Katon segera berbalik arah, kembali menuju motor yang ia parkir sembarangan di tepi jalan. Tujuannya jelas. Ia akan kembali ke Pasar Medina untuk menyelamatkan Stuart dan Morgan. “Ton, mau kemana?” teriak Lorna dan Katon mengabaikan pertanyaan wanita cantik itu. Sampai kemudian bahunya diremas dan Katon dengan reflek menepis tangan yang meremas bahunya. Tangan itu membalas dan menghajar Katon dengan sikunya. Katon menangkis dengan telapak tangan lalu ia putar untuk menangkap lengan yang menyerangnya dan memutar lengan itu ke arah berlawan. “Akh! Sakit, bangsat!” teriak Cia. Katon melepas pitingannya. Cia cemberut dan mengelus lengan sampai sikunya. “Jangan halangi aku,” desis Katon dan akan pergi lagi. “Stuart yang minta aku untuk membawamu pergi! Katanya kamu sudah puas bersenang-senang di Amazon sana, sekarang giliran dia dan Morgan!” seru Cia. Katon membeku. Ia sudah membalikkan badan dan Cia meneriakinya dari belakang. Katon melihat ke sekitarnya. Meski Cia berbicara lantang m
Katon menatap perkamen usang yang dipegang oleh Stuart. Di atas perkamen tersebut, tinta kuno pada permukaannya terlihat pudar, tetapi gambar yang terukir jelas terbentuk. Perkamen itu menggambarkan peta makam yang tersembunyi di dalam sebuah piramida yang telah lama terlupakan. Stuart menatap Katon dengan mata berbinar. “Ini adalah kesempatan kita,” bisiknya. “Piramida ini belum pernah dieksplorasi. Kita bisa menjadi orang pertama yang menemukan rahasia di dalamnya.” Katon diam saja, hatinya terbelah. Perkamen itu menjadi kunci menuju petualangan yang tak pernah terpikirkan oleh Katon dan mungkin satu-satunya yang akan ia alami seumur hidup. Mereka berdua tahu bahwa di balik peta ini tersembunyi misteri kuno yang bisa mengubah nasib siapapun yang memasukinya untuk pertama kali. Mereka bisa menorehkan nama dalam sejarah sebagai kelompok pertama yang memasuki makam. Asalkan tidak tergoda menjarah harta di dalam makam. “Apa tujuanmu masuk ke dalam makam ini, Stu?” tanyanya penuh rasa
“Mau atau enggak?!” “Ya maulah! Gila kalo menolak, kita bisa menghemat biaya perjalanan. Eh? Grand-mère Evita yang bayar tagihannya, ‘kan?” tanya Stuart khawatir. Katon tidak menjawab dan sibuk mengetik dalam ponselnya untuk mengirimkan pesan ke Ratih. Empat puluh lima menit kemudian Lorna dan Cia sudah kembali ke ruang kemudi dan lima belas menit berikutnya, ponsel Katon bergetar. “Mister Tenan, ini Ebo El Sharawiy. Kami dengar Anda bersama rombongan berada di Laut Mediterrania?” tanya sebuah suara berat dengan aksen Arab. “Benar Tuan Sharawiy. Saya yakin kami sedang menunggu giliran untuk masuk ke Terusan Suez?” “Saya pikir juga begitu. Satu jam dari sekarang, sebuah kapal tanker dari Eropa akan melewati kapal Anda. Ikutilah. Kapal Anda akan dikenali sebagai penjaga kapal tanker tersebut dan mengiringinya melalui Terusan Suez. Sebentar lagi kolega saya, Akil Ahmose akan mendatangi kapal Anda dan memberikan bendera untuk Anda pasang di atas kapal.” Sesuai dengan waktu yang diba
