"Kita mungkin harus mencoba melakukan sesuatu yang melelahkan?" Pacuan jantung keduanya tiba-tiba semakin cepat. Terasa seolah hormon yang entah apa namanya itu melonjak naik mengirimkan sinyal-sinyal menyenangkan di otak dan tubuh. Sebuah kalimat ambigu yang Kaira sadari membuatnya langsung berpikir ke beberapa ranah. Sialnya, mengapa ada perasaan excited yang mendadak menyeruak di dalam dirinya? "Seperti apa?" Bibir Kaira agak bergetar saat mengucap kalimatnya. Apalagi dia mendapati Davian yang terus menatapnya lamat sejak tadi—terutama kearah bibir. Davian masih diam menatapnya. Namun Kaira dengan segera merasa bak tersengat listrik saat merasakan jemari Davian telah membelai punggung tangannya. Kaira membeku saat Davian justru memangkas jarak diantara mereka. "Bermain. Sesuatu yang melelahkan namun juga membuat tertantang dan menyenangkan. Bagaimana menurutmu?" Davian mengucapnya dengan terlampau santai. Kaira menyembunyikan sorot paniknya, gadis itu masih berupaya untuk tena
Membeku, tubuh gadis itu mendadak kaku saat mendengar kalimat dari suaminya. Ini bukan seperti mereka tidak pernah berciuman sebelumnya. Kalau dihitung-hitung, mereka sudah pernah kecup dahi, kecup bibir, hingga benar-benar berciuman kemarin di balkon. Kaira masih ingat dengan sangat jelas bagaimana Davian begitu lihai membuainya semalam.Tapi tetap saja, mendengar kata tersebut diucapkan sebagai sebuah permintaan membuat Kaira menumbuhkan semacam perasaan tertekan. Bisa-bisanya Davian mengucapkannya secara gamblang begitu. Kaira berkedip lambat dua kali, waktu serasa melambat saat pandangan mereka terkunci satu sama lain menampakkan ekspresi yang jauh berbeda diantara keduanya. Kaira dengan raut kebingungan sementara Davian di lain sisi terlihat sangat santai seolah kalimatnya tadi tidak berarti apa-apa. Cukup lama tidak menanggapi Davian, sisi tidak mau kalah Kaira tiba-tiba saja menyala di tengah kepanikan. Davian saja bisa sebegitu tenangnya, mengapa Kaira tidak bisa?"Yang ben
Hening menyerang namun tidak satu-pun dari sepasang insan tersebut mundur dari posisinya masing-masing. Kaitan netra keduanya kian panas seolah masing-masing menggelanyarkan api pada lawannya. Sensasi menyenangkan menggelitik keduanya. Kaira merasa sisi rasionalnya mungkin akan menolak, tapi ada dorongan lain yang membuatnya kini dengan perlahan justru mendorong suaminya kebelakang—posisi tidur telentang dengan Kaira bebas berkuasa diatasnya."Nggak masalah. Aku akan membuktikan kalimatku," ujarnya sebelum menyampirkan rambutnya. Gadis itu dengan berani menduduki Davian. Kaira kembali menyerang bibir, mengecup dan memagut dengan lebih bertempo dibanding sebelumnya. Davian di sisi lain tentu saja mengikuti instingnya. Laki-laki itu tersenyum dalam ciuman mereka. Memegang pinggang ramping Kaira sembari membalas pertikaian bibir mereka yang lebih dalam dan juga lebih lembut dari ciuman awal.Dia merasakan bahwa Kaira penuh dengan kehangatan, gadis itu selalu punya cara untuk membuatnya
