Share

Kemarahan Ibu Clara

Penulis: F Azzam
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-17 21:46:35

Clara berdiri dengan tatapan bingung, menatap Aryan yang terlihat tenang meskipun peristiwa baru saja berlalu.

Jendral Widodo yang tiba-tiba menghormatinya begitu membuat rasa ingin tahunya meningkat. “Aryan,” ujar Clara, suaranya bergetar. “Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Kenapa Jendral Widodo tiba-tiba menghormatimu seperti itu?”

Aryan, yang terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan Clara, mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu yang lebih dalam. “Saya… saya tidak begitu yakin, Clara. Rasanya seperti ada kenangan yang lebih dalam yang terpendam, tapi tidak bisa saya ingat dengan jelas.”

Clara mengerutkan kening, melihat keraguan di dalam mata Aryan. “Bagaimana bisa seorang Jendral menghormati seseorang yang dia anggap biasa’? Ini sangat aneh. Apakah kamu menyembunyikan sesuatu? Apakah ada yang tidak saya ketahui tentang dirimu?”

“Ada banyak hal yang mungkin tidak kamu ketahui tentang saya, tetapi yang jelas, saya tidak me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Ada Ambisi Di Balik Penjembutan Sang Jendral

    "Persilahkan dia masuk," perintah Ibu Clara kepada seorang penjaga. "Baik Nyonya," Jawab sang penjaga. Lalu ia keluar dari ruangan. Tak berselang lama, pintu terbuka dengan lembut. Seorang pria berpakaian seragam militer memasuki ruangan. Dia memiliki postur tegap dan tatapan tajam. Di bahunya tersandang emblem negeri Arkhadea, yang menggambarkan seekor elang dengan sayap melambai. Di sampingnya, dua penjaga berjas hitam dengan senjata yang terselip di pinggangnya, berdiri tegak. "Maaf mengganggu, saya ke sini atas perintah dari Negeri Arkhadea untuk menjemput seseorang yang penting bagi negeri kami, yaitu Aryan," ucap Pria gagah tersebut di hadapan Ibu Clara. "Aryan? Kalian pasti salah orang? dia itu hanya kuli bangunan!" Ucap Ibu Clara, tegas. "Kami tidak mungkin salah orang. Biarkan kami berbicara kepada beliau," ucap Pria tegap tersebut lalu pandangannya beralih kepada Aryan. “Saudara Aryan?” pria tersebut bertanya, suaranya berwibawa dan terisi kekuatan. Clara merasa kete

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Kembalinya Aryan Ke Arkadea

    Rasa kesedihan menyelimuti diri Aryan. Akan tetapi ada sesuatu hal yang terpenting. Yaitu rasa tanggung jawab untuk kembali ke Arkhadea dan melindungi negeri yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Setelah beberapa jam perjalanan, mobil yang membawa Aryan tiba di bandara. Aryan turun dari mobil dan menuju ke hanggar pesawat jet pribadi. Setelah beberapa jam, pesawat jet pribadi itu tiba di bandara Arkhadea. Aryan melihat ke luar jendela dan melihat suasana yang berbeda dari yang ia lihat sebelumnya. Setelah pesawat itu mendarat, Aryan memasuki bandara. Dan setidaknya 30 pasukan militer menjemputnya dengan pengawalan ketat. Siap untuk membawanya ke markas besar. Di luar bandara, 20 mobil lapis baja telah berjejer rapih. Mereka lantas berjalan beriringan menuju ke sebuah markas besar di Kota Arkhadea City, di mana ia akan dihadapkan dengan Menteri Pertahanan Negeri Arkhadea. Sesampainya di Markas Besar. Para pasukan menyambutnya. Bendera raksasa Arkhadea telah membentang

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Penyusupan

    Aryan berdiri di hadapan Lord Cendric, angin ketegangan terasa saat mereka berdiskusi tentang rencana menghadapi ancaman organisasi "Dark Immortal". Ruangan di markas besar itu penuh dengan peta-peta dan dokumen yang menjelaskan jaringan organisasi yang rumit. “Pertama-tama, kita perlu mengumpulkan semua informasi yang kita miliki,” Lord Cendric berbicara dengan nada yang tegas. “Kami sudah menyelidiki beberapa indikasi tentang operasi mereka. Namun, informasi yang kamu miliki dari Negeri Golden bisa menjadi kunci untuk memahami langkah mereka selanjutnya.” “Setelah saya kembali dari Golden, saya menemukan bahwa mereka sedang mencari sekutu yang kuat untuk memperkuat posisi mereka. Mereka menjalin jaringan dengan beberapa pemimpin dari negara-negara di luar Arkhadea,” ujar Aryan, mengingat kembali apa yang telah didengarnya di sana. “Apa yang Anda maksud dengan ‘jaringan’?” Lord Cendric bertanya, perhatian penuh padanya. “Mereka tidak hanya berdagang wanita; mereka juga menawa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Pertarungan Mematikan

