Malam itu, bulan menggantung tinggi di langit, memancarkan cahaya perak yang lembut. Di bawah sinar rembulan, Wisang dan Taka duduk di taman kota yang sepi, tempat yang sering mereka kunjungi sejak awal hubungan mereka. Namun, malam ini terasa berbeda. Ada jarak yang tak kasat mata di antara mereka, dan hati mereka dipenuhi kebingungan dan kecemasan.Wisang menatap ke arah bintang-bintang, pikirannya melayang jauh. "Taka," katanya dengan suara pelan, "kita sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi jika Dimas tidak kunjung menceraikanku, kita tak akan pernah bisa bersama secara utuh."Taka menghela napas panjang, menundukkan kepala. "Aku tahu, Wisang. Tapi aku juga tahu betapa sulitnya bagimu untuk meninggalkannya. Kau sudah mencoba sejauh ini, tapi Dimas selalu menemukan cara untuk menunda perceraian itu."Wisang mengangguk, merasakan keputusasaan yang mendalam. "Dia selalu berjanji akan melakukannya, tapi selalu ada alasan baru setiap kali. Aku tidak ingin terus berada dalam ketidakpastian
Malam harinya, Dimas duduk sendirian di bar, gelas wiski di tangannya. Ia telah menenggak beberapa gelas, mencoba menenggelamkan rasa sakit dan kebenciannya dalam alkohol. Malam itu terasa gelap dan berat, seakan memantulkan kekacauan yang terjadi dalam hatinya."Apa yang kau lakukan, Dimas?" gumamnya pada diri sendiri. "Bagaimana bisa dia meninggalkanku begitu saja? Kita sudah bersama begitu lama."Pikirannya melayang pada malam-malam yang dihabiskan bersama Wisang, cinta yang pernah mereka miliki, dan janji-janji yang mereka buat. Tapi sekarang semua itu terasa hampa, dan yang tersisa hanyalah rasa marah dan penghinaan. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling dicintainya.Seorang pelayan bar mendekat, melihat Dimas yang tampak kacau. "Anda baik-baik saja, Pak? Mungkin sudah cukup untuk malam ini."Dimas menggelengkan kepala, meneguk sisa wiski dalam gelasnya. "Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku kehilangan segalanya."Pelayan itu menghela napas, merasa kasihan pada pria yang je
Ketika Dimas sampai di rumah, perasaan campur aduk menghinggapi hatinya. Ia membuka pintu dengan hati-hati, berusaha tidak membuat kebisingan. Namun, langkahnya yang berat membangunkan ibunya yang sedang beristirahat di ruang tamu."Dimas, kamu sudah pulang," sapa ibunya dengan suara lembut namun penuh kekhawatiran. "Kamu terlihat lelah. Apa yang terjadi? Dan di mana Wisang?"Dimas terdiam sejenak, merasakan kebingungan yang semakin mendalam. Ia belum sempat memberi tahu ibunya tentang perpisahan dengan Wisang. Bagaimana caranya menjelaskan semuanya?"Bu," Dimas akhirnya membuka suara, suaranya bergetar, "ada banyak yang perlu Ibu ketahui. Wisang... dia sudah pergi."Wajah ibunya berubah, terlihat cemas dan terkejut. "Pergi? Maksudmu apa, Nak? Apa yang terjadi?"Dimas mengambil napas panjang, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan semuanya. "Wisang dan aku... kami sudah tidak bersama lagi, Bu. Dia memilih untuk bersama Taka."Ibunya terdiam, mencoba mencerna informasi yang
Proses perceraian antara Dimas dan juga Wisang tidaklah semudah yang mereka bayangkan, perjanjian pranikah yang dibuat dan disahkan oleh pengacara resmi keluarga mereka membuat perceraian menjadi hal yang sangat mustahil bagi Dimas maupun Wisang saat ini."Kenapa? Apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?" Taka yang sedari tadi memperhatikan Wisang terus melamun akhirnya bertanya. sayang, pertanyaan dari kakak tersebut tak bisa didengar dengan baik oleh Wisang yang memang tengah hanyut dalam bayangannya sendiri. Taka menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar ... dia mulai menyadari jika Wisang sedang gelisah dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu wanita itu. Diantara dinginnya pantai di pelabuhan yang berangin kencang serta suara deburan ombak yang terdengar memecah karang, dua insan yang tengah dilanda asmara ini nampaknya sedang sibuk dalam benaknya masing-masing. Ya untuk jeda panjang baik Wisang maupun Taka ... keduanya sama-sama terdiam menikmati angin malam t
