Home / Romansa / NODA / 4. Pulang

Share

4. Pulang

Author: Novita Sadewa
last update Last Updated: 2022-08-31 13:06:16

4. Pulang.

Bisa aku rasakan, Mas Bian datang dan duduk di sisi sebelahku. "Nye ... apa kamu sudah tidur?" tanyanya lembut, mengusap rambut dan pundakku pun lembut. Aku bergeming, sebisa mungkin menahan kemarahan yang sudah memenuhi dada agar tidak keluar karena bisa saja menimbulkan luka baru.

"Mas tau kamu belum tidur, Nye. Maafkan mas, mas terpaksa melakukannya."

"Apa karena Mas sudah meniduri Luna?" celetukku tanpa sadar.

"Anyelir! Demi Allah, mas tidak segila itu. Mas masih waras dan tau dosa."

"Apa berselingkuh itu bukan dosa?"

"Maaf, Nye. Maaf. Mas sudah berusaha sekuat tenaga mengabaikan rasa itu, tapi mas selalu gagal." Bisa dibayangkan bagaimana rasanya hati ini saat suami sendiri mencintai wanita lain dengan begitu hebatnya? Seolah anak panah menancap tepat di jantungku saat Mas Bian mengatakan tak bisa menahan rasa cintanya pada Luna.

Aku beranjak duduk, dengan sigap Mas Bian membantuku.

"Apa karena aku kurang cantik, pendidikanku putus di tengah jalan? Bukan wanita karier seperti Luna?" Kuberanikan diri untuk bertanya sedemikian rupa. Agar semua jelas.

"Nggak, Nye. Kamu dan Luna punya kelebihan masing-masing. Kamu cantik, sangat cantik. Bahkan, jika laki-laki lain melihatmu pasti akan menyukainya."

"Lalu, Mas?"

Hening.

"Mas mau kamu, tapi mas juga mau Luna."

"Dan Mas lebih memilih Luna karena di hati mas hanya ada Luna. Bahkan saat mas bersamaku, hanya bayangan Luna lah yang ada di benakmu, Mas. Dalam tidurmu pun kamu memanggil namanya dengan mesra. Aku tau, tapi aku memilih diam karena aku tau Mas hanya memenuhi janji pada Ayah," kataku dengan amarah yang meluap-luap.

"Nye, Demi Allah. Mas tidak pernah punya niat meninggalkanmu setelah menikah, Mas memantapkan hati untuk tetap bersamamu. Mas tulus, karena Mas juga sayang sama kamu, meski akhirnya seperti ini," ucapnya meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan erat. Aku tersenyum kecut, ya mana mungkin dia sadar sudah memanggil nama Luna dalam tidurnya.

Aku menghela napas, sebisa mungkin aku bersabar. Untuk apa berdebat jika keputusannya sudah bulat dan tidak bisa lagi di ganggu gugat? Perpisahan akan tetap terjadi, perdebatan hanya sebuah ajang untuk meluapkan emosi saja.

"Besok Pak Tarjo akan menjemputku, kebetulan Pak Tarjo kirim pesanan kue di dekat sini."

Mas Bian menoleh ke arahku, menatapku marah. "Kan, mas sudah bilang, kamu akan tetap di sini sampai anak ini lahir?!"

"Aku bisa gila kalau terus-terusan ada di sini, Mas! Melihat suamiku yang terus bermain gila dengan wanita lain."

"Mas janji nggak akan membawa Luna kemari lagi. Tadi cuma urusan kerjaan, Nye. Ada berkas yang harus Mas tanda tangani."

"Keputusanku sudah bulat, sama seperti keputusanmu. Mas berhak mengambil keputusan, begitu juga dengan aku."

Mas Bian menghembuskan napas berat. "Mas antar."

"Kalau Pak Tarjo harus pulang dan Mas belum datang, Anye akan berangkat dengan Pak Tarjo," putusku.

"Mas usahakan pulang lebih cepat."

