Share

Bab 5

Author: Amrita
Nadya turun dari motor modifikasi sambil menenteng kantong kertas.

Melihat wanita yang mengenakan celana yoga ketat, mata satpam itu langsung terbelalak.

Nadya dengan santai mengibaskan rambut panjangnya yang terurai, menyapa satpam itu, lalu masuk ke dalam taman kanak-kanak.

Dia sudah mencari tahu sebelumnya kelas tempat Jojo belajar. Begitu melihat wali kelasnya, Nadya tersenyum dan mendekat.

"Halo, aku bawakan permen karet untuk Jojo. Aku dengar permen yang dia bawa sangat disukai anak-anak lain."

Wali kelas itu menatap Nadya. "Jadi, Anda yang menyuruh Jojo membawa permen itu ke sekolah?"

Nadya tersenyum lebar. "Ya! permen karet ini buatan temanku, bahan dasarnya berkualitas tinggi ...."

"Jadi ini ulahmu! Anakku hampir mati tersedak gara-gara permen itu!!"

Teriakan keras meledak dari belakang Nadya. Begitu dia berbalik, sebuah tamparan mendarat tepat di wajahnya.

Pandangan Nadya langsung berputar, kepalanya pening.

"Kenapa kamu main tangan?!"

"Memang kamu pantas ditampar, dasar pembawa sial!"

Nadya bukan tipe orang yang bisa dipermainkan begitu saja. Dia menjilat bibirnya yang berdarah, lalu langsung melawan para orang tua murid yang menyerangnya.

....

Saat jam pulang sekolah, Wanda datang menjemput Sasha dan mendengar anaknya menceritakan dengan penuh semangat bagaimana Nadya dipukul.

Nadya dihajar habis-habisan. Jojo ingin membantunya, tetapi Sasha menarik kerah baju Jojo dan menyeretnya pergi.

Dengan wajah babak belur, Nadya membawa Jojo untuk mengajukan izin pulang lebih awal pada guru.

Orang tua murid lainnya langsung mengenali Nadya dan melontarkan kata-kata kasar padanya. Sasha tidak paham apa yang mereka katakan, namun jelas kata-kata itu terdengar sangat buruk.

Sasha duduk di kursi anak-anak, menatap ke luar jendela, melihat pemandangan jalanan yang sudah akrab baginya.

"Mama, kita mau pulang ke rumah?"

Cahaya di mata Sasha langsung redup.

Wanda menjawab, "Ini terakhir kalinya kita pergi ke rumah keluarga Ferdian."

....

"Bu Wanda, Non Sasha, kalian sudah pulang!"

Melihat Wanda, Bu Warti merasa lega.

Wanda baru satu hari satu malam meninggalkan rumah keluarga Ferdian, tetapi para pelayan di sana sudah kewalahan.

Wanda berkata, "Aku dan Sasha pulang untuk beres-beres."

Bu Warti tidak banyak bertanya, hanya mengingatkan, "Nona Nadya ada di rumah."

Wanda menggandeng tangan Sasha dan masuk ke ruang tamu. Begitu masuk, dia mendengar Nadya sedang memaki.

"Dasar perempuan-perempuan gendut sialan itu, aku malas saja meladeni mereka! Kalau aku benar-benar melawan, aku bisa bikin organ dalam mereka hancur lebur! Ah! Harvey, pelan-pelan dong!"

Nadya duduk di sofa, sementara Harvey sedang mengobatinya dengan kapas obat.

Jojo bertanya dengan cemas, "Kak Nadya, sakit nggak?"

"Kulitku tebal, nggak sakit! Aih! Harvey, jangan kasar begitu!"

Nadya meringis, lalu mengangkat kakinya, hendak menendang paha Harvey.

Pria itu mendengus pelan. "Duduk yang benar!"

Melihat wajah Nadya penuh luka, Jojo merasa makin bersalah.

"Ini semua salahku, aku yang bikin Kak Nadya terluka."

Jojo menggembungkan pipinya sambil menunduk.

