Anak laki-laki itu tersenyum ketika melihat ayahnya masuk ke dalam rumah dengan seorang bocah cantik yang berada di gendongannya.
"Hey boy, are you happy?"
Anak laki-laki itu mengangguk dengan semangat, lalu meminta ayahnya untuk menurunkan anak perempuan yang sekarang menunduk malu di hadapan si bocah laki-laki itu.
"I'm very happy," jawab Elang, anak laki-laki yang baru saja menginjak usia delapan tahun.
"Glora, mulai saat ini kak Elang akan jadi kakak kamu, oke?" tanya Dimas—ayah Elang yang di mana menjadi ayah Glora juga. Glora mengangkat wajahnya memandang Dimas, lalu mengangguk. "Iya, Ayah," ucapnya dengan pelan.
"Oke kamu di sini ya sama kak Elang, ayah mau kerja lagi."
Dimas kini berjongkok di depan Elang yang terus tersenyum sambil menatap ke arah Glora. "Hey boy, daddy mau ke kantor. Jaga adikmu baik-baik, oke?"
Elang mengangkat tangan, hormat kepada Dimas dan berkata, "Siap, Dad!"
Setelah mengelus puncak kepala dan mencium kening Elang dan Glora, Dimas melenggang pergi dari ruang tamu. Elang membawa Glora duduk di sofa dan terus memandangi wajah cantik yang mungkin mulai sekarang akan menjadi candunya. Risih karena terus dipandang seperti itu oleh Elang, Glora akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Nama Kakak siapa?" Glora mengerjapkan matanya melihat Elang yang sedari tadi terus memandangnya. Elang tersenyum lebar ketika mendengar suara lembut yang Glora keluarkan.
"Nama aku Elang."
"Ih kok namanya jelek sih kaya burung."
Senyum di bibir Elang luntur digantikan dengan wajah sebalnya ketika mendengar kata-kata Glora.
Cuppp.
"Mulutnya nakal, Elang ga suka. Tapi ... bibir kamu manis kaya permen, aku suka. Nanti mau nyobain lagi boleh?"
Glora mematung di tempatnya ketika tadi Elang mengecup bibirnya singkat lalu tiba-tiba ...
"HUWAAAAAAA!!!"
Elang terlonjak kaget saat Glora kini menangis dengan kencang. "Kamu kok nangis sih?" tanya Elang dengan tangannya yang menepuk-nepuk punggung Glora mencoba untuk menghentikan tangisan gadis kecil itu.
"Hiks ... Kak Elang j-jahat," ucap Glora dengan tangannya sibuk menghapus sesuatu yang keluar dari hidungnya.
Elang menyerngit heran. "Aku kan ga ngapa-ngapain."
"Kak Elang tadi cium aku. Kata bunda anak kecil ga boleh cium-ciuman nanti masuk neraka."
Elang tersenyum manis lalu mendekatkan wajahnya mengecup pipi bulat yang sangat menggemaskan itu. "Kata daddy kalo orang yang udah ciuman itu jadi mama papa. Berarti sekarang kamu jadi mamanya dan aku papanya.”
"Nanti kita punya bayi."
___________
Glora, gadis kecil berusia tujuh tahun itu dibesarkan di sebuah panti asuhan kecil di Jakarta. Rupanya yang begitu cantik dan manis membuat banyak orang tua ingin mengangkatnya menjadi anak, namun entah kenapa gadis kecil itu selalu menolak dan berakhir menangis karena takut.
Glora juga awalnya sedikit takut kala Dimas ingin mengadopsinya. Ia sempat menolak dan menangis selama satu jam. Namun karena Dimas bilang ia tidak akan punya ibu tiri yang akan menyiksanya seperti di cerita Cinderella dan kakak perempuannya yang jahat, Glora sedikit tertarik untuk ikut dengan Dimas. Apalagi ketika Dimas berkata bahwa ia akan mempunyai kakak laki-laki yang sangat menyayanginya, punya banyak mainan yang bisa ia miliki sendiri tanpa harus berbagi dengan siapa pun. Glora pun akhirnya memutuskan untuk ikut bersama Dimas ke rumah yang seperti istana di kerajaan Cinderella.
