Share

Bab 3

Author: Bella Grace
Candice dengan susah payah menenangkan dirinya. Namun, ketika Terry seperti biasanya mencoba mencium sudut bibirnya, dia langsung menolak dan mendorongnya menjauh.

Terry terlihat canggung. Dia berdeham pelan untuk menutupi rasa malunya, lalu merenggangkan pelukan mereka dan mengulurkan tangan, meminta sesuatu darinya.

"Ngomong-ngomong, mana hadiah yang kamu bilang untukku?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Candice tersenyum kecil, meminta Terry menunggu sebentar. Dia naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya, lalu mengambil kotak undangan pernikahan yang pernah mereka pilih bersama.

Dengan tenang, Candice mengambil pena dan mengganti nama pengantin pada undangan itu. Di bagian mempelai pria, dia menuliskan nama Gian, sementara di bagian mempelai wanita tetap tertulis namanya.

Setelah selesai, dia memasukkan undangan itu kembali ke dalam kotaknya, menutupnya rapat, dan membawanya ke lantai bawah. Dia menyerahkan kotak itu kepada Terry.

"Apa ini?" Terry bertanya dengan penasaran dan mencoba membuka kotaknya. Namun, Candice buru-buru menghentikannya.

"Tunggu sampai tanggal satu bulan depan untuk membukanya," jawabnya dengan senyum samar.

Mendengar tanggal tersebut, tangan Terry sedikit bergetar. Bukankah itu hari di mana dia berencana menikahi Vivian?

"Kenapa harus tanggal itu?" tanyanya sambil mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

"Karena tanggal satu bulan depan adalah hari baik yang seharusnya menjadi hari pernikahan kita," jawab Candice dengan senyum yang begitu menenangkan. Dia menempelkan lakban di kotak itu dan berkata, "Karena pernikahan kita ditunda, aku ingin memberimu hadiah istimewa. Nanti kamu akan mendapatkan kejutan."

Terry mengangguk dengan senang hati. "Baik, aku sangat suka kejutan," katanya sambil tersenyum lebar. Dia pun mencubit hidung Candice dengan manja dan memeluknya erat.

"Candice, hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia."

Bahagia?

Kilauan di mata Candice perlahan memudar. Namun, Terry sama sekali tidak menyadarinya.

Apa yang membuatnya bahagia? Mungkin karena berhasil melamar wanita lain tanpa sepengetahuan Candice. Dia pikir Candice benar-benar tidak tahu apa-apa.

Malam itu, Terry pergi mandi. Candice duduk di sofa, menggulirkan layar ponselnya. Tanpa sengaja, dia melihat unggahan salah satu teman Terry di media sosial.

Unggahan itu adalah video saat Terry berlutut melamar Vivian, lengkap dengan keterangan.

[ Cinta yang dulu diidamkan akhirnya menjadi kenyataan. Malam ini, ayo rayakan bersama di tempat biasa! ]

Candice terdiam sejenak. Ketika dia hendak membuka video itu, muncul sebuah komentar di bawahnya.

[ Berani banget kamu nge-post ini. Kamu udah blok Candice belum? ]

Orang itu menjawab.

[ Memangnya aku sebodoh itu? Tentu saja sudah aku blok dari dia. ]

Candice membaca komentar tersebut, sudut bibirnya melengkung menjadi senyuman penuh ejekan.

Dia teringat ketika baru saja menjalin hubungan dengan Terry, dia dibawa untuk bertemu dengan teman-teman dekatnya. Ketika melihat Candice, mereka semua menyapanya dengan akrab, memanggilnya "kakak ipar".

Mereka bahkan berkata, "Kakak Ipar, kalau Terry berani memperlakukanmu nggak baik, kasih tahu kami saja, kami pasti akan memberinya pelajaran!"

"Betul, Kak, tenang saja. Kami akan mengawasinya. Dia nggak akan berani macam-macam di luar. Kalau sampai dia punya wanita lain, kami pasti orang pertama yang akan memberitahumu."

Tapi sekarang? Semua orang itu justru bekerja sama membantu Terry menyembunyikan kenyataan bahwa dia akan menikahi wanita lain!

Hanya butuh beberapa detik, unggahan tersebut langsung dihapus. Tak lama kemudian, Terry keluar dari kamar mandi.

