Kapal mewah bergerak bersamaan dengan ombak yang cukup besar. Tampak Victor dan Violet memekik bahagia selama berasa di kapal pesiar. Anak kembar itu tertawa menunjukkan betapa mereka sangat bahagia. Amber yang melihat Victor dan Violet tertawa, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan anak kembarnya. “Victor, tangkap aku!” Violet berlarian di kapal, dan dengan cepat Victor menangkap adiknya itu. “Berhasil! Aku berhasil menangkapmu, Violet,” pekik Victor dengan tawa yang cukup kencang. Anak kembar itu saling tertawa, dan membuat Julian serta Amber merasakan kebahagiaan. Tidak ada orang tua di belahan dunia ini yang tak bahagia di kala melihat anak-anak mereka bahagia. “Victor, Violet, ayo makan dulu,” ajak Amber hangat. “Oke, Mommy!” jawab Victor dan Violet menjawab serempak. Mereka duduk di kursi meja makan. Makanan lezat telah dihidangkan pelayan di atas meja. Tampak Victor dan Violet sangat lahap menikmati makanan yang telah terhidang. “Sayang, makan pelan-pelan,” tegur Am
Bukti rekaman CCTV milik asisten Clara sudah ada di tangan Julian. Pagi menyapa yang dilakukan Julian adalah mendatangi kantornya. Sepulang dari berlibur di kapal pesiar, Julian langsung datang ke kantor, sedangkan anak kembarnya berserta Amber pulang. Julian memiliki alasan sendiri kenapa tidak pulang bersama dengan Amber dan anak kembarnya. Tentu alasannya adalah dia ingin segera bertemu dengan sang asisten, dan melihat bukti yang didapatkan oleh asisten pribadinya. “Kerja bagus, Mark,” ucap Julian puas dengan cara kerja Mark. “Langkah apa yang Anda lakukan, Tuan? Apa Anda ingin menjebloskan Nona Clara ke penjara?” tanya Mark ingin tahu langkah yang akan dilakukan oleh tuannya. Julian menyandarkan punggungnya ke kursi. Senyuman puas bertengger di wajahnya. Semua bukti sudah ada di tangannya. Dugaannya tentang Clara menjebaknya ternyata benar. “Sementara ini aku masih belum melakukan apa pun. Bukti yang kau berikan akan menjadi senjataku dalam melawannya,” ucap Julian dengan ser
Saat pagi menyapa, Julian terbangun oleh sinar matahari yang menyelinap masuk melalui celah-celah tirai. Dia mengusap wajahnya, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih melekat. Dengan langkah ringan, dia keluar dari kamar, terhenti sejenak di ambang pintu saat mencium aroma roti panggang yang menggoda dari arah dapur.Amber ternyata berada di dapur, dan sudah sibuk. Rambutnya diikat ke belakang, apron yang melingkar di pinggangnya terlihat serasi dengan semangat pagi yang dia tunjukkan. Di kursi bar pantry, Victor dan Violet masih setengah mengantuk, duduk sambil memegang cangkir susu dan biskuit di tangan kecil mereka. Saat melihat Julian muncul, wajah mereka seketika ceria.“Daddy!” seru Victor dengan suara yang masih mengantuk.“Daddy!” ikut Violet, matanya berbinar-binar melihat ayahnya.Hati Julian menghangat melihat pemandangan itu. Dengan senyum lembut, dia menghampiri anak-anaknya, merangkul mereka dengan penuh kasih sayang. “Selamat pagi, anak-anak. Bagaimana tidur kalia
