Persetujuan Bintang langsung disambut dengan tepukan gemuruh oleh para semua orang yang ada ditempat itu. Karena semua tahu, ini akan menjadi sangat seru. Karena banyak diantara mereka selama ini hanya mendengar kehebatan dan keperkasaan Bintang dari cerita para pendekar ataupun para pedagang. Kini dapat menyaksikan secara langsung tentu sangat mengembirakan bagi mereka semua.
Tidak seperti para pendekar yang lain yang naik ke gelanggang pertarungan dengan memamerkan ilmu peringan tubuh mereka, dengan cara melompat, bersalto dan lain-lain, sementara Bintang sendiri justru tampak berjalan dengan tenang naik kegelanggang pertarungan, sementara itu digelanggang pertarungan tampak ketiga maharesi tersenyum penuh kemenangan.
Begitu tiba diatas gelanggang pertarungan, Bintang tampak menjura dengan penuh wibawa dihadapan ketiga maharesi.
“Siapa diantara kami yang ingin tuan hadapi?” ucap maharesi Shiwa lagi semangat.
“Jika berkenan, hamba ingin
Apa yang baru saja Bintang perlihatkan, membuat semua terpaku, bahkan ;“Hyattt!” dengan gerakan yang sangat cepat, Bintang melancarkan serangan tendangannya. Begitu cepatnya, sampai-sampai ketiga maharesi terkejut.“Deg, degg, .degg.”. dengan sebisanya ketiga maharesi memapaki serangan tendangan Bintang, hingga membuat ketiganya terjajar kebelakang. Serangan Bintang tidak sampai berhenti. Dengan gerakan yang sangat ringan dan cepat, Bintang bergerak kearah maharesi Shiwa.Maharesi Shiwa yang saat itu masih terjajar terpaksa menyambut serangan Bintang.“Tendangan Tanpa Bayangan, heaa!”. Bintang melesatkan jurus Tendangan Tanpa Bayangannya hingga maharesi Shiwa tak mampu berbuat banyak.“Degg.deggg, deggg.” walau berhasil memapaki serangan Bintang, tapi pada akhirnya ;“Desss, dess, desss”. tendangan beruntun Bintang dengan telak menghantam tubuh maharesi Shiwa hing
“Surya emas, heaaaa!”. tiba-tiba saja Brahma meneriakkan jurus dahsyatnya seraya mengangkat kedua telapak tangannya kearah langit, bersamaan dengan itu, tubuh Brahma memancarkan cahaya keemasan yang terang benderang memancarkan kearah segala penjuru.“Duar..duar..duar.. duar, duar, duar..duar.”. ledakan-ledakan cukup hebat terjadi disekitar tubuh Brahma. Brahma dapat merasakan kalau tubuhnya bergetar dengan hebat. Setelah suasana tenang, Brahmapun membuka kedua matanya, dan alangkah terkejutnya Brahma saat menyadari kalau saat ini dirinya sudah berada diatas tanah, tidak lagi berada diatas panggung pertarungan.Tawa para penonton langsung menggema saat melihat sikap bengong maharesi Brahma yang seakan baru terbangun dari tidur menyadari kalau dirinya tidak lagi berada diatas panggung pertarungan. Sementara itu diatas panggung pertarungan masih berdiri sosok Bintang yang menatap kearahnya dengan tersenyum.Maharesi Shiwa dan Wisnu
“Mahaguru, ada apa?”. ketiga maharesi sudah melompat naik keatas panggung pertarungan dan berdiri disisi mahaguru mereka.“Brahma, Wisnu, Shiwa, apakah kalian tak merasakan kekuatan yang sangat kuat yang meringkupi tempat itu?”. ucap Mahaguru Kalacakra setengah berbisik kearah ketiga maharesi.Hal ini membuat ketiga maharesi semakin binbung, karena mereka sedikitpun tidak merasakan hal itu.“Bila kau tak mau unjukkan diri, baiklah, akan kupaksa”. Ucap Mahaguru Kalacakra lagi seraya merapatkan kedua tangannya didepan dada, kedua mata Mahaguru Kalacakra terpejam.“Gggrrrrrrr....”. hebat. Tiba-tiba saja tempat itu bergetar dengan hebat, seolah-olah terjadi gempa, hingga sebagian penonton khususnya orang awam tampak panik, sementara dari kalangan pendekar tampak biasa-biasa saja. Semakin lama getaran itu semakin kuat. Hingga memaksa orang-orang awam ditempat itu mulai panik.Samar-samar tepat dihada
