Share

Hadiah Arsa

Author: El Nurien
last update Last Updated: 2025-01-09 17:09:15

Dalam mobil, sepanjang perjalanan Teratai hanya diam. Keane berkali-kali memerhatikannya melalui kaca spion.

Ia memahami perasaan Sanad yang selalu khawatir mengingat dulu Arsa ada hati padanya. Ia juga mencoba memenuhi keinginan Sanad untuk menjaga jarak dengan Arsa. Namun, malam ini mendadak ia jenuh dengan sikap posesif Sanad. Sebelumnya ia telah memberitahu akan merayakan ulang tahun Wahda, tetapi mengapa tetap saja bersikukuh menyuruhnya pulang? Padahal dirinya sendiri, mengaku sedang lembur di kantor.

***

Angel tersenyum semringah ketika melihat Bagus datang ke ruang kerjanya dengan membawa boneka besar.

“Ini untukku?” tanya Angel tanpa kuasa menahan senyum.

Bagus mengangguk. “Boneka ini kukirim untuk ulang tahun Wahda, tetapi ia malah mengembalikannya," ucap Bagus dengan wajah kusut.

Seketika senyum Angel hilang.

“Aku pulang dulu!” Bagus menoleh ke arah komputer yang menyala. “Kamu juga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Mendadak Talak    Tuntutan Keluarga

    “Arsa.”“Hmm?”“Jangan pergi ya.”Gerakan tangan Arsa terhenti. Wahda meluruskan badanya, menatap wajah pemilik tubuh jangkung itu dengan tengadah.“Kenapa?” tanya Wahda cemas. “Aku malah berencana mempercepat keberangkatan,” jawab Arsa pelan. Wahda termundur. Ia menggelengkan kepala dengan tetap menatap lurus. “Rencananya setelah Tante Fatima pulih. Aku akan pergi.”“Kenapa?”Arsa menghempas napasnya. “Kamu sudah tahu alasannya. Aku tidak bisa move on kalau terus-terusan di sini.”“Aku? Arsa, kamu tau kan kamu satu-satunya orang yang paling dekatku?”Arsa melangkah maju, ia mengusap kerudung yang membalut kepala Wahda. “Kamu pasti bisa. Lagi pula, di sini kamu tidak benar-benar sendiri. Masih ada ibumu, saudaramu meski mereka jauh, ada Teratai dan Adeena yang care padamu. Mereka akan selalu respect selama kamu mau membuka diri pada mereka.”Wahda menggeleng. Pandangannya

    Last Updated : 2025-01-10
  • Mendadak Talak    Kecemasan

    “Secepatnya. Jadi orang jangan seperti kacang lupa kulitnya. Ingat kamu sampai sekarang ini karena Ibu dan Kakak. Ibu sudah kau kirimi belum?”“Sudah,” jawab Bagus malas. Kembali ia memijat kedua pelipisnya setelah meletakkan ponsel. Kepalanya semakin mengusut jika mengingat berapa biaya yang selama ini ia tanggung? Dan berapa banyak pengorbanan Wahda untuk menopangnya? Ia sudah berusaha untuk tidak menjadi orang pelit, tentu saja sesuai dengan kemampuannya. Setiap gajian, ia selalu menyisihkan untuk rumah tangganya, tapi tidak tahu sebenarnya seberapa besar beban yang harus ditanggungnya. Mendadak ia sangat merindukan perempuan itu. *** “Ya … Hallo!” “Kak, Ibu pingsan!”Teratai tersentak. Arsa, July kekasih baru Arsa, Wahda, Rania, bahkan Angga di lain meja jadi mengalihkan perhatian padanya. “Apa?!”“Ibu tiba-tiba roboh dan pinngsan,” sahut Kembang dengan nada panik. “Terus

