Share

Bab 7

Author: Lathifah Nur
last update Last Updated: 2021-03-19 05:01:50

Tatapan mata dapat melesatkan panah asmara menyamai kecepatan cahaya atau bahkan lebih cepat lagi.

***

“Pastikan semua desainnya sempurna, Ae Ri! Tanpa cela sedikit pun.” Chin Hwa kembali mengingatkan Qeiza.

“Aku sudah mengeceknya berkali-kali,” sahut Qeiza.

Chin Hwa masih sibuk memeriksa dokumen yang akan dibawanya. Dia harus benar-benar yakin bahwa tidak ada satu pun yang terlupa.

By the way, apa orang yang akan kita temui termasuk seseorang yang sangat perfeksionis?”

Qeiza tak mampu menahan rasa penasarannya. Meskipun baru seminggu ia bersama Chin Hwa, minimal delapan jam sehari, dia melihat lelaki itu adalah sosok yang tenang dan sangat pandai mengontrol ritme kerjanya. Tidak pernah tergesa-gesa seperti ini.

Chin Hwa menjeda aktivitasnya. Dia berdiri dan menatap Ae Ri dengan mata sedikit menyipit.

“Apa aku belum memberitahumu mengenai orang yang akan kita temui?”

Qeiza menggeleng. “Kurasa belum,” jawabnya.

Sorry. Seharusnya aku memberitahumu lebih awal.” Chin Hwa merasa sedikit bersalah. “Dengar-dengar, direktur baru ini bukan hanya perfeksionis, tetapi juga sangat teliti.”

“Kedengarannya cukup menakutkan,” komentar Qeiza.

“Kau benar,” sahut Chin Hwa. “Dia juga sulit dihadapi.” Chin Hwa sudah melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda.

“Tapi, kau tidak perlu khawatir,” ujar Chin Hwa. “Aku tidak akan membiarkan dia menyulitkanmu.”

“Aku tidak selemah itu.”

Qeiza berbalik ke meja kerjanya, merapikan lagi desain yang akan dibawanya bersama Chin Hwa.

“Oke, ayo berangkat!” ajak Chin Hwa saat melewati meja kerja Qeiza.

***

Berbeda dengan Chin Hwa yang terlihat sangat tenang, Qeiza merasakan dirinya agak gugup saat menunggu kedatangan direktur perusahaan M yang akan mereka temui. Terlebih ketika ia teringat seperti apa karakter lelaki itu.

Sekilas informasi itu mengingatkannya pada sosok Ansel. Mantan suaminya itu juga seorang yang perfeksionis dan sangat sulit dihadapi. Buktinya, selama empat tahun menjadi istri Ansel, ia tidak pernah berhasil melunakkan hati lelaki itu, walaupun sekadar untuk mau berbicara atau menemuinya sekali saja.

Tanpa sadar Qeiza menggigit bibir bawahnya. Miris sekali! Dia menyandang status janda di usia muda. Parahnya lagi, dia masih perawan. Apa yang akan dikatakan orang-orang bila mereka mengetahui kebenaran itu?

Melarikan diri ke negara asing dengan identitas baru satu-satunya solusi terbaik yang terpikirkan oleh Qeiza. Tidak mungkin dia akan bertemu Ansel lagi, bukan?

Namun, sepertinya semesta masih ingin mengajaknya bercanda dengan permainan takdir. Qeiza ternganga tak percaya ketika melihat dua orang lelaki yang berjalan menghampiri meja mereka saat Chin Hwa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberitahu keberadaan mereka.

Muka Qeiza tiba-tiba memucat. Bahkan, keringatnya mulai menitik. Dia berdiri dengan menyembunyikan dirinya di belakang Chin Hwa. Kepalanya tertunduk. Tidak ingin lelaki itu melihat jelas wajah cemasnya.

'Bagaimana dunia bisa begitu sempit?' pikir Qeiza.

Dia tidak hanya bertemu Chin Hwa yang mengenali jati dirinya, tetapi juga harus berhadapan dengan Ansel. Sialnya, justru sebagai partner bisnis pula.

