Share

Milyader, Mari Bercerai
Milyader, Mari Bercerai
Penulis: BELLA

Bab 1

Penulis: BELLA
Aku menerima kiriman video porno.

“Kamu suka ini?”

Laki-laki dalam video itu adalah suamiku, Mark, kami sudah cukup lama tak bertemu. Dia telanjang, terlihat baju dan celananya berserakan di lantai, sedang menghentakkan tubuhnya dengan kuat pada seorang wanita yang wajahnya tidak bisa kulihat, dengan payudara besar bulat yang bergoyang-goyang. Aku bisa mendengar dengan jelas suara hentakan di video, bercampur dengan desahan dan erangan penuh nafsu.

“Ya, ya, lebih keras, sayang,” wanita itu berteriak dengan penuh gairah.

“Kamu nakal!” Mark berdiri dan membalik tubuhnya, menampar pantatnya sambil berkata, “Ayo angkat pantatmu!”

Wanita itu tertawa lirih, berbalik, menggerakkan pantatnya, sambil berlutut di tempat tidur. Rasanya seperti ada yang menuangkan seember air es ke kepalaku. Suamiku selingkuh, tapi yang lebih parah selingkuhannya adalah adikku sendiri, Bella.

Aku lanjutkan video itu, menyaksikan dan mendengarkan mereka bercinta, rasa jijikku terus muncul berkali-kali. Setiap aku mendengar desahan mereka, hatiku rasanya seperti ditusuk-tusuk.

Adegan itu terus berlanjut. Setelah beberapa hentakan lagi, dia menggenggam pantatnya, memasukkan penisnya jauh ke dalam vaginanya, dan mulai menghentakkan dengan kuat.

Setelah beberapa kali hentakan, Mark dan Bella mendesah bersama saat mencapai puncaknya. Mereka terbaring di tempat tidur, berciuman dan saling membelai wajah satu sama lain.

“Kamu seperti ini juga di ranjang dengan kakakku?” Suara genit Bella terdengar.

“Jangan sebut-sebut dia,” suara dingin Mark menggema, “Aku bahkan tidak pernah menciumnya, dia sama sekali tidak bisa dibandingkan denganmu.”

“Aku tahu kamu hanya mencintaiku!” Bella tersenyum puas, melingkarkan tangannya di leher Mark, mencondongkan tubuh untuk menciumnya, dan berkata, “Aku mau lagi!”

Melihat mereka berguling bersama lagi, aku merasakan gelombang mual dan tidak bisa menonton lebih lama. Aku menekan tombol pause dengan marah, menelan ludah karena muak.

Aku sangat yakin, video ini pasti dikirim oleh Bella. Dia ingin memberitahuku bahwa dia masih menguasai hati Mark, dan aku tidak berdaya melawannya. Selain surat nikah, aku dan Mark sama sekali tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Bella memang tahu bagaimana menusukkan pisau lebih dalam.

Kembali ke tiga tahun lalu, pada hari yang tak kusangka menjadi titik terburuk dalam hidupku, segalanya sudah dipersiapkan untuk pesta pernikahan Bella dan Mark. Hanya beberapa menit sebelum pernikahan, Bella menghilang dan kami tak dapat menemukannya. Bella sama sekali tidak ditemukan.

Orangtua kami, yang saat itu putus asa untuk menyelamatkan muka mereka di depan tamu, beralih padaku. Mereka memintaku mengenakan gaun pengantin dan menggantikan Bella di pelaminan.

Tidak ada ruang untuk berdebat, aku juga tidak diberi pilihan untuk mengatakan tidak atau bahkan menolak. Aku menjadi sosok pengantin pengganti untuk memenuhi upacara karena ketidakhadiran Bella. Tidak ada kata-kata berkat dan tidak ada harapan untuk masa depan yang bahagia. Sebagai gantinya, yang kuterima hanyalah instruksi untuk “menjadi istri yang baik.”

Itulah awal dari semua ini.

Aku berdiri di sana dalam gaun pengantin orang lain, mengucapkan sumpah untuk seorang pria yang nyaris tidak kukenal. Rasanya seperti mimpi dan harapanku tiba-tiba diselimuti kenyataan pahit. Seperti hidupku direnggut dalam sekejap, dan sejak saat itu aku hampir tidak ingat apa itu kebahagiaan. Aku terbelenggu.

