Di layar hanya ada satu kata dari Jose.[ Sibuk. ]Aura hanya bisa terdiam."Aura, nanti kamu dan Daffa pergi jalan-jalan saja." Begitu masuk mobil, Donna tersenyum sambil menarik tangan Aura dan berkata demikian.Aura mendongak, melihat ke arah pria yang sedang mengemudi di kursi depan, lalu menggigit bibirnya dan menyahut, "Malam ini aku ada janji untuk bahas kontrak, lain kali saja."Mendengar itu, tangan Daffa yang berada di atas setir mencengkeram lebih erat. Meskipun Aura tidak langsung menolak, maknanya tetap jelas. Dulu, Aura tidak berani menolaknya seperti ini.Memikirkan hal itu, wajah Daffa menjadi semakin muram. Tak lama kemudian, mereka tiba di vila Keluarga Santosa.Saat turun, Aura tetap berpamitan kepada Donna dengan sopan. Namun, dia tidak sekali pun memperhatikan ekspresi Daffa.Bagi Aura, pria yang berselingkuh tidak ada bedanya dengan anjing yang baru saja makan kotoran. Tidak ada alasan baginya untuk terus berurusan dengan Daffa.Di dalam mobil, Aura berpikir sejen
Meskipun demikian, Aura tetap mengangguk dengan sopan. "Ya.""Wah, kudengar kamu yang putusin dia?"Aura tersenyum tipis. "Sejak kapan kamu jadi suka bergosip?"Hari ini dia datang bukan untuk membahas masalahnya sendiri, tujuan utamanya adalah mendapat dukungan dari Jose.Proyek yang ditangani Jose bernilai miliaran. Jika berhasil menandatangani kontrak, perusahaan kecilnya bukan hanya akan aman, tetapi juga akan sangat membantu mereka dalam membuka pasar di masa mendatang.Efendi yang sangat memahami niatnya, segera maju untuk mencairkan suasana. "Giulio, tadi masih ada 3 gelas yang belum kamu habiskan, ayo, ayo ...."Sambil berbicara, Efendi berdiri dan menarik Giulio pergi, bahkan sempat mengedipkan mata pada Aura untuk meminta hadiah atas jasanya.Aura membalas dengan kedipan mata sebagai tanggapan, lalu membawa gelasnya dan mendekati Jose.Saat dia hendak membuka mulut, gadis di samping Jose tiba-tiba merangkul lengannya. "Pak Jose, aku kurang enak badan, bisa bantu pijat sebenta
Keramaian di sini tentu saja menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Sebelumnya, Aura selalu menjaga perasaan Daffa, jadi dia jarang minum bersama orang-orang ini.Banyak orang yang baru pertama kali melihatnya minum. Mereka pun mendekat sambil bercanda, "Wah, Aura benar-benar memberi kami kehormatan malam ini."Aura mengerlingkan matanya dalam hati. Demi kontrak senilai miliaran itu, dia tidak punya pilihan selain "memberi kehormatan".Dia meletakkan gelasnya dan tersenyum sambil menatap Jose. Namun, Jose tidak bereaksi. Aura pun kembali mengangkat gelas lain dan meneguknya dengan cepat. Gelas itu besar, sehingga sebagian minuman mengalir dari sudut bibirnya.Cairan berwarna cokelat itu menetes dari sudut bibirnya, turun ke dagu, lalu ke lehernya yang putih, hingga akhirnya menyusuri tulang selangkanya dan menghilang di lekukan dadanya.Saat ini, semua mata tertuju pada Aura. Tidak ada yang menyadari bagaimana jakun Jose bergerak sedikit saat dia menatapnya.Setelah beberapa gel
