Kesunyian hutan mulai menyusut ketika Aryan akhirnya melangkah pergi dari titik pertempuran yang menghancurkan. Rasanya seperti berlari dari bayangan kelam, peluh dingin menempel pada kulitnya, seiring dengan ingatan pahit tentang Liana yang berkhianat. Dia harus kembali, kembali ke markas militer, ke tempat di mana tanggung jawabnya berada. Perjalanan menuju markas berlangsung dalam hening, hanya ada suara langkah Aryan dan sisa pasukannya yang membelah udara malam. Setiap langkah terasa lebih berat, seolah membawa beban kekecewaan, Kepingan perjuangan yang baru saja ia alami menjadi sebuah ingatan yang terus mengintip. Namun, dia tahu bahwa tidak ada waktu untuk berlama-lama meratapi hasilnya. Yang terpenting kini adalah memberi tahu Menteri Pertahanan, Hendrik, tentang ancaman nyata yang dihadapi pihak mereka. Begitu sampai di pintu gerbang markas, Aryan dihadapkan kepada para penjaga. "Beri hormat kepada Jendral Aryan!" Teriakan seorang prajurit memecah di udara. Lantas
Aryan menatapnya heran. Seakan tak percaya. "Kamu yakin? ingin ikut bersamaku? Kenapa?“ Aryan bertanya, mengerutkan keningnya. "Aku merasa aku perlu turut bersamamu,” ungkap Clara dengan tekad yang menggema saat mereka melangkah ke dalam mobil. “Apa pun yang terjadi, aku tidak ingin kamu sendirian menghadapi semua ini.” Aryan menatapnya, perasaan terima kasih dan kekhawatiran mencampur aduk di dalam dirinya. “Ini bukan waktu untuk mengambil risiko, Clara. Situasi ini dapat membahayakanmu.” Mobil militer yang menghadap ke pintu markas menunggunya, dilengkapi dengan pasukan bersenjata yang bersiaga. Sebuah konvoi dibentuk, membawanya kembali ke rumah dalam keadaan siaga. Dia tak sendiri—Clara memutuskan untuk ikut serta, menyertakan dirinya dalam perjalanan yang tak terduga ini. Dia mengabaikan kekhawatiran Aryan, memberi senyum yang menenangkan. “Aku bisa membantu, Aryan. Kamu tahu aku memiliki pengetahuan tentang kekuatan yang mampu melawan kekuatan sihir gelap 'Zareth'. Di
“Coba kita teliti lebih dalam,” Clara mengusulkan, membuka halaman demi halaman dengan lembut. “Kita perlu melihat lebih jauh tentang apa yang bisa dipelajari dari sini.” Aryan mengangguk, rasa ingin tahunya semakin mendalam. “Ada hal yang menggangguku. Kenapa buku ini bisa ada di sini? Ini jelas peninggalan keluargaku. Namun, semua ini terasa janggal bagiku,” dia berkata, seolah mencoba mencari jawaban dari ketidakpastian yang menyelimuti. Halaman demi halaman terlarut dalam kebisingan malam, saat cahaya bulan mengalir masuk melalui jendela yang terbuka. Saat Clara menggeser selembar kertas yang menguning, ada satu halaman yang terselip di antara lembaran. Tercetak dengan tinta hitam pekat, tulisan tersebut membuat wajah keduanya berubah. “Lihat ini, Aryan,” Clara menunjuk pada teks yang tersusun rapi. “Ini adalah semacam solusi ritual gelap! Dan ada bagian yang menggambarkan sosok 'Zareth’.” Ia melanjutkan dengan suara bergetar. “Seseorang yang berkuasa… sangat berbahaya.” Aryan
