"Iv, kau minta aku tak tidur dengan wanita lain, tapi aku ... aku masih tak bisa lepas dari kecanduan ini. Please, aku sedang berusaha menjadi suami yang baik untukmu, tak bisakah kau membantuku?"Sebagai istri yang baik, Ivy tahu dia tak punya pilihan lain. Lagipula Daniel berjanji, jika dia tak suka, Ivy bisa memintanya berhenti.Ragu-ragu Ivy menganggukkan kepala. Senyum Daniel langsung merekah, dia peluk istrinya penuh kasih dan melabuhkan kecupan lembut ke kedua belah pipi wanita itu."Ayo! Ayah dan ibu sudah menunggu kita di meja makan. Sarapan dulu sebelum kita pulang.""Ok."Daniel mengulurkan tangannya, menggandeng lengan Ivy menuju meja makan."Ivy, bagaimana tidurmu selama? Nyenyak?" Mrs. Forrester bertanya sewaktu melihat menantunya datang."Ya," jawab Ivy singkat, tak bisa mengenyahkan bayangan Mrs. Forrester semalam sewaktu melihat wanita cantik itu."Syukurlah. Ayo makan dulu sebelum berangkat." Mr. Forrester meminta pelayan membawakan mereka sarapan.Semua makan dengan
Ivy mendorong pintu sampai terbuka lebar, matanya menatap dinding-dinding tebal dan kokoh yang terbuat dari batu bata kelabu, jelas kedap suara, menciptakan suasana hening yang menakutkan. Tidak ada jendela di ruangan ini, hanya lampu redup yang menggantung di langit-langit, menyinari sudut-sudut gelap dengan cahaya yang suram. Udara di dalamnya lembap dan dingin, menggigit setiap inci kulit yang terpapar. Di tengah ruangan terdapat sebuah sel yang terbuat dari besi tua dengan karat yang merambat di setiap sisi jeruji. Ivy berjalan mendekat. Pintu besi tersebut mengeluarkan suara gemerincing setiap kali tersentuh, suara yang bergema menembus kesunyian ruangan. Di dalam sel, terdapat sebuah ranjang logam sederhana dengan matras tipis yang tampak sudah lusuh dan kotor. Di sampingnya, sebuah toilet logam yang sudah berkarat menambah kesan muram pada sel yang sempit ini. Di dinding ruangan, tergantung beberapa rantai besi yang telah berkarat. Ivy terkejut mendengar suara erangan di po
Ivy mengenakan bathrobe, dibaliknya gadis itu sudah memakai lingerie yang Daniel belikan.Ia merasa risi, mematut dirinya di kaca besar di walk in closet. Betapa vulgar penampilannya saat ini. Tok! Tok!"Nyonya, boleh saya masuk?" Suara Jenna terdengar."Ya, masuklah!" jawab Ivy, dia berjalan keluar dari walk in closet.Jenna datang dengan membawa nampan berisi segelas air dah satu tablet obat."Apa itu?" tanya Ivy curiga."Tuan minta Nyonya minum vitamin dulu untuk menjaga kesehatan tubuh.""Vitamin? Vitamin apa?" Ivy meraih obat, tak menemukan tulisan apa pun."Tidak tahu Nyonya, ini pesan langsung dari Tuan." Jenna menunduk dalam, menyembunyikan ekspresinya."Aku akan telepon Daniel dulu." Ivy meletakkan obatnya kembali di nampan, sebelum gadis itu meraih ponsel, teleponnya sudah berdering.Ivy terkesiap, ia melihat nama Daniel tertera di sana. Kebetulan sekali. "Hallo!""Sayang, tadi sudah kupesan Jenna membawakan vitamin untukmu, jangan lupa diminum ya. Aku tak mau kau kecapean