Sepasang insan yang masih anyar-anyarnya tertaut sebagai sepasang suami istri itu bangun dari tidur cukup lebih pagi daripada biasanya. Perjalanan liburan mereka hari ini agendanya cukup padat sehingga mengharuskan mereka berdua berangkat pagi-pagi buta.Meskipun keduanya hanya tidur kurang dari empat jam. Memori panas semalam masih cukup mengganggu mereka. Terutama Kaira yang sampai sedikit canggung tiap melihat suaminya. Meski begitu, ego wanita itu terluka saat menyadari mungkin hanya dirinya yang merasakan kecanggungan akibat semalam. Pada akhirnya, dia mencoba untuk bermain dengan apik. Davian keluar dari kamar mandi dengan pakaian kasual yang menambah kadar ketampanannya. Lelaki itu memilih kaus berkerah berwarna biru tua dan celana panjang khaki yang ringan namun tetap rapi. Dia mengenakan sepatu slip-on yang mudah dilepas serta melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam.Sementara itu, Kaira memilih pakaian yang nyaman namun tetap sopan untuk kunjungan mereka. Agenda per
Memang benar bahwa waktu adalah hal paling berharga yang tak boleh disia-siakan. Rasanya baru sebentar menyusuri beberapa tempat wisata di Thailand. Namun sekarang ini langit gelap telah menyapa dua insan berbeda gender yang tengah berjalan kaki menyusuri jalanan malam Bangkok. Seharian bersama Davian menguak banyak sisi baru dari lelaki itu yang tak banyak dia ketahui sebelumnya. Kaira tak sadar bahwa orang seperti Davian sebenarnya punya banyak kesamaan dengannya terutama dalam selera arsitektur, bacaan, musik dan bahkan suasana favorit. Poin plusnya, Davian juga seorang expert jika itu bicara tentang arsitektur.Sekarang ini, keduanya sama- sama tersesat dalam pekatnya malam. Di tepian Sungai Chao Phraya yang tenang, gemerlap lampu Asiatique The Riverfront mulai menyala, menambah kehangatan suasana malam di Bangkok. Kaira dan Davian berjalan beriringan, tangan mereka bersentuhan sesekali, menikmati angin malam yang sejuk setelah seharian menjelajahi pasar dan wahana di sekitar kaw
Rupanya ada rencana lain yang Davian hendak wujudkan saat dia memboyong sang istri ke Chao Phraya. Kaira sudah mulai merasakan keganjilan saat Davian tak kunjung membawanya kembali ke resort. Lelaki itu seolah selalu punya topik baru untuk mengalihkan pertanyaan Kaira tiap kali wanita itu mengatakan bahwa ini sudah cukup larut dan menanyakan kapan mereka akan kembali ke penginapan.Davian menggiringnya menuju jembatan kayu. Dengan ringan menarik Kaira untuk memasuki kapal pesiar yang tengah bersandar."Mas.." ragu Kaira. Wanita itu sedikit takut untuk menjejakkan kakinya melangkah naik.Melihat itu, Davian tersenyum lantas menggenggam tangannya dengan lembut."Sini, aku bantu!" Ragu-ragu Kaira mulai melangkahkan kakinya masuk. Mulai merasakan sedikit pergerakan dari kapal yang sepertinya hendak berlayar."Kamu takut?" Tanya Davian.Kaira yang masih belum melepaskan genggamannya pada Davian dan bahkan kini cukup merapat seolah masuk dalam pelukan sembari memandangi sekitarnya. Mencoba
Suasana sungai Chao Phraya sangat memukau. Ketika kapal mulai berlayar, pemandangan gedung-gedung tinggi dan kuil-kuil megah yang diterangi lampu malam di kedua sisi sungai terlihat indah. Cahaya lampu berkilauan di atas permukaan air yang tenang, memberikan kesan romantis. Suara gemericik air yang tenang berpadu dengan musik lembut di latar belakang, menciptakan atmosfer yang damai namun berkesan.Angin malam yang sepoi-sepoi memberikan kesejukan yang menyenangkan, sementara aroma hidangan khas Thailand yang disajikan di kapal menggugah selera. Kilauan jembatan dan lampu kota yang memantul di sungai menambah suasana elegan, terutama saat kapal melewati ikon-ikon kota seperti Wat Arun dan Grand Palace. Suasana ini memberikan pengalaman yang mendalam, menyejukkan, dan sempurna untuk menikmati makan malam dalam suasana romantis di tepi sungai yang bersejarah.Sebuah atmosfer yang sempurna bagi sepasang sejoli yang tengah hangat-hangatnya.Kaira mengerjap pelan saat merasakan Davian mene
