Tenang gaes, lemparan bantalnya Kania gak kena otor kok, wkwkwk...
"Bagaimana kalau aku tidak mau, Kania? Bagaimana kalau aku tidak mau melepasmu?" Kania pun menelan ludahnya yang seperti menelan air satu galon saking gugupnya. Ini... apa maksudnya, sih?? Pertanyaan Pak Geovan yang ambigu, atau dia saja yang mudah terbawa perasaan?? Tawa kaku pun keluar dari mulut Kania yang mendadak terasa kering. "Pak Geovan ini bicara apa sih, kok bahasanya nyerempet-nyerempet gitu?? Ketularan saya deh pasti!" Sergahnya sembari membuang muka. Wajah mereka yang terlalu dekat membuat Kania merona. Sialnya, napas hangat Geovan justru kini berhembus mengenai kulit leher Kania dan membuatnya bergidik. "Aku bukan cuma ketularan kamu, Kania. Tapi kayaknya malah sudah kecanduan kamu deh." Lagi-lagi Geovan mengeluarkan kalimat-kalimat yang membikin wajah Kania semakin memerah. Tak biasanya lelaki itu berkata manis nan merayu, justru biasanya Kania yang begitu. Kekehan pelan pun menguar dari bibir Geovan. "Nggak nyangka. Kamu kalau digoda balik ternyata malah m
"HUEEEEKKK!!" Audriana menatap Jaxton dengan cemas. Sejak tadi jemarinya terus mengurut tengkuk kekasihnya atau menepuk lembut punggung lelaki itu, berusaha memberikan sedikit rasa nyaman untuk morning sickness yang diderita Jaxton. Jaxton memuntahkan isi perutnya yang baru saja diisi menu sarapan pagi hari ini. Semua yang telah ia telan dengan susah payah atas desakan Audriana. Butuh hampir satu jam baginya untuk menelan sereal plus buah, dan hanya butuh kurang dari lima menit untuk memuntahkan semuanya di wastafel kamar mandi. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di atas pundak Audriana dengan manja, setelah sedikit demi sedikit rasa mual itu perlahan agak memudar. "Sudah lebih enakan?" Tanya Audriana sembari mengelap bibir pucat Jaxton dengan tissue.Satu tangannya yang lain mengelus rambut coklat gelap lelaki itu. "Maaf ya, seharusnya aku yang mengalami morning sickness, bukannya kamu." Jaxton menggeleng meski matanya masih terpejam rapat. Bersandar di pundak mungil Audriana
Sudah satu jam Kania berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, namun gadis itu tak dapat menyembunyikan keresahannya karena sejak pagi tadi belum ada kabar apa pun dari Geovan. Tepatnya sejak lelaki itu pamit untuk mencari seseorang yang bernama PH, yang katanya adalah pelaku penusukan terhadap Mr. Quinn. Kania melihat jam dinding dan berdecak. Aaahhh, kenapa ia sangat khawatir?? Bahkan sejak meeting tadi pagi yang akhirnya dihadiri oleh Mr. Quinn yang telah pulih, Kania tidak bisa memfokuskan pikirannya sama sekali. Gadis itu mengalihkan tatapannya untuk memandangi cermin di atas meja rias. Maniknya tertuju pada seuntai kalung berliontion bunga tulip yang menggantung di lehernya. Jemarinya pun sontak terulur untuk mengelus kalung emas putih dengan taburan berlian di bagian bunganya. Bibir tipis sewarna jingga itu pun melengkungkan sebuah senyuman manis, kala pikirannya mengingat apa yang terjadi tadi pagi. Seketika wajah cant
