Share

Milyader, Mari Bercerai
Milyader, Mari Bercerai
Penulis: BELLA

Bab 1

Penulis: BELLA
Aku menerima kiriman video porno.

“Kamu suka ini?”

Laki-laki dalam video itu adalah suamiku, Mark, kami sudah cukup lama tak bertemu. Dia telanjang, terlihat baju dan celananya berserakan di lantai, sedang menghentakkan tubuhnya dengan kuat pada seorang wanita yang wajahnya tidak bisa kulihat, dengan payudara besar bulat yang bergoyang-goyang. Aku bisa mendengar dengan jelas suara hentakan di video, bercampur dengan desahan dan erangan penuh nafsu.

“Ya, ya, lebih keras, sayang,” wanita itu berteriak dengan penuh gairah.

“Kamu nakal!” Mark berdiri dan membalik tubuhnya, menampar pantatnya sambil berkata, “Ayo angkat pantatmu!”

Wanita itu tertawa lirih, berbalik, menggerakkan pantatnya, sambil berlutut di tempat tidur. Rasanya seperti ada yang menuangkan seember air es ke kepalaku. Suamiku selingkuh, tapi yang lebih parah selingkuhannya adalah adikku sendiri, Bella.

Aku lanjutkan video itu, menyaksikan dan mendengarkan mereka bercinta, rasa jijikku terus muncul berkali-kali. Setiap aku mendengar desahan mereka, hatiku rasanya seperti ditusuk-tusuk.

Adegan itu terus berlanjut. Setelah beberapa hentakan lagi, dia menggenggam pantatnya, memasukkan penisnya jauh ke dalam vaginanya, dan mulai menghentakkan dengan kuat.

Setelah beberapa kali hentakan, Mark dan Bella mendesah bersama saat mencapai puncaknya. Mereka terbaring di tempat tidur, berciuman dan saling membelai wajah satu sama lain.

“Kamu seperti ini juga di ranjang dengan kakakku?” Suara genit Bella terdengar.

“Jangan sebut-sebut dia,” suara dingin Mark menggema, “Aku bahkan tidak pernah menciumnya, dia sama sekali tidak bisa dibandingkan denganmu.”

“Aku tahu kamu hanya mencintaiku!” Bella tersenyum puas, melingkarkan tangannya di leher Mark, mencondongkan tubuh untuk menciumnya, dan berkata, “Aku mau lagi!”

Melihat mereka berguling bersama lagi, aku merasakan gelombang mual dan tidak bisa menonton lebih lama. Aku menekan tombol pause dengan marah, menelan ludah karena muak.

Aku sangat yakin, video ini pasti dikirim oleh Bella. Dia ingin memberitahuku bahwa dia masih menguasai hati Mark, dan aku tidak berdaya melawannya. Selain surat nikah, aku dan Mark sama sekali tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Bella memang tahu bagaimana menusukkan pisau lebih dalam.

Kembali ke tiga tahun lalu, pada hari yang tak kusangka menjadi titik terburuk dalam hidupku, segalanya sudah dipersiapkan untuk pesta pernikahan Bella dan Mark. Hanya beberapa menit sebelum pernikahan, Bella menghilang dan kami tak dapat menemukannya. Bella sama sekali tidak ditemukan.

Orangtua kami, yang saat itu putus asa untuk menyelamatkan muka mereka di depan tamu, beralih padaku. Mereka memintaku mengenakan gaun pengantin dan menggantikan Bella di pelaminan.

Tidak ada ruang untuk berdebat, aku juga tidak diberi pilihan untuk mengatakan tidak atau bahkan menolak. Aku menjadi sosok pengantin pengganti untuk memenuhi upacara karena ketidakhadiran Bella. Tidak ada kata-kata berkat dan tidak ada harapan untuk masa depan yang bahagia. Sebagai gantinya, yang kuterima hanyalah instruksi untuk “menjadi istri yang baik.”

Itulah awal dari semua ini.

