LOGIN“There's a part of me wanting to loathe him for eternity. But he lost his memories of me, and I have to get it back.” – Sam "I love him. He's mine! And I will never let him go!" - Stacy "I'm fine as long as I come towards you again, like that day." - Zach "How can I love somebody who loves somebody else?" - Ethan When Samantha Lee found out her longtime boyfriend, Zachary Gonzales, has a mistress behind her back, every memory they shared inside a 10-year relationship lost all its sense. She left him abandoned in their house soon after she realized her lover’s mistress was a friend of hers in the past. A month after, Samantha got astonished when she found out he suffered from a car accident. ---- UPDATES EVERY WEDNESDAYS AND THURSDAYS [GMT+8]!
View More"Mau kemana?" Pria di sampingnya segera merasa tersinggung saat Liona berdiri dari posisi duduknya.
"Aku ke toilet sebentar."
Dirinya masih jengah dengan kedua temannya yang beberapa jam lalu memaksanya datang ke tempat itu, sebuah klub mewah yang mereka tahu adalah milik Arka Saputra, atasan Liona yang merupakan incaran salah satu temannya, Livy. Bukan rahasia lagi jika temannya itu sangat menggilai pria yang duduk di sampingnya sejak masa kuliah dulu.
"Aishhh baru minum beberapa teguk saja aku sudah pusing." Liona memukul kepalanya perlahan mencoba untuk tetap sadar sepenuhnya.
"Butuh bantuan?" Liona menatap cermin yang memperlihatkan sosok pria di belakangnya, dengan terkejut ia membalikan tubuhnya menghadap pria itu."Ini toilet wanita, kamu salah masuk." Liona memegang pegangan wastafel demi menumpu berat badannya yang mulai limbung.
"Aku hapal semua kejadian di tempat ini Liona, kamu lupa klub ini milikku?"
Jadi dia masuk dengan sengaja? Liona tak mau berpikir keras, ia sudah terlalu lama meninggalkan teman-temannya.
"Aku tahu, kalau begitu permisi." Baru saja melepas pegangan, Liona limbung lagi yang segera mendapat bantuan dari Arka yang tepat berada di depannya.
"Sepertinya kamu butuh bantuan, sini aku bantu." Tangannya masih terikat di pinggang Liona yang membuat pemilik tubuh itu tidak nyaman.
"Aku bisa jalan sendiri" Liona melepas tangan Arka dan berjalan sendiri.
"Na, kenapa lama banget, liat nih si Meta udah mabuk parah. Kayanya kita harus segera bawa dia pulang deh." Livy menunjuk teman di sampingnya yang sedang meracau tidak jelas.
"Kalian sudah mau pulang?" Arka mendengar percakapan mereka.
"Iya, kayaknya kita harus pulang sekarang. Padahal aku masih betah disini." Livy jujur.
"Na, lo bisa pulang naik taxi gak? Soalnya tempat lo paling jauh di antara kita bertiga. Kalau gue gak segera nganterin Meta, bisa- bisa gue marahin bang Andri."
Selalu seperti ini setiap mereka pergi, Liona ingin sekali memprotes tapi kalimat Livy memang benar juga.
"Oke gakpapa, gue bisa pulang sendiri." Liona membantu Livy membopong tubuh Meta yang sudah tak sadarkan diri sampai ke mobil.
"Na, thanks buat malam ini ya. Karena lo gue bisa ketemu Arka." Senyum sumeringah dari lawan bicaranya membuat Liona sedikit menghangat, bantuan kecil yang ia berikan sangat berarti untuk temannya.
Santai aja, itu bukan apa-apa kok.
Sudah hampir setengah jam Liona berdiri tapi tetap tak menemukan taksi yang lewat di dekatnya, ponsel yang sedari tadi dalam genggamannya sudah lama mati karena kehabisan daya.
"Kenapa malam ini begitu sial, aku ingin segera tidur." Liona berjongkok sewaktu-waktu, kakinya sudah sangat pegal.
"Kenapa belum pulang, bukannya teman kamu udah pulang dari tadi?" Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah Arka.
"Aku lagi nunggu taksi." Liona berdiri dari posisi jongkoknya.
"Hampir tidak ada taxi yang lewat sini, apalagi malam begini. Ayo aku antar." Arka berbaik hati memberi tumpangan.
"Tapi_"
"Ayo, aku antar sampai rumah. Aku bukan orang asing." Arka meyakinkan.
Liona melirik selai di tangannya, hampir selai satu pagi. Akhirnya Liona pasrah menerima tawaran Arka untuk masuk ke mobilnya."Kamu sering datang ke klub milikku?" Arka melirik sekilas, wanita di sampingnya yang selalu terlihat ragu saat mengobrol.
"Tidak, ini pertama kali." Liona jujur.
"Pantas saja."
"Hah? Kenapa?"
"Kamu amatir saat minum tadi." Liona tertunduk, entah malu atau apa tapi ia membenarkan kalimat pria di sampingnya.
"Arka, belok kanan." Liona sadar saat Arka memilih jalur yang bersebrangan.
“Kamu pindah kosan?” Arka sempat menyernyit.
"Dari mana kamu tahu?" Setahu Liona, belum ada yang tahu kepindahannya yang baru-baru ini selain temennya.
"Hanya menebak." Balas Arka data.
"Jadi kamu benar-benar baru aja pindah? Kenapa sama tempat lama kamu?"
"Aku hanya merasa kurang aman."
Liona mengarahkan perjalanan mereka ke sebuah share house yang lumayan besar, biasanya di satu rumah di antara beberapa orang. Pemilik share house menyewakan rumah karena sudah lama menetap di rumah barunya.
"Kamu tinggal disini? Ini rumah keluargamu?" Arka penasaran saat pertama kali melihat rumah yang Liona huni.
