Beranda / Fantasi / Kembalinya Sang Dewa Pedang / Siapa Pemilik Paviliun Embun Pagi?

Share

Siapa Pemilik Paviliun Embun Pagi?

Penulis: Aspasya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-03 07:00:31

Di tepi Oasis Merah yang tenang, lima orang itu duduk melingkari meja kayu sederhana yang tampak usang, seolah menyimpan cerita tentang angin gurun yang pernah membelainya. Aroma daging domba panggang berpadu dengan rempah-rempah pedas, melayang di udara seperti melodi yang menggoda indra penciuman. Sesekali, uap dari hot pot yang mendidih bergulung lembut, membaur dengan hawa gurun yang mulai mendingin.

Percakapan mengalir akrab, meski ada nada kehati-hatian yang terselip di antara mereka.

Junjie, dengan nada serius yang nyaris menusuk keheningan, membuka pembicaraan. "Apakah semua berjalan lancar?" tanyanya, tatapannya tertuju pada dua wanita di hadapannya, Miu Yue dan Dongfang Yu. Tatapannya yang biasanya malas kini tajam bak menembus malam.

Miu Yue, seperti biasa, menjawab lebih dulu. Nada suaranya tegas dan lugas, sementara tangannya yang anggun mengaduk isi mangkuk dengan tenang. "Ehm, semua baik-baik saja. Tidak ada masalah."

Junjie menga
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Aku Tidak Dapat Melihat Wajahmu

    Ren Hui duduk bersebelahan dengan Junjie, di atas batang kayu tua yang tergeletak di tepi Oasis Merah. Tangannya memegang guci arak dengan cermat, mengguncangnya pelan, seolah mencari ketenangan di dalam riak-riak arak yang berputar."Ren Hui, kau sungguh-sungguh tidak tahu siapa pemilik Paviliun Embun Pagi?" Junjie yang sedari tadi menatapnya, akhirnya bertanya dengan nada serius. Suaranya rendah dan tenang, meski masih terkesan acuh tak acuh.Ren Hui menoleh dan menatap pria tampan di sebelahnya dengan tatapan penuh kebingungan. Kenapa Junjie menanyakan hal itu? Apakah itu suatu hal yang penting? Bahkan dirinya pun lupa tadi menanyakan siapa pemilik Paviliun Embun Pagi kepada Song Mingyu dan tamu mereka. "Apakah itu penting untuk aku ketahui?" Sahutnya, dengan santai, seolah perbincangan ini hanyalah angin lalu. "Tidak juga." Junjie menjawab singkat, kembali meraih sikap acuh tak acuhnya. "Ngomong-ngomong, kenapa kau meminta Song Mingyu untuk

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-04
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Kau Mirip Zhu Zijing

    Ren Hui dan Junjie terkejut oleh kehadiran Song Mingyu yang tiba-tiba, seolah-olah ia muncul dari bayang-bayang yang tak terdeteksi. Pemuda itu melangkah perlahan, langkahnya penuh wibawa, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan yang dalam, seperti sedang menelusuri rahasia yang tersembunyi. Ren Hui berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Junjie, tetapi itu terasa seperti melepaskan sesuatu yang tak kasat mata, erat dan tak terhindarkan.Dia membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, namun suara Junjie sudah lebih dulu menghentikan niatnya. "Penglihatan Ren Hui sedikit terganggu," ucap Junjie dengan nada yang lebih berat dari biasanya. Tidak ada lagi kekonyolan atau kebebasan dalam suaranya; hanya ada kekhawatiran yang terpendam dalam setiap kata yang diucapkan."Eh, apakah sakitmu kambuh lagi?" Song Mingyu bertanya cepat, langkahnya yang sebelumnya penuh keyakinan kini dipenuhi dengan rasa cemas. Kekhawatiran terpantul jelas di matanya, seperti riak air yang t

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-04
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Aku Tahu

