Share

Membagi Cokelat

Penulis: NHOVIE EN
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-30 20:17:51

Setelah menikmati perbincangan hangat dengan Bu Mirna di ruang tamu panti, Rania berdiri dari duduknya dan mengambil amplop cokelat yang sudah ia siapkan. Di bagian sudut amplop, tertera logo salah satu bank swasta terkenal di Indonesia. Dengan senyum tulus, ia menyerahkannya kepada Bu Mirna.

“Bu Mirna, ini sedikit bantuan dari saya. Saya harap ini bisa membantu operasional panti,” ujar Rania dengan nada lembut.

Bu Mirna menerima amplop itu dengan kedua tangan, wajahnya penuh rasa syukur. “Terima kasih, Rania. Kamu tidak tahu betapa berharganya ini untuk kami. Tuhan pasti memberkati setiap langkahmu.”

Rania tersenyum dan melanjutkan, “Tidak hanya itu, Bu. Saya juga sudah membawa beberapa barang yang mungkin bisa bermanfaat untuk anak-anak di sini.”

Rania melirik ke arah sopirnya yang berdiri di dekat pintu. “Pak Seno, tolong ambil barang-barang di bagasi mobil, ya.”

Sopir itu mengangguk dan segera menuju mobil, diikuti oleh salah satu staf panti. Tak lama kemudian, mereka kembali deng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
wieanton
Madrasah pertama anak itu adalah ortu terutama ibu, jd apapun yg di lakukan sang ibu pasti akan di ikutin oleh anak,. makanya kita sebagai ortu dituntut hrs hati2 dlm berucap dan bertingkah laku di depan anak.
goodnovel comment avatar
wieanton
gumuuzz amat sm bintang ih, ceriwis tp pinter. malam apes rania ditiduri Bastian menghasilan bintang yg imut penuh cahaya kerlap Kerlip bikin hidup Rania bercahaya, ya kdng di balik kejadian ada kebahagiaan.
goodnovel comment avatar
Ari Ati
semoga semua perbuatan baik mu mendapatkan balasan dari yg maha Kuasa rania
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Tidak Mendapat Dukungan

    Matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat ketika Maya tiba di depan rumah orang tuanya. Ia memarkirkan mobilnya dengan asal, menandakan pikirannya sedang kacau. Rumah itu tampak megah dari luar, namun suasana di dalamnya sedang jauh dari kata harmonis.Maya keluar dari mobil dengan langkah gontai, membetulkan tasnya yang tergantung di bahu. Belum sempat ia mengetuk pintu, sang ibu, Ami, membukanya lebih dulu.“Maya?” panggil Ami dengan nada datar, meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang coba ia sembunyikan.“Mami...” Maya memeluk ibunya tanpa bicara banyak. Pelukan itu lebih seperti pencarian pelampiasan emosi yang tertahan.Ami membalas pelukan itu sejenak sebelum berkata, “Masuklah. Papi ada di dalam.”Di ruang tamu, Gery duduk di sofa dengan koran terlipat di pangkuannya. Ia menatap putrinya dengan tatapan yang sulit ditebak—antara cemas, marah, dan kecewa.“Ada apa datang ke sini sore-sore?” tanya Gery, nadanya kaku.Maya duduk di sofa berhadapan dengannya. Ami menyusul, dud

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kembali Terjebak

    Malam itu, Maya melangkah masuk ke rumah dengan wajah lelah dan pikiran kusut. Namun, pandangannya langsung tertuju pada sosok Bastian yang duduk di ruang tamu. Botol wine dan gelas sloki di hadapannya memberi kesan bahwa pria itu sedang menikmati malam dengan cara yang tidak biasa.Sudah cukup lama Bastian tidak menikmati minuman beralkohol dan entah kenapa, malam ini pria itu tampak sangat menikmatinya.Maya mencoba mengabaikan Bastian dan melangkah menuju tangga untuk naik ke kamarnya, namun suara tegas Bastian menghentikan langkahnya.“Maya,” ucap Bastian, tegas.Langkah Maya terhenti. Ia menoleh dengan wajah datar, berusaha menutupi rasa gugup yang mulai menyergap. Tatapan Bastian yang tajam menusuknya.“Duduk di sini,” ujar Bastian, sembari menunjuk kursi di hadapannya.Maya menghela napas panjang, namun ia melangkah mendekat dan duduk dengan enggan di kursi yang ditunjuk.Bastian menuangkan sedikit wine ke gelasnya sebelum berbicara. “Jadi, mau menjelaskan kenapa kamu tidak men

