Beranda / Romansa / Orang Ketiga Di Pernikahanku / Bab 4 – Bukannya Kamu Juga Suka Dengannya?

Share

Bab 4 – Bukannya Kamu Juga Suka Dengannya?

Penulis: Mayangsu
last update Terakhir Diperbarui: 2021-06-12 23:09:52

Ais melangkahkan kakinya keluar dari kamar tipe honeymoon suite tempatnya bermalam untuk mencari udara segar. Mungkin membeli kopi instant di minimarket dekat hotel ini adalah opsi yang terbaik.

Lorong hotel yang dilaluinya tampak sepi. Pun sama, di dalam lift tempatnya berpijak juga hanya ada dirinya seorang. Lagi pula siapa juga yang kurang kerjaan keluyuran di malam hari kecuali dia yang sedang lari dari kenyataan bahwa sekarang ini dia sudah resmi menjadi seorang sumi. Yang berengsek.

Ais menekan tombol ke lantai paling dasar, kemudian ia menyandarkan punggungnya pada dinding lift yang terasa dingin sampai meresap ke punggung. Ketika denting lift berbunyi, seketika indra pendengaran Ais disambut selamat datang oleh suara cekikikan yang terdengar sangat familier.

Merasa penasaran, Ais mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari di mana sumber suara berasal.

Di depan sana, Ais melihat kembarannya sedang duduk dengan kaki naik sebelah ala orang yang sedang asyik makan di angkringan.

Heh, sedang apa bocah itu tengah malam cekikikan di sini?

Aim tidak sendirian, di sana dia juga ditemani oleh kedua temannya.

Setelah mendekat, Ais mengumpati mereka bertiga. Bisa-bisanya mereka asyik main gaple.

Ais memijit pangkal hidungnya. Kadang ia heran, kenapa pula saudaranya yang satu ini paling beda sendiri di keluarga mereka? Umi Abati saja kalem, Dek Kalila juga kalem, pun sama, Ais juga merasa kalau dirinya ini kalem. Tapi kenapa si tengah malahan kelakuannya seperti kutu loncat? Bahkan Ais ingat betul dulu ketika masih kecil dia selalu mengejek adiknya kalau Aim bukan anak Umi Abati, melainkan anak yang dipungut di pinggir jalan. Dan soal kemiripan wajah, Ais mengarang cerita mungkin itu hanyalah kebetulan semata. Kalau sudah seperti itu, maka Aim akan menangis dan mengadukannya ke Umi mereka.

Bahkan jika dipikir-pikir lagi, sifat Aim malahan mirip seperti Om Sean. Sableng.

“Ngapain lu di sini!” ucap Ais sambil menepuk bahu kembarannya yang sedang menyeruput kopi.

“Gila lo bang! Ngagetin aja! Kalau gue keselek gimana?” jawab Aim sewot.

“Lo ngapain tengah malem di sini?” ulang Ais sambil menggelengkan kepala. Tanpa diminta Ais mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang kosong.

“Main gaple,” jawab Aim sambil menyengir kuda.

“Kalau sampai Abati tahu lu main gaple, pasti lu bakalan diamuk.”

“Dari padamainin perasaan anaknya orang, ya, mending main gaple-lah, Bang.”

Jleb! Ais merasa tertohok mendengarnya, jelas saja tadi Aim sedang menyindirnya.

“Gue minta, ya?” ucap Ais mengambil salah satu kopi instant yang belum terbuka.

“Lagian, nih, ya, Bang. Tenang aja, Abati nggak bakal tahu kita main gaple di sini. Orang Umi sama Abati lagi bermesraan di dalam kamar sembari membuat adik keempat untuk kita.”

Ais mencoba bersikap biasa saja, padahal saat ini pipinya memerah mendengar ucapan adiknya barusan. Memang kembarannya ini kalau ngomong suka seenaknya.

“Tapi, Bang. Omong-omong lu sendiri kenapa jam segini keluyuran? Bukannya lu lagi malem pertama sama Sheril?” tanya Aim penuh selidik, mata Aim berbinar menuntut jawaban dari kakaknya.

Ais memilih jalan aman, yaitu diam.

“Masa, sih, Bang jam segini lu udah keluar. Lemes banget, dah, itu si joni,” tambahnya lagi sambil menyengir kuda.

Ais memejamkan mata, sumpah demi apa kembarannya ini benar-benar menjengkelkan.

“Hen lo beli kopi ini di mana?” tanya Ais mencoba mengalihkan pembicaraan. Hendra adalah salah satu dari teman Aim yang ikutan main gaple.

“Di deket sana, tuh.” Hendra mengedikkan dagu menunjuk ke arah mini market yang letaknya tak jauh dari hotel ini berada.

“Gue kira kalau lu punya bini seseksi Sheril bakalan lima ronde, Bang. Hehehe.”

Ais melotot. Aim buru-buru menutup mulutnya yang tercipta tanpa filter ini.

“Hen lo mau ke mini market nggak? Gue pengin nitip kopi. Ini duit kembaliannya ambil aja buat beli rokok.”

Hendra memang perokok aktif, sedangkan Ais dan Aim tidak. Hendra tahu sebenarnya Ais tidak betul-betul menginginkan kopi, melainkan Ais sedang mengkode secara tidak langsung kalau dia ingin bicara empat mata dengan adiknya.