Sementara Elang, bocah berusia delapan tahun yang kini menduduki bangku kelas tiga sekolah dasar itu telah ditinggalkan ibunya sejak ia masih bayi. Sang ibu meninggal saat melahirkannya. Hingga saat ini Dimas yang selalu menjaganya dan bi Asti—baby sitternya dari ia bayi hingga menginjak usia enam tahun.
Elang menyuruh daddynya untuk memecat bi Asti. Bocah laki-laki itu tetap bersikeras tidak ingin mempunyai baby sitter dengan alasan karena ia yang sudah besar. Akhirnya karena Elang yang terus merengek, dengan berat hati Dimas memecat bi Asti. Awalnya Dimas selalu khawatir jika Elang berada di rumah tanpa pengawasan. Namun dengan seiring berjalannya waktu, Dimas tahu bahwa Elang benar-benar anak yang mandiri. Anak itu mampu melakukan segala aktivitas tanpa bantuan orang dewasa seperti makan, mandi, dan berpakaian dengan rapi.
Elang memandang Glora yang terlelap di atas kasurnya. "Elang ga mau kamu jadi adik, Elang mau kamu jadi pacar Elang aja, nanti kalo udah besar Elang mau minta daddy buat nikahin kita."
Glora kecil mengerjakan matanya, memandang bingung ke arah Elang. "Tapi ... Glo ga mau nikah sama kakak, Glo kan maunya nikah sama pangeran."
"Kak, boleh ya?"Elang menghela napas lelah, sudah sejak ia pulang sekolah Glora terus merengek seperti ini. "No, sayang."Glora mendengus kesal membuang pandangannya lalu melipat tangannya di dada. "Ih Glo kesel sama kakak, kenapa kakak boleh pergi ke sekolah sementara Glo tetap di rumah?Elang menggeser duduknya lebih merapat ke arah Glora, mengelus lembut rambut gadis itu. "Sayang dengerin kakak, di sekolah tuh ga ada yang spesial, belajar di sekolah sama di rumah itu sama aja."Mulut gadis itu berkomat-kamit mengikuti ucapan Elang dengan sedikit berlebihan. Elang membawa Glora ke pangkuannya. Gadis itu pun menyenderkan kepala di dada bidang Elang. "Kenapa pengen belajar di sekolah hmm?" tanya laki-laki itu dengan lembut.Glora mengangkat wajahnya memandang wajah Elang dari bawah. "Glo kan juga pengen punya temen, Glo bosen sendirian terus." Glora memajukan bibir bawahnya cemberut."Kan ada kakak, sayang.""Ih kakak ga asik.
"Ayo turun.""Eumm ... Kak."Elang yang akan membuka pintu mobil kembali membalikkan badannya menghadap Glora.Elang menaikkan sebelah alisnya dan bertanya, "Kenapa?" Glora menunduk dengan jari-jarinya yang saling bertautan, kebiasaannya ketika ia merasa takut atau gugup. "Takut," cicitnya dengan pelan."Kan kamu sendiri yang pengen sekolah, udah kakak bilang tetep di rumah tapi kamu yang bandel kan?""Iya sih, tapi kan ini salah kakak juga kenapa coba aku ga disekolahin dari dulu, kan Glo ga akan gugup gini," ucapnya dengan kesal.Elang menghela napas panjang. "Terus kamu maunya gimana sayang, hm?" Glora menggelengkan kepalanya. "Ga tau, Glo pengen sekolah tapi Glo gugup banget."Elang membuka pintu mobilnya lalu keluar begitu saja, Glora yang melihat itu seketika panik karena Elang yang akan meninggalkannya. Baru saja akan membuka pintu, pintu itu sudah lebih dulu terbuka. Glora bernapas lega ternyata Ela