'Tunggu!' jerit hati Qeiza tiba-tiba. 'Ansel tidak mungkin mengenaliku, kan?'

Teringat Ansel tidak pernah menemuinya, hati Qeiza menjadi tenang. Saat sidang ikrar talak pun, lelaki itu tidak memandangnya sama sekali. Lagi pula, saat itu dia juga tampil dengan penyamaran.

Hati Qeiza semakin tenang. Tidak ada yang perlu dia takuti sekarang. Walaupun harus diakuinya bahwa masih ada getar halus yang dirasakannya saat menatap wajah Ansel, Qeiza harus bisa melupakan lelaki itu untuk seumur hidupnya.

Bunga cinta yang sempat bersemi ketika pertama kali dia melihat wajah Ansel yang tengah melakukan proses ijab kabul itu harus bisa ditumpasnya hingga ke akar-akarnya. Cukup empat tahun waktunya terbuang percuma dalam penantian yang sia-sia.

“Silakan duduk, Tuan Ansel!” ujar Chin Hwa ramah.

Ansel pun duduk dan memulai pembicaraan mengenai desain yang mereka inginkan tanpa banyak basa-basi. Tak sekali pun ia tertarik untuk mengamati suasana di dalam kafe itu.

'Ck! Sungguh pria yang kaku sekali!' ledek Qeiza dalam hati.

Sudut bibir Qeiza sedikit mencebik sinis. Namun, segera diubahnya menjadi senyuman ketika dilihatnya Ansel melayangkan tatapan tajam ke arahnya.

Related chapters

  • My Obsessive Ex   Bab 8

    DEG! DEG!Ansel merasakan jantungnya berdetak cepat. Mata hazel milik wanita yang duduk di sebelah kiri Chin Hwa itu terlihat sangat hidup dan bersinar. Belum pernah ia melihat bola mata sehangat dan seceria itu. Membuat hatinya ikut menghangat dan menjadi lebih bersemangat.“Boleh aku lihat desainnya, Nona ….”Ansel terdiam. Tiba-tiba ia menyesal karena tadi tidak terlalu menaruh perhatian pada perkataan Chin Hwa tatkala lelaki itu memperkenalkan asistennya itu.“Kim Ae Ri,” kata Chin Hwa, mengingatkan Ansel.“Ah, ya. Boleh kulihat desainnya, Nona Kim?”Ansel mengulang permintaannya. Matanya yang nyaris hitam kelam dan terkesan misterius itu tak lepas dari wajah cantik Qeiza.“Tentu saja, Tuan,” sahut Qeiza, menyerahkan tabung berisi desain yang masih dipegangnya.Ansel menelan saliva-nya. Bibir mungil nan merah itu sungguh terlihat sangat menggoda saat bergerak mengucap kata. Bahkan, suara wanita itu terdengar amat seksi di telinganya.Selama beberapa waktu Ansel memfokuskan perhatia

    Last Updated : 2021-03-19
  • My Obsessive Ex   Bab 9

    Hidup itu penuh tantangan, hadapi saja walau dengan sangat terpaksa.***“Aku tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan Song,” sanggah Ansel. “Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar.”Ansel memasang wajah dingin dan acuh tak acuh, seperti tak butuh. Memandangi Chin Hwa dan Qeiza silih berganti.“Jika masih ada yang ingin diubah, bukankah akan lebih cepat kalau Nona Kim berada di kantor yang sama denganku?” tanyanya. “Aku tidak perlu repot-repot menghubungi Anda dan dia tidak perlu bersusah payah, bolak-balik ke sana kemari dengan tujuan yang sama. Cukup simpel, bukan?”Alasan yang dikemukakan Ansel terdengar logis sehingga Chin Hwa dan Qeiza sama-sama dibuat tak berkutik. Meskipun hati keduanya masih diliputi keraguan, mereka tidak layak untuk menuruti prasangka buruk itu.“Atau … jangan-jangan desain ini bukan hasil karya Nona Kim?” tuding Ansel, sengaja menyerang ego dan harga diri rekan bisnis di depannya itu, terutama Qeiza.Qeiza mengepal erat kedua tangannya. Dia