Apa tadi aku bilang ini awal dari semuanya?

Tidak, sebenarnya ini berawal jauh ketika aku berumur tiga tahun dan aku hampir lupa akan hal ini. Selama delapan belas tahun yang panjang, aku tinggal jauh dari rumah dan keluargaku. Ketika aku bertumbuh dewasa, dari seorang anak kecil, remaja, hingga dewasa, aku terus berusaha mencari akarku, kembali ke keluargaku. Dan saat mimpi bertemu keluarga menjadi kenyataan, ternyata itu tidak seperti yang kuharapkan.

Tidak ada reuni penuh kebahagiaan, tidak ada air mata bahagia.

Sebaliknya, aku disambut dengan ketidakpedulian.

Seolah-olah aku adalah orang asing yang tersesat dalam kehidupan mereka. Orangtuaku seolah sudah melupakanku setelah semua tahun yang kulewati tak bersama mereka. Aku rasa tidak ada lagi yang tersisa, karena jika ada, setidaknya mereka cukup memberitahuku kalau Bella sudah ditemukan. Semua cinta mereka untuk Bella, hampir tidak ada yang tersisa untukku.

Mereka tidak memberitahuku bahwa Bella telah pulang dari luar negeri dan menjadi simpanan suamiku.

Hampir bersamaan, ponselku bergetar dengan panggilan video dari Bella. Awalnya aku tidak ingin menjawabnya, tetapi akhirnya aku menggeser terima panggilan. Wajah Bella muncul di layar, duduk di ruangan yang sama seperti di video dengan handuk melilit tubuhnya.

“Halo, semoga kamu bahagia di sana,” sapa Bella dengan senyum puas.

Dia menggerakkan kamera ponselnya untuk memperlihatkan lebih banyak ruangan, dan di latar belakang, aku melihat sekilas Mark berjalan ke kamar mandi.

“Tebak siapa yang akan mati jadi perawan tua yang menyedihkan? Pastinya bukan aku!” Dia tertawa lepas dengan sombongnya.

Aku diam-diam menggertakkan gigi. Aku benar-benar muak dengan hinaan itu.

“Dia tidak pantas bersamamu,” tambahnya “Dia pantas yang lebih baik. Dan akulah yang paling sempurna untuknya, sayang.”

Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Aku mengakhiri panggilan dengan marah dan melempar ponsel ke tempat tidur, lalu menutup kepala dengan tanganku.

Sudah cukup. Aku tidak akan diam saja dan membiarkan diriku dihancurkan seperti keset lagi.

Saat Mark kembali ke rumah, sudah larut malam. Aku duduk di lantai ruang tamu yang dingin, menaruh daguku di telapak tangan dan hampir tertidur saat mendengar suara pintu depan terbuka. Aroma khasnya yang maskulin mengiringi kehadirannya, dan aku juga bisa mencium aroma Bella di tubuhnya.

Mataku berkedip dan terbuka. Aku mengangkat kepalaku, menatap Mark dengan hampa. Ada tatapan keras di wajahnya, seperti biasa setiap kali aku ada di sekitarnya. Sungguh berbeda saat tadi dia tersenyum lebar tadi bersama Bella.

Setelah menikah, semua yang diperintahkan orangtuaku sudah kulakukan. Mulai dari menyediakan makanan, kebutuhan sehari-hari, dan banyak hal lain yang tak terhitung, semuanya selama tiga tahun terakhir. Kebiasaan itu mulai terasa seperti ritual, tertanam dalam rutinitasku. Mark juga menerimanya tanpa banyak tanya. Tapi tidak sekalipun Mark memberiku perhatian.

Mark menutup pintu dan mulai berjalan menuju ruang kerjanya. Seperti biasa, memperlakukanku seolah-olah aku tidak ada, dan untuk pertama kalinya, aku bicara.

“Aku ingin cerai.”

Dia berbalik menghadapku, dengan tatapan tidak percaya di wajahnya.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak mau menjadi istrimu lagi,” jawabku tanpa basa-basi.

Hari itu, tiga tahun lalu, saat aku berdiri dengan gaun putih, dia dengan tuksedonya, dan pendeta di depan kami, aku melihat tatapan kemarahan tertahan di matanya saat melihat bukan Bella di balik kerudung, melainkan aku.