Setelah berhasil mengalahkan sosok penjaga 'Zareth’, Aryan dan Clara kembali ke rumah megah Aryan, bertekad untuk memanfaatkan pengetahuan akan kekuatan yang mereka pelajari dari buku tua itu. Mereka tahu bahwa ancaman dari “Dark Immortal” masih mengintai, dan mereka harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.“Sekarang kita memiliki alat untuk melawan kegelapan,” Clara berkata dengan semangat, saat Aryan mempersiapkan tempat pelatihan di halaman belakang rumah. “Kalau kita mempelajari dan mempraktikkan kekuatan ini, kita pasti bisa mengalahkan mereka, apa pun yang mungkin terjadi.”Aryan mengangguk. “Mari kita panggil pasukan dan mulai pelatihan. Kita perlu memperkuat mereka agar siap menghadapi kekuatan hitam.”Ketika matahari mulai tenggelam, Aryan memanggil para prajuritnya. Lalu, dalam suasana yang penuh semangat, ia menjelaskan tujuan pelatihan tersebut. “Kalian semua tahu bahwa kita menghadapi ancaman besar—‘Dark Immortal’ masih ada dan mungkin akan mencoba kembali. Saya dan Clara
Saat mereka tengah berbicara, suara Ibunda Clara terdengar lembut namun jelas. “Clara, aku ingin berbicara denganmu tentang Aryan.” Suara itu mengiringi langkah-langkahnya, mengarah ke Clara dan Aryan yang sedang duduk di sofa. Clara segera menengok ibunya dan melihat ekspresi seriusnya. “Apa yang ingin kamu bicarakan, Ibu?” Clara bertanya dengan serius. “Ah, aku hanya ingin tahu tentang Aryan,” jawab ibu Clara dengan nada yang agak lembut. “Apakah kamu telah memikirkannya sebagai calon pasangan yang serius?” Clara merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi dia berusaha tidak menunjukkan. “Ibu, aku dan Aryan sedang berada di tahap yang sangat serius. Kami ingin ke jenjang pernikahan.” Clara menjelaskan dengan jujur. Ibu Clara menatapnya dengan skeptis. “Tahu apa yang aku lihat tentang Aryan? Tidak ada kemajuan apapun dengannya. Kamu masih sama seperti sebelumnya, tidak memikirkan masa depan. Kamu hanya berusaha untuk menunjukkan kemampuanmu sebagai seorang polisi, tetap
Setelah ibunya pergi bersama Jendral Widodo, Clara merasakan campur aduk antara rasa lega dan penasaran. Dia terus menatap Aryan, yang berdiri dengan postur tegaknya. “Aku pun awalnya tidak menyangka, kamu sebenarnya adalah seorang jendral yang dihormati,” Clara mengungkapkan dengan kekaguman. “Ah, itu hanya gelar. Aku lebih suka disebut sebagai prajurit, Clara,” sambut Aryan seraya tersenyum, walaupun dia merasakan beban dari status barunya. “Apa yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita melanjutkan hubungan ini.” Clara mendekat, merasa terhubung dengan Aryan. “Tapi, semua ini bisa mengubah segalanya, kan? Mungkin Ibu akan lebih mempercayai kita sekarang,” ujarnya dengan optimisme. “Biarkan itu terjadi. Yang terpenting adalah aku akan berjuang untukmu, bukannya untuk gelar itu,” jawab Aryan tegas. Tetapi, perasaan Clara sedikit cemas. Dia tahu bahwa kehadiran Jendral Widodo bisa membawa implikasi baru. Sebagaimana dia pergi, Clara merasakan rasa bahaya yang samar. Jangan
Malam mulai menyelimuti taman dengan kabut tipisnya yang menambah aura misterius. Clara dan Aryan terus berjalan, berbagi tawa dan impian masa depan. Mereka tak sadar, di kejauhan, empat sosok bayangan bergerak cepat, bersembunyi di balik semak-semak, mengawasi pasangan itu dengan tatapan jahat.“Clara, kau tahu, aku merasa sangat beruntung ada di sini bersamamu,” ujar Aryan, menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit.“Mungkin ini adalah awal dari segalanya,” Clara menjawab dengan penuh harapan, namun dalam hati dia merasakan getaran aneh. Terlalu tenang, pikirnya.Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan berirama mulai mendekat. Keduanya saling berpandangan, merasakan ketegangan mendekat. Clara, yang memiliki insting tajam sebagai calon detektif, mulai merasa sesuatu yang tidak beres. Tapi sebelum dia bisa berbicara, dari arah belakang, empat pria misterius muncul mendekat.Mereka mengenakan jaket hitam, wajah tertutup pelindung, hanya menyisakan mata yang penuh kebe