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Senyum Tipis Rania

    Malam itu, ruang kerja di rumah Bastian dipenuhi keheningan. Lampu gantung yang tergantung rendah memancarkan cahaya hangat, menerangi meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan dokumen dan laptop yang masih menyala. Bastian tengah memeriksa laporan keuangan sambil sesekali meminum kopi yang mulai dingin.Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel memecah kesunyian. Bastian mengambil ponsel di sudut meja dan melihat nama pengirimnya, Adrian. Jantungnya berdegup lebih cepat. Adrian adalah agen rahasia yang selama ini ia percayai untuk mengawasi gerak-gerik Maya.Pesan yang diterimanya singkat, namun jelas: “Maya bertemu seseorang malam ini. Saya kirimkan foto berikut detailnya.”Bastian membuka lampiran foto yang dikirim Adrian. Ia mengernyit. Wajah pria dalam foto itu sangat familiar. Itu adalah pria yang fotonya pernah dikirimkan oleh Rania beberapa waktu lalu. Pria yang selama ini terlihat bersama Maya.Bastian menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ia segera mengetik balasan. “Adrian

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kabar Bahagia

    Pagi itu, suasana di ruang makan rumah Bastian terasa dingin seperti biasanya. Walau sinar matahari masuk melalui jendela besar, memberikan kehangatan pada ruang makan yang megah, atmosfer di antara dua orang di sana tetap beku.Bastian duduk dengan tegap di kursinya, mengenakan kemeja biru muda yang rapi. Matanya terlihat lelah, tetapi tatapannya tetap tajam. Di depannya, Maya sedang menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri. Wajahnya terlihat sedikit pucat, tetapi ia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman kecil yang terpaksa.“Bagaimana tidurmu, Tian?” tanya Maya mencoba memulai percakapan. Suaranya terdengar lembut, penuh harap agar suasana membaik.Bastian hanya menoleh sekilas tanpa menjawab. Ia mengambil roti panggang dari piring, mengoleskan selai dengan gerakan pelan namun pasti.Maya menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. “Aku sengaja bangun lebih awal hari ini untuk menyiapkan sarapan bersama Mbok Sari. Aku pikir mungkin kamu akan menyukai menu kesukaanmu.”Basti

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Keputusan Boby Dan Rania

    Ruang rapat di lantai atas gedung megah milik perusahaan Bastian dipenuhi suasana formal dan sedikit tegang. Suara gemerincing alat makan dari pantry terdengar samar, tapi tidak cukup untuk mencairkan atmosfer yang kaku di ruangan itu. Bastian duduk di kursi utamanya, mengenakan setelan jas hitam yang dipadukan dengan dasi biru gelap. Sorot matanya tajam, memindai setiap wajah di ruangan dengan penuh perhitungan.Di seberangnya, Rania duduk bersama sang ayah, Boby, pengacara keluarga mereka, dan beberapa anggota timnya. Rania, seperti biasa, tampil anggun dan memikat. Gaun krem dengan potongan sederhana yang elegan membalut tubuhnya, melengkapi riasan wajah yang sempurna. Rambutnya disanggul rendah, memberi kesan profesional namun tetap feminin.Saat Bastian berbicara dengan sekretarisnya di awal pertemuan, beberapa pegawai di ruangan itu tidak bisa menahan diri untuk mencuri pandang ke arah Rania. Pesonanya seolah menciptakan medan magnet yang sulit diabaikan. Namun, Rania tetap tena

