Ajeng tidur siang dengan sangat tidak nyenyak. Perkataan Dimas di mall tadi terus saja terngiang-ngiang di benaknya sampai-sampai terbawa ke alam mimpi.Dia membuka mata karena sudah tidak tahan lagi. Percakapan sebelum pulang ke rumah tadi membuatnya benar-benar gelisah."Ella itu nggak seperti yang kamu lihat. Dia rela menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, meskipun itu terlalu ekstrim dan nggak sepadan sama penyebabnya. Dulu, aku kaget waktu Ella lagi menemui aku dan membahas soal kebiasaan burukku selingkuh di belakang kamu, tiba-tiba aja Ansel datang.""Jadi kamu ngaku kalau kamu memang suka selingkuh sejak kita menikah dulu?""Lebih tepatnya sebelum aku mengenal kamu, yang notabene sengaja dikenalkan sama Ella ke kamu demi menjalankan misinya, aku emang udah terbiasa gonta-ganti perempuan. Maafkan aku, Jeng. Aku bersumpah selalu pake pengaman setiap kali berhubungan sama kamu, jadi kamu nggak perlu khawatir. Kecuali pas malam pertama kita.""Kamu memang bajingan, Dim
Perasaan Evan tidak tenang setelah meeting terakhir selesai. Dia bahkan meminta Siska untuk membatalkan makan malam dengan rekan bisnis dari perusahaan makanan ringan. Lagipula dia tidak terlalu suka dengan sekretaris perusahaan itu yang menurutnya genit dan tidak profesional.Evan tidak akan segan-segan untuk memutuskan hubungan kerja sama mereka jika sampai sekretaris itu berbuat ulah. Moodnya tidak sedang dalam kondisi bisa diajak bercanda setelah mendengarkan saran dari Jack Reeves tadi."Pak, sekretaris dari PT Goodfood sedang ada di lobby," lapor Siska melalui telepon.Dia langsung berdecak. Sudah dia duga perempuan itu tidak profesional. Hanya gara-gara mereka pernah dekat semasa SMA dulu, wanita itu mengira bahwa mereka masih bisa mengulang masa lalu. Padahal, Evan dulu dekat dengan perempuan itu karena terpaksa. Guru mengharuskan mereka untuk berada dalam satu kelompok."Suruh satpam untuk mengusir dia. Kalau dia memberontak, bilang saja kalau aku akan membatalkan kerjasama d
"Cerita pelan-pelan ya. Kamu tahu dari mana? Terus maksudnya dilecehkan itu yang bagaimana?" tanya Evan sambil menguraikan pelukannya.Tangannya merangkum wajah sang istri yang memerah dan berlinang air mata."Kendalikan emosimu, oke. Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan. Ingat dengan calon bayi kita. Dia juga akan merasakan emosi yang kamu rasakan."Ajeng menurut. Wanita itu mengikuti apa yang Evan perintahkan beberapa kali, barulah sekarang kondisinya sudah membaik. "Mas, kamu beneran cinta sama aku kan? Nggak cuma mencari pelampiasan atau sekedar penasaran aja, kan?" tanya Ajeng dengan wajah yang terlihat sendu.Ditanyai seperti itu, tentu saja membuat Evan kaget. Kenapa istrinya bisa berpikiran seperti itu? Siapa yang menghasutnya? Nancy? Seingatnya wanita itu belum tahu siapa istrinya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Memikirkan kemungkinan orang yang ingin menghasut istrinya."Kamu ini ngomong apa? Udah aku bilang kan dulu, aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali meli
