ELANG POV
.Bugh!"Kurang ajar, Rafka! Beraninya dia menyakiti Fanisa. Awas saja kamu!""Punya nyali berapa bedebah itu sampai berani menyakiti adikku dan membuatnya menangis seperti tadi. Dasar pengecut! Brengsek!""Agh!"Bugh Bugh Bugh!Tak hentinya aku mengumpat sambil memukuli stir kemudi. Aku sendiri bahkan menjadi saksi, saat Fanisa dan Rafka menandatangani surat perjanjian dalam pernikahan mereka. Di mana orang yang berani selingkuh dan mengkhianati pernikahan mereka, maka orang itu tidak berhak sedikit pun atas harta yang terkumpul selama pernikahan. Aku tahu dan menyaksikan mereka menyepakati surat perjanjian itu satu tahun setelah pernikahan mereka berlangsung.Aku kira, Rafka akan benar-benar menjaga adik perempuanku satu-satunya. Aku kira dengan surat perjanjian itu, Rafka tidak akan berani menyakiti Fanisa walau hanya seujung kuku. Aku kira, Fanisa adikku satu-satunya bersama dengan lelaki yang tepat. Karena selama ini kulihat Rafka merupakan lelaki yang tidak banyak neko-neko.Tapi aku salah besar. Rafka ternyata memang brengsek. Tidak sabar aku ingin bertemu dan memberinya hadiah.Lagi, dia membuatku kecewa akan sebuah pernikahan setelah apa yang Ayahku sendiri lakukan terhadap ibu beberapa tahun yang lalu. Dan semua itu menjadikan alasanku tetap melajang Sampai detik ini. Aku membenci pernikahan.Avanza hitamku terus melaju membelah jalanan siang kota Bandung yang lumayan padat. Hingga tak lama kendaraan roda empatku tiba di depan bangunan kantor milik Rafka. Bangunan yang bersebelahan dengan salah satu butik yang dikelola Fanisa selama ini.Segera aku turun dari mobil, melangkah lebar dan memasuki bangunan kantor, tanpa mengetuk pintu hingga semua yang tengah berdiskusi di dalam kantor ini terkejut melihatku masuk begitu saja.Kupandangi satu demi satu orang-orang yang merupakan tim EO milik Rafka."Dimana bos kalian?" tanyaku penuh penekanan."Satu jam yang lalu bos Rafka baru saja pulang, Mas Elang," jawab seorang perempuan yang berambut pendek."Dia tidak ada di rumah, makanya saya cari ke sini. Dia nggak ada kembali ke sini?" tanyaku lagiMereka semua serempak menggeleng"Kalau begitu salah satu diantara kalian hubungi Rafka! Tanyakan dia di mana dan minta dia ke sini sekarang juga tapi jangan bilang ada saya di sini, paham?!"Serempak mereka semua mengangguk lalu salah satu lelaki di antara mereka mengeluarkan ponselnya. Seingatku lelaki itu adalah Aldi, orang bawahan dan kepercayaan Rafka di kantornya iniAldi mulai sibuk dengan ponselnya. Satu hingga tiga kali dia mendekatkan gawainya ke telinga hingga Aldi nampak menghembus napasnya kasar. "Nomor bos Rafka nggak aktif, Mas."Aku terdiam sejenak, memejamkan mata memikirkan ke mana cecunguk itu pergi jika dia tidak kemari. Kuhembus napas kasar. "Kalian tahu di mana tempat biasanya bos kalian itu nongkrong?""Biasanya di pesona cafe, Mas atau kalau nggak di gudang coffee," jawab Aldi.Aku hanya mengangguk tipis lalu tanpa berucap apa-apa lagi aku keluar dari kantor milik Rafka. Menaiki mobilku kembali lalu tancap gas dengan segera.Kendaraan roda empatku kembali menapaki jalanan beraspal menuju pesona cafe seperti yang dikatakan oleh Aldi. Hanya lima menit, aku pun tiba di depan bangunan cafe aesthetic yang memang pas untuk dijadikan tempat nongkrong, santai atau berkumpul bersama teman-teman.Cepat-cepat aku turun dari mobil dan