Ketika itu, Lengkukup langsung terdiam, sesaat Lee Nara mengambil kalung giok itu dari tangannya.
Tidak pernah ia duga sebelumnya, jika Lee Nara akan bertindak demikian, akan tetapi hal tersebut membuatnya sedikit terpukul karena telah membuat hati Lee Nara menjadi terluka olehnya.
Dirinya juga menebak, jika Lee Nara tidak benar-benar berniat buruk terhadapnya, sehingga mungkin ia akan meminta penjelasan terhadap tindakan Lee Nara itu, karena iapun dapat memastikan jika kelompok Bandit Gunung itu, akan membunuhnya cepat atau lambat.
"Bagus! bawa kalung itu kesini!" ucap pria bertopeng itu.
Dalam beberapa langkah, Lee Nara akhirnya mencapai mereka dan ia lantas memberikan kalung giok itu kepada pria bertopeng besi itu.
Bertepatan dengan dirinya memberikan kalung tersebut, Lee Nara sempat melirik kearah saudaranya dan tanpa ia sadari jika pria be
Pada saat itu, Lee Bara hanya bisa menelan ludahnya sendiri, karena tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat Lee Nara diperlakukan dengan tidak pantas.Penyesalan mulai menjalar diseluruh kepalanya, terlebih lagi dirinya tidak bisa menyelamatkan adik semata wayangnya itu.Namun, dirinya masih tetap berusaha melepaskan diri dengan cara meronta sekuat tenaga, akan tetapi usahanya tersebut tidak membuahkan hasil, melainkan beberapa pukulan yang cukup keras mengenai wajahnya."Lepaskan!" pekik Lee Bara."Berteriaklah sekuat tenaga! tidak akan ada yang membantu," ucap salah seorang yang memegangi dirinya.Ketika itu, beberapa rekannya yang lain menghampiri keberadaan Lengkukup, akan tetapi mereka sangat terkejut karena mendapati Lengkukup sudah menghilang dari pandangan mata.Mereka sempat mencari namun tidak kunjung menemukannya, sehingga membuat mereka berfikir jika Lengkukup telah melarikan diri.
Pada saat itu, Lee bara hanya bisa terdiam karena merasa tidak memiliki pilahan lain, selain melepaskan pedangnya dari genggaman yang begitu erat sebelumnya.Bahkan dirinya sempat mengutuk pria bertopeng itu, dengan sebuah kata-kata makan yang cukup sakit untuk didengar.Namun, perkataan Lee Bara hampir tidak dengarnya, ketika dirinya tertawa lantang karena merasa diatas angin, melihat kedua orang itu tidak bisa berbuat banyak atas tindakan yang ia lakukan."Sekarang berbaliklah! Biarkan menyelesaikan ini terlebih dahulu," ucapnya."Ka-kakak tolong!" ujar Lee Nara dengan suara yang begitu pelan namun masih didengarnya.Lee Nara sempat menolak berkali-kali dan tidak membiarkan pria tersebut menyentuh tubuhnya, akan tetapi ia bahkan tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan, sehingga ia hanya memejamkan mata, seraya meminta pertolongan dengan suara kecil yang diikuti suara rintihan pelan menyertai.Di sa
Pada saat itu, Lengkukup baru saja menyadari jika kekuatan pria tersebut sangat jauh meningkat, ketika ia belum menggunakan jurus dua pedang miliknya.Dari beberapa pertukaran jurus, ia menyadari jika pria itu tidak hanya membuat saja, bahkan saat ini Lengkukup merasa sedikit kesulitan untuk mengatasi jurus dua pedang tersebut.Hal itu sempat membuat Lengkukup berdecak, karena bukan tidak mungkin, jika dirinya akan menggunakan kekuatan Iblis, meski tidak begitu diperlukan untuk mengatasi pria itu."Rupanya, kau tidak membual atas ucapan mu!" ujar Lengkukup."Cih! omong kosong, bersiap lah!" pekiknya kembali.Ketika itu, Lengkukup hanya menanggapi pria setengah baya itu hanya dengan senyuman tipis, seraya bersiap menerima serangan dua pedang yang terarah kepadanya.Namun, Lengkukup bahkan tidak bergeming sedikitpun ketika beberapa jurus hendak mengenai tubuhnya, dan dengan cepat ia memberikan serangan balasan
