Beranda / Horor / Misteri Desa Purnama / Bab 8. Bulan dan Kenangan

Share

Bab 8. Bulan dan Kenangan

Penulis: TasTag
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

Aku tak menyangka akan bertemu Bulan secepat ini. Bulan terlihat sangat cantik, persis seperti yang ada dalam mimpiku.

"Kau tahu, terlalu banyak yang terjadi di desa ini saat itu. Akibat dari mereka yang terlibat dengan makhluk seperti kami." Ucap Bulan yang terus menatap sinar bulan di atas langit malam.

Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya, "Lalu, kenapa kau masih di sini? Apa alasanmu masih berada di sini adalah orangtuamu?"

Bulan menggeleng, "Tidak. Aku sendiri tak tahu apa alasannya. Tapi, aku merasa belum bisa pergi dari sini."

"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu? Aku benar-benar ingin membantumu, Bulan," bujukku pada Bulan.

Bulan menatapku nanar, "Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Orangtuaku sudah lama merelakanku dan aku pun begitu. Tapi, aku merasakan seperti ada yang mengganjal di hatiku. Seperti sesuatu yang belum tuntas."

Penjelasan Bulan itu sangat tak kumengerti. Mungkin itu alasan Bulan meminta tolong padaku waktu itu. Dalam mimpiku, sepertinya dia ingin memberitahukanku sesuatu.

Aku menatap kedua matanya yang sayu, mata hitamnya begitu bersinar saat cahaya bulan menerangi wajahnya.

"Aku juga kadang merasa heran pada diriku sendiri, entah bagaimana aku jadi seperti bukan diriku lagi. Aku jadi tak pernah terkejut atau pun takut melihat makhluk sepertimu. Mungkin aku mulai terbiasa dengan kemampuan yang aku miliki ini." Aku mulai berjalan ke arah Bulan yang tengah mengayunkan kakinya di atas tanah.

"Baguslah. Karena mungkin aku akan sering mengganggumu," jawab Bulan.

Aku terkekeh, ternyata hantu juga bisa bercanda, gumamku.

"Bulan, apa aku boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu," jawab Bulan tanpa mengalihkan pandangannya dari gelapnya langit malam ini.

Aku mencoba berpikir, aku harus memulai dari mana untuk bertanya. Begitu banyak pertanyaan dalam benakku saat ini.

"Siapa orang yang mengejarmu dalam mimpiku tempo hari?"

Bulan memainkan kedua kakinya yang terlihat tak menapak ke tanah. Matanya masih tertuju pada langit malam di atasnya.

"Dia adalah orang suruhan kepala desa di desa ini."

Aku mulai memberanikan diri mendekati Bulan yang saat itu mulai bercahaya. Raut wajahnya kembali hidup saat aku mulai bertanya tentang kehidupannya di masa lalu.

"Apa yang terjadi, mengapa orang-orang itu mengejarmu?"

Bulan terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Dulu, aku pernah bertemu dengan seorang pemuda bernama Razan. Dia adalah pemuda yang tinggal di kota."

"Razan dan aku bertemu di kebun karet milik ayahnya yang seorang kepala desa. Saat itu, aku tak sengaja berpapasan dengannya yang sedang melihat-lihat pekerja di perkebunan." Bulan tampak tersenyum, ingatannya mulai membuat dia merasa hidup kembali. Bulan terlihat sangat bersemangat saat menyebut nama Razan.

"Hari itu, aku sedang mengantarkan makan siang untuk Ibu yang bekerja di perkebunan. Razan rupanya sering memperhatikanku dari jauh. Razan bilang, dia menyukaiku pada pandangan pertama."

Bulan lanjut bercerita, sedangkan aku duduk di sebelahnya sambil menatapnya seakan tak percaya, bahwa aku bisa bertemu dan berbicara dengan Bulan.

"Setelah beberapa hari mengenalnya, kami menjadi sangat akrab. Aku sering diantar menggunakan motor saat hendak mengantar makanan untuk Ibu di kebun. Saat itu, tak ada yang aneh. Bahkan, kami berdua sering berjanji untuk bertemu di suatu tempat."

