Setelah tiga tahun pacaran, gue ditinggalin gitu aja di saat dia ketahuan selingkuh. Setelah susah payah gue berusaha move on, dia tiba-tiba datang dan terus aja ganggu kehidupan gue. Lebih tepatnya ganggu kehidupan percintaan gue! "Gue gak suka lo jalan sama dia" "Lo dimana? biar gue jemput! " Hellooo Ezra Darma Winanta yang selalu jadi juara satu, lo itu cuma mantan! MANTAN!!.
Voir pluscraaasss Gue merasakan dingin dari atas kepala gue. Dingin dan lengket, yang mengalir ke wajah gue. Gak langsung marah, gue membeku dan bertanya sendiri dalam hati situasi macam apa sekarang ini. "Gimana? Enak? Kaget ya?" Dilla membuka suara. "L-lo!! Maksud elo apa-apaan?!!" Belum sempat gue dapat penjelasan dari Dilla, temannya menyambar, "Astaga, kurang kali Dil.." Elisa berjalan menuju air pancur yang gak jauh dari kami berdiri. Dia lalu membawa air itu dengan cup minumannya yang sedikit besar. Byuurrrr Belum lagi cappucino tadi kering, kini sebagian tubuh gue terasa dingin dan basah kuyup. "Ahahah Rasain!" Mereka bertiga kompak tertawa. "Itu akibatnya karena lo udah bikin hancur hubungan gue dan Winanta!" Apa? Apa katanya? "Maksud lo apa?" walaupun kesal, tapi bukannya marah karena udah di siram, gue malah lebih penasaran apa maksud dari perkataan Dilla barusan. Maksudnya dia udah putus? "Lo lagi mikir apaan cewek j*lang! Jangan berpikir kalau kami ud
Aneh.. benar-benar aneh. Padahal Winanta dengar sendiri kalau ntar malam gue dan Farez mau keluar. Bahkan nanti malam, malam kamis. Yang seharusnya malam dimana orang yang pacaran yang keluar. Apalagi kami mau ke taman, tapi kenapa dia gak sibuk atau posesif kayak biasanya?. Jam istirahat udah mau selesai, tapi dia gak ada nyamperin gue untuk ngelarang. Bahkan tanda-tanda dia gelisah juga gak ada. Sebenarnya cowok satu itu kenapa sih? Kadang posesif nya minta ampun, tapi kadang juga cuek dan biasa aja. Heran gue. "Hei Vanessa!" ucap Kayla sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mata gue. "H-hah?" Spontan gue terbangun dari lamunan. "Lo kenapa? Kok ngelamun ke arah Winanta??" Ya, Gue ngelamun sambil liat ke arah Winanta yang lagi pesan jajan gak terlalu jauh di depan gue. "Hah? Apaan sih lo? siapa yang liatin dia coba?" "Heh Vanessa! Gue gak ada bilang yah kalau lo itu lagi liatin Winanta. Gue cuma nanya lo itu kenapa? Lagi ada masalah apa sampai-sampai ngelamun, ta
Winanta mulai menyalakan motornya dan berangkat sekolah. Di sisi lain, gue dan Farez udah sampai di depan gerbang sekolah. "Makasih ya Rez-" ucap gue tapi tiba-tiba gue merenung. "Iya, sama-sama." jawab Farez yang gak fokus gue dengar karena gue mikir hal lain. Entah kenapa pigi ke sekolah bareng cowok jadi ngingetin gue tentang Winanta. Dari awal masuk SMA, gue selalu pigi bareng Winanta. Bahkan sering pulang sekolah bareng juga. Jadi Farez cowok kedua setelah Winanta. "Vanessa?" Farez manggil gue sambil sedikit memiringkan kepalanya liat ke arah gue. Gue masih gak dengar. "Halo, Vanessa!" ucap Farez melambaikan tangan tepat di depan muka gue, sehingga gue sadar dari lamunan. "Eh! iyaa?" ucap gue. "Kamu lamunin apa?" tanya Farez. Gue diam sejenak. "Gak- gak ada kok.. bukan apa-apa." jawab gue. ".....yaudah, kalau gitu aku pigi ya- eh! enggak, kamu duluan sana masuk" ucap Farez. "Haha apaan sih. lo duluan juga gak apa-apa kali" "Gak.. " ucap Farez.
