"Cepatlah, Den! Kasihan Den Dini." Ima terisak di depan kamar Dini dengan tergopoh menyongsong Dilan yang baru datang."Dasar gadis tak tau diri! Bisa-bisanya kauundang anakku ke kamarmu." Terdengar Giani memarahi Dini."Kamu memang sudah dibutakan dengan kasih sayangmu. Kamu tak pernah berfikir mana yang benar dan mana yang salah." Keras kata-kata yang dilontarkan Pramono ke istrinya sambil berusaha mengambil selimut untuk menyelimuti Dini yang ketakutan meringkuk di pojok kamar.Dilan yang datang segera menyelinap papanya. Memeluk Dini yang ketakutan dan menyelimutinya dengan selimut yang tadi mau dipakaikan papanya ke Dini. Pakaiannnya compang camping. Bibirnya yang memakai lipstik tampak belepotan kesana kemari. Dilan segera mengambil tisu di mejanya dan mengelap bibir Dini dengan tisu tersebut. Nampak airmata berurai tak berhenti dengan wajahnya yang ketakutan.Dialn menatap Davin dengan marahnya. "Kapan hari aku memaafkanmu karena pikirku benar seperti saat kamu minta maaf, ba
Dini mendekat. Memungut baju yang akan dibuang Dilan ke tempat sampah. Dipeluknya baju itu dengan diihatnya berkali-kali sambil setetes air mata terurai. “Ini baju yang kamu pilihkan untukku,” gumannya pelan."Baju itu sudah robek, Din." Dilan mencoba memberi pengertian dengan masih menatap Dini dengan bayangan yang tadi sempat membuat dadanya berdebar menahan gejolak sebagai lelaki normal."Tapi ini baju yang katamu kemarin kamu sukai," katanya dengan suara yang masih serak."Besuk kita beli lagi yang seperti ini, ya?" bujuk Dilan.Lama Dini memandang Dilan. Baru kemudian mengangguk. Dilan merengkuhnya. Membenamkan wajah Dini dalam dekapannya dan mencium keningnya. Sejenak dia membatin dengan mengatakan maaf kembali. Kali ini maaf Dilan untuk pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Dilan lalu mengurai pelukannya, menangkup wajah di depannya dengan jari yang siap menghabus sisa airmata yang masih melekat di pipi putih gadis yang amat dicintainya itu. "Sekarang kamu ke kamar ma
Giani tengah memeriksa dapur. Memantau makanan apa yang dibuat Imah hari ini. "Masak apa, Bi?" tanyanya pada Ima.Dalam diam. Imah menatap Giani dengan bingung. ia memang takut jika ditanyai macam-macam tentang Dilan da Dini jika majikannya itu tau kalau Dilan dan Dini telah pergi. Bagaimanapun juga, Giani takkan ihlas jika anak lelakinya itu pergi dari rumah yang sebenarnya menjadi haknya. Dialah Dilan yang selalu menjadi kebanggaan Giani melihat budi pekertinya yang baik."Kelihatannya sedap ayam panggangnya, Bi," ucapnya sambil mencicipi masakan yang dimasak Ima, termasuk sambalnya. "Sambalnya juga pas. Kamu memang pandai memasak. Tau ghak, sewaktu aku di Amerika, aku suka kangen masakanmu."Ima hanya tersenyum. Hatinya pahit memikirkan Dilan dan Dini yang tidak juga mengabari dirinya. Dia teramat menghawatirkan Dini jika ditinggal Dilan kerja. Sebelum masak tadi dia sudah melihat handphone jadulnya berkali kali. Tak ada telpon Dilan. Yang ada malah telpon dari anak satu-satunya di