Aku berdiri di sana dalam gaun pengantin orang lain, mengucapkan sumpah untuk seorang pria yang nyaris tidak kukenal. Rasanya seperti mimpi dan harapanku tiba-tiba diselimuti kenyataan pahit. Seperti hidupku direnggut dalam sekejap, dan sejak saat itu aku hampir tidak ingat apa itu kebahagiaan. Aku terbelenggu.

Apa tadi aku bilang ini awal dari semuanya?

Tidak, sebenarnya ini berawal jauh ketika aku berumur tiga tahun dan aku hampir lupa akan hal ini. Selama delapan belas tahun yang panjang, aku tinggal jauh dari rumah dan keluargaku. Ketika aku bertumbuh dewasa, dari seorang anak kecil, remaja, hingga dewasa, aku terus berusaha mencari akarku, kembali ke keluargaku. Dan saat mimpi bertemu keluarga menjadi kenyataan, ternyata itu tidak seperti yang kuharapkan.

Tidak ada reuni penuh kebahagiaan, tidak ada air mata bahagia.

Sebaliknya, aku disambut dengan ketidakpedulian.

Seolah-olah aku adalah orang asing yang tersesat dalam kehidupan mereka. Orangtuaku seolah sudah melupakanku setelah semua tahun yang kulewati tak bersama mereka. Aku rasa tidak ada lagi yang tersisa, karena jika ada, setidaknya mereka cukup memberitahuku kalau Bella sudah ditemukan. Semua cinta mereka untuk Bella, hampir tidak ada yang tersisa untukku.

Mereka tidak memberitahuku bahwa Bella telah pulang dari luar negeri dan menjadi simpanan suamiku.

Hampir bersamaan, ponselku bergetar dengan panggilan video dari Bella. Awalnya aku tidak ingin menjawabnya, tetapi akhirnya aku menggeser terima panggilan. Wajah Bella muncul di layar, duduk di ruangan yang sama seperti di video dengan handuk melilit tubuhnya.

“Halo, semoga kamu bahagia di sana,” sapa Bella dengan senyum puas.

Dia menggerakkan kamera ponselnya untuk memperlihatkan lebih banyak ruangan, dan di latar belakang, aku melihat sekilas Mark berjalan ke kamar mandi.

“Tebak siapa yang akan mati jadi perawan tua yang menyedihkan? Pastinya bukan aku!” Dia tertawa lepas dengan sombongnya.

Aku diam-diam menggertakkan gigi. Aku benar-benar muak dengan hinaan itu.

“Dia tidak pantas bersamamu,” tambahnya “Dia pantas yang lebih baik. Dan akulah yang paling sempurna untuknya, sayang.”

Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Aku mengakhiri panggilan dengan marah dan melempar ponsel ke tempat tidur, lalu menutup kepala dengan tanganku.

Sudah cukup. Aku tidak akan diam saja dan membiarkan diriku dihancurkan seperti keset lagi.

Saat Mark kembali ke rumah, sudah larut malam. Aku duduk di lantai ruang tamu yang dingin, menaruh daguku di telapak tangan dan hampir tertidur saat mendengar suara pintu depan terbuka. Aroma khasnya yang maskulin mengiringi kehadirannya, dan aku juga bisa mencium aroma Bella di tubuhnya.

Mataku berkedip dan terbuka. Aku mengangkat kepalaku, menatap Mark dengan hampa. Ada tatapan keras di wajahnya, seperti biasa setiap kali aku ada di sekitarnya. Sungguh berbeda saat tadi dia tersenyum lebar tadi bersama Bella.

Setelah menikah, semua yang diperintahkan orangtuaku sudah kulakukan. Mulai dari menyediakan makanan, kebutuhan sehari-hari, dan banyak hal lain yang tak terhitung, semuanya selama tiga tahun terakhir. Kebiasaan itu mulai terasa seperti ritual, tertanam dalam rutinitasku. Mark juga menerimanya tanpa banyak tanya. Tapi tidak sekalipun Mark memberiku perhatian.

Mark menutup pintu dan mulai berjalan menuju ruang kerjanya. Seperti biasa, memperlakukanku seolah-olah aku tidak ada, dan untuk pertama kalinya, aku bicara.