Dia mendongak dan mengintip wajah Harvey dengan hati-hati.

Dulu, saat ibunya terkena air panas atau jarinya teriris pisau saat memotong buah, Harvey tidak pernah peduli, apalagi membantunya membalut luka.

Namun sekarang, begitu Nadya terluka, Harvey langsung menggulung lengan bajunya, dengan telaten mengobati wanita itu.

Dalam hati dan pikirannya, hanya Nadya yang paling penting.

Jojo menoleh dan melihat Wanda serta Sasha masuk.

"Hmph!"

Begitu melihat mereka, Jojo langsung cemberut dan membuang muka, malas berurusan dengan mereka.

Nadya bertumpu dengan kedua tangannya di belakang, lalu bersandar sedikit ke arah Harvey, memperkecil jarak di antara mereka.

"Kak Wanda, akhirnya kamu mau pulang juga." Suaranya terdengar sinis.

Harvey sama sekali tidak melirik Wanda dan hanya berkata, "Baju Nadya kotor, ambilkan beberapa pakaian baru untuknya dari ruang pakaian."

Dalam pandangan dan pikirannya, hanya ada Nadya.

Wanda mengabaikan kata-katanya dan langsung menggandeng Sasha naik ke lantai atas.

Pada hari pernikahan mereka, dia percaya pada janji Harvey yang akan menjaganya seumur hidup. Dia sempat berpikir bahwa pria itu benar-benar mencintainya.

Sejak Jojo dan Sasha lahir, mereka tidur di kamar terpisah. Mertuanya berpesan agar dia memahami situasi, mengutamakan anak-anak, dan tidak mengganggu Harvey yang sibuk bekerja.

Suatu hari, saat mengantarkan sup jamur untuknya, dia mendengar Harvey sedang berbicara di telepon,

"Kami sudah lama tidur terpisah. Mana aku tahu dia mengorok atau nggak."

Lalu terdengar suara tawa lepas Nadya dari telepon.

Wanda diam-diam meletakkan sup itu di meja dan keluar dari kamar.

"Dia terlalu lengket, nggak capek, ya? Kadang dia menyebalkan banget."

Sejak hari itu, Wanda hanya fokus pada anak-anaknya.

...

Setelah Wanda menghilang di lantai dua, Nadya berkata, "Sepertinya dia nggak senang. Dia masih marah padaku, ya?"

Harvey tetap serius mengobati lukanya. "Nggak usah pedulikan dia."

Dia tahu Wanda tidak akan tahan lebih dari sehari semalam di rumah orang tuanya.

Begitu Nadya pergi, Wanda pasti akan kembali merendahkan diri, berusaha menyenangkannya lagi.

Jojo berdiri di samping dengan wajah cemberut sambil menggerutu. "Ini semua gara-gara Sasha! Kalau saja dia nggak menahan aku, aku pasti sudah bisa melindungi Kak Nadya!"

Nadya mengulurkan tangan dan menarik Jojo ke dalam pelukannya.

"Jojo hanya belum tumbuh besar saja. Tapi di mata Kak Nadya, kamu sama hebatnya seperti ayahmu, seorang pria tangguh!"

Mendengar dirinya disejajarkan dengan Harvey, Jojo menggigit bibirnya, matanya perlahan dipenuhi senyuman.

Tatapannya pada Harvey pun makin penuh dengan kekaguman.

Tak lama kemudian, Wanda dan Sasha turun ke bawah.

Wanda membawa koper berukuran 28 inci, sementara Sasha membantu mengangkat bagian roda belakangnya.

Sasha memang terlahir dengan tenaga besar, tetapi agar pertumbuhannya tetap sehat, Wanda tidak pernah membiarkannya mengangkat barang yang lebih berat dari tubuhnya sendiri.

Di bahunya tergantung sebuah ransel kecil, dan di tangannya dia memeluk boneka beruang.

Nadya terkejut dan berseru, "Kak Wanda, bawa koper sebesar ini, mau pergi ke mana?"

Tatapan Harvey jatuh pada koper di tangan Wanda, matanya yang dalam kini telah membeku dengan dingin.