Pagi itu, Wisang terbangun dengan perasaan hampa. Tangannya meraba tempat tidur di sebelahnya, mencari kehangatan yang seharusnya ada di sana, tapi yang dia temukan hanyalah dinginnya seprai yang kosong. Matanya membuka perlahan, masih diselimuti kantuk, dan perasaan cemas mulai merayap di hatinya."Taka?" panggil Wisang dengan suara serak. Tak ada jawaban.Dia bangkit dari tempat tidur, merasa ada yang aneh. Semua benda di kamar terlihat sama seperti malam sebelumnya. Namun, keberadaan Taka yang tak lagi di sisinya membuat suasana kamar itu seketika berubah menjadi asing.Wisang berjalan keluar kamar, menelusuri setiap sudut rumah dengan harapan menemukan Taka duduk di dapur atau sedang menyiapkan kopi seperti biasanya. Tapi rumah itu sunyi. Bahkan, tak ada tanda-tanda keberadaan Taka sama sekali. Ketika Wisang kembali ke kamar, pandangannya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ada satu pesan baru yang belum terbaca, dari Taka. Dengan jantung yang ber
Wisang berdiri di depan gedung perusahaan Taka, menatap langit yang semakin gelap. Hujan mulai turun, rintik-rintiknya membasahi rambut dan jaketnya, tetapi dia tidak peduli. Pikirannya terus dipenuhi oleh satu nama—Taka. Ke mana dia harus mencari? Wisang berpikir sejenak, mencoba mengingat tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi bersama. Taman kecil di dekat rumah mereka, kafe favorit mereka di sudut jalan, atau mungkin pantai tempat mereka sering duduk berdua menikmati senja. Namun, setiap tempat itu seolah-olah kehilangan kehangatannya tanpa Taka di sisinya.Tanpa berpikir panjang, Wisang memutuskan untuk pergi ke tempat pertama yang terlintas di benaknya—taman kecil di dekat rumah mereka. Taka sering berkata bahwa taman itu adalah tempatnya menenangkan diri, terutama saat dia merasa terbebani oleh pekerjaan atau masalah pribadi. Mungkin, hanya mungkin, Taka ada di sana, merenungkan sesuatu yang tidak bisa dia bagi dengan Wisang.Perjalanan menuju taman terasa berat. Jalanan yang
Keesokan harinya, Wisang berangkat ke kantornya dengan perasaan yang bercampur aduk. Setelah kejadian semalam di kafe, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Pria misterius itu menyebut Dimas, memberikan petunjuk samar, tapi tak banyak yang bisa Wisang lakukan dengan informasi terbatas. Pencariannya tentang Taka terus menyisakan banyak misteri yang belum terpecahkan.Saat Wisang memasuki lobi kantor, dia langsung melihat Taka berdiri di dekat lift, sedang berbicara dengan rekan kerja. Tubuh Wisang tegang seketika. Taka terlihat seperti biasa—rapi, tenang, namun ada sesuatu yang berbeda. Dia menyadari Taka tidak lagi menunjukkan kehangatan yang biasanya terpancar dalam tatapan matanya. Malah, saat Taka sekilas melihatnya, pria itu segera mengalihkan pandangan seolah Wisang tak ada di sana.Wisang mencoba mendekat, berharap bisa berbicara dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Taka!" panggilnya dengan suara pelan namun penuh harap.Namun, Taka hanya menoleh singkat tanpa eksp
"Aku selalu tahu, ada yang aneh dengan hubunganmu dan Dimas," kata Nadia dengan nada sinis. "Dan sekarang, setelah semua drama perceraian itu, kau berharap bisa menjadi istri Taka, ya?"Kata-kata itu menghantam Wisang seperti batu keras. Wajahnya memerah, bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa malu yang tiba-tiba menyeruak. "Apa maksudmu?" Wisang berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun dadanya bergemuruh.Nadia tertawa kecil, matanya memicing licik. "Oh, ayolah, Wisang. Semua orang bisa melihatnya. Kau memilih bercerai dari Dimas, lalu mendekati Taka. Kau pikir tak ada yang menyadari itu? Kau benar-benar berpikir Taka akan menggantikan posisimu yang sekarang hancur?"Wisang mengepalkan tangan, mencoba menahan amarah yang semakin mendidih. "Apa yang kau tahu tentang hidupku, Nadia?" tanyanya, berusaha menjaga nadanya tetap stabil. "Aku tidak perlu penilaianmu."Nadia melipat tangan di dadanya, senyumnya semakin melebar. "Oh, aku t