***

Mataku terbuka bersamaan dengan berkumandangnya adzan subuh. Aku memindahkan tangan Mas Bian yang masih melingkar di pinggang dan kakinya yang mengapit kakiku. Aku baru ingat bahwa aku tertidur saat Mas Bian mengusap perutku, karena hari ini kami akan tinggal sendiri-sendiri maka aku membiarkan saja Mas Bian mengusap perutku sampai aku tertidur.

Setelah melakukan sholat subuh barulah aku membangunkannya. Dan lalu aku ke dapur menyiapkan sarapan.

"Ma, Pa, kok sudah rapi?" tanyaku saat kulihat Mama dan Papa keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, membawa serta tasnya.

"Iya, Nye. Mama mau pulang. Mama malas bertemu Bian. Mama capek."

"Sarapan dulu, Ma. Anye sudah siapkan."

"Mama sarapan di rumah saja."

"Kenapa nggak bareng, Mas Bian?"

"Mama malas, Nye. Sudah pesan taksi."

"Oh."

"Nye, dengar Mama. Meski Bian sudah lalai dan ingkar. Mama dan Papa tidak akan ingkar, Nye. Kamu dan anak ini tetaplah menantu dan cucu kami. Ingat, Nye," ucap Mama dengan kedua tangan yang memegang pundakku.

Aku tersenyum mendengar betapa baiknya Mama Lisa padaku. "Iya, Ma."

"Bilang sama Mama dan Papa kalau ada apa-apa ya, Nye," sambungnya.

Aku mengangguk, Mama memeluk.

"Maafkan Papa ya, Nye. Papa sudah berusaha."

"Iya, Pa. Anye tau."

"Ya sudah. Mama sama Papa pamit."

Kuantar kepergian Mama dan Papa mertua hingga mereka masuk ke dalam taksi. Kemudian kulambaikan tangan begitu taksi berjalan.

Aku kembali masuk ke dalam rumah setelah taksi tak lagi terlihat.

Bersamaan dengan itu kulihat Mas Bian keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi.

"Sarapan, Mas," ajakku.

"Dari mana, Nye?"

"Nganter Mama sama Papa," jawabku berjalan menuju meja makan.

"Loh, nggak bareng Mas berangkat? Mas kira sarapan dulu," ucapnya mengikutiku menuju meja makan.

"Mau naik taksi saja katanya," jawabku, tak mungkin mengatakan bahwa mereka malas melihat Mas Bian, yang ada akan membuka pertengkaran lagi.

Kuambil nasi goreng dan telur ke dalam piring Mas Bian. Kemudian kuberikan segelas teh hangat seperti biasa.

"Makasih, Nye." Mas Bian pun segera memasukkan sendok demi sendok nasi goreng ke dalam mulutnya hingga piring itu kosong.

"Nye, kamu nggak sarapan?" tanya Mas Bian saat aku hendak membawa piring bekas makannya ke dapur.

"Nanti saja, setelah berkemas," jawabku.

"Nye, apa benar-benar sudah tidak bisa ditunda?" Mas Bian memegang lenganku, menahanku pergi untuk pergi ke dapur.

"Apa keputusan Mas benar-benar sudah tidak bisa diubah?" jawabku tanpa menatapnya. Mas Bian diam.

"Ya, kalau Mas tanya kepergianku apa tidak bisa ditunda maka jawabannya sama dengan jawaban Mas atas pertanyaanku itu. Tidak, kan?!" tegasku. Aku pun berlalu menuju dapur setelah pegangan tangan Mas Bian melemah. Segera aku membersihkan semua barang yang kugunakan untuk memasak.

Aku masak banyak hari ini. Setidaknya untuk makan malam, Mas Bian tak perlu beli. Entah, bodoh atau terlalu cinta. Sudah sesakit ini masih saja memikirkannya.

"Maafkan Mas, Nye." Mas Bian mengikutiku sampai ke dapur memelukku dari belakang tiba-tiba. Entah, sudah berapa kali kata maaf itu terucap dari bibirnya. Kata maaf yang tidak mampu mengubah segalanya.