Pagi itu, Julian bangun lebih awal. Pikiran pria itu sudah dipenuhi oleh meeting mendadak yang harus dihadirinya di kantor. Ini adalah salah satu pertemuan yang akan menentukan kelangsungan proyek besar yang sedang dikerjakan selama beberapa bulan terakhir. Harusnya hari ini Julian tidak datang ke kantor, karena dia sudah berniat bekerja dari rumah untuk beberapa hari ke depan, tapi karena ada meeting mendadak, membuatnya tidak bisa berkutik. Pun dia tak ingin mencari masalah dengan ayahnya. Tanpa banyak membuang waktu, Julian segera mandi, berpakaian rapi, dan bersiap untuk pergi. Namun, ada satu hal yang membuat Julian merasa sedikit berat meninggalkan rumah pagi ini yaitu si kembar. Entah kenapa dia berat sekali kali ini tidak mengantar kembar ke sekolah. Julian biasanya selalu berusaha meluangkan waktu untuk mengantar si kembar ke playgroup setiap pagi. Itu adalah salah satu momen spesial yang tidak ingin dilewatkan. Hanya terkadang dia tak mengantar, jika ada sesuatu hal mende
“Mom, terima kasih sudah datang. Maaf menyusahkanmu harus menjaga kembar.” Amber menyambut kedatangan Gracey, yang datang untuk menjaga kembar. Jujur, dari lubuk hatinya terdalam, dia merasa tidak enak, karena menyusahkan ibu Julian itu. Gracey tersenyum, dan memeluk Amber. “Kenapa harus minta maaf, Amber? Aku sangat bahagia menjaga kembar.” “Grandma datang! Yeay!” Victor dan Violet berhamburan, memeluk nenek mereka. “Cucu Grandma tersayang.” Gracey membalas pelukan Victor dan Violet. Amber tersenyum melihat kedekatan antara Gracey dengan kembar. “Grandma, kenapa datang sendiri lagi? Kami ingin bermain dengan Grandpa juga,” kata Violet mengeluh. “Kalian ingin main dengan Grandpa?” tanya Gracey hangat. Victor dan Violet mengangguk kompak. “Iya, kami ingin bermain dengan Grandma dan Grandpa.” Gracey menatap Amber. “Amber, apa boleh aku membawa kembar ke mansion? Kembar ingin bermain dengan kakek mereka.” Amber tersenyum. “Aku tidak mungkin melarang kembar bermain dengan kakek m
Bibir Julian mendarat di bibir Amber, memberikan lumatan lembut, dan sukses membuat sekujur tubuh wanita itu membeku. Ciuman itu membuat otak Amber menjadi blank seketika. Otak dan hati Amber seakan berperang, tapi sayang kali ini pikirannya lemah. Amber hendak bermaksud menghentikan ciuman panas itu, tapi Julian kini menekan tengkuk lehernya, dan bahkan memberikan belaian di payudaranya. Ya, tindakan Julian semakin melumpuhkan seluruh saraf di tubuh Amber. “J-Julian,” bisik Amber di sela-sela ciuman itu. Julian melepas pagutannya, dan menatap Amber penuh kehangatan. “Kau masih ingin menutupi perasaanmu, hm?” bisiknya di depan bibir Amber. “A-aku—” Lidah Amber kelu, bingung untuk menjawab. Julian menangkup kedua pipi Amber. “Aku menginginkanmu bukan karena aku memiliki kembar darimu. Aku menginginkanmu, memang karena hanya kau yang ada di hatiku. Amber, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku tanpamu.” Hati Amber luluh mendengar apa yang dikatakan oleh Julian. Detik it
Amber tak menyangka Julian akan membawanya ke sebuah restoran mewah yang ada di Brooklyn. Ini bukan hanya sekadar restoran biasa, tapi sangat istimewa. Bayangkan saja, Julian menyewa restoran ini khusus untuk mereka makan malam bersama. Julian ingin makan malam bersama Amber, tidak diganggu oleh siapa pun. Meski hanya pengunjung restoran saja, dia tak ingin. Well, billionaire ternama itu memperilakukan pasangannya dengan cara romantis dan manis. Makanan lezat sudah terhidang sempurna di hadapan mereka. Menu makanan yang dipilih adalah menu makanan yang terbaik. Ya, Julian begitu menyiapkan makan malam sempurnanya bersama dengan Amber. “Julian, kenapa kau memesan banyak sekali makanan?” tanya Amber bingung. Pasalnya hanya ada dia dan Julian yang makan, tapi menu makanan yang terhidang sangat banyak. Julian tersenyum. “Aku memilih menu makanan pilihan. Aku ingin kau mendapatkan yang terbaik, Amber.” “Tuan Kingston, kau bisa membuatku sangat gemuk.” Amber tersenyum kala mengatakan
