“Rendy!!! Aku lagi ngantar Ibu kontrol,” jawab Fakhri.
Dia tidak sepenuhnya bohong, hanya saja Fakhri tidak mau membuat Rendy curiga. Rendy tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia melihat saat Damar masuk ke ruang periksanya tadi, Rendy memang sedang keluar sebentar saat Damar masuk tadi.
“Apa dia sepupu yang kamu maksud?”
Tiba-tiba Rendy bersuara seperti itu. Fakhri menghela napas panjang, inginnya dia berkata bohong. Namun, apa salahnya jika Fakhri berkata jujur. Siapa tahu Rendy mau membantunya.
“Iya, dia sepupuku. Satu bulan yang lalu, dia pamitan ke keluarganya untuk keluar negeri. Namun, ternyata aku malah memergokinya di rumah sakit ini. Aku hanya khawatir dengannya. Kalau dia sakit, harusnya memberi tahu pihak keluarga.”
Fakhri dengan diplomatis menjelaskan mengenai kecurigaannya dengan Damar.
“Oh begitu. Ternyata kamu perhatian juga padanya.”
Fakhri tersenyum. “Kami sang
Pukul tiga sore, Aina datang ke rumah sakit. Namun, baru saja ia mematikan mesin mobilnya tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama Damar di sana.“Iya, Damar. Aku sudah di rumah sakit. Ini masih di parkiran,” jawab Aina.Damar tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala. “Baiklah, aku tunggu di lobby.”Aina mengangguk, gegas menyimpan ponselnya. Berulang kali wanita cantik itu menghela napas panjang. Entah apa yang akan dia dengar hari ini, yang pasti Aina akan menerima apa pun hasil test-nya nanti.Sementara itu Damar tampak baru saja mengirim pesan kepada seseorang. Sebuah senyuman terukir di wajah manisnya saat melihat jawaban pesan yang baru dikirim.“Semua sudah beres, Tuan. Saya sudah mengaturnya. Silakan Anda ambil dan langsung bertemu dengan Dokter Gunawan,” gumam Damar membaca pesan itu.Kepalanya mengangguk sambil mencoba mencari bayang Aina. Selang beberapa saat Aina datang. Wanita cantik itu tampak gugup saat menemui Damar.
“Fakhri, Aina kenapa?” suara Bu Rahma sudah menyeruak di belakang Fakhri.Fakhri menoleh sambil menahan tubuh Aina.“Gak tahu, Bu. Tiba-tiba pingsan.”“Ya udah, buruan bawa masuk!!”Fakhri mengangguk kemudian langsung membawa Aina masuk ke kamarnya. Selang beberapa saat Aina siuman. Ia terkejut saat melihat dirinya sudah berada di kamar Fakhri. Kamar yang pernah ia tempati dulu tiap menginap di rumah Bu Rahma.“Kamu sudah sadar?” Suara Fakhri mengejutkan Aina.Wanita cantik itu mengedarkan pandangannya dan melihat Fakhri sedang berdiri bersandar di dekat pintu. Aina terlihat gugup. Ia gegas bangun dan bersiap turun dari kasur.“Tunggu!! Kamu masih lemas, nanti bisa pingsan lagi.” Fakhri buru-buru berlari menghampiri dan meminta Aina tidur lagi.Aina menggeleng dan memilih duduk di kasur. “Aku gak papa, Mas. Aku hanya ---”“Apa kamu telat makan
“APA!!!?? Damar mandul?” ulang Fakhri.Rendy mendengkus sambil melirik Fakhri dengan kesal. Harusnya dia tidak melanggar kode etiknya, tapi Rendy tidak tahan jika hal ini malah disalah gunakan oleh pasiennya.“Dia mandul tujuh tahun yang lalu. Baru sebulan yang lalu dia melakukan operasi untuk mengatasi penyumbatan di saluran spermanya. Tepat dugaanmu kalau dia memang berobat ke rumah sakit bulan lalu.”Fakhri terperangah kaget mendengar penjelasan Rendy. Kalau Damar mandul tujuh tahun yang lalu. Mengapa hasil test DNA Zafran menunjukkan kalau dia anak kandung Damar? Apa Damar sudah mengubah hasil test-nya? Apa Aina tahu tentang hal ini? Lalu kenapa Robby tidak tahu, padahal dia bilang akan mengawasinya.“Kamu yakin dengan penjelasanmu, Rendy?” Kembali Fakhri bertanya untuk memastikan.Rendy berdecak sambil melipat tangan di depan dada menatap Fakhri.“Kamu ini gimana, sih? Aku mempertaruhkan profesi
