"Enak?" tanya Amran kepada Zia yang sedang makan sayuran buatannya.
Ini pertama kalinya dia memasak dan khusus untuk Zia. Bahkan dia tidak pernah memasak untuk Rania ketika mereka menjalani hubungan selama beberapa tahun.Zia hanya mengangguk, hal itu itu membuat Amran marah."Kamu bisa nggak sedikit saja menghargai aku? Kenapa selalu ingin membuatku marah?" ucap Amran tak terima."Lalu aku harus bagaimana? Aku udah jujur kalau makananmu enak bukan dan memakannya lahap. Lalu kenapa kamu marah-marah?" Begitulah jawaban yang biasanya Zia katakan ketika Amran setengah memintanya jawaban.Namun kali ini Zia hanya diam sambil terus memakan makanannya tanpa mengatakan satu kata pun. Hal itu membuat Amran semakin marah dan membanting makanannya yang ada di atas meja, namun Zia sama sekali tidak menggubrisnya.Zia makan dengan sangat tenang, lalu kembali masuk ke kamarnya seolah tidak ada yang terjadi. Sedangkan Amran segera ikut masuk ke sana dan memeluknya erat lalu menciumi tengkuknya dengan napas yang memburu, namun yang di dalam pelukannya hanya diam, tidak ada perlawanan atau penolakan."Bisa tidak kalau kamu jangan seperti ini?" teriak Amran tak terima, aku terluka kalau sikapmu nggak jelas kayak gini. Aku juga nggak tahu mau kamu apa, coba katakan sekarang!" teriak Amran sambil melepaskan Zia lagi."Jangan hiraukan aku dan jangan tanya aku," ucap dia lirih membuat Amran mengerutkan kening. Pasalnya pria itu tidak terima dengan perlakuan Zia, namun dia juga tidak mau diperlakukan seperti itu.Amran kembali berteriak dan lagi-lagi menghancurkan barang-barang yang ada di kamar Zia. Sedangkan Zia hanya diam, lalu kemudian keluar dari rumah besar itu dengan tatapan kosong.Amran pun langsung mengejarnya, namun pergelangan tangannya segera ditarik oleh seseorang dan itu ternyata adalah Rania."Kamu mau ke mana, Mas? Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang ada di hadapanmu?" ucapnya tajam terima karena Amran hanya sibuk dengan Zia."Aku minta maaf, tapi saat ini Zia sedang marah. Dia tidak berbicara sejak tadi dan aku sendiri tidak tahu maunya apa. Aku benar-benar lelah dengan semuanya." Tanpa sadar, Amran menceritakan kepada Rania kalau dia belum bisa mencintai Zia. Hal itu tentu membuat Rania tersenyum lebar."Kalau begitu berarti jangan dikejar, Mas." Rania berucap santai, seolah yang dibicarakannya tidak menyangkut dengan kehidupan orang lain."Kenapa bisa?" tanya Amran tak percaya."Kamu adalah pria sukses yang sangat sibuk, Mas. Harusnya dia sebagai istri bisa menghargai kamu. Kalau dia menunjukkan sikap yang kekanak-kanakan seperti ini, lalu kamu mengejarnya, maka sampai kapan pun dia tidak akan pernah menjadi dewasa. Terus saja seperti ini," terang Rania tanpa merasa berdosa.Amran terdiam. Dia mencoba untuk memahami apa yang dikatakan kakak iparnya."Kalau kamu diamkam, memblokir atmnya, dan dia pergi tanpa membawa dompet juga mobil, sudah pasti dia akan kembali padamu, bukan?" tanya Rania dengan senyuman yang dimanipulatif.Amran tertegun selama beberapa saat, lalu memerintahkan beberapa orang untuk mengikuti Zia, namun semuanya berkata kalau mereka sudah kehilangan jejak istrinya itu.Amran menjadi emosi kembali."Kenapa menjaga satu orang saja tidak bisa? Terlebih Dia seorang wanita! Apa kalian lebih lemah daripada dirinya?" teriaknya membuat Rania semakin merasa terancam karena Amran sepertinya tidak ingin melepaskan Zia, padahal dirinya sudah ada di depan mata.Rania