Share

Bab 247

Author: BELLA
"Mama!"

Amie berlari ke dalam pelukanku dan untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar buruk di kantor, senyuman tulus menghiasi wajahku.

"Sayangku!" Aku menyerang wajahnya dengan ciuman, membuatnya tertawa kecil. "Bagaimana sekolahnya?"

"Baik! Aku menjawab pertanyaan hari ini."

"Wah, anak pintar!" Aku memberikan tos kepadanya dan memintanya menceritakan pertanyaan yang dia jawab. Dia pun mulai berceloteh panjang lebar.

Saat kami melangkah keluar dari gedung sekolahnya, wali kelasnya menghampiriku.

"Aku lupa memberikan ini," katanya setelah menyapaku, lalu menyerahkan sebuah formulir. "Kami akan mengadakan perjalanan sebelum semester berakhir. Jika Amie ingin ikut, pastikan formulir ini diisi dan dikembalikan sebelum minggu depan."

"Baik, terima kasih. Aku akan menghubungimu lagi." Aku menjawab, lalu membawa Amie pergi.

Di dalam taksi, aku menatap biaya mahal untuk tamasya itu, sementara Amie terus berbicara tentang betapa inginnya dia ikut.

"Mama, video yang mereka tunjukkan tentang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 248

    Sudut pandang Anastasia:Aiden adalah pemilik baru? Bagaimana bisa?Tatapan kami bertemu dan jantungku seolah berhenti berdetak. Dalam sekejap, bertahun-tahun yang telah berlalu terasa mencair, membawa gelombang kenangan manis sekaligus pahit.Saat aku menatap matanya, aku seperti dilempar kembali ke masa lalu. Seperti kilas balik yang kabur, dari saat-saat indah yang kami habiskan bersama hingga hari yang buruk ... tidak, hari yang paling buruk. Rasa sakit dari momen terakhir itu masih terasa baru, bahkan setelah sekian lama.Setelah aku mengatakan padanya bahwa semuanya sudah berakhir, aku tak pernah mendengar kabar darinya lagi. Itu hanya semakin mengonfirmasi bahwa dia memang tidak pernah peduli padaku. Tidak pernah. Aku hanyalah sumber hiburan baginya, terus-menerus mengatakan betapa aku mencintainya dan yakin bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku dengannya.Tuhan! Aku bahkan pernah merancang rumah impian kami dan menunjukkannya padanya, memaksanya memilih nama untuk anak-anak

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 249

    Direktur pelaksana kembali duduk dan ruang rapat menjadi hening saat Aiden berdiri untuk berbicara."Seperti yang sudah disampaikan oleh direktur pelaksana, aku adalah pemilik baru PT Tasoron. Aku meminta maaf atas situasi yang tiba-tiba ini, kami nggak punya banyak waktu untuk mengirimkan pemberitahuan sebelumnya ...."Aku menatapnya tajam saat dia melontarkan pidato panjangnya tentang visi baru perusahaan serta hal-hal hebat yang akan dicapai dan membuat PT Tasoron dikenali di masa depan.Aiden berhenti sejenak, menatap semua orang dengan senyum kaku. "Aku menantikan untuk bekerja sama dengan kalian semua demi membawa PT Tasoron ke puncak yang lebih tinggi."Setelah itu, dia kembali duduk dan ruangan langsung dipenuhi dengan suara tepuk tangan berlebihan sekali lagi.Direktur pelaksana berdiri lagi, kali ini dengan senyum lebar. "Sekarang setelah kalian bertemu dengan CEO baru, aku akan menutup pertemuan ini dengan pengumuman yang menyenangkan.""Akan ada pesta untuk merayakan awal k

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 250

    "Terima kasih," gumamku pelan sambil melepaskan diri darinya.Sentuhan singkat itu meninggalkanku dengan perasaan tak menentu, tubuhku masih mengingat kenyamanan yang dulu terasa akrab, tetapi pikiranku membenci kenangan yang ikut berputar di dalamnya.Tanpa memberinya satu tatapan pun, aku berbalik dan berjalan kembali ke kantorku. Lebih tepatnya, aku melarikan diri ke kantorku, dengan jantung nyaris tersangkut di tenggorokan. Hak tinggi sepatuku berdenting cepat di atas lantai yang mengilap, selaras dengan detak jantungku yang berpacu.Aku ingin sekali meninju wajahku sendiri.Sialan, padahal sudah bertahun-tahun!Lima tahun berlalu, tetapi aku masih bisa mengenali aroma parfum favoritnya. Aroma itu masih tertinggal di hidungku, membawa kembali kenangan-kenangan yang kupikir sudah lama terkubur. Yah, itu memang salah satu hal pertama yang membuatku tertarik padanya, jadi wajar saja, 'kan?Aku berusaha memperbaiki reaksiku, tetapi suara kecil di kepalaku berbisik pelan bahwa mungkin,

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 251

    Alis Clara terangkat. "Sungguh?"Aku mengangguk perlahan sambil menggigit stroberi, mengunyah dengan diam."Hm, itu cukup menarik. Kedengarannya tim administrasi baru ini suka bersenang-senang, ya?"Aku memutar mata tanpa mengatakan apa-apa."Dan …," desak Clara sambil tetap menatapku dengan tajam.Aku memandangnya. "Dan apa, Clara?""Kamu harus siap-siap untuk ke pesta.""Nggak," kataku dengan tergesa-gesa. "Tentu saja, aku nggak akan pergi," cibirku. "Apalagi setelah cara kejamnya memperkenalkan dirinya dengan memecat karyawan yang nggak bersalah.""Kenapa kamu nggak mau pergi?""Kamu nggak dengar ucapanku?""Alasan itu nggak cukup kuat, Ana. Menurutku, kamu harus pergi.""Nggak, menurutku nggak.""Kamu harus pergi. Kamu butuh itu.""Kenapa?" tanyaku dengan tidak percaya. "Apa aku akan dibayar lebih kalau pergi? Nggak, aku nggak akan buang-buang waktu untuk itu. Aku lebih baik tinggal di rumah dan tidur nyenyak dengan putriku.""Tunggu." Clara menggeser kentang yang sudah dipotong da