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Malam di Restoran Mewah

    Restoran mewah di pusat Jakarta itu memancarkan aura eksklusif yang sempurna. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya lembut ke meja-meja yang tertata rapi. Musik klasik mengalun pelan, menciptakan suasana elegan yang cocok untuk percakapan serius namun tetap intim.Di salah satu sudut restoran, Bastian sudah menunggu. Setelan jas abu-abu gelap yang ia kenakan tampak sempurna membingkai tubuhnya yang tinggi dan tegap. Kemeja putihnya bersih tanpa cela, dan dasi tipis hitam yang terikat rapi menambah kesan formal sekaligus memikat. Rambutnya yang disisir ke belakang mempertegas rahangnya yang tegas, sementara jam tangan mewah di pergelangan kirinya menjadi aksesori sederhana namun menunjukkan statusnya. Aura ketampanannya begitu mencolok hingga beberapa pelayan wanita tak bisa menahan diri untuk mencuri pandang.Saat pintu restoran terbuka, Bastian menoleh, dan napasnya seolah terhenti sesaat. Rania baru saja melangkah masuk. Gaun hitam elegan dengan potong

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Membongkar Rahasia

    Malam telah larut saat Bastian akhirnya tiba di rumahnya. Udara malam yang lembap membuat suasana semakin sepi. Namun, di depan pintu, Maya sudah berdiri dengan wajah penuh amarah. Kedua lengannya bersilang di dada, sementara tatapan matanya tajam menembus Bastian yang baru saja melangkah masuk.“Bastian,” panggilnya dingin, nyaris seperti bisikan marah.Namun, Bastian tidak menanggapi. Ia melepas jasnya dengan santai, menggantungnya di gantungan dekat pintu, lalu melangkah ke arah kamarnya di lantai satu. Langkahnya tenang, bahkan nyaris seperti mengabaikan keberadaan Maya.“Bastian!” suara Maya meninggi. Ia melangkah cepat, meraih pergelangan tangan suaminya sebelum pria itu sempat menghilang lebih jauh. “Aku mau bicara!”Bastian berhenti, namun tidak menoleh. Dengan perlahan, ia melepaskan genggaman Maya dari lengannya. “Apa yang mau kau bicarakan?” tanyanya datar, tanpa emosi.Maya semakin geram. “Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu apa yang kumaksud.”“Aku tidak punya waktu untuk te

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-09
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kejujuran Bastian

    Di ruang pribadinya yang luas dan elegan, Bastian tengah asyik berbincang dengan tamu penting. Aroma kopi yang hangat menyebar di udara, bercampur dengan suara dentingan gelas dan tawa formal yang sesekali terdengar. Namun, fokus Bastian mendadak terganggu oleh getar telepon di saku jasnya. Ia mengangkat alis ketika melihat nama yang tertera di layar—Papi.“Permisi sebentar,” ujar Bastian dengan nada sopan kepada tamunya. Ia mengangkat telepon, mencoba untuk tidak terdengar tergesa.“Ya, Papi?” sapanya sambil berdiri dan berjalan menjauh dari meja.“Bastian,” suara Prakas terdengar tegas dari seberang. “Papi dan Mami perlu bicara denganmu, sekarang.”Bastian menautkan alis. Nada suara Prakas mengisyaratkan sesuatu yang serius. “Sekarang, Papi? Aku sedang menerima tamu penting di kantor. Mungkin bisa satu jam lagi?”Terdengar helaan napas berat dari Prakas sebelum menjawab. “Baiklah, satu jam lagi. Tapi jangan tunda lebih lama dari itu.”“Baik, Papi,” jawab Bastian, meski pikirannya mu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-11

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Berpisah

    “Selamat pagi, Bintang…” Dengan senyum merekah, Nora dan Prakas datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar. Mereka sengaja memesan buket khusus untuk cucu mereka yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik.“Terima kasih, Oma,” balas Bintang.“Bintang sekarang sudah segar ya, sudah ganteng. Hari ini, kita akan pulang ke rumah. Tapi oma sedih deh, karena nggak akan bisa bebas lagi bertemu dengan Bintang.” Nora sedikit cemberut. Namun manyun itu malah membuat Bintang tertawa.“Siapa bilang jeng Nora dan mas Prakas tidak bisa bebas datang ke rumah. Kalian bisa datang kapan pun untuk bertemu dengan Bintang. Selama di rumah sakit, kami sadar kalau ikatan darah tidak dapat dipisahkan begitu saja,” ucap Rita.“Iya, Tante. Tante dan om boleh kok datang kapan saja dan bertemu dengan Bintang.” Rania menggenggam lembut tangan kanan Nora.Nora tersenyum lembut. Ia belai pipi Rania sekali, lalu ia pun kembali mengalihkan pandangan ke arah Bintang. “Terima kasih, Rania. Kamu memang sangat baik