    Song Mingyu merasa sebuah kesedihan menyelimuti hatinya. Namun, ia tak mampu menahan perasaannya. Ada sesuatu yang menggigit dalam dirinya, sebuah ketakutan yang entah berasal dari mana. Ia takut, takut bahwa Ren Hui benar-benar akan kehilangan penglihatannya. Ketika bayangan kegelisahan menyelimutinya, sebuah percakapan yang telah lama terlupakan kembali menghampirinya, membawa hembusan angin masa lalu.Tiba-tiba, wajah Nyonya Su Yang, ibunya, muncul di benaknya. Percakapan mereka sebelum dirinya meninggalkan Lingyun untuk menyusul Ren Hui dan Junjie, datang dengan jelas."Mingyu, jangan terlalu memikirkan apa yang kau dengar tadi," kata ibunya lembut, mencoba menenangkan keresahan di dalam hatinya. Suara Nyonya Su Yang, seperti musik yang menenangkan, tak dapat menepis ketegangan yang tumbuh dalam dada Song Mingyu. Ia mengingat dengan jelas percakapan yang tanpa sengaja ia dengar antara Dewa Obat dan ibunya."Aku... aku tidak memikirkan hal itu, Ibu," ja

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-04
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Hari Yang Berbeda Di Oasis Merah

    Suasana di Oasis Merah hari ini terasa tak biasa. Udara yang biasanya dipenuhi tawa para pedagang dan derit roda gerobak kini diwarnai ketegangan samar. Para prajurit sibuk mondar-mandir sejak fajar merekah, seperti semut yang tak henti bekerja.Mereka meminta para pedagang, pengelana, dan penduduk setempat untuk menjauhi sebuah tenda besar di tengah oasis. Tempat itu biasanya menjadi pusat peristirahatan yang ramai, tetapi kini diubah menjadi area tertutup yang dijaga ketat. Para prajurit mengarahkan aktivitas ke tempat lain, meskipun masih di sekitar oasis.Dari teras rumah beroda, Ren Hui berdiri bersama Junjie, mengamati kesibukan di bawah mereka. Sinar mentari memantulkan warna merah pasir, seperti darah yang tersembunyi dalam debu waktu."Kau baik-baik saja?" Junjie bertanya, suaranya rendah namun sarat kekhawatiran. Matanya, yang biasanya malas menatap dunia, kini memancarkan keseriusan.Ren Hui tersenyum cerah, seperti mentari musim semi yang menembus kabut. "Aku baik-baik saj

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-05
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Tidak Seperti Rumor

    Karavan itu, jika dilihat sekilas, tampak biasa saja. Sebuah gerobak besar dengan kayu kusam. Mirip dengan karavan milik pedagang atau pengelana yang kerap singgah di Oasis Merah. Namun, bagi yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak mudah tertangkap oleh mata awam.Karavan ini tiba di tengah malam, saat angin gurun berdesir pelan, membelah keheningan. Kedatangannya yang sunyi membawa aura yang sulit diabaikan, seolah membawa rahasia yang berat namun enggan diceritakan.Junjie berjalan pelan mendekati karavan. Asap tipis mengepul dari cerobong, satu-satunya tanda kehidupan di dalamnya. Langkah kakinya melambat, lalu berhenti beberapa langkah dari pintu kayu yang tertutup rapat. Aroma samar kayu terbakar bercampur dengan angin gurun, membelai hidungnya."Hei, anak muda! Siapa yang kau cari?" Sebuah suara serak namun tegas memecah kesunyian. Junjie menoleh, mendapati seorang pria tua muncul dari balik rerumpunan pohon palem di sisi karavan. Pria tua itu mengenakan jubah lu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Apa Yang Paling Menarik?

    Tuan Luo tersenyum kecil, nyaris seperti seringai, sementara matanya yang tajam terus menelisik Junjie. Tatapan itu seakan hendak menguak lebih banyak dari apa yang disembunyikan oleh tamunya.Tuan Luo tertawa lepas, suara tawanya renyah, menggema lembut di dalam karavan yang kini lebih terang oleh cahaya pagi. Tawanya memiliki irama yang merdu, nyaris seperti melodi yang memancarkan kebebasan tanpa batas. Junjie memperhatikan, diam-diam mengakui bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam cara pria itu menertawakan dunia—sebuah kebebasan yang terasa asing baginya."Jadi, bagaimana?" Junjie bertanya santai, sedikit mengangkat alis setelah tawa Tuan Luo mereda. "Apakah kita hanya akan membicarakan rumor tentang kita sepanjang pagi ini?" Nada bicaranya datar namun mengandung sindiran halus, seolah mencoba mengukur reaksi pria di depannya."Oh, tentu tidak, Tuan Junjie," jawab Tuan Luo dengan nada yang sama santainya. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya, kali in