“Selamat pagi, Tante. Ada perlu apa, ya?” sapa Aina.Baru saja Aina usai bersiap, tiba-tiba ponselnya berdering dan suara Bu Tika langsung menyeruak di seberang sana.“Pagi, Aina. Tante hanya ingin mengajak kamu dan Zafran makan malam hari ini. Apa bisa?”Aina terdiam sesaat. Dia yakin undangan Bu Tika kali ini mempunyai maksud tertentu. Bisa jadi Damar sudah memberi tahu ibunya mengenai hasil test DNA itu.“Sekalian kita rayakan hasil test DNA Zafran. Bukankah dia sudah terbukti sebagai anak kandung Damar,” imbuh Bu Tika.Tepat tebakan Aina, jika wanita paruh baya ini sudah tahu mengenai hasil test itu.“Nanti biar Damar jemput kalian, ya!! Tante tunggu jam tujuh malam di rumah, Aina.”Belum sempat Aina menjawab, Bu Tika sudah mengakhiri panggilannya. Aina hanya diam sambil menatap ponselnya yang sudah mati. Helaan napas panjang pendek keluar dari bibir Aina.Sifat Bu Tika berban
“AYAH!!! BUNDA!!!” seru Zafran.Ia sudah berhambur keluar berlarian ke Aina dan Fakhri. Fakhri langsung berdiri, merentangkan tangan menyambut Zafran. Aina ikut berdiri sambil tersenyum memperhatikan tingkah mereka.“Gimana? Bisa kuisnya?” tanya Fakhri.Ia sudah duduk jongkok sambil memeluk Zafran. Zafran tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Tentu bisa, dong. Anak siapa dulu.”Fakhri terkekeh mendengar jawaban Zafran. Zafran ikut tertawa kemudian keduanya saling beradu tangan di udara. Aina hanya diam memperhatikan. Jelas-jelas Fakhri tahu kalau Zafran bukan anaknya bahkan dia tahu hasil test DNA Zafran. Namun, mengapa pria ini tidak berubah sedikit pun sikapnya pada Zafran?“Ayo, kita makan!! Aku laper, Ayah.” Ucapan Zafran sontak membuyarkan lamunan Aina.“Eng … Zafran. Kita makan di rumah saja, ya? Om Damar dan Oma Tika sudah nunggu,” ucap Aina.Zafran lan
“Apa maksudmu, Mas? Kamu jangan mengada-ada!” ujar Aina.Fakhri terdiam sesaat sambil menatap Aina dengan saksama. Ia sudah menduga Aina akan bersikap seperti ini. Namun, ini saatnya Fakhri memberi tahu tentang siapa Damar sebenarnya.“Aina … aku hanya ingin kamu tidak menyesal. Selama ini kenapa kamu tidak mencari tahu lebih dalam dulu soal Damar.”Fakhri kembali bersuara dan tentu saja setiap tutur katanya membuat Aina kebingungan.“Yang kamu tahu Damar saudara sepupuku dan kakak tingkatmu. Itu saja, kan? Kamu tidak tahu bagaimana pergaulannya di luar sana. Dia berteman dengan siapa? Apa kesibukannya? Hobby-nya, bahkan seharusnya kamu juga tahu mengenai kesehatannya,”Aina tidak berkomentar hanya menatap Fakhri dengan mata penuh selidik.“Bisa jadi saat kamu mabuk dan tak sadarkan diri dulu, ada yang menjebakmu. Kenapa kamu tidak mencari tahu tentang itu juga?”Aina terdiam, men