    Pertarungan di dalam ruangan pusat komando dimulai dengan ketegangan yang mencekam. Dengan cepat, Aryan dan Rino merespons ancaman. Aryan melompat ke samping, menghindari serangan mendadak dari anggota organisasi "Dark Immortal" yang mengejutkan mereka. Rino tidak tinggal diam; ia segera meraih pisau kecilnya dan mengarahkannya pada musuh yang mendekat. Dengan ketangkasan yang terlatih, dia melempar pisau tersebut, yang menancap tepat di lengan salah seorang penyerang, membuatnya teriak kesakitan. “Jangan biarkan mereka memberi tahu yang lainnya!” Aryan berbisik, berusaha menahan napas. Aryan melangkah maju, menyerang dengan gerakan lincah dan tajam. Para anggota organisasi itu, yang jelas-jelas terlatih, bergerak gesit, berusaha membalas dengan serangan bertubi-tubi. Berdengungnya suara tembakan dan teriakan di dalam ruangan membuat suasana semakin mencekam. Aryan berusaha sekuat tenaga untuk tak terjebak, bersiap dengan refleks tajam untuk menghindari serangan sambil menjaga a

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Seorang Wanita Membawa Berita

    Jenderal Marcus berhenti beberapa langkah di depan tim Aryan, memandang mereka dengan penuh perasaan hormat. Dengan nada yang tegas, dia berbicara: "Jenderal Aryan! Saya tidak bisa mengucapkan terima kasih yang cukup banyak atas apa yang telah kalian lakukan hari ini! Kebangkitan "Dark Immortal" telah berhasil dihalangi dan banyak jiwa telah diselamatkan. Kalian telah menunjukkan contoh keberanian dan komitmen yang luar biasa." Aryan, yang masih menahan napas dari penumpukan tenaga yang telah dia jalani, merasa malu dan tidak terbiasa dengan pujian tersebut. Dia memandang ke bawah, mencoba menyembunyikan rasa malu dan kebanggaan yang mengalir dalam hatinya. "Tenang, Jenderal," Aryan mengatakan dengan nada yang santai. "Saya hanya melaksanakan tugas saya. Namun, saya juga ingin mengingatkan bahwa ada lebih banyak yang perlu dilakukan untuk mengalahkan kegelapan ini." Jenderal Marcus menelanjangi mata, melihat Aryan dengan penuh penghargaan. "Benar, Jenderal. Saya telah mempela

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Wanita Yang Hilang

    Matahari terbit perlahan, memancarkan semburat merah dan kuning ke seluruh pemandangan yang indah dari puncak pegunungan. Aryan, yang duduk di beranda rumahnya dengan secangkir kopi hangat, menyaksikan keindahan tersebut sambil pikirannya dipenuhi oleh kata-kata Liana. Keberadaan sosok misterius ini, yang tiba-tiba muncul menawan di hidupnya, mengguncang dinding-dinding kepercayaannya yang telah lama terbangun. Dia tahu, sinar pagi ini membawa janji baru—dan ketidakpastian yang sama sekali mendalam. “Saya akan memberikan semua yang kau butuhkan,” Liana mengatakan semalam, wajahnya berbinar saat berpikir tentang kolaborasi mereka. Aryan hari itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi, dia tidak akan lengah. Harrison, sahabatnya yang dekat dan satu-satunya pengingat masa lalunya sebagai prajurit, mengatakan kepadanya untuk selalu waspada terhadap orang baru, terutama ketika banyak yang mengincar kekuasaan. Hari-hari berlalu seperti arus deras. Aryan dan Liana beke