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Kita Sepakat

    Kedua pria itu kini saling menatap dalam keheningan yang nyaris terasa berat, seolah udara di antara mereka telah mengental. Pak Tua Ong muncul membawa nampan berisi teh dan camilan, memecah kesunyian. Langkahnya ringan, namun ada sesuatu dalam gerak-geriknya yang anggun, kontras dengan jubah lusuh yang dikenakannya."Anak muda, cicipilah teh merah dari Baili," katanya ramah sambil menuangkan cairan hangat berwarna merah tua ke dalam cangkir porselen. Aroma teh itu segera memenuhi udara, memancarkan keharuman yang lembut dan menenangkan, seperti embusan angin musim semi yang membawa wangi bunga mekar.Junjie menerima cangkir itu dengan hati-hati. Dia mengendus aroma teh tersebut, matanya menyipit seolah menganalisis tiap molekul harumnya. "Aromanya sangat harum. Bunga mawar?" tanyanya, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.Pak Tua Ong tersenyum kecil. Sebelum dia sempat menjawab, Tuan Luo menimpali, "Baili memang dikenal sebagai penghasil bunga mawar terbes

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Drama Di Pagi Hari

    Tenda besar itu sunyi, lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari pagi menyusup perlahan melalui celah-celah kain, memantulkan bayangan lembut di atas pasir. Tidak ada jejak keramaian yang biasanya menghiasi Oasis Merah saat pagi. Suasana terasa lesu, seakan seluruh oasis tenggelam dalam tidur yang tak terganggu."Aku bosan!" seru Xuan Yu tiba-tiba, suaranya bergema di dalam tenda yang kosong. Ia menguap lebar, tubuhnya bersandar santai di kursi kayu yang sudah aus oleh waktu. Matanya menyapu ruang di sekelilingnya—tidak ada siapa pun kecuali dirinya. Zhu Ling, sang Peramal Ilahi, entah pergi ke mana. Tapi Xuan Yu tidak peduli, kesunyian sudah menjadi teman setianya."Apakah masih lama?" gumamnya, sembari bangkit berdiri. Tubuhnya digerakkan, tangan direntangkan, dan punggungnya diputar, memecah kekakuan yang terasa di setiap sendi.Beberapa hari terakhir, ia hanya bermalas-malasan di tenda itu, menjalani perannya sebagai bawahan Peramal Ilahi yang terkenal

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-07

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Ibukota Yang Sepi

    Ibukota Kekaisaran Shenguang dalam beberapa hari ini terasa sunyi. Hanya derap langkah prajurit berpatroli yang memecah keheningan lorong-lorong kota di jam-jam tertentu. Udara pagi menghembuskan hawa dingin, membawa serta aroma lembab dari batu-batu jalanan yang jarang terinjak. Para penduduk menjalani hidup penuh tekanan, tak berani beraktivitas seperti biasanya. Lorong-lorong yang dulu ramai kini tampak lengang, bagaikan labirin batu yang kosong.Namun, sesekali ada sedikit kelonggaran. Penduduk diizinkan membuka toko atau berdagang, meski hanya dalam waktu dan ruang yang terbatas. Di bawah pengawasan ketat para prajurit. Suasana tetap terkendali, langkah-langkah mereka terasa berat seolah takut menimbulkan gema yang bisa mengundang bahaya."Masih terkendali, bukan, Tuan Han Jin?" Mo Yuan, orang kepercayaan Chu Wang, menatap lurus pria yang berkuda di sampingnya. Sorot matanya dingin, seperti batu giok tanpa cela, mengamati situasi kota dengan kewaspadaan tinggi

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Kenapa Kalian Tidak Membunuhnya?

    Malam di Oasis Merah terasa seperti sebuah kanvas gelap yang dilukis dengan ketegangan. Setelah pertempuran sengit di perbatasan, keheningan menggantikan gemuruh perang, namun bukan kedamaian yang hadir—melainkan bayangan ancaman yang membekap udara. Kedua belah pihak mundur dengan luka masing-masing, menyisakan jejak pertempuran yang masih menguar di antara angin padang pasir.Pasukan Jenderal Miu Yue kembali ke Oasis Merah, diikuti oleh Ren Hui, Junjie, dan Song Mingyu. Di sisi lain, Pangeran Luo membawa pasukannya ke perbatasan, sementara Pasukan Hantu Kematian menghilang tanpa jejak, terkubur dalam badai pasir yang diciptakan Zhu Ling.Di dalam rumah beroda, api lentera yang bergoyang lembut diterpa angin malam menghangatkan suasana yang sedikit muram. Song Mingyu menatap Junjie dengan pandangan penuh tanya. Hening malam diselingi bunyiangin yang terasa lebih nyaring dari biasanya. "Apakah ini hasil yang kau inginkan?" tanyanya akhirnya, memecah kehen