Entakan keras Daniel membuat Ivy mengejang, keduanya tungkainya terangkat tinggi di udara dengan jari-jari kaki yang mencengkeram ke bawah.Suaranya teredam gag mouth, goresan merah di lengan menjadi satu-satunya pertanda pemberontakan Ivy. "Dam it! Tubuhmu sungguh candu, Sayang." Daniel menghela napas keras, merasakan kenikmatan duniawi yang tak pernah dia rengkuh bersama wanita lain. "Aku ingin menidurimu sepanjang waktu, membuatmu mengandung penerus Forrester. Ah tidak! Kalau kau hamil, kita tak akan bisa melakukan kesenangan ini lagi." Kedua tangan besarnya memerangkap wajah Ivy. "Sangat cantik, ah ... Ivy, kau seperti obat terlarang." Ia melabuhkan ciuman panas, meraup bibir Ivy walaupun bola tersebut masih menyumbat mulut istrinya.Saliva Ivy tak bisa dibendung, menetes keluar. Tanpa merasa jijik, Daniel mengeluarkan lidah, menjilat sekitar bibir Ivy sampai ke dagunya. Sementara itu ia terus bergerak konstan, mengempur bagian bawah sang istri."Aku suka semuanya yang ada pada
Tangan Daniel mencengkeram kedua lengannya. "Sekarang saja ya, kau membuatku tak tahan lagi!" Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Ayo guys! Kita berpesta malam ini!" Beberapa pria besar masuk ke dalam kamar di basement. Ivy ketakutan, Daniel langsung menariknya keluar dari bathtub. "Lihatlah! Betapa cantiknya Kucing Manisku.""No!" Ivy memberontak ketakutan, tapi dia tak bisa menggerakkan satu inci tubuh pun.Para pria itu mengelilinginya seperti serigala kelaparan. Daniel tertawa, mundur menjauh melihat beberapa pria berotot itu menarik kaki dan tangan Ivy sampai terbuka lebar. Dia tampak sangat menikmati, mata hijaunya berkilat senang. Ivy menangis ketakutan, berteriak putus asa. "Please, Daniel. Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa?!""Karena kau milikku, aku sudah membelimu. Aku sudah membayar mahal. Kau harus melakukan apa pun yang aku katakan.""Aku istrimu! Daniel! Jangan biarkan mereka menyentuhku, please!"Daniel tertawa semakin keras. "Silakan guys! Puaskan hasrat kal
Angin dingin yang menerpa wajah Ivy, membuatnya menutup jendela. Ia menoleh menatap Christian lagi. Pria itu juga menoleh di saat bersamaan. Keduanya saling menatap sebelum Christian kembali beralih ke jalanan. "Nyonya mau ke mana?""Panggil Ivy saja." Ivy merasa risi, apalagi Christian sudah membantunya sampai sejauh ini.Diam-diam Christian mengulas senyuman. "Ok," jawabnya pelan. "Aku mau bertemu Molly, tolong antarkan ke rumahnya." Ivy menyebutkan alamat sahabatnya.Christian mengangguk. Ia membelokkan mobil ke jalan yang dimaksud. "Christ ....""Ya?""Apa tak masalah ... maksudku, bagaimana kalau nanti Daniel mencariku?""Tak usah khawatir, aku akan mencari alasan.""Aku takug kau juga mendapat masalah."Christian tertawa kecil. "Sekarang yang harus Nyonya ...." Dia berhenti sebentar karena Ivy mengernyit tak senang. "Kamu ...." Ekspresinya terlihat lucu karena tak terbiasa berbicara akrab dengan Ivy. Ivy tak bisa menyembunyikan tawa. "Santai saja.""Maksudku, kau yang harus
Kedua bodyguard menghajar para pria penagih utang itu sampai babak belur sementara Daniel mengulurkan tangan, menarik istrinya bangkit berdiri."Kau baik-baik saja?" Tangannya yang besar mengelus kepala Ivy, membetulkan anak rambutnya. "Bos!" Salah satu bodyguard memanggil tuannya."Seret mereka keluar!""Baik, Bos!" Dua pria besar itu menarik ketiga penagih utang yang tak berdaya menuju lift.Daniel menoleh ke arah Molly. "Kau punya utang?"Molly berdiri, berdeham canggung sambil membetulkan rambutnya. Gadis itu terpukau oleh rupa Daniel. Ivy sampai harus menyenggol lengan Molly agar menjawab."Ah, ya. Terima kasih, Tuan. Kau sudah menyelamatkan kami.""Panggil Daniel saja, apa Ivy sudah memberitahumu aku suaminya?"Molly mengangguk kuat. "Sudah."Senyum Daniel terulas, membuat wajahnya semakin menarik. "Kau tak mempersilakan suami temanmu masuk ke dalam?""Ah, ya! Di dalam berantakan.""Tak apa. Kita akan jadi perhatian jika berdiri di depan pintu." Benar saja, tak lama kemudian te