"Kamu sedang cari masalah lagi?"

Wanda meletakkan kopernya di lantai sambil terengah-engah.

Dengan susah payah, dia melepaskan cincin kawinnya dan meletakkannya di atas meja di depan Harvey.

Sekilas, matanya menangkap jari tangan pria itu yang panjang dan halus bak pahatan giok, seputih dan sesempurna itu. Tujuh tahun menikah, tetapi Harvey tak pernah sekalipun memakai cincin kawinnya.

Sementara itu, seiring waktu berlalu, berat badan Wanda bertambah, meninggalkan bekas cincin di jari manisnya yang sulit hilang.

Alis tajam Harvey terangkat sedikit, napasnya begitu dingin, seakan bisa membeku.

"Wanda, cukup!"

Pulang ke rumah orang tua, melepas cincin kawin, tingkah kekanak-kanakan macam apa ini!

Pandangan Wanda jatuh pada pergelangan tangan Harvey, lalu bergeser ke pergelangan tangan Nadya.

Dia tertawa pelan. "Jadi sekarang sudah pakai jam tangan pasangan, ya?"

Barulah Harvey melirik ke pergelangan tangan Nadya, melihat jam tangan wanita yang sama persis dengan miliknya.

"Kak Wanda! Walaupun ini jam tangan pasangan, maknanya berbeda! Aku dan Harvey memakai ini sebagai jam tangan persaudaraan!"

Nadya mendengus tak terima. "Aku dan Harvey sudah seperti saudara sejak kecil, apa salahnya pakai jam tangan yang sama?"

"Ah, benar!" Nadya tiba-tiba teringat sesuatu dan mengambil sebuah kotak persegi dari ransel olahraganya.

"Harvey tahu kamu sedang marah, jadi dia sengaja memintaku memilihkan hadiah untukmu. Kak Wanda, terimalah hadiah ini, lupakan saja insiden di pesta ulang tahun itu!"

Nadya membuka sebuah kotak beludru, memperlihatkan isinya pada Wanda. Sebuah kalung dengan liontin semanggi berdaun empat yang tampak kasar dan tidak terlalu rapi buatannya.

Dia memiringkan kepala dengan wajah polos, membiarkan Wanda melihat bahwa di lehernya juga tergantung kalung yang sama. Hanya saja, miliknya adalah versi asli yang mahal dan jauh lebih indah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 6

    Pikiran Wanda kosong seketika, seakan ada gelombang besar datang menghantamnya, merobek tubuhnya, membangkitkan kemarahan dan rasa terhina dalam dirinya.Dengan ekspresi datar, dia mengulurkan tangan, mengambil kalung itu.Mata Nadya tiba-tiba berbinar, kilatan sinis menari di dalamnya.Harvey bersandar di sofa, mengalihkan pandangannya. Wanda tidak ubahnya seperti seekor anjing, baru saja diabaikan, tetapi begitu dipanggil dengan satu gerakan jari, dia langsung mengibas-ngibaskan ekornya.Dengan menggunakan satu jarinya, Wanda menarik kalung dari leher Nadya.Dia meletakkan kedua kalung itu berdampingan."Nadya, kalung di lehermu ini, kualitas kerang mutiaranya lebih baik. Aku tukar denganmu, ya. Gimana menurutmu?"Jika dia langsung menunjuk bahwa ini adalah barang palsu, Nadya pasti bisa menciptakan banyak alasan untuk menghindari tanggung jawab.Dia ingin membuat Nadya menelan kekalahan tanpa sadar.Kalung tipis itu menjerat tengkuk Nadya.Nadya jelas terkejut. Awalnya, dia justru m

