Opa Nareswara memberi pesan usai makan pagi. Amirah dan Bagaskara diperkenankan keluar mansion untuk berbelanja dan berwisata. "Tunggu saja nanti kalian dijemput, jangan kemana-mana sendirian aku tidak mau buyutku hilang di keramaian!" "Baiklah Opa, kami mengambil mantel hangat fdan memakai sepatu dulu di kamar." Bergegas Amirah dan putranya segera menghilang dari pandangan Nyonya Rania yang masih acuh walaupun sudah beberapa hari tinggal di mansion. Tak ada banyak pembicaraan antara mereka hanya Tuan Nareswara memanjakan cucu dan buyut lebih dari seharusnya. Itulah membuat kebencian istrinya makin menguat. "Pa, biarkan saja Amirah pergi sendiri, kau itu 'kan banyak pekerjaan apalagi proyek baru sedang ditangani dan Sebastian juga ikut sibuk di dalamnya!" protes Nyonya Rania. "Mama gimana 'sih kok tega melepas mereka di kota asing begini, kamu pikir orang Perancis mau meladeni wisatawan yang tak mengerti bahasa yang tidak mereka kuasai?" balas Tuan Setiawan Nareswara. Istrinya la
Esok malamnya Sebastian melancarkan aksi mendekati sepupu Amirah. Dia memiliki banyak waktu dengan janda itu daripada keparat Bimantara."Ra, temani aku keluar sebentar yuk?" desaknya."Mau kemana sudah malam begini aku 'kan harus temani Bagas tidur dulu," kilah Amirah halus."Jalan-jalan saja bertemu kawanku tak lama terus kita pulang," bujuknya merayu. "Ada Opa yang menemani Bagas memasang mainan kereta api kalau sudah mengantuk pasti dibawanya ke kamar."Amirah tetap menggeleng sampai pada akhirnya terdengar Opa Nareswara bersuara."Pergilah 'Ra, kalian 'kan saudara sepupu belum kenal akrab, orang tua dan adik bungsu Sebastian sedang pergi liburan ke Yunani nanti juga bertemu setelah mereka kembali."Andai saja Opa melarang Amirah lebih senang daripada harus berduaan Sebastian. Tapi sayang malah setuju pergi dan mau tak mau dia mengikuti sarannya."Tunggu, aku ganti baju dan ambil mantel dulu.""Ga usah begitu aja sudah cantik kok, di mobil ada selimut dan mantel cadangan lebih han
Malam ini Sebastian sukses memperdayai sepupu sendiri. Berkencan sebentar lalu mereka segera menikah. Jika perlu Amirah hamil karena perbuatannya di malam ini dan seterusnya. Oma dan Opa Nareswara terpaksa merestui atau bakal malu selamanya.Rencana jahat yang sangat sempurna!Digiring Amirah keluar hotel menuju parkiran mobil yang temaram pencahayaan lampu jalan. Nafsu Sebastian menggelegak ke permukaan tidak mampu lagi menahan sampai tujuan."Ayo sayang, kita pulang, sebaiknya cepat berbaring di ranjang biarkan diriku menghangatkan tubuhmu yang kedinginan sampai limbung begini," pancingnya membuka pintu untuknya. "Sorry 'Ra, ini harus aku lakukan demi masa depan kita berdua."Bruk! Pintu ditutup kencang. Sebastian langsung tergesa-gesa memutar ke kursi pengemudi.Tubuh Amirah terhempas ke belakang. Mantel hangatnya terbuka menampakkan blus cantik berleher rendah. Dua gundukan kenyal menggoda sontak pikiran cucu Nareswara melanglang liar kemana-mana. Bukannya dia menutup rapat malah
Terbangun Amirah sendirian di ranjang besar bukan miliknya. Pagi dingin menusuk di kulit yang halus. Oh, di mana aku?! Bola mata berputar ke sekeliling sudut kamar berdesain maskulin dan elegan. Kecemasan dirinya semakin menjadi memandang suasana yang berbeda dari biasa. Kaivan! Jantung Amirah berdegup keras menyebut nama mantan tunangan. Isi pikiran belum pulih sepenuhnya. Dan kepalanya masih berat begitupun tubuhnya kaku. Disibaknya selimut tebal mencari tahu tentang apa dialami pada dirinya semalam . Baru tersadar blusnya berubah kemeja putih Kaivan yang kebesaran. Ada apa ini?! Buru-buru keluar kamar mencari sosok pria itu tetapi tak ditemukan di manapun. Sendirian. Amirah kesepian ditinggalkan tanpa pesan. Pandangannya menatap sebuah balkon cantik menarik perhatian. Langkah pelan ragu-ragu menggeser pintu kaca. Cahaya matahari Paris menerangi seluruh bagian penthouse. Angin berhembus kencang dinginnya luar biasa. Amirah berdiri bersedekap penuh kekaguman. Menara Eiffel ti
Keputusan yang sulit. Amirah menyentak jari Kaivan melepaskan dagunya. Ia belum siap atas segala serangan mendadak dipaksa untuk menikah kembali di luar balkon penthouse di musim dingin membeku. "Aku mau pulang, Bagas pasti bingung mencariku semalaman tak pulang!" resahnya gamang menghindari ancaman mantan tunangan. "Ga semudah itu, Amirah! Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," balas sang CEO mendekap mengangkat ke bahu. "Dasar kucing nakal, semalam aku kurang tidur dikerjai habis-habisan untuk menjagamu, sikapmu itu benar-benar ga masuk di akal!" "Mas, ishhh ... turunkan aku!" Berontak Amirah memukul punggung Kaivan bertubi-tubi. "Mas, Mas Ivannn!" Bergegas pintu kaca dilewati kemudian ruang tamu. Langkah kaki putra sulung Tuan Mahardika mantap terus menerjang halang rintang. Berduaan di penthouse apalagi ingin dikerjakan bila bukan memadu kasih berbagi kehangatan. Pintu kamar dibuka lebar kemudian ditendang dari belakang agar menutup rapat. Amirah masih meronta di atas bahu.