Reuni SMA itu seharusnya menjadi malam penuh nostalgia dan kebahagiaan bagi para alumni. Namun, bagi Wisang dan Taka, malam itu perlahan berubah menjadi ajang konspirasi yang mengancam hubungan mereka.Di balkon yang sepi, Wisang masih berdiri berhadapan dengan Dimas. Suasana di antara mereka penuh ketegangan. Wisang mencoba mengendalikan emosinya, tapi kata-kata Dimas terus menggema di pikirannya.“Aku bahagia dengan pilihanku,” ulang Wisang dengan suara lebih tegas. Namun, Dimas hanya tersenyum kecil, seolah-olah dia tahu sesuatu yang Wisang sendiri enggan akui.“Aku tidak yakin, Wisang,” kata Dimas, bersandar di pagar balkon. “Aku hanya ingin kau memikirkan sesuatu… Jika Taka benar-benar mencintaimu, mengapa dia tidak pernah benar-benar melepaskanku dari hidupnya?”Wisang menegang. “Apa maksudmu?”Dimas merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto kecil. Dia menyerahkannya pada Wisang dengan ekspresi penuh kemenangan.Deng
Di suatu tempat yang remang-remang, di sebuah lounge eksklusif yang hanya dihadiri oleh kalangan tertentu, Larissa duduk di sofa beludru dengan segelas anggur merah di tangannya. Di hadapannya, Dimas bersandar dengan santai, mengaduk minuman di gelasnya sambil menatap Larissa dengan tatapan penuh perhitungan."Jadi, kau sudah memikirkan rencana kita?" tanya Larissa, menyesap anggurnya dengan tenang.Dimas menyeringai. "Tentu saja. Taka tidak akan bisa menolak masa lalunya. Kita hanya perlu memancingnya ke dalam situasi yang membuatnya tak punya pilihan selain kembali padamu."Larissa menyilangkan kakinya, mengangkat alisnya dengan ekspresi tertarik. "Dan bagaimana kau berencana melakukannya? Wisang adalah masalah utama di sini. Taka mungkin masih memiliki perasaan padaku, tapi Wisang selalu ada di sampingnya. Dia tidak akan begitu saja membiarkan Taka kembali padaku."Dimas mengetukkan jemarinya di atas meja, berpikir sejenak sebelum berbicara, "Kau benar. Maka kita harus membuat Wisa
Wisang duduk di sudut kamar, tangannya mengepal di atas lututnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, tetapi pikirannya jauh dari pemandangan yang terbentang di luar sana. Semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya seperti film yang tak ada habisnya.Pertemuannya dengan Larissa membuatnya merasa semakin terpojok. Wanita itu berbicara seolah-olah dirinya adalah korban, seolah-olah Wisang adalah orang ketiga yang masuk ke dalam pernikahan Taka. Padahal, selama ini, Wisang yang harus menghadapi kenyataan bahwa dia menikahi seorang pria yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya.Dia mencintai Taka, tidak diragukan lagi. Tetapi cinta itu kini terasa bercampur dengan rasa sakit yang sulit ia jelaskan. Bagaimana mungkin dia harus terus bertahan sementara Larissa seolah berusaha membuatnya tampak seperti perebut suami orang? Bagaimana mungkin dia harus bertahan dengan fakta bahwa Dimas dan Larissa sedang berusaha memisahkan mereka?Taka sudah ber
Malam semakin larut ketika Wisang tiba di yayasan tempat Taka bekerja. Langkahnya mantap, tapi hatinya dipenuhi keraguan. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar tentang pertemuannya dengan Larissa sore tadi. Wanita itu bukan hanya kembali ke kehidupan Taka, tapi juga membawa aura ancaman yang sulit diabaikan.Ketika Wisang memasuki kantor utama yayasan, ia menemukan Taka masih sibuk di balik meja kerjanya. Pria itu tengah membaca laporan keuangan dengan serius, tetapi begitu melihat Wisang, ia langsung meletakkan dokumen itu dan menatap istrinya dengan lembut.“Kau masih di sini?” Taka bertanya, suaranya rendah namun penuh perhatian.Wisang mengangguk, kemudian duduk di kursi di hadapan suaminya. “Aku ingin bicara.”Taka menatapnya dengan penuh perhatian. “Tentang Larissa?”Wisang menghela napas, merasa terbebani dengan segala yang ada di pikirannya. “Aku bertemu dengannya sore ini. Dia datang untuk menjemput Ghenta.”Taka mengangguk, tidak terkejut. “Aku tahu dia akan datang
Malam berikutnya.Di sebuah kafe yang cukup tersembunyi di pusat kota, Dimas duduk dengan tenang, menyesap kopinya sambil menunggu seseorang. Senyumnya tipis ketika melihat seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat keemasan memasuki ruangan.Larissa.Ia melangkah anggun, mengenakan gaun hitam sederhana yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan ke arah Dimas. Begitu sampai di meja, ia duduk tanpa basa-basi, menyilangkan tangan di dada."Aku tidak menyangka kau akan menghubungiku duluan," ujar Larissa dengan nada penuh penilaian.Dimas tersenyum kecil. "Kita berdua menginginkan hal yang sama, bukan?"Larissa mengangkat alis. "Kau ingin memisahkan Taka dan Wisang, sedangkan aku hanya ingin Taka kembali padaku. Jangan salah paham, Dimas. Aku tidak peduli dengan urusan pribadimu."Dimas terkekeh. "Oh, tapi kita berdua sama-sama tahu bahwa mereka berdua tidak akan mudah dipisahkan tanpa sedikit… dorongan."Larissa menatapnya lama, lalu m