    Last Updated : 2021-03-20
  • My Obsessive Ex   Bab 10

    “Silakan duduk, Nona Kim!”Setelah mampu menguasai diri dan menetralisir kegugupannya, Ansel mempersilakan Qeiza duduk di sisi Utara ruang kerjanya.“Aku sudah meminta Xander untuk menyiapkan ruangan khusus untukmu,” beritahu Ansel.“Terima kasih,” kata Qeiza.Ia langsung bergerak bangkit dari sofa yang baru saja didudukinya. Tadi dia sempat berbincang dengan resepsionis yang mengantarnya dan dia sudah menanyakan itu. Tanpa diberitahu Ansel pun, dia tidak akan tersesat mencari ruang kerjanya sendiri.“Mau ke mana?”Ansel bertanya sambil menahan geram. Belum pernah ia ditinggal pergi begitu saja oleh seorang wanita, kecuali Qeiza.“Tentu saja ke ruanganku,” jawab Qeiza santai. “Bukankah Anda ingin aku menyelesaikan desain itu secepatnya, Tuan Ansel?”Qeiza sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhir dan juga sapaannya kepada Ansel.“Tidak secepat itu, Nona!” cegah Ansel. “Masih ada peraturan yang perlu kau ketahui dan ingat dengan baik.”“Katakan saja! Anda adalah rajanya.”Qeiza be

    Last Updated : 2021-03-20
  • My Obsessive Ex   Bab 11

    Apa pun yang kau inginkan, butuh perjuangan dan kesungguhan untuk mewujudkannya.***Pandangan Xander terpaku pada sosok Qeiza yang sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Sudah dua hari Xander mengamati wajah Qeiza dengan sangat teliti dari kejauhan.“Aku yakin sekali gadis itu adalah Nona Qeiza,” gumam Xander berulang kali pada diri sendiri.Xander membuka data diri Qeiza yang berhasil dihimpunnya. Data terakhir menginformasikan bahwa mantan istri bosnya itu telah menamatkan program pascasarjana-nya beberapa bulan yang lalu dari salah satu universitas ternama di kota ini.Jadi, tidak mengherankan bila dia bisa memperoleh pekerjaan dengan sangat mudah di sini. Masalahnya, gadis yang diyakininya sebagai Qeiza itu justru bernama Kim Ae Ri.Xander tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Apakah hanya sebuah kebetulan mereka memiliki kesamaan wajah? Atau memang Qeiza yang telah mengubah identitasnya secara rahasia?“Aaargh!” Xander menggeram bingung.Bagaimana mungkin dia memberitah

    Last Updated : 2021-03-21
  • My Obsessive Ex   Bab 12

    Qeiza baru saja melipat sajadahnya. Dia salat zuhur di dalam ruang kerjanya dengan menyekat bagian sudut ruangan itu, sekadar cukup untuk ia menunaikan kewajibannya tanpa harus bersusah payah keluar dari kantor Ansel.Wajah segar Qeiza tersenyum semringah setelah menyambar arloji yang diletakkannya di atas meja. Masih lumayan banyak waktu tersisa untuk menikmati santap siang. Namun, belum sampai tangannya meraih handle pintu, pintu itu sudah terbuka dari luar.Ansel sudah berdiri dua langkah di depannya dengan tangan menenteng kotak berisi makanan dan minuman.“Kau hampir saja melewatkan makan siang,” kata Ansel.Dia mengangkat kotak makanan di tangannya sedikit lebih tinggi, bahkan nyaris menyamai ketinggian wajah Qeiza.Tanpa memedulikan ekspresi tidak senang Qeiza ataupun persetujuan gadis itu, Ansel langsung merangsek masuk dengan penuh percaya diri.Dia langsung duduk di atas sofa dan membuka kotak makanan yang dibawanya.“Ayo duduk sini!” ajaknya. “Aku sengaja meminta Xander memb