    Last Updated : 2025-01-10
  • Mendadak Talak    Kelalaian

    Sebuah ketukan berbunyi di pintu mobil Arsa. Arsa menurunkan kacanya. Seketika mata Sanad membesar melihat istrinya yang terlelap dalam mobil Arsa. “TERA?!” pekik Sanad. Teratai mengerjap. “Jangan marah dulu! Dengarkan dulu penjelasannya,” seru Arsa. Teratai tersentak ketika menyadari tertidur di mobil Arsa. “Maaf, aku ketiduran.” Arsa mengangguk. Sanad tak bersuara. Ia pergi meninggalkan tempat itu. “Terima kasih, Arsa. Tanpa kamu, aku tidak tahu bagaimana jadinya tadi,” ucap Teratai.Arsa mengangguk. “Masuklah! Sepertinya dia akan marah padamu.”Teratai tersenyum tipis, sambil berusaha menyembunyikan kegetirannya. Ia tahu, marahnya Sanad kali ini bukan main-main. Ia keluar dari mobil Arsa. “Hati-hat di jalan.”Arsa mengangguk. Teratai menutup pintu mobil, lalu melepaskan kepergian Arsa. Ia menghempaskan napasnya sebelum memasuki rumah. Hari yang melelahkan, dan masih ada hal

    Last Updated : 2025-01-11
  • Mendadak Talak    Cemburu

    “Dan dengan mudahnya kamu tertidur di mobil laki-laki?! Tidak ada sedikit pun ke khawatiran?”“Aku mengaku salah. Maafkan aku.” Sanad menghempaskan napas. “Aku maafkan. Tapi aku perlu waktu menghilangkan kekecewaan ini. Kuharap ke depannya ini tidak terjadi lagi.”Teratai mengangguk. “Terima kasih.”Masih dengan amarah, Sanad berbalik. Teratai meletakkan kepalanya ke bantal. Tiba-tiba saja mata dan pikirannya terjaga, meski lelah masih terasa. Ia menelan ludahnya yang terasa kesulitan melewati tenggorokan. Sanad memaafkan dan menerima pembelaannya. Namun, di sisi lain ia pun terluka. Di saat panik, bagaimana ia bisa berpikir banyak? Seharusnya Sanad memahami situasinya? Seharusnya Sanad bertanya bagaimana keadaan ibunya sekarang? Apakah ibunya bukan siapa-siapa di mata Sanad? Ia tahu, tidur di mobil seorang laki-laki kesalahan itu sangat fatal, tetapi tidakkah bertanya mengapa dan bagaimana kondisinya saat itu? Sampai sekarang

    Last Updated : 2025-01-11
  • Mendadak Talak    Perang Dingin

    Wahda tertawa mengejek. "Diingatkan malah serang balik.""Memang benar kan?!" kali ini nadanya lebih judes. Sesaat Rania dan Angga saling bersitatap. Sedari tadi Rania cemas dengan tindakan bosnya, tetapi sungkan bertanya. Arsa pun menatap cemas, terlebih lagi jika melihat biji kuaci yang tidak sedikit di atas meja portabel. Semua orang di sana tau, kalau kuaci biji labu milik Teratai rasanya asin. Sedang Adeena cuek saja, ikut menikmati kuaci biji labu itu sambil membaca komik."Ada masalah?" tanya Wahda. Gerakan Teratai terhenti. Ia menarik kembali tangan yang tadinya masuk ke toples. "Cuma bete aja." Wahda mengerutkan kening. "Bete sampai melahap biji kuaci sebanyak itu?""Kakak sore ini sudah makan belum?" tanya Rania. "Jangan-jangan kenyang hanya dengan makan kuaci itu." Teratai tidak menjawab. Ia membuka ponselnya yang berbunyi. "Ran, aku pulang dulu. Tolong bersihkan ya," ucap Teratai sambil berdiri cepat tanpa peduli dengan reaksi teman-temannya. Ia masuk ke ruang uju

