Share

Bab 40

Author: Mami ice bear
last update Last Updated: 2024-06-26 09:30:23

“Ada apa?”

Rona keterkejutan tak bisa disembunyikan dari wajah Sarminah. Hingga suara wanita bertubuh sedikit berisi itu kembali terdengar, “Jangan bilang itu masih-”

Dengan tergagap Maysaroh menganggukkan kepalanya patah-patah, diiringi suaranya yang menjawab pertanyaan dari Sarminah, “I-Iya, ini masih nyala!”

“Dasar Maysaroh go-blok! Cepat matikan!” umpat Sarminah pada akhirnya. Matanya melotot, menatap nyalang pada bestienya tersebut.

Jika duo racun itu tampak saling bersitegang, berbeda dengan Devi yang menampilkan senyum puas. Hingga cibiran dari mulutnya akhirnya terlontar, “Tak patut ….”

Sebelas tahun hidup bertetangga dengan mereka. Tentu membuat Devi mengetahui bagaimana tabiat kedua tetangganya tersebut

Ah, tidak! Ralat, mantan tetangganya tersebut.

“Ketinggalan dimana sebenarnya otak kau ini, May?” Tanpa memperdulikan Devi dan Arya, Sarminah kembali mengumpat pada rekan seperjuangannya tersebut. “Bisa-bisanya kau lup
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 41

    “Ini Mas, ada titipan surat.”Bu RT tiba-tiba muncul di halaman rumah Yogi. Tepat beberapa saat setelah laki-laki itu masuk ke pelataran rumahnya. “Lho, Bu RT. Kok-”“Saya tadi sengaja nunggu Mas Yogi lewat. Pas liat, saya langsung buru-buru nyusul kemari,” sergah Bu RT dengan cepat. Nafas wanita yang sudah tak lagi muda itu tampak ngos-ngosan. Sebab buru-buru menyusul Yogi yang baru saja pulang kerja. “Mas Yogi.”Tiba-tiba suara dari ibu ketua kepengurusan tetangga itu kembali terdengar. Wanita yang umurnya sudah hampir sama dengan sang ibu, Jubaedah, tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Hingga suara Yogi terdengar menimpali, “Ada apa, Bu? Ada yang bisa saya bantu?”“Em ….”“Gak apa Bu, jangan sungkan. Kalo bisa saya bantu pasti saya bantu kok!” ucap Yogi kemudian, sebab wanita di depannya masih tampak ragu. “Apa Mas Yogi gak sayang kalo harus melepas istri sebaik Devi?” Akhirnya, sebuah kalimat tanya meluncur be

    Last Updated : 2024-06-27
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 42

    “Jangan aneh-aneh Mbak!” Yogi tak menanggapi ucapan sang kakak dan lebih memilih untuk berlalu masuk ke dalam rumah. Ceklek! Ceklek! Yogi memutar anak kunci pada pintu utama rumahnya. Semenjak dua minggu kepergian Devi dari rumah itu. Kini Yogi mulai benar-benar merasakan perbedaan saat ada Devi dan saat ini… “Biasanya kamu yang bukain pintu dan nyambut aku, tapi sekarang-” Mata Yogi menyisir ke arah ruang tamu yang biasanya rapi, bersih dan wangi. Sebab Devi seringkali memasang pengharum ruangan di setiap sudut rumah. Tapi kini, jangankan pengharum ruangan. Hanya debu dan sarang laba-laba yang bersarang di sana. “Mbak sama Ibu gak beres-beres rumah lagi?” Kini Yogi memutar badan dan menghadap kakak perempuannya yang tengah berdiri di ambang pintu. “Tadi Mbak pergi arisan,” jawab Yessi singkat. Tangannya terlipat di dada. Sedangkan wajahnya melihat sang adik dengan tatapan malas. Hembusan nafas Yogi terdengar pelan. Seharian lelah bekerja, namun kini masih dihada

    Last Updated : 2024-06-27
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 43

    “Heh! Malah bengong kaya sapi ompong!” sentak Jubaedah yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu rumah Yogi. “Lho, Lisa udah sampe?” tanya Jubaedah, saat melihat wanita cantik yang tengah duduk berdua bersama Yessi. “Sampe kapan, Lis?” “Baru beberapa menit kok, Tan,” jawab Lisa sopan kemudian menyalami tangan Jubaedah dengan santun. “Duh, senengnya kalo punya mantu kayak gini,” ujar Jubaedah dengan nada sedikit keras. Kemudian ia kembali melanjutkan, “Udah cantik, baik, santun sama orang tua.” “Ah, Ibu bisa aja,” tukas Lisa menimpali ucapan Jubaedah dengan tersipu. Sedangkan Jubaedah dan Yessi justru saling melirik seolah tengah berbicara melalui tatapan mata. Tiga wanita beda generasi itu kemudian duduk berbincang bertiga. Banyak hal yang mereka bicarakan, dari mulai masa lalu Yogi dan Lisa hingga kehidupan Lisa sekarang. Hal itu sukses membuat Jubaedah terkesan pada wanita itu.