"Candice, kamu ...." Dia terlihat gugup. Rambutnya masih basah, bahkan belum sempat dikeringkan, dan dia tampak tergesa-gesa keluar dari kamar mandi.

"Ada apa?" Candice menatapnya tanpa ekspresi, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Melihat bahwa dia tidak bereaksi apa pun, Terry menghela napas lega.

"Nggak ada apa-apa, aku cuma mau bilang, aku sudah selesai mandi."

"Mm," jawab Candice dengan singkat. Dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar.

Namun, baru beberapa langkah keluar, dia mendengar Terry sedang berbicara di telepon dengan temannya.

"Kamu gila ya? Cepat hapus unggahan itu di media sosial! Kalau sampai Candice melihatnya, gimana? Aku sudah bilang, masalah ini nggak boleh dia tahu. Kalian mau mati, ya?"

"Tenang saja, sudah aku hapus. Kakak Ipar pasti nggak sempat lihat. Ngomong-ngomong, nggak datang ke acara perayaanmu sendiri itu gimana ceritanya? Vivian sudah datang, lho."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 4

    Terry masih ragu-ragu saat Candice tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, "Lagi telepon siapa?""Ah, ini cuma Hugo dan yang lainnya, mereka ajak aku keluar untuk minum," jawab Terry, mencoba terdengar santai."Benarkah? Sudah lama aku nggak ketemu mereka. Kalau begitu, aku ikut saja. Aku juga ingin minum sedikit," balas Candice dengan senyum tipis.Candice ingin melihat sejauh mana Terry dan teman-temannya mampu menyembunyikan rahasia jika dia hadir.Terry mencoba berbagai cara untuk menolak sepanjang jalan, tetapi gagal menghentikan Candice. Dia hanya bisa cemas, sibuk dengan ponselnya untuk memberi peringatan kepada teman-temannya.Setibanya di ruang VIP bar, Candice langsung melihat Terry dan teman-temannya. Empat pria itu duduk dengan sangat sopan dan masing-masing memegang segelas minuman, tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda kehadiran wanita lain.Melihat Candice, mereka semua berdiri serempak, "Halo, Kak. Tenang saja, Kak, malam ini cuma kami para pria di sini."Candice mengangkat al

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 5

    "Ada orang jatuh dari tangga! Cepat panggil bantuan!"Teriakan seseorang terdengar di telinga Candice, disusul dengan kerumunan yang segera berkumpul di sekitarnya.Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia melihat Terry dan teman-temannya berlalu pergi dari sisi kerumunan. Mereka hanya melirik sekilas tanpa sedikit pun rasa peduli. Bagaimana mereka tahu bahwa orang yang tergeletak di lantai dan dikelilingi kerumunan adalah Candice yang telah mereka khianati?....Candice terbangun di rumah sakit.Seorang perawat sedang mengganti perbannya. "Kamu sudah sadar?" tanya perawat itu dengan ramah."Kenapa aku ada di sini?" tanya Candice dengan suara lemah."Oh, kamu pingsan karena gula darah rendah. Ada seseorang yang menemukanmu dan membawamu ke sini, tapi dia sudah pergi. Ada nomor keluarga yang bisa kuhubungi?""Nggak usah," Candice menggeleng pelan. Mendengar nama Terry saja sudah membuatnya merasa mual.Dia berjalan perlahan meninggalkan ruang perawatan untuk menuju loket pembayaran.

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 6

    Melihat ekspresi tegangnya, Candice menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri, lalu berkata, "Nggak ada apa-apa, aku cuma asal bicara. Aku sibuk hari itu."Dia berbalik hendak pergi dan Terry ingin mengejarnya, tetapi Candice menghentikannya. "Kamu di sini saja temani temanmu berobat. Meninggalkannya sendirian itu nggak baik. Aku bisa pulang sendiri, kamu nggak perlu mengkhawatirkanku."Terry menoleh melihat Candice pergi, hatinya mendadak terasa sakit.Melihat Terry yang tampak khawatir pada Candice, Vivian berjongkok sambil mengeluh, "Terry, aku sakit sekali. Seluruh tubuhku sakit. Temani aku pulang, ya?"Terry yang sedang kesal karena sikap Candice, dengan tegas menepis Vivian. "Tempatkan dirimu dengan benar, jangan lagi memprovokasinya."Candice kembali ke rumah dan melanjutkan berkemas. Dia merasa tidak bisa tinggal di tempat itu lagi walau sedetik pun.Untungnya, barang-barangnya tidak terlalu banyak. Dalam waktu singkat, satu koper besar sudah penuh terisi barang-barang mil

