menahan napas. Katon bisa melihat orang-orang berpakaian lusuh di bawah, kesemuanya membawa senjata laras panjang di punggung mereka. Mereka berjalan menyebar dengan jarak tertentu. Selain dua orang yang berhenti dan mendongak, kawanan yang lain masih berjalan pelan dengan mata waspada. “Badnestha Wad rethu derepali sishkuteh,” jawab si pria yang mendongak ke atas pohon. Ia mencurigai daun-daun yang jatuh ketika tidak ada angin menerpa. “Iwasudusuke,” Myint menegang dan Katon bisa merasakannya. Remaja itu bisa Bahasa Pashto. Katon meremas bahu Myint untuk menenangkannya. Myint menoleh ke arah Katon, matanya memancarkan ketakutan. Wajah Katon meneduh dan memberitahu pemuda ini, semua akan baik-baik saja. “Deguliu manging sola makawe!” teriak pria lain dari belakang dua

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-19
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 30

    “Sanca, Ton.” Morgan yang menjawab. Katon menarik napas lega. Setidaknya Sanca tidak berbisa. Ia membunuh mangsa dengan membelit hingga tewas. “Great! Siapkan diri kalian kalau bertemu kawanan lain, kita harus bergerak cepat bersembunyi di balik belukar. Berdoa saja tidak ketemu sanca.” Kalimat Katon disetujui oleh Morgan dan Myint dengan mengangguk. Untungnya, mereka tidak bertemu lagi dengan kawanan manusia atau hantu model apapun. Di sebuah persimpangan, Myint akhirnya memberitahu. Bahwa sekarang saatnya berpisah dengan aliran sungai dan menaiki bukit. Markas Than Shwe berada di balik bukit yang akan mereka daki. Katon segera mengisi botol air minum milik Morgan. Sedangkan miliknya yang sudah kehilangan tutup, tidak bisa lagi digunakan. Jadi, ia menyimpannya di dalam ransel. “Kita harus berhemat air, Myint. Berapa lama lagi perjalanan hingga tiba di markas Than Shwe?” tanya Katon sebelum mereka beranjak mendaki bukit. “Lewat tengah malam, Pak. Mau berlari?” tawar Myint. Katon

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-19
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 31

    Pintu rumah target terbuka dan sesosok pria keluar. Katon mengintai dari teleskop pembidik. Ia butuh tahu perkiraan jarak dengan target, maka Katon mulai mengatur rangefinder. Pria yang keluar dari rumah berjalan menuju ke gudang samping. Dari teleskop pembidik, Katon bisa tahu kalau pria itu bukan Than Shwe. Katon membiarkan lolos. Pria itu masuk ke dalam gudang. “Bukan?” tanya Morgan dan Katon menggeleng. Tak berapa lama pria itu keluar kembali dari gudang dan Katon memincingkan mata heran. “Apa yang ....” desisnya dan segera melekatkan matanya ke teleskop pembidik. Pria itu menyeret seorang wanita muda yang tampak kesakitan karena diseret dengan cara ditarik rambutnya dengan semena-mena. Wanita itu terseok dan beberapa kali terjatuh. “Sialan! Morgan, gantikan aku!” desis Katon marah dan ia meninggalkan pos senapan runduk lalu melesat lari menuruni bukit dengan cara menyelinap di antara batu besar dan pohon kurus. Katon tergerak untuk menyelamatkan wanita itu dan membawa pergi d

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 32

    Suasana mendadak ribut dan penuh dengan teriakan kemarahan. Katon bersiaga, meminta wanita itu berdiri di belakangnya sementara ia mengeluarkan SIG Sauer nya lagi. Ia bisa merasakan wanita di belakangnya gemetar. Katon memeriksa amunisi dan siap menembak. “Bangsat! Cari penyusupnya sekarang!” Teriakan dalam Bahasa Burmese itu menggelegar sedemikian dekat dengan pintu gudang membuat wanita itu langsung lemas. Katon memaki, ia tidak bisa berbuat banyak ketika wanita itu lemas di kakinya justru saat pintu gudang membuka. Katon melepas tembakan. Satu pria jatuh kebelakang. “Dia di sini!” Pria kedua meneriaki kawanannya dalam Bahasa Burmese dan saat Katon mengarahkan moncong pistol ke arahnya, pria itu dengan sigap melempar parang tepat sasaran. Pistol Katon meledak tapi tembakannya melenceng. Pistol itu terjatuh saat Katon harus menghindari lemparan parang melukainya. “Mati kau, bedebah!” Pria itu merangsek maju dan menyerang Katon dengan tangan kosong, usai SIG Sauer nya terjatuh