Aku menengadah agar air mataku tidak tumpah. "Aku ikhlas, Mas. Jangan membuatku berubah pikiran dengan sikap Mas yang seperti ini." Kulepaskan tangan yang melingkar di perut buncit ini kemudian berbalik, niat hati ingin meninggalkan dapur agar tidak ada lagi perang batin namun Mas Bian menahanku, merengkuh tubuhku dan membawanya dalam dekapan.

"Mas, lepaskan, ingat, sebentar lagi kita bukan lagi suami istri. Jangan seperti ini." Dengan sekuat tenaga aku mencoba lepas dari pelukannya. Namun, ia justru semakin mempererat.

"Sebentar ... saja, Nye. Biar seperti ini," pintanya. Jujur, aku pun merindukan pelukan hangat suamiku. Pelukan tulus sebelum Luna datang dan memporak porandakan semuanya.

"Mas, sayang sama kamu, Nye."

Sayang? Dia mungkin sayang padaku, tapi dia cinta pada Luna. Sayang hanyalah sebuah bagian kecil dari cinta. Sedangkan cinta tetaplah segalanya.

"Maafkan, Mas, Mas sudah lalai, curang, dan ingkar." Mas Bian tergugu di pundakku. Terlihat begitu jelas kebimbangan dan penyesalan itu. Aku tahu hatinya bimbang antara cinta dan janji.

"Mas, sudah. Jangan memikirkan janjimu pada Ayah, pikirkan kebahagiaanmu saja. Kalau aku sudah pergi, insyaallah semua akan lebih baik." Kuurai pelukan itu, akhirnya Mas Bian mau melepaskan pelukannya.

"Mungkin dari awal sudah salah, kamu melakukan demi tanggung jawab dan kesembuhan Papa. Kamu hebat bisa bertahan sampai detik ini. Berusaha mempertahankan janji dan tanggung jawabmu padaku dan anakku." Kuhapus air mata yang tak henti-hentinya jatuh dari laki-laki yang terlihat kuat namun kali ini terlihat begitu rapuh.

"Pergilah, Mas, sudah siang. Nanti telat."

Kuraih dan kukecup punggung tangannya, agar semua tidak semakin berlarut dan membuatku kembali ragu dengan keputusanku untuk pergi.

Ia pun pergi, tak lupa pula mengecup keningku seperti biasa yang ia lakukan sebelum berangkat kerja. "Mas akan pulang cepat dan mengantarmu," ucapnya, aku mengangguk saja. Jujur, aku tak berharap dan tak yakin Mas Bian bisa menepati janjinya.

Related chapters

  • NODA   5. Terluka lagi

    5. Terluka lagiSelepas Mas Bian pergi, aku segera mengemasi semua barang-barangku dan memasukkannya ke dalam koper. Sebisa mungkin aku memasukkan semuanya, terutama barang yang penting. Karena aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menginjakkan kakiku di rumah ini meski hanya untuk mengambil barang. Setelah semua beres aku segera memesan taksi, jadwal periksa kehamilan adalah jam 10. Kali ini aku memilih untuk tidak mengingatkan Mas Bian. Sudah waktunya aku belajar untuk mandiri karena setelah ini aku akan mengurus segala sesuatunya sendiri, bukan?Dari hasil pemerikasaan hari ini, dokter mengatakan bayiku sehat dan baik. Hanya saja tekanan darahku agak tinggi, dokter menyarankan agar aku tidak stress dan terlalu banyak pikiran. Dokter juga menanyakan di mana Mas Bian, tumben tidak ikut, padahal seharusnya dia ikut, agar bisa membantuku menurunkan tensi dan menjaga agar sang Ibu tetap dalam kondisi stabil. Ya, itu pandangan dokter, dokter tidak tahu bahwa justru suamiku sendirilah

