Nyi Arum kini menyerbu Rambai Kaca, seperti ikan buas yang di usik ketenangannya.Dia melakukan tebasan cepat secara horizontal, dan berhasil mengenai bayangan murid Manik Angkeran itu. Beruntung Rambai Kaca berhasil menghindari serangan tersebut dengan menarik tubuhnya ke belakang, jika tidak mungkin pedang itu sudah memotong dirinya menjadi dua bagian.Melihat Rambai Kaca berhasil menghindari, Nyi Arum tersenyum kecut, dan lagi dia menyerang dengan brutal.Pedang dialiri tenaga dalam, menghasilkan daya rusak yang lebih kuat, tapi hal itu juga berarti energi pedang dapat memotong beberapa barang berharga di dalam ruangan ini jika gagal mengenai tubuh Rambai Kaca.Benar saja, tebasan Nyi Arum kini mendarat tepat pada kepala perunggu patung naga.Wush...Cahaya putih redup melintasi kepala patung, sebelum kemudian potongan benda itu jatuh ke lantai batu di ruangan ini."Kau-" Nyi Arum hendak memaki Rambai Kaca, dia menunjuk ke arah remaja itu, lalu menggenggam kepalan tinju dengan erat
"Huammmm!" Kidang Alang menggeliat setelah membuka mulutnya dengan lebar, rasa kantuk masih menguasai dirinya, tapi beberapa saat kemudian dia sadar jika temannya sudah tidak ada lagi di sebelahnya."Kemana Rambai Kaca?" Kidang Alang langsung beranjak, mengambil air dan mengusap wajah. Dia menyapukan pandangan ke sekeliling, mencoba menemukan keberadaan Rambai Kaca, tapi tentu saja dia tidak akan menemukannya."Jangan-jangan dia sedang melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku, Kurang ajar itu!" Bergegas pemuda tersebut keluar dari dalam kamar, menyusuri ruangan penginapan hingga tiba di halaman belakang bangunan itu.Lagi-lagi dia tidak menemukan sosok teman yang meninggalkannya sendirian di kamar.Kidang Alang lantas pergi ke halaman depan, kemudian mengelilingi penginapan sebanyak dua kali.Sambil menggerutu, pemuda tersebut mencoba mencari lebih jauh lagi, hingga matanya kini menatap perbatasan. Para penjaga di gerbang perbatasan terlihat sedikit riuh, karena pertarungan antara Ramb
Nyi Arum menghentakkan kakinya ke lantai, dan tiba-tiba muncul sebuah pedang keluar dari dalam lantai itu dengan gagang pedang terlebih dahulu muncul.Tepat ketika berada di hadapan Nyi Arum, wanita itu langsung menyambar pedang tersebut, dan menunjukan teknik terbaik untuk mengalahkan Rambai Kaca.Energi pedang kali ini dikirim menuju anak manusia tersebut, meskipun tidak berhasil melukai Rambai Kaca, tapi kekuatan tersebut cukup untuk memotong dinding ruangan dengan begitu rapi.Kali ini, Nyi Arum tidak peduli lagi dengan harta benda yang terkena imbas dari serangannya. Bagi dirinya, harta bisa dicari lagi, walaupun mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, tapi harga dirinya sebagai orang terkuat di sini lebih penting dari semua harta ini.Jadi dia akan menggunakan semua kemampuan untuk mengalahkan Rambai Kaca.Dua kali tebasan pedang yang bergerak cepat ke arah Manusia itu, berhasil dihindari dengan sangat baik. Terlihat Rambai Kaca menggunakan Jurus Kilat Putih untu