“Grandma, apa Daddy dan Mommy belum menjemputku dan Victor. Mereka masih kencan, ya?” tanya Violet dengan nada polos pada ibunya. Gadis kecil itu duduk di pangkuan Gracey, sedangkan Victor duduk di pangkuan James. Gracey tersenyum lembut mendengar pertanyaan polos dari Violet. “Benar, Sayang. Mommy dan Daddy-mu masih berkencan.” “Kalau begitu jangan mengganggu Daddy dan Mommy. Biarkan mereka berkencan,” sambung Victor dengan senyuman manis di wajahnya. James tampak tak suka dengan percakapan itu. Pria paruh baya itu tampak ingin melakukan protes, tapi tatapan mata Gracey membuat James menahan ucapannya. Pria paruh baya itu memilih untuk menahan diri, tentu demi kedua cucunya. Meski tak menyukai Amber, tapi dia sangat senang akan kehadiran Victor dan Violet. Victor dan Violet menguap, mereka kompak mengantuk. Gracey dan James mengajak dua cucu mereka ke kamar. Baik Gracey dan James telah menyiapkan dua kamar khusus untuk cucu kembar mereka. Kamar untuk Victor didesain dengan nuansa
Alunan musik mengiringi pengantin wanita yang memasuki ballroom hotel mewah yang ada di New York. Amber didampingi James—ayah kandung Julian—memasuki sebuah ballroom hotel. Tampak para tamu undangan tak lepas menatap penampilan Amber yang begitu cantik dan sempurna. Amber seharusnya ditemani oleh ayahnya. Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Hari yang indah itu, Amber ditemani oleh calon ayah mertuanya, karena ayah kandungnya telah berada di surga. Meski ada rasa sedih, tetapi hatinya tetap bersyukur. Kilat kamera wartawan terus terarah pada Amber yang baru saja memasuki ballroom hotel. Seluruh keluarga tersenyum haru bahagia melihat Amber yang hari itu terlihat seperti seorang putri raja yang sangat cantik dan menawan. Hanya satu kata yang menggambarkan Amber hari itu yaitu sempurna. Ya, pernikahan Amber dan Julian diadakan secara mewah. Ribuan tamu yang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari artis ternama, model ternama, hingga pengusaha-pengusaha ternama yang hadir
Langit megah seakan mendukung hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Amber dan Julian. Dua insan yang saling mencintai itu sebentar lagi akan mengikat hubungan mereka lebih sakral—di mana tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut. Upacara pernikahan akan segera diadakan. Amber sudah tampil cantik, dan membuat sang make up artis terkagum. Bukan hanya sang make artis yang kagum, tetapi Jessie yang ada di sana sangat kagun akan penampilan Amber. Tubuh indah Amber terbalut oleh gaun pengantin yang sangat indah. Tiara berlian yang ada di kepala Amber, membuat semua kaum hawa pasti akan menjerit iri. Ya, Amber layaknya seorang putri raja yang akan segera menikah dengan seorang pangeran tampan. Persiapan pernikahan Amber dan Julian benar-benar singkat, tetapi dari segi kesiapan semuanya berjalan seakan telah tertata dengan sempurna. Bisa dilihat dari penampilan Amber yang memukau dan hotel berbintang lima yang dipilih sebagai resepsi, begitu menunjukkan kemewahan.
