Home / Romansa / Memar Termanis / 28. Langkah Yang Sudah Jauh

Share

28. Langkah Yang Sudah Jauh

Author: Mira Lee
last update Huling Na-update: 2024-12-12 10:48:49

đź“Ť Rumah Sakit

-Ruangan Pasien-

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Jexon melangkah masuk dengan senyuman hangat. Tangannya membawa setangkai bunga tulip pink yang segar, jenis bunga favorit Paula. Langkahnya tenang saat mendekati ranjang, lalu ia duduk di kursi di sampingnya.

“Bunga ini untukmu,” katanya sambil menyerahkan bunga itu kepada Paula.

Paula tersenyum lemah. “Terima kasih, pak Jexon. Anda selalu tahu cara membuat hari-hari saya lebih baik.”

Jexon tersenyum kecil, lalu tanpa ragu ia mengulurkan tangan dan dengan lembut mengelus pipi Paula. Sentuhannya membuat Paula sedikit terkejut, tetapi ia tidak menghindar.

“Pak Presdir sudah menandatangani kontrak kamu,” ujar Jexon, memecah keheningan. Suaranya tenang, penuh kelegaan. “Beliau bilang akan membayar semua kerugiannya dengan uang pribadi.”

Mata Paula membesar. “Saya benar-benar nggak enak hati… Pak Presdir sebaik itu padaku.”

“Kamu layak mendapatkannya,” balas Jexon, menatapnya serius. “Tapi kamu juga harus memberikan yang t
Locked Chapter
Patuloy ang Pagbabasa sa GoodNovel
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Memar Termanis   29. Perasaan Yang Tidak Sadar

    📍ApartementDering ponsel membangunkan Paula dari tidurnya. Dengan mata setengah terpejam, ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Nama Javeline terpampang di layar.“Hallo, Ce,” ujar Paula dengan suara serak pagi.Dari ujung telepon, suara Javeline terdengar tegas seperti biasa.“Paula, akhir pekan ini akan menjadi penampilan terakhirmu di Le Crazy Horse. Kontrakmu resmi diberhentikan. Semua dokumen pemutusan akan diselesaikan siang ini.”Paula terduduk, mencoba mencerna ucapan itu. “Secepat ini?” tanyanya, suaranya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.“Seperti yang sudah kita rencanakan,” jawab Javeline tanpa nada ragu. “Ini langkah awal untuk membangun kembali nama baikmu. Keluar perlahan dari kabaret dan fokus pada modeling serta akting.”Paula menarik napas panjang. “Baik, Ce. Aku mengerti.”“Bagus. Jangan lupa siang nanti,” ujar Javeline sebelum menutup panggilan.Paula berjalan ke dapur, menyiapkan sarapan sederhana sambil memikirkan perubahan besar yang akan seger

    Huling Na-update : 2024-12-13
  • Memar Termanis   30. Kehancuran Yang Diharapkan

    Satu bulan berlalu sejak kabar pernikahan Rachquela tersebar. Hari itu, pesta pernikahan digelar dengan megah di sebuah aula penuh hiasan bunga putih dan kristal. Tapi di tengah kemegahan itu, wajah Rachquela tampak muram, jauh dari kebahagiaan yang diharapkan orang-orang.Dia berdiri di tengah aula, gaunnya yang berkilauan tampak sempurna, tetapi tatapannya kosong. Orang-orang di sekitarnya memuji penampilannya.“Gaun ini benar-benar membuatmu terlihat seperti bidadari,” ucap seorang tamu dengan senyum lebar.Namun, Rachquela hanya mengangguk kecil, senyum tipis yang dipaksakan menghiasi wajahnya. Dalam pikirannya, hanya ada Andreas, pria yang telah mencuri hatinya. Kenangan tentangnya terus menghantui, membuat perasaan kecewa dan hampa semakin nyata.Di sisi lain pesta, dalam sebuah sudut yang lebih tenang, dua wanita paruh baya tampak berbincang. Erica, ibu Valentine, memandang Elisabeth, ibu Jexon, dengan tatapan penuh harapan.“Kau tahu, Jexon dan Valentine akan menjadi pasangan