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 7

    Wanda menyodorkan pulpen pada Harvey untuk tanda tangan.Nadya membuka matanya lebar-lebar, tak bisa menyembunyikan harapannya.Melihat Harvey menandatangani surat cerai itu, Nadya diam-diam merasa senang."Kak Wanda, kamu terlalu berlebihan! Kalau aku punya suami seperti Harvey, mungkin tiap malam aku akan tertawa dalam mimpi."Wanda menatapnya sambil tersenyum sinis. "Lihat tuh mukamu, kayaknya sudah nggak sabar banget."Harvey melemparkan surat cerai yang sudah ditandatanganinya ke Wanda."Boleh saja ribut, tapi kenapa kamu malah menyerang Nadya?"Dia tidak ingin meladeni Wanda lebih lanjut. Suaranya melembut saat dia berkata pada Sasha, "Kalau kamu mau pulang, kapan saja bisa telepon Papa."Sasha menoleh ke arah Harvey tanpa berkata apa-apa, hanya menggenggam tangan Wanda dengan erat.Pandangan pria itu dingin dan tidak peduli saat melihat Wanda."Sasha adalah anakku, dia bisa pulang kapan saja, tapi kalau kamu yang ingin kembali ... nggak akan semudah itu!"Harvey duduk seperti de

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 8

    Kata-kata Nadya sangat menggoda, Jojo pun merasa bingung."Tapi, kalau cuma buat kerajinan yang sederhana kayak begini, aku nggak mungkin dapat bunga merah kecil.""Aku akan belikan banyak sekali bunga merah kecil di internet, dan aku kirim buat kamu! Jadi nanti kamu punya banyak bunga merah kecil!"Jojo menatapnya seperti melihat orang bodoh."Kak Nadya, kamu biasa keluar pakai barang palsu, ya?"Nadya langsung membantah, "Aku nggak pernah pakai barang palsu!"Jojo menaikkan volume suaranya. "Kamu mau aku bawa bunga merah kecil yang kamu beli itu ke sekolah, terus bikin aku diejek sama teman-teman? Bunga merah yang asli itu cuma yang dikasih sama Bu Guru!""Kamu pernah dengar cerita tentang 'Pakaian Baru Sang Raja'?"Jojo mendengus kesal. "Menipu diri sendiri!"Ditegur oleh seorang anak berumur lima tahun, wajah Nadya jadi merah padam menahan malu."Oke, oke, aku bantu kamu bikin benteng luar angkasa itu."Jika Wanda bisa membangun benteng luar angkasa dengan sedotan plastik, kenapa d

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 9

    Sasha tidak terima dan berkata, "Benteng luar angkasa itu dibuat sama Mama yang bergadang semalaman untukmu!""Benteng luar angkasa buatan Mama itu cuma sampah, sudah hancur! Kak Nadya buatkan aku yang baru, itu yang terbaik!"Jojo tampak bangga, sementara Sasha mengepalkan tinjunya dengan erat.Mereka berdua sudah pernah melihat, Mama yang bergadang membantu mereka mengerjakan tugas. Kenapa Jojo harus memperlakukan usaha Mama seperti itu?Sebenarnya, Wanda juga tidak ingin dirinya harus begitu menderita.Dia membayar dan meminta pembantu untuk bekerja lembur membantu Jojo dan Sasha mengerjakan tugas, namun malah dilaporkan ke ibu mertuanya."Menikahi gadis genius dari Institut Teknologi Mandala, bukankah tujuannya agar kamu bisa membimbing pewaris keluarga Ferdian dengan sepenuh hati?""Wanda, masa depan Jojo adalah karier seumur hidupmu. Bagaimana bisa kamu menyerahkan tugas Jojo pada pembantu?"Pembantu sudah waktunya pulang, tapi sebagai ibu, dia harus terus bekerja lembur untuk me

