Bella masuk ke dalam rumah sambil memegang dadanya yang berdegup kencang akibat berlari, bahkan dia tidak mengkhiraukan orang-orang yang melihatnya berlari begitu saja.
"Aku malah bertemu pria mesum yang lebih mengerikan," rutuk Bella menghela nafas."Apa Ibu tidak tidur?" suara Aria mengejutkannya, dia berjalan mendekati anak gadisnya yang terbangun mendengar ibunya masuk sambil menutup pintu dengan keras."Apa ibu membangunkanmu?" balas Bella."Aku hanya kaget saja ibu menutup pintu.""Kembali tidur, besok masih harus sekolah kan?" Aria mengangguk kembali tidur meski ibunya masih duduk di hadapannya.Bella merutuki pria yang menariknya tadi, padahal dia berniat untuk melihat apa saja yang dilakukan tantenya hingga ada begitu banyak pelanggan pria berdatangan dan juga para wanita yang ikut berpasangan keluar masuk membuat dia merasa risih mengetahuinya."Apa dia masih waras membuka tempat seperti ini apalagi ada anakku di sini?" rutuk Bella menyesal setuju untuk tinggal di tempat Mona.Malam yang membuat Bella tidak bisa tidur sama sekali ketika dia harus mendengarkan kelakuan oran-orang yang berpesta poya di luar. Hingga saat pagi tiba, Bella terkejut saat melihat jam dinding sudah siang. Dia juga tidak melihat Aria di sana, di atas meja ada segelas susu bersama roti tawar yang sudah di taburi coklat kasar."Sepertinya Kau lelah, Bu. Aku berangkat sekolah tanpa pamit ya, nanti pulang baru aku cium keningmu."Tulisan yang rapi dari Aria membuat Bella tersenyum, dia tidak tahu jika putrinya bisa berbicara semanis ayahnya dulu. Bella bergegas membereskan rumah dan berniat kembali pergi berharap ada hal yang bisa dia kerjakan dan menghasilkan uang.Kali ini dia tidak lagi terpaku dengan perusahaan besar yang sering dia lewati. Bella masuk ke sebuah restaurant yang terdapat sebuah kertas yang terpasang di dinsing depan dekat pos jaga. Ada lowongan pekerjaan di sana yang membutuhkan seorang pelayan. Bella bersemangat masuk hingga di ajak ke ruang manager membicarakan tentang lamarannya."Di sini juga menerima pekerja yang mau mengambil shif malam, apa Kamu juga bisa melakukannya?""Ya, saya bisa." Bella menjawab meyakinkan kemampuannya di depan atasannya."Mulai bekerja malam ini, selama 4 jam mulai dari sore. Setelah itu baru ambil hari kerja pertamamu di pagi sampai sore," jelas Manager."Hari ini malam hari?" tanya Bella."Kenapa, Kamu keberatan?""Tidak, hanya saja ..." Bella berpikir keras. "Saya akan mengambilnya," sambungnya.Hal yang tidak pernah Bella duga bisa langsung bekerja hari ini juga meski bagiannya di malam hari, tapi tidak masalah selama itu pekerjaan yang tidak sulit baginya. Tatapan tajam nya tampak tidak suka dengan perusahaan yang sering dia lewati, apalagi setiap paginya ada banyak orang yang berbaris rapi meski orang yang mereka sambut belum datang."Mungkin bos mereka orang bodoh yang gila penghormatan, kalo mau di hormati ya mati saja sana." Bella berbicara sendiri sambil meninggalkan perusahaan dia berniat akan bersiap untuk berangkat kerja nanti malam.Bella melihat ada beberapa orang yang datang ke rumah Mona membuat dia khawatir, dia menghampiri tantenya yang sedang berbicara dengan seorang pria."Aku tidak mau tahu, jika tidak ada wanita yang sesuai seleranya Anda akan menanggungnya sendiri." Ancaman seorang pria membuat Mona hanya diam membuat Bella penasaran.Baru beberapa langkah hendak pergi, pria yang sempat bicara dengan Mona menatap tajam memperhatikan tubuh Bella dan berlalu pergi."Gila, mana ada gadis perawan di tempat seperti ini. Hanya pria gila yang berpikir tempat gelap isinya gadis," gerutu Mona."Kau menjual manusia seharusnya pasal hukum tuntutanmu sudah cukup dengan nyawa," tatap Bella."Ck, keponakan sialan. Bisanya cuma mengutuk aku saja! Aku sedang tidak mau berdebat denganmu pergi ke tempat amanmu sana, bicarakan kebutuhanmu pada pembantu di belakang." Biasanya, Mona akan bersemangat bagaimana pun situasi keadaannya.Bella hanya tersenyum tipis pergi ke arah dapur mencoba untuk mencari sesuatu yang dapat dia makan."Rumah besar tapi tidak ada makanan sama sekali." Bella membuka semua lemari di dapur."Aku hanya kebetulan saja punya keponakan yang tukang acak-acak rumah dan mengomentari dapurku," balas Mona sambil melihat-lihat album poto dihadapannya."Aku titip anakku malam ini, ada pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini," ucap Bella."Malam hari?" tanya Mona penasaran."Jangan sampai anak buahmu mengganggu anakku," tegas Bella."Mereka sudah aku beritahu."Bella tidak lagi bicara setelah memakan sebuah apel membuat Mona menatapnya."Apa?""Sebaiknya Kau saja yang pergi menemui klien aku malam ini," ucap Mona."Sekali lagi Kau bicara, aku tidak akan ragu mengacaukan bisnismu.""Hahaha, aku sudah duga Kau akan mengatakannya. Memang Kamu bekerja di mana?" Mona beralih bertanya, tidak mungkin baginya meminta Bella untuk ikut bekerja sebagai wanita penghibur.Malam harinya setelah Bella menitipkan putrinya pada Mona yang mengatakan jika malam ini mereka libur. Ada hal yang harus Mona urus untuk menghadapi klien yang sangat sulit dihadapi. Bella sudah siap dengan pakaian kerjanya, pergi sebagai pelayan tidak membuat dia kesulitan, hanya saja saat hendak menyimpan nampan kotor, Bella melihat deretan wanita berbaris di depan sebuah ruangan membuatnya merasa tidak asing dengan apa yang dia lihat."Apa semua orang memiliki kebiasaan sama yang aneh, belum datang harus meminta orang lain berbaris menyambutnya." Bella menggerutu tapi dia di panggil manager."Kamu antar makanan dan minuman yang ada di kertas ini ke ruangan paling ujung," tegas Manager."Baik."Bella masih bersemangat selama itu aman dia kerjakan. Tapi ternyata ruangan yang harus dia kirim pesanannya adalah ruangan di mana ada begitu banyak wanita yang antri sana. Tidak jarang juga para wanita itu bersaing hanya untuk mendapatkan perhatian dari satu pria. Bella berjalan melewati mereka dan masuk sambil membawa nampan makanan dan minuman masuk ke ruangan yang banyak di nantikan orang."Argh, maaf Tuan. Saya akan melakukannya lagi." Seorang wanita menyadari kesalahannya tidak bisa membuat pria yang menjadi tamu besar di sana tunduk padanya."Keluar!" tegas Noah mengeluh kesal.Wanita itu berlari pergi sambil menatap tajam pada Bella yang berhasil masuk dengan pakaian pelayan mengabaikannya. Bella berjongkok sambil menyimpan botol dan beberapa camilan di atas meja."Aku sudah bilang tidak membutuhkannya!" Noah berbalik kesal hendak bicara pada anak buah yang ternyata pergi keluar.Noah terkejut melihat Bella ada di hadapannya dengan wajah tidak bersalahnya. "Heh, anjing kecil untuk apa Kau di sini?" teriak Noah meremehkan wanita yang sempat membuat tangannya terluka.Bella terkejut ternyata pria yang di nantikan banyak orang ternyata pria malam kemarin yang membuat jantungnya hampir copot."Kau ...."Noah dan Bella saling tatap satu sama lain menilai tentang apa yang sedang dilakukan Bella dan juga Noah tidak kalah melihat wanita itu semakin jauh hingga berlomba mendapatkan perhatiannya.Suasana menjadi aneh dirasakan Bella ketika dia berada di dalam satu ruangan dengan pria yang membuatnya tidak nyaman saat ini. Selain keberadaan Noah yang tidak dia sukai, ada juga tatapan dari wanita tadi yang sempat di tolak Noah tergantikan olehnya."Apa si tukang menggigit hanya bisa menggigit?" pertanyaan Noah membuat Bella kesal. Ingat Bella sedang bekerja, kenyamanan pelanggan adalah tugas utama yang harus dijaga olehnya. Bella menarik nafas mencoba untuk mengabaikan Noah setelah menaruh minumam dia berencana untuk kembali keluar tanpa harus berurusan dengan Noah. Ketika diabaikan, Noah mengerutkan dahi sambil merasa heran ada wanita yang bahkan menolak bertatapan dengannya. "Kau wanita apa bukan hah?" teriak Noah. "Mungkin Anda rabun jika tidak tahu jenis apa saya, Tuan," cetus Bella. "Hah, rabun? Kau ...." "Saya permisi," sela Bella pamit. "Hei, siapa yang menyuruhmu keluar hah!" teriak Noah mulai kesal. bella berhenti berjalan menoleh ke aah Noah yang tertegun mendapa