    Huling Na-update : 2024-12-14
  • Memar Termanis   31. Perjodohan

    📍 J&T Entertainment- Ruang Latihan -Paula berjalan mondar-mandir di ruang latihan, sesekali melirik ke arah pintu masuk. Wajahnya memancarkan kegelisahan, tapi juga harapan. Ia melipat tangannya di dada, lalu menghela napas panjang sebelum kembali mengintip ke arah pintu.Tak lama, suara langkah kaki terdengar di koridor. Ketika sosok Jexon muncul, Paula langsung menghentikan langkahnya.“Ah, akhirnya datang juga,” gumamnya pelan sebelum mendekati Jexon.Jexon tersenyum tipis. “Kamu latihan pagi-pagi begini?”Paula mengangguk sambil tersenyum cerah. Ia berlari kecil ke sudut ruangan, mengambil termos stainless yang sudah ia siapkan.“Saya buat air rebusan bunga chamomile untuk Bapak,” katanya sambil menyerahkan termos itu dengan kedua tangan.Jexon menatap termos itu sejenak, lalu mengangkat alis. “Untuk saya?”“Hm.” Paula mengangguk yakin. “Supaya Bapak bisa tidur nyenyak. Saya khawatir soal semalam.”Jexon menghela napas ringan, lalu tersenyum lembut. “Terima kasih. Kamu selalu

    Huling Na-update : 2024-12-15
  • Memar Termanis   32. Jembatan Kehancuran

    📍SekolahSaat pelajaran olahraga, Rean memandang baju olahraganya yang penuh dengan noda lumpur. Tangannya gemetar saat memegangnya, matanya suram memantulkan rasa kecewa yang mendalam. Dari kejauhan, Dk berjalan mendekat, alisnya terangkat ketika melihat Rean.“Apa yang terjadi?” tanya Dk, suaranya tajam penuh perhatian.Rean mengangkat bahunya lemah, menghela napas sebelum menjawab. “Aku gak tahu… Tadi bajuku bersih, sekarang lihatlah.” Ia memperlihatkan noda lumpur yang menyelimuti kausnya. “Entah siapa yang melakukan ini.”Dk memicingkan mata, memperhatikan wajah Rean yang terlihat tertekan. “Siapa pun yang melakukannya, mereka keterlaluan,” gumamnya.Tatapan Dk menyisir sekeliling lapangan. Di sudut jauh, dua anak tertawa cekikikan sambil sesekali melirik ke arah Rean. Dk mengepalkan tangan.Mendadak ia bergerak cepat menuju kedua anak itu. Tanpa peringatan, Dk menyiram mereka dengan botol minum yang dibawanya.“Heh! Apa-apaan kamu?!” seru salah satu dari mereka, terkejut sambil

    Huling Na-update : 2024-12-16
  • Memar Termanis   33. Pertemuan Kedua Kalinya

    📍Wang’s House-Ruangan Kerja Jexon-Jexon duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan berkas yang belum tersentuh. Lampu meja menyinari wajahnya yang terlihat lelah, namun matanya tetap fokus menatap layar laptop. Tangannya dengan gesit mengetik, sementara pikirannya terus berputar, memikirkan strategi baru untuk mengembangkan para talent di bawah perusahaan milik ayahnya, Nicholas Wang.Sampai tiba-tiba, setetes darah jatuh ke atas dokumen yang sedang ia baca. Ia tertegun, lalu menyentuh hidungnya. Cairan merah itu kembali mengalir. Dengan cepat, Jexon meraih tisu dan menekan hidungnya untuk menghentikan pendarahan.Dia berdiri, menghela napas panjang sambil melirik jam di dinding. Sudah lewat tengah malam. Pikirannya mendesaknya untuk menyelesaikan pekerjaannya, tetapi tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Perlahan, ia melangkah keluar dari ruang kerjanya, berniat mencari udara segar.Di saat yang bersamaan, Elisabeth muncul dari arah tangga. Rambutnya yang sedik