Suara sirene yang semakin mendekat terasa seperti pengingat bahwa mereka tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Clara dan Aryan, meski masih bernafas dengan berat setelah pertarungan, menghadap ke arah suara yang semakin keras. Tak lama kemudian, beberapa mobil polisi dengan lampu kedap-kedip muncul, menghentikan kendaraan mereka dengan cepat. Akhirnya, pintu mobil terbuka, dan polisi berseragam langsung melompat keluar. Mereka memegang senjata M16, siap siaga menghadapi situasi yang mungkin berbahaya. Namun, ketika mereka melihat situasi di taman dan melihat Aryan dan Clara, ekspresi mereka berubah. Ada rasa hormat yang jelas dalam tatapan mereka. “Saya tampaknya melihat Jendral Aryan di sini, dan bersama Agen rahasia kami, Clara,” seorang polisi senior menyebutkan namanya dengan penuh penghormatan. “Kita harus menghormati sang perwira!” Melihat situasi itu, Clara merasa kejutan campur aduk. Aryan adalah jendral, dan dia berada di tengah-tengah konfrontasi dengan musuh, di tama
Dengan napas yang masih terengah-engah dan jantung berdebar, Aryan mengarahkan pandangnya ke Clara. “Kita tidak bisa terus melarikan diri selamanya,” ujarnya, otaknya bekerja cepat. “Kita harus menemukan Yoshua, dan kita harus melakukannya sekarang. Jika Zareth berhasil menemukan kita lagi, maka kita tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan.”Clara mengangguk, mengerti akan kepanikan yang mendasari keputusan Aryan. Mereka berdua baru saja keluar dari kegelapan, dan kembali terjerumus dalam rasa takut yang membayangi akan takdir orang yang mereka cintai. “Tapi, Aryan, kita tidak tahu di mana dia berada. Kita mungkin hanya akan lebih dekat ke Jari Zareth.”“Justru itu, Clara,” jawab Aryan tegas. “Semakin cepat kita bergerak, semakin cepat kita bisa menemukan dia. Dan jika kita menemukan Yoshua, dia akan membawa banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa membantu kita menghentikan Zareth.”Clara merasa ada kebenaran dalam kata-kata Aryan, tetapi rasa takut akan keselamatan mereka te
Cahaya yang berkedip di kejauhan semakin jelas seiring langkah Clara dan Yoshua yang semakin mendekat, menciptakan harapan dalam kegelapan yang mencekam. Setiap langkah bergetar penuh ketegangan, diiringi dengan detakan jantung yang terengah-engah. Clara merasakan keberanian mengalir di dalam dirinya, meskipun ketakutan akan nasib Aryan terus menghantuinya. “Cahaya itu tampaknya berasal dari tengah laut,” kata Yoshua sambil melangkah perlahan, mengamati ombak yang bergejolak. “Apakah kau yakin kita harus pergi ke sana, Clara?” “Aku harus tahu. Jika Aryan ada di sana…” Clara menggigit bibirnya, menahan emosi yang menghantui. “Kita tidak bisa membiarkannya sendirian.” Mereka berdua akhirnya tiba di tepi air. Cahaya itu tampak bergerak, menari di atas permukaan laut yang gelap. Clara merasakan denyut kesadaran di dalamnya, seolah cahaya itu menyampaikan pesan, sesuatu yang mendesak untuk ditangkap. Mereka menatap ke laut, berharap untuk melihat lebih dekat. Hampir tidak ada suara