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 10

    Orang yang membuatkan benteng luar angkasa untuk Nadya sudah memberitahunya.Benteng luar angkasa yang besar itu bisa dengan mudah hancur saat kotaknya dibuka. Orang itu berpesan agar Nadya berhati-hati dalam menangani kotak ini. Jika rusak, risikonya harus ditanggung sendiri.Jojo mengangguk, dia sangat memercayai Nadya.Bu Sonya berkata dengan tegas, "Nona Nadya, kamu nggak bisa begitu! Hasil karya Jojo belum melalui pemilihan, tapi sudah mendapatkan kesempatan tampil di atas panggung, ini nggak adil bagi anak-anak lain!"Nadya tersenyum tanpa peduli. "Tahu nggak kalau Ibu Mitha Ferdian adalah anggota dewan sekolah di taman kanak-kanak ini? Tahu nggak kalau ayah Jojo akan datang ke aula hari ini untuk mendengarkan pidato Jojo?"Mata Jojo langsung bersinar. "Ayahku akan datang ke sini?"Sasha duduk di tempatnya, mendengar perkataan Jojo. Jantungnya berdetak kencang, matanya pun bersinar."Papa yang sibuk itu, kenapa bisa datang ke sekolah?" tanya Jojo tidak percaya.Nadya menjawab den

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 11

    Wanda menatap Harvey, pandangannya terpaku.Sepertinya matahari terbit dari barat. Dulu dia sudah beberapa kali mencoba meminta Harvey datang ke sekolah untuk ikut kegiatan orang tua dan anak.Harvey selalu bilang tidak ada waktu.Mertuanya juga sempat menegurnya, katanya jangan merepotkan Harvey hanya untuk acara-acara seperti itu.Mendidik anak dan menangani semua urusan anak adalah tanggung jawab Wanda sebagai istri Harvey.Seketika, Nadya dan Harvey sampai di depan Wanda."Kak Wanda, aku bawa Harvey datang."Melihat Wanda yang menatapnya dengan pandangan kosong, pria itu merasa geli.Bagaimana mungkin Wanda tidak mencintainya?Tatapan matanya jelas masih penuh dengan cinta!Harvey duduk di samping Wanda, sementara Nadya duduk di sisi lain Harvey.Para wanita kaya yang hadir langsung melirik ke arah mereka, dan beberapa bahkan sudah bersiap menikmati drama yang sedang berlangsung."Tunggu sebentar, Jojo akan menunjukkan hasil karya kerajinan tangannya, pasti akan mengejutkanmu!"Nad

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 12

    "Jojo, cepat keluarkan benteng luar angkasa itu!"Nadya mengulurkan tangannya, tetapi Jojo segera menutup kotak kardus itu. Dia gelisah dan menggelengkan kepala ke arah Nadya."Nggak boleh! Jangan dikeluarkan.""Keluarkan sekarang!" Nadya berkata dengan pelan tapi tajam. "Aku sudah susah payah membuatkanmu benteng luar angkasa ini, jangan disembunyikan begitu, dong. Memalukan, tahu!"Jojo bahkan menekan tubuhnya di atas kotak itu, tidak membiarkan Nadya membuka kotak tersebut.Nadya mencoba menarik Jojo, tapi Jojo berpegangan erat pada kotak kardus.Tiba-tiba, kotak kardus terbalik.Semua sedotan plastik di dalamnya berhamburan keluar.Bersamaan dengan sedotan itu, ada juga selembar kertas catatan berwarna merah muda yang terjatuh.Tulisan di kertas catatan itu terekam di kamera dan ditayangkan di layar besar.Isi tulisan itu: [Bayar cuma 600 ribu, mau orang lain bergadang buat bikin benteng luar angkasa? Mimpi saja!]Jojo terduduk lemas di lantai, menatap satu per satu sedotan plastik

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 13

    Nadya cepat-cepat menutup mulut Jojo."Apa gunanya mencari mamamu? Apa dia bisa membuatmu jadi juara pertama?"Jojo terisak, dengan air mata berlinangan dia memandang ke arah Sasha.Hasil karya Sasha terpilih sebagai salah satu karya terbaik. Sekarang dia sedang mengantre di sisi panggung, menunggu gilirannya untuk tampil."Mama pasti bisa membuat Sasha jadi juara pertama!"Nadya tersenyum sinis. "Sasha nggak akan bisa jadi juara pertama!"Jojo memandang Nadya dengan mata berkaca-kaca."Apa kamu nggak percaya?"Nadya memegang bahu Jojo dengan lembut. "Lihat saja nanti!"Di samping Sasha ada kantong plastik besar, di dalamnya ada karya kerajinan tangannya.Sambil tersenyum licik, Nadya melangkah mendekat, lalu diam-diam menginjak plastik itu tanpa meninggalkan jejak.Sasha melirik Nadya dari ekor matanya. Dia jauh lebih pendek dari Nadya, tetapi dengan gerakan secepat kilat, dia mencengkeram pergelangan kaki Nadya.Dalam satu hentakan keras, Nadya langsung terjungkal."Ahhh!!" Nadya ter