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 33

    “Siapa yang menembak Than Shwe?” tanya Katon di antara sengalnya. Wajahnya menampakkan keterkejutan luar biasa. “Siapa lagi? Myint lah!” sentak Morgan marah. “Hah?!” Katon melongo. “Ayo, Morg!” Katon perlu bergerak cepat, mengantisipasi suara tembakan pistol Morgan didengar gerombolan yang lain. Meskipun jumlah mayat yang bergelimpangan sekarang sudah sesuai dengan hasil pindaian Katon semalam, tetap saja ia harus waspada. Katon memburu ke wanita yang terduduk lemah di tanah. Mengabaikan bahunya yang teriris, ia langsung menaikkan wanita itu ke punggungnya. Dengan dibantu Morgan yang menyadari kondisi Katon, tapi membiarkan pria itu berbuat semaunya. Ia hanya membantu mendorong dari belakang, kedua pria perkasa itu lari menaiki bukit ke tempat Myint berada. “Myint! Kamu oke?” Katon menurunkan sang wanita yang masih lemas dan sekarang memburu ke arah Myint yang terpaku menatap lapangan di kaki bukit. “Aku melakukannya? Aku melakukannya, Pak Katon,” katanya lirih. Katon bermaksu

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-23
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 34

    “Ini prosedur dasar masuk hutan. Masak Pak Katon tidak tahu? Duh, lebih pintar Ibu Rosalind ternyata,” omel remaja tanggung dan mulai mengeluarkan perban dan salep luka serta antiseptik. “Buka kausnya. Harus saya ajari juga?” Myint menatap Katon. Pria itu berdecak sebal dan menarik leher kaus untuk meloloskan dari kepala. “Kau benar, Morg. Sebaiknya kita hajar pemuda ini setelah tiba kembali di desa. Ah! Ssshh!” Katon yang mengomel mendadak terkesiap dan mendesis ketika Myint menyemprot lukanya dengan antiseptic dan mengoles salep tanpa kehati-hatian maupun kelembutan. “Saya mau tahu respon Ibu Rosalind kalau tahu Bapak-Bapak mau hajar saya,” kilahnya sambil mulai membalut luka Katon dengan perban. Wajahnya serius menatap luka Katon membuat pria itu tertawa kecil lalu menoleh kembali ke Tikaka. Wanita itu tampak canggung karena melihat Katon tanpa mengenakan atasan. Satu kali menilai Katon sudah tahu Tikaka masih gadis polos. Ia tersenyum menenangkan Tikaka yang malah membuat wanit

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-24

Bab terbaru

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 244

    Acara pertunangan malam itu berlangsung meriah, penuh kehangatan dan kemewahan. Alunan musik jazz yang dimainkan secara live mengiringi setiap percakapan dan tawa yang bergaung di sepanjang taman villa. Di tengah-tengah taman, Rosalind dan Morgan berdiri sebagai pusat perhatian. Mereka berdua tampak bahagia. Bersama menyambut tamu-tamu yang datang dari berbagai belahan dunia. Saling memperkenalkan anggota keluarga, dan sesekali berbagi canda bersama para tamu yang mendekati mereka. Sebuah panggung kecil dengan latar belakang laut dan langit yang berhiaskan bintang menambah kesan romantis malam itu. Di atas panggung, band jazz memainkan lagu-lagu klasik yang mengiringi tamu-tamu saat mereka berdansa di lantai dansa yang dibentuk dari marmer putih berkilau. Para pelayan dengan seragam hitam-putih elegan bergerak luwes membawa nampan-nampan berisi minuman anggur terbaik, koktail tropis, dan mocktail segar untuk dinikmati oleh tamu. Hidangan yang disajikan sangat bervariasi, mulai d