bergegas melangkah memasuki area cafe. Bangunan berlantai dua ini nampak cukup ramai dipenuhi pengunjung di lantai satu. Mataku awas mengitari setiap sudut lantai bawah ini. Namun tidak kutemui sosok Rafka mengisi salah satu meja.Kuputuskan naik ke lantai dua. Keadaan di lantai dua berbanding terbalik dengan lantai satu. Di mana di sini hanya ada satu dan dua pengunjung saja namun itu bukan Rafka"Permisi, Mas? Ada yang bisa dibantu?" Seorang pelayan menghampiriku dan bertanya.Aku menggeleng cepat. "Saya mencari seseorang.""Oh ya? Siapa? Mungkin kami di sini mengenal dan bisa memberitahu Mas.""Rafka Mahesa," jawabku."Oh Mas Rafka. Dia memang pelanggan di cafe ini. Tapi hari ini, dan sudah hampir satu minggu dia tidak ada kemari Mas. Karena katanya dia sedang pergi berlibur bersama istrinya, begitu," jawab pelayan ini lagi dengan ramah.Aku pun hanya mengangguk, lantas segera menuruni anak tangga menuju lantai satu. Kembali kuhembus nafas kasar seraya melangkah keluar dari area cafe. Masuk ke dalam mobil dan dengan cepat tancap gas menuju tempat satu lagi.Hanya sekitar lima belas menit. Mobilku kini tiba di depan kedai bertuliskan gudang coffee. Tempatnya lebih mewah dibanding cafe sebelumnya. Tanpa menunggu lama aku turun dari mobilku, melangkah melewati parkiran lalu membuka pintu kaca kedai yang kudatangi.Tempat ini pun sama berlantai dua. Aku mencari lebih dulu ke lantai atas. Namun, benar-benar kosong. Hanya ada seorang pelayan yang sedang membersihkan meja. Gegas aku turun kembali ke lantai satu.Aku kembali mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan dekorasi yang berkaitan dengan coffee ini. Namun tidak juga kutemukan Rafka.Hal yang sama terjadi, seorang pelayan menghampiriku dan bertanya keperluanku datang ke kedai ini. Kembali aku menanyakan Rafka namun jawabannya adalah sama seperti jawaban di pesona cafe tadi. Sudah satu minggu Rafka tidak datang kemari karena dia pergi berlibur bersama istrinya.Aku melangkahkan kaki cepat keluar meninggalkan bangunan kedai dan masuk mobil."Agh sial! Ke mana Rafka, jangan sampai dia lebih cepat melarikan diri dan aku tidak bisa menyeretnya ke hadapan Fanisa," umpatku kesal sembari memukul setir kemudi.Akhirnya kubawa mobil menuju kediaman orang tua Rafka. Sekitar satu jam dan terjebak macet. Sampailah aku di depan rumah besar di pinggir jalan. Rumah dengan halaman cukup luas dengan pagar besi dan juga pilar-pilar yang menjulangAku mengawasi dalam mobil. Hingga seorang perempuan yang bekerja sebagai ART di rumah itu keluar dengan kantong kresek di tangannya dan membuangnya di bak sampah."Mba!" teriakku di balik pintu mobil.Perempuan berdaster bunga-bunga itu menoleh ke arahku."Rafka ada di sini?" tanyaku tanpa memperlihatkan kekesalan dalam nada bicaraku.Perempuan di samping mobilku itu menggeleng. "Tidak ada, Mas. Katanya hari ini baru akan pulang dari Surabaya. Kenapa ya, Mas?" jawab serta jelas ART itu. Jawabannya terdengar tenang, dan tak nampak raut kebohongan di wajahnya. Sepertinya, ART di rumah orang tua Rafka ini justru belum tahu jika anak dari majikannya sudah pulang dari Surabaya.Aku pun menggeleng pelan. Lalu dengan cepat menaikkan kaca mobil hingga tertutup penuh. Bahkan ART itu pun juga sudah masuk kembali ke dalam rumah sang majikan.Aku terdiam di balik setir kemudi. "Apa mungkin Rafka kembali ke Surabaya? Apa mungkin