Hari - 2
Meskipun Aku berkata bahwa Aku akan kembali ke kamarku saat keluar dari ruang tamu, tapi langkah kakiku tak mengarah pada kamarku, melainkan pada kamar yang menjadi lokasi kejadian pembunuhan.
Aku sebetulnya memang merasa mengantuk dan ingin tidur di kamarku, tapi saat berada di luar ruang makan, Aku merasa bahwa Aku harus pergi ke sana.
Aku langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa meminta izin pada siapapun, karena seharusnya tak ada orang di dalam sana, selain tubuh James yang tak bernyawa.
Meski Aku memiliki keraguan di dalam diriku, tapi Aku pada akhirnya memberanikan diriku untuk masuk ke dalam sana.
Mayat James yang seharusnya masih berserakan di lantai, sekarang sudah menghilang entah kemana. Bahkan Aku tak melihat adanya bekas mayat di sana.
“Ini aneh.”
Gumamku sambil mengamati ruangan itu. Tidak mungkin darah manusia bisa dibersihkan begitu saja dengan cepat dan tanpa menyisakan apapum
Aku berjala
Hari – 2.Saat Aku kembali ke kamarku, Aku melihat Bagas dan yang lainnya berkumpul di sana.“Kemana kau pergi?”Tanya Bagas, begitu Aku melangkah masuk ke kamar.“Aku hanya sedikit memeriksa lokasi pembunuhan.”Kataku, lalu duduk tak jauh dari Bagas.“Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Apa kalian tak ingin tidur?”Meskipun mereka memiliki waktu tidur yang lebih banyak dari pada Aku dan Bagas, tapi seharusnya mereka masih kekurangan waktu tidur.“Kami sedang menunggu kasur di kamar kami dipindahkan.”Aku merasa Sarah mengatakan sesuatu yang aneh. Memindahkan kasur? Dari kamarnya ke mana?“Kami memutuskan untuk memindahkan kasur yang berada di kamar Sarah dan Ria ke kamar Bagas, lalu Crona memutuskan untuk memindahkan kamarnya ke kamar yang ada di samping... kami sudah meminta bantuan dari staff menara, jadi seharusnya mereka sedang melakukannya saat ini.”“Apa kita diperbolehkan melakukan itu?”“Mereka semua ada di sini untuk membantu kehidupan kita, jadi tentu saja hal sekecil it
Hari - 2 Seperti biasa, kami berkumpul di ruang makan saat makan siang sudah tiba. Aku melihat bahwa kami semua hadir di ruang makan ini. Sepertinya tak ada orang yang mau melewatkan makan siang mereka untuk memeriksa keadaan di luar saat semua orang sedang menikmati makan siang. Setelah menyelesaikan makan siang kami, maka diskusi kami kembali dimulai. “Aku memiliki ide tentang bagaimana kita bisa melihat ke luar saat kita berada di dalam kamar kita saat malam hari, kita mungkin tak bisa melihatnya secara real-time, tapi kita masih bisa melihatnya di pagi hari.” Aku berkata untuk memulai topik pagi ini. “Jadi apa kau berkata kau ingin menyerah untuk menemukan si pengkhianat hari ini?” Adrian seperti biasa menjadi orang yang menentang diriku, meski sepertinya dia tak menentang ideku. “Dilihat dari informasi kita yang terbatas, maka jawabannya adalah ya... kami juga masih tak bisa memikirkan cara menemukan si pengkhianat.” “Jadi apa idemu?” Aku kemudian mengeluarkan smartphone
Hari - 2“Tadi pagi Aku dan Kevin sempat mendiskusikan hal ini, mungkin saja kita bisa menemukan siapa si pengkhianat, jika kita mengetahui metode apa yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan pihak menara, seperti si Kepala desa.”Sebastian menjelaskan alasan kenapa Kevin menanyakan hal tersebut.Banyak orang yang mulai berisik dan membicarakan hal tersebut.“Mereka bisa menggunakan telpon, kan?”“Memangnya bagaimana dia menggunakan telpon tanpa diketahui oleh yang lain?”“Apa ada ruang tersembunyi?”“Bukankah kita akan curiga padanya, jika dia tiba-tiba menghilang.”Mereka mulai mendiskusikan dengan orang yang berada di dekat mereka tanpa menyuarakannya dengan kencang dan jelas. Beberapa hal yang mereka bicarakan cukup masuk akal.“Bagaimana menurutmu, Asraf? Apa kau menemukan jawaban yang bagus?”Aku menaruh tanganku di atas daguku.