Bel istirahat telah berbunyi beberapa detik yang lalu, Glora yang posisi duduknya di bangku belakang hanya diam memandang teman-teman barunya yang sibuk memasukkan alat-alat tulis mereka ke dalam tas. Ada juga yang berlalu keluar kelas tanpa peduli pada buku-bukunya yang berserakan di meja.Dua orang perempuan dari bangku depan berjalan menghampirinya. "Kenalin nama gue Icha," ucap gadis dengan rambut diikat dan bandana merah di kepalanya."Kalo gue Liana, panggil aja Lili." Gadis dengan rambut tergerai sebahu itu tersenyum manis yang dibalas senyuman tak kalah manis juga oleh Glora."Hai semuanya.""Yaudah yuk ke kantin." Tasya beranjak dari duduknya diikuti Icha dan Lili."Loh Glo, ayo kok malah diem?" tanya Icha."Eumm kalian duluan aja."Mereka bertiga kembali duduk. "Kenapa Glo, lo ada masalah?" tanya Tasya dengan heran."Glo nunggu kakak Glo dulu, Glo ga dibolehin keluar kalo nggak sama kakak.""Lo punya kaka
Elang menyeka keringat yang bercucuran dari pelipis Glora, yang disebabkan oleh seblak yang sedang di makan gadis itu. "Hahhh pedes banget," ucapnya dengan tangannya yang mengipas-ngipasi mulutnya. Elang menyodorkan satu gelas es jeruk ke depan mulut gadis itu dan langsung disambut dengan cepat oleh Glora.BRAKKK."Uhukk ... uhukkk."Elang dengan cepat mengusap-usap tengkuk Glora ketika gadis itu tersedak karena gebrakan meja yang entah dari mana datang begitu tiba-tiba. Elang memandang tajam si pelaku penggebrak meja itu dengan tangannya yang terus mengusap-usap tengkuk Glora. Karena gebrakan yang cukup nyaring itu kini perhatian seluruh murid-murid yang ada di kantin terpusat pada meja mereka."Sayang, katanya tadi kamu berangkat bareng cewe? Itu pasti dia kan?" Gadis itu menunjuk ke arah Glora dengan tatapan sinis dari matanya."Lo siapa sih? Centil banget jadi cewek," lanjutnya."Tari lo jangan cari masalah de
Glora keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambutnya, gadis itu duduk di depan meja riasnya mulai menyisir rambutnya yang setengah basah. Glora melemparkan handuk itu ke sembarangan tempat dan membaringkan tubuhnya di atas kasur."Capek banget, badan Glo sakit semua." Sedari kecil Glora selalu dimanjakan, entah itu dengan Elang atau pun Dimas. Gadis itu tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat lelah.Ceklek.Glora menoleh ke arah pintu yang terbuka lalu muncullah sosok Elang dengan kaos hitam dan celana selututnya. Elang berjalan ke arah ranjang Glora, mengangkat kepala gadis itu dan memindahkan ke atas pahanya. "Kenapa?" tanya Elang ketika Glora beralih memeluk pinggangnya dan menenggelamkan wajahnya di sana."Capek," ucapnya yang sedikit kurang jelas karena teredam perut Elang, namun meski begitu Elang masih bisa mendengarnya."Siapa yang pengen sekolah?" ucap Elang dengan sedikit sinis."Ihh kak Elang." Glora duduk di dep
Glora terkekeh geli mengingat masa-masa kecilnya dengan Elang. Ah lelaki itu memang sudah licik dari kecil. Gadis itu kini telentang di atas kasurnya menatap langit-langit kamar yang dipenuhi hiasan bintang yang akan menyala jika kamarnya gelap. Sementara Elang, laki-laki itu tidak pernah mengalihkan tatapannya dari wajah Glora yang semakin hari semakin membuatnya gila."Gimana tugasnya?" tanya Elang, membuat tatapan Glora terarah ke arahnya."Glo ga bisa ngerjain terus nyontek deh sama Tasya hehe," ucapanya dengan cengengesan. Elang mencubit pipi Glora gemas. "Kenapa ga minta bantuan sama kakak aja sih?""Emang kak Elang bisa?""Ck, ya bisa lah."Glora tersenyum lebar lalu memeluk tubuh Elang dengan sayang. "Nanti tugasnya Glo semuanya kak Elang aja ya yang ngerjain? Glo pusing." Elang hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.Tok ... tok ... tok."Elang, keluar kamu dari kamar Glora." Suara Dimas terdengar dari balik pintu. Elang