pikir selama dirinya kembali ke hadapan Amran, maka Amran akan menceraikan Zia dan menerima dirinya lagi di dalam kehidupannya. Namun ternyata semuanya tidak semudah itu karena Amran terlihat seperti sudah mempunyai perasaan yang berbeda kepada Zia, namun dia tidak menyadarinya."Sabarlah, sama seperti yang aku bilang tadi. Karena tidak punya uang dan dia juga tidak punya teman, dia pasti akan pulang ke rumah," ujar Rania meyakinkan.Amran menatap Rania tak percaya, Ia pun menghembuskan napas panjang. "Aku takut Zia lari dari pelukanku, karena selama ini dialah yang merangkul dan memelukku ketika kamu pergi. Jadi aku tidak ingin melepaskan wanitaku untuk yang kedua kalinya," ucap Amran membuat pengakuan namun memperlihatkan raut tak suka dari Rania."Percayalah padaku, dia tidak akan pergi jauh."Di tempat lain, Zia sudah merasa lapar karena tadi hanya makan sedikit. Namun Zia hanya bisa menghembuskan napas panjang ketika sadar dia tidak membawa dompet dan tidak membawa apa pun. Jadi dia hanya bisa pulang dan memasak beberapa menu dengan bahan-bahan yang ada di rumahnya.Namun baru saja membuka pintu, dia dibuat terkejut dengan Amran dan Rania yang saling berpelukan. Sebelumnya dia tidak tahu kalau Amran sangat membela Rania dan masih mencintainya, jadi dia selalu marah ketika melihat atau mendengar Amran menyebut tentang kakaknya. Namun sekarang sudah tidak lagi, dia malah masuk dengan senyuman yang tipis dan manis, lalu memasak beberapa menu seperti yang dia inginkan tanpa melihat ke arah Amran dan Rania."Jika melihat mereka seperti ini, aku seperti mati rasa." Zia bergumam. "Perasaan yang menggebu ketika menatap matanya, kini sudah hilang."Zia berbicara sambil tersenyum getir, karena pria yang sudah menjadi suaminya kembali ke pelukan wanita lain yang masih mempunyai hubungan darah dengan dirinya."Kupikir orang yang akan menjadi orang ketiga di pernikahanku adalah seorang wanita dari keluarga biasa atau konglomerat, namun yang lebih mudah dari kekuatan dan titik ternyata malah yang lebih tua," ucap Zia ketika Rania hendak masuk ke kamar mandi yang ada di dapur.Rania pun menumpahkan segelas air ke arah Zia hingga membuat tubuhnya basah kuyup karena Zia tidak sempat menghindar. Ah, tidak. Zia sengaja diam di tempat karena ingin melihat bagaimana respon Amran. Ia sangat tahu kalau Rania adalah orang yang suka memutarbalikkan fakta, namun hal ini akan dia manfaatkan untuk tahu di mana Amram akan berpihak.Ketika mendengar suara langkah kaki, Rania segera menjatuhkan dirinya di lantai hingga suara Amran terdengar menggelegar."Apa yang terjadi?" tanyanya kepada Zia yangmasih berdiri tegap."Dia mendorongku, Mas. Dia berpikir kalau aku sengaja menyiramkan segelas air padanya, padahal aku tidak sengaja, aku...." Rania mulai menunjukkan aktingnya.Amran segera membantu Rania untuk berdiri, padahal dia hanya pura-pura. SedangkyanZia yang benar-benar disiram, hanya menonton sambil tersenyum."Aku baru sadar ternyata kamu adalah orang yang begitu kejam. Bahkan setelah melakukan hal yang jahat pun, kamu masih tersenyum. Sebenarnya kamu siapa? Apa benar Zia istriku, atau orang lain?" cecar Amran membuat Zia ingin tertawa."Mari kita berpisah, Mas! Setelah berpisah, kamu bebas bersama dengan siapa pun, termasuk dengan wanita yang ada di pelukanmu itu," ujadiZia membuat Amran seketika melepaskan Rania."Kenapa? Sejak awal kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku hanyalah pengganti