Sekali lagi, Rambai Kaca berhasil memukul tubuh Nyi Arum hingga terpental jauh, terhempas dan berjungkir balik beberapa kali di permukaan tanah keras bebatuan.Kali ini, dia mendapatkan sebuah luka yang cukup besar tepat perutnya. Jika dia tidak bereaksi akan serangan Rambai Kaca, kemungkinan yang diincar oleh remaja itu adalah tulang rusuknya.Beruntung dia masih bisa mengurangi momen serangan manusia tersebut.Puluhan prajurit jaga pada akhirnya tiba pula di tempat ini, tapi tidak satupun dari mereka yang ingin membantu Nyi Arum. Mereka masih takut jika saja wanita itu malah mengarahkan serangan ke leher mereka sendiri.Kidang Alang baru saja tiba di perbatasan dua negara, melihat situasi yang sepi membuat dirinya mulai sedikit khawatir.Beruntung ada satu prajurit yang hendak menyusul Nyi Arum, jadi Kidang Alang langsung menghentikannya."Apa yang terjadi?" tanya Kidang Alang.Prajurit itu dengan enggan menjawab, "Nyi Arum sedang menghadapi pendekar aliran hitam.""Pendekar aliran
Saat ini, Nyi Arum berada di salah satu ruangan yang berada di dalam lorong perbatasan antar negara. Dia diikat dengan menggunakan ranti berukuran besar yang terbuat dari logam berkualitas sangat baik.Di dalam ruangan lain, 3 prajurit jaga yang menyimpan rahasia kelam Nyi Arum sedang mendapatkan penyiksaan dari berbagai prajurit bengis. Jelas mereka merasa terhina karena tindakan 3 prajurit tersebut.Jadi masing-masing dari prajurit jaga melayangkan kepalan tinju, membuat wajah ke tiganya nyaris tidak berbentuk lagi.Sementara ini, Rambai Kaca, Kidang Alang dan satu orang wakil regu penjaga sedang mengintrogasi Nyi Arum.Tangannya di gantung ke atas langit-langit ruangan, membuat wanita itu semakin menderita, tapi Rambai Kaca sama sekali tidak merasa simpati dengan kondisi Nyi Arum saat ini. Dia malah muak setiap kali melihat wajah wanita tersebut."Kau menolak untuk bicara?!" bentak Kidang Alang, "baiklah aku akan sedikit lebih kasar kepadamu!"Kidang Alang merupakan pemuda pemarah,
Keesokan harinya, Nyi Arum berserta tiga bawahannya dibawa oleh prajurit perbatasan untuk diserahkan kepada Istana. Biarlah mereka yang memutuskan hukuman bagi wanita tersebut.Tindakan yang sama pula berlaku dengan Ki Demang, walaupun dirinya tidak dibawa ke Istana seperti para prajurit penjaga perbatasan, tapi dia mendapat hukuman dari para warga desa.Hukuman yang cukup berat bagi pria tersebut, dengan membuangnya dari desa dan melucuti semua pakaian dan menyita semua harta yang dia miliki.Mendapat hukuman tersebut, membuat Ki Demang benar-benar merasa hina. Dia berjalan dengan dua tangan menutupi organ intim, dan setelah itu para warga tidak melihat lagi sosok Ki Demang.Mungkin dia akan mati? mungkin saja, karena dia masih terluka setelah dihajar oleh Rambai Kaca. Namun kemungkinan besar, dia akan menjadi gila karena kehilangan semua barang berharga yang telah dikumpulkan seumur hidupnya.Di hari yang sama pula, rumah bordil yang menjadi usaha gelap Nyi Arum dan Ki Demang akhirn
Ada beberapa hal yang ingin ditingkatkan oleh Rambai Kaca mengenai jurus untuk menghadapi musuhnya.Seperti jurus Kilat Putih yang masih jauh dari kata sempurna, atau jurus aura naga petir yang masih berada di level dua, dan lebih dari itu dia juga belum mempelajari jurus lain pada kita Dewa Naga.Namun tampaknya, dibandingkan harus mempelajari jurus Lonceng Naga yang merupakan jurus pertahanan tingkat tinggi, Rambai Kaca memilih untuk meningkatkan jurus Aura Naga Petir."Untuk mengalahkan Nyi Arum, aku harus menguras banyak tenaga dalam," ucap Rambai Kaca, "mungkin sudah saatnya aku meningkatkan jurus aura naga petir."Dalam situasi yang gawat darurat, aura naga petir acap kali menjadi penentu dari kemenangan Rambai Kaca dalam menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari dirinya.Sebelumnya, dia hampir menguras setengah dari tenaga dalamnya hanya untuk menghentikan pergerakan Nyi Arum.Untuk saat ini, aura naga petirnya masih berada di tahap ke dua. Hanya bisa mengunci satu pendekar le
Bayangan yang besar, tapi dibalik bayangan itu terasa begitu mengerikan sekali, tapi Rambai Kaca yang sudah berhari-hari di siksa di tempat ini telah kehilangan rasa takutnya. Dia tidak peduli bayangan apa itu, tidak peduli pula apakah itu akan membahayakan dirinya, karena apapun yang dia rasakan hanyalah penyiksaan."Bagaimana rasanya berada di sini, anak muda?" Suara itu terdengar begitu berat lagi dalam, seperti suara orang tua yang sudah mendekati ajalnya.Rambai Kaca mengadahkan kepalanya dengan perlahan, dan melihat sosok pria tua berjanggut panjang dan pakaian compang-camping telah berdiri melindungi tubuhnya dari sengatan cahaya matahari.Pria itu bertanya dua kali kepada Rambai Kaca, hingga remaja itu akhirnya menjawab dengan suara yang tak kalah lebih lirih dari pria tua tersebut."Aku tidak bisa merasakan apapun lagi, kecuali sakit yang teramat sangat," ucap Rambai Kaca."Nak, menyerahlah!" ucap dirinya, "dengan begitu kau akan kembali ke duniamu.""Apa maksudmu, kakek tua
Satu minggu telah berlalu, dan kini sudah waktunya bagi Rambai Kaca untuk pergi dari dunia lelembut.Dia telah menyiapkan semuanya, mental dan keberanian, bertemu dengan manusia untuk kali pertama bagi dirinya.Ibunya hanya bisa pasrah dengan pilihan Rambai Kaca, dia hanya bisa menyeka air mata yang setiap saat keluar membasahi pipi.Sementara itu, Pramudhita tampaknya begitu tabah melepaskan kepergian putra angkat yang telah dibesarkan00000000 dari bayi.Namun, ada yang lebih parah, yaitu Nagin Arum. Dia bersikeras untuk pergi bersama Rambai Kaca ke alam manusia, bahkan setelah ayahnya menjelaskan mengenai kehiudapan manusia, dia tetap bersikeras untuk pergi ke sana.Ya, impian Nagin Arum adalah keluar dari alam ini, dan berniat untuk menjelajahi seluruh dunia. Menurut dirinya, di sini dia tidak bisa hidup dengan bebas, ada batas-batasan yang ada di dalam alam lelembut tersebut.“Ayah, apapun yang terjadi, kau harus memikirkan caranya agar aku bisa pergi bersama Rambai Kaca!” ketus N
Dua hari telah berlalu, pendekar dari Padepokan Pedang Bayangan terlihat sedang berbenah saat ini. Membenahi apa yang bisa dibenahi, seperti bangunan dan beberapa peralatan lainnya.Terlihat pula, ada banyak pendekar yang dirawat di dalam tenda darurat. Para medis bekerja cepat, memastikan tidak ada satupun dari korban yang mati.Di salah satu tenda darurat tersebut, tiga anak Pramudhita masih terkapar dengan kondisi tubuh penuh dengan ramuan obat-obatan.“Apa mereka baik-baik saja?” Rambai Kaca bertanya kepada salah satu tabib muda di sana. Dia sudah berada di tempat itu sejak tiga saudara angkatnya dibawa oleh Pramudhita.Meskipun Rambai Kaca juga terluka cukup parah, tapi tubuhnya luar biasa kuat, dia mampu bertahan, bahkan masih bisa berdiri atau bahkan berlari.Ditubuhnya sengaja dililit oleh banyak perban, menunjukan jika Rambai Kaca sebenarnya tidak baik-baik saja. Namun, hal biasa bagi pemuda itu merasakan sakit seperti ini, jadi ini bukanlah hal yang harus dipikirkan.“Ketig