    Last Updated : 2021-03-21
  • My Obsessive Ex   Bab 13

    Melewati batas hanya akan mendatangkan masalah.***“Aaah, rasanya aku baru saja kembali dari medan perang.”Qeiza mengempaskan diri di atas kursinya, bersandar lesu dengan kedua tangan menjuntai lemas. Dia benar-benar merasa sangat lelah.“Ansel memperlakukanmu dengan buruk?”Qeiza tersentak. Segera ia memperbaiki posisi duduknya. Dia mengutuk keteledorannya yang tidak memperhatikan meja kerja Chin Hwa.“Kau sudah pulang?” tanya Qeiza. “Seharusnya besok, kan?”Chin Hwa berjalan mendatangi meja Qeiza. “Jadwalnya sih iya, tapi agendanya dipercepat. Jadi, aku bisa pulang lebih awal.”“Oh.”Qeiza cuma ber-oh tanpa mengeluarkan suara. Dia pikir Chin Hwa masih di luar negeri.“Katakan padaku!” ujar Chin Hwa. “Apa Ansel bersikap tidak sopan?”Qeiza membuang napas kencang. “Enggak sih, tapi dia membuatku lelah.”“Huh? Dia sering memintamu lembur?”“Tidak juga.”“Lalu?”“Entahlah. Aku benci sikap diktatornya,” jelas Qeiza. “Sedikit posesif juga.”Chin Hwa mengulum senyum. “Hajar saja kalau dia

    Last Updated : 2021-03-22
  • My Obsessive Ex   Bab 14

    “Ansel? Apa-apaan kamu?” cicit Qeiza.Akan tetapi, Ansel tak memedulikan protes Qeiza. Dia membuka pintu mobil dan mendorong Qeiza dengan kasar. Kemudian, ia membanting daun pintu tanpa kata.Chin Hwa hanya bisa melongo, menatap kepergian Qeiza yang diculik Ansel di depan matanya. Giginya bergemeletuk menahan geram. Kedua tangannya pun terkepal. Mata cokelatnya berkilat berang.“Ansel … kau telah melewati batas!”Duduk bergeming di samping Ansel, Qeiza menatap lurus ke depan. Dia mengelem mulutnya dengan sangat rapat setiap kali lelaki itu mengajaknya berbicara.Teringat ia telah meninggalkan Chin Hwa tanpa sempat pamit, Qeiza merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya. Namun, secepat kilat tangan Ansel menyambar gawai itu.“Jangan pernah menghubungi lelaki lain saat kau bersamaku!”Qeiza mendelik keki. Sejak kapan lelaki itu begitu berambisi untuk mengendalikan hidupnya. Empat tahun terikat dalam tali pernikahan, tak pernah sekali pun Ansel menghubunginya. Jangankan mengajaknya pergi meni

    Last Updated : 2021-03-22
  • My Obsessive Ex   Bab 15

    Jika ingin menangkap kupu-kupu, tanamlah kumpulan bunga adiwarna. Jangan pernah memburunya karena semua usahamu akan berakhir sia-sia.***Jantung Qeiza berdetak dengan sangat cepat. Dia ingin memberontak, tetapi tenaga lelaki yang menyeretnya jauh lebih kuat.Saat menyadari dia diseret keluar dari restoran itu lewat pintu belakang, Qeiza mencoba menyikut lelaki tersebut.“Akh!”Terdengar pekik mengaduh. Bergegas Qeiza balik badan, siap melancarkan serangan susulan yang mengarah kepada aset pribadi lelaki itu.“Tahan, Ae Ri!” Lelaki itu berteriak, menghentikan gerakan Qeiza. “Ini aku, Chin Hwa.”“Oppa?”Qeiza tercengang. Dia tak menduga bosnya itu akan mengikutinya.“Ssstt!”Mendugas Chin Hwa menarik tangan Qeiza, bersembunyi dengan berjalan membungkuk dari mobil ke mobil hingga tiba di mobilnya sendiri.“Cepat masuk!” perintah Chin Hwa.Tatapan matanya terus mengawasi gerakan Ansel dari dalam restoran. Tampak lelaki itu melirik jam di pergelangan tangannya, lalu bangkit dari tempat du