    Last Updated : 2025-01-12
  • Mendadak Talak    Ancaman Paman

    Evan menggeleng, lalu duduk. “Ish … pura-pura itu tidak baik! Kenapa tidak menyapa Papa tadi?!” “Mama juga pura-pura tadi,” balik Evan. Teratai membesarkan matanya. Evan malah tertawa. “Anak nakal.” Teratai menyerang perut Evan dengan cubitan. Evan makin tergelak. Teratai menghentikan gelitikannya, lalu mengacungkan bibir ke mulutnya, lalu menunjuk keluar, seketika Evan terdiam. “Tidur, yuk. Besok pagi, Evan Mama tantang bangunin Papa sebelum subuh, sanggup nggak?” “Siapa takut?!” *** Sekitar setengah lima Teratai mengajak Evan membangunkan Sanad. Ia menggendong Evan yang masih mengantuk ke kamarnya. “Pa!” ucapnya sambil mendirikan Evan di samping Sanad. “Pa, sudah hampir subuh.” "Bangunin Papa?" bisik Teratai pada Evan. Evan masih menguap. Matanya masih saja terasa lengket. "Pa!" Kali ini Teratai mengguncang bahu Sanad. "Pa, bangun!" "Mmm … aku baru saja terlelap," sahut Sanad setengah mengigau. "Tapi sudah hampir subuh,” ucapnya sambil duduk d

    Last Updated : 2025-01-12
  • Mendadak Talak    Dijodohkan

    “Lalu kamu mau menyukai laki-laki seperti apa?” Emosi pamannya semakin meningkat. “Menyukai seperti Bagus, lihat dirimu, lima tahun menikah apa yang kamu dapatkan darinya, setelah itu dicampakkan.” Seketika mata Wahda berkaca-kaca. “Saya memang dicampakkan Bagus, tapi tidak seputus asa itu sampai harus menikah Saman yang juga suka main perempuan hanya karena lebih kaya dan dari keluarga bermartabat.” “Lalu apa kau sudah punya calon? Paman ingin lihat seperti apa dia?” desak Ardiansyah. “Jangan katakan dengan Arsa! Asal kamu tau, Paman sangat malu mendengar desas desus tentangmu. Bagaimana kamu bisa kemana-mana selalu bersamanya. Ingat, Wahda, kamu janda. Bisa mengundang banyak fitnah.” “Ayah?!” tegur istrinya dengan cara elegan, tetapi membuat Wahda ingin muak melihatnya. Mata Mauriyah mulai berkaca-kaca. Siapapun maklum kesombongan saudara suaminya. Tapi kali ini benar-benar memukul perasaannya sebagai seorang ibu. “Memangnya kenapa dengan Arsa? Dia juga seorang direktu

    Last Updated : 2025-01-13
  • Mendadak Talak    Nikah Yuk

    Wahda menghirup udara malam dalam lalu mengembuskan pelan. "Paman menjodohkanku dengan Saman." Arsa tersentak. "Makin tua, makin gila tu pak tua." "Dia pamanmu," sahut Wahda lalu mengembuskan ingusnya. "Iya. Terus?" "Aku tolak." "Good. Lalu masalahnya apa?" tanya Arsa. "Paman mengancamku, jika tidak membawakan calon yang kaya dalam waktu dekat ini, dia akan menikahkanku dengan Saman. Huwaa …." Wahda kembali menangis. "Makin tua, makin semena-mena dia. Kenapa tidak jodohkan saja dengan putrinya?" gerutu Arsa. Wahda yang merasa tidak diperhatikan tangisannya menjadi kesal. Ia mengguncang bahu Arsa. "Arsa bantu aku dong!" "Aku bisa bantu apa? Mau dikenalkan dengan temanku atau karyawan? Rasanya tidak ada yang sesuai dengan kualifikasi diinginkan paman." Wahda kembali menangis nyaring. Seketika Arsa tertawa melihat sepupunya itu yang terlihat tak kunjung dewasa. Tiba-tiba ia menyadari satu hal. Ia menyukai Teratai karena sikapnya yang berani, mandiri, dan dewas