Satu gerakan dari pemuda itu melesat sangat cepat, tepat menuju leher pria tersebut yang saat ini tengah bersiap dengan serangan yang di berikan oleh Rambai Kaca barusan.Melihat pemuda itu bergerak sangat cepat, Reban Giring menggigit kedua rahangnya, sembari menatap Rambai dengan tajam, kemudian bersiap dengan gerakan kuda-kuda.Nafasnya kembali teratur ketika dia melakukan gerakan barusan, lalu menyilangkang senjata yang dia miliki tepat ke arah dada.Sesaat kemudian, dia melesat kearah Rambai Kaca lalu melepaskan jurus Murka Pedang Bayangan.“Dengan ini, matilah kau..!!”Satu teriakkan pria itu menggema di udara, yang membuat siapapun yang mendengarnya, akan merinding ketakutan.Namun, hal itu tidak berlaku pada Rambai Kaca, yang seakan meminta hal tersebut benar-benar terjadi terhadap dirinnya.Dengan jurusnya tersebut, Reban Giring melepaskan semua tenaga yang dia miliki berharap ia dapat mengenai pemuda itu tepat sasaran.Wush.Tebasan itu di lepaskan ketika jarak mereka tingg
Di sisi lain, Pramudita yang saat ini telah berhasil membunuh semua sosok hasrat berukuran besar, sempat terdiam beberapa detik, ketika ia melihat dari kejauhan langit berubah warna menjadi hitam pekat.Tidak hanya itu, dari sumber cahaya kehitaman tersebut, sempat terjadi kilatan petir di ikuti dengan beberapa ledakan yang mengguncang area tersebut.Dari sana, dia dapat menebak, jika saat ini terdapat seseorang yang sedang bertarung di tempat itu, akan tetapi ia bahkan telah menebak jika serangan beberapa saat yang lalu di akibatkan olah anaknya sendiri.“Rambai Kaca, apa yang sedang terjadi?” gumamnya bertanya.Namun pada yang sama, dia mulai menyadari jika dari cahaya berwarna hitam pekat itu, tidak lain ialah kekuatan yang di timbulkan dari kegelapan.Saat ini, Pramudita dapat menebak, jika Rambai Kaca tengah bertarung dengan sosok yang tidak lain ialah Reban Giring.Anggapan itu di landasi oleh tindakan yang telah di lakukan Reban Giring sebelumnya, ketika memulai pertempuran yan
Pedang Bayangan...." Satu jurus tersebut melesat, dengan terbentuk nya beberapa pedang bayangan yang melesat kearah sosok hasrat. Bom. Ledakan terjadi cukup besar, ketika jurus yang di lepaskan Pramudita berhasil mengenai musuh. Ya, satu serangan tersebut berhasil membunuh setidaknya, tiga atau lebih sosok hasrat yang berukuran besar. Tentu hal tersebut tidak dapat di lakukan oleh siapapun, selain Maha Sepuh Pramudita. Jabatan yang pantang bagi seseorang dengan kemampuan sangat tinggi. "Berakhir sudah."Di sisi lain, saat ini tengah terjadi gejolak batin yang mendalam bagi seorang pria ketika tengah merasa sangat kehilangan akan kehadiran sosok seorang adik. Isak tangis tidak dapat terbendung, ketika ia berusaha untuk menghampiri adiknya tersebut.Dengan langkah yang tertatih ia berusaha sekuat tenaga, tetapi langkah yang ia lakukan, bahkan tidak sebanding dengan jumlah tenaga yang dia keluarka"Adik...""Bertahanlah!"Langkah demi langkah berhasil membuatnya tiba di tempat ya
Tubuh Reban Giring saat ini, tengah terdorong mundur akibat mendapat serangan tak terduga oleh Rambai, yang menyerang lehernya.Beberapa pohon bahkan telah tumbang dibuatnya, akibat bertabrakan dengan tubuh pria tua itu, sementara Rambai Kaca masih melakukan gerakan mendorong dengan tangan yang mencekik leher pria tua tersebut.Tidak banyak yang dapat pria itu lakukan, selain berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman jurus yang telah Rambai Kaca berikan. Brak. Brak. Beberapa pohon kembali tumbang, sementara mereka melesat dengan cepat, yang pada akhirnya gerakan tersebut berhenti ketika Rambai Kaca merasa cukup terhadap aksinya. "Bocah sialan!" "Kau bebas untuk berkata sesuka hatimu." timpal Rambai Kaca."Hiat.!"Kerahkan semua kemampuan yang kau miliki, Bocah!" Dalam keadaan ini, Reban Giring sempat menggigitkan kedua rahangnya, untuk bersiap menerima serangan dari Rambai Kaca, ketika telah mencapai titik dimana pemuda ini akan melepaskan tekanan tenaga dalam yang tinggi.