Lengkukup sempat menyipitkan kedua matanya, sebelum ia menjawab perkataan Lee Nara tentang kalung giok, yang beberapa saat yang lalu sempat dirampas oleh Bandit Gunung tersebut.Ketika itu, Lengkukup sempat mengambil nya kembali sebelum ia pergi meninggalkan jasad yang telah terbujur kaku itu, dan secara kebetulan dirinya kembali bertemu dengan Lee Nara.Beberapa saat yang lalu, dirinya bahkan berniat meninggalkan Lee Nara karena menganggap akan lebih baik dirinya bersama saudara kandungnya, akan tetapi sialnya, ia bahkan berjumpa kembali dengan Lee Nara, sebelum ia sempat pergi lebih jauh."Kemana perginya saudaraku?" tanya Lengkukup memastikan."Aku meninggalkannya!" jawab Lee Nara sembari membuang muka lalu sedikit membusungkan dada."Kau tidak boleh seperti itu terhadap kakakmu! akan kuantar kau kembali padanya," ujar Lengkukup sembari menarik paksa tangan Lee Nara."Berhenti! aku sudah memutuskan jika aku a
Ketika itu Lengkukup hanya bisa terdiam, karena merasa bersalah atas sikap yang ia berikan terhadap Lee Nara.Lengkukup sempat berfikir, jika wanita itu akan sedikit membencinya, karena telah memaksa dia untuk berkata jujur.Namun, jika tidak ia lakukan, maka dirinya tentu tidak bisa dengan mudah menerima Lee Nara kembali, tanpa sebab yang pasti."Sudahlah! Jangan terlalu kau fikirkan," ujar Lengkukup seraya membantu Lee Nara untuk berdiri.Beberapa saat yang lalu, Lee Nara bahkan sempat terduduk lesu, ketika dirinya meratapi masa lalunya, yang kemungkinan besar sangat menyiksa untuknya.Namun pada akhirnya dia menyadari jika bersedih tidak memiliki arti apapun, melainkan akan menambah penderitaan yang baru.Ketika beranjak dewasa, Lee Nara telah mencoba berbagai cara untuk melupakan semua kejadian yang menimpa dirinya, aka
Dengan sangat cepat Lee Nara mengambil sikap waspada, karena dirinya menebak jika orang tersebut merupakan anggota Bandit Gunung yang masih tersisa.Namun, dirinya tidak memastikan hal tersebut sebelum mengetahui pasti dan mendapat pengakuan dari pria itu.Dari perawakannya, Lee Nara dapat menebak jika orang itu, bukanlah orang baik-baik, terlebih tatapan nya kian memburu ketika melihat sebagai pakaian Lee Nara yang robek."Sedang apa kau disini?" tanya Lee Nara kembali, seraya menutupi bagian tubuhnya yang terbuka."Ah, tenang nona, aku tidak bermaksud buruk padamu," ujarnya dengan mengelus kedua tangannya."Cepat pergi dari sini! Atau aku akan berteriak..." ucap Lee Nara memastikan.Namun pria tersebut malah memberikan senyuman penuh arti, seraya berjalan perlahan kearah Lee Nara.Karena tindakannya tersebut, Lee Nara malah semakin waspada, karena dirinya dapat memastikan jika orang itu berniat
ketika Lengkukup selesai berbicara, pria itu bahkan tidak bisa menjawab, karena merasa tindakan yang akan dia lakukan semakin sia-sia, ketika ia melihat wajah Lengkukup yang semakin membuatnya ketakutan.Tidak pernah dia duga, jika anak kecil itu mengetahui jika dirinya merupakan dalang dibalik pembunuhan yang beberapa saat yang lalu sempat terjadi.Sialnya, dia bahkan tidak sempat berbohong lebih banyak, ketika menyadari busur panah yang dia bawa masih melingkar dipunggungnya."Sungguh! aku tidak tau..." ujarnya dengan mengucurkan keringat dingin."Baiklah! aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi..." timpal Lengkukup seraya menebaskan pedangnya lalu secepat kilat dua pedang angin tercipta dan menebas leher serta tubuhnya.Ketika itu, Lee Nara sempat memekik karena baru saja melihat pembunuhan yang sangat mengerikan sedang terjadi didepan matanya.Ia bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangan, kar
Ketika itu Lee Nara langsung menyantap bagiannya dengan cepat, karena merasa dide sak oleh Lengkukup. Namun, hal tersebut sedikit membuatnya merasa hawatir, karena dirinya bahkan merasakan sesuatu yang mengancam, sedang mendekat kearah mereka. Dengan sedikit tergesa-gesa Lee Nara akhirnya berhasil memakan setengah daging kelinci itu, sebelum akhirnya ia menjadi waspada karena sepuluh pasukan berkuda baru saja tiba dan sedang menatap mereka dengan tajam. "Siapa kalian? Beraninya kalian memasuki kawasan desa Suban Dara dan menyalakan api unggun itu..." tanya salah satu pria bertubuh besar yang kemudian memberi perintah kepada anggotanya yang lain untuk segera memadamkan api yang masih menyala. "Maafkan kami karena telah menginjakkan kaki ditempat ini, akan tetapi alangkah baiknya jika kalian bersikap sedikit sopan," timpal Lengkukup seraya menaikkan alisnya lalu melipat kedua tangannya kebelakang. "Diam kau bocah! aku tidak menyuruhmu