perempuan lain yang dinikahinya itu ada di sana? Karena semua ini terjadi setelah mereka kembali dari Surabaya, tapi apa mungkin secepat ini Rafka bisa kembali? Mengingat mereka baru saja pulang hari ini," pikirku sendirian di dalam mobil.Cepat-cepat aku mengeluarkan ponsel. Lalu menelepon Fanisa untuk memastikannya. Namun, adikku itu tidak kunjung menjawab panggilan dariku. Bahkan hingga lima kali aku menghubungi, Fanisa tidak kunjung menjawabnya."Akh! Ke mana kamu, Fan?" gumamku kesal seraya mematikan sambungan telepon.Akhirnya aku mengirimkan Fanisa pesan. Menunggu dengan hampir bosan di dalam mobil yang sudah berada di sebrang rumah orang tua Rafka. Sekian lama di dalam mobil, memang tidak ada tanda-tanda Rafka di dalam rumah itu.[Rumah no. 5 Perum Graha Citra Asri][Gak jauh dari pusat belanja oleh-oleh]Fanisa mengirimkan balasan berisi alamat yang kutanyakan. Buru-buru aku mencari tiket penerbangan untuk hari dan memesannya. Kumasukkan ponsel ke dalam saku dan segera melajukan mobilku."Ke ujung dunia sekali pun, aku pasti akan menemukan kamu, Rafka. Tidak akan aku biarkan kamu bahagia di atas luka adikku!" geramku dengan tangan mengepal kuat.~Tanpa persiapan apa-apa, aku telah bertolak ke kota pahlawan ini. Arloji hitamku bahkan telah menunjukkan pukul tujuh malam. Hanya berbekal alamat yang dikirim Fanisa, aku langsung meninggal Bandara. Menaiki taksi yang akan mengantarku ke alamat perumahan yang diberikan Fanisa.Cukup jauh dari Bandara, taksi yang kunaiki akhirnya berhenti, dan sang sopir mengatakan jika aku sudah tiba di alamat yang kucari.Di balik kaca mobil. Mataku membulat sempurna. Hatiku terbakar hebat. Bagaimana tidak? Di teras sebuah rumah mungil, sosok laki-laki yang sudah menyakiti adikku itu tengah duduk di kursi rotan sambil memangku dan memeluk seorang anak perempuan."Bedebah!" umpatku kesal.Cepat-cepat aku turun dari taksi setelah membayar. Langkahku terayun dengan cepat memasuki halaman rumah nan asri."RAFKA!" Aku berteriak lantang tanpa menghentikan langkah.Hingga kakiku telah menapak di lantai teras yang putih."Bang?" Suara Rafka terdengar parau saat berdiri seolah-olah menyambut kedatanganku.BugghhBugghhBugghh!Tinjuku melayang tepat mengenai dua pipi dan perutnya. Hingga tubuh Rafka ambruk di bawahku. Tak memberi kesempatan, kedua tanganku kini mencengkram kerah bajunya. Kutarik dengan kuat hingga Rafka pun berdiri. Anak perempuan yang tadi berada di pangkuan Rafka, berlari cepat ke dalam rumahnya.Aku menyudutkan Rafka pada tembok. Mencekik lehernya dengan kuat. Darah mengucur di hidung dan sudut bibir Rafka. Dia berusaha melepaskan tanganku di lehernya."Hadapi aku karena kamu berani menyakiti Fanisa!" teriakku kencang."A—Bang Elang—lepaskan——" Rafka mencoba berontak. Tangannya memukul-mukul tanganku terasa seperti menepuk nyamuk."Tidak akan! Sebelum kamu merasakan sakit yang Fanisa rasakan!" desisku semakin menguatkan cengkeraman tanganku di lehernya."A—ampun, Bang. Am——akhh!" Napas Rafka nampak tersengal-sengal."RAFKA!"Aku menoleh mendengar suara perempuan yang menjerit. Seorang perempuan berwajah bak bulan purnama keluar dari ambang pintu rumah mungil ini.Perempuan itu mendekat ke arahku dan Rafka. Mataku tak dapat lepas memandanginya. Iris mata cokelatnya membuat cengkraman tanganku melonggar dari leher Rafka. Bahkan sampai akhirnya kulepaskan. Terdengar