“Brengsek!” Katon memaki tanpa sadar. “Kucrut! Baron sialan ini menyeret kita ke dalam apa?!” Morgan melotot ke arah Stuart. “Kau, tolol! Temenmu mati kena kutukan perkamen sialan ini? Dan kau sekarang menyeret kami ke dalam pusaran kutukan itu? Kalau sampe Lorna kenapa-kenapa, kukuliti kau hidup-hidup, Stu!” Cia ikutan marah dan ngomel ke arah Stuart. “Beneran dia mati kena kutukan? Waah seru! Ceritain gimana matinya?” tanya Lorna ceria dan penasaran ke arah Stuart. “Mengolok Morgan kebanyakan nonton film, kalian sama saja. Masih percaya dengan kutukan mumi ribuan tahun lalu. Itu tahayul, tolol! Umur aja tua, kelakuan kayak bocah!” omel Stuart dan bersandar santai di sandaran kursinya. “Jadi dia mati kenapa, dong? Terpeleset di kamar mandi, kena stroke dan modar?” tanya Lorna. “Kan sudah aku bilang dibunuh gara-gara peta ini. Tolong, kupingnya dikorek sampe bersih, Nona!” seru Stuart sambil menggoyangkan jari di depan daun telinganya. “Laiya, dibunuh. Sama orang apa sama kutuk
Stuart dan sahabat-sahabatnya, melihat dua piramida kuno yang terbengkalai dan tak terawat di depan mereka. Satu sisi bagian piramida pertama yang bisa mereka lihat, tidaklah sempurna. Di beberapa dindingnya tergerus dan meninggalkan bekas seperti lubang. Sementara sisi yang lain, masih terkubur pasir gurun yang juga menutupi hampir seluruh piramida kedua. Sebuah persegi panjang agak menjorok ke dalam membentuk pintu yang terbenam, terlihat dari luar. Meski tidak jelas, pintu ini terletak di tingkat berapa dari piramida mengingat sebagian besar bangunan terbenam dalam pasir. Mereka berdiri di depan pintu masuk piramida yang tertutup rapat oleh bebatuan kuno yang terasa dingin dan berdebu. Di sekitar mereka, angin gurun Mesir berbisik pelan menyusup melalui celah-celah batu, menciptakan suasana misterius yang menggugah rasa penasaran dan ketegangan di antara para petualang itu. “Kalau di film-film, banyak jebakan ketika kita masuk ke dalam makam yang belum pernah dibuka ini. Kamu ya
Katon kehilangan keseimbangan seiring lantai yang ia injak luruh. Tidak adanya kepastian akan selamat membuatnya berteriak keras melawan rasa ngeri yang mencengkeram perutnya. Ia bersama keempat sahabatnya masuk ke dalam lubang kosong dan menanti saat menghempas sesuatu yang menghancurkan tubuh mereka. Katon mendarat di sesuatu yang kasar, keras tetapi tidak menyakitkan. Reflek ia menangkap sesuatu yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh lebih jauh. Akar tanaman yang sangat besar tetapi kering. Katon keheranan dan dengan cepat melihat ke sekitarnya. Akar-akar kering itu terjalin satu sama lain. Membentuk sebuah jaring raksasa. Tentu saja bentuknya tidak sempurna dengan lubang besar di sana sini akibat ketiadaan jalinan akar di sana. Lantai yang luruh bersama mereka, terus melewati “jaring” akar-akar tersebut. Sementara para manusianya “tersaring” dan sekarang bergelimpangan di atas “jaring” akar-akar dan berpegangan demi keselamatan diri sendiri. “Kampret! Apa ini?” seru Morgan.