“Oke. Gue juga lagi pengin cari camilan.”

“Thanks.”

“Yuk, Bro ikut,” ucap Hendra mengajak teman satunya lagi.

Kini tersisa Ais dan Aim di sana.

Ais bersedekap dada sambil menatap kembarannya dengan tatapan tajam membuat Aim ngeri.

“Apa, sih, Bang!”

Kalau sudah ditatap seperti itu biasanya Aim akan salah tingkah, dan mencari bahan pembicaraan baru adalah jalan ninjanya.

“Bang... Tadi gue ngelihat si Dara dateng ke sini,” gumam Aim sambil memunguti kartu gaplenya tanpa memandang Ais.

“Gue kira dia nggak punya muka buat dateng ke nikahan lo. Tapi ternyata dateng juga. Eh, bentar-bentar... Tapi kalian udah putus, kan, Bang?”

Yup, Aim memang tahu kalau kakaknya itu sudah pacaran lama dengan Dara. Kalila juga tahu, tetapi karena itu urusan pribadi masing-masing. Aim dan adiknya hanya diam saja. Terkadang yang membuat Aim takjub adalah Ais bisa-bisanya menyembunyikan hubungannya dengan Dara rapat-rapat sampai tidak tercium oleh kedua orang tua mereka.

“Kok, lu cuma diem, sih, Bang?”

Kali ini Aim mengerutkan dahi. Tatapannya serius. Tapi Abangnya malah berdehem yang entah apa maksudnya pun Aim tidak tahu. Jadi, Aim menyimpulkan sendiri jawaban atas pertanyaannya barusan.

“Lo nggak bisa Bang menyukai dua cewek secara bersamaan. Gue emang lebih muda dari lo. Sebenernya Gue nggak berhak ngomong kayak gini apa lagi sampai sok-sokan ngasih nasihat ke Elo karena kesannya pasti Gue kayak ikut campur banget sama kehidupan lo.”

Ada jeda sejenak ketika Aim mengucapkan kalimat panjang lebar tersebut. Hingga sampailah ke penghujung kata, yaitu kesimpulan dari itu semua. “Gue cuma ngingetin, Bang. Jangan sekali-kali main api. Atau lo bakalan kebakar nantinya.”

Ais terdiam, kalah telak. Sebenarnya dia pun bingung. Tapi Ais bukan tipe yang gampang menceritakan masalahnya kepada orang lain. Kalau Aim anaknya heboh tapi sedikit ceroboh. Beda halnya dengan Ais, Ais sendiri pendiam dan apa-apa di pendam sendiri. Dan yang membuatnya tambah frustrasi adalah bisa-bisanya tadi sore dia berkata akan menemui Dara untuk menjelaskan ini semua. Bahkan dia sampai memeluk Dara dan mengatakan kelak jika berpisah dengan Sheril maka dia akan menikahi Dara.

Kenapa dengan bodohnya dia mengatakan hal itu! Padahal sudah bagus Ais menghindari Dara selama berbulan-bulan. Tapi... ketika dia melihat Dara menangis terisak, Ais tidak tega. Dijanjikanlah hal-hal semu itu untuk menenangkan Dara.

“Kayaknya lo lagi bingung sama perasaan lo sendiri, deh, Bang. Gue harap lo cepetan sadar sebelum semuanya terlambat.”

Ais menyisir rambutnya ke belakang, satu embusan napas berat keluar dari mulutnya.

Iya, dia salah. Tapi bagaimana caranya dia keluar dari situasi ini? Padahal sebelumnya Ais ingin menolak perjodohannya dengan Sheril karena dia sudah punya kekasih yaitu Dara. Tetapi ketika dia memasuki ruang kerja Abatinya. Semua nyali Ais yang susah payah ia kumpulkan mati-matian sampai bercucur keringat pun surut. Di tambah bayangan di mana Uminya sangat menyayangi Sheril membuat Ais susah untuk menolaknya. Pasti hati kedua orang tuanya akan kecewa.

***

Ais. Tumben sekali kamu ke sini. Ada apa?” Hamkan melepaskan kacamatanya, rambutnya beberapa beruban. Meskipun sudah bertambah tua, namun Hamkan masih terlihat tampan. Apalagi jambang yang dibiarkan tumbuh di dagunya membuatnya seperti orang Arab. Inilah yang dinamakan semakin tua semakin berkharisma.

“Maaf kalau Ais ganggu Abati kerja.” Belum apa-apa Ais sudah kesusahan menelan ludah.

“Nggak pa-pa. Ayo silakan duduk.”

Ais merasa seketika otaknya menjadi buntu. Ia menebak-nebak apakah senyum hangat Abatinya akan berubah murka setelah dia mengutarakan keinginannya untuk membatalkan pernikahannya dengan Sheril?

“Ais mau ngomong soal pernikahan Ais sama Sheril, Abati.”

Hamkan tersenyum teduh. “Soal itu kamu jangan khawatir. Biar kami yang urus. Semoga semuanya berjalan dengan lancar sampai hari H, oke?”

Tidak! Bukan itu yang Ais maksud! Dan bukan itu pula jawaban yang Ais harapkan.

Namun ucapan Abati berikutnya membuat mata Ais membola, tercengang.