"Polanya mirip dengan yang terjadi di negara kita," komentar Jack setelah selesai membaca draft novel milik Ella."Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Jennifer selama ini juga menjadi korban. Kenapa mereka tidak ada yang speak up?" tanya Elena heran."Alea, Trance, Kyle Johnson, bahkan Victoria Miller mati di tangan mereka. Pengecualian untuk Victoria, artis-artis yang lain meninggal setelah mereka speak up. Kau tentu tidak akan percaya begitu saja mereka tiba-tiba saja overdosis padahal tidak mengkonsumsi narkoba, kan?" Bradley Smith, bodyguard Elena, menjelaskan.Elena mendesah, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Kenapa Jennifer harus mengikuti after party pesta itu juga?"Nathan mendengkus. "Dia tidak punya talenta sama sekali. Kau pikir bagaimana caranya meraih popularitas selain dengan cara itu?"Percakapan mereka terhenti ketika nyonya rumah datang bersama pembantu rumah tangga yang sedang membawa empat cangkir kopi dan camilan."Ah, kopi asli Indonesia. Aku bena
"Tunggu sebentar, Mas. Saya tanya Non Rita dulu, mau menemui tamu atau tidak," ucap seorang wanita paruh baya yang Sander tebak adalah ART di rumah mewah itu."Bilang saja saya hanya ingin bertanya, tidak ada maksud apa-apa. Ini berkaitan dengan Ansel dan adik saya. Oh iya, bilang saja nama saya Sander," ujarnya.Wanita itu mengangguk, setelah itu berlalu dari ruang tamu.Cukup lama Sander menunggu, bahkan sampai dia selesai menerima telepon dari mandor di lapangan terkait pembangunan supermarket, tetap saja Rita belum juga muncul."Ck! Mau nyari info aja gini amat," gumamnya sambil berdiri lalu keluar dari rumah itu.Kalau saja tidak membahayakan keselamatan adiknya, dia sebenarnya malas datang ke sini. Apalagi membayangkan wajah songong Rita yang memuakkan, membuatnya semakin enggan."Sepuluh menit lagi deh. Kalau nggak muncul juga, cabut ajalah." Dia mengambil sebatang rokok dari saku celananya dan menyalakannya. Dia membutuhkan ketenangan setelah semua yang terjadi akhir-akhir ini
"Kamu yang serius kalau ngomong. Ngapain malem-malem begini ke hutan? Kamu nggak lagi menjebak aku, kan?" tanya Sander curiga.Meskipun begitu, dia tetap melajukan mobilnya sesuai dengan arahan dari Rita."Orang normal pasti nggak akan mengajak pria asing pergi ke hutan malam-malam begini. Tapi sayangnya aku udah nggak normal lagi," ucap Rita. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah jendela, fokus melihat pemandangan di luar mobil.Sander jadi merasa tak enak. Dia terdengar seperti sedang menuduh wanita itu."Maaf, aku nggak bermaksud apa-apa. Cuma, melihat kelakuan kamu di kantor CV waktu itu...""Percaya nggak kalau kubilang aku disuruh oleh Ansel? Bukan, lebih tepatnya dipaksa?"Sander menatap Rita sekilas sebelum kembali fokus ke depan."Kalau aku belum tahu kelakuan Ansel sih, udah jelas aku nggak akan percaya. Kamu kelihatan sangat menyukai Ansel dan cemburumu begitu besar waktu melihat Ajeng dekat sama dia."Rita terkekeh sinis."Percayalah, aku sebenarnya juga nggak mau bertin
Sander bukanlah pria yang naif, yang tidak pernah pergi ke klub malam dan mencoba sedikit saja maksiat di usianya yang masih remaja dulu, meskipun tidak sampai kebablasan melakukan seks bebas dan memakai narkoba.Dia tahu bagaimana kehidupan malam yang liar. Dari yang masih kategori normal sampai yang menjijikkan, dia sudah melihatnya. Tapi, yang dia lihat saat ini benar-benar berada di level yang lain.Hampir saja mulutnya mengumpat kalau saja tangannya tidak disenggol. Dia menoleh untuk mendapati Rita yang tengah melotot memberinya peringatan. Mulutnya langsung terkunci rapat, jempolnya terangkat, lalu dia kembali melihat pemandangan liar di dalam rumah itu.Ada beberapa gadis dan dua laki-laki muda dengan kondisi telanjang bulat yang diletakkan di atas meja panjang, dikelilingi oleh banyak sekali orang yang tengah mabuk sambil berjoget. Namun, ada beberapa yang masih sadar, salah satunya pria bule berambut pirang yang Sander yakini adalah David Foster.Para korban yang berada di at