Latest chapter

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 50

    "Andre, kamu!" Nadya yang ada di sana berseru tidak percaya.Matanya berputar, lalu dia tersenyum dan bertanya, "Kamu tertarik pada kakakku sebagai pribadi, atau tertarik karena dia adalah istri Harvey?""Kak Wanda dan Kak Harvey masih dalam proses bercerai. Apa kamu pikir ini kesempatanmu untuk menikmati hubungan gelap tanpa takut banyak disalahkan?"Nadya tampak seolah-olah sudah melihat isi hati Andre.Saat itu, seluruh ruang rawat seperti ruang pendingin. Tekanan dari tubuh Harvey membuat Jojo sampai gemetar.Mata Andre yang seperti lukisan tinta tipis, diselimuti hawa dingin."Kamu habis dari pameran lukisan ya? Soalnya wajahmu penuh warna banget."Nadya, "Aku ....""Luar biasa, masih ada yang berani mengeluarkan isi hatinya dengan jujur."Wajah Nadya memucat. Dia membalas dengan malu, "Kamu bicarakan dirimu sendiri, ya!""Kamu paling paham, ya?" Andre tersenyum memandang Harvey. "Kamu terus bersama perempuan seperti ini, nggak heran kalau Wanda mau cerai sama kamu."Andre berkata

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 49

    Sasha terpaku di tempat, seluruh dirinya bingung. Jiwanya yang kecil terguncang hebat.Apakah dia yang salah?Kalau saja dia menurut dan ikut Ayah kembali ke keluarga Ferdian, Om Andre pasti tidak akan terluka.Tetapi, orang yang menembakkan anak panah ke arahnya adalah Jojo, yang memiliki darah yang sama dengannya.Padahal mereka dulu sangat akrab.Lambat laun, karena perbedaan fisik, sikap Jojo padanya makin buruk.Dia menyadari, di keluarga Ferdian, hanya Mama yang memperlakukan dia dan Jojo dengan adil. Papa pun lebih memihak Jojo."Jojo! Meskipun kamu minta maaf, aku tetap nggak akan maafkan kamu!" Sasha berteriak.Dia bertanya pada Harvey, "Papa, boleh nggak ... aku berhenti jadi anak Papa? Gimana caranya supaya aku bisa nggak kembali ke keluarga Ferdian selamanya?"Dia ingin melepaskan diri dari belenggu, tetapi dia tidak tahu harus bagaimana.Wajah Harvey seolah-olah dibekukan oleh es setebal 90 cm."Sasha Ferdian! Nama belakangmu Ferdian! Kamu selamanya tetap anakku! Bagian da

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 48

    Jojo ketakutan sampai matanya berkaca-kaca karena aura mengerikan dari Harvey.Nadya buru-buru menenangkan. "Jojo, kamu dan Sasha itu kakak-adik kandung, Sasha pasti akan maafkan kamu!"Nadya menoleh ke arah Harvey, nadanya santai sambil menggoda. "Aku selalu merasa Andre itu mukanya ramah, tapi kepribadiannya lebih dingin dari kamu. Dia sampai rela berkorban demi orang lain, langka banget ya ...."Nadya memperpanjang nada akhirnya, lalu berkata lagi, "Tadi aku lihat Kak Wanda turun dari mobilnya Andre. Sejak kapan mereka sedekat itu?""Eh! Harvey, tunggu aku!"Nadya melihat Harvey berbalik pergi, jelas-jelas tidak mendengarkan omongannya.Dia buru-buru mengejar pria itu.....Di rumah sakit, Andre dibawa masuk ke ruang operasi.Dia menelungkup di atas meja operasi, lalu berkata pada dokter bedah utama, "Tambahkan dua nol di tagihan operasiku, biar nanti aku tagih ke Harvey si kulit kerang!"Dokter bedah itu kenal baik dengannya. Sambil membuka pakaiannya dengan pisau bedah, dia menggo