“Satu lagi. Setelah kalian resmi menikah. Abati bakalan nyerahin HAKA Group ke kamu buat kamu kelola. Bagaimanapun juga kamu akan menjadi kepala keluarga dan harus menghidupi keluarga kamu.”

A-apa?

Abati akan memberikan perusahaan kepadanya?

Ais kehilangan kata-kata. HAKA GROUP adalah perusahaan keluarga mereka yang bergerak di bidang property. Ais tahu sebagai salah satu keluarga Wijaya kelak dia akan mendapatkan bagian dari itu semua. Tapi Ais tidak mengira jika posisi sepenting itu akan diserahkan kepadanya dalam kurun waktu singkat.

Dan lagi... jika dia menjadi penerus HAKA Group, maka artinya dia akan memiliki uang, kekuasaan, nama, dan sebagainya.

Ais menggenggam erat pinggiran kursi tempatnya duduk. Itu artinya dia bisa memiliki banyak uang untuk biaya pengobatan Dara. Dia juga bisa membahagiakan Dara secara materi, memberinya kehidupan yang layak. Meskipun Ais tahu, harga yang harus dibayarkannya adalah dia harus menikah dengan wanita yang tidak dicintainya, yang pasti bukan Dara.

Maka dari itulah malam itu Ais mengurungkan niatnya membatalkan pernikahan. Dia tidak berpikir panjang, di otaknya adalah dia ingin Dara bahagia.

***

“Bang, lagian lo nggak takut gitu kalau nanti Om Sean tahu anak kesayangannya lo buat nangis?”

Deg! Ucapan Aim barusan seolah menamparnya ke kenyataan.

Seketika atmosfer di tempat ini menjadi dingin membuat Ais dan Aim merinding. Be-benar juga kata Aim. Apa yang akan terjadi jika Om Sean tahu hal ini? Mana Sheril putri kesayangannya lagi.

“Mampus lo, Bang. Bisa-bisa disunat dua kali si joni, Bang,” timpal Aim menakut-nakuti Abangnya.

“Diem lo,” Ais melempar kartu gaple tepat sasaran ke wajah adiknya.

Tiba-tiba Ais terpikiran sesuatu. Yang sedari dulu mengganjal di hatinya tetapi lupa ia tanyakan ke saudaranya karena tidak sempat.

“Bukannya dari dulu lo yang suka sama Sheril? Terus, kenapa bukan lo aja yang nikahin dia?”

Ya, karena Sheril sukanya sama lo, Bang!

Ingin rasanya Aim menjawab sedemikian rupa. Tapi kenyataanya Aim hanya bisa meminum kopinya sambil bersumpah serapah dalam hati.

“Dih! Mana ada. Ya, kali, Bang gue suka sama Sheril. Emangnya lo kira ini sinetron Ind*siar apa di mana Aku menikahi istri kakakku,” balas Aim mengelak.

Ais bersedekap dada. Meskipun dia tahu kalau dia ini manusia kurang peka di dunia ini. Tapi intuisinya dapat merasakan kalau adiknya memiliki rasa lebih kepada Sheril. Setidaknya cara Aim memperlakukan Sheril itu berbeda dari wanita-wanita lain yang mencoba mendekatinya. Hanya Sheril saja yang tidak Aim panggil dengan sebutan lo-gue. Terlebih ketika Aim berada di dekat Sheril, Ais merasa kalau Aim suka curi-curi pandang.

“Nggak usah bohong lo. Gue itu Abang lo yang udah hidup sama lo bertahun-tahun lamanya. Jadi wajah lo kelihatan banget kalau lo lagi ngelak dari pertanyaan gue,” tambah Ais penuh selidik.

Aim terkekeh, kemudian meletakkan pelan cangkir kopinya di atas meja.

“Orang kayak gue ini mana mungkin Bang ngedapetin Sheril.”

Dahi Ais mengerut mendengarnya. “Kenapa gitu?”

“Ya, secara Sheril itu anak kesayangannya Om Sean, Bang. Hidupnya kayak princess di dunia nyata. Dia pengin apa tinggal sebut pasti keturutan.”

Ais masih betah mengerutkan dahi. Menurutnya alasan adiknya itu sangat tidak logis.

“Gue sadar diri Bang kalau gue nikah sama Sheril. Gue nggak bakalan bisa ngebahagiain dia,” tambah Aim sambil menyandarkan punggungnya pada kursi, pandangannya menerawang lurus ke langit-langit ruangan.

Kenyatannya, meskipun jarak kelahirannya dengan Ais hanya beda setengah jam. Tapi yang pasti kelak perusahaan Abati akan diberikan kepada kakaknya untuk dipimpin. Alasannya karena Ais adalah anak pertama.

Sedangkan dirinya? Palingan hanya akan diberi jabatan manager atau ketua divisi oleh Abati.

Meskipun begitu Aim tidak pernah iri kakaknya. Malahan Aim merasa menjadi pemimpin perusahaan itu tidak enak. Dia yakin pasti bok*ngnya akan panas karena berlama-lama duduk di kursi kerja.

Kembali ke Sheril...