Bunyi ledakan dan rekahan berurutan menghasilkan batu-batu ceper bermunculan sepanjang dinding. Antara satu dengan yang lain semakin meninggi dan bam ledakan terakhir mengeluarkan batu terakhir hanya selangkah dari tepian lantai. Sebuah tangga baru muncul sepanjang dinding. Kuat, kokoh, terdiri atas batu ceper berwarna hitam legam. “I know it! Hah!” Stuart mengacungkan tinjunya ke udara dan wajahnya luar biasa bahagia. Lorna dan Cia yang semula panik sekarang melongo sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Katon dan Morgan yang melongo menatap tangga baru itu. “Sialan!” maki Katon pelan dan mengacungkan tinju ke arah kepala Morgan yang buru-buru menghindar. “Aku mana tahu, woi! Kan kamu sama Stuart yang expert masalah piramida!” kelitnya. “Kalau gak tahu kenapa sok tahu!” Katon memarahinya. “Lah kamu, ngapain percaya?!” ejek Morgan kembali. Dan Katon hanya bisa diam. Morgan benar juga. Tadi dia sedang memikirkan akhir hidupnya dan tidak bisa memikirkan ha
Cia terjatuh dalam tangis yang dalam hingga tidak sanggup berdiri dan merangkak di lantai meratapi kekasihnya. Katon, Stuart dan Morgan termangu menatap ngeri ke sahabat wanita mereka yang menempel di atap dan tertahan tonggak. Tangisan Cia yang meraung-raung tak sanggup menggerakkan mereka. “Tolongin, woi! Malah diem aja! Cia, jangan nangis! Aku masih hidup!” jerit Lorna tetapi teredam atap. Cia tersedak tangis dan berhenti mendadak. Kepalanya mendongak sedangkan tubuhnya masih mode merangkak. Matanya yang merah dan basah menatap ke arah tubuh Lorna yang sekarang bergerak-gerak berusaha membebaskan diri. Cia tergeragap untuk bangun dan ditahan Stuart. “Awas! Hati-hati! Bisa saja muncul tonggak baru!” seru Stuart panik. Tangannya menyambar bahu Cia yang akan melesat lari untuk menolong Lorna. Cia menggeram marah dan menggerakkan bahu sekaligus mendaratkan siku ke ulu hati Stuart. “Ugh!” Stuart melenguh kesakitan dan pegangannya terlepas. Cia melesat tanpa takut mendekati Lorna. “
Acara pertunangan malam itu berlangsung meriah, penuh kehangatan dan kemewahan. Alunan musik jazz yang dimainkan secara live mengiringi setiap percakapan dan tawa yang bergaung di sepanjang taman villa. Di tengah-tengah taman, Rosalind dan Morgan berdiri sebagai pusat perhatian. Mereka berdua tampak bahagia. Bersama menyambut tamu-tamu yang datang dari berbagai belahan dunia. Saling memperkenalkan anggota keluarga, dan sesekali berbagi canda bersama para tamu yang mendekati mereka. Sebuah panggung kecil dengan latar belakang laut dan langit yang berhiaskan bintang menambah kesan romantis malam itu. Di atas panggung, band jazz memainkan lagu-lagu klasik yang mengiringi tamu-tamu saat mereka berdansa di lantai dansa yang dibentuk dari marmer putih berkilau. Para pelayan dengan seragam hitam-putih elegan bergerak luwes membawa nampan-nampan berisi minuman anggur terbaik, koktail tropis, dan mocktail segar untuk dinikmati oleh tamu. Hidangan yang disajikan sangat bervariasi, mulai d
Suasana berbeda tampak di sebuah villa megah di Riviera Maya yang berdiri anggun di atas tebing, langsung menghadap Laut Karibia. Dikelilingi oleh pohon-pohon palem tinggi dan taman tropis yang rimbun, villa bergaya arsitektur kolonial modern dengan dinding putih bertekstur, pilar-pilar marmer, dan balkon-balkon melengkung yang langsung menghadap pemandangan laut tak terbatas. Tambahan tampak mencolok dengan lampu-lampu pesta, untaian bunga dan hiasan khas sebuah pertunangan mewah, dilengkapi dengan karpet merah yang menyambut setiap tamu yang hadir. Katon, yang belakangan ini sibuk dengan tanggung jawabnya di New York, tidak ikut mengurus pesta pertunangan adik dan sahabatnya dan hanya hadir bersama Ratih sebagai tamu undangan. Ia baru saja turun dari limousine, mengancingkan jas sambil mengedarkan pandangan ke atas, tempat villa menjulang dengan indah, sesaat kemudian, ia ulurkan tangan ke arah limousine yang terbuka dan membimbing sang istri keluar dari sana. Bersama, dalam ke