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Pertarungan Berakhir

    Junjie menjadi sasaran utama serangan Liuxing. Pedang Bintang Jatuh milik Liuxing menderu, menghunus udara dengan kilatan seperti sambaran petir. Tanpa ragu, Junjie menarik tubuh Ren Hui, memindahkannya dari lintasan maut itu. Pada saat yang sama, Dongfang Yu bergerak bagaikan bayangan. Serulingnya terangkat, dan dengan satu sapuan cepat, dia menangkis serangan Liuxing. Gerakannya yang lincah menyerupai tarian musim semi, menyapu langkah Liuxing hingga pria itu terpaksa mundur. "Wah! Ini curang, Nona Dongfang Yu!" Sebuah suara keras memecah ketegangan. Zhu Ling, diikuti Xuan Yu serta Pasukan Hantu Kematian, telah mengepung Dongfang Yu. "Oh, curang, ya?" Dongfang Yu terkekeh kecil, suaranya seperti lonceng perak di malam gelap. "Tadi memang aku berniat curang. Tapi sekarang, rasanya kalian yang mencurangiku." Senyumnya menggantung dingin, dan dia kembali meniup serulingnya. Nada seruling itu melengking tajam, menghunjam tel

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Meteor Di Gurun Merah

    Ren Hui mengangkat Pedang Bintang Ilusi tinggi-tinggi, mata pedang itu bersinar dingin, siap menyambar lawannya dengan kekuatan tak terbayangkan. Liuxing, tak kalah sigap, memposisikan Pedang Bintang Jatuhnya. Dengan setiap gerakan tubuhnya, pedang itu memancarkan aura seperti sebuah bintang yang siap runtuh ke bumi.Junjie, yang telah beberapa saat menghindar dari serangan Xuan Yu, merasa gelisah. Meski tidak berniat membalas serangan, tatapannya terarah penuh kecemasan pada pertarungan Ren Hui dan Liuxing. "Celaka! Jika keduanya mengeluarkan serangan meteor, gurun ini akan hancur lebur," gumamnya dalam hati, menatap badai pasir yang semakin mengganas."Menyingkir!" Tanpa berpikir panjang, Junjie berteriak, suaranya menggema di tengah hutan pasir yang bergulung. "Semua, cepat menjauh!"Kekhawatiran Junjie berubah menjadi kenyataan. Pedang Ren Hui berkelebat cepat, seakan-akan meteorit yang meluncur dari langit, menembus keheningan udara yang kian mencekam

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Di Tengah Badai Pasir

    “Badai pasir,” gumam Miu Yue, suaranya bergetar di antara desau angin yang menderu-deru. Kekhawatiran terpancar jelas dari sorot matanya yang sempat melirik horizon yang perlahan memerah. Tanpa sadar, dia menggenggam erat lengan Song Mingyu, seperti mencari kekuatan dalam kegentingan. Sentuhan dingin jemarinya segera disambut kehangatan tangan pemuda itu, yang diam-diam berusaha menenangkan ketakutannya.Gemuruh angin yang membawa pasir merah bergulung-gulung laksana naga yang menari liar di cakrawala. Ini bukan sekadar ancaman sepele, tetapi fenomena alam yang mampu melahap seluruh kehidupan yang berdiri di hadapannya. Bukit pasir berguguran, lalu terbentuk kembali dengan wujud yang baru—seolah gurun ini hidup, berubah dengan setiap hempasan badai.“Berlindung di balik kereta!” Miu Yue dan Kasim Ong berteriak bersamaan.Tanpa membuang waktu, para prajurit berlarian ke balik kereta-kereta berat yang penuh dengan barang bawaan. Kereta-kereta itu,

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Pertarungan Di Gurun Merah 2