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 7

    Candice tidak bisa menahan diri, dia melayangkan tamparan keras ke wajah Terry. Terry terkejut dengan tamparan itu, tetapi hati yang awalnya gelisah malah menjadi tenang."Kalau kamu kesal, pukul saja aku beberapa kali lagi. Aku nggak apa-apa, asalkan kamu nggak marah."Betapa "tulusnya" kata-kata itu, tetapi juga betapa menjijikannya. Candice langsung melayangkan tamparan kedua ke wajahnya. Itu karena dia sendiri yang memintanya."Terry, kamu masih ingat apa yang pernah aku bilang? Apa pun bisa aku maafkan, tapi kalau kamu mengkhianati aku, aku pasti akan menikah sama pria lain."Wajah Terry seketika berubah pucat."Candice, apa yang kamu bicarakan? Orang yang aku pilih untuk menghabiskan hidupku sampai tua cuma kamu. Aku akan selalu mencintaimu, dan itu nggak akan pernah berubah!"Paling mencintainya, tetapi malah bercumbu dengan wanita lain sampai harus dirawat di rumah sakit.Paling mencintainya, tetapi menunda pernikahan untuk memenuhi keinginan wanita lain dan menjadikannya pener

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 8

    Setelah kembali ke kamarnya, Candice berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit. Air matanya tiba-tiba mengalir deras dari matanya.Lima tahun berlalu, dia tidak pernah membayangkan suatu hari akan berpisah dengan Terry, apalagi menikah dengan pria lain. Dalam hitungan hari, semuanya berubah drastis.Ponselnya yang ada di samping berbunyi beberapa kali. Dia mengambilnya dan menerima beberapa pesan.[ Candice, tebak aku di mana? ]Pesan itu dari Vivian, disertai dengan beberapa foto.Itu adalah rumahnya dan Terry! Ada juga foto Vivian dan Terry yang sedang bermesraan di atas ranjang, tepat di ranjang pernikahan mereka.[ Setelah kamu pergi, Terry langsung membawaku masuk ke rumah kalian dengan penuh semangat dan memerintahkan semua pelayan untuk jangan kasih tahu kamu! ][ Ranjang pernikahan kalian benar-benar nyaman. Aku dengar sprei dan selimut ini kamu yang pilih sendiri, ya? Motif burung pasangannya benar-benar mirip seperti aku dan Terry!]Kata-kata provokatif dan foto-

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 9

    Terry terpaku. "Kamu bilang apa? Dia memposting di media sosial, bilang hari ini dia akan menikah?" Dia langsung merampas ponsel temannya. Begitu melihat postingan Candice, pikirannya langsung kosong.Tidak mungkin! Dia akan menikah? Sama siapa?Saat itu juga, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Dari dalam mobil, keluar seorang wanita dengan gaun pengantin. Orang itu tak lain adalah Candice.Melihat Candice, ekspresi Terry seketika berubah. Dia berdiri di tempat dengan gugup dan bertanya, "Candice, kenapa kamu di sini?"Candice turun dari mobil, menatap pria di depannya dengan senyum sinis di bibirnya. "Aku juga mau tanya, kenapa kamu ada di sini?"Tatapannya menyapu Vivian yang berdiri di samping Terry. Vivian mengenakan gaun pengantin milik Candice, membawa buket bunga yang seharusnya miliknya, dan berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milik Candice.Melihat Candice, wajah Vivian langsung berubah. Dia sama sekali tidak menyangka Candice akan datang dengan mengenakan gaun peng