Rafka terbatuk-batuk.Aku memandangi perempuan berkerudung hitam ini. Bahkan kini, pandangan kami bertemu. Cukup lama kami bertukar tatapan."Kamu ...?" Suara perempuan itu terdengar bergetar bicara padaku.Akh.Mata itu ....FANISA POV~Kutatap ponsel meski layarnya hanya gelap. Memantulkan wajahku yang kumal dan lusuh. Hingga tidak ada tanda-tanda ponselku ini menyala. Akhirnya kugenggam dengan menurunkan tangan yang mendekap erat lututku.Kuhembus napas kasar. Sudah lima hari berlalu, tapi Bang Elang justru tidak ada memberi kabar sama sekali. Hanya kabar terakhir darinya, yang memberitahuku bahwa ia akan langsung bertolak ke Surabaya setelah kukirimkan alamat perempuan itu.Perempuan yang Mas Rafka panggil dengan nama Purnama. Entah siapa perempuan itu. Namun, tak bisa kupungkiri. Jika namanya memang secantik paras pemiliknya.Hatiku kembali berdenyut.Kugelengkan kepala dengan cepat. Mengenyahkan kilasan kejadian saat aku bertemu perempuan itu pertama kalinya. Perempuan yang membuat kepercayaanku terhadap Mas Rafka pecah terbelah dan tak berbentuk lagi.Drrrt Drrrt Drrt.Ponsel di genggaman tangan bergetar. Aku pun mengangkatnya berada di hadapanku. Panggilan masuk dari Tia—karyawan butik."Halo?" j
POV ELANGAku menatap pantulan wajahku di depan cermin oval. Kusentuh pipi sebelah kananku yang tak mulus. Terdapat bekas luka melintang di bawah kelopak mataku hingga mendekati telinga. Luka yang timbul karena tusukan pecahan beling yang begitu dalam menembus lapisan kulit pipiku. Begitu dalamnya tusukan itu, hingga mengubah rupa wajahku.Dari tahun ke tahun, bekas lukanya tidak kunjung hilang. Seperti yang dikatakan dokter bertahun-tahun yang lalu. Hingga aku harus menerima bekas luka ini tetap ada di pipiku.Kujauhkan telapak tangan dari pipi. Seiring mata yang memejam. Teringat saat perempuan yang ada di rumah yang sama dengan Rafka mengamuk. Histeris dan mengusirku pergi dari sana.Melihat perempuan itu begitu kacau saat memintaku pergi membuatku tak berdaya. Membuatku yang seharusnya menyeret Rafka, justru melupakan tujuan utama datang ke kota ini. Lalu menjauh dari rumah mungil itu.Bahkan kulihat dari jauh, perempuan itu tak sadarkan diri dalam dekapan Rafka yang bercucuran da
POV ELANGAku masih betah memandangi sepasang manik hazel di hadapanku saat ini. Tanganku bahkan telah menangkup kedua pipinya.Garis wajahnya, hidung mancung serta rambutnya yang ikal sebahu. Seperti aku sedang memandangi foto masa kecilku.Kulitnya yang hitam kecoklatan dan bibirnya yang tipis. Nyaris tidak diturunkan dari perempuan berwajah bak bulan purnama itu. Melainkan lebih condong sepertiku.Tanpa dikomando, tanganku tiba-tiba saja terulur membelai puncak kepalanya. Mengusapnya lembut hingga ujung rambutnya.Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Terasa menggetarkan dan menyeruak memenuhi hati ini. Rasa yang aku sendiri tidak mengerti."Hey!"Suara teriakan membuatku menoleh ke arah lobi rumah sakit.Anak kecil di pangkuanku itu, cepat-cepat menarik dirinya hingga akhirnya berdiri. "Om, sekali lagi aku minta maaf. Aku buru-buru karena ingin menemui Ibu," tukasnya seolah panik.Aku meraih tangannya dengan cepat. "Jangan takut. Om akan bicara dengan petugasnya," ucapku mencegah ke