Taka berdiri di bawah lampu jalan, menunggu dengan gelisah. Hanya ada beberapa mobil yang melintas di sekitar area parkir restoran ini. Ia tidak ingin bertemu Larissa di rumah atau di tempat yang bisa menimbulkan kecurigaan. Maka, ia memilih lokasi netral—tempat yang cukup ramai untuk menghindari kesalahpahaman, tetapi cukup sepi agar mereka bisa berbicara tanpa gangguan.Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di dekatnya. Larissa keluar dari mobil dengan anggun, mengenakan mantel panjang berwarna krem. Wajahnya tetap sama seperti yang Taka ingat—dingin, penuh percaya diri, dan licik.“Kau benar-benar datang,” ucap Larissa dengan senyum tipis.Taka menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu keluargaku.”Larissa mengangkat alisnya, lalu melipat tangan. “Oh? Jadi sekarang kau menyebut mereka keluargamu?” Ia terkekeh kecil. “Padahal dulu, kau pernah menyebutku sebagai satu-satunya wanita yang kau cintai.”Taka menghela napas, berusaha mengendalikan emosi
Larissa baru saja berbalik menuju mobilnya ketika Wisang mengejarnya, langkahnya cepat dan penuh emosi yang tertahan.“Tunggu, Larissa,” panggil Wisang, suaranya tegas.Wanita itu berhenti, menoleh dengan ekspresi datar. “Apa lagi?”Wisang menatapnya tajam. “Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini? Kau membuat janji dengan Ghenta tanpa bicara dengan kami dulu, seolah kau lebih berhak atasnya.”Larissa menyilangkan tangan di dadanya. “Aku tidak perlu izin darimu atau Taka untuk menghabiskan waktu dengan Ghenta. Aku sudah mengenalnya sejak lama, dan dia menyayangiku.”Taka yang berdiri di ambang pintu menghela napas, tetapi membiarkan Wisang menangani ini.“Kau pikir itu alasan yang cukup?” Wisang mendekat, suaranya sedikit meninggi. “Kau tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan kami dan membuat keputusan sepihak! Ghenta bukan anakmu, Larissa!”Mata Larissa berkilat marah. “Dan kau juga bukan ayah kandungnya, Wisang! Tapi kenapa kau bertingkah seolah kau yang paling berhak?”Ucapann
Malam itu, setelah menghabiskan waktu bersama di taman, Wisang duduk di teras rumah dengan secangkir teh di tangannya. Udara malam terasa lebih sejuk dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia sedang berpikir, mencerna semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir.Taka muncul dari dalam rumah, membawa selimut tipis. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Wisang, menyelimutinya dengan pelan."Udara dingin," katanya singkat.Wisang menatapnya sekilas, lalu kembali memandang ke depan. "Aku baik-baik saja."Taka menghela napas, lalu mengeratkan selimut itu di bahu Wisang. "Aku tahu kau kuat. Tapi bukan berarti kau harus selalu sendiri dalam semua hal."Kata-kata itu menusuk sesuatu dalam diri Wisang. Ia tidak menjawab, hanya mengaduk tehnya perlahan.Beberapa saat berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Taka kembali membuka suara."Kau percaya padaku, Wisang?"Pria itu terdiam. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana itu."Jujur saja," lanjut Ta
Wisang duduk di meja makan, menatap piring di depannya tanpa banyak nafsu. Biasanya, makan malam adalah momen yang hangat. Ia dan Taka akan duduk bersama, membicarakan hari mereka, berbagi cerita kecil tentang Ghenta. Tapi malam ini, yang ada hanyalah keheningan. Taka duduk di seberang, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya membuka suara. “Kau sudah makan?” tanyanya pelan. Wisang mengangguk, meski hanya menyentuh makanannya sedikit. “Ya.” Taka terdiam sejenak sebelum akhirnya bangkit, membawa piring kotor ke wastafel. Biasanya, Wisang yang selalu mengomel saat ia lupa mencuci piringnya sendiri. Tapi kali ini, Wisang hanya diam, membiarkan Taka bergerak dengan caranya sendiri. Ketika Taka kembali ke meja makan, ia menatap Wisang lama. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi kata-kata terasa sulit untuk keluar. “Aku akan tidur lebih awal,” Wisang berkata akhirnya, bangkit dari kursinya. Taka refleks berdiri juga. “Wisang…” Wisang menoleh, menunggu. Taka menggigit bibi