Daniel baru saja keluar dari kamar mandi, dengan tetesan air masih mengalir dari ujung rambutnya yang basah. Rambut hitamnya yang tergerai itu membingkai wajah tampannya, menambah aura yang menggoda. Ivy, yang duduk di tepi tempat tidur, memandangnya dengan mata tak berkedip.Tak bisa dipungkiri, pemandangan itu membuat jantungnya berdegup kencang, seolah-olah setiap tetes air yang jatuh dari rambut Daniel menambah sex appeal sang pria. Ivy menelan saliva, terpesona, sambil berusaha menyembunyikan kagumnya. Dia menyilangkan kaki dan berpura-pura menyisir rambut dengan jari, tapi matanya tetap mencuri pandang ke arah Daniel yang kini sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil di sofa.Ivy sengaja mengenakan gaun tipis berwarna merah muda, matanya berbinar penuh harapan saat berjalan mendekati Daniel. Ivy dengan lembut menarik handuk dari tangan Daniel, berinisiatif mengeringkan rambut suaminya. Wanita itu memberanikan diri duduk di pangkuan Daniel, gaun tidurnya tersingkap sediki
Ivy kehilangan arah dan waktu, saat ikatan tali dan mulutnya dilepas dia sudah berada di sebuah rumah kecil di tempat terpencil. Kendaraan mereka dibawa pergi oleh rekan Nicolas. Dan rumah kayu kecil mereka dikelilingi oleh hutan."Di mana ini?" tanya Ivy cemas, membuka gorden jendela lebar-lebar. Dia bisa melihat pemandangan hijau sampai di kejauhan."Rumah kita mulai sekarang.""Kau mengurungku?" Ivy ingin meledak oleh kemarahan, tapi tetap menahan diri. Bayangan bagaimana Nicolas menikam Daniel masih terngiang jelas dalam ingatannya. "Tidak, kau bebas bergerak di rumah ini. Kau bisa memasak, membersihkan rumah, atau melakukan hobimu. Sini lihat!" Nicolas mendorong Ivy ke jendela kaca samping. "Aku sudah membuat kebun bunga untukmu. Kau bisa membaca sambil melihat pemandangan, kau juga bisa memetik bunga-bunga cantik itu untuk menghias rumah kita."Mata Ivy melebar, pemandangan di luar jendela kacanya memang sangat memukau. Aneka warna dan jenis bunga terhampar di pekarangan, dita
Saat melihat pria itu tersadar, dengan mata hijaunya yang tajam dan menatap Nicolas penuh kebencian, Ivy tanpa sadar menyentuh lengan suaminya.Dia tak tahu apa yang mungkin Daniel lakukan, pria itu bisa saja membunuh Nicolas dengan satu kalimat. Ya! Satu perintah saja, maka bodyguard di luar ruangan akan mengeroyok Nicolas.Dan Nicolas ... Ivy merasa tak mengenalnya setelah dia terluka. Dia tampak lebih berani, menyimpan sesuatu di dalam hatinya yang mungkin akan menggiring mereka ke dalam bencana."Nic ...." Ivy memberi peringatan dengan pandangan matanya. Sayangnya, hal itu membuat hati Daniel semakin panas. Kedua orang di depannya sedang bertukar isyarat, apa mereka meremehkannya karena dia baru bangun dari koma?"Apa yang kalian rencanakan?" Ivy menggigit bibir. "Tidak ada.""Aku tak bertanya padamu, Iv. Tapi dia!"Nicolas menyipitkan matanya. "Kau tentu tahu untuk apa aku kemari.""Kau ingin mengambil istriku?"Nicolas tak menjawab, tak perlu karena dia tahu Daniel hanya memas