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Tertipu

    Angin malam berbisik dengan serpihan dingin yang menyentuh dahan-dahan pohon berusia ratusan tahun. Aryan melangkah lebih dalam ke hutan, jantungnya berdebar dengan ketegangan yang meluap. Hujan deras telah menyurut, namun takut dan keraguan menggumpal di dalam hati. Setiap langkahnya di tanah lembap menimbulkan suara gaduh, seakan mengkhianati ketenangan yang dia cari. Dalam kegelapan malam itu, ingatan akan Liana kembali menghantuinya. Wajahnya, dengan tatapan tulus dan budi pekerti yang menawan, terbayang jelas di benaknya. Namun, di balik kedamaian wajah itu, tersembunyi kegelapan yang tak pernah dia lihat. Aryan tidak tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal dengan mempercayai sosok yang tak seharusnya menjadi sekutu. Di tengah kegelapan hutan, Aryan teringat pada kata-kata Liana saat mereka pertama kali bertemu. Bagaimana dia berbicara dengan semangat, seakan tahu betul beban yang dipikul Aryan. Apa mungkin, pikirnya, kehadiran Liana yang penuh misteri itu adalah se

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Pertarungan yang Mengoyak Jiwa

    Kegelapan hutan menampakkan wajahnya, seolah waktu berhenti saat ancaman semakin dekat. Aryan merasakan ketegangan yang menekan lebih kuat dari sebelumnya, jiwanya menggelora bagai badai. Di sekelilingnya, bayangan para anggota “Dark Immortal” terbentang, senjata api mereka bercahaya mencolok dalam remang malam. Suara teriakan mereka meloncat menembus angkasa, saling bersahutan dengan derak ranting di bawah kaki Aryan. "Bunuh dia!" "Habisi!" "Kita akan persembahkan kepalanya untuk yang mulia Zareth!" Tetapi dalam detik itu, segalanya rela dihadapkan oleh tembok keberanian yang terbangun. Aryan, tangan memegang erat hulu pedang legendarisnya, merasakan getaran yang dalam, seakan darahnya berkobar. Musuh di hadapannya bukan sekadar manusia penuh kebencian, melainkan pemuja iblis dalam setiap detak napasnya. Satu hal yang Aryan tahu pasti: untuk melindungi yang tersisa, dia harus mempertaruhkan segalanya. “Sekali ini, aku akan menyapu bersih kekuatan kegelapan ini,” desisnya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-02

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Yoshua Tertinggal

    Dengan napas yang masih terengah-engah dan jantung berdebar, Aryan mengarahkan pandangnya ke Clara. “Kita tidak bisa terus melarikan diri selamanya,” ujarnya, otaknya bekerja cepat. “Kita harus menemukan Yoshua, dan kita harus melakukannya sekarang. Jika Zareth berhasil menemukan kita lagi, maka kita tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan.”Clara mengangguk, mengerti akan kepanikan yang mendasari keputusan Aryan. Mereka berdua baru saja keluar dari kegelapan, dan kembali terjerumus dalam rasa takut yang membayangi akan takdir orang yang mereka cintai. “Tapi, Aryan, kita tidak tahu di mana dia berada. Kita mungkin hanya akan lebih dekat ke Jari Zareth.”“Justru itu, Clara,” jawab Aryan tegas. “Semakin cepat kita bergerak, semakin cepat kita bisa menemukan dia. Dan jika kita menemukan Yoshua, dia akan membawa banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa membantu kita menghentikan Zareth.”Clara merasa ada kebenaran dalam kata-kata Aryan, tetapi rasa takut akan keselamatan mereka te

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Cahaya di Ujung kegelapan

    Cahaya yang berkedip di kejauhan semakin jelas seiring langkah Clara dan Yoshua yang semakin mendekat, menciptakan harapan dalam kegelapan yang mencekam. Setiap langkah bergetar penuh ketegangan, diiringi dengan detakan jantung yang terengah-engah. Clara merasakan keberanian mengalir di dalam dirinya, meskipun ketakutan akan nasib Aryan terus menghantuinya. “Cahaya itu tampaknya berasal dari tengah laut,” kata Yoshua sambil melangkah perlahan, mengamati ombak yang bergejolak. “Apakah kau yakin kita harus pergi ke sana, Clara?” “Aku harus tahu. Jika Aryan ada di sana…” Clara menggigit bibirnya, menahan emosi yang menghantui. “Kita tidak bisa membiarkannya sendirian.” Mereka berdua akhirnya tiba di tepi air. Cahaya itu tampak bergerak, menari di atas permukaan laut yang gelap. Clara merasakan denyut kesadaran di dalamnya, seolah cahaya itu menyampaikan pesan, sesuatu yang mendesak untuk ditangkap. Mereka menatap ke laut, berharap untuk melihat lebih dekat. Hampir tidak ada suara