"Apa?? Bom?!" Kania membelalakkan matanya dengan sempurna mendengar penuturan Geovan. "Jadi hari ini kamu hampir tidak selamat karena terkena ledakan bom?!" "Ck. Jangan remehkan kekasihmu, Kania. Aku tidak semudah itu untuk dikalahkan," decak Geovan yang melirik sekilas ke arah Kania, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Saat ini Geovan dan Kania berada di dalam mobil, dengan lelaki itu yang menyetir. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit untuk mengobati luka yang terbuka di pinggang Geovan. Sebenarnya dokter menyarankan untuk rawat inap 1-2 hari agar luka yang dijahit itu benar-benar sembuh sempurna, namun tentu saja Geovan menolaknya. Mana mungkin ia bisa betah hanya diam di tempat tidur tanpa melakukan apapun seharian? Memangnya si otor gaje yang tim rebahan?! "Bukan begitu!" Sambar Kania sambil bersungut-sungut. "Aku sangat cemas, tahu! Aku hanya tidak menyangka kalau tugas seorang ajudan seorang CEO ternyata cukup berbahaya juga." Geovan kembali melirik
"Halo, putriku." Lisa membelalakkan mata ketika melihat sosok ibunya yang telah duduk di sofa dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Lipstik merah menyala yang terpulas di bibir penuh Fiona membuat penampilan wanita berusia empat puluh empat tahun itu semakin terlihat cantik dan elegan, meskipun sinar licik dan berbahaya terpantul dari sorot mata birunya. "Apa yang Mama lakukan di rumahku?!" Sentak Lisa dengan wajah membeku karena menahan rasa kesal. "Tak seharusnya Mama keluar begitu saja dengan santai dari RSJ!" Fiona tertawa pelan. "Tentu saja aku bisa, Khalissa Rininta. Putriku yang sangat cantik, tapi sayangnya tidak berguna!" Sedetik kemudian wajah tawanya pun berubah menjadi seringai menakutkan bagai dua topeng dengan sisi yang berbeda. "Sudah kubilang jangan pernah menyentuh Jaxton! Tapi dasar bodoh, kau tetap saja berusaha membunuhnya." Fiona mendengus meremahkan, seraya menatap sebuah foto berpigura yang sejak tadi berada di tangannya. "Lihatlah, karena kebodoha
"Jadi dia salah satu dari mantanmu yang selusin itu?!" Kania menggaruk tengkuknya sambil meringis. Kenapa kebetulan yang sama sekali tidak diharapkan ini bisa terjadi sih?Baru saja mereka bertengkar karena mantannya yang lebih banyak dari satu regu tim sepak bola itu, eeh... malah ketemu pula dengan salah satunya! "I-iyaa sih. K-kamu nggak marah kan? Dia itu sudah menikah kok." Kania menoleh ke arah Geovan dengan perasaan was-was dan takut-takut. "Ck... apa bedanya menikah atau tidak?! Jadi kalau belum menikah, kalian mau 'reunian' lagi? Mengulang masa-masa lalu lagi? Begitu??" "Yaa enggaklaah... maksud aku--" Kania sontak terdiam, ketika Geovan menaruh telunjuknya di bibir gadis itu. "Diam." Kania pun langsung mengatupkan rapat-rapat kedua bibirnya dan mengangguk patuh. Sorot dari manik hitam Geovan yang tajam membuat nyalinya seketika ciut. Lelaki itu mengambil keranjang belanja Kania dan menggerakkan dagunya sekilas, memberikan gestur agar Kania mengikutinya. Geovan berjal
Jaxton mengemudikan mobilnya menuju sebuah rumah yang terpencil di desa Buleleng. Jarak yang cukup jauh dari hotel tempatnya menginap, membuatnya membutuhkan waktu hampir dua jam untuk sampai di sana. Lokasi yang diberikan si penelepon misterius itu ternyata adalah sebuah rumah besar dua lantai seperti villa. Jaxton menghentikan mobilnya tak jauh dari pagar tinggi yang membatasi rumah mewah tersebut. Baru saja ia hendak turun dari mobilnya, namun tiba-tiba saja pagar tinggi itu pun bergerak membuka secara otomatis. Jaxton pun melajukan mobilnya memasuki pekarangan. Ada lima orang bodyguard yang berjaga di depan rumah, mereka langsung menghampiri Jaxton untuk menggeledah tubuhnya. "Silahkan masuk, Mr. Jaxton Quinn. Kehadiran Anda sudah ditunggu di dalam," ucap salah seorang bodyguard itu, setelah merasa yakin bahwa Jaxton tidak membawa senjata. Jaxton mengawasi keadaan sekitarnya dalam satu sapuan pandangan, sebelum akhirnya ia pun berjalan memasuki pintu rumah ganda yang juga d