Daniel terbangun dari tidurnya yang panjang dengan kepala yang berat, matanya perlahan membuka. Pandangannya samar, dan tubuhnya terasa lemah. Namun saat ia mencoba bergerak, rasa sakit mengingatkannya pada kenyataan—ia baru saja melewati waktu yang lama dalam ketidakberdayaan. Ketika matanya akhirnya menatap wajah Ivy yang ada di dekatnya, ada sedikit ketenangan dalam dirinya. Namun, rasa tenang itu hanya sesaat. Ivy, yang berdiri di samping tempat tidurnya, merasakan perubahan sikap Daniel. Biasanya, matanya akan dipenuhi dengan kehangatan dan cinta, tetapi kali ini, hanya ada kehampaan di sana. Mata Daniel yang biasanya penuh gairah kini terlihat dingin dan jauh."Ivy," suara Daniel terdengar serak, penuh kebingungan. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya masih lemah. "Ya!" Saking bahagianya Ivy sampai memeluk Daniel erat-erat. Lupa bahwa suaminya baru saja membuka mata. "Nyonya, Dokter di sini!" Jenna berseru sambil masuk diikuti oleh dokter dan perawat yang memang standby sewaktu Da
Amy menguji batas kesabaran Ivy dengan mengambil alih semua peran yang biasanya gadis itu lakukan.Amy melangkah masuk ke kamar Daniel tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk mengatakan apa pun. Dengan senyum yang penuh percaya diri, dia memerintahkan pelayan yang ada di sana untuk menyiapkan segala keperluan dan memperbaiki kamar, seolah dia adalah orang yang paling berhak di situ."Ambil air hangat untukku, pastikan semuanya teratur!" perintah Amy tegas. Sang pelayan, meski ragu, segera melakukan apa yang diperintahkan.Ivy berdiri beberapa langkah di belakang, merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Dia menatap Amy tak percaya. Amy bergerak begitu bebas, seolah dia adalah pemilik ruangan ini, sementara Ivy—sebagai istri Daniel—hanya bisa diam di sudut, menjadi orang tersisih.Amy duduk di sisi tempat tidur Daniel tanpa ragu. Dengan gerakan lembut tapi penuh kontrol, dia mulai menyeka tubuh Daniel dengan kain basah, membersihkan wajah pria itu dengan cara yang sang
Ivy dengan rutin membersihkan tubuh Daniel telaten. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengusap wajah suaminya.Ia merindukan suara Daniel, tangan hangatnya, juga kecupan mesra pria itu. "Buka matamu, apa kau tak merindukanku?"Air matanya mengalir turun, ia membawa tangan Daniel menyentuh perutnya sendiri. "Anak kita makin bertumbuh, dia butuh dirimu, Daniel. Please, kembalilah.""Nyonya." Jenna masuk ke dalam ruangan. "Ada tamu yang datang.""Siapa?" Ivy menghapus jejak air mata di wajahnya.Jenna tampak gugup."Ada apa, Jenna?" Ivy menoleh ke arah pelayan pribadinya."Mrs. Forrester datang berkunjung.""Apa?!" Mata Ivy melebar tak percaya. Kenapa wanita itu datang lagi setelah berulah?"Apa saya harus mengusirnya?" tanya Jenna cemas, dia tak ingin nyonyanya menghadapi stres di kala hamil muda."Tidak! Aku akan menemuinya." Ivy merapikan gaunnya, bergegas keluar ruangan. Baru saja beberapa langkah, matanya membelalak saat mengenali seseorang. Jenna mengikuti pandangan nyonyanya. "I
Christian menatap ke bawah, ke arah dadanya, tapi dia tak merasakan sakit. Apa yang terjadi? Christian menoleh, melihat sang gadis menatapnya nanar, memegang dadanya yang berlumuran darah segar."Apa yang—" Christian membuang uangnya, berlari menyambut tubuh gadis malang itu yang jatuh tak berdaya."Dia mau membunuhmu, ja-jadi aku menembaknya. Ini bukan salahku, aku hanya menolongmu!" Seorang pemuda berteriak histeris, dia belum pernah menembakkan pistol, tangannya masih gemetar hebat.Mata gadis itu nanat menatap Christian. "Please! Please!" Ia mencengkeram baju Christian erat, meninggalkan jejak darah di sana. "Please, aku tak mau mati, please. Ugh! Sakit! Sakit sekali!""Hei kau! Panggil ambulans!" teriak Christian, tapi pemuda yang menembak gadis itu tak bisa bergerak, tampak syok."Sialan!" Christian tak membawa ponselnya hari ini, dia berusaha menekan luka si gadis agar darah tak semakin banyak keluar."Aku akan mati, aku akan mati!" Si gadis mulai menangis histeris."Sialan! He