Di lain tempat dalam perjalanan pulang, Noah memikirkan apa yang dikatakan Bella selama masuk dan duduk di kursi mobil. Dia tidak menghiraukan apalagi menjawab pertanyaan sekretarisnya. Leo kebingungan apa yang terjadi dengan tuan mudanya padahal belum lama dia pergi dan Noah berada di bar ruang privat yang sudah dia sediakan, tapi Noah keluar sambil mendengys kesal dan terdiam setelahnya. "Apa menurutmu aku gila kehormatan?" Mendengar pertanyaan Noah yang tiba-tiba, Leo menoleh sambil memikirkan maksud dari tuan mudanya. "Bukan Anda yang gila hormat, Tuan. Tapi mereka yang merasa harus menghormati Anda karena Anda layak mendapatkannya," jelas Leo. "Apa hal itu penting?" Leo mengerutkan dahi, pertanyaan Noah semakin membuatnya kebingungan dari mana Noah mendapatkan deretan pertanyaan itu, padahal dia baru saja bersenang-senang dengan para wanita. "Untuk Anda yang sukses, itu harus Tuan." Leo berusaha mengimbangi pertanyaan Noah. "Apa Kau menyukai hal itu?" tanya Noah lagi. Leo
Bella sedang menghitung jumlah tabungan miliknya, dia memikirkan pengeluaran dan juga kebutuhan Aria yang semakin besar. Dia kebingungan harus mencari pekerjaan tambahan kemana lagi, sedangkan satu kerjaan saja belum ada yang membantunya. Seketika ingat masa di mana Rafa selalu tahu apa yang sedang dipikirkan Bella, dia melihat lagi ke arah putrinya yang sudah tidur pulas di atas tempat tidur kecil meski cukup untuk berdua, tapi itu jauh berbeda dari dulu. "Bagaimana aku bisa membuat ini lebih baik dari sebelumnya?" gumam Bella.Merasa kesulitan menghadapi hari yang berat dengan pekerjaan yang sudah dia lalui. Menjadi pelayan cafe tidak sulit, tapi yang membuat dia berat ketika ada banyak tamu yang memperlakukannya dengan tidak baik. Terlebih lagi, dia juga takut jika putrinya tahu dan akan merasa malu jika ibunya bekerja sebagai pelayan di tempat hiburan.Bella mengela nafas tidak tahu harus melakukan apalagi agar dia bisa dapat penghasilan yang sepadan dengan kebutuhannya. Sebuah ket
Perasaan tak tentu dirasakan Bella ketika dia dalam perjalanan kali ini bersama lima wanita lainnya yang sibuk mempercantik diri, dia duduk di mobil berbeda dengan tantenya, bersama mereka yang biasa melayani pria. "Apa aku salah melakukan ini? Bagaimana kalau aku malah mengacaukan putriku," batin Bella bersandar sambil melihat jalanan yang asing baginya.Tidak ada yang mengajak Bella untuk berbicara, mereka hanya melontarkan tatapan merasa asing dengan kehadiran Bella diajak oleh Mona ke tempat penting kali ini. Sebenarnya dalam pikiran Bella hanya ada tentang putrinya dan segala resiko yang akan dihadapi jika anak gadisnya itu tahu tentang apa yang sudah diambil langkahnya kali ini.Perjalanan yang cukup panjang membuat dia merasa lelah, para wanita yang sudah dari 1 jam lalu berdandan dan mempercantik diri juga merasa kebosanan dan tidak jarang dari mereka yang merutukii perjalanan hingga harus mengoles ulang riasan mereka. Saat Bella melihat ke arah jendela mobil dia merasa kendar