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 47

    Andre mengeluh, "Kalau harus tunggu ambulans, darahku bisa habis duluan. Pak Harvey, kamu mau lihat aku mati, ya!"Situasi Andre gawat, Wanda tidak mau lagi berdebat dengan Nadya."Turun! Jangan banyak omong, nggak usah cerewet!""Kalau sampai kecelakaan ...."Kalimat Nadya belum selesai, tiba-tiba dia merasa ada tekanan tak kasatmata menyelimuti seluruh tubuhnya. Saat tatapannya bertemu dengan Wanda, bulu kuduknya langsung berdiri. Duduk di atas motor, dia nyaris tidak bisa berdiri tegak.Nadya belum pernah merasakan aura semengerikan itu dari Wanda.Hatinya terasa waswas."Kak Wanda, aku sarankan kamu jangan nekat.""Cengeng banget. Itu bukan gaya kamu, Nadya!"Nadya manyun. Kalau Wanda mau cari mati, dia tidak melarang. Semoga sekalian jatuh menelungkup, hidung dan gigi remuk semua!Nadya turun dari motor.Wanda mengulurkan tangan padanya, "Kasih aku kunci motornya."Nadya melempar kunci begitu saja, Wanda menangkapnya dengan mantap.Wanda berkata pada Fabian, "Kak, tolong antar Sas

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 46

    "Andre!!" Wanda berseru kaget.Sasha yang dipeluk Andre belum menyadari apa yang baru saja terjadi.Andre bertanya dengan cemas, "Sasha, kamu terluka nggak?"Sasha menatap Andre dengan mata bulat bening, lalu menggeleng pelan.Dia bangkit dari tanah, dan baru sadar ada anak panah logam di punggung Andre.Mata Sasha membelalak, dia menarik napas dingin.Dia menoleh dan melihat Jojo di kejauhan yang secara refleks menyembunyikan busur mekanik di belakang tubuhnya.Sasha mengenali anak panah itu. Itu yang diberikan Nadya pada Jojo!Harvey juga tidak menyangka Jojo akan melakukan hal seperti itu. Wajahnya seolah-olah membeku oleh hawa dingin.Dibandingkan fakta bahwa putranya melukai orang, dia lebih terguncang oleh tindakan nekat Andre yang melindungi Sasha.Kedua tangan Harvey mengepal kuat."Jojo, ke sini kamu!"Jojo langsung gemetar. Dia ketakutan. "Aku cuma mau bantu Papa. Sasha nggak mau nurut!"Sasha menatap Jojo. Bahunya bergetar. Jojo sekarang terasa begitu asing baginya.Harvey m

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 45

    Di depan pintu kelas, belasan pengawal mengepung Fabian. Harvey berdiri di bawah tangga, auranya kuat dan menekan. Dia menatap Fabian seakan-akan dewa yang tinggi di langit sedang memandang semut di kakinya."Sasha, ke sini, ikut Papa pulang!"Nada suara Harvey penuh paksaan. Saat Sasha melangkah ke arah Fabian, dia sudah kehilangan kesabaran terhadap putrinya.Sasha menggeleng pada Harvey, "Aku mau pulang sama Om Fabian."Harvey tertawa dingin. "Dia bisa bawa kamu ke mana? Apa dia punya rumah? Sasha, kalau kamu ikut dia, kamu cuma akan tidur di jalan!""Sasha!" suara Wanda terdengar.Sasha melihat Wanda dan melambaikan tangan dengan gembira.Dia dan Fabian masih dikepung pengawal yang dibawa Harvey, jadi dia belum bisa menghampiri Wanda."Mama!"Wanda merasa sedih sekaligus bersalah. "Maaf ya, Mama ada urusan mendesak. Sasha, Mama janji, mulai sekarang Mama nggak akan pernah biarkan kamu menunggu di TK sendirian lagi."Sasha mengerti. "Aku tahu, Mama punya urusan penting. Urusan itu b