Hari – 2. “Apa maksudmu si pengkhianat menggunakan tempat yang bisa dia gunakan untuk menyendiri sebagai tempat untuk menyampaikan nama orang yang ingin dibunuhnya?” Hunter menanyakan hal tersebut dengan wajah bingung. “Kurang lebih begitu... dia bisa mencari suatu tempat yang tak didatangi oleh orang lain pada umumnya atau tempat yang umumnya dikunjungi oleh orang-orang tapi tak terpikirkan bahwa tempat itu akan digunakan untuk menyampaikan pesan rahasia.” “Tapi apakah ada tempat seperti itu di sini?” Cinta kembali bertanya sambil memiringkan kepalanya, jari telunjuknya kali ini diletakan di ujung pelipisnya seakan-akan dia sedang berpikir. “Tempat seperti itu, apakah itu toilet?” Cinta tiba-tiba menyebutkan nama tempat yang tak seharusnya disebutkan oleh gadis dengan kencang. “Jika kau membicarakan tentang toilet, maka kau pasti membicarakannya, kan?” “Tak salah lagi, itu memang dia!” “Kurasa tak ada yang lebih cocok dari pada dia.” Meskipun para lelaki itu berbicara denga
Hari – 2.“A-apa maksudmu kita akan menentukan si-siapa si pengkhianat itu?”Lion bertanya dengan tergagap.“Kita hanya menentukan siapa saja yang menurut kita paling mencurigakan, lalu kalian bisa memikirkan siapakah di antara orang yang paling mencurigakan itu yang kemungkinan adalah si pengkhianat... kita akan membahas siapakah si pengkhianat saat makan malam.”Adrian menjelaskan sambil membenarkan letak kacamatanya.“Apa kita akan menggunakan voting lagi?”Sarah bertanya dengan tatapan serius yang mengarah pada Adrian.“Ya, lebih baik kita menyelesaikan ini dengan cara demokrasi, kan?”Sarah tak memberi jawaban. Dia hanya nampak kembali berpikir.“Apa kalian memiliki keluhan, Asraf? Rock?”Adrian mengarahkan tatapannya padaku, lalu pada Rock. Dua orang yang mungkin menentang keputusannya.“Aku tak masalah menggunakan cara kasarmu, jika memang benar-benar menemukan siapa si pengkhianat.”Aku memberikan jawabanku, tapi Rock nampak terdiam di tempat duduknya.“Kenapa kau berpikir unt
Hari – 2.Aku kembali ke kamarku untuk melihat keadaan dari kedua kamar yang seharusnya mendapatkan tambahan kasur dari kamar yang lain.Saat Aku sampai di kamarku, ternyata kamarku mendapatkan tambahan kasur. Meskipun kasur itu nampak tak cocok dengan suasana ruangan yang bernuansa Jepang, tapi kurasa itu bukanlah masalah besar. Karena mereka pasti akan menggunakan ruangan ini juga, jadi wajar saja jika mereka juga ingin menambahkan kasur di kamar ini, meskipun hanya satu.Setelah puas melihat perubahan pada tiga kamar, Aku segera pergi dari sana, karena di kamar hanya ada Bagas yang nampak tiduran di atas futon miliknya. Dia nampak tak tertarik untuk mencoba kasur baru itu.Aku memutuskan untuk berkeliling menara untuk menghabiskan waktu luangku. Aku juga tak lupa membawa kertas putih yang kudapatkan dari Adrian.Meskipun dia menyuruhku untuk menuliskan orang yang paling mencurigakan, tapi Aku sama sekali tak tahu harus menulis nama siapa. Aku yakin bahwa orang itu pasti akan menyur