    Last Updated : 2021-04-01

Latest chapter

  • My Obsessive Ex   Bab 176

    Hati Qeiza berdebar-debar. Ini adalah malam pertamanya dengan Dae Hyun. Dia salah memilih waktu untuk mandi. Seharusnya dia membersihkan diri lebih awal, bukan selepas isya begini. Ah, kalau saja dia tidak ketiduran karena kelelahan. “Tapi, kita—” Sanggahan Qeiza terputus lantaran Dae Hyun telah membungkam mulutnya dengan lumatan lembut. Qeiza gelagapan. Detak jantungnya semakin berpacu. Dia baru saja kehilangan ciuman pertamanya. Terdengar konyol memang. Di saat teman-teman seusianya sudah kaya dengan pengalaman tentang hubungan lawan jenis, Qeiza malah belum tahu apa-apa. Dia buta akan segala hal tentang cinta. Fokusnya hanya mengejar mimpi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Wajahnya memerah ketika Dae Hyun memberinya kesempatan untuk bernapas. Pipinya memanas karena malu, tetapi dia juga sangat menyukai sensasi rasa yang diperkenalkan Dae Hyun kepadanya. “Apa itu tadi ciuman pertamamu?” Dae Hyun kaget mendapati Qeiza masih sangat kaku. Wanita itu tak merespons perlaku

  • My Obsessive Ex   Bab 175

    “Kau cantik sekali, Sayang ….” Sorot mata Nyonya Kim memancarkan bias kekaguman dan rasa bangga akan status baru Qeiza sebagai menantunya. “Dae Hyun sangat beruntung mendapatkanmu sebagai istri.” “Eomma ….” Qeiza tersipu malu. Tamu undangan sudah membubarkan diri. Kini tinggallah keluarga Tuan Kim. Bersiap untuk meninggalkan aula pernikahan itu. Tuan Kim menepuk pundak kiri Dae Hyun. “Ae Ri sekarang sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu.” “Tentu, Appa. Aku janji akan menjaga dan membahagiakannya.” Dae Hyun meyakinkan Tuan Kim disertai tangannya yang refleks merangkul pinggang Qeiza. Sebuah mobil pengantin bergerak pelan dan berhenti tepat di hadapan Dae Hyun dan keluarganya. “Pergilah!” ujar Nyonya Kim ketika Qeiza pamit dengan pandangan mata. Dae Hyun segera menggandeng tangan Qeiza, siap berjalan menuju mobil. Ansel menepuk pundak Xander. Memaksa lelaki itu berhenti saat dia melihat Qeiza dan Dae Hyun semakin dekat ke mobil mereka. Buru-buru Ansel turun dari mobil dan berlari

  • My Obsessive Ex   Bab 174

    Pupil mata Dae Hyun membesar melihat penampilan Qeiza. Memancarkan kehangatan cinta dari lubuk hati. Ribuan kupu-kupu seperti beterbangan di perut Dae Hyun ketika Qeiza tiba di dekatnya. Nyonya Kim mengarahkan gadis itu untuk langsung duduk tanpa menoleh kepada calon suaminya. Dae Hyun bergegas ikut duduk di sisi kanan Qeiza. Penghulu siap mengulurkan tangan kepada Dae Hyun untuk memulai prosesi ijab kabul. Dengan keringat bercucuran, Dae Hyun menyambut uluran tangan penghulu. Qeiza sengaja tak menghubungi pamannya dengan alasan jauh. “Saya terima nikah dan kawinnya Anindira Qeiza Pratista binti Pratista Bumantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” “Saaah!” Helaan napas lega dan teriakan kata sah bergema memenuhi aula pernikahan tersebut setelah Dae Hyun berhasil melafalkan ucapan kabul tanpa hambatan. Tangan-tangan dari jiwa para perindu rida Allah segera menadah ke langit begitu penghulu memimpin doa. Dae Hyun dan Qeiza memutar tubuh agar saling berhadapan. Detak jantun