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 252

    Sudut pandang Anastasia:Aku menarik napas dalam-dalam sambil menunggu sopir taksi memberikan kembalianku. Udara sore cukup sejuk dan nyaman di kulitku, tetapi tempat yang aku tuju membuatku sedikit tidak nyaman."Ini, Bu," kata sopir itu sambil menyerahkan uang kertas yang masih baru dengan senyum sopan."Terima kasih." Aku menundukkan kepala saat turun dari mobil, lalu berjalan menuju gedung PT Tasoron.Untuk sesaat, aku terhenti beberapa langkah dari pintu yang dijaga dua pria berbadan besar dengan setelan rapi. Tidak ada yang memberi tahu kami tentang pengaturan pesta ini. Undangannya tidak menjelaskan tentang cara berpakaian.Bagaimana jika gaunku sangat bertentangan dengan tema pesta?Aku ingin sekali menatap gaun midi sutra model kimono yang kukenakan dan merapikannya dengan tangan, tetapi para pria di pintu itu menatap ke arahku dan sikapku akan terlihat aneh, bukan?Aku mengembuskan napas. Apa pun tema pesta ini, aku harus bisa menyatu dengan suasananya. Dengan pikiran itu, ak

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 253

    "Nggak apa-apa," kataku dengan suara serak, lalu berpamitan. "Aku pergi sebentar."Aku memasang senyum saat berjalan keluar dari ruang pesta, lalu keluar ke lorong belakang yang mengarah ke tangga. Peralihan dari pesta yang meriah ke lorong yang sepi sangat mengejutkan.Aku mengerutkan dahi. Di sini ada lift, tidak ada yang pernah menggunakan tangga, jadi apa masalahnya? Ruang percetakan dan ruang istirahat di sini juga jarang digunakan, tetapi aku tetap melangkah melalui lorong.Mungkin ada masalah dengan mesin cetak? Mungkin salah satu anggota tim administrasi baru membutuhkan suatu bantuan di belakang sini? Namun, kenapa harus aku? Kenapa bukan Rachel atau manajer pemasaran utama?Saat aku membuka pintu ruang percetakan, jari-jari hangat melingkari pergelangan tanganku yang satunya dan menarikku ke arah yang berlawanan.Gerakan itu cepat dan lembut, tetapi hampir membuatku jantungan.Saat pintu ruangan yang aku masuki terhempas tertutup, aku menoleh begitu cepat sehingga leherku ham

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 254

    Sudut pandang Anastasia:Ya Tuhan! Aku tahu tidak seharusnya kutinggalkan Amie untuk acara sebodoh ini."Aku datang sekarang," ucapku terbata-bata kepada Clara, suaraku bergetar karena khawatir. Kemudian, aku berbalik begitu saja dan hampir menabrak Aiden yang sudah ada di sampingku."Ada masalah?" tanya Aiden, tepat saat panggilan telepon itu tiba-tiba terputus.Aku meraih tas dari sofa, terburu-buru membuka kaitnya. Kemudian, aku berjalan ke pintu sambil menggumamkan sesuatu seperti, "Aku permisi dulu."Kemudian, aku berlari keluar tanpa menoleh lagi. Tenggorokanku serasa tercekik saat aku terus menelepon nomor Clara. Kenapa panggilan itu tiba-tiba terputus?"Ana?" Rachel tiba-tiba ada di depanku dan aku hampir menjatuhkan nampan yang ada di tangannya. Gelas-gelas di atasnya bergetar.Aku mengalihkan pandanganku dari ponselku ke wajahnya. Matanya penuh keingintahuan, fokus menatap wajahku. Matanya lebar dengan kekhawatiran, mencari jawabanku."Kamu nggak apa-apa? Mau ke mana?" tanya

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 255

    "Nggak akan terlambat, taksiku dalam perjalanan," ucapku berbohong, kata-kata itu terasa pahit di lidahku."Kamu sudah di luar lebih dari lima menit," ungkap Aiden. "Berapa lama lagi taksinya sampai?" tanyanya, mengangkat alis saat mengatakan 'taksi'."Satu menit. Dua menit?" Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. "Taksinya segera sampai.""Jangan bodoh! Ana, naiklah ke mobilku! Aku nggak tahu kondisi darurat apa yang kamu hadapi, tapi kalau kamu keluar dengan terburu-buru seperti itu, jelas itu sangat penting." Suaranya sedikit meninggi.Aku menggertakkan gigi dan menggenggam ponselku lebih erat."Baiklah!" geramku sambil berlari mengelilingi mobil untuk masuk ke kursi penumpang depan."Kita mau ke mana?" tanyanya, pandangannya lurus ke depan, tangannya menggenggam setir.Aku mengernyit. Kenapa dia harus mengatakan 'kita'?"Aku mau ke RS Drey," jawabku sambil memastikan bahwa kata 'aku' terdengar jelas untuk menyampaikan pesan yang tepat.Aku melihat bibirnya bergerak-gerak da

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status