"Bisa tolong jelaskan dengan lebih detail maksud rencananya gimana?" tanya Ajeng dengan wajah menuntut."Nggak! Aku tetap nggak mengijinkan kamu untuk mengikuti rencana itu." Evan menatap Jack dengan wajah tegas. "Aku punya hak untuk menolak. Istriku sedang hamil. Nggak mungkin aku mengorbankan istri dan calon anakku untuk masuk ke sarang bajingan kayak mereka. Lebih baik aku menyembunyikan dia sejauh mungkin. Kalian sudah nggak waras?""Mas?" Ajeng bingung kenapa suaminya bisa meledak-ledak seperti itu sampai berdiri dengan kedua tangan terkepal.Dahlia dan Albert bahkan mendekat karena suara bentakan Evan begitu keras."Ada apa ini?" tanya Albert dengan kening berkerut."Eh, nggak ada apa-apa kok, Pi. Mas Evan cuma lagi emosi aja karena masalah pekerjaan," jawab Ajeng dengan cepat sambil menarik tangan suaminya agar kembali duduk.Untungnya Evan mampu menahan amarahnya dan menuruti Ajeng untuk kembali duduk."Pekerjaan mana yang masih membuat kamu kesulitan? Bilang sama papa. Besok
H-1 sebelum pesta dilaksanakan di sebuah kapal pesiar mewah, Siska mengetuk pintu kamar Ajeng untuk menanyakan tentang kepastian acara besok. Dia lupa pesta diadakan jam berapa, karena betapa banyaknya pekerjaan di kantor yang harus dia selesaikan sebelum akhirnya naik ke kapal pesiar demi menghadiri pesta pernikahan sang sahabat."Jeng, kamu lagi sibuk nggak?" teriaknya setelah mengetuk pintu beberapa kali.Dia tadi melihat Evan bersama Dana sedang bercengkerama dengan bos besar dan nyonya besar Braun, jadi dia pikir Ajeng mungkin sedang berada di kamar untuk mempersiapkan segala sesuatu."Jeng?"Tidak ada jawaban. Dia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci."Aku buka ya. Maaf kalau aku mengganggu," ucapnya sambil tersenyum. Tidak sabar untuk bergosip ria dengan Ajeng. "Besok pestanya jam bera...pa..."Siska langsung menganga dengan mata membelalak ketika melihat tubuh yang hanya dibalut dengan handuk di bagian bawah pinggul. Dia terengah kaget dan hal itu membuat sang pemilik
Siska menatap mantan calon mertuanya tak percaya sekaligus geram. Padahal selama dia menjalin hubungan dengan Bayu, wanita itu begitu baik padanya. "Apa selama ini Tante hanya berpura-pura baik di depan saya? Kalau memang Bayu sudah bertunangan sejak kuliah, kenapa Tante menerima saya sebagai calon menantu?" tuntutnya.Ibu Bayu langsung gelagapan ketika Meliana mengerutkan kening, lalu menatap wanita itu curiga."Eh, ng-nggak kok Mel. Nggak usah percaya sama dia. Mama nggak kenal siapa dia. Bayu selalu setia sama kamu kok," kata ibu Bayu cepat-cepat.Hati Siska sakit sekali mendengarnya. Seandainya saja pernikahan itu sudah terlanjur terjadi, apakah dia akan ditindas oleh wanita itu? Dia jadi teringat dengan nasib Ajeng ketika menikah dengan Dimas. "Ck, ternyata memang bener ya. Orang jahat itu manipulatif dan pinter berpura-pura. Untung saya nggak jadi menikah sama Bayu. Nggak kebayang saya menjadi perempuan yang dibodohi oleh suami dan keluarganya."Siska beralih menatap Meliana.