Sayang sekali, kapal yang Davian sewa untuk makan malam romantisnya bersama Kaira tidak menawarkan fasilitas untuk menginap atau tidur di dalam kapal. Mereka turun di dermaga tepat lima menit setelah kalimat ambigu dari Kaira terucap. Setelah turun, tak ada percakapan berarti yang terjalin. Supir telah menunggu mereka dan Davian hanya menarik istrinya untuk cepat masuk ke dalam mobil dan bahkan masih tidak melepaskannya setelah mereka sampai resort sehingga Kaira hampir seperti ditarik paksa olehnya."M-mas! Pelan-pelan!" Keluh Kaira dalam perjalanan menuju kamar mereka. Davian melirik Kaira sekilas saat keduanya berada dalam lift. Mengendurkan cengkramannya, tentu saja tanpa melepaskan pegangannya pada sang istri. Netra lelaki itu tajam menatap Kaira yang masih bertanya-tanya tentang apa kiranya kesalahan yang dia lakukan hingga Davian nampak sedingin itu. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja, kan?Kurang dari dua puluh menit, Davian berhasil memboyong istrinya kembali ke kamar
Langit sore tampak cerah, seolah turut merayakan momen spesial di perhelatan sederhana namun meriah keluarga bahagia tersebut. Siapapun bisa dengan mudah melihat dan merasakan binar yang terpancar, terutama dari Kaira dan Davian.Ketika mereka menikah sekitar dua tahun lalu, mungkin tak pernah sepasang insan itu sangka bahwa mereka akan ada di titik seperti sekarang ini. Tersenyum bahagia dengan mata penuh cinta. Pernikahan yang awalnya digagas penuh intrik oleh adik Davian sekaligus juga mantan Kaira—Alvero. Pernikahan yang awalnya dilaksanakan dengan prinsip hanya untuk sekadar "menikah". Pernikahan yang mungkin tidak didasari cinta tapi tetap dengan komitmen bahwa menikah hanya sekali seumur hidup. Kalau bukan karena kekuatan mereka berdua yang menjalani didalamnya, tentu semua tidak akan seperti ini, kan?Hari ini adalah ulang tahun pertama Arsandi Rajendra—putra kecil mereka yang telah membawa begitu banyak kebahagiaan dalam keluarga. Ruang tamu dan halaman belakang rumah didekora
Mobil yang dikendarai Davian melaju dengan kecepatan stabil, membawa mereka pulang dengan anggota keluarga baru yang mungil dan berharga. Di kursi belakang, Kaira duduk dengan hati-hati, memastikan bayi mereka tetap nyaman dalam gendongannya. Sesekali, ia menatap wajah mungil itu dengan mata berbinar, seolah masih sulit percaya bahwa mereka akhirnya bisa membawa pulang buah hati mereka setelah seminggu di NICU.Kaira sudah diperbolehkan pulang lebih dulu sekitar tiga hari lalu. Selama itu juga dia bolak-balik rumah sakit untuk menengok putranya sekaligus memberikan ASI. Setelah perjuangan tersebut, akhirnya pagi ini bayi mereka diperbolehkan untuk dibawa pulang. Berat dan kadar bilirubinnya dikatakan sudah normal sehingga kondisinya sudah memungkinkan untuk pulang ke rumah."Dia tidur nyenyak sekali," bisik Kaira, menatap wajah bayi mereka yang tenang dalam balutan selimut lembut.Davian melirik melalui kaca spion tengah, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. "Akhirnya kita pulang be