Sementara itu sosok Bintang dan Malaikat Gila sama-sama terseret kebelakang dengan keras. Tubuh Bintang terhenti terseret karena ditopang oleh ketiga istrinya yang melesat kearah Bintang. Sedangkan sosok Malaikat Gila tampak terseret hebat kearah Mahaguru Kalacakra dan ketiga maharesi.Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Mahaguru Kalacakra tampak memberikan tanda kepada ketiga maharesi. Memahami maksud Mahaguru Kelacakra, ketiga maharesi langsung melompat kearah sosok Malaikat Gila yang saat itu masih terseret kearah mereka.Maharesi Shiwa menghantam punggung Malaikat Gila dengan pukulan dahsyat guntur selaksanya, sedangkan maharesi Wisnu tampak menghantam kedua kaki Malaikat Gila dengan pukulan gunung es hingga membuat kedua kaki Malaikat Gila langsung membeku. Terakhir, maharesi Brahma tampak menghantamkan pukulan surya dewata kearah kepala Malaikat Gila. Ketiga serangan maha dahsyat menghantam tubuh Malaikat Gila.Mahaguru Kalacakr
“Jangan bertindak gegabah”. Ucap Mahaguru Kalacakra memperingatkan ketiga maharesi.“Hanya dengan mengandalkan 3 ilmu dewa kalian bocah-bocah ingin berlagak dihadapanku.”. ucap Malaikat Gila lagi. “Akan kuperlihatkan Ilmu Delapan Dewa kepada kalian”.“Ilmu Delapan Dewa..”. ulang ketiga maharesi dan Mahaguru Kalacakra hampir bersamaan.“Lihat jurusku ini!”“Dewa guntur..!!! Gllaarrr!”. seiring dengan ucapan Malaikat Gila, tiba-tiba saja sebuah guntur menggelegar keras dan menghantam tubuh Malaikat Gila.“Zzggghhhh..zzggghh”. tubuh Malaikat Gila yang memancarkan cahaya putih tampak diselimuti oleh kilatan-kilatan petir. Bahkan kedua mata Malaikat Gilapun memancarkan aliran petir.“Serrrr....”. tiba-tiba saja sosok Malaikat Gila bergerak secepat kilat.“Shiwa, awas!”. M
“Hati-hati Brahma”. Terdengar Mahaguru Kalacakra memperingatkan maharesi Brahma yang ada disebelahnya, tak berpaling dan tak menjawab, maharesi Brahma hanya menganggukkan kepalanya.“Anantaboga, heaaa!”. tiba-tiba saja Malaikat Gila memukulkan kedua telapak tangannya ke dasar panggung pertarungan. Anantaboga adalah nama dewa bumi.“Ggggrrrrrrr”. tiba-tiba saja tempat itu bergetar dengan keras. “Brrusshhhh!”. bahkan panggung arena pertarungan langsung rubuh dibuatnya.“Hyyattt!!! brusshhh!”. tiba-tiba saja Malaikat Gila mengangkat kedua tangannya, dua bongkah tanah besar ikut terangkat dikedua tangan Malaikat Gila, begitu besarnya seperti ukuran 5 ekor sapi.“Wussshhh!” dengan gerakan yang sangat ringan dan cepat, Malaikat Gila melemparkan kedua tanah besar itu kearah maharesi Brahma dan Mahaguru Kalacakra.Maharesi Brahma dan Mahaguru Kalacakra langsung menghi
“Tappp..”. entah kapan Malaikat Gila menggerakkan tangannya, tiba-tiba saja kedua tangannya sudah mencengkram kedua tangan Wira Jagat Kencana yang telah berubah menjadi merah membara.“Weshhh, weesshhh!”. kedua tangan Malaikat Gila yang mencengkram kedua tangan Wira Jagat Kencana telah berubah beku. Kini antara Wira Jagat Kencana dan Malaikat Gila tengah beradu tenaga dalam, siapakah yang akan memenangkan diantara mereka berdua.“Duarrrr!”. ledakan keras terjadi, kedua sosok terseret kebelakang.“Hyattt!”“Hiiyatttt!”Hampir bersamaan pula, keduanya kembali saling melesat kedepan menyerang dan pertarunganpun tak terelakkan. Wira Jagat Kencana dengan ilmu sisik emasnya melawan Malaikat Gila dengan Ilmu Delapan Dewanya.Serangan Malaikat Gila yang cepat dan bervariasi mampu membuat Wira Jagat Kencana tak bisa memberikan serangan balasan, tapi dengan jurus sisik emas,
“Jari pedang emas, yeaahhh!” serangan Wira Jagat Kencana tak berhenti begitu saja, dari jari jemari Wira Jagat Kencana keluar satu garis lurus sebesar lidi yang langsung mengarah kearah Malaikat Gila.“Dewa guntur!”. Malaikat Gila bergerak cepat menghindari serangan-serangan dashayat jari pedang milik Wira Jagat Kencana. “Tapak dewa guntur, heaa!”. Malaikat Gila melepaskan pukulan tapak dewa gunturnya kearah Wira Jagat Kencana dalam jarak dekat, tapi Wira Jagat Kencana yakin dengan kekuatan sisik emasnya.“Guntur selaksa!”. Wira Jagat Kencana melepaskan pukulan dahsyat milik maharesi Shiwa.“Dess, .buuummm!”“Dess, .bllarrrr!”.Bersamaan pukulan keduanya sama-sama menghantam dengan telak ditubuh masing-masing, hingga menimbulkan ledakan dahsyat yang membuat tempat itu bergetar dengan hebat.Kedua tubuh saling terlempar kebelak
Bintang yang melihat kekuatan puncak yang telah dikerahkan oleh Datuk Malenggang Dilangit, segera ikut menghimpun tenaganya. Uap tipis putih terlhat keluar dari tubuh Bintang, uap putih yang mengeluarkan hawa dingin yang sangat menyengat.Dari uap tipis itu, terlihat membentuk sebuah bayangan diatas kepala Bintang, bayangan seekor naga berwarna putih tercipta.“Ledakan besar, khhaaaa!”Tiba-tiba saja sosok Datuk Malenggang Dilangit yang sudah diselimuti magma lahar panas langsung berlari kearah Bintang.Buumm! Buumm! Buumm! Buumm!Di setiap langkah Datuk Malenggang Dilangit terdengar suara ledakan-ledakan akibat tapak magma panas Datuk Malenggang Dilangit yang menjejak tanah, bagaikan seekor banteng ganas, sosok Datuk Malenggang Dilangit yang sudah berubah menjadi monster magma lahar terus berlari kearah Bintang. Beberapa tombak dihadapan Bintang, monster magma Datuk Malenggang Dilangit melompat dan ;Wuussshhh!M
Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr!Ledakan-ledakan dahsyat dan beruntun terjadi diudara hingga terasa menggetarkan alam. Tinju-tinju magma bertemu dengan taburan Bintang-bintang putih kecil yang terang milik Bintang.Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr!Baik Bintang maupun Datuk Malenggang Dilangit terus melepaskan serangan dahsyatnya, hingga ledakan demi ledakan terus terjadi membahana ditempat itu, dalam sekejap saja, pohon-pohon yang ada dipulau itu langsung berterbangan dan bertumbangan entah kemana, tempat itu langsung luluh lantah dibuat oleh ledakan dahsyat oleh serangan Bintang dan Datuk Malenggang Dilangit.Saat Bintang berhasil turun kebawah, pulau itu sudah terbakar setengahnya akibat ledakan yang tadi terjadi, wajah Bintang kembali berubah saat melihat Datuk Malenggang Dilangit terlihat menghimpun tenaganya, magma lahar panas terlihat berkumpul ditelapak tangan Datuk Malenggang Dilangit.Bintang yang melihat hal itu segera ikut mengumpulkan haw
SEBUAH pulau kosong tak berpenghuni dipilih oleh Bintang untuk menjadi tempat pertarungannya dengan Datuk Malenggang Dilangit. Kini kedua-duanya sudah saling berdiri berhadapan, Bintang kini sudah kembali ke sosoknya semula, demikian pula Datuk Malenggang Dilangit yang kini sudah berdiri diatas tanah tempatnya berpijak. Kedua-duanya saling berhadapan dengan tatapan tajam.Wweerrrr..!Tanpa banyak bicara, sosok Datuk Malenggang Dilangit tiba-tiba saja mengeluarkan magma lahar panas dari sekujur tubuhnya, terutama dibagian kedua tangan, kedua kaki dan kepala. Sedangkan sebagian besar tubuhnya belum berubah menjadi magma lahar panas.Bintang yang melihat hal itupun tak tinggal diam, dan ;Blesshhhh...!Tiba-tiba saja tubuh Bintang telah diliputi energi putih keperakan, rambut Bintangpun telah berubah menjadi berwarna putih keperakan dengan balur-balur keemasan yang mengeluarkan hawa dingin. Rupanya Bintang langsung menggunakan wujud Pangeran Bulan
Wuusshhh!Tombak melesat dengan sangat cepat dan kuat kearah Datuk Malenggang Dilangit.Blepp!Kembali tombak yang dilemparkan oleh Sutan Rajo Alam hangus terbakar begitu menyentuh sosok Datuk Malenggang Dilangit.“Cepat ungsikan paduka rajo” teriak Datuk Rajo Dilangit memperingatkan para pejabat istana yang berdiri bersama Paduka Ananggawarman.“Tidak, aku takkan lari!” ucap Paduka Ananggawarman dengan keras hati hingga membuat Datuk Rajo Dilangit dan Sutan Rajo Alam hanya menarik nafas panjang melihat kekerasan hati Paduka Ananggawarman.Sementara itu magma lahar panas terus semakin banyak menjalar menutupi halaman istana Nagari Batuah.Datuk Rajo Dilangit dan Sutan Rajo Alam terlihat tengah memikirkan rencana untuk mengatasi hal itu, waktu yang sempat dan mendesak membuat keduanya sedikit khawatir dengan keadaan yang terjadi, hingga ;“Datuak Malenggang Di
Istana Nagari Batuah terlihat begitu sibuk dengan segala macam aktivitasnya, karena hari ini adalah janji yang ditetapkan oleh Datuak Malenggang Dilangit terhadap wilayah Nagari Batuah, dengan dipimpin oleh Datuk Rajo Dilangit, Paduka Ananggawarman berniat untuk melawan Datuk Malenggang Dilangit dengan segenap kekuatan istana Nagari Batuah, para hulubalang, panglima dan pejabat istana Nagari Batuahpun memberikan tanda kesiapan mereka berjuang hidup atau mati demi mempertahankan kedaulatan istana Nagari Batuah.Datuk Rajo Dilangit dipercaya oleh Paduka Ananggawarman untuk memimpin seluruh pasukan yang ada di istana Nagari Batuah dan Datuk Rajo Dilangit menerimanya untuk menjalankan taktik yang akan digunakan untuk melawan amukan Datuk Malenggang Dilangit. Seluruh masyarakat kotaraja Nagari Batuah sudah diungsikan demi keselamatan mereka. Paduka Ananggawarman menolak untuk ikut me