Ratih menelengkan kepala, balas menatap suaminya, “Tujuan orang menikah memang biasanya untuk memiliki keturunan, Mas. Kecuali dari awal sudah bersepakat untuk child free.” Wanita itu diam sejenak untuk mengenali ekspresi suaminya. Saat Katon juga diam, Ratih melanjutkan kalimatnya. “Aku, tidak mau hamil selama ini karena enggan kuliah dengan perut besar. Aktifitas kampus tidak cocok untukku yang berbadan dua walau untuk sebagian orang lain mungkin tidak masalah. Sekarang, saat tidak ada lagi tuntutan kuliah, aku siap saja jika harus hamil. Mas Katon tidak ingin memiliki anak?” “Bagaimana kalau anak kita membawa genku, Ratih?” tanya Katon galau. Ratih menatap wajah suaminya yang tampan, jarang sekali wajah ini terlihat kalut. Tetapi sekarang Ratih melihat, Katon juga bisa rapuh. Ia merengkuh wajah suaminya, memberikan senyum paling tulus untuk menguatkan. “Maka anak kita akan seperti papanya. Kuat, ganteng, dan mampu menghadapi apapun.” Katon mendesah sebal, memutar matanya ke at
Columbia University of New York sedang menunjukkan kesibukan luar biasa. Saat ini mereka sedang dalam masa Commencement week. Yaitu, minggu-minggu menjelang wisuda dilangsungkan. Upacara wisuda di Columbia University berlangsung dengan berbagai acara selama Commencement Week. Dimulai dengan setiap sekolah di bawah Columbia university menyelenggarakan upacara Class Day masing-masing, di mana nama setiap lulusan dipanggil, memberi kesempatan untuk momen yang lebih personal. Beberapa acara lain juga diselenggarakan, seperti Baccalaureate Service—upacara lintas agama yang melibatkan musik, doa, dan refleksi multikultural untuk merayakan pencapaian lulusan sarjana dari Columbia College dan Barnard College, serta sekolah-sekolah lainnya di bidang teknik dan sains. Tradisi unik lainnya adalah penyanyian lagu Alma Mater Columbia oleh seluruh komunitas, sebagai simbol kebersamaan dan perpisahan. Columbia juga memberikan University Medals for Excellence kepada individu yang berprestasi dan m
Sebagai bisnis fashion yang menyasar level menengah ke bawah, Starlight Threads berlokasi strategis di Harlem, 214 West 125th Street, Suite 2A. Ke sanalah Katon membawa istrinya. Pagi Sabtu yang cerah menyelimuti Harlem. Matahari menyorot dari celah-celah gedung perkantoran yang sederhana tetapi berkarakter di kawasan ini. Katon membimbingnya dengan tangan yang mantap menuju bangunan tiga lantai di ujung jalan, sebuah gedung dengan dinding bata merah yang terlihat kokoh namun tidak berlebihan. Di balik kaca jendela yang lebar di lantai dua, papan nama kecil berwarna emas dengan tulisan elegan “Starlight Threads” menggantung, menandakan kegunaan bangunan ini. Ratih memperhatikan detail itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Meskipun sederhana, bangunan itu memiliki daya tarik tersendiri. Tangga menuju lantai atas diselimuti perabot industrial yang chic, dekorasi modern berpadu dengan sisa-sisa gaya klasik yang membuat tempat itu berkesan unik. Studio ini bukan hanya sekadar toko