Amber menyambut kedatangan Julian. Wanita cantik itu memberikan kecupan dan pelukan di tubuh pria yang sangat dia cintai itu. Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Julian baru saja kembali ke kantor. Sementara kembar sudah pulang dijemput oleh sopir. “Kembar di mana?” tanya Julian seraya mengurai pelukan Amber, tapi memberikan kecupan di kening wanita itu. “Kembar sedang di ruang belajar. Mereka sedang menyelesaikan tugas-tugas mereka,” jawab Amber sambil membantu meletakan jas Julian ke tempat pakaian kotor. “Julian, bagaimana harimu di kantor? Semua baik-baik saja, kan?” tanyanya hangat. Julian melepaskan arlojinya, meletakan ke tempat penyimpanan arloji. “Ya, pekerjaanku semua baik. Tadi, ayahku mengubungiku, memintaku untuk tidak terlalu banyak memikirkan pekerjaan. Ayahku memintaku fokus pada rencana pernikahan kita. Tapi, aku sudah menjelaskan padanya, rencana pernikahan kita semua sudah diurus dengan baik. Mark banyak membantuku.” Amber mendekat, memeluk Julian dari belak
Kabar rencana pernikahan Amber dan Julian sudah tersebar di seluruh media. Pemberitaan sebelumnya yang heboh karena kematian Clara, mulai tergantikan dengan berita kebahagiaan rencana pernikahan Amber dan Julian. Dua insan saling mencintai itu bahkan tidak jarang mengumbar kemesraan di publik. Mereka saling menunjukkan cinta mereka yang luar biasa. Ya, ini bagaikan kisah yang tak pernah Amber sangka dalam hidupnya. Wanita cantik itu tidak pernah mengira akan bertemu kembali dengan Julian, dan melanjutkan kisah mereka yang berawal dari sebuah hal yang tak mungkin. Amber dulu terpuruk di saat ayahnya meninggal dunia. Dia merasakan sendiri di dunia. Sampai semua berubah di kala dirinya bertemu dengan Julian—membuatnya dan Julian terlibat hubungan yang sangat rumit. Seperti permainan takdir yang tak disangka-sangka. Hubungan Amber dan Julian tidak seperti kisah romansa yang lain. Mereka penuh lika-liku. Bahkan kejadian buruk kerap menghantam hubungan mereka, tetapi untungnya takdir mem
Amber dan Julian bersama kembar sudah pulang. Tinggal Gracey dan James berdua di mansion megah mereka. Tampak pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda itu terus berpelukan. Lebih tepatnya Gracey tak ingin melepaskan pelukannya pada James. “Jika kau terus menerus memelukku seperti ini, aku bisa mati karena sesak napas,” ucap James dingin, dengan raut wajah datar. Gracey langsung mengurai pelukannya, menatap hangat sang suami. “Maaf, aku terlalu senang akhirnya kau memberikan restu untuk putra kita menikahi Amber. Aku sangat bahagia, Sayang.” “Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan,” jawab James lagi masih dengan nada dingin. Gracey tersenyum lembut. “Saat aku mendengar kau memanggil polisi untuk membantu Julian menyelamatkan Amber, aku sangat bahagia. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar kau bisa memberikan restu agar Amber dan Julian menikah. Ternyata Tuhan benar-benar mendengar apa yang aku doakan. Terima kasih, Sayang.” Sebelumnya, Gracey sudah tahu tenta