    Last Updated : 2024-06-28
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 44

    “Apa tak bisa dibicarakan lagi?” Yogi langsung menyerbu Devi dengan pertanyaan yang ia sendiri sudah tahu jawabannya. “Kamu udah tau jawabannya, Mas. Jadi cukup, jangan menanyakan hal yang sama berulang kali,” jawab Devi dingin. “Ah, iya. Bagaimana kabar Ibu dan Mbak Yessi?” Devi yang sudah ingin melangkah tiba-tiba berhenti dan kembali menoleh ke arah calon mantan suaminya. “Mereka-” “Kami baik! Kenapa?” Tiba-tiba suara Yessi terdengar dari arah lain, menjawab pertanyaan Devi yang diajukan pada Yogi. Devi tersenyum miring, ia sudah menduga jika dua wanita itu akan selalu membayangi Yogi, dimanapun laki-laki itu berada. “Apa kabar Bu, Mbak? Aku pikir, kalian gak akan dateng.” Tanpa basa basi, Devi melontarkan apa yang ada dalam pikirannya, namun dengan cara yang berbeda. Tentu saja hal itu membuat Yessi dan Jubaedah seketik

    Last Updated : 2024-06-29
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 45

    “Cukup Devi!” Arya menarik kedua lengan Devi yang sudah ingin kembali melangkah maju, menghadapi keluarga sang suami. “Ini tak akan ada habisnya kalo kamu ladenin mereka. Akan lebih baik kalo kita masuk dan menunggu di dalam,” ujar Arya kemudian. Devi memejamkan matanya sekilas kemudian kembali menatap laki-laki yang sudah menjadi suaminya selama 11 tahun. “Mas!” sentak Devi dengan tatapan lekat pada sang suami. “Aku pikir, kamu adalah sosok yang paling mengerti aku, selain kedua orang tuaku. Tapi nyatanya, pikiran ku itu salah. Bahkan sangat salah!” “Tak usah banyak bicara kamu Devi. Kamu udah menyakiti anakku. Setelah dia membiayai hidupmu selama bertahun-tahun, bukannya terima kasih malah-” “Heh! Omong kosong!” desis Devi menyela ucapan ibu mertuanya. Tanpa memperdulikan ucapan Devi, Jubaedah kembali melanjutkan kalimatnya, “Dasar wanita gi-la! Tak tau terima kasih!” bentak Jubaedah yang masih terus mengelus pundak anak laki-lakinya. “Cih! Apa Anda bilang tadi?

    Last Updated : 2024-07-01
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 46

    “Saudara Devi, apa Anda sudah yakin dengan keputusan ini?” Suara laki-laki yang kini tengah duduk dengan posisi lebih tinggi dari semua orang. Membuatnya menjadi pusat perhatian banyak pasang mata di ruangan tersebut. Suaranya terdengar lantang dan menggema di ruang yang didominasi dengan warna putih dan hijau tersebut. “Saya yakin, Yang Mulia!” jawab Devi tegas. “Baiklah kalau begitu. Dengan ini sidang kita mulai!” Ketuk palu Hakim terdengar hingga tiga kali. Tanda jika sidang perceraian Devi dan Yogi dimulai. Devi merasakan jantungnya berdebar-debar. Dia hanya berusaha untuk menahan diri. Agar jangan sampai terlihat lemah di hadapan keluarga mertuanya. ‘Yaa Tuhan, kuatkan hamba. Jika ini jalan takdirMu, maka berikan keikhlasan dan kekuatan tak bertepi pada hambaMu ini.’ Sementara di hadapannya, sang mantan suami, Yogi, duduk dengan wajahnya yang datar dan dingin. Dia duduk di samping pengacaranya, sementara Devi duduk dengan seseorang yang membantunya. Dalam diam, hati ibu