yang sudah harus pergi ketika yang pergi sudah kembali," lirih Zia terlihat santai, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ementara Amran masih berada di dapur dan menunggu Zia untuk meminta penjelasan."Aku minta maaf atas apa yang sudah dilakukan istriku," lirih Amran sambil memberikan sebuah dress kepada Rania.Awalnya dress itu hadiah yang akan ia berikan kepada Zia, karena warnanya juga adalah warna kesukaan Zia. Namun Amran malah memberikannya kepada Rania."Makasih, ya. Aku ganti dulu." Rania masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Amran, padahal dari dulu Zia selalu berpesan jangan pernah ada wanita lain yang masuk ke kamarnya, namun lagi-lagi Amran melanggar.Rania membuka paper bag yang diberikan Amran. Dia pun tersenyum lebar ketika melihat warna dress yang ada di dalamnya."Sama seperti yang aku katakan dulu, Zia. Semua yang menjadi milikmu akan menjadi milikku," ujarnya sambil menatap pantulan diri di cermin, lalu tersenyum menyeringai, "sejak awal kamu memang sudah kalah telak."Rania hanya terkena jus yang ada di lantai, namun Amran langsung memberikan baju ganti. Sedangkan Zia yang tersiram hanya memberikannya seorang diri. Ditambah mendapatkan tatapan tajam dan tuduha
Zia kembali masuk ke kamarnya dan mengurung diri, sedangkan Amran juga berusaha untuk mengejarnya, namun pintunya sudah terlanjur dikunci dari dalam. Amran menggedor-gedor pintu itu, namun Zia tidak kunjung membukanya.“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan dirimu, Zia. Asal kamu tahu kalau Rania itu hanya masa lalu. Mau sebesar apa pun cintaku padanya, kenyataan itu tetap tidak akan pernah berubah.” Amran berteriak dari luar pintu, namun Zia menutup kedua telinganya.Zia merasa dipermainkan dengan kenyataan bahwa dirinya tidak pernah ada di hati Amran.“Aku mohon, keluarlah dulu. Kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Jangan seperti ini.” Amran berusaha untuk membujuk, namun Zia masih tidak ingin mendengarnya. Zia bahkan menarik beberapa benda berat seperti lemari dan sofa agar Amran tidak bisa mendobrak kamrnya.“Pergilah! Saat ini aku sedang tidak ingin berbicara denganmu!” teriak Zia membuat Amran frustasi dan tidak punya pilihan selain pergi.Amran menuruni an
Farid tidak lagi bicara, dia langsung menarik Amran menuju mobilnya, dan membawanya ke suatu tempat."Ngapain Lu bawa gua ke sini?""Sengaja. Gua bawa Lu ke sini biar Lu ingat, sedalam apa luka yang Lu dapat waktu itu ketika Rania pergi," ujar Farid dingin lalu turun dari mobil begitu saja meninggalkan Arman.Farid berjalan ke pesisir, sedangkan Amran hanya bisa mengikutinya dari belakang. Sadar Amran ada di belakang, Farid tersenyum."Lu harus selalu ingat kalau tempat ini selamanya akan tetap menjadi saksi yang paling menyakitkan," lirihnya, namun Amran masih bungkam."Di sinilah Lu terkapar, tidak bernapas, dan keadaan Lu juga berantakan. Namun saat itu Rania yang bersama pria bule itu bahkan tidak melihat ke belakang." Farid terus berbicara agar Amran mengingat kekejian apa yang sudah dilakukan Rania padanya."Semuanya hanya masa lalu," ujar Amran berusaha menutupi lukanya, namun Farid yang dingin langsung tertawa."Dengan entengnya Lu bilang masa lalu? Heh. Padahal setelah kejadi