Ah, tidak usah dijelaskan lagi pun semua juga tahu kalau Sheril itu anaknya sultan. Sedari kecil Sheril sudah hidup enak. Apa pun yang dia minta pasti Om Sean berikan. Orang lontang lantung seperti dirinya ini mana bisa membahagiakan Sheril? Membahagiakan secara materi saja Aim tidak bisa, apalagi secara hati? Toh, yang dari kecil disukai Sheril itu Abangnya.

Kalau sudah membahas materi memang sensitif bagi laki-laki.

“Itu artinya lo nggak berjuang buat ngedapetin Sheril! Kalau lo cinta sama dia, harusnya lo bilang ke Abati. Pasti Abati bakalan bantu ngomong ke Om Sean!”

Sekarang Ais merasa kesal dengan penuturan adiknya. Sisi egoisnya menyalahkan Aim. Andai saja waktu itu Aim tidak diam saja pasti yang saat ini dinikahinya adalah Dara!

“Dan lagi, Sheril itu bukan cewek yang mandang seseorang dari hal ‘remeh’ kayak gitu.”

“Lo sendiri gimana? Emang udah berjuang buat cewek yang lo cinta?” Aim membalikkan perkataan membuat Ais kalah telak. Sunggingan senyuman di wajah Aim terlihat mengejek. Tapi apa mau dikata, itulah faktanya.

Fakta kalau dia pengecut.

Fakta dia tidak memperjuangkan Dara mati-matian.

Setelah itu mereka terdiam, lengang menengahi hingga berkonfrontasi tersebut mulai mereda.

Ais menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya lewat mulut. Padahal dia keluar hendak mencari angin segar supaya tidak stress. Tapi berdebat dengan Aim malahan membuat pikirannya semakin keruh.

“Kalau lo nggak suka sama dia, lebih baik lo tinggalin dia, Bang. Mumpung kalian belum jauh,” gumam Aim. “Gimana pun juga, Sheril punya perasaan, Bang.”

Ais membuka mulut, hendak menjawab, namun terkatup lagi ketika dia melihat dari kejauhan ternyata Hendra dan temannya sudah kembali dari supermarket sambil menjinjing dua kantung keresek penuh berisi camilan yang tadi ia pesan.

Ais merasa lega, ia berdiri dari posisi duduknya.

Akhirnya kecanggungan ini berakhir juga.

“Gue ke kamar dulu. Camilannya buat kalian aja. Plus jangan begadang!” tambah Ais berdiri dari posisi duduknya.

Aim memutar bola mata ke atas. Kakaknya ini cerewet sekali.

“Bang!” Ketika Ais baru berjalan beberapa langkah, Aim memanggilnya sehingga membuatnya berhenti.

“Gue penasaran sama satu hal. Emangnya selama ini lo nggak pernah ngelihat Sheril dari sudut pandang laki-laki, ya, Bang? Lo nggak nafsu gitu sama dia? Secara, kan, dia... seksi.”

Aim yang normal saja sampai hampir meneteskan liur ketika men-stalking foto-foto Sheril di I*******m. Apa iya kakaknya itu tidak pernah berpikiran yang tidak-tidak tentang Sheril? Kalau begitu hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, Joni Kakaknya benar-benar bermasalah. Kalau tidak, ya, bisa saja peletnya si Dara alias dada rata Itu ampuh sekali sampai-sampai membutakan kakaknya.

“Kalau lo ngomong kayak gitu lagi, gue beneran bakal ngehajar lo!”

Terkekeh, Aim menggelengkan kepala. Yah, setidaknya kakaknya itu betulan marah dan tidak terima ketika Sheril disinggung seperti itu.

***

Ais tiba di kamarnya yang masih bercahayakan remang. Ternyata Sheril masih tiduran miring ke samping.

Sejenak... ada satu hal yang membuat pipi Ais memanas.

Kenapa Ais tidak melihat garis Bra Sheril dari belakang? Apa iya perempuan ini tidur hanya mengenakan baju setipis itu?

Ais mengambil selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Sheril mungkin kedinginan.

Ketika hendak menaikkan selimut sampai atas, gerakan Ais terdiam. Kulit bahu Sheril saja putih dan halus. Apalagi kulit lainnya yang tertutup kain?

Ais seolah tergerak sendiri. Dia mendekatkan kepalanya ke arah tubuh Sheril. Matanya terpejam. Indra penciumannya menghirup bau vanilla dari parfum yang Sheril kenakan. Sangat manis. Bahkan hidung Ais hampir menyentuh kulit bahu Sheril.

“Pokoknya kalau kamu cinta sama aku. Kamu harus janji sama aku kalau kamu nggak bakalan tidur sama dia.”

Tersentak. Buru-buru Ais menarik diri ke belakang. Layaknya pantangan, Ia teringat perkataan Dara.

Napas Ais kembang kempis. Padahal ini haknya sebagai suami. Tapi kenapa dia seperti orang bodoh yang menahan nafsunya ke pasangan halalnya?

“Bang... Gue penasaran sama satu hal. Emangnya lo selama ini nggak pernah ngelihat Sheril dari sudut pandang laki-laki, ya, Bang?”

Sial! Kini gantian ucapan Aim yang terngiang di kepala.

Yang jelas Ais pernah melihat Sheril dari sudut pandang laki-laki.

Ais memejamkan mata, berharap kantuk meluruhkan pikirannya yang tak karuan. Sampai kapan pun Ais memantapkan diri tidak akan menyentuh Sheril.