Pramono melemparkan pandangan ke dapur, di mana Bi Imah terlihat masih sibuk menyelesaikan cucian piringnya."Tumben jam segini belum keluar, Dini," gumam Pramono dengan suara rendah. Dia mengamati gerak-gerik keluarganya yang tampak resah, terutama setelah Davin pergi tanpa pamit. Dini biasanya sudah rapi sejak Subuh, dengan pakaian bersih dan wangi khasnya. Tapi pagi itu berbeda."Ini ketiduran atau apa, sih?" Giani mulai kesal."Ketuk yang pelan, Ma. Setelah kejadian semalam, mereka mungkin lelah. Siapa tahu ketiduran. Nanti kaget kalau dibangunin tiba-tiba."Tanpa menunggu jawaban, Giani melangkah menuju kamar Dilan, mengetuk pintu dengan nada penasaran dan cemas. "Dilan, kamu gak berangkat kerja?" tanyanya. Namun, hanya keheningan yang menyambutnya. Setelah beberapa lama tanpa jawaban, rasa curiga mulai menyelinap di benaknya. Tangan Giani mendorong pelan daun pintu yang ternyata sudah tidak terkunci.Saat dia melihat ke dalam kamar, rasa terkejut memenuhi wajahnya. Kamar itu kos
Dini menarik tangan Dilan dengan gemetar. Kejadian semalam masih membekas di benaknya, menggantung seperti bayangan yang tak mau pergi. "Gak usah buka pintu, Mas... nanti mereka mukulin kamu. Bukankah mereka sudah menyentuhku tadi malam..." Suaranya bergetar, dan ia pun menutup matanya, seolah berharap ingatan buruk itu segera hilang.Dilan menenangkan Dini dengan nada penuh kelembutan. "Jangan takut, Din. Kita sudah di tempat yang aman. Percaya sama Mas, orang-orang yang mengganggumu tadi malam tidak akan berani datang lagi." Ia meraih tangan Dini, menggenggamnya kuat untuk memberikan keyakinan.Dini menatap Dilan ragu-ragu, namun akhirnya mengikuti langkahnya dari belakang. Tangannya menggenggam sesuatu dengan erat – sebuah pisau buah yang dipungutnya sejak tadi, seolah menjadi satu-satunya perlindungan yang ia punya.Dengan penuh keyakinan, Dilan melangkah menuju pintu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengucap pelan, "Bismillah." Dengan hati-hati, ia membuka pintu, dan rasa le
Dini terhuyung, nyaris kehilangan keseimbangan. Dilan dengan sigap menangkapnya, raut wajahnya penuh kecemasan. "Kamu kenapa, Din?" tanyanya, matanya menyelidik.Dini hanya diam, menunduk sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Sekilas ia memandang Dilan dalam-dalam, seakan mencari sesuatu di balik wajah itu—sebuah kehangatan yang tiba-tiba terasa asing. Tanpa berkata apa-apa, Dini menyambar baju yang dipilihkan Dilan dan buru-buru melangkah ke kamar mandi.Dilan mengerutkan kening, bingung. "Dini, kenapa nggak ganti di sini aja? Kan kamu pakai handuk." Suaranya terdengar heran, sedikit kecewa dengan kelakuan Dini yang seolah menganggapnya orang asing. Tapi, Dini tak menyahut, hanya pintu kamar mandi yang tertutup dengan pelan, menyisakan Dilan dalam kebingungan.Di dalam kamar mandi, Dini memandang bayangannya di cermin. Sesuatu berkelebat di benaknya—sebuah kenangan, atau mungkin peringatan. Wajah Giani terbayang jelas, dengan sorot mata marah dan suara tegas, "Berhenti memang
Di ruangan depan, Danu meraih jaketnya dengan cepat, mengabaikan panggilan telepon dari papanya yang masih berlangsung. Tanpa pikir panjang, dia keluar rumah dan menyalakan mobil, melaju meninggalkan rumah gedong itu dengan langkah tergesa-gesa. Di pertigaan, Danu sempat ragu—seharusnya dia berbelok kanan menuju kampus. Namun, sebuah pikiran yang tak tertahankan menggerakkan tangannya untuk membelok ke arah kiri, menjauhi kampus dan menuju perbukitan. Beberapa hari sebelumnya, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikan kuliahnya yang tertunda hampir setahun sejak kepergian Aziel, namun kali ini dia kembali ragu.Danu memarkir mobilnya di dekat gerbang bumi perkemahan dan melanjutkan berjalan kaki. Langkahnya semakin lambat ketika rasa lelah menghantam tubuhnya, seakan menahan langkah yang sejak awal penuh keraguan. Di sebuah tepian aliran sungai, tepat di bawah air terjun kecil, ia berhenti. Matanya menyapu pemandangan sekitar yang dipenuhi pepohonan rindang, di mana tiap po
Dilan duduk diam, pikiran berkecamuk dengan gelombang kegelisahan dan ketakutan yang tiba-tiba menguasainya. Terkadang, pikirannya terasa begitu kusut, bertabrakan dengan keinginan tulusnya akan kesembuhan Dini. Kenapa perasaan ini begitu kuat? Kenapa dia merasa seolah tak lagi sepenuhnya ikhlas atas kesembuhan Dini, tapi lebih takut kehilangan kehadiran wanita yang sekarang tampak begitu asing di hadapannya?Dini duduk berlawanan dengannya, pandangannya menunduk tanpa menatap Dilan sekalipun. Di tangannya, ia memegang sebuah mainan kecil, mainan yang tampak usang, layaknya mainan yang sering dijumpai di tangan seorang balita. Dilan memandanginya dengan tanya di hati, bingung akan dari mana benda kecil itu berasal, namun juga penasaran dengan apa yang kini memenuhi pikiran Dini, yang bahkan tak lagi meliriknya.Pintu terbuka dan Profesor Satya masuk dengan senyum hangat yang khas. "Aku tadi bicara dengan istriku," ujarnya sambil melirik ke arah Dilan dan Dini, ekspresinya tenang. "Bara
Mata Dini sudah mengaca. Dilan hanya bisa merengkuhnya, membenamkan wajahnya dalam dekapannya. "Kita akan cari rumah kontrakan yang mungkin bisa untuk mengembangkan usahamu sekaligus bisa untuk kita tempati," janji Dilan, "kamu jangan lagi menangis." diciumnya kening wanita yang kini terisak di pelukannya."Nanti kalau diminta orangnya lagi gimana? Susah lagi kan?" protes Dini.Dilan terkikik. "Iya juga ya," cetusnya."Nah, kurang pinter juga kamu ya, Mas.""Iya, iya, Dek. Yang pinter kan cuma kamu. Terlebih kamu pinter mencuri."Dini mendorong dada Dilan. "Maksud Mas apa?""Aduh!" Dilan yang tidak menyangka sampai berpegangan di bibir tempat tidurnya. "Kamu ini ya,.. nggak lagi sedidh, nggak lagi senang, sukanya bikin aku mau celaka terus."Dini cemberut. "Habisnya, kamu ngomong begitu." Matanya sudah kembali mengaca. "Emang aku mencuri apa kamu.""Kamu kan mencuri hatiku, Dek.""Hih! Rasain ini." Dini sudah menghujani Dilan yang turun dari tempat tidurnya dengan tabokan bantal. "A
Dini yang membuka kunci rumah, segera mempersilahkan Profesor Satya dan Amira, istrinya masuk."Silahkan masuk, Pak, Bu."Memasuki rumah, sepasang suami istri itu sudah berdecak kagum. Wanita yang masih cantik di usianya yang sudah setengah baya tu bahkan berkeliling matanya menatap seluruh ruangan itu."Terus terang kami pangling dengan rumah kami sendiri. Bukan karena catnya yang kalian ganti ini, tetapi karena penataan dan pernak pernik ruangan yang kalian terapkan, sangat cantik," puji Amira.Dilan tersenyum memandang Dini, "Semua ini dia yang ngatur, Bu. Saya mana mengerti yang begituan. Cuma izin Bapak saja waktu ganti cat. Itu pun saya juga baru tau setelah selesai ngecatnya." Dialna merasa tak enak hati. "Untung Bapak setuju, kalau tidak bisa berabe."Tawa pun menggema. "Rumah tambah bagus kok nggak suka, ya nggak mungkin, Dilan," tutur Satya."Kamu memang pintar, Din," puji Amira lagi. "Sama bunga aja kamu telaten. Apalagi dengan nata beginian. Mencerminkan banget siapa dirimu
"Assalamualaikum, Din. Mana Bu Astri?" sapa pria itu, yang ternyata Pak RT."Ke Pak Kyai, Pak," jawab Dini sambil menggeser jilbabnya yang tadi dia pakai asalan. "Mau narik iuran kampung?"Pak RT terkekeh kecil. "Iya, Din. Seperti biasanya. Ini tadi saya baru tau kalau Bu Astri sudah kembali dari rumahmu, Din. Makanya saya datang sekalian."Dini mengangguk, lalu tanpa banyak basa-basi mengeluarkan uang dari dompetnya yang tadi ditaruh di sofa setelah berbelanja, dan menyerahkannya kepada Pak RT.Hampir mau keluar, Pak RT menoleh ke arah Dini. "Oya, Nak Dini. Selamat, ya. Kamu sudah berhasil melewati Barata dengan menjadi saksi itu. Kasihan Nak Aziel. Sekarang dia bisa hidup tenang setelah misteri kematiannya terungkap."Dini terdiam sesaat, ada semburat kesedihan di wajahnya. Ia menghela napas pelan. "Iya, Pak. Kita doakan saja keputusan hakim adil. Vonisnya belum keluar."Pak RT mengangguk mantap. "Tapi Bapak sudah lihat jalannya sidang yang ditayangkan live dari TV Pesantren. Insya
"Bapak siapa?" tanya Dini, menelisik pria berkulit sawo matang yang terlihat keras itu."Saya hanya mau lihat, apa rumah ini sudah bagus." "Kalau sudah bagus, kenapa ya Pak?" "Tolong bukakan pintuny. Saya mau masuk," ucap lelaki itu dengan sikap sombongnya. Seolah-olah dialah pemilik rumah itu. "Ada perlu apa ya, Pak?" Dini masih curiga dengan pria yang tidak begitu dikenalnya. Ditatapnya penuh selidik. Terkadang dia merasa tak asing dengan wajah itu, namun dia juga ghak terlalu yakin. "Saya hanya ingin tau, apa rumah bakal mantu saya sudah bener- bener bagus. Saya sudah mengeluarkan uang banyak untuk itu. Saya harus pastikan agar nanti kalau ada kerabat yang datang tidak malu-maluin.""Berarti Anda,..?" Dilan menerka."Kamu dapat menebak saya. Saya Pak Mail juragan buah dari kampung sebelah. Saya bapaknya Fatimah.""Oala, Pak,..kirain siapa tadi." Dilan langsung menyalami pria itu.Dilan lalu berbisik ke Dini. Dini yang orang sini malah yang tidak tau. Dilan memang tau hubungan c
Dilan sudah siap-siap, siapa tau Dini akan menipunya kembali. Namun yang ada Dini malah membuka kimononya. "Mau aku tipu lagi?""Aku sudah pakai jurus jika kamu melakukan itu lagi.""Mana jurusnya?""Ini,.." Dilan menarik pinggang Dini, dan meraih tengkuknya dengan bibir yang sudah menyentuh bibir Dini.Paginya. Pagi sekali Dilan sudah mengajak Dini naik motor Fahmi yang duluh sering dipakainya."Mau ke mana sih, Mas, pagi sekali? Dingin lagi udaranya.""Mau ke pasar Subuh. Biar rambutku kering di jalan. Malu nanti dilihat Fahmi ketauan aku mandi basa. Kemarin sih ya, kita ghak bawa hairdyer.""Kenapa malunya sama Mas Fahmi, bukan sama Ibu?" cibir Dini."Dia kan temanku Dek. Belum nikah lagi. Ya, malulah."Dilan sudah menstarter motornya. Sekali, dua kali, masih tak bisa. Sampai akhirnya Fahmi keluar. Dan benar saja, untuk yang pertama kali dilihat Fahmi adalah rambutnya Dilan."Ghak dingin, subuh-subuh udah keramas. Aku aja sampai Dhuhur baru mandi.""Ih, kamu ya,..!" timpuk Dilan ma
Dini mendekat, senyumnya tetap ramah meskipun bisa melihat raut kesal di wajah perempuan paruh baya di depannya. Wanita itu, mengenakan blus batik dengan tas selempang kecil yang sudah sedikit lusuh, tampak mengangkat setangkai bunga dengan ekspresi tak percaya."Masak iya, bunga begini semahal itu?" keluhnya, matanya menyipit menatap kelopak bunga seakan-akan menyalahkannya atas harga yang dipasang.Dini, yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam pelanggan, tetap tenang. Ia melirik sekilas ke arah bunga di tangan wanita itu, kemudian tersenyum."Ada yang bisa saya bantu, Bu?" ulangnya, suaranya lembut, nyaris berbisik seperti belaian angin sore yang masuk melalui celah pintu toko bunga miliknya.Wanita itu menatapnya lebih dekat, seakan baru menyadari sesuatu. "Ini Mbak Dini, ya?" tanyanya dengan raut penasaran.Dini mengangguk kecil. "Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"Wanita itu mendengus kecil, masih tak rela dengan harga yang tercantum di pot tanaman itu. "Ini, Mbak. Masak i