Hari – 2.Begitu Aku membalikan tubuhku, Aku langsung disambut dengan pandangan menyelidiki dari Fiona. Gadis itu nampaknya sedang mencurigai diriku.“Aku hanya sedang melihat-lihat buku.”Aku tak berbohong, Aku memang sedang melihat-lihat buku, meski Aku belum menemukan buku yang bisa kubaca.“Ini adalah bagian buku berbahasa Prancis, kenapa kau berada di sini? Apa kau bisa berbahasa Prancis?”Begitukah, jadi ini bukan bahasa Italia atau Spanyol, tapi Prancis. Tapi kenapa dia bisa mengetahu hal tersebut?“Kenapa kau bisa tahu buku-buku di sini menggunakan bahasa Prancis?”Fiona nampak menghela napasnya saat mendengar perkataanku. Dia kemudian menunjuk ke arah pojok kanan atas dari rak yang ada di dekatku. Di sana terdapat tanda FR yang cukup sulit dilihat, jika kau tak teliti.“Setiap rak memiliki kode bahasa dari buku-buku yang ada di rak tersebut, karena tulisan di rak itu adalah FR, maka bahasa yang digunakan di buku-buku pada rak itu adalah Bahasa Prancis. Apa kau tak tahu hal se
Hari – 2. Kami semua kembali berkumpul saat makan malam. Aku bisa melihat banyak orang yang memasang wajah suram di ruangan ini. Tak heran, karena malam ini kita akan mencoba menentukan siapakah si pengkhianat. Aku tak yakin ada banyak dari kami yang sudah memutuskan siapakah yang mereka pilih sebagai si pengkhianat. Aku sendiri masih mengosongkan kertas yang kudapatkan dari Adrian. Aku juga telah memeriksa kertas Bagas dan yang lain, tapi mereka semua masih tak menuliskan nama siapapun. Meski Crona memasang wajah yang mengatakan bahwa dia memiliki satu nama di kepalanya. Aku ragu Crona mau mengatakannya, jadi Aku tak menanyakannya. Belum lagi, Aku tak ingin pilihan orang lain memutuskan apa yang kupilih. “Untuk pertemuan kita kali ini, Aku sudah menyiapkan papan tulis besar... Rock dan yang lain, bisa bantu Aku menempatkannya dengan benar.” Mendengar perintah Adrian, Rock dan kelompoknya segera mendorong sebuah papan tulis besar yang memiliki roda di kakinya. Aku kagum mereka bi
pertama Author di GoodNovel. Butuh banyak petuangan untuk menyelesaikan Novel yang satu ini, terutama melawan rasa malas. Meskipun cerita utama dari Novel ini sudah berakhir, tapi Author berencana untuk menuliskan cerita pendek yang menceritakan masa lalu dari setiap karakter yang hanya diceritakan sekilas, keseharian Asraf dan yang lainnya di dalam menara yang tak bisa dimasukkan ke dalam cerita utama, lalu kehidupan sehari-hari mereka setelah tinggal di Desa Tanpa Nama. Kemungkinan besar ceritanya akan di Post di Blog pribadi Author dan bukan di platform ini. Jadi silahkan tunggu cerita Author yang selanjutnya. Author juga mau mengucapkan terima kasih kepada Editor yang telah membantu saya, juga pada GoodNovel yang sudah mau menayangkan Novel ini dan terutama pada para pembaca setia yang mau membaca cerita ini sampai habis. Sampai jumpa lagi di karya Saya yang selanjutnya. TTD Author, Ismail Fadillah.
