Silvia yang Pandu kenal dulu adalah gadis yang lemah lembut dan baik hati, karena itu dia tidak keberatan saat sang tante merekomendasikan wanita itu untuk menangani perceraiannya dengan Sekar yang pasti tidak akan berlangsung dengan mudah. Sekian lama tidak bertemu meski mereka memang dalam lingkungan pergaulan yang sama membuat Pandu terkejut dengan perubahan wanita itu, tutur katanya memang masih halus dan lembut seperti dulum tapi Silvia yang sekarang berubah menjadi wanita yang ambisius dan manipulatif. Apalagi sejak wanita itu nekad menerobos masuk ke dalam mobilnya dengan alasan ingin menjelaskan kesalahpahaman pada Alisya, tapi nyatanya hal yang terjadi malah sebaliknya, Alisya emnjadi tambah marah dan Silvia seolah menikmati semua itu dan menambah parah kesalahpahaman mereka. Harusnya sejak awal Pandu memang tidak berhubungan dengan wanita ini, dia bukannya tidak menyadari kalau Silvia punya ketertarikan lebih pada dirinya diperparah dengan dukungan sang tante yang
"Mbak Silvia mau duduk di depan?" tanya Alisya.Pandu mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Alisya, tapi dia sama sekali tak berkomentar apapun. Usia pernikahan mereka memang masih seumur jagung, tapi komunikasi yang efektif juga pelajaran berharga yang mereka dapatkan di pernikahan sebelum ini menjadikan ikatan mereka makin kuat. Keduanya masih muda, masih memiliki waktu yang panjang untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh duri, tapi mereka yakin dengan saling percaya satu sama lain, membuat keduanya akan mampu bertahan di tengah badai yang menerjang. Sengaja memang Alisya bertanya seperti itu untuk memancing wanita di depannya ini tapi Silvia bukan orang bodoh dia tahu sekali maksud Alisya. "Saya dibelakang saja, saya tidak ingin diusir karena dianggap menganggu suami orang." "Jawaban yang bijak, saya harap itu tidak hanya dimulut saja," balas Alisya tak lupa memberikan senyum semanis mungkin. Alisya membuka pintu penumpang samping, lalu Pandu memberikan putra merek
Acara itu dilakukan di salah satu villa keluarga Wardhana. Ini pertama kalinya memang Alisya mengikuti acara keluarga suaminya. "Apa setiap tahun hanya seperti ini?" tanya Alisya pada sang suami yang sedang menyetir di sampingnya. "Seperti ini bagaimana?" "Hanya acara kumpul keluarga?" "Iya memangnya harus bagaimana, papa bilang dia sudah terlalu tua untuk acara seperti ini." "Oh, aku kira ulang tahun papa akan dirayakan besar-besaran dan mengundang koleganya, karena Silvia-" "Dia tak pernah datang ke acara keluarga kami, entah kalau keluarga tante," potong Pandu yang tak ingin nama itu lagi-lagi di sebut oleh istrinya, dia cukup kesal dengan ulah wanita itu. Setelah pembicaraan mereka berdua kemarin, Pandu kira wanita seperti Silvia akan merasa marah dan lebih memilih pulang saja tapi wanita itu cukup tebal muka, Pandu saja sampai terkejut saat kembali ke dalam mobil setelah menjemput Alisya yang sedang mengajak anak mereka bermain, sudah duduk seperti semula di dalam mobil d