“Aku ingin cerai.”

Dia berbalik menghadapku, dengan tatapan tidak percaya di wajahnya.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak mau menjadi istrimu lagi,” jawabku tanpa basa-basi.

Hari itu, tiga tahun lalu, saat aku berdiri dengan gaun putih, dia dengan tuksedonya, dan pendeta di depan kami, aku melihat tatapan kemarahan tertahan di matanya saat melihat bukan Bella di balik kerudung, melainkan aku.

Aku ingat dadaku terasa sesak di balik kalung berlian yang kupakai. Tatapannya yang membakar. Betapa bodoh dan tak berdayanya aku dalam gaun itu. Bagaimana orangtuaku tersenyum tak merasa bersalah dengan mendorongku ke sana dengan paksa dan orang lain bersorak tanpa tahu apa yang sedang terjadi.

“Kamu boleh mencium pengantinnya,” ucap pendeta.

Mark mendekat ke arahku, tapi bukan untuk ciuman, dia hanya menggeser wajahnya melewati pipiku dan berbisik di telingaku, “Satu-satunya yang akan kamu dapatkan hanyalah gelar istri.”

Dan gelar itulah yang ingin kukembalikan padanya. Aku tidak menginginkannya lagi. Aku sebenarnya tak pernah berharap mengambilnya sejak awal. Aku telah berkorban terlalu banyak dan menanggung lebih dari apa yang aku dapat berikan. Ini sudah puncaknya.

“Aku ingin bercerai, Mark,” aku mengulangi kata-kataku untuk memastikan dia mendengarku dengan jelas—meskipun aku tahu dia sudah mendengarnya.

Dia menatapku dengan dahi berkerut sebelum menjawab dengan dingin, "Itu bukan urusan penting! Aku sangat sibuk, jangan buang waktuku dengan topik-topik membosankan, atau mencoba menarik perhatianku!"

Tanggapan yang khas dari Mark yang menganggap bahwa aku buang-buang waktu dan sedang mencoba menarik perhatiannya. Selama lebih dari tiga tahun aku tidak pernah menarik perhatiannya, dan baru saat aku menyebutkan kata perceraian, dia memperhatikannya.

Aku tidak ingin bertengkar dengannya.

“Aku akan meminta pengacara mengirimkan perjanjian perceraian padamu,” hanya itu yang kukatakan, dengan ketenangan yang sengaja kubuat.

Dia bahkan tidak berkata apa-apa lagi setelah itu dan langsung berjalan ke pintu ruang kerjanya, sambil membanting pintu dengan kasar. Mataku memandangi gagang pintu itu sejenak dengan pikiran yang kosong sebelum aku menarik cincin kawin dari jariku dan meletakkannya di meja. Jangan tanyakan kenapa aku masih memakainya.

Aku mengambil koperku, yang sudah kusiapkan, dan keluar dari rumah. Angin di luar terasa berbeda, seperti beban berat yang terangkat dari pundakku untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Rasanya angin malam yang meniup rambutku begitu menyegarkan.

Mengambil ponsel dari tas dan dengan cepat mencari nomor dari kontak lalu aku menempelkan ponsel ke telinga, terdengar nada dering.

“Aku sudah bercerai dengannya, jemput aku.”

Komen (4)
goodnovel comment avatar
Haniubay
Baru baca sepertinya menarik semoga peran utama wanitanya selalu tegas dan tidak menye²
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
laki-laki PECUNDANG perempuan LONTEK pasangan PEZINAH dua-duanya DAJJAL lanjut thor biar kena penyakit
goodnovel comment avatar
Dewi Lanjar
sangat bagus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 2