Tiba-tiba, raut wajah Bulan kembali redup, mungkin dia akan bercerita bagian yang sulit, pikirku.

"Sampai pada suatu hari, aku dikejutkan dengan kedatangan rombongan kepala desa ke rumahku. Aku pikir, mereka datang atas keinginan Razan untuk membawaku ke hubungan yang lebih serius. Tapi, ternyata tujuan mereka datang ke sini rupanya untuk memintaku menjadi istri ketiga dari kepala desa yang membuatku sangat terkejut. Hal yang sama juga di rasakan kedua orangtuaku. Semua itu tidak sesuai dengan perkiraan kami."

"Lalu, apa yang kau lakukan?" tanyaku memotong cerita Bulan.

"Tentu aku menolaknya. Aku bilang, aku belum ingin menikah," jawab Bulan santai.

"Saat mendengar penolakanku, kepala desa itu pergi dengan wajah yang marah."

Kini wajah Bulan kembali muram, dia tak lagi tersenyum seperti saat menceritakan pemuda yang bernama Razan.

"Kau tahu, keesokan harinya, muncullah berita yang diyakini warga desa. Bahwa aku telah menolak pinangan anak kepala desa, yaitu Razan. Hihihi ...," Bulan terkekeh.

"Saat itu, satu desa bergunjing. Mereka bilang aku terlalu sombong telah menolak pinangan dari anak kepala desa. Sejak saat itu, aku dan keluargaku mulai dikucilkan oleh warga. Setelah itu, aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku." Bulan kemudian terdiam, dia seperti sangat sedih saat mengingat kejadian di masa lalunya.

"Lalu, apa yang terjadi pada Razan? Apa kau sempat bertemu lagi dengannya?" Hatiku bergejolak saat menyebut nama pemuda itu. Entah kenapa aku merasakan amarah yang besar saat menyebut namanya.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Syarif
Razan,itu nama anak ku. gadis kecil ku yg imut.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Misteri Desa Purnama   Bab 9. Menuju Keabadian

    "Aku tak tahu. Kami pernah berjanji bertemu setelah kejadian itu. Tapi Razan tak pernah datang," jawab Bulan lirih.Sekarang aku mulai mengerti. Mungkin maksud Bulan, sesuatu yang mengganjal di hatinya itu adalah perasaannya pada Razan. Bulan masih menunggu jawaban dari Razan yang tak datang saat itu. Itulah alasannya mengapa Bulan belum bisa pergi dengan tenang."Bulan. Aku berjanji akan membantumu pergi dengan tenang. Kau harus pergi bila melihat cahaya yang menjemputmu, oke?" ucapku mengutip kalimat dari pembawa acara sebuah tayangan misteri di youtube.Bulan tertawa cekikikkan. Dia pikir, mungkin itu tidak akan lagi membuatku merasa takut. Tetap saja, bulu kudukku merinding dibuatnya."Kau ini sudah seperti pemburu hantu saja," jawab Bulan."Memang ... apakah benar cahaya seperti itu ada?" tanya Bulan padaku seakan tak percaya.Aku langsung berkata, "Tentu saja. Mereka akan menemukan cahaya dan kembali bahagia. Biasanya seperti itu, kan?"Bulan seperti tak bersemangat. Dia terus m

  • Misteri Desa Purnama   Bab 10. Gadis Misterius

    "Nana, keluarlah. Aku membutuhkan Nur untuk menunjukkan jalan," pintaku pada Nana."Hmm ... baiklah, Aldi. Tapi Aldi janji, ya. Setelah ini, Aldi akan bermain dengan Nana." Rengek Nana sambil menarik-narik bajuku dari belakang."Tentu. Aldi pasti akan bermain dengan Nana." Jawabku mengiyakan ajakan Nana saat itu. ***Setelah menempuh hampir 20 menit perjalanan, akhirnya kami pun sampai di perkebunan karet milik kepala desa. Di sana banyak pekerja yang sedang menyadap pohon karet. Aku berjalan di antara mereka, menyusuri setiap tempat yang ada di sana.Anehnya, aku seperti merasakan udara dingin menusuk ke tulangku. Padahal ini baru tengah hari, matahari pun masih berada di atas kepalaku.Udara di sini memang sangat berbeda, bulu kudukku merinding tatkala melihat sosok-sosok makhluk yang mendekatiku dengan wujud asli mereka yang terlihat menyeramkan. Aku mencoba tetap tenang, melawan rasa takut agar tak terlihat mencolok di hadapan mereka."Anak kecil ini sungguh merepotkan," gerutu Bu