Jose menaikkan alisnya dan menatapnya. "Hm?"Aura berujar, "Kasih aku satu, terima kasih."Dia butuh sebatang rokok untuk menenangkan diri karena tubuhnya bergetar tak terkendali.Jose terdiam sejenak, menatapnya dengan penuh minat. Kemudian, dia berbalik ke mobilnya untuk mengambilkan sebatang rokok."Kamu nggak mau telepon ambulans dulu untuk Daffa?" tanya Jose.Aura tertegun sesaat, lalu menyalakan rokok dan mengisapnya untuk menenangkan diri. Setelah itu, dia baru mengeluarkan ponselnya dan menghubungi layanan darurat.Saat ambulans tiba, Jose sudah pergi lebih dulu. Sebelum pergi, dia meninggalkan cek senilai 1 miliar sebagai kompensasi.Setelah lebih tenang, Aura merasa mustahil Jose bisa tidak sengaja menabrak Daffa di tempat parkir yang begitu luas. Tidak ada kebetulan seperti itu di dunia ini.Namun, mengingat ekspresi tidak acuh Jose, kejadian itu memang terasa seperti sebuah kebetulan.Karena tidak ada jawaban, Aura pun tidak ingin memikirkannya lagi. Dia tetap membawa Daffa
Ghea mencengkeram ujung bajunya sambil berkata, "Ayah, jangan bicara seperti itu tentang Kak Aura ...."Aura tersenyum dan langsung menyela, "Kalau begitu, kamu bantu aku ambil ya. Terima kasih lho."Dengan santai, dia duduk di meja makan. Senyuman sopan masih menghiasi wajahnya. "Ayah, kata-katamu tadi salah. Ghea tinggal gratis di rumah ini. Seharusnya dia melakukan sesuatu agar merasa lebih berguna, 'kan?"Begitu ucapan itu dilontarkan, wajah Serra dan Ghea langsung berubah suram. Namun, Serra segera tersenyum pada Anrez. "Benar juga, Anrez. Yang dikatakan Aura itu ada benarnya."Wajah Anrez menjadi masam. Dia berbalik dan memelototi Aura. "Kalau kamu nggak mau makan, pergi saja!"Senyuman Aura justru semakin cerah. "Ini rumahku, kenapa aku nggak boleh makan? Masa iya semuanya harus diberikan kepada orang luar?"Ucapannya ini penuh makna. Kemudian, dia melirik ke arah Ghea yang masih berdiri diam. "Ghea, ayo duduk. Lihat, Ayah sampai marah begitu. Orang yang nggak tahu mungkin akan
Efendi yang mengirim pesan, mengatakan bahwa hari ini ada acara dan Jose juga akan hadir. Dia bertanya apakah Aura ingin datang. Aura langsung membalas.[ Tentu saja mau. ]Aura punya satu kelebihan sejak kecil, yaitu semakin dia terjatuh, semakin gigih dia bangkit. Selama Jose belum secara langsung mengatakan bahwa dia tidak ingin bekerja sama, Aura pun tidak akan menyerah.Efendi mengirimkan alamatnya. Aura melihatnya sekilas, lalu segera pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berdandan dengan cantik sebelum berangkat ke lokasi.Saat turun dengan membawa kontrak dan proposal, dia melihat Serra dan Ghea sedang berbisik di sofa. "Ibu, kalau Kak Daffa tetap bertunangan dengan Aura, aku harus gimana?"Serra mencibir. "Ada Ibu di sini, kamu takut apa? Kamu bukan ....""Hei, lain kali kalau mau diskusi tentang cara merebut barang orang, setidaknya cari tempat yang lebih tersembunyi. Aku mendengarnya lho, jadinya canggung, 'kan?"Aura turun sambil tersenyum puas melihat perubahan ekspresi mer
Saat menyadari tatapan Jose, Aura langsung teringat akan kekacauan malam itu. Wajahnya sontak terasa panas seperti terbakar.Namun, pria itu tetap menunjukkan sikap angkuh dan berkelas. Ekspresinya sedingin es, sepasang matanya sama sekali tidak menunjukkan hasrat, membuat orang tak punya alasan untuk memakinya.Aura hanya bisa berdeham pelan dan melanjutkan, "Keunggulan kami adalah meskipun perusahaan kami kecil, begitu kami mendapatkan kontrak ini, kami akan mendedikasikan seluruh perhatian dan tenaga kami pada proyekmu. Kami akan bekerja lebih serius dibandingkan perusahaan lain."Dia melirik Jose sekilas, tetapi ekspresi pria itu tetap tak tergoyahkan. Dalam hati, Aura memutar bola matanya dengan kesal, lalu menambahkan, "Selain itu, apa pun permintaan yang diajukan klien, kami akan berusaha memenuhi semaksimal mungkin!"Saat ini, wajah Jose baru menunjukkan sedikit perubahan. "Oh? Semua permintaan bisa dipenuhi?"Aura mengangguk tulus, tetapi tatapan Jose yang dalam membuatnya aga