Angin semilir yang meniupkan dedaunan yang berjatuhan dari atas pohon, membawa serta titik embun yang turun dari langit. Udara dingin yang kemudian disusul oleh hujan telah menjadi kebiasaan di Jakarta beberapa hari ini. Hari ini Audriana terlihat cantik sekali, meskipun gaun hitam yang sedang ia kenakan sangat kental dengan nuansa berkabung yang muram. Gadis itu berjalan dengan perlahan menyusuri jalan setapak dari batu, yang dibentuk seperti sebuah batang pohon yang ditebang. Langkah kakinya yang mengayun anggun,seolah tak terpengaruh oleh sekumpulan batu nisan yang berjejer rapi di samping kanan dan kirinya. Payung hitam yang terkembang di atas kepalanya melindungi wanita itu dari tetes-tetes halus air hujan, yang sedikit demi sedikit mulai membasahi bumi. Tujuan Audriana adalah sebuah nisan yang berada di ujung kompleks pemakaman. Ia telah menyiapkan buket bunga mawar putih yang segar, keharumannya yang alami menguar membelai indra penciuman, berbaur dengan aroma tanah sert
Bab ini agak cringe ya gaes... maklum otor gaje lagi cosplay jadi mak lampir. *** Kania pun semakin terpuruk, ketika menyadari bahwa suara mesin kapal terdengar semakin keras, pertanda kapal akan segera berlayar sebentar lagi ke laut lepas menuju Malaysia! "Geo, aku takut..." lirihnya dengan bibir gemetar menahan sakit akibat tamparan dan juga karena takut. Apakah ia benar-benar akan dibawa ke negara lain untuk dijadikan gundik dari seorang rentenir bernama Tuan Abdul? Apakah akhirnya ini adalah nasibnya?? Pikiran Kania yang kalut membuat napasnya sesak. Baru saja ia hendak menata hidup baru dengan pekerjaan baru dan juga pacar yang tampan, namun sepertinya kehidupan tak membiarkannya untuk berbahagia pada akhirnya. Ini sungguh tidak adil!! Sejak kecil ia tidak pernah merasakan keluarga yang utuh dan bahagia karena ibunya yang pergi entah kemana, sementara Ayahnya yang gemar berjudi hingga menghabiskan uang serta tabungannya. Kania yang tidak tahan dengan hobi berjudi Ayahnya
**Satu Minggu Kemudian** Semuanya telah kembali menjadi normal, sepulangnya mereka semua dari Bali yang menyimpan begitu banyak kenangan. Tak terasa waktu pernikahan Jaxton dan Audriana pun semakin dekat, hingga kedua calon pengantin itu disibukkan oleh berbagai macam persiapan menjelang hari H. Kania sebagai sekretaris Jaxton sekaligus sahabat Audriana pun tak kalah sibuknya. Seperti saat ini contohnya, gadis mungil itu sibuk mencari sample bunga dan beberapa tetek-bengek lainnya untuk diperlihatkan kepada calon pengantin. Jaxton tidak memperbolehkan Audriana kemana-mana karena khawatir dengan kandungannya, maka Kania-lah yang mondar-mandir membawakan semua sample mulai dari makanan, bunga, baju pengantin, dan lain-lain. Ia melakukannya dengan senang hati, apalagi ini untuk sahabatnya. Tapi kesibukannya membuat Kania menjadi jarang bertemu dengan Geovan, karena hari libur pun ia justru semakin sibuk mempersiapkan detail untuk pernikahan bosnya itu. Bahkan semenjak resmi menja
Angin semilir yang meniupkan dedaunan yang berjatuhan dari atas pohon, membawa serta titik embun yang turun dari langit. Udara dingin yang kemudian disusul oleh hujan telah