Teruntuk Kaira—Kakak Iparku.Ketika kamu membaca ini, aku mungkin sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja atau bahkan sudah tak bernafas di lingkup yang sama denganmu. Aku nggak berharap kamu membaca ini pada akhirnya, tapi sebagai manusia aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya atau bagaimana Tuhan menggagalkan aneka rancangan rencanaku. Aku pasrah.Tapi satu yang pasti. Ketika kamu membaca surat ini, aku yakin kamu sudah berbahagia dengan laki-laki yang kamu cintai dan bisa mencintai kamu sama atau bahkan lebih besar. Dan itu..tentu saja kakak kebangganku—Davian Rajendra. Aku nggak bohong saat mengatakan bahwa Davian adalah lelaki terbaik yang bisa menemani kamu. Begitupula untuk Davian, aku yakin kamu adalah pilihan terbaik untuknya. Aku sangat mengenal bagaimana kalian berdua. Itulah mengapa aku berjuang menjodohkan kalian dan syukurnya aku berhasil, kan? Lihat bagaimana Davian menatapmu penuh dengan cinta. Juga kamu yang selalu tanpa sadar tersenyum bahag
Lorong ruang tunggu ICU terasa amat sangat dingin. Kaira masih duduk di kursi roda, berdampingan dengan Cindy yang duduk di kursi ruang tunggu sembari memandang kosong tembok yang ada dihadapannya. Suasana terasa lebih sunyi dan mencekam setelah Kaira pada akhirnya mengetahui fakta baru. Alvero kritis karena kanker?"Maaf, aku dan Alvero belum bisa menepati janji kami untuk menemani persalinanmu," buka Cindy setelah lama menutup mulutnya. Bahkan ketika Davian menitipkan Kaira padanya untuk membiarkan mereka bicara, Cindy baru bersuara selang tiga menit lamanya.Dalam selang waktu tersebut juga Kaira tidak bersuara sama sekali. Dia hanya mendengar sedikit dari Davian, selebihnya Davian bilang Kaira harus mendengarnya dari Cindy langsung. Tapi jujur saja, apa yang bisa Kaira tampilkan selain keterkejutan yang mendalam? Kaira bergeming, wajahnya terlalu datar dan tidak memberikan jawaban apapun pada Cindy. Kali ini dia hanya akan fokus mendengarkan. "Aku...aku nggak tahu harus mulai da
Kaira menggenggam erat tangan Davian saat mereka berdiri di depan ruang NICU. Hatinya bergetar melihat bayi mungil mereka yang terbaring di dalam inkubator, tubuhnya yang kecil masih dipenuhi selang dan monitor yang berbunyi lembut. Meski dokter sudah menjelaskan bahwa putra mereka harus mendapat perawatan intensif karena lahir prematur di usia kandungan 34 minggu, tetap saja sulit bagi Kaira untuk menahan air matanya.Davian melingkarkan lengannya di bahu sang istri, menguatkannya. "Dia kuat, Sayang. Lihat, dia bahkan sudah mulai menggenggam jari perawat tadi." Suaranya lembut, namun ada kebanggaan dan kasih sayang yang begitu dalam di matanya.Mata Kaira terus memandangi buah hati mereka, dadanya sesak oleh campuran emosi. "Dia masih begitu kecil..." bisiknya, suaranya nyaris patah. "Aku ingin memeluknya, Mas. Aku ingin menghangatkannya di dekapanku."Davian menenangkan dengan mengusap punggung istrinya. "Sebentar lagi, Sayang. Dokter bilang kondisinya sudah terus membaik. Dia hanya
Kaira membuka matanya perlahan, cahaya lampu kamar rumah sakit terasa sedikit menyilaukan setelah ia tak sadarkan diri entah berapa lama. Ada rasa lelah yang masih melekat di sekujur tubuhnya, tapi itu semua langsung tergantikan oleh kehangatan yang menjalar di hatinya saat melihat sosok suaminya, Davian, duduk di samping ranjangnya. Pria itu tampak begitu lelah, lingkaran hitam menghiasi bawah matanya, tetapi senyum lega yang menghiasi wajahnya saat melihat Kaira sadar membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya. "Kaira..." Suaranya terdengar serak, seperti seseorang yang hampir tak berani berharap. Kaira mengerjap pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Bibirnya merekah dalam senyum kecil. "Hei..." Seolah tak mampu menahan diri lebih lama, Davian langsung menggenggam tangannya, mengecupnya lembut. "Kamu baik-baik saja?" Kaira mengangguk, meski tubuhnya masih terasa lemah. "Bayinya?" "Dia masih harus berada di ruang NICU, tapi tidak akan lama lagi dia bisa berkumpul bersama