Setelah beberapa saat, pintu kamar akhirnya terbuka dari dalam. Jose melihat Aura, tetapi tidak ada sedikit pun keterkejutan di matanya, seolah-olah dia sudah yakin Aura pasti akan datang.Jose sudah selesai mandi, hanya mengenakan jubah mandi putih dengan model kerah silang. Sabuk di pinggangnya juga tidak diikat terlalu erat. Jadi, Aura bisa melihat otot dadanya.Jose bertubuh tinggi besar. Biasanya, dia selalu mengenakan setelan yang dirancang khusus, yang membuat tubuhnya tampak ramping.Kenyataannya, dia memiliki tubuh yang berisi dengan otot yang terlatih. Mungkin karena dia sering berolahraga, otot dada dan otot perutnya bisa membuat siapa pun yang melihatnya terkesima.Jose menatapnya dengan ekspresi datar, lalu bertanya, "Sudah buat keputusan?"Aura menggigit bibirnya, menyerahkan kontrak. "Aku juga punya syarat. Uangnya harus masuk hari ini. Selain itu, aku cuma akan menemanimu selama sebulan dan ... semua ini harus dirahasiakan."Jose tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mele
Sudut bibir Aura menyunggingkan senyuman. "Hari ini nggak ada kegiatan, jadi aku mampir untuk lihat Daffa lagi ngapain."Begitu dia selesai bicara, Donna tampak sedikit tersendat. Aura tahu, kemungkinan besar Daffa memang belum pulang.Benar saja, Donna menariknya duduk di sofa dan berkata, "Tadi malam ada urusan kantor, ayahnya suruh dia lembur. Jadi sampai sekarang belum pulang. Kamu duduk dulu ya, biar aku telepon Daffa sebentar."Lembur?Yang disebut "lembur" itu kalau Daffa dan Ghea sedang "bekerja keras" di ranjang. Melihat Ghea juga tidak pulang semalam, sepertinya mereka cukup menikmati malamnya.Wajah Aura tetap tenang saat menampilkan sosok calon menantu yang manis dan lembut. "Nggak masalah, Ibu. Kalau Daffa memang sedang sibuk urusan kantor, nggak usah diganggu."Dia menoleh ke sekeliling, lalu berkata seolah tanpa maksud, "Kalau begitu, boleh aku menunggu di kamar Daffa saja?"Sejak kecil, Aura memang sering berkunjung ke rumah Keluarga Santosa, jadi dia sangat akrab denga
Aura menoleh dan melirik ke arah Ghea. Gadis itu mengangkat dagunya dengan sikap menantang, lalu berkata, "Kak, aku juga nggak ada kegiatan sore ini. Ayah minta aku menemani kalian belanja.""Nggak merasa terganggu, 'kan?"Aura menatapnya melalui kaca spion. Saat menangkap tatapan penuh rasa iri dari wajah Ghea, dia tersenyum sinis. "Tahu itu mengganggu tapi masih nekat ikut. Kulit wajahmu memang tebal."Ucapan Aura memang selalu blak-blakan mempermalukan seseorang. Ghea tercekat dan tidak bisa membalasnya.Aura kemudian mengangkat tangan untuk melihat kukunya yang baru saja dirapikan, lalu berkata, "Tapi kalau kamu memang mau ikut, ya silakan saja."Di sisi lain, Daffa sebenarnya tidak ingin Ghea ikut serta. Namun, karena Aura sudah bicara begitu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya, dia hanya diam dan mulai menyalakan mobil.Sepanjang perjalanan, Ghea duduk di kursi belakang sambil menatap Aura dengan penuh rasa dengki. Dia benar-benar iri.Terutama saat melihat Daffa yang