    Last Updated : 2024-07-01
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 47

    “Tunggu! Katakan terlebih dahulu, apa maksud Anda?!” Yogi mencekal kuat lengan Arya yang akan berlalu menyusul langkah Devi. Arya menghentikan langkah dan langsung menoleh pada lengannya yang masih dalam cekalan Yogi. “Ngapain sih kamu deket-deket dia, Gi!” Namun tiba-tiba datang Jubaedah dan langsung menepis dengan kuat tangan Yogi yang masih menarik jas milik Arya. “Dia itu kubu lawan! Ngapain kamu malah-” “Ibu mending diem, deh! Aku ada urusan penting sama dia!” sentak Yogi yang merasa jika kedatangan sang ibu hanya menambah masalah dan menghambat waktu. Jubaedah sontak berjingkat kaget. Sebab ia bahkan tak tahu apa masalahnya, hingga Yogi malah sampai menaikkan nada suaranya. ‘Sial! Ada apa lagi ini?’ “Katakan padaku, apa maksud dari ucapanmu tadi?” tanya Yogi pada Arya, tanpa mengindahkan sang ibu yang masih diam dan tertegun. Sekilas, Arya melirik ke arah Jubaedah. Namun masih dengan ekspresi datar, tanpa senyum meski hanya setipis tisu. “Kau-” “Mohon

    Last Updated : 2024-07-01
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 48

    “Mari kita perbaiki semuanya, Dev.” “Untuk apa? Semua sudah selesai!” tegas Devi tanpa Ragu. “Bukan demi kita, tapi demi anak-anak. Mereka masih membutuhkan sosok seorang ayah.” Yogi terus mencoba membuat Devi mengerti dengan maksud dan tujuannya. Devi mendengus kasar. Panasnya cuaca hari ini, semakin bertambah panas akibat dari kedatangan sang mantan suami. “Semua sudah terlambat, Mas!” “Kau lihat mereka, Mas. Bukan aku sombong, tapi pada kenyataannya bahkan kedatanganmu saja tak diharapkan oleh mereka,” imbuh Devi kemudian. “Dasar wanita gatel! Berani-beraninya kamu kegatelan sama suamiku!” Tiba-tiba sebuah suara keras terdengar dari arah jalan depan rumah Devi. Membuat Devi dan sosok laki-laki yang kini ada di hadapannya menoleh ke arah sumber suara. “Kalo ngomong bisa dijaga nggak?!” tanya Devi dengan nada kasar. Tatapan mata ibu dua anak itu menusuk tajam pada sosok asing yang kini sudah berdiri dan menatapnya sengit. Hingga suara sosok tersebut kembali terden

    Last Updated : 2024-07-02

Latest chapter

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 97

    “Jadi, Tante Yessi sakit apa?”Roni, bocah delapan tahun itu, akhirnya tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya. Sejak tadi, ia mendengar percakapan yang tak sepenuhnya ia pahami, namun bocah polos tersebut menangkap ada sesuatu yang besar sedang dibahas oleh orang-orang dewasa di ruangan itu.“Ibu... Tante Yessi sakit?” Roni mengulang pertanyaannya, kali ini menatap ibunya, Devi, dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.Devi menelan ludah, rasanya kering, seperti ada duri menyangkut di tenggorokannya. Sejujurnya, ia sendiri belum melihat Yessi sejak terakhir kali mereka menemukan wanita itu dalam kondisi memprihatinkan di rumah sakit. Sejak itu, ia lebih memilih menjaga jarak, takut jika keterlibatan emosionalnya kembali menguak luka lama.“Roni, mau nggak nengokin ibuku?” Suara Rossi memotong keheningan, membuat semua perhatian tertuju padanya. Wajah gadis itu terlihat lebih segar, meski tubuhnya masih kurus, membawa sisa-sisa dari beban b