Karena itu janjinya. Janji kepada Dara.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nova Ugara
aim...kamu lucu yaa...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 5 – Flashback Lamaran

    Sejak kecil Sheril memang dimanja oleh kedua orang tuanya. Apa pun yang ia inginkan, pasti akan dituruti. Pun juga, mungkin salah satu alasan Sean menjodohkan putrinya dengan Ais karena sejak kecil Sheril sangat menyukai Ais. “Mommy Celil pengin cepedaaaa!” Suara cempreng anak berusia tujuh tahun menggema memenuhi ruangan. April memijit keningnya, pusing bukan main. Astaga, padahal rumah ini sangat besar tapi bisa-bisanya teriakan Sheril terdengar di mana-mana. “Mommy Pleasee, beyiin Celil cepeda,” mohonnya lagi untuk kesekian kalinya sambil menampilkan ekspresi sememelas mungkin. “Nggak Sheril. Kan, Mommy udah bilang kalau kamu mau sesuatu itu kamu harus nabung dulu buat ngedapetin apa yang kamu mau.” Sheril tidak mau mendengarkan penjelasan Mommy-nya. Pokoknya dia tidak akan berhenti menangis sampai keinginannya dituruti. “Lagian kamu kemarin udah beli barbie satu set, lho, ya. Inget nggak?” tambah April mengingatkan.

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-28
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 6 – Perjodohan yang Tak Diinginkan

    “Maksud Om apa?” tanya Sheril, bingung. Dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. “Om pengin ngejodohin kamu sama AIS.” Mendengar pernyataan tersebut seketika mata Ais membola. Ia terkejut bukan main. Saking terkejutnya sampai-sampai tanpa disadari Ais berdiri dari posisi duduknya. A-apa? Sheril hendak dinikahkan dengannya?! Jelas saja Ais marah. Kenapa orang tuanya tidak mendiskusikan hal ini dengan dirinya terlebih dahulu?! Padahal pernikahan bukan hal sesepele itu. Tadi Umi dan Abati juga mengatakan kalau tujuan mereka datang ke sini hanya untuk makan malam, bukan lamaran. “Kamu kenapa, Ais?” Anha mengerutkan kening. Anha cukup tertegun dengan reaksi putranya barusan. “Mungkin saking senangnya karena mau dinikahkan sama gadis secantik Sheril makanya Ais jadi kaget kayak gitu,” tambah Hamkan membuat semua orang yang berada di ruang makan tertawa. Namun hal tersebut tidak berlaku kepada Aim, Ais d

    Terakhir Diperbarui : 2021-07-01
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 7 - Goyah

    Ais menarik napas dalam-dalam. Tatapannya mengarah ke atas, menatap kosong langit-langit ruangannya yang berwarna putih bersih. Alasan dia akhirnya berubah pikiran dan mau menikah dengan Sheril adalah; Abati menjanjikan memberikan jabatannya kepadanya. Itu artinya dia memiliki uang untuk mensejahterakan kehidupan Dara. Alasan yang kedua, Umi sangat menyayangi Sheril. Anggap saja menikah dengan Sheril adalah salah satu bentuk baktinya kepada Umi. Lalu alasan ketiga, Ais tidak mau mengecewakan banyak hati. Biarlah dia berkorban asal keluarganya bahagia, asal Om Sean dan Tante April bahagia. Bahkan untuk saat ini Ais masih belum tahu apakah esok dia bisa jatuh cinta kepada Sheril seperti kata kebanyakan orang tentang cinta datang karena terbiasa. Ais merubah posisinya ke samping. Ia menyentuh rambut hitam Sheril yang sudah tertidur pulas. Merabanya secara perlahan. Merasakan gesekan satu per satu sulur rambutnya deng

    Terakhir Diperbarui : 2021-07-10
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 8 – Pelakor Lebih Galak

    Dara menatap kedua baju yang tergeletak di atas ranjangnya. Yang satu berwarna cokelat dan satunya lagi berwarna tosca. Ia bingung harus memilih yang mana karena semuanya terlihat sangat cantik. Ponsel Dara yang berada di saku bergetar, tanda satu pesan w******p masuk. Ais: Kamu suka bajunya? Dara mengukir senyuman. Kemarin Ais membawakannya banyak sekali baju kerja dan juga baju harian. Dara: Suka banget! Makasih, ya. Memangnya wanita mana yang tidak suka diberi hadiah seperti ini. Ais: Iya, sama-sama. Ini aku lagi urus surat pembelian apartement buat kamu biar bisa segera kamu tempati. Dara: Ya, ampun! Seharusnya kamu nggak usah repot-repot tau sampai kayak gitu. Ais: Nggak pa-pa. Emang dari dulu aku pengin beliin ini buat kamu. Tidak pernah Dara sebahagia ini sebelumnya. Tempat tinggal yang nyaman, pekerjaan bagus, serta baju

    Terakhir Diperbarui : 2021-07-17
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 9 – Menikah Tetapi Belum Pernah Begituan