    Angin malam yang lembut menerpa rambutku saat aku berdiri di luar dengan koper di sampingku. Aku akhirnya keluar dari rumah itu. Tidak jauh di depan, aku melihat sorotan lampu mobil mengarah padaku. Senyum samar terukir di bibirku karena aku langsung mengenali siapa itu.Mobil sport merah mencolok berhenti tepat di depanku, dan seorang wanita yang tak kalah mencolok duduk di kursi pengemudi, melambai sambil menurunkan jendela. Itu Grace.Grace bukan hanya sahabatku, tapi juga rekan bisnisku. Kami sudah tak terpisahkan sejak kuliah. Karena kami sama-sama punya ketertarikan di dunia fashion, kami memutuskan untuk mewujudkan mimpi kami dengan mendirikan Luxe Vogue, sebuah situs belanja online yang secara cepat digemari anak-anak muda. Grace memiliki mata tajam dalam desain, jadi dia bertanggung jawab atas koleksi busana, sementara aku berfokus pada perhiasan di studio kami, Atelier, yang melayani klien elit. Keahlian bisnis dan visi kreatif kami membawa kami ke jajaran para miliarder.Ket

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 3

    SUDUT PANDANG MARK Aku masuk ke area parkir, kelelahan. Satu hari yang panjang antara pekerjaan dan sedikit kenikmatan membuatku capek sekali, dan yang kuinginkan hanyalah bersantai dan beristirahat. Aku keluar dari mobil dan melonggarkan dasiku, ingin segera masuk ke dalam dan akhirnya bisa bersantai. Saat aku masuk ke dalam rumah, aku melihat Sydney duduk di sana, menatapku dengan tatapan kosongnya. Aku nyaris tak memandangnya, langsung menuju ruang kerja.“Aku mau cerai,” kata Sydney sebelum aku sampai ke ruanganku.Cerai? Konyol adalah kata pertama yang muncul di benakku, dan konyol memang. Bisnis keluarga orangtua Sydney telah diserahkan ke GT Group, yang kumiliki. Ini adalah kontrak yang menguntungkan kedua belah pihak dalam segala hal. Sydney hanyalah seorang wanita yang kunikahi, yang bergantung pada orang tuanya dan padaku untuk bertahan hidup.Cerai, ya? Ini jelas cara baru untuk menarik perhatian, seperti yang sering ia lakukan. Dulu ia akan menunjukkan sikap menyedihkan ya

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 4

    SUDUT PANDANG SYDNEYBegitu aku kembali ke bandara, aku sudah bisa melihat Grace melambaikan tangan dengan semangat dari kejauhan. Senyum lebar mengembang di bibirku seiring aku semakin dekat padanya. Tiga bulan ini benar-benar menjadi momen paling bahagia dalam hidupku setelah sekian lama terbelenggu.Aku mempercepat langkahku, menarik koper di belakangku, dan balas melambaikan tangan ke arah Grace. Tapi, di tengah-tengah itu, seseorang yang familiar berjalan cepat hampir menabrakku. Aku refleks berhenti dan menoleh; aku yakin mengenali punggung. Pasti itu Mark. Aku tak mungkin salah.Aku benar. Aku memastikan dengan menoleh lagi; memang itu Mark, dengan langkah cepatnya yang sudah kukenal. Mungkin dia tidak melihatku? Atau… mungkin dia tak mengenaliku lagi? Tiga bulan cukup bagiku untuk menghapus sosok “Nyonya Torres” yang dia kenal dulu. Aku sudah jauh berbeda sekarang, dengan gaya berpakaian dan rambut yang berbeda. Rambutku kini terurai bergelombang indah, wajahku bersinar cerah b

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 5

    “Aku membuang surat perjanjian sialan itu ke mesin penghancur,” dia mendesis. “Aku sudah membatalkan rapat penting untukmu, aku tak bisa buang-buang waktu lagi.”Dia tidak berubah sedikit pun, masih pria pemarah dan tidak sabaran yang kutinggalkan dulu, pria yang berpikir bahwa dunia berputar di sekitarnya. Kalau dia tidak ingin waktunya terbuang, kenapa dia harus mengikutiku sampai ke sini?Terserah dia mau menghancurkan dokumen itu, membakarnya menjadi abu, atau menyimpannya di suatu tempat, itu bukan urusanku.Aku mundur dari pintu dan menatap wajahnya dengan marah.“Keinginanku untuk menceraikanmu serius dan sungguh-sungguh. Kalau kamu tidak mau cerai secara damai, maka aku akan mengajukan gugatan cerai. Itu hanya akan membuang lebih banyak waktu berhargamu!” Aku menegaskan lagi dengan jelas.Sesaat, pikiranku melayang pada pria yang mungkin masih bersembunyi di suatu tempat di vilaku. Aku juga berdiri di depan pintu dan memastikan agar Mark tidak melihat sesuatu yang seharusn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 6