    Last Updated : 2025-01-14

Latest chapter

  • Mendadak Talak    Luka yang Tersisa

    “Wah, bolehkah aku meminta lagi padamu?”Wahda mengangkat alisnya, lalu mengangguk. “Saat ini, hanya kamu dan Nurul yang kukenal, dan kurasa kamu lebih mengenalku daripada Nurul. Karena itu ….”“Karena itu?”“Kau mau tetap menemaniku sampai aku pulih?”Wahda terdiam. Bukannya tidak mau, tapi bagaimana dengan Arsa? Laki-laki itu juga perlu perhatian. Kenyataannya ia hanya bisa mengangguk. Sebagai seorang dokter, tentu ia harus tetap mengutamakan pasien.Bagus tersenyum semringah. “Terima kasih ya.”“Makanlah, nanti buburnya dingin.”***

  • Mendadak Talak    Permintaan Bagus

    "Iya, aku mengerti. Begini saja, pindah rawatnya ke rumah sakit dia bekerja. Siapa tahu lalu lalang orang-orang di sana bisa membantu memulihkan ingatannya."Wahda tersenyum semringah."Benar juga.""Tapi mungkin kamu sedikit lebih capek, bolak balik dari satu rumah sakit ke rumah sakit itu."Wahda menghela napasnya. "Apa boleh buat. Terima kasih, Dokter. Semoga urusanmu di sana cepat selesai dan cepat balik ke sini.""Amiin. Terima kasih juga atas pengertiannya."***Wahda mendorong kursi roda yang diduduki Bagus menyusuri lorong rumah sakit."Selama

  • Mendadak Talak    Mengembalikan Ingatan

    Andre lagi berdecak mengejek. “Serius amat hidup Lo. Hebat.” Andre mengacungkan dua jempolnya. "Atau jangan-jangan punya mainan baru?!"Arsa hanya merespon dengan tersenyum nyengir."Wah, dari senyumnya mengerikan. Jangan katakan di sana mainan lo perempuan!"Andre teman seasrama dari Jakarta. Anak IT. Andre sering ngajak ke club mereka, yang akhirnya Arsa juga tergiur ikut bersama mereka. Hanya saja, sejak itu ia sudah berprinsip hanya sekadar mainan buatnya. Dari awal, ia hanya ingin mendedikasikan untuk Tante Fatima. Setelah pulang, ia pun melupakan segalanya. Meski sesekali teringat mainan di Amerika jika melihat Angga mengerjakan orderan di kafe Teratai.Ia tidak begitu peduli tentang IT di perusahaan karena sudah ada divisi yang menanganinya. Siap

  • Mendadak Talak    Permainan Arsa

    "Katakan, kau marah padaku?"Wahda menggeleng."Lalu?"Wahda kembali menghidupkan kompor. Ia mengambil spatula, lalu mengaduk masakan. Arsa terus berdiri di sampingnya."Aku cuma sedih, di saat kamu kesulitan aku tidak bisa ngapa-ngapain. Bahkan sekadar mengantar makanan saja juga buatan ibu. Aku iri dengan Cintia. Dia membantumu menyelesaikan masalah kantor, sedang aku? Bisaku cuma merengek."Arsa merengkuh badannya. "Aku tidak butuh itu. Aku hanya ingin kita saling mempercayai dan menjaga kepercayaan."Wahda merapatkan tubuhnya. Aroma parfum Arsa sedikit membuat hatinya terasa lega."Mungkin Cintia

  • Mendadak Talak    Kepercayaan Diri

    "Menurutmu apa dia masih mencintai Bagus?" Arsa tak kuasa menahan kegalauannya."Entahlah. Mungkin saja, mengingat hubungan mereka selama lima tahun, mungkinkah bisa hilang dengan hanya beberapa bulan?"Arsa semakin menunduk."Mengungkit ini, aku hanya bermaksud agar kau berupaya lebih keras lagi. Sangat disayangkan kalau hubungan kalian putus gara-gara ini.""Kenapa? Apakah kamu juga berpikir akan merusak hubungan kekeluargaan?"Teratai menggeleng. "Bukan itu maksudku. Mungkin kalian masih meragukan perasaan masing-masing. Namun, satu hal yang harus kalian tahu, kalian sudah seperti anggota tubuh satu badan. Kalian akan merasa sedih kalau satunya kesusahan. Mungkin emosional asmara kalian masih perlu dipertanyaka