    Huling Na-update : 2024-12-17
  • Memar Termanis   34. Sujud Untuk Permintaanku

    📍Rumah SakitCeline mendadak menghentikan langkahnya saat melihat sosok itu. “P-Paula… k-kamu di sini?” tanyanya dengan nada panik, seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah. Matanya berusaha menghindari tatapan Paula, tapi tubuhnya tak bisa berpindah.Paula berdiri terpaku sejenak. “O-oh… k-kamu juga di sini, Celine,” jawabnya, suara terdengar goyah, meskipun ia mencoba terlihat tenang. Namun, sorot matanya berbicara lain—kecurigaan bercampur kebingungan.Sementara itu, Andreas yang semula berdiri di hadapan Paula, beranjak pergi. Tanpa sepatah kata, ia berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Celine, tanpa pikir panjang, langsung mengekor di belakangnya. Mereka pergi begitu saja, meninggalkan Paula yang terdiam di tempat.Tatapan Paula terpaku pada punggung Andreas yang menjauh. Namun, seketika ia menyadari sesuatu—bekas darah di pergelangan tangan Andreas, jelas terlihat. Pandangannya melekat pada luka kecil di mana infusnya dipaksa lepas. Dadanya bergemuruh.Saat Paul

    Huling Na-update : 2024-12-18
  • Memar Termanis   35. Serena Lauw

    Setahun yang lalu.📍 Shangri-La, Hotel-Di Dalam Kamar-Suasana di dalam kamar hotel itu terasa begitu tegang. Udara seolah-olah berat untuk dihirup, menciptakan atmosfer serius yang memenuhi ruangan. Nicholas duduk di kursi dengan punggung tegak, pandangannya tajam menatap Paula yang duduk di hadapannya.Ia menghela napas panjang sebelum menoleh ke Albert yang berdiri tak jauh darinya. “Albert, tinggalkan kami berdua,” perintahnya tegas.Albert, yang mengenakan setelan rapi, langsung menunduk dengan hormat. “Baik, Pak Presedir.” Tanpa banyak kata, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, membiarkan suasana sunyi kembali mengambil alih ruangan.Setelah pintu tertutup, Nicholas memusatkan perhatian sepenuhnya pada Paula. Ia tampak mencoba membaca ekspresi wanita di depannya.“Bagaimana kabarmu, Paula?” tanyanya akhirnya, suaranya dalam namun terdengar hati-hati.Paula menatapnya, matanya suram seperti menyimpan beban berat yang tak bisa ia ungkapkan sepenuhnya. “Berat,” jawabny

    Huling Na-update : 2024-12-19
  • Memar Termanis   36. Gelang Merah

    📍Berlin, Jerman-Taman Apartemen-Serena baru saja melangkahkan kakinya keluar dari apartemen. Hari ini dia selesai belajar bersama seorang teman di sana. Langkahnya ringan, hampir seperti tarian kecil di atas paving taman. Wajahnya polos, tanpa make-up, tapi kecantikan naturalnya sulit disangkal.Di sisi taman, Abex berdiri bersedekap, mengamati Jexon yang duduk diam di bangku kayu dengan wajah suram.“Kan udah gue bilang,” suara Abex memecah keheningan. Ia berdiri berkacak pinggang, tatapannya penuh penekanan. “Jangan respon cewek terlalu baik!”Jexon mendongak, alisnya bertaut menahan frustrasi. “Maksud lo? Gue harus maki-maki mereka gitu?” tanyanya ketus.“Bukan maki!” Abex mendesah panjang, seperti berbicara dengan anak kecil. “Tapi secukupnya aja. Kalau mau main sama cewek, gak usah kasih perhatian lebih, apalagi pakai word of affirmation segala.”“Ck!” Jexon menggerutu, menyandarkan tubuhnya ke bangku. “Lo ini mau bantu gue apa malah ceramahin, sih?”“Dua-duanya!” Abex menunj