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 44

    Setelah tujuh tahun berlalu, Wanda kembali duduk di kursi pengemudi Corona.Seolah-olah jutaan sel dalam tubuhnya hidup kembali, bangkit seiring deru mesin yang menggelegar.Tubuh Wanda bergetar halus. Dia bisa mendengar detak jantungnya yang mengentak hebat. Dia merasa seperti hidup kembali!Andre duduk di kursi penumpang, menikmati entakan cepat dan kuat saat mobil melaju kencang.Hari ini, Corona berbeda dari biasanya. Di tangan Wanda, mobil itu kembali hidup."Mau ngebut sepuasnya juga nggak apa-apa. Kalau kena tilang, biar aku yang bayar."Wanda menekan gejolak dalam hatinya. "Nggak perlu, kalau ditilang karena ngebut, SIM-ku yang bakal kena poin."Corona melesat di jalan raya, suara raungannya membuat para pejalan kaki menoleh."Barusan itu apa yang lewat?""Burung walet ya? Sekejap saja langsung lewat di depan mukaku.""Musim begini mana ada burung walet! Menurutku, itu setan!"Para pejalan kaki di sisi jalan mulai ramai berdiskusi.Di jalan, Wanda kembali berpapasan dengan seke

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 43

    Jojo tidak tahan untuk mengeluh."Jojo!"Suara Nadya terdengar, dan Jojo langsung melesat pergi."Kak Nadya! Kok kamu telat!""Karena aku pergi belikan ini buat kamu!"Nadya mengeluarkan sebuah busur panah mekanik dari belakang punggungnya."Wah!" Mata Jojo langsung berbinar melihat busur panah mekanik berwarna hitam pekat itu.Nadya sangat puas. Dia tahu Jojo menyukai benda-benda seperti ini, sementara Wanda bahkan tidak mengizinkan Jojo menyentuh busur panah mekanik."Dengan busur mekanik ini, kamu pasti terlihat gagah, 'kan!"Jojo tidak sabar mengambil busur itu, lalu bergaya memanah dengan keren."Kak Nadya, anak panahnya mana! Kasih aku anak panahnya!"Nadya memberinya satu ember anak panah logam yang runcing dan indah.Jojo begitu menyukai anak panah logam yang dingin itu, tidak bisa melepaskannya dari tangan. "Akhirnya bukan panah plastik lagi! Kak Nadya, aku benar-benar suka banget sama kamu!""Anak laki-laki memang harus bermain dengan busur dan anak panah asli yang punya daya

  • Melepas Cinta, Menggapai Diri   Bab 42

    Wanda duduk di kursi penumpang depan. Tubuhnya terasa canggung dan tidak tahu harus bersikap seperti apa."Mobil ini ....""Tujuh tahun lalu, aku membelinya di lelang Christie's. Demi mendapatkan mobil ini, aku langsung 'menyalakan lentera langit.'"Yang dimaksud 'menyalakan lentera langit' adalah istilah dalam dunia lelang, artinya tidak peduli berapa pun harga yang ditawar orang lain, si penyalanya akan selalu menawar lebih tinggi.Menyalakan lentera langit berarti si pembeli sangat berambisi untuk mendapatkan barang lelang tersebut.Mobil balap "Corona" ini, pada lelang tujuh tahun lalu, mencetak rekor harga yang mengguncang dunia.Wanda tersenyum. "Ternyata kamu orang yang membelinya."Dia mengulurkan tangan, menyentuh bodi mobil itu dengan penuh nostalgia."Kamu tahu mobil ini dulunya adalah ...."Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Andre langsung menyambung,"Aku tahu, kamu pemilik pertama Corona."Dia bukan hanya tahu, dia juga pernah menyaksikan sendiri Wanda mengendarai

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status