Sebulan kemudian.Tak terasa waktu berjalan begitu saja, bahkan pengalaman kami di Menara Tanpa Nama itu mulai terasa seperti mimpi.Menara itu sekarang sudah terbakar dengan hanya menyisakan puing-puing bangunan. Sejujurnya Aku merasa seperti mengalami keajaiban, karena bisa selamat dari api yang dapat membakar semua bagian dari Menara besar itu.Keberuntungan mungkin sedang terjadi pada kami, karena dampak dari terbakarnya menara itu tak meluas sama sekali. Yah, sebetulnya Aku tak tahu itu hanya sekedar keberuntungan semata atau ada semacam kekuatan aneh yang melindungi Desa dari api tersebut.Aku akan berbohong jika mengatakan bahwa Aku tak merasakan apapun saat melihat puing-puing dari Menara itu. Karena meski sebentar, kami telah menghabiskan 10 hari di dalam sana. Dan tempat itu juga menyimpan tubuh teman-teman kami yang telah meninggal. Pada akhirnya sampai akhir kami tak pernah lagi melihat tubuh mereka. Bahkan saat api yang membakar Menara itu te
Hari – 10.Setelah berpisah dengan Asraf, kami semua berjalan menuju pintu keluar dari Menara ini. Kami semua berhenti tepat di depan pintu tersebut, lalu saling melihat ekspresi wajah satu sama lain.“Sebelumnya pintu itu tak bisa terbuka sama sekali, kan?”Tanya Cinta sambil melihat pintu yang ada di hadapannya.“Ya, itu benar... Aku dan Asraf sudah mencoba membukanya.”Jawabku sambil berjalan menuju pintu tersebut, Rock dan Michael juga segera mengikutiku. Kami bertiga kemudian mendorong pintu tersebut. Meskipun berat, tapi kami bisa membuka pintu tersebut, berbeda sekali dengan apa yang terjadi di hari pertama kami datang ke tempat ini.“Pintunya benar-benar terbuka...”Gumam Cinta tak percaya.Aku menutupi wajahku dari sinar matahari yang masuk melalui pintu tersebut. Setelah seminggu lebih tak melihat cahaya matahari, Aku jadi merasa silau dengan cahayanya.“Kita benar-benar sudah bebas.”Aku bisa mendengar gumaman Lisa saat gadis itu berjalan keluar dari Menara ini.“Horeee! Ki
Hari – 10.“Aku benar-benar tak menyangka bahwa Christ akan mengkhianatiku.”Kata Kepala desa sambil melihat kedua orang yang berbadan besar di lantai. Aku bisa melihat ada minuman yang tumpah di lantai, kemungkinan besar mereka diracuni olehnya.“Aku sendiri juga tak menyangka akan hal tersebut.”Balasku dengan jujur. Aku memang tak pernah berencana untuk melibatkannya.“Apakah dia memang menyimpan dendam padaku? Aku tak menyangka bahwa lelaki sepertinya akan menyimpan dendam.”“Itu mungkin salahmu sendiri bahwa kau membunuh salah satu anggota keluarganya.”“Hmm... kurasa kau memang benar.”“Tentu saja Aku benar.”Meskipun dia seharusnya tahu apa yang saat ini sedang kurencanakan, tapi dia tak terlihat panik sama sekali.“Nah, apa sudah kau mengetahui apa yang sedang kurencanakan saat ini?”“Ya, tentu saja.”“Lalu kenapa kau tak melarikan diri?”“Untuk apa? Aku ini sudah tua, bahkan jika kau tak melakukan ini, Aku pada akhirnya akan mati juga.”Kepala desa itu memberikan senyuman ten
Hari – 10.“Asraf, apa kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya sendirian lagi?”Tanya Sarah yang nampak tak senang dengan apa yang ingin kulakukan.“Ya, kurasa begitu.”Jawabku dengan santai.“Apa kau tak berpikir untuk merubah sifatmu yang satu itu?”Sarah kembali bertanya, tapi dengan nada yang lebih kesal dari sebelumnya.“Untuk saat ini... tidak!”Jawabku tanpa ragu.“Kenapa?”Sarah menghilangkan nada kesalnya dan menggatinya dengan nada sedih.“Tidak ada alasan yang begitu spesial, kurasa Aku hanya bertindak egois.”Aku memberikan senyum lemah saat mengatakan itu.“Apa kau ingat saat Aku berkata ingin merubah tempat ini?”Tanyaku dengan suara lemah, tapi masih dapat terdengar oleh Sarah dan yang lain.“Ya, kau pernah mengatakan itu... kau serius tentang itu, kan?”“Ya, tentu saja... Aku benar-benar berniat untuk melakukannya, tapi untuk melakukan hal tersebut.”“Kau perlu menjadi Kepala desa... betul, kan?”Crona melanjutkan ucapanku dengan nada percaya diri. Aku mengangguk ke