[Jadi gimana?] chat Farez masuk ke ponsel gue tepat setelah gue mau rebahan sehabis mandi. "Astaga.. nih anak" gumam gue. [Buset.. di bilang ntar gue kabarin gak sabar bener lo], balasan chat gue. Dan seperti biasanya, Farez fast respon, [Wkwkwk ganggu banget ya?] -Farez [Iya, tuh lo tau. amat, sangat dan begitu mengganggu wkwk] -gue [Yaudah gak masalah sih kalau lo mau anter gue] -gue [Serius?] -Farez [Iya, ngapain harus di pikirin lagi?] -gue [Jadi kenapa gak dari awal jawabnya pas aku tanya Vanessaaa 😭] -Farez "Ahaha apaan sih nih cowok.. pake emot nangis segala" ucap gue terkekeh dengan spontan. [Suka suka saya dong] -gue [Yaudah deh, berarti fix nih kan kita besok pigi bareng?] -Farez [Iya] [Eh, tapi Lo mau jam berapa ke rumah gue?]-gue [Kalau jam tujuh lewat lima belas gimana? terlau cepat ya? ] -Farez [Oh, yaudah jam segitu aja gpp. Biar lo gak telat ntar] -gue (*masuk sekolah jam tujuh lewat empat puluh) ******* "Eh? kok kamu udah s
Tanpa sadar, gue udah melangkah lumayan jauh dari kafe. entah ini daerah mana gue gak tau. Tiba-tiba gue sadar kalo gue dari tadi genggam tangan Farez. "A-astagaa sorry banget Rez!" ucap gue begitu berhenti melangkah dan melepas genggaman tangan gue. "Haha it's okey.." respon Farez. "Emm gimana kalau kita duduk di kursi itu aja? kayaknya suasana hati kamu lagi gak enak" Farez mengarahkan kedua mata nya menuju kursi yang gak jauh dari tempat kami berdiri. Gue pun menoleh ke belakang, "Yaudah boleh" jawab gue. Kami duduk bersebelahan. "Hah... sayang banget yah gak ada jualan minuman di sekitar sini" ucap Farez pelan. "Eh? lo haus? ya biar kita cari minuman dulu" "Enggak kok, maksud aku biar untuk kamu minum. Kayaknya butuh minum, siapa tau bisa tenang. Apalagi tadi jalan cepat banget dan kita udah lumayan jauh dari kafe" Gue diam karena mengerti maksud perkataan Farez yang ingin nenangin perasaan gue. Di lain sisi Winanta yang menuju arah perpustakaan, di telepon
Saat kami sampai di dalam kafe, setelah pesanan kami datang, Farez langsung bicara hal yang ingin dia sampaikan tadi. "Jadi sebenarnya, kafe ini milik orang tuaku" ucapnya, lalu meminum ice cappucino. "H-hah?" otak gue masih nge-lag. "Kafe ini milik orang tuaku, yang nantinya di teruskan ke aku. Bahkan sekarang pun aku udah sering memantau perkembangan kafe." Gue diam, dan tentunya muka gue ngak ngok kayak orang idiot. "Ahaha kamu kenapa diam aja sih?" tanya Farez. "Emm.. yah, g-gue masih belum cerna. Gue sama sekali gak nyangka kalau ternyata kafe yang paling gue sukai ini milik keluarga lo. Bahkan gue beneran heran kenapa tiba-tiba sekarang lo ngakuin hal ini. Selama ini juga gak ada tanda-tanda kalau lo pemilik kafe ini. Semua pelayan juga biasa aja." mulut gue terus menyerocos kayak kereta api yang jalan. Tunggu-- gue bilang tadi apa? 'Tanda-tanda kafe ini milik Farez?' Tiba-tiba aja gue inget, di hari itu, hari waktu gue dateng kesini sendiri dan ngeliat du
Di mall. Gue dan Farez baru selesai keliling dan mau cari kafe untuk kami makan. Sementara Winanta ada nampak gue dari kejauhan. Dia juga keliling mall bareng Dilla. "Vanes!" teriak Winanta yang enggak gue dengar. "Vanes siapa yang?" tanya Dilla sambil menggandeng tangan Winanta. "Vanes mantan aku lah, siapa lagi" jawab Winanta dengan tidak melihat ke arah Dilla. "Bisa ya kamu manggil mantan kamu di depan pacar kamu" Dilla sedikit meninggikan suara. "Haduh udah ya, aku lagi gak mau ribut sama kamu sekarang" "Nyatanya kamu yang cari ribut" ucap Dilla. Winanta tidak menghiraukan ucapan Dilla. Ia langsung mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Vanessa. Namun nihil karena nomor Winanta udah gue blokir. "AH SIAL!" umpat Winanta mematikan telponnya dan memasukan handphonenya lagi ke dalam saku celana. "Sayang, sekarang kamu lagi ngapain sih?!" Dilla kesal karena Winanta sibuk sendiri. "Sayang, coba minjam handphone kamu dulu" ucap Winanta mengarahkan tang