"Apa gapapa? Saya malah takut nanti Pak Amran marah besar." Zein mulai ragu."Gapapa, Zein. Bukankah kamu pernah dengar nasihat kalau bersembunyi di tempat musuh adalah yang paling tepat?" bujuk Zia."Pepatah dari mana? Saya gak pernah dengar, yang ada malah membuat kita juga dimusuhi sama Pak Amran." Zein mulai ketakutan karena sepertinya Zia serius dengan perkataannya."Enggak akan. Kalau pun dia menjadikan aku musuh, tapi tidak akan pernah aku biarkan dia mengancam pekerjaan kamu. Pokoknya di sini tugasmu hanya perlu memberikan aku informasi tentang perusahaan Pak Barata itu. Setelahnya, serahkan saja padaku," ucap Zia mantap dengan penuh keyakinan."Tapi saya juga takut Anda kenapa-kenapa." Zein kembali mengatakan kekhawatirannya."Ya ampun, Zein. Apa kamu pernah lihat Mas Amran main tangan? Enggak pernah, kan." Zia mulai lelah. "Selama ini dia adalah orang yang suka menyiksa seseorang lewat batin, bukan fisik."Suara Zia mulai melemah, namun hal itu membuat Zein yakin kalau perka
Amran membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa any dikatakan sang istri. Dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan harapan melihat pria yang mengajak kencan Zia, namun dia tidak menemukan siapa pun.Amran segera mencekal pergelangan tangan Zia dan membawanya ke tempat sepi.“Jangan berbohong dan cepat katakan yang sebenarnya,” perintahnya dingin membuat Zia semakin enggan untuk menjawab.Zia mengeluarkan kecepatan penuh dan segera melepaskan tangannya dari Amran. “Kalau kamu memang percaya padaku, sepertinya kamu tidak akan pernah membutuhkan penjelasan dariku, Mas.”Amran diam. Dia tertampar dengan kata-kata Zia, namun dia tidak mau mengakuinya.“Percaya atau tidak, bukankah lebih baik bagi hubungan kita untuk menceritakan semuanya?" Amran melayangkan tatapan kejam.“Kita? Kamu kali, Mas. Orang selama ini kamu gak pernah percaya sama aku. Jadi rasanya percuma saja aku bicara banyak, karena semuanya tidak akan berpengaruh padamu.”Semakin emosi Amran, Zia malah sem
Rania tersenyum lebar ketika melihat mobil yang dinaiki Zia dan Gea menjauh. Gea memang sengaja memakai mobil kakaknya agar tidak dikenali Amran, namun siapa yang akan sangka jika hal itu malah membuat sifat asli Amran semakin terkuak. “Loh, kok mobil itu pergi? Bukannya itu mobil kamu, ya?” tanya Amran heran ketika melihat mobil Gea menjauh, sedangkan Rania tersenyum tipis.“Itu bukan mobilku, Mas, hanya mirip. Kebetulan tadi aku lihat Zia naik ke mobil itu, mungkin Gea ganti mobil,” jawabnya enteng membuat Amran langsung berlari mengejar mobil itu, namun tidak terkejar.“Kamu pesan online aja, aku ada perlu,” teriak Amran pada Rania, lalu segera naik ke mobilnya untuk mengejar Zia. Sedangkan Rania hanya bisa menggertakan giginya karena lagi-lagi Amran lebih memilih untuk memprioritaskan Zia daripada dirinya. Padahal hari ini dia sudah tampil cantik daripada biasanya. Amran menambah kecepatan sambil berharap Gea menjalankan mobilnya dengan pelan. Namun setelah menjalankan mobil den
Rahang Amran mengeras ketika menerima pesan dari seseorang yang dikenalnya. Dia tahu betul kalau wanita yang ada di foto ini adalah Zia, istri yang tadi pagi izin pergi dengan Gea. Istri yang juga mendengar percakapannya dengan Rania.“Apa yang dia lakukan di tempat itu dan apa yang dia gunakan?” teriaknya tak terima.Teriakan Amran bahkan terdengar oleh Zein dan beberapa karyawan lain yang berada agak jauh dari ruangannya.“Ada apa, Pak?” Zein mendekat ke arah Amran dengan sedikit takut karena dialah yang sudah merekomendasikan perusahaan itu pada Zia.“Lihatlah!” Amran memberikan ponselnya pada Zein. “Dia benar-benar istri yang enggak berkeprimanusiaan!”“Maaf, mungkin karena Bu Zia mau ketenangan, Pak. Biarkan saja, anggap saja menyalurkan hobi.” Zein berusaha memberikan masukan yang masuk akal.“Mana ada hobi bekerja! Ditambah dia mau kerja apa kalau selama ini belum pernah punya pengalaman? Kalau kerja rendahan, dia hanya akan mempermalukan aku,” sentak Amran memberikan membuat Z