Hari – 10.“Tidak ada yang benar-benar kusembunyikan dari kalian tentang sifatku yang asli... Aku memang selalu seperti ini.”Jawabku sambil tersenyum santai.“Apa itu memang benar?”Tapi nampaknya Maria tak percaya dengan perkataanku sedikitpun.“Itu memang yang sebenarnya, kau bisa tanyakan saja pada Bagas... dia sudah mengenalku luar dan dalam, jadi dia seharusnya tahu jika Aku sedang menyembunyikan sifat asliku atau tidak.”Aku melihat ke arah Bagas untuk meminta pendapatnya.“Ya, Aku sudah lama mengenalnya... jadi Aku tahu bahwa dia tidaklah banyak berubah dari sebelum dan sesudah dia datang ke tempat ini.”Jawab Bagas tanpa ragu sama sekali.“Benarkah itu?”Tapi sepertinya Maria meragukan hal tersebut.“Apa yang ingin kau katakan?”Bagas menajamkan pandangannya pada Maria.“Tidakkah kau berpikir bahwa dia sebelum dan sesudah Kakaknya meninggal adalah dua orang yang berbeda?”“Maksudmu?”“Oh, ayolah... Aku tahu bahwa kau sudah menyadarinya... bahwa Asraf yang sebelum dia menjadi
Hari – 10.“Jadi apa yang ingin kau lakukan setelah ini, Rock?”Tanya Michael yang sudah mengerti apa yang kami bicarakan, sebelum dia dan Rock bergabung dengan kami.“Kau tahu sudah mengerti bahwa kau tak mungkin terus seperti ini, kan?”Lanjut Michael yang mendesak Rock untuk menjawab pertanyaannya.Rock nampak menggaruk lengan kirinya dengan cangung. Dia sepertinya memang sudah menyadari hal tersebut, tapi sayangnya dia belum bisa menentukan hal yang bisa dia lakukan di luar sana.“Aku selalu berkelahi.”Katanya dengan tiba-tiba.“Hal tersebut membuatku ditakuti oleh banyak orang dan tentu saja mendapat banyak musuh... Aku sendiri tak begitu mengerti kenapa Aku tak bisa menahan diriku, tidak kurasa itu hanya alasanku... Aku hanya bersikap terlalu egois dan tak mau mengerti perasaan orang lain... Aku selalu saja membuat orang-orang di sekitarku kerepotan karena tingkahku yang eg
Hari – 10.“Pertama-tama, mari kita hilangkan suasana kaku di sini dan membicarakan sesuatu dengan lebih santai!”Kataku sambil meregangkan tubuhku agar tubuhku merasa lebih santai.“Kau benar... kita sudah terbebas dari permainan itu, jadi kita lebih baik bersikap lebih santai.”Kata Sarah yang setuju dengan ideku.“Justru itu adalah hal yang kulakukan saat ini... kenapa kalian seperti tidak menyadarinya!”Kata Cinta yang telihat kesal. Tentu saja Aku menyadarinya, jadi seharusnya dia tak perlu marah begitu.“Tenang saja, Cinta... Aku mengerti usaha yang ingin kau lakukan.”Kataku yang membuatnya menoleh ke arahku dengan ekspresi sedikit terkejut.“Eh! Benarkah itu?”Aku menganggukkan kepalaku.“Tentu saja... kau ingin kami melupakan peristiwa buruk yang terjadi di sini, kan? Meski hanya untuk sementara waktu.”Cinta terse
Hari – 10.Setelah merapikan tempat tidurku, Aku langsung bergagas mandi dan mengganti pakaianku. Aku sebetulnya cukup menyukai baju baru yang kudapatkan di tempat ini, tapi sepertinya Aku harus meninggalkan baju tersebut di sini, karena setelah diperhatikan ternyata baju itu memiliki noda darah yang sulit dihilangkan. Kemungkinan besar itu adalah bekas pertarungan antara Aku dan Sebastian kemarin. Saat itu dia memiliki banyak noda darah di dirinya, belum lagi dia menggunakan pisau yang basah oleh darah segar.Setelah itu, Aku mengemas kembali barang-barang bawaanku. Aku jadi teringat, Aku membeli obat sebelum ke tempat ini, tapi sepertinya Aku hanya menggunakannya sedikit. Meski begitu Aku memutuskan untuk tetap menyimpannya, karena siapa tahu Aku membutuhkannya.Setelah beres, Aku membawa barang bawaanku keluar kamar. Di saat yang hampir bersamaan, Bagas juga nampak keluar dari kamarnya.“Ah, Asraf... apa kau...”Bagas berhenti bertanya di tengah-tengah, dia kemudian menggelengkan k