Katon sangat terkejut dan spontan melepaskan pelukan wanita tersebut. Katon menangkap kedua bahu wanita berbaju merah dan mendorongnya menjauh. Ia tidak memiliki keinginan melihat, siapa gerangan wanita itu. Ia lebih khawatir kepada istrinya, Katon menoleh ke arah Ratih dan mendapati wajah istrinya berubah menjadi penuh amarah dan kekecewaan. “Katon, apa kabar?” tanya Alice manis, ia tak mengindahkan Katon yang berusaha lepas dari pelukannya, mendorongnya menjauh. Bagi Alice, bertemu Katon adalah keberuntungan luar biasa. Pria ini pernah dekat dengannya, menolongnya, memberikan uang perlindungan yang tidak sedikit dan berkat Katon pula, ia selamat bahkan sekarang menjadi bagian dari wanita sukses di Manhattan. Alice Wellington. Dari bukan siapa-siapa menjadi bintang berkat Katon. Uang pemberian Katon ia manfaatkan untuk kuliah dan membuka usaha. Kini, Alice Wellington adalah pemilik Starlight Threads sebuah startup fashion yang memadukan gaya modern dengan sentuhan klasik, mengkh
Ratih dan Katon telah kembali ke New York. Segera, mereka disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Katon segera memimpin Growth Earth Company yang berada di Park Avenue. Pertikaiannya dengan Satria entah bagaimana menjadi perang dingin. Mungkin campur tangan Arini yang membuat Satria tidak datang menghukum langsung putera sulungnya. Yang Katon tahu, beberapa bulan ini papanya sibuk dengan kantor Growth Earth Company yang ada di Canada. Membuat Rosalind sibuk dengan Growth Earth Company yang berpusat di Jakarta. Hampir keteteran dengan bisnis skincare-nya sendiri. “Gak pengen pulang, Mas? Pegang GEC Jakarta dan kendalikan New York dari sini.” Rosalind saat menghubungi Katon melalui panggilan telepon sekedar bertukar kabar. “Tidak, terima kasih. Ratih sedang menyelesaikan tugas akhir. Dia harus fokus di sini. Masa kutinggal. Enak saja!” Rosalind menghela napas. “Kenapa , sih? Glowing Beauty-mu kan sudah jalan?” Katon memastikan kepada adiknya. Glowing Beauty ada di bawah Growth E
Pagi pertama mereka di Maldives dimulai dengan keajaiban pemandangan matahari terbit dari bungalow di atas air yang langsung menghadap laut. Katon, yang sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan di teras pribadi mereka. Hidangan lokal seperti mas huni, campuran tuna segar dengan kelapa yang wangi, tersaji di meja bersama kopi hangat yang mengepul. Angin laut meniup lembut, menyelimuti mereka dalam suasana pagi yang sejuk dan menyegarkan. Ratih tersenyum sambil menatap jauh ke horizon, di mana matahari mulai naik perlahan, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan. Ia telah duduk di teras, emnikmati layanan Katon, sebagai ganti layanannya semalam. "Mas," katanya sambil mengambil seteguk kopi, "aku pengen seperti ini bisa kita bagi bersama semua keluarga, suatu hari nanti." Katon menoleh, menatapnya dengan mata bertanya. "Maksudmu, liburan besar bersama mereka di tempat seperti ini?" Ratih mengangguk. "Ya, bukankah indah rasanya kalau semua orang bisa berkumpul di sini? Mam
Di dalam kamar tidur mereka, di bungalow mewah yang mengapung di atas perairan Maldives, Katon dan Ratih tengah menikmati malam pertama bulan madu yang tertunda. Malam itu, kamar tidur mereka terisi oleh suasana yang sempurna. Dinding kaca besar di depan tempat tidur menampakkan hamparan laut lepas berwarna biru pekat, dihiasi kilauan bintang dan rembulan yang menggantung anggun di langit. Suara ombak yang lembut menjadi irama pengantar yang menenangkan, membawa mereka ke dalam dunia penuh keintiman dan keheningan yang hanya mereka berdua miliki. Di lantai kamar, lilin-lilin aromaterapi tersebar. Masing-masing memiliki pendar kecil yang hangat, mengisi ruangan dengan aroma melati dan kayu manis lembut. Cahaya lilin yang berpendar-pendar membuat bayangan hangat di sekitarnya, mempertegas lantai kayu di sekitar lilin dengan kilaunya. Semilir angin laut masuk melalui celah balkon, membelai lembut rambut Ratih yang tergerai di pundak hingga punggung. Wanita itu sedang berada di atas