    Huling Na-update : 2024-12-20

Pinakabagong kabanata

  • Memar Termanis   62. Apa Kabar

    Pikiran itu berputar liar, tak mau berhenti, seperti badai yang tak kunjung reda. Bayangan kecelakaan-kecelakaan akhir-akhir ini menghantui Jexon, mengisi setiap sudut ruang kosong dalam kepalanya. Ia mencoba merasionalisasi, tapi semakin keras ia berpikir, semakin banyak pertanyaan tanpa jawaban yang muncul.Jexon menatap kosong ke tumpukan dokumen di mejanya, di ruangan kerja yang luas dan sunyi itu. Udara di sekeliling terasa berat, terlalu penuh dengan pikiran yang menggantung. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak di dadanya. Namun pikirannya segera kembali ke sosok Andreas—seseorang yang baru ini mulai masuk dalam kecurigaannya.“Dalang dari semua ini,” gumam Jexon pelan, nada suaranya rendah dan penuh tekanan. Andreas Liu. Nama itu terus berulang di benaknya, menghantui seperti bayangan gelap yang tak mau pergi.Dengan gerakan cepat, Jexon meraih ponselnya di meja. Jari-jarinya menekan layar, mencari nama kontak yang ia butuhkan. Seketika, ia menghubungi Ar

  • Memar Termanis   61. Dendam Yang Ingin Dibalas

    📍Rumah Sakit Kamar rumah sakit itu terasa hangat, meski aroma antiseptik yang khas masih terasa di udara. Rean terbaring di ranjang dengan infus yang terpasang di tangannya. Wajahnya sudah tidak terlihat pucat, tapi senyumnya tak pernah pudar saat melihat Paula masuk membawa sekotak buah dan bunga mawar putih di tangannya. “Rean, gimana kabarnya?” tanya Paula sambil mendekat ke sisi ranjang. Suaranya lembut, penuh perhatian. “Lebih baik, auntie Paula. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang,” jawab Rean, meski suaranya terdengar sedikit lemah. Di sudut ruangan, Dk, terlihat duduk menemani Rean sahabatnya di kamar pasien itu. “Auntie!” panggil Dk beranjak mendekati Paula. Paula tersenyum. “Hai, Dk. Maaf ya, kalau auntie baru sempat jenguk sahabat kamu.” Sambil mengusap kepala bocah itu. Dk mengangguk dengan semangat. “Iya, gpp auntie. Kami berdua, cuma lihat berita ditelevisi.” Paula mengerutkan kening, merasa penasaran. “Oh ya? Apa yang kamu lihat?” “Tent

  • Memar Termanis   60. Hubungan Serius

    Berita Eksklusif: Kencan Paula dan Jexon!Hari ini, dunia hiburan digemparkan dengan kabar hangat seputar hubungan romantis antara Paula, model terkenal dari agensi J&T Entertainment, dan Jexon, CEO agensi tersebut. Foto-foto yang diambil secara diam-diam oleh paparazi menunjukkan keduanya berpelukan di rumah sakit, menciptakan spekulasi besar di media.📍J&T Entertainment -Ruang Presdir-“Ini foto yang beredar semalam?” tanya Nicholas, presiden direktur J&T Entertainment, sambil menyelipkan senyum tipis. Matanya menatap tajam pada sebuah foto di tangannya.Albert, asistennya, mengangguk mantap. “Iya, Pak Presdir. Ini diambil oleh seorang wartawan.”Nicholas menghela napas lega, menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit di balik meja kerjanya. “Kalau begini, sepertinya mereka sudah menyelesaikan masalah mereka.” Ucapannya terdengar ringan, namun jelas menyiratkan kebahagiaan.****Sebaliknya, suasana di rumah keluarga Wang penuh dengan ketegangan. Elisabeth, ibu Jexon, menatap layar tel