Kami udah nyobain makanan di beberapa tempat. Mulai dari sejenis roti sampai makanan pedas. Rasanya beneran kayak nge-date walaupun cuma jalan-jalan sama teman. "Van, coba kemari" ucap Farez sambil memegang bando. kami sedang melihat-lihat pita. Gue pun menghampirinya dan Farez langsung memakaikan bando kucing itu di kepala gue. "Haha gak cocok" ucap Farez dan langsung menaruh kembali bando itu. "iih nyebelin juga elo ya" ucap gue. "Udah yuk, lanjut lagi liat-liat yang lain" gue memimpin jalan. "Mau liat perhiasan enggak?" tanya Farez. "Enggak" jawab gue. "Itu ada promo daster--" "Gue gak pake daster" "Mau liat-liat baju renang gak?" tanya Farez yang tidak serius. "Haha apa sih? Ngelawak ya. Gue gak pernah berenang pake baju renang" ucap gue, sekarang kami udah sejajar jalannya. "Loh, ternyata kamu bisa berenang ya?" tanya Farez. "Iya, bisa. Gaya batu haha" Farez ikut tertawa, tapi seketika tawa gue terhenti karena melihat orang yang ada di depan
Gak disangka, gue dan Farez selalu bersama ke perpustakaan. Hingga hari terakhir kita belajar bersama, ia berkata, "Semangat ya ujiannya, selesai ujian kita ketemu lagi" ucapnya saat itu seakan jadi salam perpisahan karena kami gak bakalan jumpa dulu sebelum selesai ujian. Walaupun udah lumayan belajar, tapi otak gue memang seketika beku dan mata rasanya sakit begitu liat lembaran soal ujian. Tentu saja sangat berbanding terbalik dengan Winanta si jenius itu. Ibaratnya gue baru baca soal, dia udah mengerjakan soal berikutnya. Hari-hari ujian yang membosankan pun gue lalui dengan segenap nyawa. Ternyata walaupun gue bersyukur Winanta gak posesif, tapi ada rasa kehilangan dari diri gue. Terutama saat masa ujian. Biasanya selesai ujian, dia langsung mengelus kepala gue sambil mensupport dengan perkataan yang manis. Tapi gue yakin gue akan move on walaupun butuh waktu yang lama. Karena itu gue mulai jalan sama Farez. ******* "Akhirnyaaa~ akhirnya ujian selesai juga!!" Ter
"Van, lo masih ada hubungan kan, sama Winanta?" Tanya Kayla Monica, Sahabat gue sejak kelas dua SMP, disaat kita baru aja mau duduk di kursi kantin sambil bawa pesanan kami. Biasa, emang jarang sarapan pagi di rumah. Jadinya yah sebelum bel masuk kami mampir ke kantin dulu. Walaupun sering banget kena marah karena gurunya masuk duluan. Bahkan disaat udah mulai belajar. "Hah? Maksud lo? " tanya gue. "Iya, lo masih jadian kan, sama si Winanta? " jelas Kayla lagi. "Iya, masih kok. kenapa sih memangnya?" tanya gue spontan. "Semalam gue ke bioskop sama Dimas, gue kayak ada ngeliat dia gitu sama cewek. Coba aja film yang gue mau tonton belum mulai, pasti gue samperin dia"Ini bukan kali pertama gue dengar kabar kalau cowok gue ada jalan sama cewek lain. Udah sering banget anak sekolah bahkan bukan sekelas bilang itu ke gue. Namun yah gue gak mau percaya. Bisa jadi itu cuma hoax dan meraka hanya sekedar manas-manasin gue. karena lo tau? Gue dan Winanta jadian itu, adalah hari patah hati ...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Commentaires