"Maaf, mbak hanya kamar itu yang masih tersisa, aku kira tadi mbak hanya datang bersama keluarga seperti biasa."Alisya melihat ayah mertuanya menghela napas dalam, sementara ibu mertuanya memilih memalingkan muka, terlihat sekali kalau wanita itu sama sekali tidak menyukai saudara iparnya ini. "Kamu bagaimana sih, Ji. seharusnya sebagai tuan rumah kamu sudah memperkirakan hal seperti ini," omel sang tante. Sebagai seorang pewaris utama semua aset keluarga tentu saja ayah mertuanya tidak ingin nama baik keluarga besarnya menjadi tercoreng, memang sih di sini sama sekali tidak ada orang lain, tapi ada para saudara serta anak menantu mereka yang tentu akan menilai sang pewaris bukan orang yang cakap untuk menghandle keluarga besarnya. "Maaf, mbak. Untuk sementara nona... ehm.. Silvia, benar namamu itu bukan kamu anak hakim Raharja?" Silvia lalu mengangguk dengan tak enak hati. "Kamu tidak masalahkan, menempati kamar tamu di belakang, maaf kalau kesannya malah tidak sopan.""Tidak apa
"Jangan pergi jika ada yang harus pergi dari sini itu orang lain, ini pesta ayah kalian, sama halnya kalian tuan rumah di sini." Pandu yang terlihat sangat emosi sambil menggandeng tangan Alisya langsung menghentikan langkahnya.Sang mama tadi memang tidak ikut ada di sana tapi suara keras mereka pasti menarik perhatian semua orang, apa karena Pandu pernah mengkhianati pernikahannya dulu, bukan berarti dia akan mudah mengkhianati pernikahannya lagi. "Mama." "Apa kamu kira mama tidak pernah mengalaminya, jawabnya sering tapi mama bukan orang yang mudah menyerah," kata sang mama dengan pandangan penuh tekad."Mama tahu kamu selama ini sudah sangat menderita, dan sekarang buktikan kamu memang layak untuk menjadi pewaris bukan hanya karena kamu anak papamu." Pandu menatap mamanya kaget, ada kesedihan, penyesalan juga rasa bersalah di mata wanita yang telah melahirkannya itu, tapi dia tahu mamanya memang menyesal sudah menelantarkannya dulu, tapi bukan berarti mamanya berubah menjadi l
"Bagaimana kamu melakukannya?" tanya Pandu takjub ketika mereka masuk ke dalam kamar. Malam ini adalah pesta ulang tahun Panji Wardhana, bukan pesta yang meriah memang hanya makan malam keluarga besar dan juga sedikit bertukar cerita, tapi hal yang sangat epik terjadi adalah, istri Panji Wardhan sekaligus ibu mertua Alisya yang dulu terlihat sangat anti dengan menantunya, tiba-tiba saja membela sang menantu, bahkan mengesankan mereka sudah akrab satu sama lain. "Melakukan apa?" "Menjadi soulmate mama," kata Pandu sambil menarik Alisya dalam pelukannya. "Mama hanya cerita masa lalunya saja, dan beliau juga bilang kalau hal yang sama terjadi padanya dulu, maksudku tante Agnes menjodohkan suaminya dengan wanita lain." "Iya pola yang sama untuk orang yang berbeda, tanteku sangat tidak kreatif bukan," kata Pandu sambil tertawa getir. "Dia hanya tidak mau kehilangan kendali pada keluarga." "Benar, tapi opa juga bukan orang bodoh dia tahu mana anaknya yang mampu menjadi pewaris kekaya
"Mas."Ini kayak maling kolor terus ketahuan lagi sama orang sekampung, hasil curiannya nggak seberapa tapi malunya itu lho yang akan melekat erat selama hidupnya, entah tadi dia ngomong apa saja, Alisya saja sampai lupa. Mau bagaimana lagi dia yang biasanya terorganisir dan sangat realistis, hanya mengandalkan emosinya saja, yah mau bagaimana lagi pelakor di depannya ini sangat menyebalkan dan tak tahu malu. Bukan Alisya takut kalau sang suami akan membela pelakor ini sebenarnya tapi lebih kepada harga dirinya yang terbanting jatuh, jangan sampai deh suaminya ini besar kepala karena diperebutkan dua orang wanita, apalagi pelakor ini sangat gigih dan memiliki background yang luar biasa. Alisya sedang tidak menuduh suaminya akan tergoda oleh wanita ini sih, tapi tetap saja suaminya adalah laki-laki biasa dan bisa saja melakukan kesalahan. "Bisma mencarimu, Sayang," kata Pandu lembut. "Aku kira kamu di dapur." "Oh tadi memang ada di sana buatin makanan untuk mas sama Bisma tapi non