“Sekarang kamu turun untuk makan bersama. Keenakan si Zein makan sendirian,” pinta Amran lagi dan Zia pun segera turun.“Gapapa mungkin, ya, kalau kali-kali nurut,” gumamnya, lalu kembali keluar.Amran segera mendekat ke arah Zia dan menawarkan luka yang ada di wajahnya.“Lihat, aku terluka parah, kan?” tanyanya. “Sekarang aku adalah pasien dan sangat membutuhkan perawatan. Jadi setelah makan ayo rawat aku?”Amran terus bicara, sedangkan Zia hanya diam sampai mereka tiba di meja makan.“Bukannya barusan sudah dirawat Rania, ya?” Zia bertanya sambil menekan kata nama kakaknya hingga membuat Rania menatapnya kesal.“Anehnya malah makin sakit. Dulu, waktu aku bertengkar dengan Farid, di bawah perawatanmu aku langsung sembuh. Apa mungkin ada yang salah?” Amran kembali bertanya dan Rania langsung tak terima.“Mana mungkin, Mas! Aku juga sudah terbiasa merawat luka orang tuaku kalau mereka sakit,” sentaknya tak terima.“Orang tuamu? Heh, mimpi! Yang ada, Papaku yang kaya, dan ibumu yang tid
Bukannya langsung ikut dengan Amran, Zia malah tampak santai dan tenang seolah keracunan adalah hal yang biasa."Apalagi yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada papamu?" tanya Amran tak percaya."Peduli atau tidak, tidak ada hubungannya denganmu, Mas. Terlebih, aku sudah tahu hal ini akan terjadi, namun sayangnya papaku lebih memilih untuk mempercayai istri dan anak tirinya itu," terang Zia.Amran kehilangan kata-kata."Pergilah, Mas. Mungkin sekarang Rania sedang ada di rumah sakit dan menunjukkan akting terbaiknya. Jenguklah dia, Mas. Mungkin sekarang dia sedang membutuhkanmu," suruh Zia."Apa sebenarnya yang ada di kepalamu?" teriak Amran tak percaya. "Apa tahu kalau papamu sedang mempertaruhkan nyawa?""Aku tahu, tapi itulah pilihannya. Aku juga tidak punya waktu lagi untuk terus berbicara omong kosong," jawab Zia. "Jadi pergilah, lihat apa yang sebenarnya terjadi di sana."Karena Amran tidak bisa membawa Zia pergi, akhirnya dia k
"Jangan bercanda, aku dan Alia memang punya hubungan. Namun sebatas teman saja. Jadi jangan menuduh sembarangan," sangkalnya cepat."Teman?" Zia mendekat ke arah Rania. "Sejak kapan kamu punya teman modelan begini?""Walau kita tidak pernah dekat, aku tahu betul kamu tidak akan pernah berteman dengan manusia seperti itu," tandasnya lagi."Jangan sok tahu! Kamu tidak akan pernah tahu tentangku," sentak Rania, lalu dia memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Zia. "Semua yang menjadi milikmu akan menjadi milikku," bisiknya membuat Zia spontan menamparnya keras."Kau sungguh wanita yang tidak tahu malu," teriaknya membuat Haris segera mendekat dan mengecek kondisi tangan Zia."Jangan lakukan itu lagi, aku mohon. Katakan saja padaku, aku akan meminta orang-orang untuk menamparnya," ujar Haris lembut."Rio, Alia!" panggilnya dengan teriakan yang membuat burung-burung beterbangan jauh."Ada apa, Bos?" Rio segera mendekat dengan Alia yang ditariknya."Tampar Rania masing-masing lima kali. Ka