  • Misteri Desa Purnama   Bab 11. Rosmala

    Blarr ... ! Jgeeer ... Suara dentuman petir yang menyambar dari langit. Hari mulai terlihat semakin gelap. Hujan yang tadinya gerimis, kini disertai kilatan petir. Aku bergegas berlari sembari memanggil Nana, "Nana, kau di mana?" teriakku sambil melirik ke sana ke mari. Tak terdengar suara sautan dari Nana, hanya ada suara hujan yang mulai membasahi tanah tempatku berpijak. Hujan semakin deras, jalanan menjadi sangat becek dan licin. Aku tak dapat menemukan Nana. Makhluk-makhluk yang berada di sekitarku beberapa kali mulai mencoba menggangguku. Mulai dari suara-suara aneh terdengar di sekitarku, sosok-sosok yang melayang -layang di atas tanah mulai mendekatiku. Aku merasakan jantungku berdebar sangat cepat, mereka semakin mendekat. Ssss ... ssss ... ssss .... Sosok ular raksasa dengan sisik yang berukuran sebesar piring saji itu terus berdesis di sampingku, seakan ingin segera menyantapku hidup-hidup. "Astaga! Makhluk apa itu?" A

  • Misteri Desa Purnama   Bab 12. Hantu Kardun

    "Eh, Bulan. Sedang apa kau di tubuh Nur? Aku kan bisa melihatmu tanpa kau memasuki tubuh Nur." Sat ... set ... sat ... set ... ! Begitulah kira-kira Bulan saat memasuki tubuh Nur. Pergerakannya sangat cepat, sampai-sampai mataku tak punya waktu untuk berkedip. Bulan tiba-tiba sudah berada di pangkuanku dengan tubuh Nur. "A-apa ini?" Suaraku mulai bergetar, dadaku sesak. Mengapa ada adegan seperti ini? "Apa kau ingin mati bersamaku?" Bulan berbisik pelan di telingaku. "Jangan pernah mencoba mendekati Rosmala. Dia sangat berbahaya, kau mengerti?" "Rosmala?" tanyaku heran. "Astgfirullah ... Nur, apa yang kamu lakukan? Cepat turun dari sana!" Teriak Bi Sari yang terlihat kaget melihat posisi yang sangat tak lazim ini. Bi Sari lekas berlari dari arah dapur untuk menarik Nur dari atas tubuhku. "Isshhh ... kamu ini Nur, kenapa kamu ada di sana? Cepat minta maaf pada Nak Aldi." Pinta Bi Sari yang melihatku dalam keadaan syok berat. Bulan tiba-tiba menangis. Dengan tubuh Nur, Bulan ak

  • Misteri Desa Purnama   Bab 13. Hantu Kardun Bagian. 2

    Sekitar pukul tujuh pagi, aku sudah bersiap untuk pergi ke rumah Nur. Aku sengaja mengambil jalan alternatif yang ditunjukkan Mbah Atmo untuk pergi ke rumah Nur dengan alasan tak ingin melihat sosok kakek penunggu rumah kosong di pertigaan jalan. Aku berjalan sekitar lima belas menit menuju arah jalan desa. Jalanan rupanya sudah dipenuhi dengan penduduk desa yang akan memulai kegiatan berkebuh mereka. Ada juga yang menggunakan sepeda untuk membawa perlengkapan berkebun, ada pula yang menggiring hewan peliharaan mereka untuk dipekerjakan di ladang. Sungguh benar-benar suasana desa yang sebenarnya. Udaranya pun sangat sejuk, ditambah pemandangan asri yang memanjakan mataku. Aku teringat mencari sebuah warung di sekitar sini, aku sudah berjanji akan memberikan makanan enak untuk Nur. Saat aku hendak menuju warung yang terletak di seberang jalan, sebuah motor yang melaju cepat datang dari arah depan. Dengan pengemudi yang tampak tak asing bagiku. Eh, tapi kenapa motor itu malah semaki