Tanpa menunggu jawaban dari Fakhri, Aina langsung masuk mobil dan melaju pergi begitu saja. Tidak ia pedulikan tatapan penuh penyesalan Fakhri. Malam ini, Aina benar-benar kacau. Rasanya ia telah salah mengambil keputusan untuk membatalkan makan malam dengan keluarga Damar hari ini.“Bunda … Bunda kenapa?”Panggilan Zafran dari bangku belakang membuyarkan lamunan Aina. Zafran lebih dulu masuk ke dalam mobil dan terlelap untuk beberapa saat di sana. Baru saat Aina masuk ke dalam mobil, ia terjaga hingga bertanya seperti sekarang.Aina tersenyum sambil melirik Zafran melalui kaca spion.“Gak papa, Sayang. Sudah, Zafran tidur lagi saja.”Zafran mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali berbaring di kursi belakang. Aina sedikit lega saat tahu Zafran tidak melihat perselisihannya dengan Fakhri tadi. Mungkin setelah ini, Aina akan membatasi pertemuan Zafran dengan Fakhri. Ia tidak akan mengizinkan mantan suaminya itu datang kembali.Sementara Fakhri berjalan dengan gontai menuju mobilnya
“Hei, kamu mau ke mana?” tanya Robby.Pasalnya Fakhri tiba-tiba bangkit dan bersiap pergi meninggalkan Robby. Fakhri menghela napas panjang sambil menoleh ke Robby.“Aku mau masuk ke sana dan melihat apa yang dilakukan Damar.”“Lalu kalau kamu ketahuan, gimana?”Fakhri sontak terdiam. Wajahnya menunjukkan sedang berpikir. Selama ini, dia jarang masuk ke pub. Dulu saat masih kuliah, Fakhri masih sering hang out di sana. Namun, setelah menikah dan sibuk dengan pekerjaannya. Ia seakan tidak punya waktu untuk ke sana. Fakhri lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan Aina di rumah.Pastinya Damar akan terkejut jika tiba-tiba melihatnya di dalam sana. Lalu, tepat seperti dugaan Robby. Damar akan curiga dan dia batal mengetahui apa yang dilakukan sepupunya itu.“Sudah, kamu tenang saja. Aku akan minta temanku mengawasinya.”Fakhri tidak menjawab hanya melihat Robby dengan mata mengerucut. D
“Syukurlah, kalian segera datang. Tadinya aku hendak ke tempat kalian,” ujar Robby.Ia langsung menyambut Fakhri dan Aina yang baru datang dengan kalimat seperti itu. Fakhri dan Aina hanya mengangguk kemudian langsung masuk ke ruangan Robby.“Kami mau mendengar penjelasanmu mengenai kemarin. Apa benar yang kamu katakan jika putraku sudah meninggal?” tanya Fakhri.Robby terdiam sesaat sambil melirik Aina yang duduk di sebelah Fakhri. Wanita itu terlihat lebih tenang dari semalam. Bisa jadi Fakhri sudah memberi banyak penjelasan ke Aina.“Iya, berdasar rekam medis yang ditemukan seperti itu. Hanya saja ---”Robby menjeda kalimatnya. Fakhri dan Aina terdiam memperhatikan dengan saksama.“Kresna menemukan kejanggalan dan masih menyelidikinya. Semoga saja ia segera menemukan titik terang tentang putra kalian.”Aina terdiam menghela napas sambil menganggukkan kepala. Mungkin untuk sementara wa
“Kok Zafran ngomong gitu? Siapa yang ngajarin?” sahut Aina.Aina dan Fakhri sangat terkejut saat Zafran berkata seperti itu. Selama ini tidak ada yang memberitahu mengenai status Zafran sebenarnya. Bahkan mereka sengaja menyembunyikannya. Mengapa juga Zafran tiba-tiba tahu? Apa ia mendengar pembicaraan Aina dan Fakhri?Zafran tidak menjawab malah semakin menundukkan kepala. Fakhri menyentuh bahu Zafran dan mengelusnya perlahan. Kemudian duduk jongkok di depannya.“Zafran, siapa bilang Zafran bukan anak Ayah dan Bunda. Kamu itu selalu menjadi anak Ayah dan Bunda. Selamanya dan tidak pernah berubah.”Zafran termenung sambil menatap Fakhri yang sedang memandang ke arahnya. Fakhri tersenyum membalas tatapannya.“Bukannya semalam Ayah sudah bilang kalau kita akan kembali bersama seperti dulu lagi. Kenapa Zafran malah pergi pagi ini?”Zafran menganggukkan kepala. “Maafkan Zafran, Ayah, Bunda.”