Mansion Tuan Setiawan Nareswara sontak begitu riuh. Istrinya, Nyonya Rania langsung menghubungi putra kedua Abimanyu yang semalam tiba di Perancis setelah liburan keluarga di pulau Mykonos dan Santorini, Yunani.Kesunyian berubah keramaian. Abimanyu membawa istri dan putrinya ke mansion orang tuanya yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Yang membuatnya terkejut berita ponakan yang hilang ternyata telah ditemukan."Papa kenapa tidak bilang kalau putri Bisma berkunjung kemari?" ungkapnya kesal. "Aku dan Sophia 'kan bisa pulang cepat menemui ponakan kami.""Jangan banyak bicara, Abimanyu!" maki Tuan Nareswara. "Urusan putramu Sebastian lebih dahsyat dari yang kalian pikirkan, Amirah menghilang semalaman dan anaknya ditinggalkan di sini bersama kami!"Hah. Kaget Abimanyu mendengarnya. Setelah ditemukan malah hilang lagi, bagaimana bisa?!"Lalu apa hubungannya dengan Sebastian?" Matanya heran menatap bergantian antara sang ayah dan putra sulung. Merasakan keanehan tingkah laku Sebastia
"Kau sudah siap, sayang?" Kaivan memegang tangan Amirah erat membagi kehangatan dan kekuatan. Calon istrinya begitu gugup menghadapi sesuatu di luar kemampuan. "Tenang saja 'Ra, aku selalu bersamamu." "Iya Mas, tapi gimana kalau nanti Opa marah-marah?" Sikapnya telah mengecewakan semua orang. Tidak pulang semalaman malah sekarang membawa pria asing ke mansion keluarga. Benar-benar menakutkan! Kaivan enggan mendengarkan keluh kesah tiada guna. Mereka segera menyelesaikan masalah sebelum hari istimewa tiba. Tak ada yang boleh menghalangi pernikahan dengan Amirah Lashira meski itu sepupu, bahkan opa-nya sendiri. Sekarang, atau tidak sama sekali. Denting bel dibunyikan. Bibi Eka yang membuka pintu untuk mereka. Betapa terkejut melihat Nyonya Muda Amirah bersama pria asing tinggi dan gagah mengawal sampai ke dalam rumah. Gaun cantik seanggun pemiliknya berdesir saat melangkah memasuki ruang keluarga. Sontak penghuninya menoleh seseorang ditunggu akhirnya datang juga. Namun Amirah tak
Amirah bergidik di belakang namun tangan besar merangkul pinggang menghadapi semua rintangan. Tanpa Kaivan, ia bukan apa-apa. Keangkuhan penghuni mansion lain menyingkirkan kenyataan dirinya bagian dari keturunan Bisma Nareswara. "Aku akan menikahi Amirah Lashira walaupun tanpa restu darimu!" tantang Kaivan berapi-api. "No!" tentang Tuan Nareswara kembali. "Amirah putri Bisma, dan kau cuma pria kaya mempermainkan dia!" Celine menatap takjub wibawa Opa tersayang belum terkalahkan. Bila dirinya tak jadi menikahi Kaivan maka Amirah pun tak berhak atasnya. Win-win solution sama-sama tak mendapatkan apa-apa. "Bukankah selama ini keluargamu mengabaikan keberadaannya?" tuding Kaivan menyudutkan. "Lihat saja Nyonya Rania dan anak cucu yang lain, apa mereka peduli Amirah yang hilang semalaman?" "Itu karena diculik olehmu, bedebah!" Giliran Abimanyu naik pitam membantu Papa Nareswara dari serangan. "Putraku harus terluka parah begini karena kau cemburu bila Sebastian mendekati sepupunya se