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 243

    Suasana berbeda tampak di sebuah villa megah di Riviera Maya yang berdiri anggun di atas tebing, langsung menghadap Laut Karibia. Dikelilingi oleh pohon-pohon palem tinggi dan taman tropis yang rimbun, villa bergaya arsitektur kolonial modern dengan dinding putih bertekstur, pilar-pilar marmer, dan balkon-balkon melengkung yang langsung menghadap pemandangan laut tak terbatas. Tambahan tampak mencolok dengan lampu-lampu pesta, untaian bunga dan hiasan khas sebuah pertunangan mewah, dilengkapi dengan karpet merah yang menyambut setiap tamu yang hadir. Katon, yang belakangan ini sibuk dengan tanggung jawabnya di New York, tidak ikut mengurus pesta pertunangan adik dan sahabatnya dan hanya hadir bersama Ratih sebagai tamu undangan. Ia baru saja turun dari limousine, mengancingkan jas sambil mengedarkan pandangan ke atas, tempat villa menjulang dengan indah, sesaat kemudian, ia ulurkan tangan ke arah limousine yang terbuka dan membimbing sang istri keluar dari sana. Bersama, dalam ke

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 242

    Ratih menelengkan kepala, balas menatap suaminya, “Tujuan orang menikah memang biasanya untuk memiliki keturunan, Mas. Kecuali dari awal sudah bersepakat untuk child free.” Wanita itu diam sejenak untuk mengenali ekspresi suaminya. Saat Katon juga diam, Ratih melanjutkan kalimatnya. “Aku, tidak mau hamil selama ini karena enggan kuliah dengan perut besar. Aktifitas kampus tidak cocok untukku yang berbadan dua walau untuk sebagian orang lain mungkin tidak masalah. Sekarang, saat tidak ada lagi tuntutan kuliah, aku siap saja jika harus hamil. Mas Katon tidak ingin memiliki anak?” “Bagaimana kalau anak kita membawa genku, Ratih?” tanya Katon galau. Ratih menatap wajah suaminya yang tampan, jarang sekali wajah ini terlihat kalut. Tetapi sekarang Ratih melihat, Katon juga bisa rapuh. Ia merengkuh wajah suaminya, memberikan senyum paling tulus untuk menguatkan. “Maka anak kita akan seperti papanya. Kuat, ganteng, dan mampu menghadapi apapun.” Katon mendesah sebal, memutar matanya ke at

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 241

    Columbia University of New York sedang menunjukkan kesibukan luar biasa. Saat ini mereka sedang dalam masa Commencement week. Yaitu, minggu-minggu menjelang wisuda dilangsungkan. Upacara wisuda di Columbia University berlangsung dengan berbagai acara selama Commencement Week. Dimulai dengan setiap sekolah di bawah Columbia university menyelenggarakan upacara Class Day masing-masing, di mana nama setiap lulusan dipanggil, memberi kesempatan untuk momen yang lebih personal. Beberapa acara lain juga diselenggarakan, seperti Baccalaureate Service—upacara lintas agama yang melibatkan musik, doa, dan refleksi multikultural untuk merayakan pencapaian lulusan sarjana dari Columbia College dan Barnard College, serta sekolah-sekolah lainnya di bidang teknik dan sains. Tradisi unik lainnya adalah penyanyian lagu Alma Mater Columbia oleh seluruh komunitas, sebagai simbol kebersamaan dan perpisahan. Columbia juga memberikan University Medals for Excellence kepada individu yang berprestasi dan m

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 240

    Sebagai bisnis fashion yang menyasar level menengah ke bawah, Starlight Threads berlokasi strategis di Harlem, 214 West 125th Street, Suite 2A. Ke sanalah Katon membawa istrinya. Pagi Sabtu yang cerah menyelimuti Harlem. Matahari menyorot dari celah-celah gedung perkantoran yang sederhana tetapi berkarakter di kawasan ini. Katon membimbingnya dengan tangan yang mantap menuju bangunan tiga lantai di ujung jalan, sebuah gedung dengan dinding bata merah yang terlihat kokoh namun tidak berlebihan. Di balik kaca jendela yang lebar di lantai dua, papan nama kecil berwarna emas dengan tulisan elegan “Starlight Threads” menggantung, menandakan kegunaan bangunan ini. Ratih memperhatikan detail itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Meskipun sederhana, bangunan itu memiliki daya tarik tersendiri. Tangga menuju lantai atas diselimuti perabot industrial yang chic, dekorasi modern berpadu dengan sisa-sisa gaya klasik yang membuat tempat itu berkesan unik. Studio ini bukan hanya sekadar toko