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 10

    Semua orang terkejut. Mereka melihat darah di dahi Vivian menodai gaun pengantinnya yang putih bersih."Vivian!" Hal ini membuat keraguan dan rasa bersalah Terry sirna. Dia memeluk Vivian, bertanya dengan sedih, "Untuk apa kamu begitu?""Terry, kamu tahu harapan terbesarku di kehidupan ini adalah menikah denganmu. Kak Candice nggak merestui hubungan kita, jadi lebih baik aku mati. Tenang saja, aku nggak menyalahkanmu atau Kak Candice. Ini salah nasibku yang terlalu buruk."Usai berbicara, Vivian bahkan muntah darah. Hal ini membuat tatapan Terry kepada Candice menjadi semakin dingin. "Candice, kamu mau melihatnya bunuh diri? Sejak kapan kamu menjadi sekejam ini?"Candice merasakan sakit di hatinya mendengar pertanyaan itu. Ternyata di mata Terry, dia adalah orang seperti itu. Namun, tidak masalah lagi karena dia sudah muak dengan permainan ini."Terry, upacara pernikahan sudah mau dimulai. Sebaiknya kalian cepat masuk," ujar seseorang. Terry lantas menggendong Vivian, lalu melirik Cand

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 11

    Terry mengangkat kakinya, berniat mengikuti orang-orang keluar. Vivian segera menarik tangannya, lalu menggeleng dengan mata berkaca-kaca."Terry, jangan pergi. Hari ini adalah hari pernikahan kita, banyak teman dan keluarga yang hadir. Kalau kamu meninggalkanku, aku akan sangat malu."Terry menggenggam tangannya. "Aku cuma pergi sebentar untuk melihat. Candice selalu bersikap tenang, tapi hari ini dia bertindak seperti ini. Aku sangat khawatir.""Lalu gimana denganku? Kamu nggak khawatir padaku? Aku hampir mati!" Usai mengatakan itu, Vivian batuk sangat keras.Terry tidak memandangnya sedetik pun. "Maaf, aku harus pergi lihat."Jika Candice benar-benar menikah dengan orang lain, Terry pasti akan menyesal seumur hidup."Aku akan ikut denganmu!" Vivian turun dari panggung bersama Terry. Orang-orang di bawah panggung merasa bingung, pembawa acara juga terdiam tidak tahu harus berbuat apa.Ini adalah pernikahan yang seharusnya indah, tetapi pengantin pria dan wanita malah pergi bersamaan.

Latest chapter

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 27

    Setelah Candice pergi, pria itu perlahan-lahan keluar dari balik tiang. Hati Terry terasa hancur saat melihatnya pergi.Dia benar-benar mencintainya, benar-benar tidak bisa melupakan Candice. Namun, sekarang Candice membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi.Terry tidak ingin menyerah dan memutuskan untuk menunggunya kembali. Selama lebih dari sebulan ini, Terry banyak berubah.Pada akhirnya, Candice pulang. Terry segera pergi ke bandara, tetapi tidak menemukan dirinya. Sudah lebih dari sebulan mereka tidak bertemu, dia sangat merindukan Candice.Hal pertama yang dilakukan Candice setelah turun dari pesawat adalah pergi ke rumah sakit. Terry mendapat kabar dan langsung mengemudi ke rumah sakit. Ketika dia sampai, dia melihat Candice dan Gian baru saja keluar dari ruang dokter.Gian menggandeng tangan Candice dengan penuh kasih sayang. Kemudian, dia mengingatkan, "Dokter bilang kamu jangan makan es krim terlalu banyak lagi. Dengar, 'kan?""Sudah tahu! Cuma makan sedikit lebih b

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 26

    "Aku mau dia keluar dan ketemu aku! Aku mau dia pulang bersamaku!""Nggak mungkin." Gian mengeluarkan ponselnya. "Kalau kamu nggak pergi, aku lapor polisi.""Lapor saja! Lapor! Candice nggak akan biarkan aku masuk kantor polisi! Dia nggak akan tega!""Ya sudah, kita lihat saja."Gian langsung menelepon. Polisi pun menyeret Terry pergi. Terry masih berteriak memanggil nama Candice.Namun, Candice sama sekali tidak mendengarnya. Dia duduk di sofa bersama ibu Gian, menonton televisi. Mereka sedang asyik membahas drama cinta yang penuh konflik.Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Itu panggilan dari kantor polisi. "Bu Candice, apa kamu mengenal Tuan Terry? Dia sedang mabuk dan terus membuat keributan, tolong datang ke sini."Candice menatap Gian. Dia tahu Gian yang menelepon polisi. "Maaf, Pak, aku nggak kenal dia." Dengan ekspresi datar, dia menutup telepon dan melanjutkan obrolannya dengan ibu Gian.Di kantor polisi, Terry tidak percaya Candice bisa mengabaikannya. "Nggak mungkin, dia nggak mu