Siska terus menangis entah sudah berapa lama. Dadanya sesak sekali dan rasanya dia ingin menghilang dari dunia ini. Cintanya pada Bayu begitu besar. Dia sudah menyerahkan seluruh hatinya pada pria itu karena berpikir bahwa Bayu adalah belahan jiwanya."Kenapa pria yang terlihat baik dan setia seperti Bayu ternyata bajingan?" tanyanya setelah tangisnya reda, namun masih sesenggukan."Biasanya kan memang begitu," jawab Raka dengan santai.Siska langsung melotot pada pria yang telah bertahun-tahun menjadi rekan kerjanya menjadi orang kepercayaan Evan. Raka langsung mengangkat kedua tangannya."Biasanya memang begitu. Pria yang terlihat kalem dan nggak neko-neko tuh justru menyimpan banyak rahasia. Coba lihat Mr. Evan. Dia itu dingin, kelihatan nggak peduli sama perempuan. Eh tahu-tahu istrinya dua kan? Tapi kasusnya kan beda. Diam-diam dia bucin akut sama Ajeng."Siska menyeka air mata di wajahnya, tak peduli dengan make-up yang ikut luntur."Rasanya sakit banget, Ka. Kenapa aku nggak ja
"Semua dokumen sudah lengkap?""Sudah, Mr.," jawab Siska dengan antusias. Jantungnya berdegup kencang karena sebentar lagi akan bertemu dengan tunangannya. Kesibukannya sebagai sekretaris CEO di perusahaan multinasional membuatnya begitu sibuk dan sering pulang malam, sehingga waktu untuk bertemu dengan tunangannya sangat sedikit."Semangat banget yang mau ketemu tunangan," goda Raka ketika mereka sampai di lobi perusahaan.Siska hanya tersenyum, namun debar dalam dadanya semakin kencang. Padahal mereka sebentar lagi menikah, tapi Siska merasa seperti baru saja jadian dengan sang tunangan.Mereka masuk ke dalam mobil dinas khusus CEO yang disediakan oleh perusahaan. Mobil mewah keluaran terbaru yang anti peluru, karena keselamatan Evan Braun sangatlah penting."Gimana liburannya di Malang, Pak?" tanya Raka membuka percakapan sambil fokus melihat jalanan di depannya."Menyenangkan. Istri saya pintar memilih tempat liburan yang bagus," jawab Evan sambil tersenyum.Siska yang duduk di s
Dari sekian banyak orang yang mengenalnya, kenapa justru wanita itu yang datang menjenguknya? Bahkan orangtuanya sudah tidak peduli lagi, apalagi kekasihnya."Maaf ya baru bisa menjenguk kamu. Nih, aku bawain makanan kesukaan kamu," kata Ajeng sambil tersenyum."Kenapa?"Wanita itu mendongak. Gerakan tangannya meletakkan dua kotak makanan dan satu gelas minuman terhenti."Aku pengen bawain kamu makanan yang enak. Nggak aku kasih racun kok, udah diperiksa juga sama petugas," jawab Ajeng."Kenapa kamu mau repot-repot datang?" jelasnya.Ajeng menghela nafas panjang. Wanita itu terlihat lebih bercahaya dan tetap awet muda, persis seperti ketika dia pertama kali dikenalkan pada wanita itu oleh Ella dulu.Hanya Ajeng yang tidak pernah mengusiknya, meskipun tahu bahwa dia membawa pengaruh buruk pada sahabat wanita itu. Jadi ketika Ella ikut terjerumus ke dalam sekte sesat demi bisa menghancurkan Ajeng, Johan tidak mendukung Ella sama sekali.Baginya, Ajeng itu seperti kertas putih yang sayan
"Kamu juga harus mati, Johan. Enak saja kamu masih hidup dengan tenang, sedangkan aku harus menjadi bulan-bulanan mereka."Johan membelalak ketika melihat Nadia mendekatinya dengan pakaian yang sama seperti terakhir kali dia melihat wanita itu. Rambut panjang Nadia acak-acakan. Perut wanita itu berlubang dan mengeluarkan banyak darah. Lalu di tangan kanan wanita itu....Janin merah yang tiba-tiba saja melihat ke arahnya dengan mata melotot. Bibir janin itu tertarik membentuk senyuman dengan gigi-gigi runcing yang terlihat tajam."Ayah."Johan menjerit ketakutan. Dia langsung berlari dengan sekuat tenaga. Nadia sudah mati, dia yakin itu. Dia sendiri yang mengatakan pada Ansel di mana keberadaan Nadia sebelum kabur ke Australia. Belum jauh dia berlari, kakinya tersandung. Membuatnya jatuh dengan keras. Dua orang berjubah hitam dan bertudung menarik tangannya dan memaksanya untuk berdiri. "Nggak! Nggak lepasin aku! Aku udah bukan bagian dari kalian lagi!""Siapapun yang menjadi pengkhi