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Patah Hati

    Setelah beberapa jam berada di ruang observasi pascaoperasi, Bastian dan Bintang akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sama, kamar VVIP terbaik di rumah sakit itu, yang telah disiapkan sebelumnya oleh keluarga mereka. Meski keduanya sudah sadar, kondisi mereka masih sangat lemah. Namun, Bastian terlihat lebih baik dibandingkan dengan Bintang yang masih tampak pucat dan lemah.Rania duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecil putranya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang masih begitu rapuh. Sesekali, ia mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang. Di tempat tidur sebelah, Bastian menatap ke arah mereka dengan senyum tipis. Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat operasi, hatinya terasa lebih ringan karena telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan putranya.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Rania lirih, suaranya penuh perhatian.Bastian mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja. Jangan khaw

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Operasi pun Dimulai

    “Hasilnya..." dokter berhenti sejenak, melihat ekspresi cemas mereka. Semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat dokter."Bastian cocok menjadi donor untuk Bintang."Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas lega. Rania menutup wajahnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bastian mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. Namun, dokter belum selesai. "Namun, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Operasi ini harus dilakukan secepat mungkin."Rania menghapus air matanya dengan cepat. "Secepat mungkin? Seberapa cepat, Dok?""Idealnya, dalam 24 jam ke depan. Kondisi Bintang semakin melemah. Jika kita menunda lebih lama, risiko kegagalan akan semakin besar. Kami akan segera menyiapkan jadwal operasi dan memastikan semua persiapan berjalan lancar."Bastian langsung mengangguk. "Saya siap, Dok. Kapan pun operasi akan dilakukan, saya siap."Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi dan tim bedah. Un

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Hasil Pemeriksaan Bastian

    Di dalam ruangan dokter, suasana terasa begitu tegang. Rania menggenggam jemarinya sendiri, sementara Bastian duduk dengan wajah serius menatap dokter ahli yang akan menangani transplantasi hati Bintang."Sebelum kita melanjutkan ke tahap pemeriksaan, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu risiko yang mungkin terjadi dalam operasi ini," ujar dokter dengan nada hati-hati.Bastian mengangguk mantap. "Tolong jelaskan, Dok. Saya ingin tahu semua risikonya."Dokter menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. "Pertama, operasi transplantasi hati merupakan prosedur besar yang memiliki risiko komplikasi. Bagi pasien penerima, dalam hal ini Bintang, ada kemungkinan tubuhnya menolak organ baru meskipun sudah cocok secara medis. Jika ini terjadi, kita harus segera mengambil langkah medis tambahan untuk mengatasinya."Rania menelan ludah, hatinya semakin gelisah. "Lalu bagaimana dengan risiko untuk pendonor? Maksud saya... untuk Bastian?"Dokter menatap keduanya dengan tenang. "Sebagai pendono

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Keputusan Berat

    Ruangan rumah sakit dipenuhi keheningan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang ketika pintu kamar terbuka dan seorang dokter spesialis masuk dengan raut wajah serius. Semua mata langsung tertuju padanya.Dokter itu berjalan mendekati ranjang tempat Bintang terbaring lemah. Ia memeriksa kondisi bocah itu dengan seksama, mencatat beberapa hal di berkasnya sebelum akhirnya menatap seluruh keluarga yang berkumpul di dalam ruangan.“Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan terbaru Bintang,” kata dokter dengan suara tenang namun tegas.Rania menggenggam tangan kecil putranya yang terasa dingin. Hatinya berdebar kencang. Begitu pula dengan Rita, Boby, Nora, Prakas, dan tentu saja Bastian yang berdiri dengan wajah tegang di sudut ruangan.Dokter menarik napas dalam, lalu berkata, “Hasil menunjukkan bahwa Bintang mengalami gagal hati akut. Kondisinya cukup serius, dan kami harus bertindak cepat untuk menyelamatkannya.”Ruangan kembali sunyi. Pernyataan itu seperti petir di sia