Dunia berputar liar, seolah alam semesta sedang bergejolak dalam pusaran emosi Aryan yang tak terkendali. Di saat ia berusaha mencengkram. Seorang anak buah Zareth' tiba-tiba melepaskan tembakan, membuat cengkeramannya pada helikopter terlepas. Zareth' tersenyum puas menyaksikan. Aryan merasakan sensasi jatuh bebas yang memilukan, sensasi yang mengancam untuk merenggut nafasnya. Tawa Zareth yang terbahak-bahak. Kini hanya menjadi gema samar, hilang tertelan deru angin dan hempasan ombak. Tubuh Aryan menghantam permukaan air, dingin dan gelap, sebuah benturan keras yang merenggut kesadarannya. Air laut yang dingin menerjang, memaksa paru-parunya untuk berkontraksi. Dunia di sekelilingnya berubah menjadi kegelapan pekat, terisi oleh suara gemuruh air dan detak jantungnya yang menggila. Ia berjuang, berupaya untuk membuka mata, tetapi kegelapan terus memburunya, seperti bayang-bayang yang enggan melepaskannya. Otot-ototnya menegang, tubuhnya meronta dalam usaha sia-sia untuk naik ke
Udara malam yang begitu pekat, sarat dengan aroma garam dan misteri. Di bawah langit yang bertabur bintang, di antara gemuruh ombak yang tak pernah lelah, Aryan dan Clara tiba di pantai terpencil yang telah menjadi lokasi pertemuan mereka. Malam tanpa bulan, hanya sedikit cahaya dari bintang yang menembus kegelapan, menciptakan suasana yang mencekam. "Ini pasti jebakan," gumam Clara, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru ombak. Ia memandang sekeliling dengan waspada, matanya menelusuri kegelapan, mencari tanda-tanda kehadiran musuh. Aryan mengangguk, meskipun hatinya juga diliputi keraguan. Namun, ia harus mengambil risiko ini. Yoshua, ayahnya, berada dalam bahaya. Ia tidak punya pilihan lain. "Mungkin memang jebakan," jawab Aryan. "Tapi kita harus tetap waspada." Mereka berdiri di tepi pantai, menunggu dengan sabar. Jantung mereka berdebar-debar, dipenuhi campuran harapan dan ketakutan. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik terasa seperti menit. Tiba-tiba, di
"Tidak mungkin! Mereka melarikan diri!" teriak Aryan, matanya menyapu sekeliling dengan marah. Udara dipenuhi dengan asap dan debu, sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan oleh kemarahannya. Clara, yang masih dalam pelukan Aryan, melepaskan dirinya. Ia menatap Aryan dengan tatapan khawatir. "Tenang, Aryan. Mereka akan mendapatkan balasan." Aryan mengangguk, mencoba menenangkan diri. Namun, rasa amarah dan frustrasi masih membara di dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan Zareth dan Liana lolos begitu saja. Desir angin menerpa wajah Aryan dan Clara, membelai rambut mereka saat mereka berdiri di dermaga yang hancur. Matahari senja mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu, menciptakan pemandangan yang indah namun menyimpan rasa getir. Zareth dan Liana, bersama sisa-sisa pasukannya, telah lenyap. Jejak mereka hilang seperti buih di lautan. "Sialan," gumam Aryan, suaranya sarat kekecewaan. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kemarahan yang baru saja ia kendalikan mulai merayap k
Ancaman Liana bagaikan bara api yang membakar amarah Aryan. Mendengar kata-kata pengkhianatan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan hanya karena luka fisik, tetapi karena luka batin yang lebih dalam. Pengkhianatan Liana adalah pukulan yang tak terduga, menikam lebih dalam daripada pedang. "Kau… kau akan menyesal!" teriak Aryan, suaranya dipenuhi kemarahan yang meledak. Matanya berkilat, dan di saat itu, sesuatu dalam dirinya berubah. Sesuatu yang telah lama terpendam, kekuatan yang selama ini hanya ia gunakan untuk membela diri, kini bangkit dengan dahsyat. Ia bukan lagi hanya seorang pemuda dengan perisai energi. Ia adalah seorang prajurit, seorang pejuang yang telah memenangkan ribuan pertempuran, seorang mesin pembunuh yang dilatih untuk menghancurkan. Kemarahan Aryan mengamuk seperti badai. Ia melupakan luka-lukanya, melupakan rasa sakitnya. Ia melupakan segalanya kecuali satu tujuan, membalas dendam atas kebiadaban terhadap manusia yang tak
