Share

Bab 241

Author: BELLA
Sudut pandang Anastasia:

Dengan sambil terisak, aku berhenti mengetuk pintu saat mendengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Aku bersandar pada pintu, tak bisa menahan tangisku.

Aku sungguh-sungguh saat mengatakan semuanya sudah berakhir, tetapi ada bagian dalam diriku yang masih berharap dia akan mengejarku, memelukku dalam pelukannya, dan meyakinkanku bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman besar. Namun, yang dia lakukan hanyalah berdiri di sana, meneriakkan namaku seperti orang gila.

Clara membuka pintu dengan senyum. Senyumnya sempat melebar saat melihatku, tetapi langsung memudar begitu melihat air mataku.

"Kamu baik-baik saja?" Dahinya berkerut, matanya dipenuhi pertanyaan. "Aku nggak tahu kamu bakal pulang secepat ini," katanya pelan, kerut di dahinya semakin dalam. "Ana, kamu baik-baik saja?"

Clara mengulurkan tangan dan aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku jatuh ke dalam pelukannya dan menangis seperti anak kecil. Dadaku terasa berat, bahuku bergetar saat aku mencengkeram s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 242

    "Pasti," ujarku sambil menyapu rambut dengan jari dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. "Aku cuma butuh waktu.""Kamu nggak punya waktu itu," katanya sambil menarik lenganku. "Karena aku mau ke klub dan kamu harus ikut denganku.""Nggak," jawabku tegas, mulai menarik diri. "Aku nggak mau ke mana-mana.""Ayolah, Ana. Aku nggak bisa diam saja melihatmu seperti ini.""Biarkan aku melewati malam ini. Sudah empat tahun aku bersamanya!""Nggak peduli.""Clara ....""Aku yakin dia sekarang masih sibuk tidur dengan wanita lain, sementara kamu di sini meratapi nasib dengan menyedihkan."Mungkin dia benar. Bagaimanapun juga, wanita itu ada di rumahnya. Dia mungkin langsung kembali ke pelukannya setelah aku pergi."Bajingan seperti dia nggak pantas mendapatkanmu. Kamu harus keluar dan bersenang-senang. Buktikan ke dirimu sendiri dan ke dia kalau hidup terus berjalan, apa pun yang terjadi," katanya lembut.Aku menghela napas. "Oke."Begitulah akhirnya aku terseret ke klub, padahal aku seharusnya m

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 243

    Sudut Pandang Anastasia:Aku menatap dokter itu dengan terkejut. Kepalaku terasa pusing saat kata-katanya terngiang di telingaku. Hamil? Bagaimana mungkin aku bisa hamil?Kilasan kenangan bersama Aiden membanjiri pikiranku. Dari kencan pertama kami, malam ketika dia melamar, saat kami bercinta dan membahas tentang impian keluarga masa depan kami.Namun, semua impian itu hancur saat aku memergokinya berselingkuh. Pengkhianatan itu begitu dalam hingga aku tak tahu apakah aku bisa memaafkannya atau tidak.Kini, seorang anak yang tak bersalah terjebak dalam kekacauan ini, kumpulan sel yang berkembang cepat menjadi kehidupan baru .... Anak Aiden ... anak kami.Meskipun aku masih marah, sebagian kecil dari hatiku masih mencintainya. Bisakah aku menjalani kehamilan ini setelah apa yang dia lakukan?Dokter itu sepertinya bisa merasakan pergolakan batinku. "Bu? Sepertinya kamu nggak senang dengan kabar ini ...."Aku perlahan menggeleng. "A ... aku baru saja tahu kalau pacarku selingkuh." Suarak

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 244

    Sudut pandang Anastasia:Lima tahun kemudian."Kenapa aku harus ke sana setiap hari? Aku mau ikut denganmu!" ucapnya sambil membuang muka dariku.Aku menghela napas, meletakkan ransel, kotak makan siangnya, serta tasku di kursi, lalu berjongkok agar sejajar dengannya."Sayang," panggilku lembut, tetapi dia malah memalingkan wajah lagi."Amie, ayolah." Aku meraih tangannya, tetapi dia langsung menepisnya."Jangan bicara padaku.""Amie, lihat aku," kataku dengan suara tegas. Seketika dia menoleh dengan bibir manyun dan mata berair. Aku benci harus menaikkan nada suaraku padanya, tetapi terkadang itu satu-satunya cara agar dia mau mendengar.Aku menggenggam tangannya dengan lembut dan syukurlah, kali ini dia tidak menolak. "Sayang, kamu nggak bisa ikut Mama ke tempat kerja. Itu nggak diperbolehkan.""Kenapa?" rengeknya. "Aku bisa bekerja.""Aku tahu, Amie," ujarku dengan senyum kecil. "Kamu anak yang sangat rajin. Tapi sekarang, sekolah jauh lebih penting untukmu, oke? Saat waktunya tiba,