"Kau sampai dengan cepat." Christian tertawa renyah.Amy mendorongnya menjauh. "Ah, aku mungkin sedang horny.""Kau memikirkan Daniel saat bercinta denganku?" Pria itu mengangkat alisnya, tampak muram."Tidak, apa kau tuli? Aku menyebut namamu, tak seperti dirimu yang menyebut nama gadis lain saat bersamaku." Amy berguling ke samping, lalu naik ke atas tubuh Christian."Ah, kau membahasnya lagi.""Aku masih marah setiap kali mengingatnya. Ivy ... Ivy, aahhh ...." Amy mengejek Christian.Wajah Christian memerah malu. "Jangan menyebut namanya.""Kenapa? Karena dia sudah menolakmu?""Karena kau tak pantas menyebut namanya.""Sialan kau, Ti!" Amy menjambak rambut Christian, ia menurunkan wajah dan menggigit bibirnya."Jadi kau pantas menyebut namanya?" Amy membawa keperkasaan Christian kembali memasuki dirinya. "Tidak. Aku pun tak pantas, pendosa sepertiku." Christian mendesah, leher jenjangnya terekspos saat ia mendongak ke atas. Amy mulai bergerak, turun naik, seperti menunggangi kuda
Amy diajari banyak hal, mengalami banyak kegiatan seksual yang bahkan tak pernah dia pikirkan sebelumya. Dari diikat, dicambuk, dipukul, sampai pada dicekik. Mr. Forrester begitu ahli sehingga Amy tak merasa tersiksa. Sensasi bercinta dengan pria itu membuatnya kecanduan. Lambat laun, Amy menjadi menyimpang. Dia tak bisa lagi melakukan hubungan sex tanpa kekerasan.Praktik masokis dari Mr. Forrester berhasil membuatnya Amy yang polos berubah. Pria itu memang menepati janjinya, membeli Amy dari Helga, tapi dia juga melatih Amy menjadi alat transaksi bagi kliennya. Amy belajar berbicara manis, bertindak manipulatif sehingga lawan mudah dilumpuhkan. Dengan kekayaan dari Mr. forrester, Amy menjadi semakin bersinar. Semua pakaian mewah, perhiasan, tas, mobil. Mr. Forrester memberikan apa yang Amy mau.Namun Amy baru menyadari, pria itu tak pernah terikat dengan satu wanita. Mr. Forrester punya beberapa wanita lain di luar sana. Mulanya Amy merasa marah, tertipu, menyangka pria ini mempe
Amy tak menyangka pria tampan itu akan memilihnya malam ini. Masih banyak gadis baru dan primadona berwajah cantik dibanding dirinya. Apa yang pria berpenampilan menarik itu lihat dari dirinya? Amy tak mengerti.Helga juga terkejut, tapi tak berani membantah Mr. Forrester."Lepaskan rantainya, bawa dia ke kamar paling bagus di gedung ini.""Baik, Tuan." Anak buah Helga segera bertindak, membuka rantai Amy dan membawanya ke dalam gedung di sebelah. Mr. Forrester mengikuti dengan rapat di belakang mereka. Amy selalu merasa dunia ini keras dan dingin, terutama ketika berhadapan dengan pria-pria yang hanya melihatnya sebagai objek. Sejak pertama kali bekerja di distrik pelacuran, ia tak pernah tahu apa itu perlakuan lembut atau perhatian tanpa pamrih. Setiap sentuhan yang ia terima selalu kasar, tanpa emosi, dan cenderung penuh paksaan. Namun, malam itu, semuanya berubah.Mr. Forrester, pria yang datang dengan sikap penuh percaya diri, berbeda dari semua yang pernah Amy temui. Begitu d