Aku ingat dadaku terasa sesak di balik kalung berlian yang kupakai. Tatapannya yang membakar. Betapa bodoh dan tak berdayanya aku dalam gaun itu. Bagaimana orangtuaku tersenyum tak merasa bersalah dengan mendorongku ke sana dengan paksa dan orang lain bersorak tanpa tahu apa yang sedang terjadi.

“Kamu boleh mencium pengantinnya,” ucap pendeta.

Mark mendekat ke arahku, tapi bukan untuk ciuman, dia hanya menggeser wajahnya melewati pipiku dan berbisik di telingaku, “Satu-satunya yang akan kamu dapatkan hanyalah gelar istri.”

Dan gelar itulah yang ingin kukembalikan padanya. Aku tidak menginginkannya lagi. Aku sebenarnya tak pernah berharap mengambilnya sejak awal. Aku telah berkorban terlalu banyak dan menanggung lebih dari apa yang aku dapat berikan. Ini sudah puncaknya.

“Aku ingin bercerai, Mark,” aku mengulangi kata-kataku untuk memastikan dia mendengarku dengan jelas—meskipun aku tahu dia sudah mendengarnya.

Dia menatapku dengan dahi berkerut sebelum menjawab dengan dingin, "Itu bukan urusan penting! Aku sangat sibuk, jangan buang waktuku dengan topik-topik membosankan, atau mencoba menarik perhatianku!"

Tanggapan yang khas dari Mark yang menganggap bahwa aku buang-buang waktu dan sedang mencoba menarik perhatiannya. Selama lebih dari tiga tahun aku tidak pernah menarik perhatiannya, dan baru saat aku menyebutkan kata perceraian, dia memperhatikannya.

Aku tidak ingin bertengkar dengannya.

“Aku akan meminta pengacara mengirimkan perjanjian perceraian padamu,” hanya itu yang kukatakan, dengan ketenangan yang sengaja kubuat.

Dia bahkan tidak berkata apa-apa lagi setelah itu dan langsung berjalan ke pintu ruang kerjanya, sambil membanting pintu dengan kasar. Mataku memandangi gagang pintu itu sejenak dengan pikiran yang kosong sebelum aku menarik cincin kawin dari jariku dan meletakkannya di meja. Jangan tanyakan kenapa aku masih memakainya.

Aku mengambil koperku, yang sudah kusiapkan, dan keluar dari rumah. Angin di luar terasa berbeda, seperti beban berat yang terangkat dari pundakku untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Rasanya angin malam yang meniup rambutku begitu menyegarkan.

Mengambil ponsel dari tas dan dengan cepat mencari nomor dari kontak lalu aku menempelkan ponsel ke telinga, terdengar nada dering.

“Aku sudah bercerai dengannya, jemput aku.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Haniubay
Baru baca sepertinya menarik semoga peran utama wanitanya selalu tegas dan tidak menye²
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
laki-laki PECUNDANG perempuan LONTEK pasangan PEZINAH dua-duanya DAJJAL lanjut thor biar kena penyakit
goodnovel comment avatar
Dewi Lanjar
sangat bagus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 2

    Angin malam yang lembut menerpa rambutku saat aku berdiri di luar dengan koper di sampingku. Aku akhirnya keluar dari rumah itu. Tidak jauh di depan, aku melihat sorotan lampu mobil mengarah padaku. Senyum samar terukir di bibirku karena aku langsung mengenali siapa itu.Mobil sport merah mencolok berhenti tepat di depanku, dan seorang wanita yang tak kalah mencolok duduk di kursi pengemudi, melambai sambil menurunkan jendela. Itu Grace.Grace bukan hanya sahabatku, tapi juga rekan bisnisku. Kami sudah tak terpisahkan sejak kuliah. Karena kami sama-sama punya ketertarikan di dunia fashion, kami memutuskan untuk mewujudkan mimpi kami dengan mendirikan Luxe Vogue, sebuah situs belanja online yang secara cepat digemari anak-anak muda. Grace memiliki mata tajam dalam desain, jadi dia bertanggung jawab atas koleksi busana, sementara aku berfokus pada perhiasan di studio kami, Atelier, yang melayani klien elit. Keahlian bisnis dan visi kreatif kami membawa kami ke jajaran para miliarder.Ket