"Rumah sakit jiwa?" gumamku dengan tangan terulur melayang tanpa sambutan. Rafka telah hilang dari pandangan mata. Dibawa lajunya mobil ambulance yang mulai menjauh dari gedung rumah sakit.Tanpa membuang waktu. Aku membawa kaki ini untuk berlari. Begitu lebar hingga akhirnya pun keluar melewati pagar rumah sakit.Kebetulan sekali, sebuah taksi melintas di depanku. Buru-buru aku menghentikannya dan duduk di kursi belakang."Ikuti ambulans di depan sana, Pak!" titahku segera.Sopir taksi tak banyak bertanya. Mobil seketika kembali melaju membelah jalanan lengang pagi hari. Di dalam mobil, hati ini resah. Segala kemungkinan terlintas dalam benakku.Mungkinkah perempuan bernama Purnama itu sengaja merusak ketenangan rumah tangga Fanisa dan Rafka? Karena Purnama tahu, jika Fanisa adalah adikku. Mungkinkah Purnama sengaja melakukannya, sehingga dalam satu tembakan peluru, dia berhasil menghancurkan dua target sekaligus?Aku meremas rambutku kasar seraya mendengkus. Aku pusing dengan apa ya
Malam menyapa. Bulan bersinar penuh di singgasananya.Aku sudah kembali berada di dalam rumah sakit jiwa. Mengenakan sweater dan juga masker penutup wajah. Aku berjalan seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan para pekerja di sini.Langkahku berhenti tepat di depan kamar yang diisi Purnama. Terlebih aku mendengar suara Rafka dari dalam sana.Aku mendekatkan tubuhku pada tembok. Mengintip dari celah tralis besi ke arah dalam. Ranjang itu masih ditempati Purnama. Perempuan itu nampak memejamkan matanya. Di sisi ranjang, terdapat Rafka duduk di dekat kepala Purnama. Sementara di hadapan Rafka, duduk seorang perempuan yang lebih tua darinya. Kutaksir usianya sudah sampai kepala lima. Namun masih terlihat sehat."Pak Rafka, saya Bu Rianti. Saya melakukan pendekatan pada pasien-pasien di sini dengan cara mendengarkan mereka. Berdasarkan laporan, Bu Purnama ini baru masuk hari ini dan keadaannya benar-benar kacau. Bahkan tadi pagi, ia sempat melakukan percobaan bunuh diri. Satu jam ya
POV FANISA—Bip Bip Bip!Ponselku berbunyi. Deretan pesan masuk, tertuju ke dalamnya. Aku menghentikan sejenak aktivitas di depan layar laptop. Meraih benda pipih di atas meja yang sama dengan laptop di hadapanku.Aku melihatnya malas. Namun, seketika pun terkesiap. Saat tahu yang mengirimkan pesan adalah Abangku.Kedua tangan memegangi ponsel. Lalu membuka satu demi satu pesan yang masuk dari Bang Elang dan membacanya dengan seksama.Keningku mengernyit. Kala pesan di urutan pertama memunculkan satu buah foto. Seseorang nampak tersungkur dengan seluruh badan tengkurap.Wajahnya nampak dari samping. Namun terlihat begitu jelas babak belur. Lebam dan bersimbah darah. Begitu juga kedua lengan yang dipenuhi luka. Kedua kakinya berada dalam keadaan terikat.Aku menatapnya lekat. Meski wajahnya dipenuhi luka, lebam, serta darah. Tapi aku bisa mengenalinya. Dari postur tubuh dan potongan rambutnya yang juga berlumur darah
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."Argh! Bang Elang ke mana?" tanyaku lirih seorang diri.Usai kepergian Mba Inayah dari ruangan kerjaku ini. Aku buru-buru menghubungi Bang Elang. Sudah hampir lima kali aku menghubungi nomornya. Namun selalu saja sama. Suara operator perempuan yang kudengar.Aku ingin memastikan keadaan Mas Rafka.Entah untuk apa.Namun setelah kepergian Mba Inayah dari hadapanku. Sejenak aku merenung. Aku pun teringat, bagaimana sebelum Mas Rafka menerima keputusanku untuk tidak memiliki anak, ia selalu membujuk dan meyakinkan bahwa kehidupanku akan tetap baik-baik saja setelah memiliki buah hati.Aku pun merasa ditarik oleh memori. Bagaimana sejak masa SMA, keluarga Mas Rafka begitu menerimaku. Mereka sangat terbuka, merangkul serta memberiku rasa nyaman. Keluarga besar Mas Rafka begitu harmonis. Aku seperti memiliki keluarga yang utuh saat berada bersama mereka.Aku mendesah mengingat masa-masa silam. Rasa nyeri semakin menyebar dan menggerogoti