  • Misteri Desa Purnama   Bab 14. Hantu Kardun Bagian. 3

    Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari menerobos pintu rumah Nur yang kebetulan tidak terkunci. Aku melihat sekeliling, tak kutemukan Nur di sana. Aku kembali berlari ke arah kamar Nur. "Nur? Kau di mana?" Aku semakin cemas, rupanya Nur juga tak ada di kamarnya. "Kakak?" Suara Nur dari belakang. "Astaga! Kau mengagetkanku saja, Nur," jawabku sambil mengelus dada. "Seharusnya aku yang kaget, Kakak tiba-tiba ada di sini?" "Syukurlah kau baik-baik saja," ucapku pada Nur yang terlihat heran. Aku dan Nur kemudian keluar untuk mengobrol di teras rumah, di sana ada seekor kucing betina bernama Mirna. Mirna adalah kucing kampung yang setiap hari selalu datang kemari untuk meminta diberi makan oleh Nur. "Hai, cantik. Kau mencariku, ya? Ini makanlah." Ucap Nur sembari menyodorkan semangkuk nasi sisa yang telah dicampur dengan potongan ikan segar. "Kau sendirian di rumah? Orangtuamu ke mana?" ucapku sembari duduk di kursi kecil berbahan kayu di teras rumah. Nur yang tengah mengelus

  • Misteri Desa Purnama   Bab 15. Keanehan Bersama Rosmala

    Ternyata gadis itu adalah Rosmala, gadis yang kutemui di perkebunan kemarin dan anak gadis dari Pak Sarip dan Bi Asih. Dia membawa sebuah keranjang kecil berisi buah-buahan yang masih segar. "Ah, tidak apa-apa." Aku segera menjatuhkan kembali ember itu ke dalam sumur, takutnya Rosmala melihat kepala tanpa tubuh yang sedari tadi ada di sana. "Ini, aku bawakan buah-buahan segar dari kebun Ibuku. Terima kasih telah membantu Ayahku tadi pagi," ucapnya masih dengan nada ketus. "Aduh, tidak usah repot-repot," balasku. Rosmala terlihat tersenyum saat aku mengambil keranjang buah yang dibawanya. "Katanya tak usah repot-repot, tapi, kau bawa juga buah-buahannya." Ejek Rosmala saat melihat tingkah lucuku. Kami tertawa bersama sebelum Bi Sari memanggil kami masuk ke dalam. Karena sudah sore, Rosmala segera berpamitan padaku dan Bi Sari. Dia bilang, harus segera pulang agar tak kemalaman di jalan. "Aku antar ya?" ajakku bersemangat. "Tidak perlu," jawab Rosmala."Jalanan akan sangat gelap

  • Misteri Desa Purnama   Bab 16. Hantu Kardun Bagian. 4

    Suara tawa cekikikan yang tak asing terdengar dari seorang perempuan dari jauh. Konon katanya, bila suara makhluk itu terdengar dekat, berarti makhluk itu berada jauh dari kita. Tapi sebaliknya, bila suaranya terdengar jauh, berarti makhluk itu berada di sekitar kita. "Ah ... kenapa di saat seperti ini harus ada suara yang menakutkan itu? Mengapa aku sangat takut walaupun sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini?" ucapku dalam hati. "Aldi ...." Suara perempuan itu terus memanggil namaku. Walaupun dengan tubuh yang berat, aku terus mencoba keluar dari situasi ini. "Aldi ...." "Lepaskan dia! Dia milikku." Teriak Bulan yang tengah duduk di sebuah batang pohon besar di hadapanku. Dadaku semakin sesak saat aku mencoba meminta tolong pada Bulan meski tanpa suara, "Bulan, tolong aku!" Rupanya aku telah diganggu oleh sebangsa hantu kuntilanak penunggu jalan ini. Dia terus menempel padaku, sehingga aku tak dapat menggerakkan tubuhku dengan leluasa. "Hihihihihi ...." Tawa hantu kun