"Ini share house yang di sewakan, ada beberapa orang yang tinggal," jelas Liona singkat.
"Apa semua penghuninya wanita?"
Liona mulai merasa jengah dengan banyak pertanyaan yang Arka lontarkan, Liona pikir Arka seharusnya tidak terlalu banyak tahu tentang kehidupannya yang tidak akan menjadi hal penting untuk dirinya.
"Ada satu pria, dan dua wanita. Arka, terima kasih tumpangannya. Aku pamit" Liona hendak membuka pintu mobil namun Arka mencekal tangannya.
"Bukannya justru tidak aman berada satu rumah dengan pria di dalamnya? Dia bisa saja pria jahat."
"Aku udah ketemu dia, dia pria baik. Arka, ini udah malam. Aku mengantuk, bisakah aku pergi sekarang?" Mata Liona berhadapan dengan pegangan Arka di tangannya yang segera lepas.
Sedikit berawan tapi tak berani hujan. Langit terlihat sedang dalam mode romantis. Liona tanggap anggun di lobi kantor yang baru saja menjadi tempat kerjanya beberapa bulan yang lalu setelah resmi pindah dari kerjaan sebelumnya.
"Liona, kamu panggil pak Arka ke ruangannya." Marko yang merupakan kepala di divisinya memanggil Liona yang baru saja mendudukan diri di kursi.
"Sepagi ini?" Bahkan Liona belum menghidupkan komputernya dan dia sudah harus menemui Arka di pagi buta, jam kerja baru saja di mulai lima menit lalu.
"Aku juga nggak tau, mungkin ada keperluan mendadak. Datang saja, sebelum dia marah," balas Marko bercanda.
Dua ketukan cukup untuk membuatnya masuk ke ruangan Arka, derap langkahnya menarik perhatian pria yang sedang fokus dengan komputernya beberapa detik lalu.
"Ada apa Bapak memanggil saya." Meski panggilan formal itu selalu membuat Arka jengah, tapi Liona melarang untuk memanggilnya dengan formal di jam kerja.
"Ikut denganku untuk bertemu kali ini."
"Tapi Nadine_"
"Aku tidak akan menyuruhmu kalau dia ada, pergi bersiap dalam lima menit. Aku menunggu di lobi." Liona bersungut dalam hati, kenapa harus dia. Perusahaan tidak harus membayarnya lebih karena pekerjaan ekstra yang dia lakukan.
Liona membuka laptop milik Arka untuk mempersiapkan tayangannya sebentar lagi. Namun matanya tertarik pada nama folder yang serupa dengan namanya dan sengaja mengklik folder tersebut.
"Arka, apa semua ini?"
It was a month after his car accident. He stood close in the hospital window while his family took care of the things. Zach doesn’t know if he should help, but they insisted for him not to move, even if he can fold on the clothes he’s on. Stacy slung his bags over his shoulders, and Zach came up on her rescue, retrieving the bags in her hands. “It is fine, Zach. You should stay there. Don’t exert yourself.” Zach was still on unprogressive state. His mind is still blank, and he couldn’t remember anything. They hoped that flying in to another country can give them ample amount of therapy he needed. Zach dreaded that the memories he had weren’t that good, that’s why his family isn’t saying something. “I can bring these, Stacy. Don’t treat me like a baby who couldn’t lift things.” Zach slung the bags over his shoulder while his parents cleared up the private ward. Stacy smiled to him, and she looked stressed. She must not be getting enough sleep based on how sunken her eyes were.
Stacy got taken aback. With his question, she doesn’t know what to answer. Something had gone wrong with her ears, but Zach was asking the right question. It’s not possible, right? They’ve been on each other’s side for a year, hiding behind Sam’s shadow, kissing each other inside the tinted cars so that no one would find out.Did Zach just regard her as a pastime?Stacy swallowed before speaking up, “Zach, I know you’re confused right now. But so you know, your heart was the one who would learn to remember those things and eventually, you’ll come back to square one.”She gave a little smile. Zach was staring at her face. He must be processing all of it before turning to another conversation. Stacy straightened out his comforter, and sat down on the edge of the bed.“How about my work, is it difficult?” Zach asked. Stacy reached out, holding his hand, and stared at his
Sam doesn’t pay attention to their meeting at all. She’s pre-occupied with the things going on between Stacy and Zach. All along their relationship, he has been lying to her that she’s the only one. Nothing could ever change the fact he lied… that she’s the only one he slept on.“Ms. Samantha Lee? Ms. Samantha Lee?” She snapped back to her senses. Right after she saw their gawking eyes, Sam raised her eyebrows to her member, and nodded. Good things they haven’t started the presentation yet. Sam shook off the thought of Zach right the moment the lights turned off.As Sam worked up in the details of their new concept for a drama, she couldn’t help but to wonder how those memories never cease to exist. It’s the only thing that’s keeping her still down a path Zach was never taking again. Sam had a lot to unravel, had a lot of questions to ask, on how he fell out of love after the 10th mark of th
A year ago.She ran to him at a bar once again. He must have dealt with a lot of things lately, and one of them is Sam. Stacy halted in her tracks as she recognized her back. What happened again? Did they fight again? It has been 3 weeks since Stacy and Zach parted ways from that dark street.Stacy knew her dignity has been crushed, but she never care more than anything now. She wanted to ask about his condition, anything Zach could have reasoned out the way he drank three shots of clear wine in just a minute. Stacy pursed her lips, staring at the dance floor, right to the people who were swaying under the dim light.No one’s here to help him except her.Stacy got torn upon approaching him on the stool or walking away and let him take care of his own. But it’s Zach! It’s him! He was the one who lighted up her day whenever he smiles. Stacy wouldn’t have been all that smiling in a day if it






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews