Share

Bab 248

Author: Ajeng padmi
last update Last Updated: 2025-02-13 22:48:20

"Bagaimana kamu melakukannya?" tanya Pandu takjub ketika mereka masuk ke dalam kamar.

Malam ini adalah pesta ulang tahun Panji Wardhana, bukan pesta yang meriah memang hanya makan malam keluarga besar dan juga sedikit bertukar cerita, tapi hal yang sangat epik terjadi adalah, istri Panji Wardhan sekaligus ibu mertua Alisya yang dulu terlihat sangat anti dengan menantunya, tiba-tiba saja membela sang menantu, bahkan mengesankan mereka sudah akrab satu sama lain.

"Melakukan apa?"

"Menjadi soulmate mama," kata Pandu sambil menarik Alisya dalam pelukannya.

"Mama hanya cerita masa lalunya saja, dan beliau juga bilang kalau hal yang sama terjadi padanya dulu, maksudku tante Agnes menjodohkan suaminya dengan wanita lain."

"Iya pola yang sama untuk orang yang berbeda, tanteku sangat tidak kreatif bukan," kata Pandu sambil tertawa getir.

"Dia hanya tidak mau kehilangan kendali pada keluarga."

"Benar, tapi opa juga bukan orang bodoh dia tahu mana anaknya yang mampu menjadi pewaris kekaya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yuli Yazid
Alisya jangan mau di tindas melulu lawan terus itu rubah nggak tau malu
goodnovel comment avatar
Siti Astichomah
Pandu tinggal jawab donk "Ya sdh lama & mendengarkan betapa hebatnya istriku krn bukan wanita murahan."
goodnovel comment avatar
ReNny Ne Vino
lawan trus jgn kasih kendor
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 249

    "Mas."Ini kayak maling kolor terus ketahuan lagi sama orang sekampung, hasil curiannya nggak seberapa tapi malunya itu lho yang akan melekat erat selama hidupnya, entah tadi dia ngomong apa saja, Alisya saja sampai lupa. Mau bagaimana lagi dia yang biasanya terorganisir dan sangat realistis, hanya mengandalkan emosinya saja, yah mau bagaimana lagi pelakor di depannya ini sangat menyebalkan dan tak tahu malu. Bukan Alisya takut kalau sang suami akan membela pelakor ini sebenarnya tapi lebih kepada harga dirinya yang terbanting jatuh, jangan sampai deh suaminya ini besar kepala karena diperebutkan dua orang wanita, apalagi pelakor ini sangat gigih dan memiliki background yang luar biasa. Alisya sedang tidak menuduh suaminya akan tergoda oleh wanita ini sih, tapi tetap saja suaminya adalah laki-laki biasa dan bisa saja melakukan kesalahan. "Bisma mencarimu, Sayang," kata Pandu lembut. "Aku kira kamu di dapur." "Oh tadi memang ada di sana buatin makanan untuk mas sama Bisma tapi non

    Last Updated : 2025-02-14
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 250

    Alisya menatap tetesan darah di lantai dengan tubuh bergetar. Dia selalu meyakinkan diri kalau dirinya adalah wanita yang mandiri dan kuat, akan tetapi saat ini dia tak yakin lagi dengan hal itu. Dia bahkan tak tahu bagaimana dia bisa ada di sini, yang dia tahu dia hanya sekuat tenaga mendekap luka di punggung sang suami dan berusaha menghentikan darah yang terus saja mengalir. Sedangkan Bisma seperti mengerti kalau sang ayah butuh pertolongan anak itu menangis begitu kencang dan berlari ke dalam rumah mencari pertolongan. "Pandu pasti akan baik-baik saja dia laki-laki yang kuat, dulu dia sendirian menghadapi segala ujian hidupnya mampu sekarang dia pasti sangat mampu dengan adanya kamu dan anak kalian." Kalimat itu diucapkan ayah mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Alisya tahu bukan hanya dirinya yang shock, tapi juga semua orang yang ada di sana.Meski dia sama sekali tidak menyukai Silvia karena berusaha merusak rumah tangganya, tapi Alisya masih menghormati wanita itu sebaga

    Last Updated : 2025-02-15
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 251

    Jika diberi pilihan hidup sekali lagi apa orang-orang itu akan memilih pilihan yang berbeda atau masih keras kepala kalau pilihannya sudah tepat. Meski pilihan itu mengorbankan orang lain atau bahkan dirinya sendiri?"Seharusnya saya tadi tidak bicara dengannya," kata Alisya lirih penuh penyesalan. Sungguh Alisya menyesal dengan apa yang terjadi pagi ini, wanita itu menunduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Saat ini dia ada di ruang tunggu ruang perawatan Pandu, bersama sang ibu mertua tentu saja karena ayah mertuanya harus mengurus insiden yang terjadi pagi ini. "Seharusnya memang begitu." Alisya langsung mendongak mendengar suara dingin ibu mertuanya, suara yang sejak kemarin tidak dia dengar lagi. "Kamu memang bodoh, bukankah aku sudah bilang untuk menjauhinya tapi kamu sok baik dengan meladeninya bicara." Kalimat itu memang menyakitkan tapi Alisya tak bisa menyangkal kebenaran kalimat itu. "Maaf." Hanya itu yang bisa dia katakan, andaikan waktu bisa diputar lag

    Last Updated : 2025-02-16
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 252

    "Dasar pembawa sial!" Teriakan itu langsung menggema di ruang vip tempat Pandu dirawat saat Alisya baru saja membuka pintu. Dia tidak menyangka ada orang yang cukup gila berteriak di rumah sakit seperti ini, meski ruangan ini agak terpisah dengan ruangan lain tapi teriakan keras itu bahkan bisa membangunkan orang mati. Alisya menoleh ke belakang, dia sedikit berharap Pandu terganggu dengan teriakan itu dan membuka mata, dia tidak keberatan dimaki atau diomeli asal suaminya bisa bangun lagi, tapi nyatanya Pandu masih tetap anteng dalam tidurnya. "Jangan berisik tante ini rumah sakit," tegur Alisya pelan. Alisya pasti sudah gila kalau berpikir wanita di depannya ini akan menurut dengan kalimatnya, sang tante langsung meringsek masuk dan menatap Pandu dengan tatapan... Kesal. Sungguh manusia ajaib memang. "Semua ini gara-gara kamu, kalau kamu mau menerima Silvia semuanya tidak akan seperti ini!" "Ini tempat umum, anda pasti tahu apa yang akan terjadi jika saya memanggil satp

    Last Updated : 2025-02-17
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 253

    Alisya menghela napas lelah, dia menatap dua orang polisi di depannya dengan seksama. "Saya tidak tahu apa Silvia kecelakaan atau ada orang yang sengaja mensabotase mobilnya," kata Alisya tegas entah untuk yang ke berapa kalinya.Entah bukti apa yang sudah didapat oleh para polisi ini sampai mereka mencerca Alisya dengan berbagai pertanyaan yang nyudutkan, padahal bisa dibilang dia adalah korban dari keegoisan Silvia, meski wanita itu sudah meninggal sekarang, tapi sejak tadi tak ada pertanyaan kenapa suaminya bisa berakhir di rumah sakit seperti ini. "Apa ibu yakin tidak tahu akan hal itu?" tanya sang polisi lagi. Alisya tahu sih mereka hanya melakukan pekekerjaan mereka, tapi kok dia jadi kesal ya, kenapa seolah dia yang dijadikan tersangka, sedikit sesal di hati Alisya karena tidak menuruti saran bibi untuk menghubungi ayah mertuanya dan mendapatkan bantuan pengacara.Alisya pikir dia hanya perlu menceritakan kronologi kejadiannya saja, tapi ternyata... "Saat Silvia melajukan m

    Last Updated : 2025-02-18
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 254

    Rasanya seperti sedang menikmati pemandangan indah di puncak gunung tiba-tiba didorong ke dasar jurang.Itulah yang Alisya rasakan sekarang.Seharusnya Alisya tidak menaruh harap, apalagi pada manusia Agar dia selalu terlindung dari rasa kecewa. Tapi apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur tak akan bisa kembali lagi. "Silvia." Nama itu seperti penyakit yang menggerogotinya. Orangnya memang sudah meninggal tapi masih mampu memberikan rasa sakit untuknya. Kemarin saat melihat suaminya berlumuran darah Alisya bahkan tak mampu untuk mengeluarkan air mata, dia terlalu terkejut dengan ini semua, sangat berharap kalau sang suami segera bangun tapi begitu harapannya terkabul kenapa rasanya begitu sakit saat mendengar sang suami menyebut nama itu.Andaikan bisa Alisya ingin menghapus ingatan sang suami pada nama itu, sayangnya itu tak mungkin dia lakukan.Bersamaan dengan bibi yang datang bersama dokter jaga, kaki Alisya melangkah mundur, dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Bahkan

    Last Updated : 2025-02-19
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 255

    "Kenapa mas ngomong seram begitu." "Mas akan meminta beberapa orang untuk mengawalmu mulai sekarang." "Untuk apa?""Tentu saja untuk berjaga-jaga, apalagi Silvia pasti lebih nekad sekarang tadi saja dia berani datang kemari." Alisya terdiam dia menatap suaminya dalam, entah bagaimana reaksi Pandu mendengar berita kematian Silvia."Silvia tak akan bisa mencelakakan siapapun lagi, karena dia sudah meninggal," kata Alisya pelan tanpa memalingkan muka dari sang suami."Oh?" "Kenapa?" "Mas tidak penasaran kenapa dia bisa meninggal?" Pandu menghela napas panjang lalu menatap sang istri sambil tersenyum. "Dia bukan orang yang penting untukku, jadi tidak penting juga apa yang terjadi padanya," katanya ringan. "Mas yakin tidak punya perasaan lebih padanya, rasa simpati atau bela sungkawa seperti itu bagaimanapun kalian sudah lama saling kenal?" Alisya tahu pertanyaannya ini sangat konyol, dia bukan ingin meyakiti diri dengan mendengar suaminya perduli pada wanita lain sih, bukan sepert

    Last Updated : 2025-02-20
  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 256

    Ini adalah mimpinya sejak dulu. Dia akan menjadi orang nomer satu di kota ini, dia sangat yakin meski pemilihan belum berlangsung. Kekuatan nama besar keluarganya juga koneksi yang dia miliki tentu akan membuatnya bisa melenggang dengan tenang menduduki posisi itu. Sayang... Dia tidak memperhatikan satu kerikil kecil yang membuatnya tergelincir seperti ini. Tidak... Dia belum kalah, dia akan membuktikan kalau dia tidak bersalah dalam hal ini, dia akan menemui laki-laki tua itu, kalau perlu dia akan bersujud di kakinya untuk mendapatkan fasilitas dan dukungannya. Sudah saatnya bukan dia mendapatkan apa yang menjadi haknya selama ini, dia sudah banyak mengalah sejak usianya remaja. Panji yang diberi hak istimewa baik pendidikan bahkan kedudukan dalam keluarga, seharusnya pewaris adalah anak pertama, tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, laki-laki tua kolot itu pasti akan menyesali keputusannya ini. Dia pasti akan membuatnya membuka mata dan melihat kenyataan yang sebenarny

    Last Updated : 2025-02-20

Latest chapter

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 320

    Laras baru tahu kalau Clara itu pintar memasak dan setiap hari mengirimkan makan siang untuk Pram. Bukan tanpa sebab hari ini dia datang ke kantor suaminya. Laras memang sengaja membeli makan siang untuk mereka berdua. Datang ke kantor Pram menurut Laras lebih masuk akal dari pada laki-laki itu harus datang ke kantornya atau mereka makan diluar. Jujur saja dia tak rela, para cewek itu menuntaskan fantasinya pada sang suami, meski Laras dengan keras kepala mengatakan belum mencintai sang suami tapi tetap saja dia tak suka Pram dikerubungi cewek seperti semut mengerubungi gula. "Saya Laras ingin bertemu bapak Pramudya, sudah ada janji dengan beliau," kata Laras sopan. Sengaja dia mengikuti protokol standart penerimaan tamu untuk meminimalisir drama yang akan terjadi lagi pula dia belum siap mengenalkan diri sebagai istri Pram. "Tunggu sebentar, Bu. Saya hubungi asisten beliau dulu," kata sang resepsionis sopan.Laras mengangguk dan menunggu sambil mengamati interior lobi kantor in

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 319

    "Selamat pagi istriku," sapaan manis itu membuat Laras langsung menahan kuapnya. Setelah subuh tidur lagi memang Kebiasaan yang tak pernah bisa dia hilangkan, padahal hari ini dia ingin menjadi istri yang baik setelah kesepakatan mereka tadi malam, meski dia masih agak-agak tak rela sih, tapi sebagai orang yang bertanggung jawab dia akan coba menjalani komitmen itu. "Kamu kok sudah bangun?" tanya Laras sambil menghempaskan dirinya di kursi makan. "Matahari sudah bangun sejak tadi, sayang, makanya aku bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk kita." "Kok aku merinding ya dengar panggilan sayang darimu.""Merinding senang," goda Pram.Laras langsung melengos, tak bisa dipungkiri memang ada rasa senang dalam hatinya mendengar panggilan itu tapi dia juga harus mengingatkan dirinya kalau mungkin saja di luar sana masih banyak gadis yang dipanggil sayang oleh Pram. "Padahal aku berencana memasak tapi ya sudahlah," katanya ngeloyor tak peduli. "Yah kenapa nggak bilang, padahal aku ingin

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 318

    "Ras, apa memang tidak ada peluang aku dan kamu jadi kita?" Bukan jawaban yang Pramudya dapatkan tapi sang istri yang langsung tersedak kue yang baru saja dia masukkan mulut. Pram langsung kalang kabut membantu sang istri. Pram meringis merasa bersalah saat wajah sang istri memerah sampai mengeluarkan air mata. Salahnya sih yang bicara tanpa melihat situasi dulu."Kamu niat banget mau bunuh aku Pram."Pram langsung lega saat Laras kembali melotot judes padanya, artinya istrinya sudah baik-baik saja. "Syukurlah." "Apa!" "Maksudku syukurlah kamu sudah baik-baik saja." Astaga punya istri singa betina ternyata horor juga, padahal Laras lebih banyak makan kue manis dari pada daging mentah lho. "Sudah deh sana jauh-jauh aku mau makan, kalau kamu tetap disini kamu bisa-bisa jadi duda lebih cepat," omel Laras yang langsung mendorong tubuh Pram menjauh. Pram mengalah dengan duduk di depan televisi agak jauh dari sang istri, dia tidak mau mengganggu kekhusukan sang istri makan kue dan

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 317

    "Sakit ya. Maaf biar aku obati tanganmu." Laras menarik tangannya. "Apa sih maksudmu?" "Nggak ada maksud apa-apa, kita pulang dulu." "Untunglah mbak Laras ketemu." Laras yang berjalan di samping Pram hanya bisa tersenyum tak enak hati, apalagi saat Pram menyahut. "Iya, Pak. Istri satu-satunya lagi, kalau ilang kemana lagi saya mau nyari." "Mas Pram bisa saja. Tapi mbak Laras baik-baik saja kan? apa orang tadi menyakiti mbak? maaf saya tidak banyak membantu?" Laras langsung menghentikan langkahnya dan menatap sang satpam yang terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi padanya tadi. Apa yang akan satpam ini pikirkan kalau sebenarnya laki-laki kasar tadi adalah ayah kandungnya? "Mbak Laras?" tanya sang satpam lagi membuat Laras langsung sadar kalau dia tengah melamun. "Dia baik-baik saja, Pak. Kami kenal baik orang tadi kok," kata Pram sopan dan manis seperti biasa. "Oh begitu syukurlah. Maaf kalau saya salah sangka." Pram langsung merangkul bahu Alisya setelah berbasa-

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 316

    "Wah ternyata di sini kamu tinggal, bagus sekali." Selama lima bulan menikah dengan Pram, Laras akui hidupnya sangat tenang. Dia tidak perlu khawatir pada ibunya, karena wanita yang telah melahirkannya itu sekarang pulang ke rumah kakek neneknya dan hidup bersama bibinya yang juga seorang janda. Dalam satu minggu Laras biasa menghubungi ibunya dua tiga kali dan mendengar suara wanita itu yang bersemangat dan raut wajah ceria menceritakan kehidupan sehari-harinya membuat Laras ikut bahagia.Mungkin seharusnya Laras dulu tidak menutupi perselingkuhan ayahnya, jadi mata ibunya akan lebih cepat terbuka, tapi dia tidak bisa terus menyesal yang penting sekarang semua sudah lebih baik.Pun dengan ayahnya yang tak lagi mengusiknya, mungkin uang dua milyar itu berhasil membuatnya hidup nyaman dan tak mengusiknya lagi. Awalnya...Saat pulang kerja tadi tiba-tiba sang ayah menghadangnya di depan gedung apartemen yang dia tempati. "Apa yang ayah lakukan di sini?" Jujur saja Laras malu dengan