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 3

    SUDUT PANDANG MARK Aku masuk ke area parkir, kelelahan. Satu hari yang panjang antara pekerjaan dan sedikit kenikmatan membuatku capek sekali, dan yang kuinginkan hanyalah bersantai dan beristirahat. Aku keluar dari mobil dan melonggarkan dasiku, ingin segera masuk ke dalam dan akhirnya bisa bersantai. Saat aku masuk ke dalam rumah, aku melihat Sydney duduk di sana, menatapku dengan tatapan kosongnya. Aku nyaris tak memandangnya, langsung menuju ruang kerja.“Aku mau cerai,” kata Sydney sebelum aku sampai ke ruanganku.Cerai? Konyol adalah kata pertama yang muncul di benakku, dan konyol memang. Bisnis keluarga orangtua Sydney telah diserahkan ke GT Group, yang kumiliki. Ini adalah kontrak yang menguntungkan kedua belah pihak dalam segala hal. Sydney hanyalah seorang wanita yang kunikahi, yang bergantung pada orang tuanya dan padaku untuk bertahan hidup.Cerai, ya? Ini jelas cara baru untuk menarik perhatian, seperti yang sering ia lakukan. Dulu ia akan menunjukkan sikap menyedihkan ya

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 4

    SUDUT PANDANG SYDNEYBegitu aku kembali ke bandara, aku sudah bisa melihat Grace melambaikan tangan dengan semangat dari kejauhan. Senyum lebar mengembang di bibirku seiring aku semakin dekat padanya. Tiga bulan ini benar-benar menjadi momen paling bahagia dalam hidupku setelah sekian lama terbelenggu.Aku mempercepat langkahku, menarik koper di belakangku, dan balas melambaikan tangan ke arah Grace. Tapi, di tengah-tengah itu, seseorang yang familiar berjalan cepat hampir menabrakku. Aku refleks berhenti dan menoleh; aku yakin mengenali punggung. Pasti itu Mark. Aku tak mungkin salah.Aku benar. Aku memastikan dengan menoleh lagi; memang itu Mark, dengan langkah cepatnya yang sudah kukenal. Mungkin dia tidak melihatku? Atau… mungkin dia tak mengenaliku lagi? Tiga bulan cukup bagiku untuk menghapus sosok “Nyonya Torres” yang dia kenal dulu. Aku sudah jauh berbeda sekarang, dengan gaya berpakaian dan rambut yang berbeda. Rambutku kini terurai bergelombang indah, wajahku bersinar cerah b

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 5

    “Aku membuang surat perjanjian sialan itu ke mesin penghancur,” dia mendesis. “Aku sudah membatalkan rapat penting untukmu, aku tak bisa buang-buang waktu lagi.”Dia tidak berubah sedikit pun, masih pria pemarah dan tidak sabaran yang kutinggalkan dulu, pria yang berpikir bahwa dunia berputar di sekitarnya. Kalau dia tidak ingin waktunya terbuang, kenapa dia harus mengikutiku sampai ke sini?Terserah dia mau menghancurkan dokumen itu, membakarnya menjadi abu, atau menyimpannya di suatu tempat, itu bukan urusanku.Aku mundur dari pintu dan menatap wajahnya dengan marah.“Keinginanku untuk menceraikanmu serius dan sungguh-sungguh. Kalau kamu tidak mau cerai secara damai, maka aku akan mengajukan gugatan cerai. Itu hanya akan membuang lebih banyak waktu berhargamu!” Aku menegaskan lagi dengan jelas.Sesaat, pikiranku melayang pada pria yang mungkin masih bersembunyi di suatu tempat di vilaku. Aku juga berdiri di depan pintu dan memastikan agar Mark tidak melihat sesuatu yang seharusn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 6