Amber membantu Gracey dan pelayan yang menghidangkan makanan ke atas meja makan. Banyak menu makanan lezat yang terhidang. Tampak kembar riang sejak tadi riang dan tak sabar untuk menikmati makanan lezat itu. Namun, sayang di kala kembar riang, Amber malah terlihat muram. “Amber, ayo kita makan. Kembar sudah tidak sabar,” ajak Gracey lembut, mengajak Amber untuk makan bersama. Amber terdiam sebentar. “Tapi, Julian dan Tuan James masih belum turun, Mom. Lebih baik kita tunggu mereka saja.” Gracey tersenyum hangat. “Kau sebentar lagi akan menikah dengan Julian masih saja memanggil James dengan sebutan Tuan James. Harusnya kau memanggil ayah Julian itu dengan sebutan Daddy, Amber.” Amber belum merespon ucapan Gracey. Tentu selama ini dia tidak berani memanggil James dengan panggilan ‘Daddy’, karena dia sadar bahwa selama ini James tidak pernah menyukai dirinya. Gracey yang melihat Amber melamun, langsung menyentuh bahu Amber. “Lebih baik kita makan dulu. Tidak usah tunggu Julian dan
“Yeay! Daddy dan Mommy sudah datang!” Victor dan Violet berseru riang gembira melihat kedua orang tuanya datang. Mereka berlari, menghamburkan tubuh mereka pada kedua orang tuanya itu. Julian dan Amber tersenyum hangat mendapatkan sambutan dari anak kembar mereka. Bisa dikatakan Julian dan Amber sudah tak sabar bertemu dengan anak kembar mereka yang belakangan ini dititipkan di rumah kedua orang tua Julian. “Selama bersama Grandpa dan Grandma kalian jadi anak yang patuh, kan?” tanya Amber seraya membelai pipi Victor dan Violet dengan lembut. Victor menoleh menatap Violet. “Mommy, aku selalu patuh. Violet suka nakal, Mommy. Violet tidak patuh pada Grandpa dan Grandma.” Violet berdecak kesal di kala Victor menyalahkan dirinya. “Aku ini anak yang patuh, Victor! Kau jangan sembarangan bicara.” Victor mengulurkan lidahnya, meledek Violet. “Kau menyebalkan!” Violet hendak memukul Victor, tetapi Amber segera menahan tangan Violet. “Violet, sudah jangan seperti itu,” kata Amber menging
Suasana kafe di Manhattan tampak sunyi dan tentram. Beberapa pengunjung datang, dan tak menimbulkan suara berisik. Bisa dikatakan kafe itu memang tidak terlalu banyak pengunjung. Namun, meski tak terlalu banyak pengunjung—kafe itu memiliki desain klasik yang luar biasa menakjubkan. “Kau Tuan Johan Maes?” tanya Julian, dengan nada dingin di kala tiba di hadapan sosok pria bernama ‘Johan Maes’. Johan mengangguk singkat. “Kau Julian Kingston yang mengajakku bertemu?” balasnya, dengan nada tenang. Julian duduk di hadapan Johan. “Aku senang kau ada di New York, jadi pertemuan kita bisa berlangsung lebih cepat.” Julian meminta Mark untuk mengatur pertemuan dengan Johan Maes—pria asal Belgia—yang menahan perusahaan keluarga Amber. Beruntung Johan sedang ada di New York, jadi Julian bisa segera bertemu dengan pria itu. Johan mengambil wine yang ada di atas meja, dan menyesap perlahan. “Asistenmu Mark bilang kau ingin membahas sesuatu hal yang menguntungkan. Aku lihat profil perusahaanmu
Amber membuka kedua matanya di kala sudah terbangun dari tidurnya, tatapannya mengendar ke sekitar—melihat ke jam dinding waktu menunjukkan pukul delapan malam, tapi dia belum melihat keberadaan Julian. Dia meraih ponsel, bermaksud ingin menghubungi Julian, tetapi belum juga dia menghubungi, ternyata pintu kamar terbuka—dan Julian muncul di ambang pintu. “Julian? Akhirnya, kau pulang.” Amber tersenyum lega melihat Julian pulang, dia mendekat dan memberikan pelukan hangat. “Maaf, membuatmu menunggu.” Julian membalas pelukan Amber, dan mengecupi puncak kepala wanita itu. Amber mendongak, menatap hangat Julian. “Apa Mark membahas pekerjaan padamu?” tanyanya ingin tahu. Julian membelai pipi Amber lembut. “Ya, ada beberapa hal mengenai pekerjaan yang dibahas Mark. Amber, ada yang ingin aku beri tahu.” “Kau ingin memberitahuku apa, Julian?” tanya Amber lembut. Julian menarik dagu Amber, mencium dan melumat lembut bibir wanita itu. “Besok kita harus datang ke pemakaman Clara.” Raut wa