Alisya menatap tetesan darah di lantai dengan tubuh bergetar. Dia selalu meyakinkan diri kalau dirinya adalah wanita yang mandiri dan kuat, akan tetapi saat ini dia tak yakin lagi dengan hal itu. Dia bahkan tak tahu bagaimana dia bisa ada di sini, yang dia tahu dia hanya sekuat tenaga mendekap luka di punggung sang suami dan berusaha menghentikan darah yang terus saja mengalir. Sedangkan Bisma seperti mengerti kalau sang ayah butuh pertolongan anak itu menangis begitu kencang dan berlari ke dalam rumah mencari pertolongan. "Pandu pasti akan baik-baik saja dia laki-laki yang kuat, dulu dia sendirian menghadapi segala ujian hidupnya mampu sekarang dia pasti sangat mampu dengan adanya kamu dan anak kalian." Kalimat itu diucapkan ayah mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Alisya tahu bukan hanya dirinya yang shock, tapi juga semua orang yang ada di sana.Meski dia sama sekali tidak menyukai Silvia karena berusaha merusak rumah tangganya, tapi Alisya masih menghormati wanita itu sebaga
"Ras, apa memang tidak ada peluang aku dan kamu jadi kita?" Bukan jawaban yang Pramudya dapatkan tapi sang istri yang langsung tersedak kue yang baru saja dia masukkan mulut. Pram langsung kalang kabut membantu sang istri. Pram meringis merasa bersalah saat wajah sang istri memerah sampai mengeluarkan air mata. Salahnya sih yang bicara tanpa melihat situasi dulu."Kamu niat banget mau bunuh aku Pram."Pram langsung lega saat Laras kembali melotot judes padanya, artinya istrinya sudah baik-baik saja. "Syukurlah." "Apa!" "Maksudku syukurlah kamu sudah baik-baik saja." Astaga punya istri singa betina ternyata horor juga, padahal Laras lebih banyak makan kue manis dari pada daging mentah lho. "Sudah deh sana jauh-jauh aku mau makan, kalau kamu tetap disini kamu bisa-bisa jadi duda lebih cepat," omel Laras yang langsung mendorong tubuh Pram menjauh. Pram mengalah dengan duduk di depan televisi agak jauh dari sang istri, dia tidak mau mengganggu kekhusukan sang istri makan kue dan
"Sakit ya. Maaf biar aku obati tanganmu." Laras menarik tangannya. "Apa sih maksudmu?" "Nggak ada maksud apa-apa, kita pulang dulu." "Untunglah mbak Laras ketemu." Laras yang berjalan di samping Pram hanya bisa tersenyum tak enak hati, apalagi saat Pram menyahut. "Iya, Pak. Istri satu-satunya lagi, kalau ilang kemana lagi saya mau nyari." "Mas Pram bisa saja. Tapi mbak Laras baik-baik saja kan? apa orang tadi menyakiti mbak? maaf saya tidak banyak membantu?" Laras langsung menghentikan langkahnya dan menatap sang satpam yang terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi padanya tadi. Apa yang akan satpam ini pikirkan kalau sebenarnya laki-laki kasar tadi adalah ayah kandungnya? "Mbak Laras?" tanya sang satpam lagi membuat Laras langsung sadar kalau dia tengah melamun. "Dia baik-baik saja, Pak. Kami kenal baik orang tadi kok," kata Pram sopan dan manis seperti biasa. "Oh begitu syukurlah. Maaf kalau saya salah sangka." Pram langsung merangkul bahu Alisya setelah berbasa-