    Jari lentik Sheril menekan enam digit tombol kombinasi pada badan pintu. Sebenarnya sampai saat ini Sheril masih bingung kenapa pula pemilik tempat ini memberi tahu kode tempat tinggalnya kepada Sheril. Meskipun mereka sudah kenal cukup lama, tapi apa iya orang itu tidak takut kalau rumahnya Sheril bobol? Mengedikkan bahu, acuh tak acuk, Sheril pun memutar knop pintu ke bawah. Tapi ommong-omong orang itu ada di rumah tidak, ya? Dia memiliki jadwal kerja yang fleksibel jadi Sheril akan semakin marah jika orang itu tidak ada di dalam. “Mahen! Kamu di dalem, kan?!” teriak Sheril setelah pintu tersebut terbuka. Mahen adalah satu-satunya sahabat yang Sheril miliki. Ia kakak tingkat sewaktu Sheril masih kuliah. Pria yang dicari itu mendesah lelah. Pasti selalu ada keributan jika Sheril berkunjung ke tempatnya. “Dasar berengsek! Sahabatnya nikahan tapi bisa-bisanya kamu nggak dateng!” sembur Sheril memekakkan telinga. “Ya, kan, waktu

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-03
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 10 – Sebenarnya Cemburu

    Ais membuka pintu kamar, ia kelepasan mendorongnya agak keras sampai menimbulkan dentuman membuat kedua orang yang berada di dalamnya terkejut. Mulut Sheril masih menganga, popcorn yang tadi hendak ia masukkan ke dalam mulutnya pun terjatuh ke bawah. Astaga! Kenapa pula suaminya tiba-tiba mendobrak pintu segala! Bikin kaget saja! “Ka-kalian lagi ngapain?” tanya Ais tergagap. “Lagi nonton.” “Kenapa? Mau nonton bareng?” tambah Mahen sambil menyodorkan cup berisi popcorn ke arah Ais. Ais masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia tidak tahu kenapa dia bisa bertindak seperti ini. Kakinya seolah tergerak sendiri menaiki anak tangga, lalu dia juga mendobrak pintu kamarnya. Bahkan Ais sampai sudah berpikiran yang tidak-tidak mengenai Sheril dan Mahen. Tetapi dibanding itu semua, keheranan Ais menggunung tatkala mengetahui ternyata di dalam kamar Sheril dan Mahen sedang menonton kartun dua ulat bodoh—yang satu berwarna

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-03
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 11 – Sedikit Kemajuan Hubungan

    Meskipun kemarin merupaka hari yang buruk bagi Sheril. Tapi malam ini dia memimpikan sesuatu yang indah. Sesuatu yang semanis permen kapas sampai membuatnya tersenyum dengan mata terpejam. Di mimpinya itu, Sheril yang masih kecil memegangi sepedanya kuat-kuat, ia takut terjatuh. “Kak Ais jangan dilepasin, ya. Sheril belum siap,” pintanya dengan mimik wajah memelas. Ais mengangguk. Ternyata meskipun Sheril terlihat pemberani, sampai-sampai pernah bertengkar dengan Kakak kelasnya, tapi dia bisa merasa ketakutan juga. “Iya Kakak Pegangin. Jangan takut. Lagian, kan, pakai roda tambahan di belakang juga.” Meski begitu Sheril masih takut, roda tambahan yang dimaksud hanya dipasang sebelah kanan kanan saja, hal itu tentunya tidak menjamin Sheril dapat menaiki sepedanya dengan seimbang. “Alah tinggal diinjek aja pedalnya. Paling kalau jatuh cuma nyungsep ke got. Nggak bakal sampai mati, kok. Tenang aja,” celetuk Aim yang dari tadi menyaksikan

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-03
  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 12 – Hari Sial Untuk Dara

    Ini adalah hari pertama Dara masuk kerja. Dia sampai terkagum-kagum melihat kantor utama HAKA Group yang sebegitu besarnya. Pun sama, ketika Dara iseng melihat toilet karyawan. Toiletnya sangat bersih dan wangi. Dara tersenyum senang, perusahaan keren ditambah bekerja bersama dengan Ais, mantan kekasihnya tercinta. Ah, benar-benar dua kombinasi komplit! Dara yakin dia akan betah kerja di sini. Ketika Dara beberapa menit memasuki bagian toilet. Dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ada beberapa kaki dengan hels hitam yang melintas di biliknya. Mengedikkan bahu, Dara acuh. Mungkin mereka karyawan lainnya yang bekerja di sini. “Eh, eh. Kalian denger nggak, sih, kalau sekarang Pak Ibrahim sama Pak Uwais naik jabatan.” Dara hanya tersenyum menyimak. Padahal zaman dulu warung kopi adalah tempat istimewa yang digunakan orang-orang untuk bergosip ria, tapi sekarang ternyata pertukaran informasi bisa di mana saja, terutama toil

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-03

Bab terbaru

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Extra Bab

    Clayton menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seirama dengan langkah kakinya membuat orang-orang yang berada disekitarnya merasa gemas. Ditambah Clayton menggunakan baju kuning dengan topi bebek semakin membuat siapa pun yang melihatnya ingin menggigit pipi bakpao-nya itu. “Dasar bebek!” saking gemasnya Jayden pun memukul bokongnya. “Ish nakal!” Protes si gembul mengerucutkan bibir. Akan tetapi kekesalan Clayton tak berlangsung lama. Kini dia sudah lupa dan melanjutkan kembali perjalanannya. Bibir mungil Clayton menyanyikan lagu yang liriknya tidak jelas—hanya dialah dan Tuhan yang tahu. “Hati-hati jalannya, Clay,” ucap Sheril mengingatkan karena Clayton yang semula berjalan biasa kini mulai penasaran naik naik ke pembatas jalan. “Iya mamaku yang tantik.” Jalan menuju champ tempat mereka berpiknik memang cukup jauh dari arah pintu masuk. Untung saja mereka datang pagi sekali jadi mereka tidak kepanasan. “Clayton jangan lari-lari!” teriak Sheril untuk kesekian kalinya. S