“Apa katamu? Pergi?” tanya Fakhri.Fakhri langsung berdiri menghampiri Aina dan menghentikan makan paginya. Aina mengangguk, matanya tampak berair sambil menyodorkan secarik kertas ke Fakhri. Fakhri terdiam, membaca surat kecil dari Zafran dan terdiam cukup lama.“Jangan-jangan dia dengar pembicaraan kita semalam,” gumam Fakhri.Aina tidak menjawab hanya menggelengkan kepala sambil sesekali menyeka air matanya. Rini yang baru saja keluar dari kamar tampak terkejut melihat kehebohan pagi ini.“Bukannya tadi dia masih di kamar, Mbak,” sahut Rini.“Iya, Rin. Aku pikir juga gitu, tapi nyatanya dia gak ada. Dia ke mana sekarang?”Aina tampak sedih, matanya kembali berair. Entah mengapa mulai semalam, air matanya terus terkuras.“Aku yakin dia tidak mendengar pembicaraan kalian. Aku yang menemaninya saat kalian berdebat semalam dan dia baik-baik saja.”Rini kembali menambahk
CKIT!! BRAK!!Suara mobil Fakhri menabrak pohon di tepi jalan. Sontak Fakhri membuka mata dan terkejut saat dirinya sudah keluar dari jalan. Helaan napas panjang lolos keluar dari bibir Fakhri. Untung saja dia mengenakan seat belt sehingga tidak menyebabkan cidera apa pun pada tubuhnya. Hanya saja kali ini mobil bagian depan ringsek.“Ya Tuhan … untung saja aku selamat,” gumam Fakhri sambil mengurut dada.Ia membuka seat belt, lalu keluar dari mobil sambil melihat kerusakan mobilnya. Beruntung jalanan sedang sepi sehingga saat Fakhri mengemudi dengan mata terpejam tadi, tidak membahayakan pengguna jalan lainnya. Ditambah kecepatan mobil yang pelan membuat Fakhri terhindar dari kecelakaan.Kini Fakhri tampak sedang melakukan sebuah panggilan. Ia sedang menelepon salah satu asisten rumah tangganya agar menjemput di tkp. Fakhri juga menelepon bengkel langganan untuk menarik mobilnya.Selang beberapa saat dia sudah tiba di rumah. Ket
“Aina!!” seru Fakhri.Fakhri sangat terkejut saat Aina tiba-tiba keluar dan langsung menyambar ponselnya. Tidak hanya itu malah Aina kini sudah mendengar apa yang seharusnya tidak dia dengar.“MAS!!! Bener apa yang dikatakan Robby? Bener kalau anak kita sudah meninggal? Bener, Mas?” tanya Aina.Wanita cantik itu kini bertanya dengan mata berair ke Fakhri. Fakhri hanya diam, ia tidak menjawab malah menyambar ponselnya dari tangan Aina.“Rob, nanti saja kita bicara lagi.” Fakhri mengakhiri panggilannya.Di seberang sana Robby tampak linglung. Ia serba salah dan bingung harus bagaimana, padahal dia hanya ingin memberi informasi ke Fakhri. Namun, malah runyam seperti ini.“Mas … kenapa diam saja? Kenapa gak dijawab pertanyaanku?” Aina kembali bertanya bahkan kini sudah menarik lengan Fakhri.Fakhri menghela napas panjang. Ia belum bisa menjawab apalagi ada Zafran yang sudah mengintip perdebatan mereka dari jendela. Rini bergegas keluar, m
“Kamu yakin dengan penemuanmu ini, Kres?” tanya Robby.Dia ingin sekali lagi menyakinkan informasi yang baru diterima ini. Robby tidak mau informasi yang ia berikan ke Fakhri mentah dan tidak akurat.Terdengar decakan suara Kresna di seberang sana, mungkin jika mereka bertemu muka pasti akan terlihat jelas kekesalan Kresna saat ini.“Kamu pikir aku ngarang cerita, gitu?”Robby langsung tersenyum mendengarnya. Ia tahu kredibilitas Kresna dan kinerjanya selama ini. Dia akan benar-benar mencari informasi yang diminta dengan akurat.“Ya sudah kalau memang informasinya sudah akurat. Memangnya kamu dapat dari mana informasi itu?”Kresna tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala.“Aku berhasil bertemu dengan petugas pemberkasan di rumah sakit itu. Meski sedikit alot, akhirnya dia bersedia menunjukkan rekam medis pasien tersebut.”Robby terdiam sesaat sambil menganggukkan kepala berulan