Kau! Bagaimana bisa mengatakan itu tanpa beban di depan seorang wanita?" Alia melemparkan tatapan tak percaya pada pria yang sudah lama dikaguminya itu."Lantas, apa yang menurutmu pantas aku lakukan?" Haris mendekat ke arah Zia dan kembali menghujaninya dengan ciuman tanpa mengindahkan keberadaan Alia."Cukup, aku ada di sini. Apa kau sama sekali tidak mau balas Budi pada kakakku yang sudah mengorbankan segalanya untukku?" Alia kembali melemah.'Hanya cara ini yang aku bisa. Dengan berpura-pura menjadi lemah, Haris akan kembali menjadi milikku,' batinnya tertawa.'Yah, seorang Haris Amarta, pria paling sempurna di pelosok dunia ini hanya boleh menjadi suamiku. Dia tidak diizinkan untuk menjadi suami orang lain, apalagi dari seorang wanita yang berstatus janda,' lanjutnya.Alia sama sekali tidak mendengar kabar yang beredar kalau Zia bercerai dengan status perawan. Dia bahkan tidak membuka matanya dengan baik karena tidak melihat tubuh Zia yang sangat jauh jika dibandingkan dengan tub
Mereka pun sampai di rumah yang sudah dipersiapkan Haris untuk ditinggali bersama Zia.Akan tetapi, belum sempat mereka masuk ke dalam rumah, ponsel Haris lebih dulu berdering dengan keras."Aku sudah ada di bandara. Jemput aku sekarang kalau kamu mau membalas budi pada kakakku," ucap seorang wanita, lalu mematikan sambungan teleponnya begitu saja tanpa menunggu penjelasan dari Haris.Mendengar apa yang dikatakan wanita itu, Zia mengerutkan keningnya."Apa yang dikatakan dia sama seperti kata-kata Rania beberapa waktu lalu," ujarnya membuat Haris tidak berani melangkah."Semuanya terserah padamu, Mas. Tapi aku tekankan sekali lagi, kalau memang kamu bersungguh-sungguh, jangan pernah hadirkan orang ketiga. Jangan berikan aku surga lewat pintu poligami," lanjutnya menegaskan."Baik." Haris menjawab mantap, lalu segera menghubungi seseorang."Jemput Alia di bandara sekarang! Kalau dia hanya di mana aku, bilang aku sedang menikmati malam pertama dengan istriku," titahnya."Apa? Bagaimana
"Kalian baru saling mengenal, tidak mungkin kamu sudah mencintainya sedalam itu dan tidak mungkin dia juga sudah mencintaimu sebesar yang kamu katakan. Aku saja ragu padanya, bagaimana mungkin kamu tidak meragukannya?" tanya Amran tanpa memperdulikan tatapan Haris yang menatapnya penuh ketajaman. "Aku percaya pada suamiku, siapa pun dia, kepercayaanku akan selalu melekat padanya. Bukankah aku juga melakukan hal yang sama ketika kita masih menjadi suami istri?" tanya Zia yang lagi-lagi membuat Amran diam. "Aku sudah memaafkan apa yang telah kamu lakukan di masa lalu, kini aku sudah menjalani kehidupan yang baru. Jadi, aku juga berharap kamu melupakan masa lalu kita dan kembali meniti kehidupan yang baru," tegas Zia berusaha membuat Amran sadar kalau kehidupan di antara mereka sekarang sudah berbeda. "Aku tidak akan menyerah semudah itu, aku yakin pasti ada kesempatan untukku agar bisa kembali bersamamu. Aku dan kamu saja bisa berpisah setelah lima tahun pernikahan, apalagi antara ka
"Kenapa kamu manis banget, sih? Bukannya orang-orang bilang kamu kejam?" Zia melemparkan tatapan tak percaya pada pria yang ada di depan matanya.Zia selalu mendengar kritikan negatif terhadap keluarga Amarta, bahkan katanya keluarga ini adalah keluarga dengan orang-orang yang paling berbahaya.Sebelumnya Zia percaya akan gosip itu karena selama ini mereka memang selalu menunjukkan sisi negatif, namun setelah masuk langsung dan menjadi menantu Amarta, Zia tidak merasa demikian. Justru Zia merasa orang-orang yang mengatakan mereka jahat hanya pandai melihat dari luar, namun tidak jeli dengan kebenaran yang ada."Aku manis hanya di hadapanmu," sahut Haris cepat membuat Zia memalingkan tatapan, "karena kamu istriku, tentu aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk mencintaimu.""Kalau nanti kamu berpaling?" tanya Zia penasaran karena Haris bukanlah pria biasa."Sebelum itu terjadi, aku akan mengatur beberapa aset untukmu. Ada anak atau tidak di antara kita, kamu tetap akan mendapatkannya