Tok Tok Tok!Kriet!Baru saja tanganku akan membuka salah satu amplopnya, pintu ruangan diketuk dan dibuka seketika. Membuatku menoleh ke arah pintu di mana Helena muncul."Maaf, Bu. Tia tadi menyusul dan meminta Ibu segera ke butik," jelasnya di ambang pintu sana.Aku pun hanya mengangguk. Lantas bangkit seraya memasukkan amplop tadi ke dalam tas. Kubawa kaki melangkah menuju pintu hingga keluar.Helena telah berjalan lebih dulu meninggalkanku di depan ruang kerja Mas Rafka. Kuusap sudut-sudut mataku bergantian, memastikan tidak ada jejak air mata yang tertinggal. Lepas itu, barulah aku melangkahkan kaki menjauh dari pintu ruangan kerja di belakangku. Melewati kembali meja bundar yang hanya diisi Helena dan Aldi."Maaf, Bu. Kalau boleh tahu, Pak Bos ke mana?" tanya Aldi yang berhasil menghadang langkahku.Lelaki yang merupakan orang kepercayaan Mas Rafka di kantor ini berdiri menjulang di depanku. Kepalaku bahkan sampai
"Kenapa, Dek?" Mas Rafka datang menyusul. Suaranya pun terdengar khawatir karena aku memang berteriak memanggilnya tadi.Aku menggeleng dengan air mata yang sudah berjatuhan. Tanganku terulur menunduk pada Bang Elang yang berada di atas tempat tidurnya. Tidak mampu untuk bersuara, hanya bisa menunjuk sambil terus menangis. Berharap apa yang kulihat, hanya sebuah mimpi buruk saja.Mas Rafka sudah mendekat dan berdiri di samping kasur., sedangkan aku terduduk di depan lemari. Kulihat Mas Rafka memeriksa kondisi Bang Elang. Mulai dari menempatkan jarinya di ujung hidung Bang Elang. Memeriksa denyut pada lehernya, kemudian pergelangan tangan.Terlihat suamiku itu menggeleng sembari menghela napas. Kemudian mengambil cermin kecil dari selama laci nakas. Menempelkan pada wajah terutama bagian hidung Bang Elang beberapa saat. Lalu menariknya dan mengangkat ke atas."Innalilahi wa Inna ilaihi rooji'un ... tidak ada jejak napas, artinya bang Elang sudah tiada," ucap Mas Rafka sembari mengusap
POV Fanisa 💞💞💞Seratus hari berlalu sejak meninggalnya Purnama, kesedihan dan kehampaan atas kepergiannya kian terasa. Apalagi sore tadi, baru saja selesai acara pengajian memperingati seratus harinya. Luka ini kian dalam terasa. Mengingatkan pada sosok Purnama yang begitu shalehah semasa hidup. Benar-benar perhiasan dunia yang dimiliki Bang Elang.Tidak ada yang baik-baik saja usia kepergiannya hari itu. Kepergian yang dirasa mendadak dan begitu tiba-tiba, karena Bang Elang mengatakan bahwa perempuan jelita itu sudah sembuh dari sakit yang pernah diderita. Tapi ternyata, kematian itu benar-benar sebuah rahasia yang paling dekat pada setiap makhluk yang bernyawa.Hari-hari setelah Purnama tiada, kami semua merasa benar-benar terpuruk. Aku dan Belfania seperti kehilangan gairah hidup. Kami sangat bersedih tetapi Mas Rafka mampu menguatkan dan menghibur kamu.Sementara Bang Elang, bahkan hingga hari ini, dia tidak lagi seperti Abang yang kukenal. Dia tidka banyak bicara padaku dan M