    Ren Hui dan Liuxing kini benar-benar berhadapan di tengah hamparan gurun pasir merah yang menderu diterpa angin. Matahari menggantung rendah di langit, menciptakan kilauan tembaga di atas pasir yang seolah menyala. Kedua pria itu berdiri diam sejenak, ketegangan melingkupi mereka seperti senar busur yang ditarik hingga hampir putus.Liuxing, dengan tatapan dinginnya, tak ingin membuang waktu. Tanpa sepatah kata, dia melancarkan serangan pertama. Pedang Bintang Jatuh di tangannya menyambar seperti badai musim gugur, menciptakan gelombang energi yang menghantam gurun. Pasir berhamburan ke udara, berputar seperti topan kecil yang melenyapkan batas antara langit dan bumi. Tanah bergemuruh seolah naga kuno bangkit dari tidurnya.Ren Hui bergerak cepat, tubuhnya melompat dengan kelincahan seekor kijang yang melintasi jurang.Pasir merah beterbangan, menciptakan kabut yang menutupi pertarungan. Di kejauhan, para saksi hanya bisa menyipitkan mata, berusaha menembus tirai debu."Junjie! Menjau

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Pertarungan Di Gurun Merah 1

    Junjie dan Ren Hui saling berpandangan, diam dalam kerangka waktu yang terasa membeku. Ini bukan pertama kalinya mereka harus menghadapi pertarungan bersama, meskipun momen seperti ini jarang terjadi. Hidup mereka, seperti dua sungai berbeda, mengalir di jalur yang tak pernah bersinggungan kecuali saat menghadapi musuh-musuh mereka.Junjie lebih sering bergulat dengan dunia politik dan pertempuran besar di medan perang, tempat strategi dan kekuatan militer saling bertaut. Sebaliknya, Ren Hui hidup di bawah bayang-bayang duel maut, bertarung satu lawan satu dengan ahli beladiri atau murid-murid sekte lain. Dunia mereka bertolak belakang, tetapi hari ini garis nasib mempertemukan mereka kembali.“Bertarung atau kabur?” Ren Hui bertanya santai, memutar payung di tangannya dengan gerakan malas, seakan badai pasir yang mengancam itu hanyalah angin musim semi.“Menurutmu?” Junjie balas bertanya, suaranya serupa desau angin dingin yang menggugurkan daun-daun terakhir. Dia mengibaskan lengan

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Ayo Kita Mulai Pertarungan Ini !

    Junjie dan Ren Hui menatap pria di belakang Liuxing. Tanpa topeng hantu, pria itu memancarkan daya tarik yang tak terduga. Wajahnya muda, tampan, seperti pualam yang dipahat sempurna oleh tangan seorang seniman."Ah, kau Yu!" seru Ren Hui tiba-tiba, suaranya melengking, penuh keterkejutan. Jarinya terulur lurus, seolah ingin memastikan bahwa yang dilihatnya nyata. Xuan Yu, asisten Peramal Ilahi yang mereka temui di tenda beberapa hari lalu, kini berdiri di barisan Pasukan Hantu Kematian.Ren Hui terkekeh kecil, menarik lengan mantel biru Junjie. "Aiyo! Kau sungguh tak pantas menjadi anggota Pasukan Hantu Kematian. Kau terlalu tampan untuk menjadi hantu." Nada bercandanya ringan, tapi matanya memancarkan kewaspadaan, seperti mata elang mengawasi mangsa.Ucapan Ren Hui memicu tawa kecil dari Zhu Ling, A Xian, Song Mingyu, bahkan Pangeran Luo. Namun, Junjie tetap diam, wajahnya seperti biasa, tanpa ekspresi berarti."Wah, pedagang arak," balas Xuan Y

  • Kembalinya Sang Dewa Pedang   Siapa Yang Akan Bertahan Hidup?

    "Ah, Nona Zhu Ling, maafkan aku! Aku tidak sengaja!" Sebuah suara lembut penuh kepolosan terdengar, diikuti tawa kecil yang samar. Ren Hui, dengan wajah sedikit memerah, menangkap kembali kipasnya dengan cekatan.Zhu Ling tertegun. Matanya membelalak, penuh keterkejutan, menatap sosok yang kini melayang turun dengan anggun dari udara. Gaun pengantin merah yang dikenakan Ren Hui berkilauan seperti bara api yang menari di tengah angin gurun. Dia mendarat di sebelah Junjie dengan sikap santai, seolah tak ada yang lebih wajar dari itu. Dengan gerakan ringan, dia mengipasi wajahnya menggunakan kipas putih yang barusan digunakan untuk menyerang.Zhu Ling tertegun, tubuhnya membeku sejenak saat melihat sosok bergaun pengantin merah yang baru saja melayang turun dan mendarat anggun di sisi Junjie. Gaun itu berkibar perlahan, seperti nyala api yang bermain dengan angin, kontras dengan salju halus yang masih melayang di udara. Ren Hui mengangkat kipas putih di tangannya, men

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status