menjadi kebiasaan di Jakarta beberapa hari ini. Hari ini Audriana terlihat cantik sekali, meskipun gaun hitam yang sedang ia kenakan sangat kental dengan nuansa berkabung yang muram. Gadis itu berjalan dengan perlahan menyusuri jalan setapak dari batu, yang dibentuk seperti sebuah batang pohon yang ditebang. Langkah kakinya yang mengayun anggun,seolah tak terpengaruh oleh sekumpulan batu nisan yang berjejer rapi di samping kanan dan kirinya. Payung hitam yang terkembang di atas kepalanya melindungi wanita itu dari tetes-tetes halus air hujan, yang sedikit demi sedikit mulai membasahi bumi. Tujuan Audriana adalah sebuah nisan yang berada di ujung kompleks pemakaman. Ia telah menyiapkan buket bunga mawar putih yang segar, keharumannya yang alami menguar membelai indra penciuman, berbaur dengan aroma tanah sert
Jaxton mengemudikan mobilnya menuju sebuah rumah yang terpencil di desa Buleleng. Jarak yang cukup jauh dari hotel tempatnya menginap, membuatnya membutuhkan waktu hampir dua jam untuk sampai di sana. Lokasi yang diberikan si penelepon misterius itu ternyata adalah sebuah rumah besar dua lantai seperti villa. Jaxton menghentikan mobilnya tak jauh dari pagar tinggi yang membatasi rumah mewah tersebut. Baru saja ia hendak turun dari mobilnya, namun tiba-tiba saja pagar tinggi itu pun bergerak membuka secara otomatis. Jaxton pun melajukan mobilnya memasuki pekarangan. Ada lima orang bodyguard yang berjaga di depan rumah, mereka langsung menghampiri Jaxton untuk menggeledah tubuhnya. "Silahkan masuk, Mr. Jaxton Quinn. Kehadiran Anda sudah ditunggu di dalam," ucap salah seorang bodyguard itu, setelah merasa yakin bahwa Jaxton tidak membawa senjata. Jaxton mengawasi keadaan sekitarnya dalam satu sapuan pandangan, sebelum akhirnya ia pun berjalan memasuki pintu rumah ganda yang juga d
"Jadi dia salah satu dari mantanmu yang selusin itu?!" Kania menggaruk tengkuknya sambil meringis. Kenapa kebetulan yang sama sekali tidak diharapkan ini bisa terjadi sih?Baru saja mereka bertengkar karena mantannya yang lebih banyak dari satu regu tim sepak bola itu, eeh... malah ketemu pula dengan salah satunya! "I-iyaa sih. K-kamu nggak marah kan? Dia itu sudah menikah kok." Kania menoleh ke arah Geovan dengan perasaan was-was dan takut-takut. "Ck... apa bedanya menikah atau tidak?! Jadi kalau belum menikah, kalian mau 'reunian' lagi? Mengulang masa-masa lalu lagi? Begitu??" "Yaa enggaklaah... maksud aku--" Kania sontak terdiam, ketika Geovan menaruh telunjuknya di bibir gadis itu. "Diam." Kania pun langsung mengatupkan rapat-rapat kedua bibirnya dan mengangguk patuh. Sorot dari manik hitam Geovan yang tajam membuat nyalinya seketika ciut. Lelaki itu mengambil keranjang belanja Kania dan menggerakkan dagunya sekilas, memberikan gestur agar Kania mengikutinya. Geovan berjal
"Halo, putriku." Lisa membelalakkan mata ketika melihat sosok ibunya yang telah duduk di sofa dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Lipstik merah menyala yang terpulas di bibir penuh Fiona membuat penampilan wanita berusia empat puluh empat tahun itu semakin terlihat cantik dan elegan, meskipun sinar licik dan berbahaya terpantul dari sorot mata birunya. "Apa yang Mama lakukan di rumahku?!" Sentak Lisa dengan wajah membeku karena menahan rasa kesal. "Tak seharusnya Mama keluar begitu saja dengan santai dari RSJ!" Fiona tertawa pelan. "Tentu saja aku bisa, Khalissa Rininta. Putriku yang sangat cantik, tapi sayangnya tidak berguna!" Sedetik kemudian wajah tawanya pun berubah menjadi seringai menakutkan bagai dua topeng dengan sisi yang berbeda. "Sudah kubilang jangan pernah menyentuh Jaxton! Tapi dasar bodoh, kau tetap saja berusaha membunuhnya." Fiona mendengus meremahkan, seraya menatap sebuah foto berpigura yang sejak tadi berada di tangannya. "Lihatlah, karena kebodoha