Bab terbaru

  • Misteri Desa Purnama   Bab 67. Kisah Jaka : Energi Jahat Itu Terus Kembali

    Suara isak tangis dari Ibu pun terdengar. Aroma minyak angin terasa menyengat. Cahaya lampu yang menyinari wajahku pun terlihat semakin terang. Aku telah sadar sepenuhnya. "Ibu?" Kata pertama yang keluar dari mulutku.Rasa takut itu kini kembali. Apakah aku mungkin akan menyakiti Ibu dan Ayah saat aku kembali tak sadar?"Ibu, Ayah, Aku takut." Tangisku pun pecah.Selama ini aku berpikir aku adalah gadis yang kuat. Tapi, aku salah. Aku sangat lemah. Aku takut, aku takut pada diriku sendiri."Ibu dan Ayah ada di sini bersama Janis. Janis tidak perlu takut," ucap Ibu sembari terus memeluk dan menciumku.Setelah kejadian itu, aku tak masuk sekolah selama satu minggu. Aku hanya beristirahat di rumah ditemani Ibu dan kakak laki-laki keduaku bernama Bagas.Dan benar saja aku sendirian kali ini, Jaka menghilang seperti yang lain. Apa ucapanku tempo hari sangat keterlaluan? Apa Jaka benar-benar tidak akan menemuiku lagi?"Ah ... kenapa aku terus mengingatnya. Padahal dia sama saja dengan hantu

  • Misteri Desa Purnama   Bab 66. Kisah Jaka : Akar Masalah

    "Kau sungguh bodoh? Atau pura-pura bodoh?" Aku terus berteriak pada Jaka yang terlihat menyesali perbuatannya. Sesekali dia mencoba bicara tapi aku tak membiarkannya. Amarahku terasa mencuat saat melihat wajahnya. "Lihat, gadis itu terus mengikutiku!" bentakku pada Jaka."Maafkan aku, Janis. Saat itu, aku tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan temanmu," jawab Jaka."Kau tahu? Akibat dari perbuatan pahlawanmu itu, aku tak bisa lagi hidup sesuai keinginanku. Gadis itu akan terus mengikutiku," bentakku lagi.Jaka terdiam sesaat, lalu bersujud dan kembali berucap lirih."Apa yang harus aku lakukan untuk menebus dosaku padamu?" Matanya mulai berkaca-kaca."Jangan pernah lagi muncul dihadapanku. Aku sudah tak membutuhkanmu!" Jaka terdiam, kini air mata itu benar-benar menetes. "Janis. Apa kau bersungguh-sungguh?" Ucapannya sedikit membuatku merasa iba. Tapi, apa yang Jaka lakukan sudah sangat keterlaluan bagiku."Ha ... ha ... hantuuuuu!!" teriak Mbok Karsih dari dapur.Aku sege

  • Misteri Desa Purnama   Bab 65. Kisah Jaka : Jaka yang Ceroboh

    Matahari pagi mulai menunjukkan eksistensinya. Sorot cahaya dari lampu tidurku mulai meredup.Aku bangun dari tidurku yang nyenyak, disuguhi dengan Jason yang sudah menungguku di balik tirai kamar.Ketenangan itu berubah menjadi suara bising yang Jason timbulkan saat melihatku mulai membuka mata."Kakak. Ayo main ... " ajaknya seperti biasa.Aku meregangkan otot-ototku yang telah dipaksa untuk beraktivitas kembali. Mengumpulkan nyawa sembari menguap, begitu pula dengan Jason yang mulai terbawa suasana."Aku harus ke sekolah hari ini. pulang sekolah, Kakak berjanji akan bermain denganmu." Jason hanya mengangguk pasrah. Mengalah untuk kesekian kalinya."Oh ya, di mana, Jaka?" tanyaku pada Lastri saat hendak sarapan.Seperti biasa, sekolah adalah tempat yang paling menyebalkan bagiku saat ini. Bukan hanya gangguan dari Maria dan Intan, tetapi gangguan dari mereka yang merasakan aku memiliki kemampuan melihat mereka pun terus mengikutiku dari gerbang menuju gedung sekolah. Kebanyakan da