    SUDUT PANDANG MARKAku mengerang saat berbalik di tempat tidur. Kepala terasa berdenyut pelan, dan dengan susah payah aku bangkit. Mataku menyapu sekeliling kamar, bertanya-tanya kenapa aku bisa di rumah. Harusnya aku berada di kantor.Aku meletakkan kepalaku di tangan, mencoba mengingat. Dan seketika, ingatan itu menghantamku.Asistenku berhasil menemukan keberadaan Sydney, dan aku langsung meninggalkan semua pekerjaan untuk menyadari bahwa usahanya mencari perhatian tidak berhasil. Aku ingat, aku berhasil memaksanya ikut denganku, lalu… segalanya menjadi hitam.“Si nenek sihir itu! Berani-beraninya dia memukulku?” geramku, bangkit dari tempat tidur dan menatap obat-obatan yang ada di atas laci.Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apa tujuannya dengan semua ini? Aku membuka setiap pintu kamar dengan kasar, suara pintu yang membentur tembok memenuhi rumah. “Di mana dia?!” bentakku.Para pegawai di rumah hanya terdiam, beberapa dari mereka kaget tiap kali pintu kubanting. Suda

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 7

    SUDUT PANDANG SYDNEY Aku tidak bisa menghentikan tawaku yang meledak saat melihat pesanan spesial nomor empat untuk hari ini. Biasanya, Atelier menerima banyak pesanan setiap harinya, dan karyawan kami mengurus pesanan-pesanan ini. Namun, jika pesanan perhiasan harus dibuat khusus, pesanan itu langsung datang kepadaku. Di layar laptopku ada pesanan untuk dua buah perhiasan dari asisten Mark. Dalam kolom keterangan, tertulis agar perhiasan itu 'menonjol' dari semua perhiasan kami, lalu diakhiri dengan 'sebutkan hargamu'. Hanya Mark yang bisa secara arogan membuat permintaan terdengar menghina. Pesanan itu memang dilakukan oleh asisten Mark, tetapi aku yakin pesanan itu atas nama Mark. Tidak mungkin asistennya mampu membayar desain kustom Atelier untuk dirinya sendiri. Aku memutar kursi, bersiul, "Saatnya menghasilkan jutaan tambahan." Aku kembali menatap layar laptop dan membaca ulang kalimat terakhir. Senyumku semakin lebar, "Oh. Aku pasti akan menyebutkan hargaku."

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 8

    SUDUT PANDANG MARK Ketukan di pintu membuatku tersentak dari fokus pada berkas-berkas di depanku. "Masuk," panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suara asisten menyapaku, "Luxe Vogue telah memberi tanggapan, Pak." "Hmm," gumamku sambil mengangguk. "Kapan kalung-kalung itu akan siap?" "Ini bukan tentang kalungnya, Pak. Ini tentang tawaran akuisisi yang kita kirimkan kepada mereka." Aku menatapnya dan mendorong kursiku ke belakang. "Oh, benar. Kapan kita akan bertemu untuk menyelesaikan pengalihan situs webnya?" tanyaku. Sebuah kebetulan bahwa Atelier Studio bekerja sama dengan situs online shop yang sudah lama aku incar. Respons mereka belum datang selama berbulan-bulan, tetapi aku tidak pernah berhenti. Aku terus memerintahkan asistennya untuk mengirimkan email tanpa henti. Setelah Bella pergi, aku mencari informasi tentang Atelier Studio sendiri dan sial! Bella benar. Mereka membuat perhiasan yang menakjubkan. Kualitas batu permata mereka luar biasa. Itu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 9