Ling terdiam dalam keheningan, tatapannya masih terpaku pada tempat di mana sosok berjubah putih itu menghilang. Lengkukup dan En Jio berdiri di sisinya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun, pertanyaan yang menggantung di udara tidak segera menemukan jawaban."Siapa dia?" En Jio akhirnya memecah kesunyian, suaranya bergetar lemah. "Penjaga Kuil Tianlong? Aku tidak pernah mendengar tentang sosok seperti itu..."Lengkukup, yang biasanya tenang dan penuh perhitungan, hanya menggelengkan kepala. "Dia muncul tepat saat kita membutuhkannya. Entah siapa atau apa tujuannya, kita sebaiknya bersyukur."Ling menghela napas panjang, tubuhnya masih lelah setelah serangan besar yang hampir menghabisi kekuatannya. "Kita harus segera pergi dari sini. Tempat ini penuh dengan kegelapan, dan aku merasakan sesuatu yang tidak beres."Mereka bertiga mengangkat diri, meskipun tubuh mereka masih t
Sima Yan berdiri tegak di hadapan Ling, Lengkukup, dan En Jio. Aura kegelapan yang memancar dari tubuhnya membuat udara di sekitar mereka terasa berat. Pedangnya yang besar dan hitam berkilauan dengan cahaya merah yang jahat, menandakan kekuatan yang luar biasa.Ling mengepalkan tangannya lebih kuat di sekitar gagang pedangnya. Napasnya terasa berat, dan dadanya bergemuruh dengan adrenalin. Dia tahu ini bukan hanya pertarungan melawan seorang musuh yang kuat, tapi juga perjuangan untuk tetap hidup."Kita tidak bisa membiarkan dia menang!" desis Ling dengan penuh semangat, meski dia tahu dalam hatinya bahwa mereka mungkin tidak akan bertahan dari pertarungan ini.Lengkukup berdiri di sampingnya, menatap dingin ke arah Sima Yan. "Kita bertarung sampai napas terakhir. Tidak ada pilihan lain."En Jio, yang masih terluka, mengangguk dengan susah payah. Meskipun kondisinya jauh dari ideal, dia tahu tidak ada waktu untuk mundur.
Ketika mereka keluar dari gua, lembah yang dulunya gelap sekarang diterangi cahaya redup matahari yang mulai tenggelam. Udara terasa lebih berat, seolah sesuatu yang jahat menyelimuti mereka dari kejauhan. Langit di atas Gunung Tianfeng mulai berubah menjadi merah darah, pertanda bahwa bahaya semakin dekat.
Suasana di dalam ruangan besar itu mendadak tegang. Pria berjubah hitam yang berdiri di hadapan mereka tampak mengintimidasi, dengan senyum penuh kebencian yang menyiratkan keyakinan mutlak pada kekuatannya. Cahaya dari kristal elemen hijau memantul di zirah hitamnya, mempertegas aura kegelapan yang menyelimuti tubuhnya."Aku adalah pengawal elemen ini," ucap pria itu dengan suara rendah yang bergetar. "Namaku Hei Long, dan kalian tak akan bisa melewati gerbang kehidupan ini."Ling menatap pria itu dengan tajam, mempersiapkan diri. "Kalau begitu, kita tak punya pilihan lain selain melawanmu."Lengkukup dan En Jio mengambil posisi di sebelah Ling. Meskipun mereka tahu bahwa Hei Long adalah lawan yang kuat, mereka tidak punya waktu untuk ragu. Kristal elemen hijau itu adalah kunci untuk melengkapi kekuatan Kitab Dewa Naga, dan mereka harus mendapatkannya, apa pun risikonya."Serahkan saja elemen itu
Malam mulai menyelimuti perbukitan, namun Ling, Lengkukup, dan En Jio terus melangkah. Suasana semakin mencekam saat kabut tipis mulai muncul, menyelimuti jalanan setapak yang semakin sempit. Hutan lebat di kiri dan kanan mereka seolah menjadi dinding kegelapan yang tak tertembus. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di tengah keheningan itu."Kita semakin dekat," kata Lengkukup, matanya terus mengawasi setiap gerakan di sekitar. "Aku bisa merasakan kehadiran sesuatu yang tidak biasa di sini."Ling mengangguk setuju. Dari kitab Dewa Naga yang berada dalam genggamannya, ia bisa merasakan energi yang semakin kuat. "Lembah itu tak jauh lagi. Energi dari elemen berikutnya sangat jelas terpancar dari sana."En Jio, yang biasanya penuh semangat, kali ini tampak lebih tenang. "Apa kalian sudah siap? Kalau pasukan hitam benar-benar menunggu di sana, ini akan menjadi pertempuran yang sulit."