"Apa?? Bom?!" Kania membelalakkan matanya dengan sempurna mendengar penuturan Geovan. "Jadi hari ini kamu hampir tidak selamat karena terkena ledakan bom?!" "Ck. Jangan remehkan kekasihmu, Kania. Aku tidak semudah itu untuk dikalahkan," decak Geovan yang melirik sekilas ke arah Kania, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Saat ini Geovan dan Kania berada di dalam mobil, dengan lelaki itu yang menyetir. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit untuk mengobati luka yang terbuka di pinggang Geovan. Sebenarnya dokter menyarankan untuk rawat inap 1-2 hari agar luka yang dijahit itu benar-benar sembuh sempurna, namun tentu saja Geovan menolaknya. Mana mungkin ia bisa betah hanya diam di tempat tidur tanpa melakukan apapun seharian? Memangnya si otor gaje yang tim rebahan?! "Bukan begitu!" Sambar Kania sambil bersungut-sungut. "Aku sangat cemas, tahu! Aku hanya tidak menyangka kalau tugas seorang ajudan seorang CEO ternyata cukup berbahaya juga." Geovan kembali melirik
Sudah satu jam Kania berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, namun gadis itu tak dapat menyembunyikan keresahannya karena sejak pagi tadi belum ada kabar apa pun dari Geovan. Tepatnya sejak lelaki itu pamit untuk mencari seseorang yang bernama PH, yang katanya adalah pelaku penusukan terhadap Mr. Quinn. Kania melihat jam dinding dan berdecak. Aaahhh, kenapa ia sangat khawatir?? Bahkan sejak meeting tadi pagi yang akhirnya dihadiri oleh Mr. Quinn yang telah pulih, Kania tidak bisa memfokuskan pikirannya sama sekali. Gadis itu mengalihkan tatapannya untuk memandangi cermin di atas meja rias. Maniknya tertuju pada seuntai kalung berliontion bunga tulip yang menggantung di lehernya. Jemarinya pun sontak terulur untuk mengelus kalung emas putih dengan taburan berlian di bagian bunganya. Bibir tipis sewarna jingga itu pun melengkungkan sebuah senyuman manis, kala pikirannya mengingat apa yang terjadi tadi pagi. Seketika wajah cant
"HUEEEEKKK!!" Audriana menatap Jaxton dengan cemas. Sejak tadi jemarinya terus mengurut tengkuk kekasihnya atau menepuk lembut punggung lelaki itu, berusaha memberikan sedikit rasa nyaman untuk morning sickness yang diderita Jaxton. Jaxton memuntahkan isi perutnya yang baru saja diisi menu sarapan pagi hari ini. Semua yang telah ia telan dengan susah payah atas desakan Audriana. Butuh hampir satu jam baginya untuk menelan sereal plus buah, dan hanya butuh kurang dari lima menit untuk memuntahkan semuanya di wastafel kamar mandi. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di atas pundak Audriana dengan manja, setelah sedikit demi sedikit rasa mual itu perlahan agak memudar. "Sudah lebih enakan?" Tanya Audriana sembari mengelap bibir pucat Jaxton dengan tissue.Satu tangannya yang lain mengelus rambut coklat gelap lelaki itu. "Maaf ya, seharusnya aku yang mengalami morning sickness, bukannya kamu." Jaxton menggeleng meski matanya masih terpejam rapat. Bersandar di pundak mungil Audriana