  • Misteri Desa Purnama   Bab 64. Kisah Jaka : Dunia Luar

    Beberapa hari setelahnya. Seperti biasa aku pamit pada Jason yang selalu menungguku setiap pulang sekolah untuk bermain. Di sana juga ada Lastri yang sudah bergelantungan di pohon manggis depan rumah. Ya, pohon besar itu sudah menjadi rumah untuk Lastri berpuluh-puluh tahun yang lalu. "Mba, Janis. Ini makan siangnya ketinggalan!" panggil Mbok Karsih. "Oh, iya. Terima kasih, ya, Mbok." Aku segera mengambil bekal itu dan berlari menuju mobil yang dikendarai ibuku. Beberapa hari ini aku mulai membawa bekal makan siang ke sekolah. Kejadian tempo hari membuatku jadi lebih waspada akan kehadiran mereka. Sesampainya di sekolah, aku keluar dari mobil setelah berpamitan dengan ibuku yang juga akan berangkat mengajar. "Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, segera telepon Ibu," perintahnya. Aku hanya mengangguk. Itu adalah kata-kata yang selalu terucap dari mulut ibuku selama tujuh belas tahun. Ibu selalu terlihat khawatir sejak mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh

  • Misteri Desa Purnama   Bab 63. Kisah Jaka : Hal yang Paling Menakutkan

    Pukul dua siang, pelajaran pun telah usai. Aku segera keluar dari kelas untuk menemui Jaka. Pasti dia telah menungguku di gerbang sekolah. Berbahaya jika dia melihat makhluk lain yang mengganggu di sekolah ini. Pasti dia selalu ingin ikut campur pada masalah orang lain. Tiba-tiba saja, aku dikejutkan dengan seseorang yang menarik tanganku dan menyeretku pergi dari ruang kelas. Dia adalah Maria dan Intan. "Apa yang kalian lakukan?" Aku mencoba melepaskan genggaman Maria yang terasa sangat kasar. Namun, tenagaku rupanya tak cukup kuat untuk melawan mereka."Ikuti saja kami. Jangan banyak tanya!" bentak Maria. Rupanya mereka berencana membawaku ke gedung olahraga yang sudah kosong. Gedung itu berada di barisan gedung sekolah paling belakang, jadi sangat jarang dilewati oleh murid kecuali ada pertandingan olahraga yang mengharuskan memakai gedung tersebut. Maria dan Intan sepertinya sengaja membawaku kemari.

  • Misteri Desa Purnama   Bab 62. Kisah Jaka : Sekolah yang Menyenangkan

    "Baru saja, Mbok," jawabku.Sejak Jaka meninggal, Mbok Sum hanya tinggal seorang diri. Ayah Jaka telah lebih dulu meninggal karena penyakit yang sama dengan yang diderita Mbok Sum."Ini, Janis belikan obat untuk Mbok Sum. Tolong diterima, ya." Aku memberikan sebuah kantong plastik berwarna putih. Isinya obat-obatan yang biasa Mbok Sum konsumsi. Semua itu resep yang diberitahukan Jaka padaku.Jaka terlihat begitu sangat khawatir pada Mbok Sum yang sering sakit-sakitan. Sesekali dia terlihat menyeka air matanya, memandang ibunya dengan perasaan sedih karena tak bisa berada di sisinya.Jaka merasa tak bisa tenang untuk meninggalkan Mbok Sum sendiri dan aku pun telah berjanji akan membantu mengurus keperluannya.***Malam hari adalah waktu yang sangat menyebalkan bagiku. Betapa tidak, mereka yang sedari tadi sudah mengawasiku kini mulai berani mendekat. Mulai dari memainkan rambut, melempar buku, hingga menunjukkan wujud me