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 96

    "Kenapa kamu takut? Nenek nggak gigit, kok!"Selorohan Jubaedah terdengar canggung di telinga kedua anak Devi. Kata-kata yang seharusnya ringan justru menciptakan suasana yang makin tegang. Ruang tamu kafe yang mereka tempati mendadak sunyi, seolah udara terasa lebih berat.Rayyan meringis, melirik adiknya, Roni, yang mulai beringsut mundur, ekspresi wajahnya menyiratkan rasa cemas yang berusaha ia sembunyikan. Yogi, yang duduk di samping Jubaedah, ikut merasa kikuk. Tatapannya bergantian tertuju pada Jubaedah dan kedua anak laki-lakinya, mencoba mencari celah untuk mencairkan suasana.“Roni, santai aja, Ayah sama Nenek nggak jahat, kok,” Yogi mencoba tersenyum, berusaha meyakinkan.Roni hanya mengerjap, tetap diam, ekspresinya sulit diterjemahkan. Bayang-bayang masa lalu seakan menekan hatinya, menahan mulutnya untuk sekedar menyapa. Dibenaknya masih terlintas kenangan pahit—perkataan kasar, tatapan dingin, dan perlakuan tidak adil yang pernah di

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 95

    “Tapi, Bu…” Roni mengeluh pelan, wajahnya tampak enggan. Kedua matanya menghindari tatapan ibunya, Devi, yang baru saja menyampaikan pesan dari ayah mereka. Devi mendesah panjang, memandang kedua putranya yang masih duduk di hadapannya dengan ekspresi serba salah. Beberapa hari yang lalu, mantan suaminya, Yogi, meminta waktu untuk bertemu dengan anak-anak mereka, yakni Roni dan Rayyan. Namun, ia tahu bahwa membujuk anak-anak, khususnya Roni, bukanlah perkara mudah. “Nak, bagaimanapun juga, dia tetap ayah kandung kalian,” ucap Devi berusaha lembut, meski nada suaranya mulai terasa putus asa. Ada perasaan bersalah yang selalu muncul setiap kali dia mengangkat topik ini. Hatinya teriris melihat bagaimana Roni, putra bungsunya, menunjukkan ekspresi menolak yang begitu kuat. Rayyan, putra sulungnya yang kini berusia sebelas tahun, menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Dia mengerti perasaan ibunya dan tampak lebih tenang darip

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 94

    "Entah kenapa aku malah curiga sama keluarga mantan suamimu itu, Dev..."Suara Siska yang tegas memecah keheningan di ruangan toko bakery yang baru saja dibuka. Devi, yang sejak tadi terlihat melamun, tersentak mendengar kalimat itu. Ia menarik nafas panjang, mencoba mengendalikan pikirannya yang seolah melayang-layang entah ke mana. Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Yogi, mantan suaminya, namun kata-katanya masih terngiang di kepala. Seperti duri yang tertinggal di luka lama, pertemuan itu membuka kembali ingatan tentang masa lalu yang tak ingin ia ingat.Devi menatap jalanan dari balik kaca toko bakery-nya, memandang kosong pada lalu lalang orang yang tak dikenalnya. Ia tampak letih, seolah banyak beban yang ia pendam sendiri. Pembukaan cabang baru toko roti miliknya dan tanggung jawab mengurus dua anak seorang diri. Hari ini adalah hari besar bagi Devi, namun bayangan masalah keluarga mantan suaminya seolah membayangi setiap langkahnya.

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 93

    Suasana yang masih tenang di toko roti milik Devi seketika berubah menjadi penuh kecanggungan. Ruangan itu terasa lebih sesak meskipun hanya ada beberapa pengunjung yang tampak sibuk memilih kue di sudut ruangan. Devi sedang membantu Siska, sahabatnya, menyusun kue ke dalam etalase. Seolah Siska adalah pemilik toko tersebut, padahal justru sebaliknya. Mereka berbagi percakapan ringan tentang jenis kue yang baru tiba pagi itu.“Aku lebih baik membicarakan roti yang wangi ini, daripada membicarakan orang-orang yang masih ada hubungannya dengan keluarga mantan suamimu itu,” ucap Siska ditengah perbincangan. Namun, ketenangan itu mendadak pudar ketika pintu toko bakery berderit pelan, diikuti oleh langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam. Devi berhenti bergerak, menatap sosok yang tidak asing itu. Berdiri di depan pintu dengan ekspresi ragu namun mantap, dia adalah Yogi, mantan suaminya. Untuk sesaat, Devi tertegun, seperti sedang berusaha memastikan apakah dirinya