"Hari ini hari bahagiamu, adikmu bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap. Katanya nggak mau buat kamu malu." Serra menarik Aura maju, lalu berkata dengan ramah pada Donna, "Besan, mulai sekarang Aura kami serahkan padamu. Aku benar-benar tenang kalau dia ada di tanganmu."Nada bicaranya begitu akrab, seolah-olah sia benar-benar ibu kandung Aura. Donna tidak menanggapinya dan hanya menoleh ke arah lain.Sebagai sahabat dari mendiang ibu kandung Aura, Donna memang tidak pernah menyukai Serra sejak awal. Dalam situasi seperti ini pun, tidak langsung menyindir Serra saja sudah termasuk sangat berbaik hati.Melihat Serra agak canggung, Aura pun tersenyum dan menambahkan, "Ibu kandungku dan ibu Daffa itu sahabat dekat sejak dulu. Jadi ... kurasa Anda nggak usah khawatir."Aura sengaja menyebut ibunya, semata-mata untuk membuat Serra merasa tidak nyaman. Benar saja, ekspresi Serra langsung berubah. Senyum ramah yang tadi dibuat-buat nyaris tidak bisa dipertahankan.Saat itu pula, Daffa membuka pi
Ibu yang selalu lembut dalam ingatannya, tiba-tiba mengangkat kepala menatapnya dengan wajah penuh luka berdarah. Dia bertanya pada Aura, mengapa Aura mengakui musuhnya sebagai ibu.Aura tersentak dan terbangun dari tidurnya."Ah ...." Dia menghela napas pelan, lalu membuka mata dan mendapati Lulu sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Aura, kamu kenapa?"Aura terdiam sejenak. Kemudian, dia baru menyadari bahwa yang tadi itu hanyalah mimpi. Hanya saja, meskipun itu cuma mimpi, dadanya tetap terasa sesak."Kenapa kamu bisa ke sini?" tanyanya.Sambil menuangkan air panas ke dalam gelas, Lulu menjawab, "Tadi aku telepon kamu, yang angkat suster. Katanya kamu dirawat, jadi aku langsung datang."Aura hanya mengangguk dan menerima air dari Lulu. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Masalah aku dirawat ini, jangan beri tahu siapa pun."Lulu mengangkat alisnya sedikit. "Aku dengar dari suster, yang ngantar kamu ke sini adalah pria yang sangat tampan. Tapi sepertinya bukan Daffa, ya?
Mungkin tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih memalukan dari ini. Saat mereka hendak memasuki fase intim, menstruasi Aura datang tepat pada waktunya.Siklusnya memang tidak pernah teratur. Setiap kali datang bulan, rasa sakit di perut bagian bawahnya terasa seperti disayat pisau. Kali ini juga tidak terkecuali.Awalnya Jose mengira dia hanya berpura-pura. Namun, saat tangannya menyentuh kening Aura yang basah oleh keringat dingin, alisnya langsung berkerut."Ada apa?" tanyanya dingin.Padahal baru beberapa menit yang lalu dia masih memburu dan berusaha menaklukkan bak binatang buas. Namun kini, suaranya terdengar jernih dan tenang, sama sekali tidak menyisakan jejak emosi yang tadi sempat membara.Aura menggeliat kesakitan dan tubuhnya meringkuk. Perutnya terasa seperti sedang ditusuk-tusuk dari dalam. Namun di hadapan Jose, dia masih ingin menjaga sedikit harga dirinya.Dengan sisa tenaga yang dia kumpulkan, Aura berbisik, "Aku nggak apa-apa. Pulanglah."Suaranya sangat pelan, se
Jose sengaja menekankan kata "tunangan".Aura mengangkat alis menatapnya. "Pak Jose mau bilang apa?"Jose menyeringai dingin. Dia mematikan rokok di tangannya, lalu melangkah masuk tanpa izin dan mendesaknya. Aura terpaksa mundur dua langkah ke belakang.Rumahnya ini memang tidak besar. Lokasinya di pusat kota, kawasan premium, tapi luasnya tidak sampai 100 meter persegi. Begitu tubuh Jose yang tinggi dan tegap masuk, ruang itu langsung terasa sempit."Aku cuma mau bilang, kamu cukup berani juga."Jose menekan tubuhnya hingga Aura bersandar di dinding. "Bukannya kamu bilang sudah putus sama Daffa?"Aura menatapnya. Dari sudut ini, dia bisa melihat jelas garis rahang pria itu yang tajam. Wajahnya benar-benar terlalu tampan, kulitnya bahkan lebih mulus dari wanita mana pun. Saking mulusnya, Aura nyaris ingin bertanya produk perawatan kulit apa yang digunakannya.Menyadari Aura tidak fokus, Jose mengerutkan kening, lalu mencengkeram dagunya. "Jawab aku."Dalam hati, Aura mendecak. Kalau b