Dokter telah menjelaskan semuanya—Kaira mengalami placenta previa, kondisi di mana plasenta menutupi jalan lahir, menyebabkan pendarahan hebat dan berisiko bagi ibu dan bayi. Tidak ada pilihan lain selain operasi caesar darurat.Sejujurnya Davian tidak sepenuhnya kaget akan terjadinya Placenta Previa. Memang di beberapa pemeriksaan, indikasi sebab plasenta tidak bergerak naik dengan posisi janin juga menjadi kekhawatiran mereka. Kaira pun sempat stres, namun Davian menjadi suami yang berupaya untuk menjaga pikiran sang istri. Mengafirmasi bahwa mereka akan baik-baik saja. Tapi tetap saja, ketika ini sudah di depan mata, Davian tidak bisa tidak ikut panik. Melihat raut dan suara istrinya yang tengah kesakitan sudah jelas membuatnya kalut. Tak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain memanjatkan doa berkali-kali dan berharap bahwa baik istri dan anaknya akan keluar dari ruang operasi dengan kondisi yang baik. Belum lagi, Alvero yang tadi secara tiba-tiba tidak sadarkan diri membuat p
Apa yang lebih membahagiakan dari berkumpulnya seluruh keluarga dengan penuh riuh canda tawa? Tania Rajendra, di usianya yang jelas tak muda lagi, satu-satunya yang paling dia inginkan adalah menemani dan menyaksikan anak-anaknya dengan kebahagiaan mereka. Putra-putranya yang sudah menghadapi asam garam kehidupan bersamanya meskipun mereka terlahir dari keluarga berada. Saling menguatkan ketika dihantam cobaan saat harus merelakan suami dan ayah tercinta berpulang lebih dulu. Berjuang dengan keras untuk mempertahankan semua yang mereka miliki atas nama keluarga Rajendra. Sekarang, melihat bagaimana Davian dan Alvero tersenyum cerah sembari tertawa dalam suasana hangat yang melingkupi, membuatnya merasa sangat bahagia.Malam itu, suasana rumah keluarga Rajendra dipenuhi gelak tawa dan kehangatan. Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali berkumpul lengkap. Mama Tania Rajendra jelas tampak begitu bahagia melihat anak-anaknya duduk mengelilingi meja makan, menikmati hidangan yang te
Kata orang, kalau sedang berbahagia, maka waktu jadi terasa berlalu begitu cepat. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh pasangan yang tengah menanti kehadiran buah hati mereka—Davian dan Kaira. Sepasang insan yang tak sabar menunggu peran baru keduanya. Menginjak bulan kedelapan usia kehamilan, Kaira pada akhirnya diminta untuk rehat di rumah. Kaira menurut saja. Lagipula, dia masih bisa melakukan banyak aktivitas di rumah seperti menulis dan bahkan turut menghandle pekerjaan kantor secara remote. Kaira tidak akan bosan sebab Davian benar-benar menyediakan semua yang dia perlukan. Dia bahkan mengganti tv lama mereka dengan layar yang lebih besar hanya untuk membuat aktivitas menonton Kaira jadi lebih nyaman. Rumah mereka semakin dipenuhi kehangatan. Setiap sudutnya terasa lebih hidup dengan keberadaan Kaira yang kini tengah mengandung buah hati mereka. Davian, yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, semakin sering menyempatkan diri untuk pulang lebih awal, hanya untuk menemani istriny