    SUDUT PANDANG MARKAku mengerang saat berbalik di tempat tidur. Kepala terasa berdenyut pelan, dan dengan susah payah aku bangkit. Mataku menyapu sekeliling kamar, bertanya-tanya kenapa aku bisa di rumah. Harusnya aku berada di kantor.Aku meletakkan kepalaku di tangan, mencoba mengingat. Dan seketika, ingatan itu menghantamku.Asistenku berhasil menemukan keberadaan Sydney, dan aku langsung meninggalkan semua pekerjaan untuk menyadari bahwa usahanya mencari perhatian tidak berhasil. Aku ingat, aku berhasil memaksanya ikut denganku, lalu… segalanya menjadi hitam.“Si nenek sihir itu! Berani-beraninya dia memukulku?” geramku, bangkit dari tempat tidur dan menatap obat-obatan yang ada di atas laci.Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apa tujuannya dengan semua ini? Aku membuka setiap pintu kamar dengan kasar, suara pintu yang membentur tembok memenuhi rumah. “Di mana dia?!” bentakku.Para pegawai di rumah hanya terdiam, beberapa dari mereka kaget tiap kali pintu kubanting. Suda

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 7

    SUDUT PANDANG SYDNEY Aku tidak bisa menghentikan tawaku yang meledak saat melihat pesanan spesial nomor empat untuk hari ini. Biasanya, Atelier menerima banyak pesanan setiap harinya, dan karyawan kami mengurus pesanan-pesanan ini. Namun, jika pesanan perhiasan harus dibuat khusus, pesanan itu langsung datang kepadaku. Di layar laptopku ada pesanan untuk dua buah perhiasan dari asisten Mark. Dalam kolom keterangan, tertulis agar perhiasan itu 'menonjol' dari semua perhiasan kami, lalu diakhiri dengan 'sebutkan hargamu'. Hanya Mark yang bisa secara arogan membuat permintaan terdengar menghina. Pesanan itu memang dilakukan oleh asisten Mark, tetapi aku yakin pesanan itu atas nama Mark. Tidak mungkin asistennya mampu membayar desain kustom Atelier untuk dirinya sendiri. Aku memutar kursi, bersiul, "Saatnya menghasilkan jutaan tambahan." Aku kembali menatap layar laptop dan membaca ulang kalimat terakhir. Senyumku semakin lebar, "Oh. Aku pasti akan menyebutkan hargaku."

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 8

    SUDUT PANDANG MARK Ketukan di pintu membuatku tersentak dari fokus pada berkas-berkas di depanku. "Masuk," panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suara asisten menyapaku, "Luxe Vogue telah memberi tanggapan, Pak." "Hmm," gumamku sambil mengangguk. "Kapan kalung-kalung itu akan siap?" "Ini bukan tentang kalungnya, Pak. Ini tentang tawaran akuisisi yang kita kirimkan kepada mereka." Aku menatapnya dan mendorong kursiku ke belakang. "Oh, benar. Kapan kita akan bertemu untuk menyelesaikan pengalihan situs webnya?" tanyaku. Sebuah kebetulan bahwa Atelier Studio bekerja sama dengan situs online shop yang sudah lama aku incar. Respons mereka belum datang selama berbulan-bulan, tetapi aku tidak pernah berhenti. Aku terus memerintahkan asistennya untuk mengirimkan email tanpa henti. Setelah Bella pergi, aku mencari informasi tentang Atelier Studio sendiri dan sial! Bella benar. Mereka membuat perhiasan yang menakjubkan. Kualitas batu permata mereka luar biasa. Itu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 9

    Lampu yang berkedip dari satu warna ke warna lain, tubuh-tubuh berkeringat yang terjepit di lantai dansa bar bukanlah apa yang aku harapkan malam ini. Aku hanya menginginkan ketenangan dan malam yang santai bersama teman-temanku. Selama perjalananku ke sini, Joel meneleponku, suaranya hampir tidak terdengar di atas dentuman musik keras di bar. "Will juga di sini." Aku bertanya, "Apa?" Sekitar tiga kali sebelum aku akhirnya mendengarnya. Aku bertemu mereka di area VIP, ruang yang disewa khusus untuk kami bertiga. Satu-satunya tempat di mana kami bisa berbicara sambil merasakan getaran yang bergetar di bar. Aku meminta asistenku mengirimkan berkas yang berisi informasi tentang Grace kepadaku. Sekarang aku membalikkan foto itu menghadap Joel. "Kamu kenal dia, kan? Kalian pernah berkencan." Will yang disebelah Joel ikut campur dan bersiul. "Aku ingat dia; dia itu cewek yang pernah kamu kencani kan." Dia berbalik ke arahku, "Kamu tahu tidak? Aku pernah bertanya pada Joel apakah

Bab terbaru

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status