  • Misteri Desa Purnama   Bab 61. Kisah Jaka : Hantu di Rumahku

    Hai, perkenalkan namaku Ajeng Ayu Janis Rastiti. Usiaku tujuh belas tahun tepat di bulan Mei mendatang. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku di sebuah rumah dinas. Karena Ayahku adalah seorang abdi negara. Lebih tepatnya seorang prajurit tentara angakatan darat.Saat ini kami tinggal di sebuah daerah di Jawa Tengah. Aku dan keluargaku memang sudah terbiasa berpindah rumah karena pekerjaan Ayahku.Aku memiliki dua orang kakak laki-laki bernama Wisnu Adiputro dan Bagas Suwarno. Kebetulan saat ini kakak pertamaku sudah bekerja di Jakarta. Sedangkan kakak keduaku sedang menempuh pendidikan di kota Yogyakarta.Aku sendiri adalah murid SMA di sekolah swasta dekat dengan komplek perumahan militer ini. Aku anak yang cukup spesial. Aku memiliki kemampuan yang tak dimiliki orang lain sejak kecil, yaitu bisa melihat makhluk lain selain manusia.Awalnya, aku sangat terganggu dan takut. Ingin rasanya membuang semuanya dan hidup normal. Tapi, perlahan aku mulai

  • Misteri Desa Purnama   Bab 60. Kisah Jaka : Pemuda Itu Bernama Jaka

    Hari itu, hujan deras membasahi sebagian bumi. Aku berjalan pulang dari sekolah menuju rumah. Aku melewati jalan pintas yang sepi dan licin untuk mempersingkat waktu. Waktu pun berlalu cukup lambat, tidak seperti dugaanku. Mungkin karena keadaan sedang hujan. Walaupun tidak besar, tapi cukup untuk membuat jalanan menjadi basah dan sukar untuk dilewati.Hari semakin sore, aku merasa banyak pasang mata mulai memperhatikanku saat itu. Perlahan mereka mulai mengusikku, menungguku merespon keberadaan mereka.Aku mencoba tetap tenang dan mempercepat langkahku. Sekali saja aku lengah akan sangat merepotkan nantinya.Sama halnya dengan sebelumnya. Aku selalu mendapat gangguan dari mereka, entah itu di rumah, sekolah, atau tempat umum lainnya. Aku selalu mencoba menghindar, tapi mereka tetap mengikutiku. Pernah di tempat tinggalku yang dulu, sepasang suami istri mengikutiku hingga ke rumah. Aku selalu menghindari tempat sepi, tapi tetap saja mereka terus mengikutiku. Walaupun itu sangat meng

  • Misteri Desa Purnama   Bab 59. Awal Kisah

    Keesokan harinya, tepat pukul sepuluh Ibu sudah sampai di rumah mengendarai motor trail kesayangannya. Ya, Ibuku memang agak unik, selain menyukai motor modelan seperti itu. Ibu juga memiliki hobi ekstrem lainnya. Seperti hiking dan diving.Saat motor Ibu telah sampai tepat di pelataran rumah, aku dan Ayla pun menyambutnya dengan suka cita."Ibumu cantik sekali," ucap Bulan saat melihat wajah Ibu setelah melepaskan helm yang dipakainya."Mari Nur bantu, Tante," ucap Nur yang dengan segera mengambil barang bawaan Ibu.Kali ini, Ibu benar-benar menjadi mangsa empuk untuk Nur. Pasti sebentar lagi dia akan meminta imbalan pada Ibu.Saat aku berpaling ke sisi Nana, gadis kecil itu tengah berkaca-kaca. Entah apa yang ada dipikiran Nana. Mungkinkah Nana teringat sosok Ibunya?Setelah sampai di teras dengan barang bawaan yang cukup banyak. Ibu pun menghampiri Nur."Terima kasih, ya," ucap Ibu."Tadi namamu siapa? Nur, ya?"Nur mengangguk lalu mulai menunjukkan ekspresi andalannya.Ibu pun me

DMCA.com Protection Status