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 239

    Katon sangat terkejut dan spontan melepaskan pelukan wanita tersebut. Katon menangkap kedua bahu wanita berbaju merah dan mendorongnya menjauh. Ia tidak memiliki keinginan melihat, siapa gerangan wanita itu. Ia lebih khawatir kepada istrinya, Katon menoleh ke arah Ratih dan mendapati wajah istrinya berubah menjadi penuh amarah dan kekecewaan. “Katon, apa kabar?” tanya Alice manis, ia tak mengindahkan Katon yang berusaha lepas dari pelukannya, mendorongnya menjauh. Bagi Alice, bertemu Katon adalah keberuntungan luar biasa. Pria ini pernah dekat dengannya, menolongnya, memberikan uang perlindungan yang tidak sedikit dan berkat Katon pula, ia selamat bahkan sekarang menjadi bagian dari wanita sukses di Manhattan. Alice Wellington. Dari bukan siapa-siapa menjadi bintang berkat Katon. Uang pemberian Katon ia manfaatkan untuk kuliah dan membuka usaha. Kini, Alice Wellington adalah pemilik Starlight Threads sebuah startup fashion yang memadukan gaya modern dengan sentuhan klasik, mengkh

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 238

    Ratih dan Katon telah kembali ke New York. Segera, mereka disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Katon segera memimpin Growth Earth Company yang berada di Park Avenue. Pertikaiannya dengan Satria entah bagaimana menjadi perang dingin. Mungkin campur tangan Arini yang membuat Satria tidak datang menghukum langsung putera sulungnya. Yang Katon tahu, beberapa bulan ini papanya sibuk dengan kantor Growth Earth Company yang ada di Canada. Membuat Rosalind sibuk dengan Growth Earth Company yang berpusat di Jakarta. Hampir keteteran dengan bisnis skincare-nya sendiri. “Gak pengen pulang, Mas? Pegang GEC Jakarta dan kendalikan New York dari sini.” Rosalind saat menghubungi Katon melalui panggilan telepon sekedar bertukar kabar. “Tidak, terima kasih. Ratih sedang menyelesaikan tugas akhir. Dia harus fokus di sini. Masa kutinggal. Enak saja!” Rosalind menghela napas. “Kenapa , sih? Glowing Beauty-mu kan sudah jalan?” Katon memastikan kepada adiknya. Glowing Beauty ada di bawah Growth E

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 237

    Pagi pertama mereka di Maldives dimulai dengan keajaiban pemandangan matahari terbit dari bungalow di atas air yang langsung menghadap laut. Katon, yang sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan di teras pribadi mereka. Hidangan lokal seperti mas huni, campuran tuna segar dengan kelapa yang wangi, tersaji di meja bersama kopi hangat yang mengepul. Angin laut meniup lembut, menyelimuti mereka dalam suasana pagi yang sejuk dan menyegarkan. Ratih tersenyum sambil menatap jauh ke horizon, di mana matahari mulai naik perlahan, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan. Ia telah duduk di teras, emnikmati layanan Katon, sebagai ganti layanannya semalam. "Mas," katanya sambil mengambil seteguk kopi, "aku pengen seperti ini bisa kita bagi bersama semua keluarga, suatu hari nanti." Katon menoleh, menatapnya dengan mata bertanya. "Maksudmu, liburan besar bersama mereka di tempat seperti ini?" Ratih mengangguk. "Ya, bukankah indah rasanya kalau semua orang bisa berkumpul di sini? Mam

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 236

    Di dalam kamar tidur mereka, di bungalow mewah yang mengapung di atas perairan Maldives, Katon dan Ratih tengah menikmati malam pertama bulan madu yang tertunda. Malam itu, kamar tidur mereka terisi oleh suasana yang sempurna. Dinding kaca besar di depan tempat tidur menampakkan hamparan laut lepas berwarna biru pekat, dihiasi kilauan bintang dan rembulan yang menggantung anggun di langit. Suara ombak yang lembut menjadi irama pengantar yang menenangkan, membawa mereka ke dalam dunia penuh keintiman dan keheningan yang hanya mereka berdua miliki. Di lantai kamar, lilin-lilin aromaterapi tersebar. Masing-masing memiliki pendar kecil yang hangat, mengisi ruangan dengan aroma melati dan kayu manis lembut. Cahaya lilin yang berpendar-pendar membuat bayangan hangat di sekitarnya, mempertegas lantai kayu di sekitar lilin dengan kilaunya. Semilir angin laut masuk melalui celah balkon, membelai lembut rambut Ratih yang tergerai di pundak hingga punggung. Wanita itu sedang berada di atas

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status