    Lampu yang berkedip dari satu warna ke warna lain, tubuh-tubuh berkeringat yang terjepit di lantai dansa bar bukanlah apa yang aku harapkan malam ini. Aku hanya menginginkan ketenangan dan malam yang santai bersama teman-temanku. Selama perjalananku ke sini, Joel meneleponku, suaranya hampir tidak terdengar di atas dentuman musik keras di bar. "Will juga di sini." Aku bertanya, "Apa?" Sekitar tiga kali sebelum aku akhirnya mendengarnya. Aku bertemu mereka di area VIP, ruang yang disewa khusus untuk kami bertiga. Satu-satunya tempat di mana kami bisa berbicara sambil merasakan getaran yang bergetar di bar. Aku meminta asistenku mengirimkan berkas yang berisi informasi tentang Grace kepadaku. Sekarang aku membalikkan foto itu menghadap Joel. "Kamu kenal dia, kan? Kalian pernah berkencan." Will yang disebelah Joel ikut campur dan bersiul. "Aku ingat dia; dia itu cewek yang pernah kamu kencani kan." Dia berbalik ke arahku, "Kamu tahu tidak? Aku pernah bertanya pada Joel apakah

Bab terbaru

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 298

    Sudut pandang Anastasia:Pikiranku langsung melayang ke saat persiapan masih berlangsung dan setiap tim sibuk bolak-balik mengumpulkan bahan-bahan mereka.Meski aku sedang sibuk memikirkan jumlah dan jenis bahan yang harus kuambil, aku sempat mendengar sekilas percakapan anggota tim di sebelahku. "Kenapa kita nggak tambahin wijen?" Salah satu dari mereka mengusulkan.Temannya menjawab, tetapi aku tidak sempat menangkap jelas apa jawabannya.Beberapa saat kemudian, aku mendengar anggota tim yang lain bertanya, "Butuh bubuk wijen sebanyak apa?"Temannya hanya mengangkat bahu sambil tetap fokus pada wortel yang sedang dia ukir. "Nggak tahu. Tambahin aja secukupnya. Kita cuma butuh rasa wijennya terasa."Saat itu, aku sempat mencatatnya dalam pikiranku tanpa sadar, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Kupikir, itu bukan urusanku karena setiap tim pasti akan membacakan bahan-bahan yang mereka gunakan sebelum juri mencicipi camilan mereka. Namun, saat mereka memaparkan bahan-bahan yang di

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 297

    "Kamu yakin?" tanyaku ragu-ragu sambil memotong daun dill dan mint segar yang akan dicampurkan ke dalam yogurt lembut yang sedang dia aduk dengan cekatan.Dia tertawa. "Percaya deh, kamu nggak akan pernah salah kalau pakai yogurt," katanya dengan wajah berbinar. Aku tidak bisa menahan pikiran bahwa dia benar-benar menikmati membuat yogurt.Aku mengangkat bahu. "Aku cuma nggak mau jadi terlalu berlebihan, kamu tahu, 'kan?" Aku melirik ke sekeliling dan melihat semua orang melakukan yang terbaik untuk mengesankan para juri.Meskipun tidak ada hadiah uang, rasanya menyenangkan bisa berkotor-kotoran dengan pekerjaan kami di dunia nyata, bukan cuma di balik layar. Selain itu, aku juga melihat beberapa orang di sini memang punya bakat alami di dapur.Mungkin itu juga alasan kenapa mereka melamar kerja di PT Tasoron. Aku yakin mereka agak kecewa saat tahu kalau bagian "Teknik" di nama perusahaan ini tidak sekeren yang mereka bayangkan.Jujur saja, kami memang lebih banyak berurusan dengan tek