Setelah berhasil mengalahkan Pengawal Bayangan dan mengamankan elemen es, Ling, Lengkukup, dan En Jio melanjutkan perjalanan mereka menuju perbukitan yang lebih rendah, meninggalkan puncak es yang mencekam di belakang. Udara di sini lebih hangat, tapi suasana tegang masih melingkupi mereka. Masing-masing terdiam, merenungkan pertempuran yang baru saja mereka lalui.“Kita sekarang memiliki dua elemen,” kata Lengkukup, memecah keheningan. “Tapi musuh kita pasti semakin sadar dengan keberadaan kita.”Ling mengangguk. “Kita harus bergerak cepat. Mereka tidak akan tinggal diam dan membiarkan kita mengambil semua elemen begitu saja.”En Jio, yang biasanya ceria, kali ini terlihat lebih serius. “Kalau mereka sudah mengirim Pengawal Bayangan, berarti kekuatan besar sedang memantau kita. Kita harus siap menghadapi mereka, kapan pun mereka menyerang.”
Setelah berhasil mendapatkan elemen es dari Puncak Es, Ling, Lengkukup, dan En Jio tidak bisa beristirahat lama. Meski mereka baru saja mengalahkan serigala es yang menjaga elemen tersebut, perasaan cemas tidak pernah benar-benar pergi. Keheningan yang melingkupi pegunungan bersalju seolah menyembunyikan ancaman yang belum terungkap.“Ling,” kata Lengkukup tiba-tiba, matanya tajam menatap ke kejauhan. “Kita sedang diawasi.”Ling yang sedang mengatur napas setelah pertempuran, langsung siaga. Dia mengeluarkan pedangnya dengan gerakan cepat, memfokuskan seluruh indranya untuk mendeteksi ancaman yang disampaikan Lengkukup. Seiring angin dingin yang menusuk, bayangan mulai terlihat di balik kabut tebal.En Jio, yang sebelumnya sedang bercanda untuk menghilangkan ketegangan, kini mengalihkan pandangannya dengan wajah serius. “Sepertinya, penjaga elemen es bukan satu-satunya yang harus kita hadapi.”Dari kabut yang semakin pekat, muncul sosok-sosok berpakaian hitam. Mereka bergerak dengan k
Setelah berhasil mendapatkan elemen api dari Gunung Berapi Hitam, Ling, Lengkukup, dan En Jio tidak memiliki banyak waktu untuk merayakan keberhasilan mereka. Tantangan berikutnya, elemen es, menanti mereka di ujung dunia yang berlawanan, di Puncak Es yang dilapisi salju abadi.“Kita tidak bisa berlama-lama di sini,” ujar Ling, napasnya masih terengah-engah setelah pertarungan yang menegangkan. “Puncak Es jauh, dan kita tidak tahu apa yang menanti kita di sana.”Lengkukup menyetujui, mengangkat elemen api dengan hati-hati. Cahaya merah yang menyala dari elemen itu berdenyut lembut, memberikan rasa hangat yang kontras dengan suhu yang akan mereka hadapi di perjalanan berikutnya.“Kau benar, Ling,” katanya. “Kita harus segera bergerak. Semakin lama kita menunda, semakin besar kemungkinan musuh kita mengetahui keberadaan elemen ini.”En Jio, yang telah berhasil mengalihkan perhatian naga api, berjalan mendekat. Dia tersenyum puas, meskipun wajahnya dipenuhi keringat. “Aku tidak sabar unt
Dengan hati yang penuh semangat dan ketegangan yang meningkat, Ling, Lengkukup, dan En Jio meninggalkan pasar malam. Mereka tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi salah satu yang paling menantang yang pernah mereka hadapi. Mereka harus mendapatkan dua elemen yang berlawanan, dan langkah pertama adalah menuju Gunung Berapi Hitam.Di jalan, Ling merenungkan kata-kata lelaki tua itu. Kekuatan tidak hanya datang dari kemampuan fisik, tetapi juga dari keputusan yang mereka buat. Perjalanan ini bukan hanya tentang mencari kunci, tetapi juga tentang menemukan diri mereka sendiri dan menguji batasan mereka.Sesampainya di tepi hutan, mereka berhenti sejenak. Ling bisa merasakan perubahan udara, dari segar menjadi panas dan berbau sulfur. “Kita sudah dekat dengan gunung,” ujarnya.“Kau yakin kita siap menghadapi makhluk yang menjaga elemen api?” Lengkukup bertanya, merasakan ketegangan di udara.“Kita harus percaya satu sama lain,” jawab Ling. “Kita sudah melalui banyak hal bersama. Ini hanya