Berdua di dalam kamar bersama dengan seorang pria yang memiliki reputasi besar di kota, membuat Bella berpikir keras duduk di samping Noah yang juga ikut duduk terdiam tanpa berbicara mendengarkan penegasan Bela. Dia menunjukkan sebuah plastik obat di tangannya lalu menoleh ke arah Noah yang juga memperhatikan tangan Bella."Apakah Kamu tahu obat apa ini, apa yang harus aku lakukan dengannya?" tanya Bella.Noah meraih plastik obat yang dipegang oleh Bella lalu memperhatikannya. "Mungkin Kamu harus meminumnya," ucap Noah."Kamu tahu, seumur hidup aku tidak pernah minum obat. Meskipun aku sakit sekalipun, bolehkah aku tidak meminumnya?" "Kalau begitu, jangan meminumnya buang saja," tegas Noah."Bagaimana kalau Kamu yang meminumnya?" tanya Bella lagi."Aku tidak suka minum obat tanpa segelas susu hangat dihadapanku," ucap Noah.Bella mengerutkan dahi dia menyesal tidak mendengarkan dengan jelas perkataan Mona tadi, dia berpikir keras hal apa yang harus dia lakukan. Bella menoleh kembali
Di dalam kapal, Mona panik mengetahui jika Bella tidak ada di ruangannya. Malah tuan muda Ivanov kedua juga tidak ada di sana membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapat klien besar kali ini. "Apa wanita itu kabur sebelum bekerja?" tanya salah satu pria. "Dia buta arah, tidak mungkin punya keberanian kabur! Makanya aku berani ajak dia karena dia tidak akan berani jauh dariku." Mona kesal dengan penjaga yang bertugas di ruangan Bella. Mereka sibuk mencari keberadaan Bella sampai memeriksa bagian kamera pengawas tidak ada tanda Bella keluar dari sana. Lama mencari juga membuat Mona kelelahan dan memilih pergi dari sana setelah pesta selesai. "Apa tuan muda kedua Ivanov ada?" tanya Mona. "Dia tidak datang, Nyonya." Mona mengerutkan dahi, dia pikir sempat mendengar kalau Ivanov kedua datang dan pergi bermain dengan teman-temannya atas perintah tuan besar. Tapi bagaimana bisa kamera pengawas tidak tahu kedatangannya. Mereka memutuskan untuk pulang meski tidak ada Bella bersama ke
Di lain tempat, Noah terdiam kesal saat mendengar dari Leo tentang Bella yang dikabarkan tidur dengan seorang pria dari keluarga Ivanov sudah tersebar dikalangan anggota mafia terutama keluarga Ivanov sendiri. Padahal Noah tidak merasa tidur apalagi menyentuhnya sama sekali. "Mereka mengatakan jika Nona Bella bersama tuan muda kedua Ivanov, Tuan," jelas Leo lagi. "Apa!" Noah semakin kesal mengetahuinya. Dia berpikir keras ternyata pria yang di siapkan untuk Bella adalah Arjan Ivanov adiknya yang reputasinya begitu terkenal di dunia gelap dan pemain wanita. Semakin memikirkannya malah membuat Noah kesal apalagi jika benar Bella bertemu dengannya malam itu dan bukan dengannya membuat darahnya bergejolak dengan amarah yang tidak bisa dia kendalikan membuang berkas si atas meja. "Apa gunanya anak buah yang Kau tempatkan di sana jika seorang pria keranjang saja tidak bisa mencegahnya!" teriak Noah. Leo terkejut mendengarnya, mata yang memerah dengan amarah yang kuat membuat Noah terlih
Bella masih di toko swalayan mencari bahan makanan yang akan dia simpan untuk stok makanan selama dia belum mendapat pekerjaan. Dia mau mengambil sesuatu yang di tata lebih tinggi darinya hingga harus berjinjit untuk meraihnya, tapi dia tidak berhasil malah seseorang dari belakangnya mengambilnya, membuat Bella mengerutkan dahi berbalik melihat seseorang berdiri dihadapannya sangat dekat dengan jarak wajah saling bertemu satu sama lain ketika Noah lebih tinggi darinya membuat Bella menengadah menatapnya. "Kau membutuhkannya?" Noah memberikan itu pada Bella. "Kamu ada disini?" balas Bella mengambilnya begitu saja. "Kebetulan aku diminta datang oleh seseorang." Noah mengikuti Bella yang lebih dulu berjalan sembari mendorong troli belanjaannya. "Kalau begitu selamat bertemu seseorang," pamit Bella. Noah menghadangnya. "Bukankah Kau seseorang itu?" tatap Noah. "Aku?" Bella melihat pelanggan lain memperhatikan mereka,