    Last Updated : 2022-08-31
  • NODA   6. Bimbang

    POV Bian[ Mas, aku sudah berangkat bersama Pak Tarjo. Tidak perlu khawatir, aku sudah sampai. Makanan tinggal dipanaskan saja, sudah aku siapkan di lemari dapur. Tadi aku sudah periksa kehamilan dan semua baik. Tak perlu khawatir. Dan tak perlu menyempatkan diri atau terburu-buru jika memang masih sibuk dengan Luna. Aku sudah sampai dengan selamat.]"Tadi Anyelir menghubungiku, Lun?" tanyaku pada Luna setelah aku membuka pesan dari Anyelir dan memeriksa daftar panggilan masuk. Ada nama Anyelir di sana."Iya, Mas. Kamu masih di kamar mandi tadi. Aku mengangkatnya dan aku menyuruhnya meninggalkan pesan kalau ada yang penting." Astaga, pasti Anyelir berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti marah karena sampai jam segini aku belum juga pulang. Aku bahkan lupa kalau ada jadwal periksa yang sebelumnya satu bulan sekali sekarang menjadi dua minggu sekali dan dia tidak memberi tahuku lagi. Fatal, hari ini aku melakukan kesalahan yang sangat besar."Aku pulang dulu, Lun.""Loh, Mas kan sudah jan

    Last Updated : 2022-09-16
  • NODA   7. Bimbang 2

    Setelah hampir satu jam perjalanan, aku pun meminggirkan mobil di depan toko kue Ibu. Tepat pukul 10 malam aku sampai. Kulihat lampu rumah masih menyala tertanda mereka masih belum tidur.Kuketuk pintu perlahan, semoga ada yang berkenan untuk membuka. Aku cukup tahu diri dengan kesalahanku, kalaupun mereka tidak mau membuka aku memaklumi dan aku akan menunggu di teras atau mobil sampai besok pagi ada yang keluar.Kuketuk kembali setelah beberapa saat kulihat dari kaca jendela, Ibu keluar dari kamar Anyelir. Kamar Anyelir menghadap ke arah jendela depa, sehingga aku bisa melihat dengan jelas karen gorden juga belum ditutup. Ibu pun menoleh ke arahku dan berjalan membuka pintu."Assalamualaikum," sapaku begitu Ibu membuka pintu kemudian kuraih dan kukecup punggung tangannya."Waalaikumsalam, Nak Bian, mari masuk," jawabnya tersenyum ramah. Bu Lestari namanya, wanita paruh baya yang berparas cantik dan teduh itu menyambutku hangat setelah sedemikian rupa aku menyakiti putri semata waya

    Last Updated : 2022-09-16
  • NODA   8. Mari berpisah, Mas!

    POV AnyelirSebuah tangan kokoh memeluk tubuhku saat aku terbangun di sepertiga malam. Dari aroma parfum yang bercampur dengan keringat, aku tahu benar siapa yang sedang memelukku. Aku menoleh sebentar, Mas Bian masih dengan kemeja kerjanya sedang terlelap di belakangku, sejak kapan dia ada di sini? Dan untuk apa? Rasanya aku sudah lelah dengan peperangan, berperang dengan hati lebih melelahkan dibanding perang antar fisik.Kupindahkan tangan yang sebentar lagi juga akan memeluk wanita lain di setiap malamnya itu. Kemudian kuambil air wudhu sebelum kubentangkan sajadah. Melakukan sholat malam agar hati lebih ikhlas menerima segala yang akan terjadi setelah ini. Tanganku menengadah setelah sholat kujalankan. Berdoa, semoga aku bisa ikhlas dan kuat menerima semua yang sudah ditetapkan. Jika Mas Bian memang bukan jodohku maka ajari aku untuk ikhlas, namun jika memang dia Engkau ciptakan untukku maka permudah kami untuk bersatu kembali meski hati sudah tak lagi utuh, aku akan mencoba men