Baru berjalan beberapa langkah, ponsel Aura tiba-tiba berdering. Panggilan itu dari Daffa. Aura menjawab panggilan itu dengan kesal, lalu terdengar suara Daffa yang ragu-ragu, "Halo, Aura ... kamu ke mana?"Nada bicaranya terdengar sangat hati-hati, jelas karena dia sadar bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Aura berusaha menahan diri, lalu menjawab pelan, "Aku minum sedikit tadi, kepala agak pusing. Jadi aku pulang duluan.""Kalian lanjutkan saja acaranya. Selamat bersenang-senang."Daffa terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan ragu-ragu, "Aura ... kamu marah, ya?""Nggak." Aura menahan perasaan mual yang hampir menyelimuti seluruh tubuhnya. "Sampai ketemu besok. Bukannya besok keluarga kita sudah sepakat mau ketemu untuk membahas prosesi dan lokasi pertunangan?"Mendengar hal itu, Daffa tampak lebih tenang. "Baiklah ... hati-hati di jalan, ya."Aura tidak menjawab, melainkan langsung menutup panggilan begitu saja. Malam sudah cukup larut. Klub ini cukup eksklusi
Daffa menoleh ke sekeliling, lalu suaranya pun melembut. "Sudahlah ... kamu pulang dulu. Nanti kalau sempat, aku cari kamu lagi ...."Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Ghea tiba-tiba melangkah maju dan mencium bibir Daffa. Cahaya lampu taman di malam hari memang redup, tapi Aura tetap bisa melihat semuanya dengan jelas.Aura menggigit bibir bawahnya pelan. Melihat adegan ini lagi, tidak membuatnya marah seperti pertama kali. Yang ada hanya rasa geli.Ciuman itu berlangsung lebih dari satu menit sebelum akhirnya berhenti. Suara Daffa terdengar sedikit serak, "Ghea, kamu gila ya? Jangan seperti ini!""Aku memang gila. Aku takut setelah kamu bertunangan sama Kak Aura, kamu benar-benar akan meninggalkanku."Lalu, dia mulai memainkan drama panas dengan memeluk pinggang ramping Daffa sambil berkata, "Kak Daffa, aku nggak peduli sama status ataupun pandangan orang. Asalkan aku bisa tetap berada di sisimu, itu sudah cukup bagiku.""Tapi aku tahu, kalau aku terus berada di dekatmu, Kak
Aura memicingkan mata menatapnya. "Aku capek. Mau pulang dan istirahat."Begitu selesai bicara, dia langsung berbalik hendak pergi. Namun, Daffa kembali menahan lengannya. Pria itu menundukkan kepala, lalu mendekat ke telinganya dan berbisik, "Aura, anggap saja hargai aku, ya? Lagian kamu sudah sampai sini.""Kamu nggak mau aku jadi bahan tertawaan teman-temanku, 'kan?"Aura mendadak teringat sebuah peristiwa. Saat itu, dia sedang dinas luar kota. Di tengah malam, Daffa menelepon dan mengaku sedang sakit serta merindukannya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menyetir dua jam pulang hanya untuk menemui Daffa.Lalu, apa yang dia temukan?Daffa sedang berpesta dengan segerombolan teman laki-lakinya yang menyebalkan. Waktu itu, Daffa bilang apa?"Oh, aku cuma mau tunjukkan ke mereka seberapa besarnya pacarku mencintaiku."Sekarang jika dipikirkan kembali, Daffa bukan sedang menguji perasaan cinta Aura. Dia hanya ingin tahu sejauh mana Aura bisa merendah demi dirinya. Dan malam ini ... s