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   TAMAT

    Meskipun ini hari weekend, tetap saja dari pagi sampai siang Ais masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya.Ais terlihat sedang duduk di sofa ruang keluarga, jari tangannya sibuk menekan tuts keyboard pada laptop yang sedang dipangkunya. Sedangkan di sebelah tempatnya duduk saat ini juga ada si gendut yang juga ikut-ikutan sok sibuk menonton kartun di youtube.Sesekali Ais mendesahkan napas lelah, jujur saja suara musik dari video yang tengah ditonton si gendut membuyarkan pikirannya. Dia tidak dapat fokus sama sekali.“Kecilin volumemu, Clayton. Papa lagi kerja,” ucap Ais kepada anaknya namun Clayton tidak mau menurutinya.“Clay bosen, Pa. Mama nggak ada di sini!” gerutu si gendut sambil bersedekap dada. Ais melirik ke samping dan melihat putranya masih betah menggembungkan pipinya lantaran kesal karena tadi dia tidak diizinkan Mamanya untuk ikut ke salon.“Bentar lagi pasti Mamamu pulang, kok,” balas Ais sekenanya. Ia pun melanjutkan kembali pekerjaannya.Meski mata Ais sibuk menata

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 55 - Rahasia Besar Itu

    Mata Dara membola melihat kedatangan Sheril yang tak diundang ke kediamannya.“Ka-kamu....” ucap Dara terbata.Kenapa bisa Sheril datang kemari?Ketika Dara hendak menutup pintunya, Sheril dengan sigap menahan pintu tersebut sembari berkata, “Bukannya ada suatu hal yang perlu kita bicarakan, Dara?”Senyuman miring terukir jelas di bibir merah Sheril.Dara mulai cemas, ia mengeratkan giginya lantaran ketakutan, saat ini Dara tidak mengharapkan kedatangan Sheril di kediamannya.Seketika Dara mendorong pintu ruangannya lagi agar Sheril tidak masuk ke dalam. Namun sayangnya Sheril dapat menahan pintu tersebut dan merangsek masuk ke dalam.“Kamu nggak sopan banget, sih! Pergi nggak!” teriak Dara namun yang diteriakinya malahan dengan santainya bersedekap dada.“Apa kayak gini caramu menyambut seorang tamu? Ramahnya...." ejek Sheril tertawa sarkastik.Dara yang sudah habis kesabarannya pun mengambil vas bunga yang berada di atas meja dekat tempatnya berdiri lalu Dara mengayunkan vas bunga

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 54 - Keguguran

    “Tolong makanan yang itu dibawa ke sana, ya?” ucap Mama April menyuruh salah satu pelayan yang sedang mengangkat baki makanan untuk menuju ke meja tamu yang tadi telah ditunjuknya tadi. Pelayan tersebut mengangguk dan melaksanakan tugasnya dengan baik.“Huft, capeknya,” keluh Mama April menyeka keringat yang menetes di keningnya. Meskipun mereka sudah menyewa jasa untuk acara baby shower ini, namun tetap saja rasanya dari tadi tidak selesai-selesai. Mungkin itu semua karena keluarga besar mereka menggelar acara ini secara dadakan.Bagi yang tidak tahu, Baby shower adalah suatu pesta yang diadakan untuk ibu dan calon bayinya. Biasanya mereka akan memberitahu semua orang yang hadir apakah bayi tersebut laki-laki atau perempuan dengan cara ada yang menuliskan jenis kelamin si bayi di lembar kertas yang disembunyikan di dalam kue tart, ada juga yang menggunakan balon dengan dua jenis warna berbeda sebagai penanda. Contohnya; balon warna biru untuk jenis kelamin laki-laki sedangkan balon

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 53 - Malam Pertama

    “Sekarang buka bajumu.”Ucapan Ais barusan membuat pipi Sheril bersemu.Bukannya menuruti perintahnya untuk membuka baju, Sheril malah menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh.“Apaan sih, Mas!” teriak Sheril untuk menyembunyikan rasa malunya. Bisa-bisanya suaminya sefrontal itu kepadanya.“Apanya yang apa?” tanya Ais keheranan. Padahal, kan, niat Ais menyuruh istrinya membuka bajunya agar dia dapat membersihkan bekas kopi serta membantunya mengoleskan obat luka untuk Sheril.Ya, begitulah Ais. Sifat tidak pekaanya belum seratus persen hilang darinya.“Nggak mau!” pipi Sheril semerah udang rebus. Meski mereka sudah menikah tetap saja ia malu. “Terus gimana caranya aku ngolesin obat ini kalau kamu nggak mau buka baju?”Mendengar hal tersebut barulah ekspresi Sheril yang semula malu-malu kucing berubah menjadi datar. Ck, memangnya siapa yang tidak kesal jika berada di posisi Sheril?! Kalimat suaminya saja ambigu seperti itu! Padahal tadi Sheril kira Mas Ais menyuruhnya membuka baj