    Last Updated : 2022-09-17
  • NODA   9. Mari Berpisah, Mas! 2

    "Apa maksudmu, Nye?""Mas, kalau kamu ingin aku dan anak ini selamat. Pergilah!" ancamku, sudah cukup aku gila melihat kegilaan mereka. Sudah waktunya aku tegas pada diri sendiri. Aku harus kuat dan aku harus tetap tegar demi Ibu juga demi anak ini."Biantara!" Teriakan Mas Arya memekakkan telinga, ia datang dari rumah yang tidak jauh dari rumahku bersama Mbak Mayang. Terlihat jelas dadanya naik turun dengan mata membulat sempurna dan rahang mengeras. "Mana janjimu, apa yang kamu lakukan setelah apa yang kamu dapatkan, Bian?!" Mas Arya mencengkeram kerah baju Mas Bian, mendorong mundur Mas Bian hingga tubuhnya membentur mobil."Ya, maaf, aku tau aku salah.""Aku memberikan adikku padamu, untuk kau bahagiakan bukan kau campakkan. Kalau seperti ini akan lebih baik jika Anyelir tidak usah menikah!" Bugh! Pukulan tajam pun mendarat di pipi Mas Bian hingga ujung bibirnya terluka dan mengeluarkan sedikit darah. Sontak aku dan Mbak Mayang pun berteriak. "Mas Arya, cukup. Sudah, Mas, sud

    Last Updated : 2022-09-17
  • NODA   10. Dokter Kandungan baru

    Sudah satu bulan lebih sejak kepergian Mas Bian bersama Lun a pagi itu, sejak itu juga aku mengganti nomor ponsel. Aku memantapkan hati untuk menutup diri dari Mas Bian. Kadang Mas Bian masih menghubungi lewat ponsel Ibu. Namun, aku meminta Ibu untuk bicara saja, asal jangan denganku.Mas Bian belum kesini setelah kepergiannya. Mungkin wanita itu sudah menguasainya sekarang. Aku juga tau dari sosial media bahwa Luna sudah menyiapkan pernikahannya dengan Mas Bian sedemikian rupa, bahkan persidangan pun baru berjalan meski aku tidak datang, tapi Luna sudah kegirangan."Selamat pagi, Cantik," sapa Mbak Mayang yang sudah siap dengan seragam serba putihnya. Ya, Mbak Mayang adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit terbesar di daerah kami. Senang melihatnya. Hebat, sedang aku? Lulus saja tidak."Pagi anaknya Bude Menik.""Nye, ikut Mbak, yuk.""Kemana?" "Ke tempat kerja, Mbak. Ada dokter kandungan baru. Masih muda, gantengnya ... Subhanallah. Dijamin betah kalau konsultasi." Aku terseny

    Last Updated : 2022-09-18
  • NODA   11. Dokter Kandungan baru 2

    "Halah, kebetulan aja. Dokter anak tunggal, nggak mungkin kayak di sinetron yang ternyata saudara dari Biantara. Mereka jauh lah, setia sama peselingkuh mah kelasnya beda." Mbak Mayang memang suka ceplas ceplos kalau bicara, terutama kalau sudah menyangkut Mas Bian. Kebenciannya sudah sampai ke ubun-ubun. Mungkin dia tidak enak karena bagaimanapun juga yang membawa dan memperkenalkan Mas Bian adalah Mas Arya, suaminya. Meski aku dan Ibu tidak mempermasalahkan, tapi Mbak Mayang dan Mas Arya masih saja tidak enak dan kerap meminta maaf pada kami."Anyelir Prabandari Nugroho." Namaku dipanggil oleh petugas setelah belum lama aku mendudukkan diri di kursi tunggu."Lah, Mbak, Mbak main belakang ya? Kasihan lo yang lain," protesku pada Mbak Mayang."Nggak, Nye, Mbak ambil nomor, Mbak minta tolong temen Mbak. Ayo buruan. Mbak sudah nggak sabar ingin tahu keadaanmu yang sudah telat kontrol."Mbak Mayang dengan tak sabarnya masuk ke dalam ruangan seolah dia lah yang hamil."Pagi, Dok," sapa M