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 296

    Sudut pandang Anastasia:"Kalian semua harus benar-benar menggunakan bahan-bahan yang tersedia di peternakan ini," kata pembicara, matanya menyapu kami satu per satu. Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap sebelum melanjutkan."Tolong, demi kebaikan kalian, patuhi aturan ini," lanjutnya dengan nada memperingatkan."Para juri akan menilai setiap kreasi berdasarkan kreativitas, rasa, penyajian, dan seberapa baik kalian mengolah bahan-bahan segar dari peternakan ini ke dalam hidangan kalian." Dia mengedipkan mata, membuat sebagian besar dari kami tersenyum karena sikapnya yang santai."Itu tadi adalah sebuah petunjuk, jadi pikirkan baik-baik bagaimana cara terbaik untuk menonjolkan keunikan bahan-bahan lokal ini dalam hidangan kalian," katanya dengan nada menggoda."Siapa tahu, kreasi tim kalian bukan hanya jadi pemenang, tapi mungkin juga akan diadopsi sebagai camilan resmi perusahaan." Kata-katanya langsung memicu bisikan antusias dari para peserta.Setelah memberikan sem

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 295

    Aku terkekeh, tetapi aku merasa ingin segera menanyakan alasan Sharon menelepon agar dia bisa segera menjelaskannya dan panggilan itu bisa segera berakhir.Alih-alih langsung ke inti alasan dia menelepon, Sharon mengerucutkan bibirnya. "Ayo beri aku pemandangan yang lebih baik. Aku bahkan seharusnya nggak perlu minta!""Kamu harus belajar untuk nggak hilang fokus, Sharon. Itu salah satu aturan penting dalam bisnis dan hidup secara umum," kataku dengan berpura-pura serius. "Kenapa kamu menelepon?"Sharon terkikik, menutupi mulutnya dengan tangan. Kemudian, dengan gerakan tangannya, dia menjelajahi wajahku. "Kamu terlihat lebih seksi dengan ekspresi serius seperti itu." Dia mendesah, "Aku beruntung punya pacar setampan kamu, 'kan?"Aku mendesah, "Serius, Sharon, kenapa kamu menelepon?"Dia mengerucutkan bibir bawahnya. "Calon tunanganmu nggak perlu alasan untuk menelepon. Aku bisa menelepon kapan saja aku mau. Aku bisa menelepon hanya untuk mendengar suaramu. Kamu harus terbiasa dengan i

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 294

    Sudut pandang Aiden:Keluar dari kamar mandi, aku dengan cepat mengacak-acak rambut basahku dengan handuk lembut dari kain terry. Jari-jariku menyisir helaian rambut yang kusut dan merapikan simpul-simpulnya saat aku melakukannya.Entah kenapa, aku sepertinya lupa membawa handuk, dan handuk yang diberikan di sini lebih kecil daripada yang aku butuhkan. Mungkin seharusnya aku lebih menekankan bahwa aku bukan meminta handuk muka?Dengan pilihan yang terbatas, aku memutuskan untuk hanya menggunakan kain kecil itu untuk rambutku. Lagi pula, aku satu-satunya yang menempati ruangan ini, jadi aku punya kemewahan untuk menganginkan tubuhku tanpa rasa khawatir.Aku melangkah di atas karpet, kaki telanjangku tenggelam ke dalam serat-serat lembutnya saat aku berdiri di depan cermin yang terpasang di dinding.Aku kembali melanjutkan tugasku untuk merapikan rambut dengan handuk, mengamati helai-helai yang tadinya acak-acakan perlahan mulai teratur, saat mataku tanpa sengaja beralih dari cermin ke s

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 293

    Amie terlihat begitu lucu dan polos saat tidur nyenyak dan hatiku terasa sakit saat aku bertanya-tanya apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Meskipun dia mungkin melihat hal-hal seperti itu, apa yang membuatnya menggambarnya?"Aku harus membuat penjelasan panjang besok," kata Clara sambil tertawa pelan, menggaruk-garuk rambutnya. "Aku nggak tahu apa yang akan kukatakan kepadanya saat dia bertanya. Sebelum aku memutuskan untuk merobek halaman itu, aku sudah mencari-cari alasan apa yang akan kukatakan saat dia tahu tentang halaman yang hilang itu."Aku mengangkat bahu sambil mencoba mencari-cari alasan yang bisa dia berikan kepada Amie. "Kamu bisa bilang kalau itu menakutkanmu."Dia menatapku, berkedip. "Serius, Dennis?""Apa?" Aku mengangkat bahu dengan sikap defensif. "Kamu bisa bilang begitu, atau kamu bisa bilang kalau kamu sedang melihat gambar-gambar itu saat makan dan mereka kena noda atau basah. Itu akan berhasil, percayalah."Dia menggelengkan kepala dan aku sudah tahu dia ak

