Share

Perkara Investasi

Penulis: Rianievy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-24 08:54:57

💐

"Makanya, mulai sekarang kalau Ibu kasih tau dengerin. Jangan ngeyel lagi, Bang. Kamu anak pertama tapi kelakuan kayak anak bungsu. Berubah, ya. Kasihan Raja kalau lebih bangga sama Papa sambungnya ketimbang kamu." Gendis membantu Daffa memakai kemeja kerja. Ringisan Daffa mewakilkan jika bahunya masih terasa sakit.

"Kita cari Aisyah kemana, Bu? Ibu bisa tau gugatan lanjut dari mana?"

Aduh! Kacau. Gendis harus cari alasan kuat.

"Jadi ... pengacaranya Aisyah ke rumah. Pikirnya kamu di rumah Ibu, semalam datangnya. Ayahmu juga ketemu. Lha dikasih tau kalau gugatan sudah berlanjut, surat panggilan sidang nanti dikirim. Pengacaranya itu bahas harta gono gini. Ya, Ibu sama Ayah mana tau, kan. Jadi nanti pengacara itu mau ketemu kamu." Gendis memasang kancing kemeja sambil ketar ketir.

"Aisyah punya uang buat bayar pengacara?"

Yah, pertanyaan menjebak. Gendis harus hati-hati.

"Mungkin. Kita kan nggak tau istrimu dapat uang dari mana. Pake penyangganya lagi, Bang. Kamu kerja naik tak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mertua Masa Gini?   Jangan atur-atur

    Selamat membaca. ______Gendis terlihat sembab. Tangannya terus menggenggam jemari Agung. Sudah hari ketiga di ruang ICU, tapi suaminya belum sadar pasca operasi. Bunyi monitor dari benda kecil yang dipasang pada tubuh suaminya, membuat Gendis risih. Rasanya ia ingin cabut semua kabel yang terpasang sebagai monitor perkembangan fungsi tubuh Agung, apa daya tak akan mungkin bisa. Kini ia hanya bisa menahan rasa itu tanpa bisa protes seperti biasanya jika ada yang tidak sesuai harapannya. "Ibu, maaf. Jam besuknya habis. Ibu bisa kembali lagi besok pagi, ya." Perawat berdiri di samping Gendis, ia langsung bangun dari duduknya perlahan. Enggan tapi mau tak mau. "Suster, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya, ya." Gendis menatap bergantian ke perawat lalu suaminya. Ia menghela napas panjang begitu pelan, tatapannya tak bisa dibohongi ia sedih dengan keadaan ini. Gendis pulang naik taksi. Dipandangi jalanan yang ramai kendaraan dengan perasaan kosong. Bukan karena Agung yang sakit, m

  • Mertua Masa Gini?   Serangan

    "Ibu nggak bisa terus-terusan begini! Kirana nggak enak sama Mas Henggar, Bu. Kirana tau Ibu mampu atasin semua hal. Apapun! Cuma tolong lah, Bu, berhenti dulu campurin urusan anak dan menantunya." Kirana memohon. Ia bukan tipe anak yang membantah, hanya saja memang Gendis kembali diluar batas. "Salah! Ibu salah!" Tunjuknya ke diri sendiri. Kedua matanya melotot tajam ke arah putri yang dari wajah pun, mirip dengannya. Sedangkan Nanda lebih mirip Agung. "Kamu bukannya bersyukur masih ada orang tua yang mau bantu kesusahannya malah marah-marah. Pantes nggak kamu begini, hah?!" Keributan justru terjadi di kamar itu. Agung menerobos masuk. Ia menarik tangan Gendis supaya keluar dari sana, menjauh sejenak menenangkan hati. Henggar duduk di tepi ranjang bersama Kirana yang terlibat menahan kekesalan. "Ibu tuh kebangetan tau nggak, Mas?!" toleh Kirana ke arah suaminya di sisi kanan. "Jengkel lama-lama aku sama Ibu," imbuhnya lagi. Henggar merangkul bahu Kirana. Menenangkan dengan bersi