    Last Updated : 2022-09-18
  • NODA   12. Dokter kandungan baru 3

    "Loh, nggak bisa gitu dong, Dok. Kita maunya sama dokter," protes Mbak Mayang tak terima."Oke, tunggu. Saya segera kembali." Dokter Megan terlihat sangat tergesa keluar dari ruangan, mungkin sudah tak tahan lagi menahan, pantas saja dari tadi berkeringat. "Kenapa coba Dokter Megan? Aneh, nggak biasanya seperti itu?" tanya Mbak Mayang."Kebelet kali, Mbak, udah tunggu aja," jawabku, Mbak Mayang pun mencebikkan bibirnya bingung.Lama kami menunggu, akhirnya Dokter Megan kembali dan mengulangi USG dari awal. Kali ini dia terlihat lebih tenang dan lembut."Bisa dilihat ya, jadi posisinya sudah mau masuk ke panggul, bayinya sehat, tinggal kondisi Ibunya saja yang menjadi PR. Kemungkinan besar anaknya laki-laki.""Apa ada yang mau ditanyakan?" "Kapan kira-kira saya melahirkan?""Sesuai USG tanggal 25 bulan Maret, 6 minggu dari sekarang. Namun, kelahiran bisa maju atau mundur dari tanggal prediksi, tidak pasti sama, ya, Mbak," terangnya.Usai USG, Dokter Megan menuliskan resep yang haru

    Last Updated : 2022-09-18

Latest chapter

  • NODA   197. Ending

    Besoknya mereka benar-benar kembali ke Bali tentu saja rumah kembali sepi. Sebelum pergi, mereka mempersiapkan seorang asisten rumah tangga baru dari agensi resmi untuk membantu Anyelir mengurus rumah dan Nizam. Malam harinya, aku memenuhi janji. Datang ke tempat yang sudah Anyelir beritahu sore tadi. Sepulang dari rumah sakit, aku meluncur ke sana karena Anyelir sudah menunggu katanya. Aku senang, sedikit demi sedikit dia mulai kembali mengenal dunia luar. Tidak lagi acuh dan enggan. Bahkan malam ini begitu mengejutkan. Dia sendiri yang menginginkan untuk makan di luar. Sungguh mencengangkan dan juga di luar dugaan.Setelah mobil terparkir di halaman restoran. Aku bergegas masuk, kucari keberadaan Anyelir dan kutemukan dia di meja paling ujung dekat jendela. Kulangkahkan kaki mendekatinya. Dia menoleh ke arahku dan berdebar lah jantungku saat melihat wajah dengan polesan yang membuatnya tampak begitu berbeda, sangat cantik. Penampilannya semakin sempurna dengan balutan gamis indah

  • NODA   196. 1 Bab menuju Ending

    POV Megantara[Bang, aku baik-baik saja. Aku akan mengantar Renata ke Bali. Thanks atas kesempatan dan aku tahu semua adalah siasatmu.]Kusunggingkan senyum setelah membaca pesan dari Denis yang entah sudah berapa hari menghilang dan sempat membuat kami sekeluarga kelimpungan. Sengaja, aku tidak ikut menemuinya, memberi waktu untuknya agar bisa bersama Renata yang entah kenapa tidak pernah bisa melihat cinta yang begitu besar dari Denis untuknya sejak dulu sampai sekarang, sedangkan Denis yang malang justru memilih diam dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan.Aku tahu, meski telah bersama Tita, Denis belum sepenuhnya melupakan Renata. Keputusannya yang tiba-tiba, degan mudah menerima Tita tanpa pikir panjang pun aku yakin hanya karena pada saat itu dia sedang putus asa. Awalanya aku mengira dia juga sudah mati rasa. Tapi, ketika kami kembali dipertemukan di tempat yang sama, aku menangkap tatapannya pada Renata tidak berubah, tetap sama, penuh cinta. Namun, aku juga tah