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 92

    “Bu Lilis, tolong, saya butuh penjelasan!” Devi menatap Lilis dengan pandangan memohon, sementara jemarinya tetap menggenggam lengan wanita itu erat.Lilis mengalihkan pandangan, wajahnya tampak resah. “Aku… aku sudah katakan, bukan. Kukatakan sekali lagi, Lisa meninggal karena overdosis!”“Jika hanya karena alasan kematian Lisa. Itu bukan alasan cukup untuk lari seperti pecundang, Bu!” Devi membalas, nada suaranya mulai meninggi. “Kalau memang Ibu tidak bersalah, kenapa harus takut? Apa ada hal lain yang Ibu sembunyikan?”“Devi, tolong jangan paksa aku…” Lilis mencoba menarik diri, tapi tangan Devi lebih kuat.“Tidak, Bu Lilis! Ibu tidak boleh lari dari semua ini. Lisa meninggal dengan kondisi yang… aneh. Semua orang membicarakan dia, dan jangan sampai mereka justru menuduh Ibu kalau Ibu lari seperti ini. Jika Ibu benar-benar peduli pada mendiang Lisa, jelaskan semuanya!” Devi menatap tajam, mencoba menahan rasa frustasi.Lilis

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 91

    Devi tertegun, matanya membulat tak percaya ketika mendengar penuturan wanita paruh baya yang bertugas memandikan jenazah Lisa.“A-apa? Kenapa bisa sampai separah itu?” tanyanya dengan suara bergetar, mencoba mencerna kenyataan tragis yang disampaikan kepadanya.Wanita paruh baya di depannya, yang mengenakan kerudung lusuh, hanya bisa menggeleng pelan. “Saya juga kurang paham, Mbak Devi. Tapi, saat kami memandikan almarhumah… ya, memang kondisinya sudah begitu.” Suaranya bergetar, seakan-akan kata-kata itu membuatnya ngeri mengingat kembali apa yang ia lihat.Devi menutup mulutnya dengan tangan gemetar, seolah-olah ingin menahan rasa mual yang tiba-tiba menghantam dadanya. Matanya berair, dan ia mencoba membayangkan kondisi Lisa di akhir hidupnya. Bagaimana mungkin mantan adik madunya mengalami akhir yang begitu menyedihkan?“Sa-saya… saya tak bisa berkata-kata…” ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.Di sisi Devi, Bu RT yang ikut mendengar penuturan tersebut terlihat terkejut.

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 90

    “Li-lisa?”Handoko tergagap, tubuhnya kaku. Berita yang baru saja dikatakan oleh Devi membuat dirinya tak bisa berfikir jernih. Hingga beberapa saat kemudian… “Kapan, Devi? Dan.. darimana kamu tau kabar itu?” ucap Handoko lagi. “Mas Handoko… beneran gak tau kabar terakhir Lisa?”Suara Devi lirih namun tegas, menusuk di antara deru langkah mereka di koridor rumah sakit.“Aku bahkan tak tau apa-apa, Devi.”Jawaban Handoko terdengar datar, hampir tak terdengar, namun ia menatap Devi dengan tatapan tajam. “Aku memang meninggalkan dia tadi pagi, tapi.. Saat itu dia masih…”“Soal itu…”Devi berhenti sejenak, menarik napas, seolah-olah menunggu kata-katanya diserap penuh oleh Handoko. “Dia baru saja ditemukan tidak bernyawa, sekitar satu jam lalu.”Handoko membeku. Sorot matanya berubah, seolah kata-kata Devi baru saja menghantamnya dengan kenyataan yang selama ini ia hindari. “Kamu serius?”Devi mengangguk pelan. “Aku

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 89

    “Kapan kejadiannya?” tanya Devi dengan nada khawatir. “Baru tadi sore, Mbak. Kemungkinan kami akan mengurusnya besok…” ucap seseorang dari seberang sana. Devi menganggukkan kepala, meski lawan bicaranya tak akan melihat apa yang ia lakukan. Sebuah ponsel masih menempel di telinga kanan Devi. Mantan istri dari Yogi tersebut tampak serius mendengarkan apa yang diucapkan oleh sosok nan jauh disana. “Kami bingung harus mengabari siapa dan kemana. Jadi, aku memutuskan mengabari Mbak Devi. Meski aku tau, mereka nggak ada sangkut pautnya dengan Mbak…”“Ya sudah tak apa,” ucap Devi, merespon lawan bicaranya. Namun, manik mata wanita itu tampak melirik sekilas ke arah mantan kakak iparnya. “Aku tak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan mengusahakannya. Aku tau apa yang bisa kulakukan.”“Makasih ya, sudah mengabariku,” imbuh Devi yang kemudian langsung dijawab oleh sosok di seberang sana. Berikutnya, wanita berambut panjang itu segera

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status