Pesta pernikahan Ajeng dan Evan diadakan di kapal pesiar yang mewah. Seluruh karyawan Deca di kantor pusat dan karyawan Ajeng di Otten Supermarket turut hadir dalam pesta.Banyak yang takjub dengan pesta mereka, apalagi Evan benar-benar maksimal dalam menjamu tamu. Mereka semua menikmati makanan mewah dan mahal yang biasanya hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas."Ternyata Mr. Evan lebih bahagia bersama Ajeng ya," ucap salah satu karyawan Deca yang dulu satu divisi dengan Ajeng."Iya bener. Waktu sama Bu Ella dulu, dia nggak pernah tersenyum. Kaku banget kayak kanebo kering. Pestanya juga biasa aja nggak semewah ini," sahut yang lain."Pantesan Bu Marta langsung dipecat dan dijebloskan ke penjara begitu mencelakai Ajeng. Secinta itu orangnya sama Ajeng. Lihat aja deh, senyumnya nggak pernah luntur tuh. Benar-benar bucin akut.""Aku sih mendukung Ajeng. Dia emang baik orangnya. Bahkan meskipun sekarang udah menjadi istri konglomerat, dia nggak pernah lupa sama kita-kita.""Eh iya ben
"Sudah tahu punya anak bayi, kenapa malah nggak pulang-pulang? Lihat nih, Dana sampai nangis ngejer kayak gini. Mbok ya diajak kalau jalan-jalan. Benar-benar nggak kasihan sama anak," omel Sekar begitu Ajeng dan Evan baru pulang setelah Maghrib.Ajeng langsung meraih Dana yang menangis sesenggukan sampai suaranya serak dan buru-buru menepuk-nepuk punggung bayi itu."Cup...cup...maaf ya mama baru pulang. Dana nyariin mama ya?" ucapnya dengan wajah bersalah.Dia langsung duduk di depan televisi dan menyusui bayi itu yang langsung diam. Perasaan bersalah kembali menyerangnya. Seharusnya mereka mengajak Dana. Siapa yang tahu bahwa anak itu mencari-carinya, padahal tadi Dana kelihatan senang ketika diajak oleh neneknya."Kalian ini kalau masih punya anak bayi, jangan sering ditinggal. Dia masih butuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Bayi itu peka. Jangan sampai dia merasa diabaikan," omel Sekar lagi.Kalau biasanya Ajeng menjawab, maka kali ini dia hanya diam saja. Dia jarang m
"Sudah?" Evan langsung berdiri begitu melihat Ajeng keluar dari ruang kunjungan. "Kenapa kamu kelihatan sedih?"Ajeng hanya tersenyum tipis. Mendadak dia merasa energinya tersedot habis setelah melihat kondisi Ansel. Bagaimanapun juga, pria itu adalah adik sepupunya. Dulu, sebelum dia mengenal Ella, dia dan Ansel sudah seperti adik kakak. Mereka begitu akrab dan hangat, sampai-sampai Ajeng tidak sadar bahwa timbul rasa lain di hati Ansel.Secara agama, memang Ansel itu bukanlah mahramnya. Jadi ketika pria itu menaruh hati padanya, tidak ada yang salah, karena memang mereka halal untuk menikah. Tapi tetap saja, Ajeng merasa itu saru (tidak pantas)."Kita ke Selecta ya, Mas. Aku pengen ngadem. Pikiranku suntuk banget," pinta Ajeng sambil menggandeng lengan suaminya.Dana dititipkan ke kakek dan neneknya, dan tentu saja Sekar sangat senang sekali. Apalagi Dana tipe bayi yang tidak gampang rewel. Kecuali jika anak itu tidak suka pada seseorang yang juga tidak menyukainya. "Siap. Mas jug