  • NODA   195. Mengagumi atau mencintai 2

    Tepuk tangan menyambut begitu kami turun. "Hebat, Mas, keren," ucap mereka yang ada di lokasi pada Denis."Sip," kata Denis menunjukkan jari jempol.Keren? Apa yang keren? Menurutku justru sangat menyedihkan, tak ada teriak kebahagiaan yang harusnya aku lakukan di atas sana apa lagi perasaan bebas seperti elang, melainkan beban berat menghimpit dadaku karena sikap Denis yang terkesan acuh dan berubah, tenggelam memikirkan Tita.Aku bergegas meninggalkan mereka yang masih terlihat sibuk dengan parasut dan sabuk pengaman. Hari sudah mulai petang, sudah saatnya untuk pulang. Hari ini sudah cukup untuk menjadi kenangan."Ren, mau ke mana?" Denis berlari mengikuti langkahku."Pulang, kamu bilang kan setelah terbang cepetan pulang. Lagi pula tiket penerbanganku ke New York tinggal beberapa hari lagi, aku harus ke Bali dulu, ketemu mama sama papa. Setidaknya aku sudah memastikan kalau kamu baik-baik saja, masih sehat," jawabku melanjutkan langkah. Namun, langkahku harus terhenti karena tan

  • NODA   194. Mengagumi atau mencintai?

    POV RenataSudah hampir satu minggu aku mencarinya dan baru bisa menemukannya di sini, tempat yang sam sekali tidak ada dalam pemikiran kami sebelumnya. Sebuah tempat yang lumayan jauh dari keramaian. Entah, sudah berapa tempat di Jakarta hingga Bandung yang aku, Megantara, dan Om Hakam datangi hanya untuk menemukan pria yang saat ini sedang berada di atas sana, menikmati alam merayakan kebebasan atau mungkin juga sedang menghibur diri. Kami menemukan keberadaannya dari unggahan Instagram yang dia unggah, yang memperlihatkan pemandangan perbukitan dengan caption-nya 'Bebas'. Kemudian kami mencari tahu detail dari gambar tersebut. Di sinilah aku, di gunung Banyak kota Batu Malang. Megantara tidak ikut hari ini karena istrinya sedang kurang enak badan. Tapi dia tetap mau aku menemui Denis. Ya, kami bertiga memang sangat dekat, dia sangat khawatir dengan adiknya mungkin. Sehingga memaksaku untuk datang ke tempat yang menurutku lumayan jauh.Aku tahu ini tidak mudah. Kehilangan dua h

  • NODA   193. Menikmati karma

    POV BiantaraDengan berakhirnya sidang berarti kewajibanku pun telah berakhir. Aku bisa lebih tenang sekarang, karena Megantara selamat dari ancaman atas tuduhan pencemaran nama baik termasuk aku, karena pada kenyataanya aku juga lah yang melaporkan atas tindakan penculikan Anyelir, sebab, pada saat itu Megantara tidak ada di tempat, jadi jikalau Megantara masuk penjara aku pun sama.Hari ini akta ceraiku dengan Luna sudah dikirim melalui kuasa hukum yang aku tunjuk. Semua sudah berakhir, tak ada lagi yang tersisa. Kami benar-benar sudah berakhir dan ini aku nikmati sebagai bentuk dari segala karma atas perbuatan dan status yang sempat aku sematkan pada wanita yang tanpa aku sadari mampu membuat hatiku berdenyut sakit setiap melihatnya bersama laki-laki lain. Wanita yang membuat hatiku teriris setiap melihatnya menangis. Aku telah menjanda kan Anyelir dan sekarang aku didudakan oleh Luna. Apa lagi kalau bukan karma yang dibayar tunai?Kuketuk pintu bercat putih setelah penjaga memberi

  • NODA   192. Permintaan Maaf

    Pintu kamar ditutup dengan kasar menimbulkan debar di dalam dada karena keterkejutan. Aku memutar badan sambil mengusap dada pelan, setelah sebelumnya melangkah masuk kamar terlebih dahulu. Kemudian memutar bola mata mencari jawaban apa yang terjadi pada wanita yang saat ini menatap nyalang ke arahku. Kuangkat dagu seraya menyipitkan mata bertanya. "Kenapa?""Kenapa? Tadi kamu bilang apa? Mas Bian kucing? Kalau Mas Bian kucing terus kamu apa? Buaya?" tanyanya sambil marah-marah."Buaya? Buaya apa, sih?!" Aku balik bertanya karena merasa kurang begitu paham. Bukan kurang tapi memang tidak paham."Kalau bukan buaya apa namanya lelaki yang suka deketin wanita lain begitu ada kesempatan? Nggak mau rugi," ucapnya penuh penekanan."Apa sih, Anye? Kamu kalau Biantara ngomong langsung aja masuk otak kiri nggak keluar-keluar, klop banget.""Mau balik melempar kesalahan, ni, romannya," sindirnya."Enggak, orang aku ngga deketin ngapain? Jangan cemburu gitu, ah," candaku."Bukan cemburu, tapi m