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Terjatuh Ke Laut

    Dunia berputar liar, seolah alam semesta sedang bergejolak dalam pusaran emosi Aryan yang tak terkendali. Di saat ia berusaha mencengkram. Seorang anak buah Zareth' tiba-tiba melepaskan tembakan, membuat cengkeramannya pada helikopter terlepas. Zareth' tersenyum puas menyaksikan. Aryan merasakan sensasi jatuh bebas yang memilukan, sensasi yang mengancam untuk merenggut nafasnya. Tawa Zareth yang terbahak-bahak. Kini hanya menjadi gema samar, hilang tertelan deru angin dan hempasan ombak. Tubuh Aryan menghantam permukaan air, dingin dan gelap, sebuah benturan keras yang merenggut kesadarannya. Air laut yang dingin menerjang, memaksa paru-parunya untuk berkontraksi. Dunia di sekelilingnya berubah menjadi kegelapan pekat, terisi oleh suara gemuruh air dan detak jantungnya yang menggila. Ia berjuang, berupaya untuk membuka mata, tetapi kegelapan terus memburunya, seperti bayang-bayang yang enggan melepaskannya. Otot-ototnya menegang, tubuhnya meronta dalam usaha sia-sia untuk naik ke

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Pertemuan di Tengah Lautan Gelap

    Udara malam yang begitu pekat, sarat dengan aroma garam dan misteri. Di bawah langit yang bertabur bintang, di antara gemuruh ombak yang tak pernah lelah, Aryan dan Clara tiba di pantai terpencil yang telah menjadi lokasi pertemuan mereka. Malam tanpa bulan, hanya sedikit cahaya dari bintang yang menembus kegelapan, menciptakan suasana yang mencekam. "Ini pasti jebakan," gumam Clara, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru ombak. Ia memandang sekeliling dengan waspada, matanya menelusuri kegelapan, mencari tanda-tanda kehadiran musuh. Aryan mengangguk, meskipun hatinya juga diliputi keraguan. Namun, ia harus mengambil risiko ini. Yoshua, ayahnya, berada dalam bahaya. Ia tidak punya pilihan lain. "Mungkin memang jebakan," jawab Aryan. "Tapi kita harus tetap waspada." Mereka berdiri di tepi pantai, menunggu dengan sabar. Jantung mereka berdebar-debar, dipenuhi campuran harapan dan ketakutan. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik terasa seperti menit. Tiba-tiba, di

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Upaya Pencarian Zareth'

    "Tidak mungkin! Mereka melarikan diri!" teriak Aryan, matanya menyapu sekeliling dengan marah. Udara dipenuhi dengan asap dan debu, sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan oleh kemarahannya. Clara, yang masih dalam pelukan Aryan, melepaskan dirinya. Ia menatap Aryan dengan tatapan khawatir. "Tenang, Aryan. Mereka akan mendapatkan balasan." Aryan mengangguk, mencoba menenangkan diri. Namun, rasa amarah dan frustrasi masih membara di dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan Zareth dan Liana lolos begitu saja. Desir angin menerpa wajah Aryan dan Clara, membelai rambut mereka saat mereka berdiri di dermaga yang hancur. Matahari senja mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu, menciptakan pemandangan yang indah namun menyimpan rasa getir. Zareth dan Liana, bersama sisa-sisa pasukannya, telah lenyap. Jejak mereka hilang seperti buih di lautan. "Sialan," gumam Aryan, suaranya sarat kekecewaan. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kemarahan yang baru saja ia kendalikan mulai merayap k

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Api Pembalasan (Kekuatan Mutant Dalam Diri Aryan)