  • Mendadak Talak    Keraguan

    Arsa memerhatikan jam di tangannya. “Sebentar lagi kami ada rapat penting. Aku minta tolong antar ke dalam ya.”Wahda mengangguk.“Terima kasih ya. Aku pergi dulu.”Arsa dan Cintia menjauh. Wahda menatap sedih punggung Arsa dan Cintia, lalu beralih pada tas yang berisi lunch Box buatan ibunya.***Arsa menghempas sebuah dokumen di depan manajer Doni. Sontak semua yang ada di situ terkejut. Dengan heran Doni membuka dokumen dan seketika matanya membesar.“Ini ….”“Jelaskan!” titah Arsa.&

  • Mendadak Talak    Potongan Masa Lalu

    Arsa tersentak. Tiba-tiba tangannya mengibas dokumen di atas meja sehingga berserakan di lantai. Napasnya memburu. “Maaf, Pak. Maafkan saya,” ucap Cintia dengan wajah menunduk.“Rapikan dokumen itu!” perintah Arsa dingin. Cintia segera memunguti dokumen-dokumen itu, lalu meletakkan di atas meja. “Taruh di sana,” tunjuk Arsa pada meja kerjanya. “Lalu keluarlah.”Cintia meletakkan dokumen ke atas meja, lalu melangkah keluar. Tiba-tiba di tengah pintu Arsa memanggilnya. “Cintia!”“Iya, Pak.”“Jam berapa rapat?”“Jam 19, Pak.”Arsa mengangguk. Lalu menyuruh keluar dengan isyarat. Sepeninggalan Cintia, Arsa menyandarkan punggung ke sofa dan menengadahkan kepala. Dari sini ia mengerti mengapa Sanad tidak mau bergabung dengan ibunya atau ke ayahnya. Ibunya juga tidak memaksa, meski sebagai seorang ibu tentu berharap dibantu oleh anaknya. Dirinya benar-benar pengecualian. Hubungan darah atau emosional dalam pekerjaan kadang membuat bertindak tidak profesional lagi.Mendadak ia juga ter

  • Mendadak Talak    Amnesia

    “Bagaimana keadaannya?” bisik Wahda pada Nurul Hadi.Nurul Hadi menggeleng. Bagus yang mendengar itu menatap Wahda. Tatapan Bagus seketika membuat mata Wahda membesar.“Kamu siapa?” tanya Bagus.Wahda menoleh ke Nurul Hadi. Nurul Hadi mengangguk. Wahda kembali bertanya ke dokter yang merawatnya.“Ingatanya masih berantakan.”“Cincin? Cincin mana?” ucap Bagus sambil menyentuh saku kemeja, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada jari Wahda.“Wahda?”Sontak mereka saling berpandangan satu sama lain.

  • Mendadak Talak    Rendah Diri

    “Hubungi perusahaan server, kita sewa dua unit server,” perintah Arsa. “Bapak tau betapa mahalnya sewa server?!” “Yang terpenting sekarang kepercayaan. Kalau sudah stabil baru kita pecahkan masalahnya.”“Baiklah!” *** Arsa menghenyakkan tubuhnya ke sofa. Hari yang sangat melelahkan. Jam promosi telah berakhir. Masalah sedikit teratasi, hanya saja perusahaan mengalami banyak kerugian. Ia memejamkan mata sambil meletakkan tangan ke dahi.Tok tok. Arsa membuka matanya.“Belum pulang?”Cintia menggeleng. “Semua orang kelelahan hari ini. Bapak pasti paling lelah. Bapak juga belum sejak siang tadi.”Cintia meletakkan dua bungkus nasi kotak ke atas meja. “Saya ambilkan kopi ya.”Arsa duduk. Ia menggeleng. “Air putih saja.*** “Nur, kapan kamu ke sini? Aku dari siang tadi belum pulang.” “Maaf. Malam ini kamu yang jaga ya. Aku capek sekali. Hari ini aku melakukan dua operasi. Aku harus istirahat, besok juga ada jadwal operasi pagi hari. Aku usahakan besok aku yang jaga Bagus, ya."W

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status