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 245

    Aku menghela napas lega. "Oh, Dennis, kamu benar-benar penyelamat," ujarku saat dia turun dari mobil dan membantuku memasukkan Amie, menempatkannya dengan aman di kursi belakang."Kamu bisa bilang sekali lagi," jawabnya dengan seringai sambil membukakan pintu depan untukku. Aku pun naik ke dalam mobil.Herannya, Dennis, pria berbahaya yang dulu bertekad kuhindari, kini menjadi salah satu teman terdekatku. Sejak hari itu di bar, setelah membawaku ke rumah sakit, dia menungguku sampai aku sadar. Sejak saat itu, dia selalu ada di sekitarku. Bahkan, lebih dari sekadar hadir. Dia benar-benar menjadi teman sejati. Bahkan di masa-masa tergelapku, dia selalu ada untuk menghiburku.Tak butuh waktu lama sampai dia mengonfirmasi kecurigaanku bahwa dia memang tertarik padaku. Aku senang bisa menolaknya dengan berita kehamilanku, tetapi itu sama sekali tidak menghalanginya. Dia siap menerima aku dan kehamilanku tanpa sekalipun bertanya siapa ayah dari anakku.Keikhlasan dan perhatiannya menyentuh h

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 246

    Sudut pandang Anastasia:"Apa?"Semua aturan tentang betapa pentingnya menjaga keheningan di tempat kerja langsung terlupakan saat aku menjerit. Jojo langsung melirik ke sekeliling dengan mata membelalak ketakutan. "Kamu terlalu berisik."Mataku juga membelalak, mungkin lebih besar darinya. "Kamu serius?" Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, seakan ingin meledak. Dunia terasa berputar di sekelilingku saat aku mencoba mencerna informasi ini.Rachel menghela napas dan memutar matanya. "Lihat sekeliling, Anastasia," katanya sambil melambaikan tangan, menunjuk ke ruangan sekitar. "Apa suasana di sini terlihat seperti ini hanya lelucon bodoh?"Ya Tuhan. Tidak, tidak mungkin. "Apa? Kenapa? Tunggu, kapan ini terjadi?" seruku dengan suara yang mulai bergetar. Tuhan, tolong, semoga ini hanya lelucon kejam. Namun, melihat ekspresi di wajahnya, aku tahu ini bukan lelucon.Rachel menghela napas lagi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat betapa berat

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 247

    "Mama!"Amie berlari ke dalam pelukanku dan untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar buruk di kantor, senyuman tulus menghiasi wajahku."Sayangku!" Aku menyerang wajahnya dengan ciuman, membuatnya tertawa kecil. "Bagaimana sekolahnya?""Baik! Aku menjawab pertanyaan hari ini.""Wah, anak pintar!" Aku memberikan tos kepadanya dan memintanya menceritakan pertanyaan yang dia jawab. Dia pun mulai berceloteh panjang lebar.Saat kami melangkah keluar dari gedung sekolahnya, wali kelasnya menghampiriku."Aku lupa memberikan ini," katanya setelah menyapaku, lalu menyerahkan sebuah formulir. "Kami akan mengadakan perjalanan sebelum semester berakhir. Jika Amie ingin ikut, pastikan formulir ini diisi dan dikembalikan sebelum minggu depan.""Baik, terima kasih. Aku akan menghubungimu lagi." Aku menjawab, lalu membawa Amie pergi.Di dalam taksi, aku menatap biaya mahal untuk tamasya itu, sementara Amie terus berbicara tentang betapa inginnya dia ikut."Mama, video yang mereka tunjukkan tentang

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 248

    Sudut pandang Anastasia:Aiden adalah pemilik baru? Bagaimana bisa?Tatapan kami bertemu dan jantungku seolah berhenti berdetak. Dalam sekejap, bertahun-tahun yang telah berlalu terasa mencair, membawa gelombang kenangan manis sekaligus pahit.Saat aku menatap matanya, aku seperti dilempar kembali ke masa lalu. Seperti kilas balik yang kabur, dari saat-saat indah yang kami habiskan bersama hingga hari yang buruk ... tidak, hari yang paling buruk. Rasa sakit dari momen terakhir itu masih terasa baru, bahkan setelah sekian lama.Setelah aku mengatakan padanya bahwa semuanya sudah berakhir, aku tak pernah mendengar kabar darinya lagi. Itu hanya semakin mengonfirmasi bahwa dia memang tidak pernah peduli padaku. Tidak pernah. Aku hanyalah sumber hiburan baginya, terus-menerus mengatakan betapa aku mencintainya dan yakin bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku dengannya.Tuhan! Aku bahkan pernah merancang rumah impian kami dan menunjukkannya padanya, memaksanya memilih nama untuk anak-anak

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 249

    Direktur pelaksana kembali duduk dan ruang rapat menjadi hening saat Aiden berdiri untuk berbicara."Seperti yang sudah disampaikan oleh direktur pelaksana, aku adalah pemilik baru PT Tasoron. Aku meminta maaf atas situasi yang tiba-tiba ini, kami nggak punya banyak waktu untuk mengirimkan pemberitahuan sebelumnya ...."Aku menatapnya tajam saat dia melontarkan pidato panjangnya tentang visi baru perusahaan serta hal-hal hebat yang akan dicapai dan membuat PT Tasoron dikenali di masa depan.Aiden berhenti sejenak, menatap semua orang dengan senyum kaku. "Aku menantikan untuk bekerja sama dengan kalian semua demi membawa PT Tasoron ke puncak yang lebih tinggi."Setelah itu, dia kembali duduk dan ruangan langsung dipenuhi dengan suara tepuk tangan berlebihan sekali lagi.Direktur pelaksana berdiri lagi, kali ini dengan senyum lebar. "Sekarang setelah kalian bertemu dengan CEO baru, aku akan menutup pertemuan ini dengan pengumuman yang menyenangkan.""Akan ada pesta untuk merayakan awal k

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status