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 52 - Buka Bajumu

    “Jadi siapa aja yang tahu kalau kamu sebenernya nggak sakit?” tanya Ais mengintrogasi istrinya yang saat ini menampilkan wajah memelas agar tidak dimarahi.Pukul setengah satu malam, mereka baru merebahkan diri di atas ranjang setelah drama tadi tentunya.“Umm... yang tahu Papa, Mama, Abati, Umi, teruss....” Ais yang semula menyandarkan kepalanya di dada Sheril pun menyipitkan mata, menatap istrinya yang saat ini sedang menahan tawa.“Kalian keterlaluan tahu nggak, sih!”Mendengar hal tersebut tawa Sheril malahan semakin meledak.“Aim sama Mahen juga tahu.”Wajah Ais tercengang. Ba-bahkan mereka juga tahu?“Awas, ya, kapan-kapan aku bakalan bales kamu!”Ais membenamkan wajah ke tubuh Sheril lagi membuat Sheril terkekeh. Kenapa suaminya mendadak bersikap seperti anak kecil seperti ini, sih? Uh gemasnya. Apakah seorang laki laki jika sudah cinta kepada pasangannya akan bersikap seperti ini?“Mas geser, dong. Sesak tahu!” protes Sheril karena dari tadi suaminya tiduran di dada Sheril.Bu

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 51 - Happy Ending atau Sad Ending?

    “Mas Ais... please bukain pintunya,” pinta Sheril sambil menggedor-gedor pintu ruangan suaminya. Dia tidak menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini.Sheril yakin pasti suaminya sangat kecewa terhadapnya. Mana ada orang yang tidak marah ketika ditipu selama berbulan-bulan? Namun sungguh bukan seperti itu maksud Sheril.Waktu itu–tepatnya ketika dulu Sheril kabur dari rumah dan menginap di hostel. Papa Sean yang merasa hubungan rumah tangga putrinya dengan Ais tidak ada perkembangan sama sekali merasa prihatin. Terlebih lagi Sheril terlihat begitu menyukai Ais dan enggan bercerai dengannya. Akhirnya Papa Sean dan Mahen terpikirkan suatu ide yakni bagaimana jika Sheril melakukan hal serupa seperti apa yang selama ini dilakukan oleh Dara? Yakni berpura-pura sakit keras.Mahen pernah menyelidiki tentang penyakit yang diderita Dara karena dia adalah adiknya. Di situlah Mahen mulai mengetahui kalau ternyata selama ini Dara hanya sakit anemia alias kekurangan darah yang meny

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 50 - Sheril Meninggal

    “Sheril, kamu kenapa Sheril!”Ais begitu panik, kenapa istrinya tiba-tiba seperti ini? Padahal tadi sore Sheril masih baik-baik saja.“Bibi!” teriak Ais dari dalam kamar memanggil pembantunya untuk meminta bantuan. Namun sayangnya sudah beberapa kali Ais mencoba memanggil mereka namun tidak ada satu orang pun yang datang kemari.Padahal dia mempunyai tiga pembantu, tetapi kenapa tidak ada satu orang pun yang bergegas datang kemari, sih?Akhirnya Ais hanya mampu berdecak kesal.“Sheril bangun Sheril. Aku mohon jangan buat aku khawatir kayak gini, “ ucap Ais sembari menepuk nepuk pipi istrinya berharap agar Sheril segera membuka matanya.“Sheril....” wajah Ais semakin pasi. Peluhnya menetes ke bawah. Bukannya ini belum genap tiga bulan? Kenapa kondisi Sheril sudah separah ini?“Mass.” Ada sedikit rasa lega ketika akhirnya Sheril membuka kelopak matanya.“Sayang, kamu nggak pa-pa, kan? Kenapa kamu bisa berdarah seperti ini?” tanya Ais saksama.Sorot mata Sheril terlihat semakin redup, t

  • Orang Ketiga Di Pernikahanku   Bab 49 - Ciuman

    Sejak kejadian di mana Dara hendak mencelakai Sheril. Entah apa yang Papa Sean lakukan kepadanya, setelah itu tiba-tiba Dara hilang begitu saja bagai di telan bumi. Dia tidak pernah lagi muncul di kehidupan mereka.Terakhir kali kabar yang Ais tahu tentang Dara dari Aim adalah Dara sudah di-blacklist permanent dari perusahaan yang ada di bawah naungan Abati atau pun Papa Sean.Ais tidak ambil pusing akan hal itu. Sejak Ais tahu sifat asli Dara, entah mengapa Ais jadi hilang respect kepadanya.Kini Ais menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja. Kalau diitung-itung lagi, Ini sudah memasuki dua setengah bulan sejak Sheril dinyatakan sakit oleh dokter, yang itu artinya berdasarkan diagnosa dokter berarti sisa hidup Sheril tinggal 15 hari lagi.Mata Ais menatap dan menerawang jauh ke arah depan, ia menatap kosong kaca jendela yang menampilkan birunya awan di luar sana.Ternyata memang benar kalau waktu mengajarkan kita mengenai banyak hal. Kini yang ada di benaknya hanyalah Sher

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status