  • Memar Termanis   59. Menutup Mata Dan Memaafkan

    Celine tersentak, tersadar dari lamunannya. Dia melihat punggung Andreas yang semakin jauh di ujung koridor hotel. Dengan tergesa-gesa, dia mengejarnya. Langkah kakinya terdengar berdebum pelan di atas karpet tebal.“Andreas!” serunya, suaranya gemetar.Andreas tetap berjalan tanpa menoleh, namun tubuhnya menegang saat Celine menggenggam pergelangan tangannya. Ia berhenti, tapi tidak langsung berbalik.“Kamu mau ke mana?” tanya Celine, suaranya memohon, hampir putus asa. Matanya yang berkaca-kaca menatap punggung pria itu.Andreas menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik. Wajahnya dingin, matanya tajam seperti pisau. “Mau balik. Saya harus temui Abex dan mencari Serena,” jawabnya dengan nada rendah tapi tegas, seolah tidak ingin ada diskusi lebih lanjut.“J-jangan pergi,” pinta Celine sambil menggenggam tangannya lebih erat. “T-tidak ada yang menemaniku di sini.”Andreas mendengus, tawa pendek yang lebih terdengar seperti ejekan. Dia menatap Celine dengan tatapan sinis. “Tidak

  • Memar Termanis   58. Dia Adalah Serena

    📍J&T Entertainment-Ruangan Presiden Direktur-Elisabeth membuka pintu ruangan dengan gerakan cepat, langkahnya penuh tekad saat memasuki ruang kerja suaminya. Suara hak sepatu yang menghantam lantai terdengar nyaring, mengisi keheningan di ruangan itu. Matanya tajam, seperti ingin menembus setiap rahasia yang tersembunyi di balik wajah tenang Nicholas.Nicholas mendongak dari berkas-berkas di mejanya, lalu bersandar santai di kursi, menatap istrinya dengan sikap tenang. “Ada apa, Elisabeth?” tanyanya dengan suara datar, meski sorot matanya meneliti ekspresi di wajah wanita itu.Elisabeth berdiri tegak di depan meja, kedua tangannya mengepal, menggenggam emosi yang hampir meledak. “Sudah dua hari aku menunggu kamu mengatakannya sendiri,” ucapnya, suaranya tajam. “Tapi sepertinya kamu tidak berniat untuk mengakuinya, Nicholas.”Nicholas menarik napas dalam-dalam. Tanpa berkata apa-apa, dia berdiri perlahan dari kursinya dan berjalan mendekati Elisabeth. Sorot matanya kini serius, ta

  • Memar Termanis   57. Flashback On: Akhir Yang Tragis

    Satu minggu berlalu. Suasana rumah terasa sepi, hanya terdengar suara angin yang sesekali menggesek jendela kayu. Clara duduk di sofa kecil yang mulai memudar warnanya, tubuhnya tenggelam dalam keheningan. Matanya menatap kosong ke arah lantai, seolah mencoba mencari sesuatu yang hilang di dalam pikirannya. Langkah-langkah ringan terdengar dari belakang, dan suara Andreas memecah keheningan. “Ce,” panggil Andreas dengan nada ceria. Clara mengangkat wajahnya perlahan, matanya lelah. “Ada apa, Andreas?” tanyanya singkat, tanpa banyak ekspresi. Andreas tersenyum lebar, wajahnya polos dan penuh semangat seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. “Aku berhasil menemukan alamat rumah Jexon,” katanya antusias. “Aku akan ke sana. Aku harus bicara dengannya!” Kata-kata Andreas seperti pisau yang menusuk hati Clara. Ia mencoba mempertahankan senyumnya, meski dalam hatinya ia merasa hancur. Andreas tampak begitu bersemangat, namun kabar tentang Jexon justru membuat Clara semakin