Melihat Eruh Limpa dan Nagin Arum yang sudah tidak berdaya, Reban Giring berniat untuk segera mengakhiri nyawa kedua orang tersebut. Perlahan pria itu mendekati Nagin Arum yang terlihat masih berusaha untuk meraih tangan kakaknya, akan tetapi bergerakan wanita itu terpaksa berhenti, ketika Reban Giring menginjak tangannya. Tidak hanya itu, saat ini, Reban Giring sedang menekan kakinya dengan cukup kuat, sehingga membuat Nagin Arum berteriak. "Aggrr..!" Rasa sakit tiada tara sedang di rasakan oleh Nagin Arum yang berusaha untuk melepaskan tangannya dari injakkan kaki Reban Giring saat ini. Melihat hal tersebut, Eruh Limpa hanya bisa memaki pria itu, lalu mengutuknya beberapa kali dengan melampiaskan rasa amarahnya menggunakan kata-kata. Namun sayang, hal tersebut bahkan tidak dihiraukan sama sekali oleh Reban Giring dengan tetap melakukan aksinya, seakan sedang menikmati rasa sakit yang dialami oleh wanita tersebut. "Ini belum seberapa!" ujarnya, "Setelah ini, akan ku pastik
Kedua kakak beradik tersebut lantas langsung mengejar keberadaan Reban Giring yang sempat mereka lihat tengah terluka. Hal itu menjadi sesuatu yang sangat mereka nantikan, karena menduga jika mereka akan dapat mengalahkan pria itu dengan cukup mudah. Namun di saat yang sama, salah satu pria juga menyadari kepergian Eruh Limpa dan Nagin Arum, akan tetapi saat ini, pria itu masih sibuk berhadapan dengan musuh yang seakan tidak pernah habis. "Mau kemana mereka pergi?" batinnya bertanya. Saat ini, pemuda yang tidak lain memiliki nama Saka ini, tengah menjadi pusat perhatian, ketika dia menggila dengan jurusnya yang mematikan. Tebasan demi tebasan berhasil membunuh sosok hasrat yang berada di dalam jangkauannya, sehingga hal itu membuat para sepuh sempat merasa kagum atas aksi yang telah dia lakukan. Bukan hanya kagum, bahkan beberapa sepuh, berniat untuk mengangkat menantu pria itu, akan tetapi jika Pramudita mengiyakan tentunya. "Menarik, sungguh menarik!" ujar salah satu Sepuh.
Di sisi lain, Rambai Kaca dan Tabib Nurmanik yang saat ini tengah menyusul rombongan yang berada paling depan, perlahan mulai mendekat kearah pasukan yang tengah bertarung melawan musuh-musuh mereka. Melihat hal tersebut, kedua orang yang baru saja tiba ini, lantas lasung mengambil posisi masing-masing untuk berhadapan dengan para sosok hasrat yang semakin menggila. Dengan beberapa gerakan, Rambai Kaca berhasil membunuh satu sosok hasrat dan menyelamatkan hidup satu orang pasukan mereka yang hampir saja tewas, akibat tidak dapat mempertahankan diri, dari serangan sosok hasrat yang menyerangnya. "Tuan muda, terimakasih!" Mendengar jawaban dari pria itu Rambai Kaca hanya mengangguk satu kali, sebelum dirinya bergegas menuju pasukan paling depan, seakan tidak begitu peduli dengan kondisi yang menimpa orang tersebut. Tampaknya pemuda itu sedang merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi, sehingga membuat dia bergerak lalu mengeluarkan jurus kilat putih yang membantunya seakan m