  • My Obsessive Ex   Bab 173

    “Kenapa kau terobsesi sekali sama aku?” “Aku tergila-gila padamu. Aku … tak bisa hidup tanpamu.” “Kau baik-baik saja selama empat tahun,” ujar Qeiza. “Kau pasti juga akan hidup dengan baik untuk selanjutnya.” “Qei, please … beri aku kesempatan!” “Aku tak bisa.” “Kenapa? Apa kau benar-benar sangat membenciku?” “Aku telah melarung pecahan hatiku di lautan air mata,” kata Qeiza. “Sia-sia bila kau bersikeras ingin menyatukannya lagi.” Ansel merasa hatinya seakan baru saja dikoyak oleh taring-taring tajam hewan buas. Sangat sakit dan perih. Langit mendadak mendung. Cuaca di musim gugur memang tak menentu. Hujan bisa turun kapan saja. Sama seperti hati Ansel yang juga tersaput awan kelabu kesedihan. “Maaf, Ansel!” ujar Qeiza. “Mulai sekarang, berhentilah mengejarku!” “Tapi … aku benar-benar tertarik padamu, Qei,” sahut Ansel. Masih berjuang meyakinkan Qeiza akan kesungguhan perasaannya terhadap wanita itu. “Terima kasih. Aku merasa tersanjung.” “Jadi, apa kau mau mempertimbangka

  • My Obsessive Ex   Bab 172

    “Sekarang sebaiknya nikmati sarapan kalian,” ujar Nyonya Kim, menghentikan obrolan Dae Hyun dan Qeiza. Dia menyodorkan piring yang sudah terisi penuh kepada suaminya. Di saat bersamaan, Dae Hyun juga melakukan hal yang sama untuk Qeiza. “Aigoo … aku senang sekali melihat kaliar akur begini.” Mata Nyonya Kim berbinar terang tatkala memandangi Dae Hyun dan Qeiza silih berganti. “Kita harus secepatnya menikahkan mereka,” timpal Tuan Kim. “Aku takut Dae Hyun akan selalu mencuri kesempatan untuk melewati batas.” Ucapan Tuan Kim sukses membuat pipi Dae Hyun memerah laksana kepiting rebus. Dia masih belum berhasil mengungkapkan perasaannya pada Qeiza, tetapi ayahnya sudah menyinggung soal pernikahan. Dae Hyun terbatuk gara-gara menelan makanannya dengan tergesa-gesa. Bergegas dia menyambar gelas yang disodorkan Qeiza. “Pelan-pelan makannya,” tegur Nyonya Kim. “Kau juga masih harus menunggu appa-mu, kan?” Hari itu, Tuan Kim berencana untuk memperkenalkan Dae Hyun sebagai calon penggant

  • My Obsessive Ex   Bab 171

    Mendengar gumaman Qeiza, Nyonya Kim menarik album foto tersebut dari tangan Qeiza. Dia juga ingin melihat foto yang menyebabkan air mata Qeiza semakin membanjiri wajahnya. “Jangan ambil, Eomma!” Qeiza berusaha merebut kembali album itu dari tangan Nyonya Kim. “Aku sangat merindukan mama sama papa.” Nyonya Kim memandangi wajah gadis kecil di foto tersebut, lalu beralih pada muka Qeiza. Membandingkan keduanya. Tiba-tiba, dia menghambur memeluk Qeiza. “Anakku ….” Cairan hangat membanjiri pipinya. “Maafkan aku! Ternyata kau sangat dekat selama ini, tapi … aku tak mengenalimu.” Setelah cukup lama berpelukan dalam tangis, Nyonya Kim mengangkat wajah Qeiza. Dia menyeka air mata gadis itu dengan jari. “Terima kasih kau kembali pada kami, Sayang!” Nyonya Kim mengecup kening Qeiza. Tuan Kim juga menyeka air matanya. Dae Hyun tertegun. Dia kehilangan kata-kata. Perasaannya campur aduk—antara senang dan haru. Entah berapa lama Qeiza terus memandangi wajah kedua orang tuanya dengan tatapan