“Zafran,” batin Aina.Ia buru-buru membuka mata, mengurai pagutan mereka dan sangat terkejut saat melihat Fakhri sudah berada di atas tubuhnya dengan pakaian tidak lengkap. Tidak hanya itu, Aina juga tersentak kaget saat tangan Fakhri sudah masuk ke balik bajunya bahkan tengah bermain dengan gunung kembarnya.Fakhri terdiam. Dengan gugup, ia bangkit dari tubuh Aina sambil merapikan baju. Sama halnya dengan Fakhri, Aina tampak kikuk. Ia bangkit sambil mengancingkan bagian atas gaunnya yang sudah dibuka Fakhri. Tak dia hiraukan rambutnya yang tampak berantakan kali ini.Aina berjalan menuju pintu dan membukanya.“Eng … Ayah sedang mandi, Zafran. Sebentar lagi selesai.” Aina terpaksa berbohong.Zafran tersenyum, menganggukkan kepala sambil berlalu pergi. Aina kembali menutup pintu dan berjalan menuju kasur. Ia melihat Fakhri sudah terlihat rapi dan duduk terdiam di tepi kasur.“Maaf, Aina. Aku ---”Fakhri tidak meneruskan kalimatnya, tapi malah mendongak menatap Aina. Mata mereka bertemu
“Reza? Ada hubungan apa dia dengan Wulan?” tanya Fakhri.Baru tadi pagi Fakhri bertemu Reza dan sekarang dia sudah mendapat kabar jika Reza membantu memindahkan Wulan ke rumah sakit pusat kota.Robby tidak menjawab hanya mengendikkan bahu sambil mengaduk es jeruknya.“Entahlah …, tapi katanya mereka sempat pacaran usai kamu putus dengan Wulan. Bisa jadi Reza sengaja datang untuk menolongnya. Bagaimanapun dia masih mencintai Wulan.”Fakhri tersenyum hambar sambil menggelengkan kepala. Melihat reaksi Fakhri, membuat Robby penasaran.“Kenapa reaksimu seperti itu? Kamu tidak terlihat terkejut dengan kehadiran Reza.”Fakhri berdecak. “Aku baru saja bertemu dengannya tadi pagi, bahkan dia menawarkan sebuah kerja sama denganku. Kelihatannya kerja samanya menguntungkan dan aku putuskan untuk bergabung dengannya.”Robby terperangah kaget mendengar penjelasan Fakhri.“Gila!! Di
“Semua baik-baik saja kan, Mas?” tanya Aina.Fakhri melihat Aina sedang mendongak menatapnya. Mereka sudah berdiri di depan lift yang masih tertutup saat ini. Kemudian sebuah senyuman terukir dengan indah di raut tampan Fakhri.“Iya, baik-baik saja, kok.”Aina tersenyum lega kemudian sudah melenggang masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Fakhri mengikuti dan sama seperti tadi, pria tampan itu terus merangkul bahu Aina. Tak lama mereka sudah berjalan keluar kantor menuju mobil Fakhri. Sepanjang perjalanan senyum lebar terus terlihat di wajah keduanya.Tanpa sadar ada yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka dari dalam mobil. Seorang pria berwajah manis berkulit sawo matang menatap penuh cemburu dari balik kacamata hitamnya.“Siapa sebenarnya wanita itu?” gumam pria itu yang tak lain Reza, “apa dia mantan istrinya Fakhri?”Reza terdiam dengan jari yang mengetuk dagu. Matanya masih menatap jauh ke depan memperhatikan mobil Fakhri yang mulai berjalan meninggalkan gedung perkantor