Bersama linangan airmata, aku memetik mawar-mawar indah yang bermekaran pagi hari ini. Mawar yang mekar sempurna dan begitu cantik ini tidak bisa dilihat lagi oleh Purnama. Mawar-mawar ini justru akan mengantarnya ke pemakaman."Bang, kita harus segera ke makam." Rafka merangkul pundakku.Aku pun hanya bisa mengangguk. Kelopak mawar sudah selesai aku kumpulkan meski hanya dalam kresek. Gegas aku masuk ke dalam rumah dan keranda mayat sudah siap untuk diangkat.Hatiku hancur dan air mata tak hentinya luruh membasahi wajahku."Kalau Abang tidak sanggup, biar aku dan remaja mesjid saja yang menggotong kerandanya, Bang." Rafka kembali berucap.Namun aku cepat-cepat menggeleng. "Jangan, Raf. Biar abang saja." Aku pun melangkah gontai mendekati keranda. Mengumpulkan segenap kekuatan untuk turut serta menggotong keranda berisikan jasad istriku.Purnama wafat. Dia menghembuskan napas terakhir saat sedang bersujud. Setelah aku memanggil d
Dua Minggu berlalu, masa penyembuhan pasca operasi yang dilakukan Purnama terbilang cepat. Perempuan berstatus istriku itu sekarang sudah bisa beraktifitas di rumah walau terbatas. Bukan, bukan terbatas. Tetapi aku lah yang membatasi. Andai tidak kucegah, Purnama tidak lah mau diam.Seperti pagi ini, karena pekerjaan rumah sudah selesai kukerjakan, Purnama pasti berada di halaman. Merawat mawar-mawar yang sempat layu dan kering karena tak tersentuh olehku. Hingga kini, tanaman-tanaman itu mulai segar kembali."Kasihan, bunga-bunga ini hampir mati. Pasti kamu tidak merawatnya 'kan?" ucap Purnama yang sedang membongkar satu tanaman dalam pot berukuran kecil.Aku yang berdiri di sampingnya tak ayal mengangguk. "Bagaimana lagi? Kamu lebih penting dari sekedar bunga-bunga ini," jawabku cepat.Hanya helaan napas yang terdengar dari Purnama. Tangannya masih sibuk dengan tanaman yang sudah kering kerontang karena telah mati itu. Hingga satu pot sudah kos
Lampu ruangan operasi menyala. Artinya, sebuah tindakan sedang berlangsung di dalam sana. Setelah tiga hari menunggu, operasi Purnama pun dijadwalkan malam ini. Setelah sebelumnya menjalani puasa selama delapan jam, kini Purnama menjalani operasi yang sudah kami sepakati.Fanisa menemaniku. Duduk di samping kananku mengisi ruang tunggu. Sedangkan Rafka, harus menemani Belfania dalam pagelaran seni yang diikutinya.Detik demi detik berlalu, dan tindakan operasi belum juga selesai. Hatiku rasanya tak karuan selama menunggu. Fanisa berulangkali menepuk pahaku, karena aku tak bisa diam. Terus menggerakkan kaki sebagai luapan rasa gelisahku."Abang mau ke mushola. Kamu jaga di sini, ya?" ucapku seraya berdiri dengan cepat."Iya, Bang."Aku pun melangkah pergi. Menuju mushola yang terpisah dengan gedung rumah sakit tetapi masih satu area. Mengambil wudhu, cepat-cepat aku menunaikan shalat hajat. Zikir dan wirid tak henti kulafalkan seiring deng