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 292

    Sudut pandang Dennis:"Oh!" seru Clara, matanya melebar sebesar cawan. "Kamu kembali."Aku menatapnya tanpa berkedip, dengan sengaja menahan diri untuk tidak merespons kekagetannya seperti yang mungkin dia harapkan. Kami tetap terkunci dalam tatapan yang tidak tergoyahkan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dan meskipun aku berusaha sekuat tenaga, aku tidak bisa menahan pikiran yang berlarian dengan kecepatan luar biasa dalam pikiranku.Meskipun Clara terus menatapku, sikapnya memancarkan kecemasan yang nyata. Telapak tangannya menggenggam erat halaman yang dirobeknya dari buku gambar Amie.Aku menatapnya dengan tatapan bertanya, mataku berpindah-pindah antara wajahnya yang terlihat penuh kecemasan yang sulit disembunyikan dan kepalan tangannya yang sedikit gemetar di bawah pengamatanku.Clara sepertinya menyadari pertanyaan tidak terucap dalam tatapanku karena dia tiba-tiba mengeluarkan tawa canggung yang terdengar seperti cegukan tertahan. Mengangkat kedua kepalan ta

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 291

    Sudut pandang Anastasia:Saat percakapan mengalir, Aiden bertanya, "Pak Jenkins, bagaimana Bapak bisa menjaga tempat ini berjalan dengan lancar? Maksudku, ada hektaran tanah perkebunan dan juga pondok ini. Bagaimana Bapak mengelolanya tanpa kehilangan fokus pada fungsi utama tempat ini?"Aku sadar bahwa aku sudah terlalu lama menatap sisi wajah Aiden. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku tepat pada saat Pak Jenkins menjawab pertanyaan itu.Pak Jenkins tertawa pelan. "Ini kerja tim, tapi putraku, Alex, sangat membantu. Dia sedang pergi beberapa hari, tapi biasanya dia ikut membantu dengan tugas-tugas di sekitar pondok."Aiden melanjutkan, "Aku ingin sekali bertemu dengannya. Sekarang dia sedang apa?"Wajah Pak Jenkins berseri dengan kebanggaan, matanya berkeriput sebagai tanda tahun-tahun petualangannya. "Dia sedang dalam perjalanan berkemah bersama beberapa teman. Dia anak yang hebat, selalu siap membantu."Saat percakapan makin ramai dengan tawa dan candaan, aku melirik jam tangank

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 290

    Sudut pandang Anastasia:Aku memperhatikan saat perhatian kelompok beralih ke Aiden, matanya menyala dengan sorot protektif yang begitu intens hingga membuat jantungku berdetak lebih cepat."Dia menyuruhmu mundur, Bung," kata Aiden dengan suara tegas namun terkontrol. "Sadari batasmu. Dia nggak tertarik."Karyawan itu, yang bangkit dari tanah sambil mencoba menyelamatkan muka, menyeringai kepadanya. "Jangan ikut campur, Teman."Aiden melangkah maju, matanya menyala dengan kebencian yang cukup untuk membakar pria itu hanya dengan satu tatapan. "Aku bukan temanmu dan ini adalah urusanku sekarang.""Aku bisa menghadapinya sendiri," kataku, mencoba ikut campur, tetapi pandangan Aiden tetap tertuju kepada karyawan itu."Nggak, kamu nggak perlu menghadapinya sendiri," jawab Aiden dengan suara tegas. "Dia perlu belajar untuk menghormati batasan. Kalau aku lihat dia mengganggumu lagi, aku akan melaporkannya."Wajah karyawan itu memerah, tetapi dia tahu dia sudah kalah. Dia mundur menjauh dari

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status