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 315

    Bagi Pram, Laras merupakan istri yang sangat ideal untuknya. Dan dia tentu saja tak berminat menjadikan pernikahannya hanya pernikahan kontrak saja seperti yang sering Laras bilang. Bagi Pram yang sangat mengagumi pernikahan orang tua Alisya tentu dia tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan seperti ayahnya yang hobi kawin cerai. Meski tidak dia pungkiri kalau dia dulu sering gonta- ganti pacar. "Saya suka dengan kue besar bentuk mawar ini, mbak. Apa bisa saya ambil hari jum'at besok?" tanya Pram sambil mengamati contoh kue dengan senyum yang terkembang sempurna, membuat si mbak pelayan toko melongo melihat mahluk indah di depannya ini. "Mbak?" tanya Pram lagi karena tak ada jawaban. "Eh... I-iya, Pak baik bisa." "Bagus. Saya akan menjemput kuenya jam delapan malam." Pram keluar dari toko kue itu dengan wajah cerah, hari jumat adalah hari ulang tahun Laras, dia sudah memperhatikan sang istri selama beberapa bulan mereka hidup bersama dan dari sana dia tahu kalau sang istri s

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 314

    "Mau kemana lagi setelah ini?" Pram menoleh pada Laras disampingnya, mereka harus mengakhiri pertemuannya dengan Alisya karena wanita itu harus menjemput putranya dari sekolah. "Tidak ada, kita pulang saja," kata Laras malas. Jawaban Pram tadi sungguh membuatnya badmood. "Karena dia pacarku saat aku ingin menikah, dan dulu dia wanita yang lembut dan terlihat sangat baik hati seperti ibu peri." Jujur sih, Laras tidak punya dendam pada wanita yang sekarang berstatus sebagai ibu mertuanya itu, meski wanita itu kerap kali mencari masalah dan menghinanya, tapi bagi Laras itu bukan masalah besar, anggap saja dia hanya tikus yang lewat di depannya. Akan tetapi mendengar pengakuan Pram, membuat dada Laras terasa sesak bahkan sejak tadi dia hanya menunduk berusaha menahan air matanya supaya tidak ada yang tahu, tapi sialnya Alisya tahu dan sempat berbisik sambil memeluknya tadi. "Maafkan aku bertanya begitu, tapi aku yakin hati Pram masih belum ada pemiliknya dan kamu harus berjua

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 313

    Alisya tahu Pram sering gonta-ganti pacar dan tentu saja rata-rata mereka cantik dan seksi, tapi tidak ada dari mereka yang seberani wanita di depannya ini. Wanita ini bukan hanya sukses menjadi nyonya besar Setiadji, tapi sebelumnya membuat Pram berpikir untuk melangkah lebih jauh. Pertunangan, meski tidak ada pesta besar. "Aku tidak tahu kalau tante ada di sini. Biasalah, Tan anak muda sering hangout bareng teman," kata Laras sambil terkekeh pelan. Dia tahu, istri ayah mertuanya ini paling benci dipanggil tante olehnya karena merasa mereka seumuran. Laras tersenyum manis melihat kepalan tangan wanita di depannya, lalu wanita itu berjalan pergi dengan kesal. Laras rasanya ingin terbahak, dia tidak sudi ditindas wanita seperti istri ayah mertuanya itu. "Apa tidak masalah nanti?" Laras menoleh dan melihat Alisya yang menikmati kuenya dengan tenang sambil mengawasinya dengan seksama.Laras menatap Alisya sejenak lalu mengangkat bahunya acuh, sesungguhnya dia tak tahu, dia tadi h

  • Maaf, Aku Bukan Wanita Lemah   Bab 312

    Laras memang tidak memasak layaknya Alisya, tapi wanita itu bukan wanita manja penuntut dan pemarah. Meski kadang keras kepala tapi Laras sosok yang penurut dan yang pasti dia bisa membuat Pram nyaman di apartemennya yang sudah lama sepi. Menjahili Laras menjadi kebiasan baru yang sangat menyenangkan untuknya.Tak ada pembantu tetap di sini, hanya orang yang dia bayar untuk membersihkan dan mengurus baju mereka, tapi sejak ada Laras dia yang mengurus semua itu. Dalam urusan membersihkan apartemen Laras sangat detail, sehingga apartemennya selalu bersih dan tak pernah ada lagi barang yang tergeletak sembarangan. “Mau kemana?” Padahal biasanya pada hari libur seperti ini jika mereka tidak janjian keluar rumah, mereka akan menghabiskan waktu dengan nonton televisi sambil ngemil, tapi hari ini Laras sepertinya punya rencana tersendiri. “Aku ada janji sebentar.” “Dengan siapa? Kenapa kamu tidak izin padaku?” tanya Pram sambil menaikkan alisnya sombong. Laras kesal dong, dengan muka

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status