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 25

    Namun, Gian menahan dirinya dan berkemudi ke depan apotek. Tidak lama kemudian, dia keluar dari apotek dan kembali ke mobil. Setelah itu, dia melepaskan kaus kaki Candice.Candice menatapnya bingung. "Kamu ngapain?""Aku mau periksa kakimu. Kamu keseleo, 'kan? Kalau sampai bengkak, bisa jadi masalah.""Terima kasih."Melihat sikap lembut Gian, Candice merasa tersentuh. Tanpa pikir panjang, dia menunduk untuk mencium pipi Gian.Ciuman ringan seperti itu membuat wajah dan telinga Gian sontak merah. Dia selalu menggoda Candice, tetapi ketika dia yang dicium, dia malah merasa panik dan bingung.Melihatnya yang lucu seperti itu, Candice tertawa pelan. "Ternyata kamu bisa malu juga?""Siapa yang malu?" Gian mengurut pergelangan kaki Candice.Seketika, Candice merintih pelan. "Ah!"Gian langsung melepaskan tangannya dengan cepat. "Sakit?""Nggak."Candice menggeleng. Tiba-tiba, bayangan Terry muncul di benaknya. Dulu saat dia keseleo, Terry juga akan membeli minyak untuknya dan memijatnya.Sa

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 24

    Melihat pemandangan ini, Terry hampir meledak karena amarahnya. "Gian, lepaskan dia! Aku nggak akan izinin kamu menyentuhnya!"Terry menyerbu ke depan, berusaha memisahkan keduanya. Gian hanya menghindar sedikit. Terry kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh ke tanah. Dia berguling-guling sebelum akhirnya berhenti, penampilannya sangat memalukan.Orang-orang di sekitar menonton dan menghujat Terry."Mampus, dia sendiri yang melakukan kesalahan. Sekarang menyesal, tapi sudah terlambat.""Cinta yang datang terlambat itu nggak ada artinya! Waktu nggak bisa diputar kembali!"Gian menatapnya sambil tersenyum dingin. "Terry, aku peringatkan sekali lagi, jangan ganggu kami. Sekarang Candice istriku dan akan selalu menjadi istriku! Kamu nggak bisa merebutnya!"Terry berdiri dari tanah dengan susah payah. "Orang yang sudah nikah masih bisa cerai! Gian, jangan puas terlalu cepat! Candice mencintaiku!""Kamu nggak tahu, pernikahan militer itu dilindungi oleh hukum?" Gian berpikir sejenak. "

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 23

    Udara di arena pacuan kuda sangat segar, pemandangannya indah. Suasana hati Candice menjadi lebih baik."Kemari." Pria di kejauhan melambaikan tangan kepadanya, Candice merasa agak bingung. Setiap gerak-gerik pria tampan itu tampak sangat elegan.Gian mengenakan pakaian berkuda, menarik seekor kuda kecil. Senyuman di bibir membuat para gadis di sekitarnya tergila-gila. Mereka mengeluarkan ponsel dan mulai memotret Gian tanpa henti. Bahkan, ada yang mendekat untuk meminta nomor telepon.Candice mengernyit, ekspresinya langsung berubah menjadi kesal. Dia bergegas menghampiri, lalu mengambil ponsel orang itu dan memasukkan serangkaian angka."Nomornya.""Terima kasih!"Gadis itu senang sekali, seperti mendapat harta karun. Kemudian, dia pergi.Gian bertanya dengan penasaran, "Kamu benaran kasih dia?""Ya, aku kasih nomorku." Candice mengangkat alis. "Kenapa? Kamu mau kasih nomormu?""Hehe, kamu cemburu ya?"Gian tampak puas dengan reaksi Candice. Dia tersenyum penuh kasih sayang padanya,