    Ancaman Liana bagaikan bara api yang membakar amarah Aryan. Mendengar kata-kata pengkhianatan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan hanya karena luka fisik, tetapi karena luka batin yang lebih dalam. Pengkhianatan Liana adalah pukulan yang tak terduga, menikam lebih dalam daripada pedang. "Kau… kau akan menyesal!" teriak Aryan, suaranya dipenuhi kemarahan yang meledak. Matanya berkilat, dan di saat itu, sesuatu dalam dirinya berubah. Sesuatu yang telah lama terpendam, kekuatan yang selama ini hanya ia gunakan untuk membela diri, kini bangkit dengan dahsyat. Ia bukan lagi hanya seorang pemuda dengan perisai energi. Ia adalah seorang prajurit, seorang pejuang yang telah memenangkan ribuan pertempuran, seorang mesin pembunuh yang dilatih untuk menghancurkan. Kemarahan Aryan mengamuk seperti badai. Ia melupakan luka-lukanya, melupakan rasa sakitnya. Ia melupakan segalanya kecuali satu tujuan, membalas dendam atas kebiadaban terhadap manusia yang tak

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Datangnya Pengkhianat "Liana"

    Saat tangan Aryan terangkat, bersiap untuk menghukum Zareth, suara yang begitu dikenalnya memecah keheningan yang mencekam."Hentikan!"Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di ambang lorong. Liana. Wanita yang pernah menjadi sekutu mereka, yang pernah berbagi senyum dan harapan, kini berdiri di sana, dengan mata yang dingin dan benci. Ia mengenakan seragam hitam para pengawal Zareth, sebuah pengkhianatan yang menikam Aryan lebih tajam daripada pedang.Wajah Aryan membeku. "Liana?"Liana melangkah maju, dengan gerakan yang anggun namun penuh ancaman. "Kau tidak bisa mengalahkannya, Aryan. Kau tidak mengerti kekuatan yang ia miliki.""Kekuatan yang telah menghancurkan begitu banyak kebahagiaan?" balas Aryan, matanya tak lepas dari Liana. Liana menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu naif. Zareth menawarkan kedamaian. Ia menawarkan stabilitas. Kau hanya melihat kekacauan.""Kedamaian?" Aryan tertawa getir. "Ia menawarkan kekuasaan atas mayat-mayat korbannya!"Liana menghela napas, t

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Bahaya Kekuatan Perisai Aryan

    Saat suara Zareth menggema di lorong, getaran amarah dan tekad mengeras di jiwa Aryan. Ia memandang ayahnya, Yoshua, yang tampak lemah namun matanya memancarkan keberanian. "Ayah, jaga dirimu," kata Aryan, suaranya tenang namun tegas. Yoshua mengangguk, lalu mundur selangkah, mencari perlindungan di balik bayangan. Zareth tersenyum sinis, matanya menyiratkan arogansi. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku, anak bodoh?" "Aku akan menghentikanmu," balas Aryan, merentangkan tangannya. Perisai energi berwarna perak mulai terbentuk di sekelilingnya, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Zareth tertawa. "Mari kita lihat seberapa kuat perisaimu itu." Pertarungan dimulai dengan cepat dan brutal. Para pengawal Zareth menyerbu dengan senjata mereka, namun Aryan dengan lincah bergerak, memanfaatkan perisai energinya untuk menangkis serangan. Ledakan energi menghantam para pengawal, melontarkan mereka ke belakang. Di tengah kekacauan itu, Zareth melangkah maju. Ia bergerak secepat kilat, berusa

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Terungkapnya Sebuah Tabir

    Udara dingin dan lembap di lorong rahasia menusuk hingga ke tulang. Langkah Aryan dan Clara terhenti saat mereka melihat ruangan di ujung lorong, sebuah sel rahasia. Di dalam, seorang pria meringkuk, terikat rantai besi. Cahaya redup dari obor yang dipasang di dinding hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari."Siapa... siapa dia?" gumam Clara, suaranya berbisik.Aryan terdiam, jantungnya berdebar tak karuan. Ada sesuatu yang familiar dari sosok pria itu, sebuah bayangan ingatan yang samar namun kuat. Perlahan, ia mendekat, matanya berusaha menembus kegelapan.Saat ia semakin dekat, keraguan itu sirna. Wajah yang dulu ia kenal, kini dipenuhi luka dan bekas siksaan, namun tetap tak dapat disangkal."Ayah...?" gumam Aryan, suaranya bergetar.Pria itu mengangkat kepalanya, matanya yang sayu menatap ke arahnya. Sebersit harapan muncul di matanya, lalu berubah menjadi rasa bersalah yang mendalam."Aryan...?" Yoshua, ayah Aryan, menjawab dengan s

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status