  • My Obsessive Ex   Bab 170

    Qeiza menepuk kedua pundak Dae Hyun. “Turunkan aku di sini!” pintanya ketika tiba di depan pintu kamar orang tua angkatnya. Dia tidak mau Nyonya dan Tuan Kim melihat Dae Hyun menggendongnya. Dae Hyun segera berjongkok memenuhi permintaan Qeiza. Dia membimbing wanita itu masuk ke kamar orang tuanya. Nyonya Kim bergegas menyongsong Qeiza. “Kau tidak harus datang ke sini,” ujarnya. “Kau juga perlu istirahat.” Qeiza mengangkat kakinya sedikit. “Ini hanya cedera ringan, Eomma,” sahutnya. “Akan segera membaik.” Qeiza berjalan dengan sebelah kaki mendekati kursi yang disediakan Dae Hyun di dekat tempat tidur ayahnya. “Wajah Appa tampak lebih cerah setelah tiba di rumah.” Qeiza mencandai Tuan Kim yang melayangkan senyum kepadanya. “Tentu saja! Tak ada tempat yang lebih nyaman daripada rumah sendiri.” “Aigoo … kalau begitu, kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik,” timpal Nyonya Kim. “Benar, Appa!” sambut Qeiza. “Sudah saatnya Appa bersantai di rumah.” Tuan Kim melirik Dae Hyun. “It

  • My Obsessive Ex   Bab 169

    Ansel berjalan dengan mengendap-endap, keluar dari tempat persembunyiannya menuju pintu masuk rumah Dae Hyun. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan tak seorang pun memergoki aksinya. Ujung jari Ansel baru saja hendak menyentuh gagang pintu ketika dia merasakan sebuah tangan kekar menarik kerah bajunya dari belakang. Ansel memutar kepala ke kanan. Penjaga rumah Dae Hyun langsung menyambutnya dengan tatapan garang. “Bukankah seharusnya Anda sudah pulang?” Ansel tersenyum kecut. “Aku belum pamit sama Ae Ri,” sahutnya. “Tuan Muda Kim meminta saya untuk tidak membolehkan siapa pun masuk rumah sebelum dia pulang,” balas penjaga rumah itu, masih dengan wajah tak bersahabat. “Jadi, silakan pulang sekarang!” Ansel memasang wajah memelas. “Sebentar saja … biarkan aku ketemu Ae Ri sebelum pergi.” “Nona Muda Kim butuh istirahat. Dia tidak boleh diganggu.” Air muka Ansel berubah keruh karena putus asa. Penjaga rumah itu tidak mempan dirayu. Dia hanya bisa menoleh ke lantai atas saat

  • My Obsessive Ex   Bab 168

    Qeiza terlonjak duduk. Dia berpegangan pada kedua lengan kursi lantaran kaget mendengar suara gelegar pintu didorong dengan kasar. Mulutnya ternganga ketika melihat Ansel muncul di kamarnya. Roman muka Ansel yang semula memerah karena marah, mendadak berubah risau tatkala melihat Qeiza meringis kesakitan. “K–kakimu kenapa?” Ansel mendatangi Qeiza. Matanya terpaku pada pergelangan kaki Qeiza yang terbalut perban elastis. Qeiza menyandarkan lagi punggungnya. Dia mendesah seraya memejamkan mata. “Sebaiknya kau keluar sekarang!” Ansel tak menggubris perintah Qeiza. Dia berjongkok di samping meja. “Jangan sentuh!” larang Qeiza ketika Ansel mengulurkan tangan untuk meraih kakinya. “Kenapa? Sakit sekali ya?” Ansel menoleh pada Qeiza. “Kalau kau sudah tahu, harusnya kau membiarkan aku istirahat.” Qeiza menjawab acuh tak acuh. Meskipun dia tak lagi membenci mantan suaminya itu, dia juga tidak berharap untuk bertemu kembali dengannya. Alih-alih menuruti pergi dari kamar itu, Ansel mal

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status