"Glora."Panggilan itu menghentikan langkah Glora dan teman-temannya yang hendak kembali ke kelas. Dengan serempak mereka membalikkan badannya lalu melihat Tari berdiri dan membawa dua buah paper bag di tangannya."Ini buat lo," ucapnya dengan menyodorkan salah satu paper bag itu ke arah Glora."Buat Glo?" tanya Glora dengan menunjuk dirinya sendiri.Tari menganggukkan kepalanya dengan tersenyum ramah, membuat Icha, Lili dan Tasya saling senggol."Dan ini lo kasih buat Elang ya."Lili berbisik ke arah Tasya. "Ini ceritanya nyogok si Glora?”Tasya menyikut perut gadis itu membuatnya meringis pelan. Glora memandang Tari sebentar lalu turun ke arah dua paper bag di tangannya yang berisi parfum dengan varian berbeda di kedua paper bag itu. Glora memberikan kembali dua paper bag itu ke arah Tari lalu berucap, "Sorry Kak, kak Elang ga akan mau pake barang dari orang lain selain dari Glo."Setelah itu Glora berlalu begitu
"HUWAAAAAAAAAAA"Seluruh orang yang berada di dalam angkot itu kaget mendengar jeritan anak laki-laki itu, ibunya yang sama kagetnya pun mencoba menenangkan anaknya yang ntah apa sebabnya menangis dengan kencang itu.Karena tangisan anaknya tak mau berhenti, si ibu yang tak ingin membuat orang-orang yang berada di dalam angkot pun memutuskan untuk turun, membuat Elang tersenyum miring."Kak, itu kenapa kok tiba-tiba nangis gitu, padahal tadi dia lagi senyum sama Glo." Ucap Glora sambil menatap Elang.Elang menatap gadis itu, lalu menggeleng dengan polos. "Ga tau""Rame ya kak,""Hmm""Ih rumah kita udah kelewat belum""Belum"Di sepanjang jalan Glora selalu saja mengoceh yang di tanggapi elang dengan acuh. Hingga akhirnya mereka turun di depan komplek, membuat Glora heran.&nb
"HUWAAAAAAAAAAA"Seluruh orang yang berada di dalam angkot itu kaget mendengar jeritan anak laki-laki itu, ibunya yang sama kagetnya pun mencoba menenangkan anaknya yang ntah apa sebabnya menangis dengan kencang itu.Karena tangisan anaknya tak mau berhenti, si ibu yang tak ingin membuat orang-orang yang berada di dalam angkot pun memutuskan untuk turun, membuat Elang tersenyum miring."Kak, itu kenapa kok tiba-tiba nangis gitu, padahal tadi dia lagi senyum sama Glo." Ucap Glora sambil menatap Elang.Elang menatap gadis itu, lalu menggeleng dengan polos. "Ga tau""Rame ya kak,""Hmm""Ih rumah kita udah kelewat belum""Belum"Di sepanjang jalan Glora selalu saja mengoceh yang di tanggapi elang dengan acuh. Hingga akhirnya mereka turun di depan komplek, membuat Glora heran.&nb
"Glora."Panggilan itu menghentikan langkah Glora dan teman-temannya yang hendak kembali ke kelas. Dengan serempak mereka membalikkan badannya lalu melihat Tari berdiri dan membawa dua buah paper bag di tangannya."Ini buat lo," ucapnya dengan menyodorkan salah satu paper bag itu ke arah Glora."Buat Glo?" tanya Glora dengan menunjuk dirinya sendiri.Tari menganggukkan kepalanya dengan tersenyum ramah, membuat Icha, Lili dan Tasya saling senggol."Dan ini lo kasih buat Elang ya."Lili berbisik ke arah Tasya. "Ini ceritanya nyogok si Glora?”Tasya menyikut perut gadis itu membuatnya meringis pelan. Glora memandang Tari sebentar lalu turun ke arah dua paper bag di tangannya yang berisi parfum dengan varian berbeda di kedua paper bag itu. Glora memberikan kembali dua paper bag itu ke arah Tari lalu berucap, "Sorry Kak, kak Elang ga akan mau pake barang dari orang lain selain dari Glo."Setelah itu Glora berlalu begitu