  • Memar Termanis   56. Flashback On: Keinginanku

    Flashback OnMalam itu, udara dingin menyelimuti kota kecil di China. Clara duduk di ruang tamu sebuah rumah sederhana yang mereka sewa sementara. Perutnya yang besar tampak jelas di balik sweater tebal yang ia kenakan. Andreas berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan sorot mata khawatir yang sulit disembunyikan.“Ce, aku mohon… jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus istirahat.” Andreas berjalan mendekat, suaranya lirih namun penuh tekanan, tangannya terulur seolah ingin menenangkan wanita di hadapannya.Clara mendongak, tatapannya tajam meskipun terlihat lelah. “Aku tidak bisa, Andreas. Kita sudah sampai sejauh ini. Aku akan menemui Jexon dan mengatakan kepadanya, kalau aku sudah menjaga kandungan ini.”Andreas menghela napas panjang, menatap wanita yang kini begitu bertekad. “Tapi cece tidak bisa terus begini, ce. Apa cece pikir Jexon akan langsung berubah hanya karena cece memberitahunya soal anak ini?”“Pasti,” Clara memotong, matanya berkaca-kaca namun penuh keyakinan. “Di

  • Memar Termanis   55. Ingatan Yang Kembali

    Deringan telepon memecah keheningan dalam kamar mewah yang diterangi cahaya senja dari balik tirai tipis. Andreas mengerjapkan matanya perlahan, mengangkat kepala dari bantal empuk, sementara tangannya yang lain tetap menjadi sandaran untuk kepala Celine. Rambut panjang wanita itu menyebar di atas dadanya, dan tubuh mereka hanya terbungkus selimut putih tebal.Dia meraba-raba meja nakas tanpa banyak gerakan, khawatir membangunkan wanita di sampingnya. Setelah menemukan ponselnya, ia menggeser layar dengan satu gerakan malas.“In calling.”“Hm?” sahut Andreas singkat, suaranya berat, masih diselimuti kantuk.Suara seorang pria terdengar di ujung telepon, tenang tetapi penuh tekanan. “Lampu itu sudah saya kendorkan. Itu jatuh tepat di kepala Paula. Tapi… seseorang mendorongnya. Dia selamat, dan kecelakaan malah menimpa orang lain.”Andreas memijat keningnya, mendengar detail tersebut dengan mata yang kini terbuka lebar. “Tidak masalah,” jawabnya dingin. “Ini lebih dari cukup untuk memb

  • Memar Termanis   54. Teror Yang Terus Berdatangan

    📍J&T EntertainmentLangkahnya terhenti tepat di depan Paula. Wanita muda itu juga berhenti, pandangan mereka bertemu untuk sesaat sebelum Paula mengalihkan wajahnya ke arah lain.“Jexon, ayo!” Valentine memanggilnya dari kejauhan, suaranya tajam seperti pisau yang memotong udara.“Duluan aja.” Jexon menjawab tanpa menoleh. Nadanya datar, seolah tak ingin diganggu.Valentine menghela napas, wajahnya mulai memerah karena kesal. Tatapannya tajam menyorot Paula, yang tanpa sepatah kata memilih berjalan menjauh ke arah kanan. Namun, Jexon tak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan langkah cepat, hampir seperti berlari kecil, dia mengejar Paula.“Paula,” panggilnya seraya meraih pergelangan tangan wanita muda itu. Genggamannya kuat, memastikan Paula tak bisa melangkah lebih jauh.Paula menghentikan langkahnya, tetapi tidak berbalik. Tatapannya tetap lurus ke depan, menghindari Jexon.“Saya mau bicara sama kamu. Ini penting,” ujar Jexon tegas, nada suaranya lebih serius dari biasanya.Per

I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status