Dini baru saja menghembuskan napas lega ketika seseorang menepuk pundaknya. Dia menoleh dan melihat sosok Pak Pramono tersenyum padanya."InsyaAllah ada titik terang di sidang ini. Dan kenangan ada di pihak kita," ucap Pak Pramono sambil mengusap kepalanya dengan sayang.Dini menunduk, air mata menggenang di pelupuknya. Begitu banyak hal yang telah terjadi, begitu banyak fitnah yang menimpanya. Namun kini, satu per satu kebenaran mulai terungkap."Selamat, Kak Dini!"Suara ceria Kanaya membuyarkan lamunannya. Gadis itu mendekat dengan senyum lebar, lalu memeluk Dini erat. Di belakangnya, Davin ikut tersenyum sambil mengangguk sopan."Aku tahu Kak Dini tidak mungkin melakukan semua itu. Aku percaya sejak awal," bisik Kanaya, membuat Dini makin terharu.Namun, tak semua orang menunjukkan ekspresi yang sama. Giani, mertua Dini, hanya melipat tangan di dada. Wajahnya datar, tapi sorot matanya menunjukkan ketidakpuasan. Dalam hatinya, ia bergumam, "Aku pikir dia akan dipenjara selamanya."
Sekelompok pemuda pemudi datang menghampirinya."Mbak ingat kami?"Dini mencoba mengingat kembali.Seorang cewek mendekat. "Kemarin kami mau dekati Mbak, tapi saya lihat Mbak mendekati pria itu, sementara kami juga diajak ngobrol sama Pak Pramono dari kubu mana kami ini dan mau membela siapa.""Mbak, .. bukannya yang kasih minum aku ya,.." tebak Dini."Bener, Mbak. Kami mengikuti perkembangan kasus Mbak. Dari mulai Mbak diculik sampai kemarin di pengadilan. Rasanya kami berdosa jika kami membiarkan Mbak Dini hanya berjuang sendiri mengungkap hal yang seharusnya diungkap," ucap cewek itu.Seseorang datang mendekat sambil berdehem. Sepertinya dia satu diantara orang suruan Barata."Mbak Dini, sebentar ya," ucap dia permisi.Diin mengangguk dengan memperhatikan tngkah gadis yang sesekali melirik ke arahnya."Pak, tenang saja, kami tidak akan mengingkari perjanjian kita," ucap cewek itu, Ailin yang kemudian menepi dan menggiring orang yang mendekat sambil berdehem itu."Ingat, kami telah
"Selamat siang, adik-adik!" Dua orang lelaki menghadang sekelompok pemuda dan pemudi yang sedang menunggu bis yang lewat."Selamat siang, Pak! Ada yang bisa kami bantu?" tanya Mashad, ketua kelompok pecinta alam yang terdiri dari beberapa Mahasiswa dan mahasiswi PTN itu."Aku bisa minta sesuatuke kalian? tanya salah seorang diantara mereka yang lebih mendekat."Apa itu, Pak?""Sebelumnya perkenalkan, saya dari pihak terdakwa yang besuk lusa kalian akan menjadi saksinya."Sekelompok pemuda pemudi itu bersitatap. Mereka baru menyadari perkataan Pramono dan pesannya tadi agar mereka berhati-hati. Pramono bahkan menawarkan sebuah tempat tinggal untuk mereka tempati bersama, namun mereka menolak karena kesibukan mereka yang tak memungkinkan untuk diam di satu tempat dengan bersama."Lalu tujuan Bapak mencegat kami, mau apa?""Kami menawarkan sesuatu agar kalian bisa berbuat banyak hal dengan uang yang akan kami beri.""Lalu yang bapak inginkan apa?""Begini," Lelaki itu kemudian mengungka