"Wah ternyata di sini kamu tinggal, bagus sekali." Selama lima bulan menikah dengan Pram, Laras akui hidupnya sangat tenang. Dia tidak perlu khawatir pada ibunya, karena wanita yang telah melahirkannya itu sekarang pulang ke rumah kakek neneknya dan hidup bersama bibinya yang juga seorang janda. Dalam satu minggu Laras biasa menghubungi ibunya dua tiga kali dan mendengar suara wanita itu yang bersemangat dan raut wajah ceria menceritakan kehidupan sehari-harinya membuat Laras ikut bahagia.Mungkin seharusnya Laras dulu tidak menutupi perselingkuhan ayahnya, jadi mata ibunya akan lebih cepat terbuka, tapi dia tidak bisa terus menyesal yang penting sekarang semua sudah lebih baik.Pun dengan ayahnya yang tak lagi mengusiknya, mungkin uang dua milyar itu berhasil membuatnya hidup nyaman dan tak mengusiknya lagi. Awalnya...Saat pulang kerja tadi tiba-tiba sang ayah menghadangnya di depan gedung apartemen yang dia tempati. "Apa yang ayah lakukan di sini?" Jujur saja Laras malu dengan
Bagi Pram, Laras merupakan istri yang sangat ideal untuknya. Dan dia tentu saja tak berminat menjadikan pernikahannya hanya pernikahan kontrak saja seperti yang sering Laras bilang. Bagi Pram yang sangat mengagumi pernikahan orang tua Alisya tentu dia tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan seperti ayahnya yang hobi kawin cerai. Meski tidak dia pungkiri kalau dia dulu sering gonta- ganti pacar. "Saya suka dengan kue besar bentuk mawar ini, mbak. Apa bisa saya ambil hari jum'at besok?" tanya Pram sambil mengamati contoh kue dengan senyum yang terkembang sempurna, membuat si mbak pelayan toko melongo melihat mahluk indah di depannya ini. "Mbak?" tanya Pram lagi karena tak ada jawaban. "Eh... I-iya, Pak baik bisa." "Bagus. Saya akan menjemput kuenya jam delapan malam." Pram keluar dari toko kue itu dengan wajah cerah, hari jumat adalah hari ulang tahun Laras, dia sudah memperhatikan sang istri selama beberapa bulan mereka hidup bersama dan dari sana dia tahu kalau sang istri s
"Mau kemana lagi setelah ini?" Pram menoleh pada Laras disampingnya, mereka harus mengakhiri pertemuannya dengan Alisya karena wanita itu harus menjemput putranya dari sekolah. "Tidak ada, kita pulang saja," kata Laras malas. Jawaban Pram tadi sungguh membuatnya badmood. "Karena dia pacarku saat aku ingin menikah, dan dulu dia wanita yang lembut dan terlihat sangat baik hati seperti ibu peri." Jujur sih, Laras tidak punya dendam pada wanita yang sekarang berstatus sebagai ibu mertuanya itu, meski wanita itu kerap kali mencari masalah dan menghinanya, tapi bagi Laras itu bukan masalah besar, anggap saja dia hanya tikus yang lewat di depannya. Akan tetapi mendengar pengakuan Pram, membuat dada Laras terasa sesak bahkan sejak tadi dia hanya menunduk berusaha menahan air matanya supaya tidak ada yang tahu, tapi sialnya Alisya tahu dan sempat berbisik sambil memeluknya tadi. "Maafkan aku bertanya begitu, tapi aku yakin hati Pram masih belum ada pemiliknya dan kamu harus berjua
Alisya tahu Pram sering gonta-ganti pacar dan tentu saja rata-rata mereka cantik dan seksi, tapi tidak ada dari mereka yang seberani wanita di depannya ini. Wanita ini bukan hanya sukses menjadi nyonya besar Setiadji, tapi sebelumnya membuat Pram berpikir untuk melangkah lebih jauh. Pertunangan, meski tidak ada pesta besar. "Aku tidak tahu kalau tante ada di sini. Biasalah, Tan anak muda sering hangout bareng teman," kata Laras sambil terkekeh pelan. Dia tahu, istri ayah mertuanya ini paling benci dipanggil tante olehnya karena merasa mereka seumuran. Laras tersenyum manis melihat kepalan tangan wanita di depannya, lalu wanita itu berjalan pergi dengan kesal. Laras rasanya ingin terbahak, dia tidak sudi ditindas wanita seperti istri ayah mertuanya itu. "Apa tidak masalah nanti?" Laras menoleh dan melihat Alisya yang menikmati kuenya dengan tenang sambil mengawasinya dengan seksama.Laras menatap Alisya sejenak lalu mengangkat bahunya acuh, sesungguhnya dia tak tahu, dia tadi h