Zia memasang wajah datar dan menatap Amran lekat. Kini, dirinya benar-benar elegan dan setiap gerakannya sangat menarik. Itulah yang Amran lihat dari Zia yang sekarang. Padahal, sejak dulu Zia memang sudah seperti itu, sayangnya dia tidak melihatnya dengan baik."Kesempatan?" tanya Zia pelan dan Amran mengangguk cepat."Kalau kesenangan untuk dibenci olehku atau dipukul suamiku masih ada, tapi untuk hidup bersamaku ... kamu terlambat berubah, Mas. Aku yang sekarang tidak akan pernah lagi memilih untuk mencintaimu jika diberikan kehidupan kedua. Ini menandakan kesalahanmu sudah fatal," terang Zia tanpa perasaan membuat hati Amran benar-benar terluka."Bagaimana kalau ternyata Haris juga tidak tulus atau mengkhianatimu. Apa kamu bersedia kembali padaku?" tanya Amran lagiKali ini dia akan melakukan banyak cara untuk menarik Zia kembali ke sisinya. Terlebih sekarang dia sadar kalau dirinya sama sekali tidak mencintai Rania. Perasaan padanya ternyata sudah pergi bersama pengkhianatan yang
"Dasar pria yang tidak tahu malu," ujar Amran tak terima, "beraninya kau merebut Zia?""Merebut?" Harus menatapnya tak percaya, lalu mendekat ke arah Zia. "Sayang, katakan padanya, apa aku sudah merebutmu darinya?"Zia tersenyum lembut. "Tidak, justru dialah yang sudah merebut kebahagiaanku selama ini. Bodoh kalau aku mau kembali kepada pria seperti dirinya," jawabnya penuh penekanan seketika membuat Amran ditertawakan banyak orang.Akan tetapi, semuanya tidak berlangsung lama karena Rania lebih dulu datang dan mengajak Amran ke tempat yang tidak terlalu ramai."Mas, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu lupa kalau Zia yang sekarang bukan lagi Zia yang dulu. Dia sudah berubah, Mas," terangnya sambil meminta seorang dokter untuk mengecek kondisi Amran."Bagaimana, Dok?" tanya Rania sedikit panik."Dia baik-baik saja. Mana mungkin Haris mengeluarkan tendangan yang begitu kuat setelah tahu Anda bukanlah pria yang bisa menjadi lawannya," ucap dokter itu membuat Rania marah."Si
Haris kembali menarik dirinya dari Zia ketika seorang pria mengeluarkan suaranya yang kuat."Mama suka dengan ketegasan kamu. Pria itu memang harus diberikan pelajaran," ucap Mama Haris, lalu menatap ke arah anaknya tajam. "Kalau nanti Haris begitu saja, Mama sendiri yang akan memberikannya pelajaran.""Apa, sih, Ma. Aku enggak akan begitu. Aku bukan orang bodoh yang akan menyia-nyiakan wanita seperti Zia." Harus berbicara dengan tegas bahwa dirinya akan terus mempertahankan Zia."Baguslah kalau memang kamu tidak punya niat itu. Awas kalau macam-macam," ancam mamanya membuat Haris bergidik ngeri.Di tempat lain, orang-orang yang diminta Zein untuk mencari keberadaan Gea sama sekali tidak mendapatkan hasil apa pun. Hal itu tentu membuat Amran semakin marah, terlebih kabar pernikahan tentang Zia dan pria lain itu sudah terdengar oleh banyak orang. Amran menjadi semakin tidak terkendali, bahkan Via sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh putranya itu. "Memangnya kenapa ka