  • Mertua Masa Gini?   Ketegasan

    Selamat membaca, _____Gendis, wanita keras kepala itu bahkan tak mendengarkan saran dan tiga teman dekatnya. Ia yakin dirinya tak salah karena tujuannya baik, mau kehidupan anak-anaknya selalu mulus. Siapa yang bisa menyangka jika pada akhirnya rencana yang sudah disusun tak bisa berjalan sesuai harapan. Pertama, Nanda ngambek karena Gendis membeli mobil untuknya dan meminta itu dikembalikan ke penjual tanpa Nanda peduli ribetnya seperti apa. Tak sampai disitu. Anak yang selama ini penurut, perlahan membangkang karena ulah Gendis sendiri. Sepulang dari Semarang, Nanda pindah kosan tanpa izin dengannya juga Agung. Satu minggu tidak membalas telpon atau whatssapp Gendis juga ketiga kakaknya. Semua panik. Apalagi saat tau sedang marak penipuan yang pelakunya mahasiswa. "Nanda kemana kamu?" Gendis tak bisa tidur nyenyak, ia butuh tau anak gadisnya kemana. Di kampus juga tak ada. Gendis sudah bertanya ke teman kuliah Nanda. Suara sepeda motor berhenti di depan pagar rumah. Gendis be

  • Mertua Masa Gini?   Perubahan

    Selamat membaca ____Aisyah dan Daffa tinggal dikosan sudah dua hari. Sebagai istri yang juga punya kegiatan berjualan secara online, Aisyah gunakan waktu saat Daffa kerja dengan mencari uang walau hanya di dalam kamar. "Ayo, cepetan. Promo dari aku masih lima menit lagi. Yakin nggak minat sama kerudung ini? Bagus lho, yok, buruan di check out!" Aisyah begitu bersemangat. Ia punya dua ponsel, yang satu khusus untuk jualan. Ponsel satunya berbunyi, Daffa menelpon, karena sedang siaran langsung, Aisyah tidak bisa menjawab, diabaikan saja. Sedangkan Daffa, di kantor tampak uring-uringan karena khawatir istrinya kenapa-kenapa. Entah kelelahan, atau jatuh karena wanita hamil besar suka mendadak lemas. Hasil artikel yang ia baca dan ingat saat Yasmin si mantan istri dulu hamil, terasa lemah sekali juga manja. Daffa mendengkus, ia meremas kedua jemari tangan. Gelisah. Ruangannya diketuk, seorang OB masuk sambil membawa nampan coklat. "Pak Daffa, ini ada kiriman makan siang dari istrinya

  • Mertua Masa Gini?   Pamitan

    selamat membaca ----Tidak pernah dibayangkan Aisyah jika kini ia dan Daffa bisa jalan bersama apalagi di mall. Rasa canggung jelas saja menyapa keduanya. Aisyah mendadak gugup, sesekali membuang pandangan ke arah lain karena Daffa memperhatikannya. "kamu mau langsung makan apa mampir beli sesuatu?" Aisyah menoleh ke arah suaminya, kedua mata berkedip cepat karena merasa terkejut dengan pertanyaan tadi. "Makan dulu aja, aku laper," tukas Aisyah jujur. Daffa mengangguk. Ia meminta Aisyah memilih makan siang mereka, kembali wanita berhijab lavender itu bingung. Pasalnya, ia tak memilih makanan dan diajak makan kemanapun pasti mau. "kamu aja deh, Mas, yang pilih. Terserah." Daffa memandangi sekeliling hendak memilih keduanya makan siang di mana tapi tiba-tiba seseorang memanggil dirinya, sontak Aisyah ikut menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita melambaikan tangan ke arah Daffa. Aisyah memandangi suaminya, Daffa hanya diam dengan ekspresi bingung. "Pak Daffa, kok ada di sini

  • Mertua Masa Gini?   Rencana awal

    Halo, selamat membaca-----Seketika Daffa kepikiran dengan kata-kata Aisyah. Sambil berjalan mengekor sang istri masuk ke dalam rumah, Daffa tak sanggup menegur. Rasanya kalimatnya tertahan di kerongkongan. "Aku mau ke rumah Raffa, kamu mau ikut?" ajak Daffa saat Aisyah duduk di ruang makan menikmati jajanan yang dibeli. Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Kursi meja makan diseret perlahan, Daffa duduk berjarak dengan Aisyah. "Aku tau Bariq suka sama kamu karena ada informan yang bilang, Syah."Aisyah melirik tajam sebelum kembali menatap layar TV yang menyala. "Aku nggak mau rumah tanggaku hancur lagi." Kepala Daffa sedikit menunduk, ia juga remas kedua jemari tangannya yang diletakkan di atas meja makan. Kembali hanya lirikan yang bisa Aisyah layangkan ke suaminya. Keduanya sama-sama diam bahkan hingga Aisyah selesai makan, tak ada pembicaraan lagi. Daffa beranjak cepat menuju kamar, sedangkan Aisyah menatap kosong ke arah tempat menjemur baju dari jendela dapur. "Mbak A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status