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Suasana Yang Berbeda

    Pagi itu, udara rumah sakit masih terasa dingin. Rita dan Boby tiba lebih awal dari biasanya, membawa sekantong penuh buah segar dan makanan untuk Rania. Keduanya berjalan menuju kamar tempat Bintang dirawat dengan hati yang dipenuhi kecemasan.Saat mereka masuk, mata mereka langsung tertuju pada sosok Bastian yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengannya, dan nafasnya terdengar teratur namun lelah. Selimut tipis yang diberikan perawat tadi malam masih membungkus tubuhnya.Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur Bintang, menoleh dan tersenyum lemah melihat kedua orang tuanya.“Dia tidak tidur semalaman,” bisik Rania, sebelum mereka sempat bertanya.Rita menghela napas panjang. Meski dalam hatinya masih ada sedikit ganjalan terhadap Bastian, ia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu benar-benar peduli terhadap anaknya.“Bagaimana keadaan Bintang?” tanya Boby, suaranya lirih.Rania menatap buah hatinya

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bersama-sama Menjaga Bintang

    Satria berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Bastian duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecilnya dengan penuh kepedulian. Ada sesuatu dalam tatapan Bastian—ketulusan, ketakutan, sekaligus rasa tanggung jawab yang begitu besar. Hal yang selama ini Satria ingin berikan untuk Rania dan Bintang, namun nyatanya, dia hanya orang luar dalam kisah ini.Ia menghela napas panjang. Melawan perasaannya sendiri, ia akhirnya memilih untuk mundur. Untuk saat ini, Bintang memang membutuhkan orang tua kandungnya. Tidak ada ruang untuknya di sini. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rita dan Boby yang masih berdiri di dekat pintu.“Tante, Om... Aku pamit dulu,” katanya dengan suara rendah.Rita menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. “Terima kasih sudah datang, Satria. Kami sangat menghargainya.”Satria tersenyum tipis. “Tidak masalah, Tante. Jika ada yang bisa aku bantu, aku selalu siap.”Boby menepuk pundaknya dengan ringan, tanda penghormatan dan terima kasih

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Butuh Transplantasi?

    Suasana di rumah sakit masih dipenuhi kecemasan. Setelah diputuskan untuk dirawat inap, Bintang kini berada di kamar VVIP dengan perawatan terbaik. Monitor di samping tempat tidurnya terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang mengukur kondisi tubuhnya. Rania tak bergeming dari sisi putranya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat. Di wajahnya tergambar kelelahan, namun ia tak ingin pergi barang sejenak pun.Di ruang tunggu rumah sakit, Prakas dan Nora berdiri dengan gelisah. Sesekali, Prakas melirik jam tangannya, menanti kedatangan Bastian yang sudah dalam perjalanan dari Singapura. Nora memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri meski hatinya terus bergetar memikirkan cucunya.Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk. Bastian muncul dengan wajah yang penuh kecemasan, masih mengenakan pakaian dari penerbangannya yang terburu-buru. Matanya langsung mencari kedua orang tuanya. Begitu melihat mereka, ia berjalan cepat dan langsung bertanya,“Mami, Papi!

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Diagnosa Yang Mengejutkan

    Di lorong rumah sakit yang terasa begitu dingin, Nora dan Prakas berjalan mendekati Rita dan Boby. Ekspresi wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai orang tua Bastian, mereka memang harus menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Namun, saat ini, hati mereka benar-benar tak tenang melihat kondisi Bintang yang terbaring lemah di ruang IGD.“Rita... Boby...” suara Nora bergetar saat berbicara, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap penuh simpati. “Kami sangat prihatin dengan kondisi Bintang. Apa yang sebenarnya terjadi?”Boby menarik napas panjang, seolah berusaha menahan emosinya yang sudah meluap-luap sejak tadi. Sementara itu, Rita hanya mampu mengusap air matanya yang terus mengalir. “Kami masih menunggu hasil lab,” ucapnya dengan suara lirih. “Dokter masih melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.”Prakas menatap Rita dan Boby dengan penuh empati. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Bintang bukan hanya cucu mereka, tetapi juga cucu kandungnya s

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status