Pagi itu di Istana Bunian, panglima Kitty yang tiba-tiba saja datang menghadap, disaat Bintang dan Ratu Bunian tengah bercengkrama mesra berdua. “Sembah hormat hamba paduka, ratu” ucap panglima Kitty berlutut dihadapan keduanya. Ratu Bunian terlihat mengangkat tangannya sebagai tanda menerima hormat panglima Kitty. “Ada apa Kitty?” “Ampun ratu, Datuak Malenggang Dilangit sudah muncul kembali” ucap Kitty lagi hingga membuat wajah Ratu Bunian berubah pucat. Bintang yang ada didekatnya mulai tertarik mendengarnya. “Untung saja kita cepat memindahkan Negeri Bunian jauh dari gunung marapi. Kalau tidak, Datuak Malenggang Dilangit pasti sudah datang kemari” ucap Ratu Bunian lagi. Panglima Kitty terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dimana Datuak Malenggang Dilangit muncul Kitty?” tanya Bintang cepat hingga membuat Ratu Bunian dan panglima Kitty memandang kearah Bintang. “Ampun paduka, Datuak Malenggang Dilangit mengacau di istana Nagari Batuah” “Istana Nagari Batuah?!” ulang Bintan
“Maafkan kelancangan ambo datuak” ucap Datuk Rajo Dilangit lagi. Entah apa maksud Datuk Rajo Dilangit yang tiba-tiba saja berjongkok. Perlahan sosok Datuk Rajo Dilangit mulai berubah menjadi seekor harimau loreng yang sangat besar, 2x ukuran harimau dewasa, sama besarnya dengan harimau putih jelmaan Datuk Malenggang Dilangit.Grraaauuummm!Grraaauuummm!Dua harimau besar ini saling mengaum dengan dahsyat, begitu dahsyatnya banyak para prajurit yang ada ditempat itu jatuh terduduk karena lemas lututnya.Grraaauuummm!Grraaauuummm!Kembali kedua harimau besar ini saling mengaum, tapi kali ini disertai dengan sama-sama saling menerkam kedepan.Kembali terjadi dua pertarungan raja rimba yang sama-sama berwujud besar. Saling terkam, saling cakar dan saling gigit, dilakukan oleh kedua harimau berbeda warna ini. Kali ini harimau belang jelmaan Datuk Rajo Dilangit mampu memberikan perlawanan sen
Sekarang Datuk Malenggang Dilangit telah dikeroyok oleh dua pengguna harimau dan macan kumbang, tapi bukannya terdesak, Datuk Malenggang Dilangit justru tertawa-tawa senang melayani serangan keduanya.“Hahaha.. sudah lama aku tidak bertarung sesenang ini” ucap Datuk Malenggang Dilangit lagi.Sebenarnya jurus-jurus harimau putih milik Datuk Malenggang Dilangit tidaklah jauh berada diatas jurus harimau singgalang milik Wijaya dan jurus macan kumbang milik Panglima Kumbang, hanya saja perbedaan kekuatan dan pengalaman yang membuat Datuk Malenggang Dilangit lebih unggul.Memasuki jurus ke 88, Wijaya dan Panglima Kumbang terlihat sama-sama melompat mundur kebelakang.Graaauumm!Ggrraaamm!Tiba-tiba saja Wijaya dan Panglima Kumbang terdengar mengaum. Sosok Wijaya sendiri yang sudah berjongkok merangkak tiba-tiba saja berubah wujud menjadi seekor harimau belang kuning dewasa, sedangkan sosok Panglima Kumbang y
Wusshhh!Seperti melempar karung saja, Datuk Malenggang Dilangit dengan ringannya melemparkan sosok Rajo mudo Basa kehadapan Paduka Ananggawarman.Tapp!Sesosok tubuh tampak langsung bergerak didepan Paduka Ananggawarman dan langsung menangkap tubuh Rajo mudo Basa yang dilemparkan oleh Datuk Malenggang Dilangit. Rupanya dia adalah Panglima Kumbang.“Rajo mudo, anakku” ucap Panglima Kumbang dengan wajah berubah yang melihat keadaan Rajo mudo Basa yang babak belur. Panglima Kumbang dengan cepat memeriksa keadaan putranya tersebut. Walaupun babak belur, Panglima Kumbang masih dapat merasakan tanda-tanda kehidupan ditubuh Rajo mudo Basa walaupun sangat lemah sekali. Panglima Kumbang segera memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa sosok Rajo mudo Basa.“Apa yang datuak lakukan pada putra hamba?” tanya Panglima Kumbang lagi. Nada suara Panglima Kumbang sedikit meninggi.“Putramu, siapa kau?&rdqu