Hari demi hari aku lalui bersama Purnama. Hingga berganti bulan dan aku dengan setia menemani berikhtiar untuk mencapai kesembuhannya. Namun, sudah hampir enam bulan kami jalani, kondisi Purnama tidak kunjung membaik. Bobot tubuhnya justru kian menyusut. Badannya yang mungil makin terlihat kurus. Pasca kemo, helaian demi helaian rambutnya berjatuhan. Rambutnya yang pendek, kian tipis saja sekarang. Satu bulan terakhir, ia bahkan harus memakai kursi roda saat berada di rumah. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda akan kesembuhannya.Hari ini, pemeriksaan kembali dilakukan. Aku dan Purnama berada di ruangan dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaannya."Jaringan kankernya semakin meluas. Kemo yang dilakukan tidak begitu efektif, karena sejak penyakit ini diketahui, sudah masuk stadium empat yang artinya sudah cukup parah," jelas sang dokter membuat hati ini rasanya tercabik-cabik."Kalau operasi bagaimana, Dok?" tanyaku lemas.Dokter berkacamata di ha
"Purnama kenapa? Sakit apa?" tanya Fanisa yang baru saja datang. Dia adalah orang pertama yang kuhubungi, setelah Purnama masuk ruang IGD lima belas menit lalu.Aku menggeleng pelan. "Masih ditangani," jawabku lesu.Fanisa menghempas bobotnya di sebelahku. Dia menepuk-nepuk pundakku. Seolah menyalurkan ketenangan. Aku menunduk. Mengusap wajah dengan kedua tangan seraya menarik napas panjang. Sebelum kemudian aku menoleh pada Fanisa."Apa kamu tahu sebelumnya, Purnama mengidap sakit apa?" tanyaku kepada Fanisa.Adik perempuanku itu nampak diam seolah tengah berpikir, sampai kemudian ia menggeleng. "Aku dan Mas Rafka gak tahu, Bang. Tapi sempat Purnama juga pingsan saat dia menginap di rumah kami waktu itu. Setelah sholat Subuh. Saat itu dia menolak untuk diperiksa. Meskipun aku dan Mas Rafka terus membujuk dan memaksa. Sampai akhirnya dia kembali ke pondok dan aku gak pernah tahu Purnama itu sakit apa," jelasnya kemudian.Aku pun terdiam.
19.Tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Namun tanpa aba-aba, mataku seketika ringan terbuka. Tersadar dan melihat Purnama masih berada di atas dadaku.Aku menoleh untuk melihat jam duduk di atas nakas. Rupanya pukul tiga dini hari. Sejak tinggal di pondok, bangun dini hari seperti ini sudah menjadi kebiasaanku.Purnama nampak masih lelap. Sangat terpaksa aku harus menggeser kepalanya dengan hati-hati sampai akhirnya berpindah ke bantal. Kutatap sejenak wajah cantiknya saat tertidur, hingga bibirku tersenyum karenanya.Pelan-pelan aku bangkit. Gerakanku amat pelan sampai kemudian berhasil turun dari kasur. Karena aku tidak ingin mengganggu tidurnya.Lekas aku ke kamar mandi yang berada di dalam kamar. Berdiam sejenak sebelum kemudian mengambil wudhu. Sehingga wajah ini terasa lebih segar setelah terkena air. Membiarkan wajah ini tetap basah, gegas aku keluar.Langkahku terhenti di depan pintu kamar mandi. Kulihat Purnama ju
18.Aku menarik diri. Namun di luar dugaan, ternyata Purnama sudah membuka matanya kembali. Aku menunduk dan tak ayak pandangan kami pun bertemu. Tanganku yang seharusnya membelai anak rambut di keningnya, kini justru menangkup pipi Purnama.Jarak kami begitu dekat. Aku bahkan tak bisa berkedip menatapnya dari jarak sedekat ini. Hingga kurasakan telapak tangan Purnama menyentuh pipiku. Dia mengusapnya, membuatku kian menundukkan kepala. Aku benar-benar terbawa suasana.Hidung mancungnya bahkan telah beradu dengan ujung hidungku. Pandangan kami masih saling mengunci, aku memiringkan kepala, hingga menemukan posisi yang pas untuk kemudian mendaratkan bibirku di bibirnya.Aku butuh tali, untuk mengikat jantungku yang seperti akan melompat meninggalkan tempatnya.Ini ciuman pertamaku.Rasanya begitu hangat dan menggetarkan hati.Tidak ada hal lebih yang kulakukan. Hanya membiarkan bibir kami saling menempel. Begini saja, ali