  • NODA   191. Senyuman

    Sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah bagaimana mungkin hasil tes DNA itu tidak cocok? Siapa yang mereka bayar untuk mengotak-atik hasil tes itu?Ruang sidang kembali riuh. Jeritan, tangisan terdengar begitu menyedihkan. Tangis orang tua Ervan, istri yang kemudian memilih meninggalkan ruangan, dan juga tangis Renata yang pecah begitu hakim meninggalkan ruang sidang disusul Ervan yang dibawa keluar dari ruang sidang menuju tahanan. Denis dan Nando berusaha menenangkan Renata yang terlihat begitu terpukul atau bahkan menyesal atas keputusannya menjadi saksi. Entah.Tapi, aku tahu, bagaimana perasaan ketiganya. Wanita paruh baya itu melangkah maju ke arah kami dengan derai air mata setelah sang suami digelandang petugas untuk dimintai keterangan. Biantara bangkit kemudian menghadang. Langkah wanita itu pun terhenti, menatap ke arah Biantara dengan tatapan sendu kemudian tatapan itu berubah menjadi permohonan dalam bisu."Kita pulang," Papa datang setelah melepas seragam hitam khas

  • NODA   190. Fakta baru 2

    "Ambil anak itu diam-diam, jangan sampai ketahuan. Kirim ke luar negeri, bawa kembali kalau dia sudah dewasa dengan identitas baru."Terdengar isakan dari bangku keluarga terdakwa. Selain Anyelir, wanita lain yang sudah pasti sangat terluka pada bagian ini adalah istri Ervan, Alana. Bagaimana tidak? Seorang wanita yang sudah menemani bahkan memberikan buah hati seakan tidak ada nilainya hanya karena anak yang dilahirkan perempuan. Di mana nurani mereka sebagai suami dan kakek? Bukankah bisa mencobanya lagi untuk kembali mendapatkan anak laki-laki, mereka masih muda. Lagi pula bukankah wanita atau laki-laki itu sama saja? Banyak di luar sana wanita-wanita hebat yang sukses melebihi kesuksesan laki-laki dan bukankah laki-laki juga terlahir diri rahim seorang wanita? Lalu kenapa mereka menganggap remeh wanita?Suara gemerisik kembali terdengar, kali ini rekaman diganti dengan rekaman yang dipasang oleh Renata di kantor Om Winata. Awalnya hanya terdengar suara sepatu dan gesekan kerta

  • NODA   189. Fakta baru

    Di kursi saksi, Renata mulai berbicara, sesekali ia menghela napas. Mengurangi ketegangan, mungkin. Aku sangat mengerti apa yang dia rasakan. Biar bagaimana pun mereka adalah keluarga, memilih antara keluarga dan keadilan tentu sangat sulit sekaligus membuatnya dilema."Beberapa bulan lalu setelah acara pernikahannya di Bali. Megantara menemui saya. Menceritakan tentang istrinya. Awalnya saya sangat tersentuh dan iba. Hingga pada akhirnya, dia mengatakan bahwa dia mencurigai saudara saya, Ervan. Meminta bantuan saya untuk menyelidiki Ervan diam-diam. Saya sempat marah. Biar bagaimana pun juga, Ervan adalah sepupu saya, tentu saya tidak terima. Akhirnya saya mengiyakan, tapi dengan niat agar Megantara tau bahwa saudara saya tidak demikian. Pada saat itu saya benar-benar yakin bahwa Ervan orang baik. Dengan percaya diri saya menyelidiki Ervan dengan berbagai cara." ucap Renata sambil sesekali menghapus sudut matanya. Sedangkan Ervan menunduk dalam. Mungkin dia tidak menyangka Renata

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status