Glora terkekeh geli mengingat masa-masa kecilnya dengan Elang. Ah lelaki itu memang sudah licik dari kecil. Gadis itu kini telentang di atas kasurnya menatap langit-langit kamar yang dipenuhi hiasan bintang yang akan menyala jika kamarnya gelap. Sementara Elang, laki-laki itu tidak pernah mengalihkan tatapannya dari wajah Glora yang semakin hari semakin membuatnya gila."Gimana tugasnya?" tanya Elang, membuat tatapan Glora terarah ke arahnya."Glo ga bisa ngerjain terus nyontek deh sama Tasya hehe," ucapanya dengan cengengesan. Elang mencubit pipi Glora gemas. "Kenapa ga minta bantuan sama kakak aja sih?""Emang kak Elang bisa?""Ck, ya bisa lah."Glora tersenyum lebar lalu memeluk tubuh Elang dengan sayang. "Nanti tugasnya Glo semuanya kak Elang aja ya yang ngerjain? Glo pusing." Elang hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.Tok ... tok ... tok."Elang, keluar kamu dari kamar Glora." Suara Dimas terdengar dari balik pintu. Elang
Glora keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambutnya, gadis itu duduk di depan meja riasnya mulai menyisir rambutnya yang setengah basah. Glora melemparkan handuk itu ke sembarangan tempat dan membaringkan tubuhnya di atas kasur."Capek banget, badan Glo sakit semua." Sedari kecil Glora selalu dimanjakan, entah itu dengan Elang atau pun Dimas. Gadis itu tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat lelah.Ceklek.Glora menoleh ke arah pintu yang terbuka lalu muncullah sosok Elang dengan kaos hitam dan celana selututnya. Elang berjalan ke arah ranjang Glora, mengangkat kepala gadis itu dan memindahkan ke atas pahanya. "Kenapa?" tanya Elang ketika Glora beralih memeluk pinggangnya dan menenggelamkan wajahnya di sana."Capek," ucapnya yang sedikit kurang jelas karena teredam perut Elang, namun meski begitu Elang masih bisa mendengarnya."Siapa yang pengen sekolah?" ucap Elang dengan sedikit sinis."Ihh kak Elang." Glora duduk di dep
Elang menyeka keringat yang bercucuran dari pelipis Glora, yang disebabkan oleh seblak yang sedang di makan gadis itu. "Hahhh pedes banget," ucapnya dengan tangannya yang mengipas-ngipasi mulutnya. Elang menyodorkan satu gelas es jeruk ke depan mulut gadis itu dan langsung disambut dengan cepat oleh Glora.BRAKKK."Uhukk ... uhukkk."Elang dengan cepat mengusap-usap tengkuk Glora ketika gadis itu tersedak karena gebrakan meja yang entah dari mana datang begitu tiba-tiba. Elang memandang tajam si pelaku penggebrak meja itu dengan tangannya yang terus mengusap-usap tengkuk Glora. Karena gebrakan yang cukup nyaring itu kini perhatian seluruh murid-murid yang ada di kantin terpusat pada meja mereka."Sayang, katanya tadi kamu berangkat bareng cewe? Itu pasti dia kan?" Gadis itu menunjuk ke arah Glora dengan tatapan sinis dari matanya."Lo siapa sih? Centil banget jadi cewek," lanjutnya."Tari lo jangan cari masalah de