Saat tangan Aryan terangkat, bersiap untuk menghukum Zareth, suara yang begitu dikenalnya memecah keheningan yang mencekam."Hentikan!"Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di ambang lorong. Liana. Wanita yang pernah menjadi sekutu mereka, yang pernah berbagi senyum dan harapan, kini berdiri di sana, dengan mata yang dingin dan benci. Ia mengenakan seragam hitam para pengawal Zareth, sebuah pengkhianatan yang menikam Aryan lebih tajam daripada pedang.Wajah Aryan membeku. "Liana?"Liana melangkah maju, dengan gerakan yang anggun namun penuh ancaman. "Kau tidak bisa mengalahkannya, Aryan. Kau tidak mengerti kekuatan yang ia miliki.""Kekuatan yang telah menghancurkan begitu banyak kebahagiaan?" balas Aryan, matanya tak lepas dari Liana. Liana menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu naif. Zareth menawarkan kedamaian. Ia menawarkan stabilitas. Kau hanya melihat kekacauan.""Kedamaian?" Aryan tertawa getir. "Ia menawarkan kekuasaan atas mayat-mayat korbannya!"Liana menghela napas, t
Saat suara Zareth menggema di lorong, getaran amarah dan tekad mengeras di jiwa Aryan. Ia memandang ayahnya, Yoshua, yang tampak lemah namun matanya memancarkan keberanian. "Ayah, jaga dirimu," kata Aryan, suaranya tenang namun tegas. Yoshua mengangguk, lalu mundur selangkah, mencari perlindungan di balik bayangan. Zareth tersenyum sinis, matanya menyiratkan arogansi. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku, anak bodoh?" "Aku akan menghentikanmu," balas Aryan, merentangkan tangannya. Perisai energi berwarna perak mulai terbentuk di sekelilingnya, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Zareth tertawa. "Mari kita lihat seberapa kuat perisaimu itu." Pertarungan dimulai dengan cepat dan brutal. Para pengawal Zareth menyerbu dengan senjata mereka, namun Aryan dengan lincah bergerak, memanfaatkan perisai energinya untuk menangkis serangan. Ledakan energi menghantam para pengawal, melontarkan mereka ke belakang. Di tengah kekacauan itu, Zareth melangkah maju. Ia bergerak secepat kilat, berusa
Udara dingin dan lembap di lorong rahasia menusuk hingga ke tulang. Langkah Aryan dan Clara terhenti saat mereka melihat ruangan di ujung lorong, sebuah sel rahasia. Di dalam, seorang pria meringkuk, terikat rantai besi. Cahaya redup dari obor yang dipasang di dinding hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari."Siapa... siapa dia?" gumam Clara, suaranya berbisik.Aryan terdiam, jantungnya berdebar tak karuan. Ada sesuatu yang familiar dari sosok pria itu, sebuah bayangan ingatan yang samar namun kuat. Perlahan, ia mendekat, matanya berusaha menembus kegelapan.Saat ia semakin dekat, keraguan itu sirna. Wajah yang dulu ia kenal, kini dipenuhi luka dan bekas siksaan, namun tetap tak dapat disangkal."Ayah...?" gumam Aryan, suaranya bergetar.Pria itu mengangkat kepalanya, matanya yang sayu menatap ke arahnya. Sebersit harapan muncul di matanya, lalu berubah menjadi rasa bersalah yang mendalam."Aryan...?" Yoshua, ayah Aryan, menjawab dengan s