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 22

    Saat terbangun, Vivian sudah dibawa ke bangsal biasa. Perutnya terasa kosong, anaknya sudah meninggalkannya. Terry mengutus seseorang untuk memberinya sebuah kartu bank."Di dalam kartu ini ada 10 miliar, Pak Terry yang meminta kami memberikannya kepadamu." Saat melihat kartu itu, hati Vivian terasa sangat dingin.Sepuluh miliar? Sebelumnya hanya 2 miliar. Setelah menggugurkan anak, nilai dirinya langsung melonjak."Pak Terry juga membelikan tiket pesawat, pesawatnya siang ini.""Siang ini?"Vivian tersenyum dingin, tidak menyangka Terry akan begitu membencinya. Dia baru selesai menjalani operasi, sementara Terry sudah ingin dia benar-benar menghilang dari hidupnya."Aku ingin bertemu dengannya.""Maaf, Pak Terry bilang nggak ingin bertemu denganmu." Usai berbicara, pria itu mengunci pintu bangsal. "Kami akan mengantarmu ke bandara nanti."Vivian hanya bisa memegang kartu itu, lalu tiba-tiba tergelak. Pada saat yang sama, air mata juga berlinang di wajahnya. "Aku nggak seharusnya kemba

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 21

    "Terry, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Anak dalam perutku ini adalah anakmu! Darah dagingmu sendiri! Kamu malah suruh aku menggugurkannya?"Terry menatap dengan wajah datar dan dingin seperti robot tanpa perasaan. "Dia belum bisa disebut anak. Usianya belum sampai sebulan, cuma sebuah sel." Sungguh kata-kata yang kejam."Sel?" Vivian tidak menyangka dia akan mengucapkan kata-kata sekejam itu. Dia menggeleng, lalu mundur selangkah demi selangkah. "Terry, itu anakmu, gimana bisa kamu bicara begitu?""Anak? Anak apa?"Saat ini, teman-teman Terry datang menemuinya. Begitu masuk dan melihat Vivian menangis sedih, mereka langsung paham situasinya. "Terry, kamu dan Vivian bahkan sudah punya anak?""Kalian tolong bantu aku." Vivian tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, jadi dia menarik salah satu tangan mereka dan langsung berlutut.Melihatnya seperti itu, semua orang terkejut. "Berdiri dulu, jangan berlutut di hadapanku seperti ini!""Terry ingin aku melakukan aborsi!" Vivi

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 20

    Setelah Candice pergi, Terry merasa hidupnya lebih buruk daripada kematian. Dia berusaha untuk turun dari tempat tidur, tetapi suster mencegahnya."Pak Terry, kamu belum sembuh. Sebaiknya tetap berbaring di tempat tidur.""Aku harus mencari Candice, aku harus mencari dia. Jangan hentikan aku!""Maksudmu gadis yang menemanimu semalam? Dia sudah pergi bersama suaminya, naik mobil."Kata-kata perawat itu membuat Terry sedikit tersadar. Suami? Suaminya? Candice sudah menikah, dia benar-benar menikah. Dia menikah dengan pria lain!Tidak, selama mereka belum mengambil akta nikah, mereka belum benar-benar menikah! Terry lantas membantah, "Dia bukan suaminya, aku suami Candice! Aku!"Emosinya sangat membara, membuat perawat tidak bisa berbuat banyak. Saat ini, Vivian masuk dengan terburu-buru. "Terry, aku hamil!"Seolah-olah tersambar petir, Terry mematung di tempat tidur. Dia menatap Vivian dengan tidak percaya, "Kamu bilang apa?""Aku hamil, aku hamil anak kita!" Vivian memeluk Terry dengan

  • Menjaga Jodoh Orang   Bab 19

    Begitu melihat Gian, wajah Terry langsung berubah menjadi suram. "Gian, ngapain kamu kemari?""Kamu nggak bisa lihat?" Gian menyilangkan kedua tangan di dada dan menatap pria di depannya dengan tatapan dingin."Kamu Terry, 'kan? Candice menolak semua lamaran dari Keluarga Jaufar karena kamu?""Candice menolak lamaran Keluarga Jaufar demi aku?"Rasa bersalah Terry semakin dalam. Dia selalu berpikir bahwa selama bertahun-tahun ini, tidak ada pria lain yang mendekati Candice. Dia mengira bahwa selain dirinya, tidak ada yang ingin menikahi Candice.Namun, dia tidak pernah menyadari bahwa Candice punya perjanjian pernikahan, bahkan pria itu lebih unggul darinya, yaitu seorang perwira militer.Saat ini, Terry baru sadar betapa besarnya kesalahan yang telah dia buat. Jika diberi kesempatan lagi, dia pasti tidak akan pernah setuju untuk menikahi Vivian."Sudahlah, karena kamu sudah sadar, aku dan istriku akan pulang untuk istirahat."Gian malas berbicara lebih banyak. Setelah melihat Candice k

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status