Laras memang tidak memasak layaknya Alisya, tapi wanita itu bukan wanita manja penuntut dan pemarah. Meski kadang keras kepala tapi Laras sosok yang penurut dan yang pasti dia bisa membuat Pram nyaman di apartemennya yang sudah lama sepi. Menjahili Laras menjadi kebiasan baru yang sangat menyenangkan untuknya.Tak ada pembantu tetap di sini, hanya orang yang dia bayar untuk membersihkan dan mengurus baju mereka, tapi sejak ada Laras dia yang mengurus semua itu. Dalam urusan membersihkan apartemen Laras sangat detail, sehingga apartemennya selalu bersih dan tak pernah ada lagi barang yang tergeletak sembarangan. “Mau kemana?” Padahal biasanya pada hari libur seperti ini jika mereka tidak janjian keluar rumah, mereka akan menghabiskan waktu dengan nonton televisi sambil ngemil, tapi hari ini Laras sepertinya punya rencana tersendiri. “Aku ada janji sebentar.” “Dengan siapa? Kenapa kamu tidak izin padaku?” tanya Pram sambil menaikkan alisnya sombong. Laras kesal dong, dengan muka
“Kalau iya memangnya kenapa?” tanya Laras dengan tak kalah lantang membuat ibu tiri Pram itu terperangah kaget. “Memangnya kamu tidak, lihat tas dan baju kamu, itu pasti uang suamimu. Ckkk siapa di sini yang matre dan jalang.” Kali ini Laras sudah lebih siap saat tangan Clara mengayun akan menampar pipinya, dia langsung menangkap tangan wanita itu dan memutarnya dengan keras hingga terdorong ke belakang, sayangnya yang tidak Laras antisipasi wanita itu memilih jatub terjerembab di pelukan Pram. Pram yang dari tadi hanya melongo menikmati opera di depannya kaget dan refleks langsung memeluk pinggang Clara yang hampir jatuh. “Lihat, Pram. Istrimu dia sama sekali tidak ada hormat padaku, dia bahkan berani merayu papamu.” Wanita itu menangis sesenggukan di pelukan Pram, Laras yang tahu itu hanya modus dan si suaminya yang bego itu malah melihat sang ibu tiri dengan wajah bingung segera bertindak. “Bilang aku mau rayu papa, wong kamu yang gatel gih. Sana jauh-jauh jangan sampai badan
Laras menatap ponsel yang bergetar dengan gelisah. Nomer baru yang sama sekali tidak dia ketahui. Dulu mendapat telepon dari nomer baru adalah bencana untuknya, karena biasanya sang ayah yang meminjam ponsel entah siapa untuk menghubunginya dan meminta uang. Meski dia jarang memberikannya tapi sang ayah terlihat pantang menyerah dan tentu saja menggunakan sang ibu sebagai ancaman membuat Laras tak berkutik lagi. Tapi bukankah sang ayah punya banyak uang sekarang? Ataukah sudah habis di meja judi lagi? “Angkat, Ras. Berisik tahu,” gerutu teman di samping kubikelnya yang pasti terganggu. Laras meringis minta maaf, padahal dia sudah meminimalkan suaranya tapi mungkin telinga rekan kerjanya ini setara kelelawar. Tak ingin menimbulkan masalah lagi Laras mengangkat panggilan itu. “Akhirnya kamu mengangkat panggilan papa jug,” kata suara yang dikenali Laras di ujung sana. “Papa?” “Iya, Ras. Ini papa, baru kemarin kita bertemu masak kamu lupa dengan suara papa.” Lagi dan lagi, Lara