Bel istirahat telah berbunyi beberapa detik yang lalu, Glora yang posisi duduknya di bangku belakang hanya diam memandang teman-teman barunya yang sibuk memasukkan alat-alat tulis mereka ke dalam tas. Ada juga yang berlalu keluar kelas tanpa peduli pada buku-bukunya yang berserakan di meja.Dua orang perempuan dari bangku depan berjalan menghampirinya. "Kenalin nama gue Icha," ucap gadis dengan rambut diikat dan bandana merah di kepalanya."Kalo gue Liana, panggil aja Lili." Gadis dengan rambut tergerai sebahu itu tersenyum manis yang dibalas senyuman tak kalah manis juga oleh Glora."Hai semuanya.""Yaudah yuk ke kantin." Tasya beranjak dari duduknya diikuti Icha dan Lili."Loh Glo, ayo kok malah diem?" tanya Icha."Eumm kalian duluan aja."Mereka bertiga kembali duduk. "Kenapa Glo, lo ada masalah?" tanya Tasya dengan heran."Glo nunggu kakak Glo dulu, Glo ga dibolehin keluar kalo nggak sama kakak.""Lo punya kaka
"Ayo turun.""Eumm ... Kak."Elang yang akan membuka pintu mobil kembali membalikkan badannya menghadap Glora.Elang menaikkan sebelah alisnya dan bertanya, "Kenapa?" Glora menunduk dengan jari-jarinya yang saling bertautan, kebiasaannya ketika ia merasa takut atau gugup. "Takut," cicitnya dengan pelan."Kan kamu sendiri yang pengen sekolah, udah kakak bilang tetep di rumah tapi kamu yang bandel kan?""Iya sih, tapi kan ini salah kakak juga kenapa coba aku ga disekolahin dari dulu, kan Glo ga akan gugup gini," ucapnya dengan kesal.Elang menghela napas panjang. "Terus kamu maunya gimana sayang, hm?" Glora menggelengkan kepalanya. "Ga tau, Glo pengen sekolah tapi Glo gugup banget."Elang membuka pintu mobilnya lalu keluar begitu saja, Glora yang melihat itu seketika panik karena Elang yang akan meninggalkannya. Baru saja akan membuka pintu, pintu itu sudah lebih dulu terbuka. Glora bernapas lega ternyata Ela
"Kak, boleh ya?"Elang menghela napas lelah, sudah sejak ia pulang sekolah Glora terus merengek seperti ini. "No, sayang."Glora mendengus kesal membuang pandangannya lalu melipat tangannya di dada. "Ih Glo kesel sama kakak, kenapa kakak boleh pergi ke sekolah sementara Glo tetap di rumah?Elang menggeser duduknya lebih merapat ke arah Glora, mengelus lembut rambut gadis itu. "Sayang dengerin kakak, di sekolah tuh ga ada yang spesial, belajar di sekolah sama di rumah itu sama aja."Mulut gadis itu berkomat-kamit mengikuti ucapan Elang dengan sedikit berlebihan. Elang membawa Glora ke pangkuannya. Gadis itu pun menyenderkan kepala di dada bidang Elang. "Kenapa pengen belajar di sekolah hmm?" tanya laki-laki itu dengan lembut.Glora mengangkat wajahnya memandang wajah Elang dari bawah. "Glo kan juga pengen punya temen, Glo bosen sendirian terus." Glora memajukan bibir bawahnya cemberut."Kan ada kakak, sayang.""Ih kakak ga asik.
Anak laki-laki itu tersenyum ketika melihat ayahnya masuk ke dalam rumah dengan seorang bocah cantik yang berada di gendongannya."Hey boy, are you happy?"Anak laki-laki itu mengangguk dengan semangat, lalu meminta ayahnya untuk menurunkan anak perempuan yang sekarang menunduk malu di hadapan si bocah laki-laki itu."I'm very happy," jawab Elang, anak laki-laki yang baru saja menginjak usia delapan tahun."Glora, mulai saat ini kak Elang akan jadi kakak kamu, oke?" tanya Dimas—ayah Elang yang di mana menjadi ayah Glora juga. Glora mengangkat wajahnya memandang Dimas, lalu mengangguk. "Iya, Ayah," ucapnya dengan pelan."Oke kamu di sini ya sama kak Elang, ayah mau kerja lagi."Dimas kini berjongkok di depan Elang yang terus tersenyum sambil menatap ke arah Glora. "Hey boy, daddy mau ke kantor. Jaga adikmu baik-baik, oke?"Elang mengangkat tangan, hormat kepada Dimas dan berkata, "Siap, Dad!"Setelah mengelus puncak kepala